Menjadi seorang Alpha dalam sebuah Pack besar bukanlah tugas yang mudah. Ditambah kau belum menemukan seorang Mate. Aku adalah seorang Alpha, dan aku merasa bahwa kehidupan telah mempermainkanku. Berbekal dengan pengetahuan yang seadanya, kini diriku di masa remaja masih berkeliaran bak binatang jalang di dalam hutan. Mencari makan, mencari makan, dan terus mencari makan. Tidak memiliki tujuan hidup yang pasti, egoku masih setinggi langit yang bahkan tak bisa tergapai. Aku masih mementingkan diri sendiri, bahkan keluarga yang membesarkanku sudah kulupakan dan kutinggalkan.

Saat ini disebuah hutan lebat di daerah terpencil Korea, aku terus menggerekkan kaki-kakiku dalam bentuk serigala abu bermata hijau zamrud. Mata kesayangan, Park Sandara. Seorang wanita cantik yang sialnya adalah Ibu biologisku. Tidak, aku tidak mencintainya, tapi ia memang benar- benar cantik. Tak terasa kini didepanku sudah berdiri seekor rusa gendut dengan wajah innocentnya. Tanpa pikir panjang kini rusa itu sudah terenggut nyawanya dalam terkaman gigi-gigi tajamku, dengan sekuat tenaga dan selalu dipenuhi emosi, kukoyak tubuh dari rusa gendut itu. Tidak berprimanusiaan? Bahkan kini aku masih menjadi seorang Serigala. Aksi brutalku tadi ternyata disaksikan oleh seorang lelaki manis yang sedang bersembunyi dibalik pohon besar dihadapanku. Ia berteriak histeris bahkan air mata sudah keluar dari pelupuk matanya. Dengan perlahan dan masih diselimuti emosi, kudatangi lelaki manis itu sesekali akan kukeluarkan geramman padanya, hingga akhirnya lelaki itupun berubah wujud menjadi serigala merah yang begitu menawan. Langkahku kuhentikan, bahkan kini si lelaki manis yang sudah menjadi serigala itu mengeluarkan geramannya. Entah siapa yang memulai kini, aku bisa merasakan kucuran darah dari kepalaku, dengan sisa emosi yang begitu kental, kini kulibatkan serigala itu disebuah pertarungan yang entah untuk mendapatkan apa.

Pertaruang bodoh itupun akhirnya berhenti saat kedua tubuh kami berubah kembali menjadi manusia, posisi yang cukup menguntungkan bagiku. Karena, si lelaki manis ini menimpaku dengan begitu nyamannya, bisa kurasakan aroma strawberry dari tubuh setengah telanjangnya. "Kau siapa?," lirihnya lalu memandangku cukup dalam,

"Chanyeol. Park Chanyeol."

Jawabku lalu pandangan kamipun bertemu.

Dan mulai saat itu, kuyakini bahwa tujuan hidup seorang park Chanyeol adalah melindungi Byun Baekhyun. Si lelaki manis, yang entah dengan seiringnya waktu kuketahui namanya. Masa remajaku kuisi dengan berbagai hal positif dan negative. Salah satunya adalah aku menerima diriku bahwa aku seorang Alpha, dan suatu saat nanti cepat atau lambat aku akan menggantikan posisi Ayahku, Park Seunghyun.

"Chanyeol," panggil Ibu lalu menghampiriku yang masih berdiam didepan rumah memandangi hutan lebat disana,

"Apa?," jawabku seadanya lalu mengalihkan perhatianku padanya, iapun tersenyum kecil lalu mengusap kepalaku dengan penuh rasa sayang, "Kita akan kedatangan tamu istimewa," serunya masih terus mengelus kepalaku, akupun hanya mengangkat satu alisku menandakan bahwa aku tidak mengerti apa hubungan antara ada seorang tamu istimewa dengan diriku.

"Ia memang masih kecil, tapi kau akan langsung tertarik padanya. Percayalah," jelas Ibu lalu mulai menarikku kedalam rumah. Rumah terlihat ramai, bahkan adik-adikku sedang berkumpul semua, terlihat Jinhwan yang terus menerus bermain dengan bola wol berwarna merah dengan ditemani Chanwoo, dan masih banyak hal absurd lainnya di rumah ini.

"Chanyeolie, mari main bersama," panggil sebuah suara gadis kecil sambil menepuk yang menurutnya memukul punggung telanjangku, ia adalah Park Sua, si manusia serigala termuda di Rumah ini. Dan ya, suasana yang nyaman membuatku ikut larut dengan rumah ini, hingga sebuah bel di depan rumah, membuat pandangan Ibu tertuju padaku. Akupun kembali menaikkan alisku, hingga suara Jinwoo membuatku pergi meninggalkan rumah itu secepat yang kubisa.

"Calon Matemu sudah datang, Park Chanyeol."

.

.

.

Kuberlari kedalam hutan, hingga disana aku melihat Baekhyun, dengan segera aku menerjang tubuh mungilnya. Yang menyebabkan kedua tubuh kami terjerembab ke sebuah semak- semak didepannya. Kupeluk erat tubuh mungilnya itu, bahkan saat Baekhyun ingin melepaskan pelukan itu aku terus menahannya. Hingga sebuah teriakan yang sudah sangat aku kenal terdengar menggelegar di setiap penujuru Hutan.

"Chanyeol, suara apa itu?," Tanya Baekhyun lalu menatapku penuh selidik, "Ssstt. Jangan berisik," jawabku lalu menenggelamkan wajahnya pada bahu lebarku.

Sedangkan diluar sana terlihat beberapa serigala lelaki berwajah tegas mencari dan meneriaki keberadaan Park Chanyeol, bahkan salah satu diantara mereka sudah merubah wujud manusianya menjadi seekor serigala hitam besar.

"Seunghyun, tenangkan pikiranmu. Jika kau berubah menjadi sosok serigalamu, kemungkinan besar akan lebih sulit membawanya secara hidup-hidup,"

seru seorang lelaki berrambut cokelat terbelah tengah, ia adalah Daesung, salah satu anggota Pack yang dipimpin oleh Park Seunghyun, ayah Chanyeol.

"Benar apa kata Daesung, kita harus mencarinya dengan tenang. Apa kau mau melihat calon Mate anakmu ketakutan saat melihat serigala besar buruk seperti kita?," seru suara lain, ia adalah Youngbae, sama halnya seperti Daesung. Seunghyun yang mendengar itu semua sontak, langsung kembali menjadi sosok manusianya. Lelaki tampan bertubuh tegap itu, menghela nafas, dan seketika setelah teriakkannya menggema kelima orang itu pergi meninggalkan hutan.

Kembali pada Chanyeol yang masih memeluk Baekhyun, wajah lelaki itu terlihat pucat saat setelah mendengar teriakkan sang Ayah. Tapi karena kembali ego menguasai dirinya, kini Chanyeol dan Baekhyun berakhir disebuah lubang pohon yang cukup besar dengan keadaan telanjang. Setiap manusia memiliki limit kepolosan mereka, dan setelah menyaksikan keadaan tubuh Chanyeol dan Baekhyun, semua orang pun tau apa yang telah mereka kerjakan.

Masih dengan saling berpelukan sehabis bercinta, kedua pasangan itupun bercerita banyak hal, dari awal mereka bertemu hingga cairan cinta mereka bertemu hari ini.

.

.

.

Keadaan semakin buruk setelah menghilangnya Park Chanyeol di dalam Pack yang dipimpin oleh Park Seunhyun itu. Tidak ada lagi senyuman manis milik Sandara, bahkan kini Jinhwan dan Chanwoo yang biasa bermain, hanya akan terus menggeram dan saling mencakar. Keadaan Pack itu sangat kacau, tidak ada lagi suara dan tawa bahagia, yang ada hanya keheningan dan geraman marah.

Beberapa jam setelah Park Chanyeol pergi meninggalkan kediaman Park, beberapa orang manusia normal dengan pakaian yang sangat biasa mendatangi kediaman itu. Sandara yang pertama mendengar suara bel langsung berlari menuju pintu depan dengan wajah yang cukup pias. Setelah pintu itu terbuka terlihat sepasang suami istri dengan seorang anak lelaki manis dengan memiliki bentuk bibir yang menarik. Mereka adalah keluarga yang dengan sukarela menjodohkan anak manis mereka dengan seorang werewolf di masa yang akan datang. Keluarga yang selalu dipenuhi kehangatan walaupun hanya bisa terlihat secara visual. Mereka adalah sebuah keluarga yang menerima kepahitan bahwa calon pasangan anak manis mereka menolak secara gamblang acara tersebut.

Keluarga itu tidak menunjukan wajah marah, mereka hanya terlihat kecewa bahkan sesosok yang berperan sebagai istripun hampir mengeluarkan air matanya. Keheningan begitu kentara di kediaman park, bahkan hanya terdengar suara denting jam dan juga isakan sosok tadi. Si anak lelaki manis yang terbawa oleh keluarga hangat itupun mulai menenangkan sang Ibu. Walupun dengan senyum getir, ia meyakinkan ibunya bahwa semuanya akan baik- baik saja. tidak terkecuali kehidupan merek selanjutnya.

Senyum yang terukir di bibir unik anak lelaki itu membuat Sandara secara tidak sadar mengeluarkan air matanya. Ia merasa sakit, malu, dan bersalah. Jika ia menjodohkan anak lelaki manis itu dengan ankanya yang lain, pasti kisah anak itu tidak sesakit ini. Maka dengan perlahan, Sandara mendudukkan dirinya disebelah si anak manis berbibir unik, ia mengelus kepala anak itu dengan lembut takut memecahkan seluruh tubuh itu. Ucapan lirihnya hanya akan dijawab dengan anggukan lembut dan senyum yang begitu manis.

"Maaf membuatmu menjadi seperti ini,"

"Kau dimasa yang akan datang janganlah menerima perjodohan atau terlibat hubungan dengan mahluk immortal manapun,"

"Aku merasa bersalah padamu,"

"berjanjilah, sweety.."

.

.

.

Kehidupan akan terus berlanjut. Itulah kalimat yang akan selalu Chanyeol terapkan dikehidupannya. Sama seperti saat ini, ia sudah kembali kekediaman Park, tapi suasana hangat sudah tidak ada di dalam sana. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing- masing, bahkan si yang paling muda, memilih untuk bermain sendiri di dalam kamarnya. Seluruh anggota Pack merasa kecewa atas sikap Chanyeol. Tapi, kembali mengingat bahwa Chanyeo adalah sesosok calon Ap=lpha yang cukup keras kepala. Tanpa memperdulikan keadaan Packnya kali ini, ia dengan gamblang membawa sosok Baekhyun menghadap semua keturunan Park, bahkan beberapa tetua Park hadir saat itu.

Saat-saat mendebarkan bagi Chanyeol dan Baekhyun, tangan keduanya saling berpegangan erat. Mino yang sedang berjalan melewati kedua orang itupun hanya berdecih dan mulai menggumam nama seseorang dan gerutuan dengan tidak jelas. Tapi kembali Chanyeol tidak memperdulikannya. Hingga kini, saat Sandara sudah mendudukkan dirinya di tempat yang seharusnya, suara Chanyeol menggema di kediaman itu.

"Dia adalah Byun Baekhyun. Dia yang akan menjadi Mateku. Aku meminta izin dari kalian semua,"

Suara lantang Chanyeol memecah keheningan mereka. Selama beberapa menit berlangsung, tidak ada yang menyahut, hingga sebuah helaan nafas yang cukup berat membalas penrnyataan Chanyeol.

"Terserah padamu. Kau calon Alpha. Kau tahu mana yang benar dan tidak. Aku tidak akan mencampurinya kembali, dan terlebih kau sudah dewasa."

Kalimat terpanjang dan tercepat yang diucapkan Park Seunghyun. Dengan segera, setelah berkata demikian, satu persatu orang di ruangan itu pergi meninggalkan sepasang kekasih tersebut, kecuali Sandara yang masih dengan anggun duduk dihadapan sang Putra tercinta.

"Ini pilihanmu, Chanyeol?," Tanya Dara lalu memperhatikan wajah Baekhyun dengan intens, sedangkan Baekhyun, hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa risih diperhatikan seperti itu.

"Ya, nama-,"

"Kau sudah menyebutkannya tadi. Jadi, Baekhyun, bisa kau ceritakan asal usulmu?," Tanya Dara kembali sambil terus menatap Baekhyun dengan cukup intens tapi kini pandangannya melembut.

"Tentu, Nama panjangku adalah Byun Baekhyun. Keluargaku berasal dari Pack yang kecil. Kami hidup dengan kesederhanaan. Aku memiliki seorang adik bernama Byun Donghyuck. Dan rencan hidupku adalah menajdi seorang tentara,"

"Tentara? Apa kau seorang Alpha?," Tanya Dara masih menatap Baekhyun, dengan senyum tipis yang berkesan sinis, Baekhyun menjawab pertanyaan itu dengan cukup angkuh, hingga membangkitkan jiwa setengah Alpha yang dimiliki Dara.

"Bukan, aku hanya seorang Beta yang berhasil menjerat seorang Alpha, Mrs. Alpha."

.

.

.

Keadaan disebuah Camp pelatihan terlihat kacau, bukan dalam masa perang tetapi dengan berhilir mudiknya orang-orang berpakaian tentara disana. Mereka memang masih seorang Trainee atau apapun para Jendral itu mengatakannya. Wajah serius dan penuh ambisi tercetak jelas di wajah seluruh tentara itu, termasuk wajah manis Byun Baekhyun dan si Calon pasangan hidupnya, Park Chanyeol.

Ya. Setelah adegan pengenalan Baekhyun pada keluarga Chanyeol, kini kemanapun Baekhyun pergi Chanyeol akan mengikuti. Termasuk menjadi seorang Tentara bagi negara Korea Selatan.

Kaki-kaki bersepatu boot itu berjalan dengan keadaan cukup susah didalam air, seperti pelatihan tentara lainnya. Mereka disuruh untuk melintasi sungai yang cukup deras, dengan persiapan yang matang dan juga saling percaya, mereka berjalan dengan begitu yakin. Tak terasa pelatihan- pelatihan untuk menjadikan diri sebagai Tentara cukup membuahkan hasil.

Dengan otak yang cerdas dan kemampuan yang baik, kini Park Chanyeol dan Byun Baekhyun memiliki pangkat yang cukup tinggi di Kemiiteran Korea Selatan. Sudah hampir berjalan selama 5 tahun. Jadi, tidak ada yang memandang remeh pangkat yang didapatkan oleh keduanya. Walaupun bernedus kabar bahwa, Byun Baekhyun adalah seorang kekasih dari seorang Tentara biasa yang merangkap sebagai anak Jendral, yang pasti orang awam berspekulasi Sang Kekasih dari Baekhyun menyuruh sang Ayah untuk menyalah gunakan Pangkat yang beliau miliki.

Selama beberapa bulan berita itu hanya tabu. Hingga setelah misi besar dengan Korea Utara. Tepat hari dimana Park Chanyeol berulang tahun. Kabar pernikahan Byun BAekhyun dan Jung Daehyun tersebar.

Posisi yang menyulitkan bagi Chanyeol saat itu. Terkepung oleh tentara Korea Utara. Sebuah alat komunikasi berhasil terambil dari tubuhnya. Kini hanya dengan sebuah celana tentara yang berlumuran darah dirinya sendiri, Park Chanyeol diikat bagaikan daging sapi siap potong. Darah terus bercucuran dari tubuh penuh luka milik Park Chanyeol. Badan itu tidak terlapisi kain apapun, dan sudah dipertegas bahwa yang ia kenakan hanyalah sebuah celana tentara yang berlumuran darah.

Aksen Korea Utara sangat kental disekelilingnya. Ia tau bahwa ada satu hal yang harus disembunyikan dirinya dari para tentara Korea Utara. Secara perlahan dan terus menerus, berbagai benda tajam berhasil menembus kulit Chanyeol, dan dengan tidak berprimanusiaan, seorang tentara Korea Utara datang menghampirinya lalu menaburkan perasan lemon disekujur tubuhnya. Teriakan kesakitan seketika memenuhi ruangan pengap dan cukup gelap itu. Bahkan kini mata tajam seorang Kapten Tim pasukan Khusus terlihat berkaca-kaca menahan tangisan dan rasa sakit yang begitu besar. Ia terus meronta. Hingga keempat lelaki berbaju hitam menembakan sebuah benda bertimah emas menuju daerah lambung para tentara Korea Utara. Mereka cukup pintar untuk membunuh dibagian tersebut, tidak terlalu banyak darah, dan menyakitkan. Karena secara perlahan asam lambung tersebuh akan berubah menajdi racun dan membuat mreka meregang nyawa dengan cukup kesakitan. Salah seorang lelaki itu menghampiri Chanyeol, dan langsung membawa pergi sang Kapten. Kejadian itu kembali berjalan cepat. Hingga terlihatlah wajah asli keempat lelaki itu.

"Kau terluka parah, kapten," seru salahs atu dari mereka, Sehun.

"Ya, bisakah kalian mengobatinya. Dan dimana kita?," Tanya Chanyeol lalu memperhatikan sekitar,

"Kita berada di ujung Kota Busan. Tentara Utara itu cukup pintar, membuat kita seperti orang bodoh agar bisa menembus Korea Utara, tapi nyatanya mereka menyimpanmu disini," jawab Sehun lalu menghampiri seorang lealki lain yang berwajah manis dengan kulit tan yang ia miliki.

"Nini, bisakah kau mencari bantuan?," pintanya lalu mengelus kepala lelaki tadi, Jongin. Jonginpun hanya mengangguk dan langsung berlari mencari bantuan.

Diperjalanan mencari bantuan, Jongin bertemu seorang lelaki manis berwajah bersih. Lealki itu cukup mungil, mengingat badan Jongin yang besar. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Jongin. Melainkan, sebuah tas medis dan juga kotak P3K yang dibawa oleh lelaki manis itu. Dengan segera Jonginpun menghampirinya,

"Permisi, apa kau bisa membantuku?,"

"Bantu apa?,"

"Sepertinya kau seorang tim penyelamat,"

"Ya! Benar! Aku seorang tim penyelamat, apa ada yang bisa aku tolong?."

Jawaban dengan penuh keantusiasan tersebut, membawa Jongin untuk menggiring si lealki manis itu. Saat itu si lealki manis memakai celana pendek berbahan halus dan juga kaus putih bergaris. Rambut cokealtnya terasa lembut jika dipegang. Bahkan Jongin yang memiliki posisi Bawah pun terpesona oleh si lelaki itu.

Kedatangan keduanya membuat berbagai ekspresi dari keempat lelaki disana, ada pandang cemburu, terkejut, terpesona dan lainnya. Bahkan si lelaki manis itupun cukup terkejut melihat pemandangan didepannya. Dengan badan yang bergetar ia menghampiri Chanyeol. Sedagkan Lay dan Xiumin terus memperhatikan Lelaki itu yang merawat luka Chanyeol dengan cukup terlatih. Chanyeol pun hanya terus memperhatikan si lealki yang mengobatinya. Ketika Chanyeol mengeluarkan suara rasa sakit, lelaki itu akan membulatkan matanya lalu meniup luka tersebut. seketika Chanyeol terpana dengan wajah itu. Wajah itu memang tidak sefeminim Baekhyun, tapi wajah itu membawa suatu kedamaian tersendiri bagi Chanyeol. Dengan telaten kini si lealki itu berhasil membalut luka Chanyeol. Ia tersenyum puas saat melihat keadaan Chanyeol yang tidak seburuk tadi. Saat akan berdiri matanya memandang seorang lealki lain dengan pandangan yang terkejut bercampur rasa takut. Dengan cepat si lelaki manis itu menundukkan kepalanya dan berniat langsung meniggalkan kelima lelaki itu. Tapi setelah membungkuk dan berniat pergi, suara berat menghentikan langkahnya.

"Siapa namamu?,"

"Chen. Li Chen."

.

.

.

TBC

.

.

.

Maaf jika ada typo. Cerita kecepetan. Dan hal lainnya. Karena cerita ini hanya untuk hiburan semata. Buat yang puasa. Selamat menunaikan ibadah puasa. Maaf telat update juga. Terakhir. TERIMA KASIH YANG SUDAH ME-REVIEW, FAV, DAN FOLLOW ff ini. Sampai bertemu di Chpater selanjutnya.