Seperti janjinya padaku, berbagai cara telah kami coba untuk meyakinkan kepada kedua orang tuaku bahwa Park Chanyeol bisa menjagaku dengan sangat baik. Seperti beberapa hari kemarin saat dengan lantangnya Chanyeol menghampiri kedua orang tuaku beserta Xiumin yang sedang berdiskusi mengenai beberapa masalah kecil di kantor.

"Izinkan aku untuk membawa pergi Kim Jongdae, Tuan,"

Lantang Chanyeol sambil membungkukkan tubuhnya, ketiga orang itupun hanya memandang aneh Chanyeol lalu melirik padaku yang masih pura - pura focus dengan bacaan di sebuah buku tebal milik Xiumin.

"Apa maksudmu Park?," Tanya Ayah lalu memandang tajam Chanyeol tepat di bola matanya, Chanyeol hanya bisa memberika senyum kecilnya dan kembali melanjutkan permintaan tololnya dan sangat berharga bagiku.

"Tugasmu itu hanya menJAGA Jongdae bukannya pergi bersamanya," seru Ibu lalu menarik lenganku hingga membuat tubuh ini ikut berdiri disampingnya,

"Tapi, bukankah tidak baik juga untuk selalu berada di dalam rumah?, "

"Itu kasusnya berbeda Park Chanyeol,"

"Apa maksud anda?,"

"Sudahlah lupakan. Ingat, jangan pernah kau memiliki pikiran kembali untuk pergi bersama Jongdaeku, kau mengerti Park?."

Setelah kejadian itu Ibu lebih protektif terhadapku bahkan kini ia sudah jarang meminta bantuan Chanyeol untuk menjagaku, tapi kerjaan tidak pernah bisa gagal menggoda Ibuku, kini Ibu kembali sibuk dan ya Chanyeol kembali menjadi penjagaku. Aku mulai terbiasa dengannya, bahkan kini kalimat yang selalu kupendam baginya sudah sering terlontarkan.

"Apa makanan kesukaanmu, Captain Park?,"

"Sesuatu yang manis dan gampang untuk dicerna oleh tubuh,"

"Apa kau bisa memakannya setiap hari?,"

"Tentu saja tidak, karena aku takut bertubuh gemuk dan tidak tinggi – tinggi sepertimu."

Entah darimana tapi kini aku sudah sangat dekat dengan Chanyeol, setelah beberapa bulan berbicara formal, Chanyeol adalah sosok yang hangat dan juga manis. Lagipula, kini ia lebih sering menghabiskan waktunya bersamaku daripada melakukan 'tugas' wajibnya sebagai tentara, saat aku bertanya mengapa, ia akan menjawabnya dengan lantang bahwa ia bisa mendaptkan cuti dari kewajibannya. Aku yang tidak mengerti apapun hanya mengiyakannya saja, lagipula selama itu tidak merugikanku, mengapa tidak.

Seperti hari – hari kebelakang, kini Chanyeol sedang duduk dihadapanku dengan memangku sebuah gitar putih milik Xiumin, ia bilang ia mendapatkannya secara sembunyi – sembunyi, dan tak lama suara sinar yang terpetik itupun mulai memenuhi kamarku, gumaman kecilnya pun berangsur – angsur terdengar, ia menyanyikan sebuah lagu yang tidak terlalu ku ingat, mungkin ini lagu milik penyanyi Hollywood.

Kami larut dengan suasana itu, hingga akhirnya aku merasa CHanyeol sudah berada diatas tubuhku, tidak kami belum melakukan apapun. Tidak perlu digaris bawahi kata belum itu, biarkan disitu hingga suatu saat akan terwujud. Kami saling memandang wajah satu sama lain, aku sangat mengagumi struktur wajahnya yang sempurna, matanya cukup bulat bagi orang korea, hidung mancungnya, oh dan bibirnya yang terlihat cerah setiap saat. Kedua bola matanya terus memperhatikanku dengan intens, hingga aku merasa salah satu lengannya berada dipinggangku, memegangnya dengan begitu erat hingga kuyakinkan bahwa akan ada beberapa tanda merah disana di kemudian hari. Mata kami terus bertubrukan hingga, tanpa terasa Chanyeol mulai memajukan wajahnya menuju wajahku, aku hanya bisa terus memandangnya, hingga sebuah teriakan milik Xiumin menghentikan kegiatan intim kami tadi.

Ya, sudah beberapa kali ini kau merasa bahwa aku mencintai Park Chanyeol. Aku tidak tahu darimana asal rasa itu, tapi ku yakin seratus persen aku mencintai Park Chanyeol. Aku berharap aku memiliki kekuatan untuk bisa membaca pikiran orang, jadi aku bisa mengetahui perasaan dan pikiran seorang Park Chanyeol terhadapku. Aku sadar bahwa ini juga terlalu cepat, semuanya terlalu cepat, tapi hatiku sudah tidak bisa kubohongi lagi. Beberapa bulan ini sangat berarti bagiku dan mungkin dirinya. Kami menghabiskan waktu kami bersama dan tentu saja di dalam rumah , ohya kedua orang tuaku belum mengizinkanku untuk pergi keluar, tetapi usaha kami tidak akan pernah gugur.

"JIka kita berhasil keluar, kau ingin kemana?,"

"taman hiburan, aku selalu bermimpi untuk pergi kesana,"

"Kau belum pernah kesana?,"

"Tentu saja pernah, tapi aku ingin kesana kembali,"

"kau seperti anak kecil,"

"Tidak apa, aku menikmatinya,"

"ya, Akupun."

Kini, disebuah mobil berwarna hitam, aku duduk disebelah park Chanyeol, menuju Taman hiburan yang selalu kuimpikan. Ya, kami berhasil membuju kedua orang tuaku, mereka member izin dengan setengah hati, tapi setengahnya lagi sudah terisi oleh ikutnya Lay dan Xiumin di perjalanan kami. Aku tidak protes, asalakan aku pergi keluar dan kembali merasakan rasa senang di dadaku saat mengunjungi taman hiburan. Perjalanan kami diisi dengan ributnya Xiumin, Lay dan juga Chanyeol. Mereka terus berdebat, Chanyeol bilang ia hanya ingin pergi bersamaku, berdua saja, tapi Xiumin sebagai kakak lelaki yang sama protektifnya dengan orang tuaku menentang keras keinginan kecil Chanyeol itu, ditambah perkataan Lay yang akan selalu keluar untuk mendukung Xiumin.

Mereka berdebat, tapi aku tidak terlalu memperdulikannya, aku hanya memasang sepasang earbuds dikedua telingaku dan mulai mendengarkan beberapa lagu yang cukup aku gemari, sesekali kakiku akan mengikuti tempo lagu yang kudengar, aku terus memperhatikan jalanan diluar, hingga sebuah lagu yang sudah jarang kudengar muncul di kabel itu, sebuah lagu yang entah mengapa mengingatkanku pada beberapa kejadian mempilukan dikehidupanku, contohnya saat aku kehilangan anak anjing kesukaanku, yang bernama Gaeul. Sudahlah itu kenangan.

Sambil terus mendengar lagu itu, aku mulai memilin ujung bajuku, kebetulan aku memakai kaos oversized berwarna putih, dan juga sebuah short hitam yang dipadukan dengan sebuah snicker berwarna putih. Lagu ini membuat suasana hatiku sedikit menjadi sedih, tapi tak apa mungkin ini hanya akan sesaat. Aku kembali mengalihkan pandanganku kejalanan, hingga entah mengapa aku merasa ada sebuah mobil lain yang mengikuti kami dari belakang. Saat aku akan melaporkannya pada Chanyeol, entah bagaimana kini saat aku akan berpaling, wajah yang pertama kali kutemukan adalah wajah Chanyeol yang hanya beberapa centi dari wajahku. Aku merasakan pipiku memanas, tanpa diperintah aku langsung menutup kedua mataku, berharap saat aku membuka kembali mata ini wajah Chanyeol sudah tidak sedekat tadi. Tapi setelah beberapa detik menutup mata dan membukanya kembali yang kurasakan adalah sebuah benda kenyal yang menmpel di atas bibirku, aku terdiam, pikiranku seketika kosong. Aku merasa hilang, hingga akhirnya benda itu terlepas dri bibirku, dan telah kusadari bahwa tadi Chanyeol baru saja menciumku.

Sebuah Ciuman pertama…

Tautan bibir kami terus berlanjut, aku yang tidak pernah dan mengerti mengenai ciuman pun hanya terus terdiam, hingga dengan perlahan aku bisa merasakan bibir Chanyeol yang mulai menggigiti kecil bibir ini, ia terus melakukan itu hingga pekikan Lay membuatku menarik diri darinya. Kulihat wajah Chanyeol yang sedikit kesal, tapi langsung tergantikan saat aku menatapnya dengan bibir yang sedikit terbuka. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku, tapi sebelum aku menutup mulutku, aku merasa Chanyeol kembali mencium bibirku, hingga akhirnya aku merasa ada seseorang yang membuka pintu mobil tempat aku bersandar. Aku bisa jatuh, tapi aku merasa sebuah tangan menahanku, itu adalah tangan Xiumin karena aku berhasil menatap wajahnya saat di detik aku hampir menyentuh tanah.

"Kau tak apa, Jongdae?,"

Tanya Xiumin, akupun hanya mengangguk kecil, lalu setelahnya aku merasa dibawa pergi oleh Lay kesebuah toilet, ia bilang ia ingin minta diantar ke toilet, tapi aku tidak melihat Chanyeol maupun Xiumin mengikuti dari belakang. Hingga akhirnya, kami berempatpun kembali bersama.

Layaknya anak kecil yang baru pertama kali ke sebuah taman hiburan, Jongdae terus berlarian kesana kemari tanpa memerdulikan ketiga lelaki tampan dibelakangnya, bahkan saat menaiki sebuah wahana yang cukup ekstrim, bukannya berteriak senang, Jongdae malah hampir menangis karena ketakutan. Tapi ia tidak jadi menangis karena setelahnya Chanyeol dengan senang hati membelikannya sebuah permen kapas berwarna biru. Kini tawa Jongdae kembali terdengar, bahkan saking gemasnya melihat tingkah Jongdae, Lay pun memaksa ingin menggendong Jongdae di punggungnya, walaupun sempat mendapat kecaman dari Xiumin terlebih Chanyeol, kini kita bisa lihat bahwa dengan senang hati Lay menggendong Jongdae yang sedang memakan permen kapas dengan riang dipunggungnya.

"Jongdae, apa kau senang hari ini?,"

"Tentu, aku sangaat senang,"

"Apa ada tenpat yang ingin kau kunjungi lagi?,"

"Untuk saat ini aku ingin makan pizza, apakah boleh?,"

"tentu saja."

Jam hampir menunjukan pukul 5 petang, tapi segerombol manusia itu belum meninggalkan taman tersebut hingga, didepan sebuah wahana roller coaster mereka bertemu Sehun dan juga seorang anak lelaki tampan berusia sekitar 6 bulanan, Jongdae yang awalanya merengek ingin menaiki Roller Coaster pun menghentikan rengekan khasnya, dan focus dengan bayi yang digendong Sehun.

"Sehun, ini bayi siapa?," Tanya Jongdae sambil memainkan kedua pipi bayi itu yang kini sedang terbuai dengan bunga mimpinya, Sehun sempat terkikik melihat tingkah Jongdae sebelum ia membalas pertanyaan Jongdae seorang lelaki manis lainnya datang menghampiri mereka, ya tidak salah lagi itu adalah Jongin, istri sah dari seorang Oh Sehun.

"Annyeong~," sapa Jongin lalu berdiri disamping Sehun,

"Jongin, siapa bayi tampan nan lucu ini?," Tanya Jongdae sambil memainkan kedua lengan bayi yang sedang tidur itu,

"Jongdae hentikan, kasian dia sedang tidur," seru Xiumin lalu menarik lengan Jongdae dan menggenggamnya menjadi satu oleh lengan kirinya,

"tak apa, bayi ini? Tentu saja Bayiku, namanya Oh Taeoh, Jongdae belum pernah bertemu bukan?," jawab Jongin lalu mengelus pipi Taeoh, ya si bayi tampan itu.

"Benarkah? Wah Taeoh sangat tampan, bisakah aku memiliki anak setampan Taeoh di kemudian hari?," seru Jongdae sambil memperhatikan Taeoh di gendongan Sehun.

Semua orang yang ada disitupun tertawa mendengar celotehan Jongdae, hingga akhirnya karena bertambahnya dua tidak maksudnya tiga orang dalam tour perjalanan menghbibur Kim Jongdae, Jongdae tidak lagi merengek untuk menaiki Roller Coaster, tapi ia meminta untuk menaiki bianglala saja, ia bilang ia ingin melihat segalanya dari jauh.

Permintaan kecil Jongdae itupun terkabul, hingga akhirnya saat giliran untuk menaiki gerbong wahana itu, Jongdae memilih untuk naik bersama Chanyeol, Xiumin langsung protes tapi setelah berdebat kecil selama hampir beberapa menit, kini Jongdae dengan antusiasnya melihat sekeliling taman hiburan dari atas sana bersama Chanyeol. Chanyeol pun hanya terus terkikik kecil sampai, akhirnya saat akan berpindah duduk disebelah Chanyeol, mereka merasakan bianglala itu bergerak dan menciptakan guncangan yang cukup besar, hingga akhirnya Jongdae terjatuh di dekapan Chanyeol. Posisi yang cukup ambigu sebenarnya ditambah, Chanyeol yang langsung merengkuh tubuh Jongdae dengan erat.

"Kau cantik," seru Chanyeol lalu menatap dikedua bola mata Jongdae, "Terima kasih." Jawab Jongdae polos sambil tersenyum pada Chanyeol dan memperlihatkan giginya. Chanyeol tertawa mendengar jawaban Jongdae yang terkesan polos. Hampir beberapa menit mereka menghabiskan waktu dengan posisi seperti itu, hingga akhirnya Chanyeolpun mulai menarik Jongdae untuk duduk dipangkuannya.

Chanyeol mulai memainkan rambut Jongdae yang terlihat begitu lembut bahkan sebelum disentuh, lengan Chanyeol turun menjelajahi wajah Jongdae, kegiatan itu terus berlanjut hingga akhirnya Chanyeol menarik kepala Jongdae untuk menyatukan kening keduanya, Chanyeol terus memperhatikan wajah manis Jongdae, hingga tak terasa kini mereka sudah kembali ke bawah, dengan Jongdae yang masih berada dipangkuan Chanyeol. Tapi saat akan turun Chanyeol yang akan mengguncang tubuh Jongdaepun dihentikan niatnya oleh cekalan lengan Sehun, Sehun berbicara tanpa suara karena nyatanya ada dua bayi yang sedang tertidur saat itu. Chanyeol yang mengerti dengan sekali tatap pun mengerti maksud Sehun. Maka dengan sigap ia memilih untuk menggendong Jongdae yang sudah tertidur pulas dipundaknya. Raut wajahnya tidak menunjukan kelelahan bahkan ia berjalan dengan sangat normal. Jongdae yang tertidur dipundak Chanyeolpun tidak merasa terganggu sama sekali, bahkan sesekali ia akan mengusapkan pipinya pada pundak Chanyeol dan bahkan kini wajahnya sudah ia sembunyikan di ceruk leher Chanyeol. Xiumin tidak bisa mencegahnya, karena ia tidak mau menganggu tidur adik manisnya itu.

Perjalanan mereka terpaksa berhenti karena Jongdae sudah tertidur pulas, tapi saat akan menidurkan Jongdae dibangku belakang laykanya anak kecil Jongdaepun terbangun dari tidur singkatnya. Hingga akhirnya dengan rengekannya, ia meminta untuk makan siang menuju malam bersama di sebuah kedai Pizza di dekat taman hiburan ini. Karena tidak ingin membuat adiknya sedih Xiumin memilih untuk menurutinya, dan saat diperjalanan kembali hening karena aura letih sangat terasa didalam sana.

Sesampai di kedai Pizza mereka masih diam, hingga setelah memesan berbagai Pizza dan pasta Jongdae memunta izin untuk pergi ke kamar mandi. Disana Jongdae hanya membasuh wajahnya, tapi entah mengapa saat akan kembali keluar seorang lelaki berpakaian serba hitam memukul tengkuk Jongdae yang berakibat hilangnya kesadaran Jongdae. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Jongdae, dan setelah itu lelekai itupun membawa tubuh pingsan Jongdae bagaikan karung beras di pundaknya. Tapi saat akan mengangkat tubuh Jongdae, sebuah gelang yang dipakai Jongdaepun terlepas begitu saja. si lelaki itupun terus membawa Jongdae, dan ketika melewati sebuah tombol tanda adanya kebakaran atau tombol emergensi, lelaki itupun menekan tombol itu dengan tenang. Dan ya, bisa tertebak setelahnya terdengar beberapa teriakan dan juga suara langkah kaki orang banyak yang berlari hampir bersamaan. Chanyeol yang pertama kali sadar dengan situasi pun meminta Sehun untuk langsung membawa pergi Jongin dan Taeoh, sedangkan setelah member titahan itu Chanyeol memilih berlari menuju toilet untuk mencari keadaan Jongdae.

Disana ia bisa melihat Xiumin yang sedang memegang sebuah gelang berwarna hijau, ia sedikit tidak aneh dengan gelang tersebut. hingga akhirnya suara Lay membuat Chanyeol ingin mengubur dirinya hidup- hidup.

"Ini bukan karena ada Kebakaran, seseorang telah menekan tombol darurat dengan sengaja. Dan yang lebih buruk lagi, Jongdae menghilang."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC / END ?

[ maaf baru bisa update sekarang. Saya pikir abis lebaran bakalan free, ternyata gak. Terus saya pikir awal masuk sekolah bakalan free nyatanya, gak. Tugas dimana-mana. Disini saya mau nanya para Readers cerita ini mau dilanjut atau tidak? Tolong dijawab ya~. Ohiya, sebenernya feels saya sama chanchen itu sempet agak hilang karena terlalu banyak postingan otp yang katanya official di semua akun sosmed saya, dan ngebuat saya sedikit ilfeel sama 'mereka' . tapi karena author chanchen ada yang sempat update ff agak mulai numbuh lagi deh feelsnya, ditambah ada yang buat MEME CHANCHEN DI IG OMMO, buat siapapun lo yang buat meme chanchen ataupun postingan tentang Chanchen, saya mengucapkan terima kasih *lap ingus*. /anjir aing jadi curhat, fix, skip/ udahlahya pokonya SELAMAT MENIKMATI CHAPTER INI TUNGGUIN CHAPTER SELANJUTNYA yes JIKA ADA TYPO MAKLUMI SAJA YEES]

BYE~