^^ Akhirnya balik lagi... gara-gara ada yang buat saya semangat update FF ini lagi jadi bikin cepet dan langsung update deh~~...Maaf kalau ada kekurangan lagi karena ini buatnya secepat kilat ... maaf dan terima kasih untuk yang telah membaca FF saya~~


I Want To Catch You Away : Run? Or Hide?

-Len, bagaimana jika pulang bersama? -

_Maaf Luka-nee hari ini aku pulang bersama Miku_

-hmm..baiklah Len, besok bagaimana?—

_Baiklah akan aku usahakan untuk Luka-nee_

-Hah…hmm…Baiklah Len sampai besok—

Luka seperti sedang gugup terdengar dari caranya berbicara. Aku baru sadar sedari tadi Miku melototi diriku yang berbicara dengan Luka aku jadi merasa aneh sendiri.

"Miku ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Aku membalas tatapan Miku yang salah tingkah karena ketahuan melotot, tapi mukanya itu benar-benar lucu.

"ah..eh iya tidak ada apa-apa kok hehe.." Miku menggaruk punggung lehernya yang aku yakin itu tidak gatal.

"Jadi..kamu tidak akan mengatakan sesuatu?, Lalu untuk apa aku pulang bersamamu?, Bahkan kamu sampai memohon seperti itu?." Meninggikan nada bicaraku sedikit, sebenarnya ini hanya untuk bercanda sekaligus balas dendam tlah mengerjaiku.

"M.. Len…ano..itu..aku ingin bicara…tapi aku minta jawaban yang pasti darimu," Mengangkat kedua jari telunjuk dan memainkannya. Ciri-ciri orang yang sedang menutupi sesuatu namun merasa bimbang.

"Tentu saja aku akan menjawab dengan pasti, asalkan pertanyaannya yang normal" Aku dapat melihat bibirnya yang maju seperti ikan.

"Ihh..tentu saja aku akan bertanya dengan pertanyaan normal!, Lagi pula sejak kapan aku bertanya yang tidak normal?" Miku berbalik Tanya padaku yang tertawa.

"Pernahkan?, bahkan berkali-kali" Aku mencoba mengingat sesuatu yang terselip di otakku.

"Contohnya?!"

"Kamu pernah bertanya padaku 'Jika Benar Len seorang laki-laki..apakah Len akan menjadi Seme atau Uke?' Dan 'Len, kenapa orang jepang suka makan cumi?' lalu 'Kenapa dunia ini orang ganteng selalu berjodoh sama or.." Aku terkejut Miku menutup mulutku. Aku dapat melihat pipinya yang bersemu merah.

"Sudah ya Len..Jangan dibahas lagi," Aku mengangguk kecil dan dengan cepat Miku menarik tangannya kembali. Sekilas mataku melihat sesosok bidadari yang kukenal bersama seseorang yang aku tidak dapat aku lihat karena tertutup mobil.

"Miku aku ingin bilang sesuatu"

"Apa?"

"Tanganmu bau tauk ihhh"

"AHHH MASA SIH?," Miku yang panik mencium telapak tangannya, sedangkan aku berlari menghampiri Rin namun aku terhenti saat melihat siapa yang berbincang dengannya….Kaito Shion….

'Tidak aku tidak ingin seperti itu..' Rin seperti menggertak, sedangkan si iblis mulai memegang bahu Rin..Tentu saja! Aku tidak akan terima si iblis mencolek sedikitpun bagian dari bidadariku!

"sstttt…tunggu Len" Aku terkejut tanganku ditarik menuju belakang mobil yang terparkir, aku mencoba melihat siapa yang menarikku menjauh dari bidadariku? Dan ternyata itu adalah MIKU.

"Tunggu Len, Akan aku jelaskan semuanya tapi tidak disini" Dengan tidak suka aku mengerutkan keningku heran, bingung, dll bercampur aduk menggangguku. Ingin rasanya aku pulang dan menenggelamkan kepalaku di dalam bathtub dengan air hangat namun apa dayaku yang ditarik menjauh dari rumah dan sekarang aku berada di sebuah caffe kecil.

"Aku ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu dari seseorang" Miku mencari sesuatu dalam tasnya, dan menarik secarik kertas berwarna kuning dengan label jeruk dan memberikannya padaku.

"Ini dari Rin?" Aku seidikit gemetar menerima surat Rin untuk pertama kalinya, biasanya jika ada sesuatu Rin akan berbicara langsung padaku.

"Cepat bacalah" Dengan pelan aku membukanya.

Dari Rin Kagamine

Untuk Len Kagamine

Hi Len, Aku berharap kamu selalu sehat.

Dalam surat ini aku ingin sampaikan perasaanku, namun sepertinya terlalu terlambat untuk memberitahukannya padamu…Aku terlalu gugup untuk mengatakannya tidak seperti Luka-nee yang berani menanggung resiko.

Len aku menyukai kamu, aku mencintaimu.

Aku pernah berharap kau menyukai diriku ini, tapi sepertinya kamu telah direbut oleh orang lain yang juga sangat menyukaimu. Dan Len aku juga sudah berpacaran dengan Kaito-nii. Jadi aku mohon jangan benci aku dan teruslah menjadi sahabatku yang seperti dulu… Aku juga berharap kamu langgeng dengan Luka-nee.

Salam kasih Rin

Entah rasanya aku sangat kecewa dan marah pada diriku sendiri. Seharusnya akulah yang bilang bahwa aku sangat telat dan sangat tidak ingin mengambil resiko.

"Len sebenarnya tadi saat kamu bicara tentang Luka-nee. Rin sangat terkejut dan langsung ingin menangis, pada saat itulah Kaito datang dan membawa Rin pergi tapi seterusnya aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang aku tahu saat Rin kembali Rin bilang bahwa dia sekarang punya pacar Kaito-nii dengan tersenyum, dan aku yakin sekali senyum itu hanya pura-pura karena matanya masih sembab. Rin meminta pulpen dan menulis surat itu untukmu dan kata terakhirnya sebelum pergi adalah 'Miku aku yakin…Jika Len mencintaiku pasti dia akan datang padaku dengan sendirinya'. Oleh sebab itu hari ini aku ingin bertanya kepastian kau mencintai Rin tau tidak?!" Kata-kata Miku mulai tercerna di dalam otakku yang sudah penat. Tanpa basa-basi akupun mengambil tas meninggalkan caffe namun terhenti sejenak.

"Terima Kasih Miku," Aku dapat melihat Miku tersenyum. Lalu melanjutkan berlari kearah jalan yang Rin dan Kaito lewati tadi.