Kediaman keluarga Kim terlihat cukup lenggang saat ini. Hanya terlihat beberapa pegawai rumah berjalan mondar-mandir di dalam sana. Termasuk seorang lelaki manis dengan surai hitam pekat miliknya. Terlihat lelaki manis ini sedang beradu argument dengan salah seorang maid wanita disana.

"Noona, biarkan aku yang mencuci piring makanku sendiri," seru lelaki manis itu, Jongdae,

"Tidak bisa Tuan, nanti tangan anda bisa kedinginan," jawab si Maid tersebut, Jongdae yang mendengar alasan tak masuk akal itupun memutarkan kedua bola matanya dan menatap jengah Maid dihadapannya.

"Noona, dengar dengan hanya mencuci piring tidak akan membuatku mati kedinginan ditambah aku bisa menggunakan sarung tangan, benarkan?,"

"Tapi tu-,"

"Noona, Kumohon. Sekali ini saja, yayayaya?,"

"Tap-,"

"Biarkan saja dia Ahreum-ah,"

Potong suara lain dari belakang Jongdae dan si Maid –Ahreum yang sedang beradu argument. Ia adalah kepala pegawai di kediaman keluarga Kim, panggil saja Bibi Yeo.

"Tuh dengar Noona. Jadi biarkan aku mencuci piringi ini,"

Setelah itu Jongdae pun langsung mengambil sarung tangan berwarna merah muda dan memasangkannya dengan begitu rapi dikedua lengan mungilnya. Saat akan memasukan jari-jarinya, entah mengapa jari-jari mungilnya itu tidak bisa mencapai ujung si sarung tangan, bahkan kini ujung masuk sarung tangan merah muda itu sudah mencapai sikunya.

"Yaa~! Kenapa ini tidak bisa kugunakan?!," teriaknya pada entahlah tidak ada yang tahu pasti,

"Lihat kan Ahreum, sarung tangan saja tidak mendukungnya untuk mencuci piring."

Seru Bibi Yeo pada Ahreum lalu mereka berduapun terkikik geli melihat Jongdae yang terus berusaha memakai sarung tangan merah muda di lengan mungilnya.

Kembali pada Jongdae yang masih giat memakai sarung tangan karet itu, di depan pintu masuk kediaman Kim terlihat 3 orang lelaki tampan memasuki kediaman itu, mereka adalah Chanyeol, Xiumin, dan juga Yixing. Mereka habis menjenguk salah satu rekan mereka yang bau saja melahirkan. Sesaat mereka larut dengan obrolan yang cukup serius, hingga sebuah rengekan bercampur Aegyo menghentikan obrolan mereka.

Yixing yang pertama mendengar suara itupun langsung berlari menghampiri asal suara,

"Bibi~ kenapa ini tidak masuk pada lengan Dae? Kenapaaa~?,"

"Mungkin tangan Dae terlalu kecil. Sudahlah biarkan Ahreum yang mencucinya,"

"Tidak mau, Dae ingin bermain air, sekali sajaa~ Dae mohon~."

Entah siapa yang memulai tapi kini ketiga lelaki tadi sudah diam menatap kagum pada lelaki manis yang sedari tadi merengek pada kedua wanita dihapannya.

"Chennie~, Chennie bisa menggunakan sarung tangan milik Daeullie,"

Teriak anak kecil berasal dari belakang Chanyeol, XIumin, dan Yixing. Tapi langkah anak lelaki itu terhenti saat ia dihadapkan dengan beberapa kaki besar didepannya,

"Chennie~ bantu Daeul untuk melewati gerbang-gerbang ini," seru Daeul kembali lalu mengintip disela-sela kaki Chanyeol, Chanyeol pun hanya terkekeh lalu mengangkat Daeul kegendongannya,

"Aigoo, kau bilang apa apa pada kakiku , Daeul?," Tanya Chanyeol lalu menciumi leher Daeul, Daeul pun mulai mengelaurkan suara tawanya, hingga suara pecahan piring mengalihkan perhatian mereka semua.

"Yaampun, Jongdae. Kau tidak apa-apa?," panik Xiumin saat melihat wajah pucat Jongdae, Jongdae pun hanya terus terdiam, bahkan saat dengan sigap Xumin menggondeng Jondae bagai koala pun Jongdae masih terdiam dengan wajah pucat.

Setelah sedikit sadar dengan posisinya saat ini, kini Jongdae memeluk erat leher sang Kakak dan mulai terisak lirih dipelukannya. Yixing dan Chanyeol yang melihat itupun hanya memberikan tatapan cemburu dan juga iri.

Tangisan Jongdae masih terdengar bahkan kini semakin keras, kini keempat orang dengan satu anak lelaki sudah berada di sebuah kamar dengan warna mendominasi putih, kamar Jongdae.

Dengan perlahan Xiumin mendudukan tubuhnya ditepi kasur Jongdae, bahkan kini ia sudah setengah berbaring dengan Jongdae diatasnya. Yixing yang melihat adegan itupun hanya mendnengus kesal. Ia tahu bahwa Xiumin adalah kakak bilogis Jongdae, tapi bisakah mereka menghentikan kegiatan mereka itu. Itu cukup risih bagi Yixing yang notabennya menyukai Jongdae, tidak maksudnya mencintai Jongdae.

Setelah cukup lama dengan posisi yang sama, kini Jongdae sudah sepenuhnya berada dibawah selimut hangat miliknya. Xiumin pun menyuruh mereka semua keluar dari kamar Jongdae, bahkan Daeul yang merengek ingin menemani Jongdaepun ia bawa keluar. Kecuali satu orang. Ya aku lupa memberikan koreksi pada kalimat sebelumnya. Xiumin tidak bisa memaksa orang ini keluar meninggalkan Jongdae sendirian, ia adalah Park Chanyeol. Bodyguard resmi milik sanga adik tercinta.

Dengan perlahan kini Chanyeol sudah memposisikan dirinya duduk ditepi ranjang Jongdae, bahkan dengan tidak segan Chanyeol mengusap rambut Jongdae yang menurutnya sangatlah lembut,

"sebenarnya kau kenapa?," tanya Chanyeol masih terus membelai surai Jongdae,

"Bisakah Chanyeol tidur disebelahku?," pinta Jongdae lalu menepuk kasur sebelahnya yang memang masih cukup luas,

"Baiklah," setelah berhasil tidur disebelah Jongdae, kini Chanyeol pun lebih leluasa memperhatikan wajah Jongdae, rambut halusnya jatuh kearah kenan saat ia memutar tubuhnya kearah kanan, mengahadap Chanyeol yang juga sedang menghadap kearahnya.

"Tadi setelah makan, aku ingin bermai air dengan mencuci piring, lalu setelah itu Ahreum tidak mengizinkanku, kami sempat bertengkar saat itu tapi, akhirnya Bibi Yeo memperbolehkanku. Tapi masalahnya tidak sampai disitu," jelas Jongdae panjang lebar bahkan kini kedua tangannya ikut bergerak menandakan bahwa ia begitu kesal pada Ahreum yang terus mengganggunya saat ingin mencuci piring. Tapi hal yang paling berkesan dari diri Jongdae bagi Chanyeol adalah, keterbukaanya Jongdae pada siapapun.

Jongdae yang manis, Jongdae yang perhatian, Jongdae yang mandiri, dan Jongdae lainnya. Chanyeol mengakuinya, bahwa ia terperosok jatuh dengan pesona milik Kim Jongdae. Tak ada yang tahu bukan bahwa sosok Park Chanyeol yang sangat menggilai Byun Baekhyun, yang pernah berkata bahwa ia tidak akan bisa bangkit dari sosok Byun baekhyun, kini jatuh kedalam perangkap manis milik Kim Jongdae. Lelaki mungil dengan hati yang besar. Chanyeol pun mengakui bahwa Jongdae tidak terlihat cantik bagi ukuran pria dengan status dibawah itu, tapi bukankah ada yang berkata bahwa cantik tidaknya manusia terletak pada hatinya bukan pada parasnya.

"Lalu setelah memasukan lenganku pada sarung tangan itu, aku harus memasukan kelima jariku kan, Chanyeol?," Tanya Jongdae dengan kedua mata bulat dan tangan yang menghadap wajah Chanyeol,

"tentu. Lalu?," Tanya Chanyeol yang masih menatap Jongdae dengan hangat,

"Jari-jariku tidak bisa menyentuh dasar sarung tangan itu, bahkan ujung pintu masuk sarung tangan itu sudah mencapai sikuku. Menyebalkan bukan? Lalu setelah itu aku tetep ingin bermain air, hingga akhirnya PRANG~ Aku menjatuhkan satu piring yang tidak berdosa," jawab Jongdae lalu ditutup dengan menarik nafas yang cukup panjang.

"Kau ceroboh Dae," seru Chanyeol lalu mengelus surai Jongdae,

"Iyaiya, aku mengakui kalau aku itu Ceroboh. Ohya, Chanyeol, bagaimana kandungan Jongin?,"

Tanya Jongdae dengan mengalihkan topic pembicaraan mereka. Ya, Jongdae memang mengenal teman satu tim milik Chanyeol, karena nyatanya beberapa bulan sebelum Chanyeol ditetapkan sebagai Bodyguard pribadi Jongdae, Chanyeol dan teman satu timnya pernah bertemu Jongdae di sebuah wilayah terpencil di Ujung kota Busan. Pertemuan yang tidak terduga, karena saat itu Jongdae yang mengikuti bakti sosial dengan menjadi tim medis di sebuah desa kecil disana bertemu dengan Jongin yang terlihat kebingungan, dan untung saja saat itu Jongdae membawa alat-alat medisnya. Tapi baru saja tiba di tempat Chanyeol menunggu, Jongdae terlihat kaget saat melihat kakak lelakinya yang bahkan sudah hampir 2 tahun tidak ia temui ada disana. Memandangnya juga dengan wajah terkejut.

Setelah kejadian itu, setelah Jongdae mengatakan bahwa namanya adalah Li Chen, kedekatan merekapun terjadi. Dengan suara lantang, Minseko berteriak memanggil Jongdae yang langsung berlari setelah mengatakan nama samarannya pada Chanyeol. Sehun, Jongin, Chanyeol, dan Yixing yang melihat tingkah absurd Minseok pun mengernyitkan dahi mereka, karena jarang-jarang Minseok melakukan hal seperti itu.

Dan dari situlah, Jongdae mengenal teman satu tim dari seorang Park Chanyeol.

"Dia baik dan sudah melahirkan. anaknya seorang lelaki. Mirip sekali Jongin. Kau ingin menemuinya?," jawab Chanyeol allu mengajukan ajakan, sebenarnya bukan hanya ajakan menjenguk, Kapten kita ini memiliki niatan lain.

"Aku ingin, tapi aku tidak yakin Ayah akan mengizinkanku untuk pergi dari rumah ini. Terakhir aku pergi kan aku kabur, Yeol,"

"Kabur? Kemana?,"

"Sebenarnya saat kita bertemu di Busan itu, aku sebelumnya kabur dari rumah hehehe,"

"Lalu sampai sekarang kau belum keluar rumah kembali?,"

"Belum. Makanya, bantu aku ya, Yeol,"

"Call."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC/END?

Chapter ini pendek banget ya? TT Maaf ya huhu u,u

Review jika berkenan~

Bye~