He's just Animal

"Ini bukan karena ada Kebakaran, seseorang telah menekan tombol darurat dengan sengaja. Dan yang lebih buruk lagi, Jongdae menghilang."

.

.

.

.

Keadaan semakin tidak terkendali, Chanyeol yang pertama kali mendengar hal itu membaut gaduh suasana restoran. Ia seketika meraung dan menggeram, hingga sebuah teriakan dan tembakan membuat ketegangan itu sedikit sirna.

"Ada apa sebenarnya?," Tanya Lay saat ia dan Xiumin baru tiba ditempat Chanyeol mengamuk tadi.

"Jongdae, dimana Jongdae?!,"

"Tenanglah! Kita akan mencarinya bersama-sama!,"

"Tidak! Dimana Jongdae?!,"

"Bisakah kau menahan emosimu sebentar saja Park Chanyeol?!,"

Setelah teriakan dari Xiumin itu akhirnya sedikit demi sedikit emosi Chanyeol mereda, tapi kilatan kemarahan dan kedengkian masih tercetak jelas di bola matanya.

"Kita akan mencari tahu dari terakhir kali Jondae tinggal, dan Kau Park Chanyeol, cepat tahan emosimu atau aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk dekat dengan adikku lagi."

Keaadaan toilet itu sangatlah sepi, bahkan suara air dari sebuh keran rusak yang terus menetes terdengar menggema didalam sana. Sehun, yang sebelumnya mengantarkan Jongin dan Taeoh pulangpun sudah kembali ke restoran lagi setelah mendengar bahwa Jongdae hilang. Mereka membagi tugas dengan Lay dan Sehun sedangkan Xiumin dengan Chanyeol, hampir seluruh pelosok ruangan itu mereka perhatikan, hingga sebuah gilang berwarna biru menarik perhatian Chanyeol.

"Hyung, bukankah ini milik Jongdae?,"

"Kau menemukan ini dimana Chanyeol?,"

"Tepat dibawah tempat tisu ini,"

"Apakah Jongdae sempat melakukan perlawanan hingga gelangnya terjatuh?,"

"Aku pikir tidak, karena jika Jongdae melakukan perlawanan akan terdengar suara melengkingnya dan orang-orangpun akan curiga,"

Seru Lay lalu mengambil gelang yang sedang dipegang oleh Xiumin. Ia terus meneliti gelang tersebut hingga sebuah telepon bernada dering lagu pembuka pororo mengalihkan perhatian keempat lelaki tampan itu.

"Apakah itu nada dering Jongdae?,"

"Cepat cari!."

Keempat lelaki itu sibuk mencari sebuah benda pipih dengan berbagai fungsi, tepat saat benda itu terlihat mata, nada dering itu terputus dan digantikan oleh suara orang bersiul menandakan masuknya sebuah pesan singkat.

Seorang lelaki manis, pasti memiliki penjaga.

Jongdae begitu manis, tapi mengapa ia selalu sendirian?

Aku menyukai bibir kucingnya, apakah jikau kukecup akan terasa bagai buah berry?

-Your favorite alphabet

.

.

.

.

.

Disebuah gudang kecil berdebu terlihat seseroang dengan penutup mata sedang terikat disebuah bangku ditengah tengah ruangan hampa itu. Lelaki itu tidak bergeming, hanya terlihat dadanya yang naik turun menandakan bahwa ia masih bernapas. Hingga seorang lelaki lain berpakaian hitam berjalan menghampiri lelaki yang sedang terikat itu.

"Chennie, kapan kau akan sadar?,"

"Aku meirndukan suaramu,"

"Aku merindukan senyumanmu,"

"Aku merindukanmu."

Tak lama setelah berkata seperti itu, lelaki yang tadi dipanggil Chennie pun terlihat mengangkat kepalanya, bibirnya terbuka untuk mengatakan sesuatu tapi sebelum sebuah kata keluar dari bibir itu, lelaki yang berada dihadapannyapun melepaskan ikatan mata itu,

"Myungsoo..?," Tanya Chen atau ya Kim Jongdae pada lelaki yang sedaritadi berada dihadapannya,

"Long time no see, Chen," jawab Myungsoo lalu tersenyum dengan tampan didepan Jongdae,

"Mengapa kau menculikku? Apa aku ada salah padamu?," Tanya Jongdae lalu menatap Myungsoo dengan kedua alisnya yang bertaut,

"Tidak, Chen tidak ada salah apapun dengan Myungsoo. Myungsoo hanya merindukan Chen saja,"

"Tapi mengapa aku diikat? Tanganku kebas Myungsoo, bisa kau lepaskan?,"

"Apa rasa sakitnya masih bisa kau tahan? Karena Myungsoo tidak bisa melepaskannya sekarang,"

"Masih bisa kutahan, tapi mengapa tidak bisa dilepaskan sekarang saja?,"

"Chennie harus bersabar karena masih ada seseorang lagi yang ingin bertemu denganmu,"

"Siapa?,"

"Ya! Kim Myungsoo!,"

Teriakan dengan suara lantang itu membuat kedua lelaki itu menolehkan kepala mereka pada asal suara tadi. Empat lelaki jangkung akhirnya terlihat oleh retina mata Jongdae, hingga sebuah sirine terdengar didalam ruangan itu, membuat empat lelaki yang tidak salah adalah XIumin, Chanyeol, Lay dan Sehun serta Jongdae kelabakan. Tibatiba beberapa orang dengarn pakaian hitam datang pada ruang kecil itu, Terjadi kericuhan yang cukup besar, baku hantam terjadi dimana-mana, bahkan beberpa luka lebam telah tercetak di wajah keempat lelaki itu. Serta gurat lelah juga sudah terhias diwajah mereka, kecuali seorang Park Chanyeol yang terus melakukan perlawanan tanpa ada gurat lelah diwajahnya yang ada hanyalah gurat penuh amarah dan juga benci. Lelaki itu terus memukul orang yang berada dihadapannya, ia terus melakukanitu hingga ia sudah tiba didepan Myungsoo dan Jongdae yang masih diikat disebuah kursi kecil. Chanyeol menggeram dihadapan Mhyungsoo, membuat lelaki itu terlihat sedikit bergetar, tapi setelah bisa mengendalikan dirinya, Myungsoo pun mengangkat kedua lengannya tanda bahwa ia siap untuk bertarung dengan Chanyeol.

Kembali pertarungan itupun terjadi anatara Chanyeol dan Myungsoo, tapi saat Chanyeol akan memukul hati Myungsoo, sebilah kayu telah mengenai tengkuk Chanyeol yang membuat lelaki itu seketika tumbang dan jatuh pingsan. Tapi sebelum Chanyeol sepenuhnya kehilangan kesadarannya, ia bisa mendengar dengan jelas apa maksud Myungsoo membawa pergi Jongdae.

Jongdae berteriak histeris saat melihat tubuh Chanyeol yang ambruk dihadapannya, ingin hati menolong lelakinya itu tapi apa daya tubuhnya masih terikat dikursi reot itu, bahkan saat Myungsoo telah melepaskan ikatan itu ia langsung dibawa pergi oleh Myungsoo dan pergi meninggalakn sosok Chanyeol yang pingsan dihapan kursi reot tadi. Saat digendongan itu Jongdae terus merengek dan bergerak meminta turun dari gendongan Myungsoo, tapi kembali tubuhnya tidak bisa pergi kemanapun. Hingga ia merasa mengantuk setelah myungsoo memberikan sebuah sapu tangan untuk ia hirup.

Keadaan gudang tadi terlihat kacau, bahkan bisa tercium bau darah yang cukup menyengat didalam sana, hingga Sehun yang pertama terasadarpun berniat untuk membangunkan rekan-rekannya, dan saat akan mengguncang tubuh Chanyeol. Sehun merasa aneh karena tubuh Chanyeol sangatlah panas, ya panas bukan lagi demam. Tapi saat Chanyeol telah membuka kedua matanya, ia terlihat begitu bersemangat, bahkan ia tidak terlihat seperti orang sakit.

"Chanyeol-ah, kau baik-baik saja?," tanya Sehun sambil terus menatap khawatir lelaki dihadapannya itu, bahkan kini Lay dan Xiumin pun mengalihkan perhatian mereka pada kedua lelaki itu,

"Tentu. Bahkan aku merasa sangat bersemangat saat ini. Xiumin-Hyung, aku tahu dimana posisi Jongdae saat ini."

Perjalanan keempat lelaki itu hanya diisi dengan keheningan dan juga suara bantingan stir yang akan terus terdengar, emosi milik Park Chanyeol sangat terasa didalam mobil itu, hingga akhirnya mereka tiba disebuah gereja bernuansa eropa. Chanyeol langsung berlari kedalam hingga membuat Lay yang berada disebelahnya terhuyung kebelakang. Chanyeol terus berlari masuk hingga ia menemukan Jongdae dengan tiara dan penutup kepala bercirikan seorang mempelai wanita dalam sebuah pernikahan. Disebelahnya terdapat seorang lelaki yang Chanyeol ingat, ya Kim Myungsoo seorang lelaki yang teelah menculik Jongdaenya, lelaki yang telat mengikat Jongdaenya disebuah kursi reot.

Dihadapan mereka terdapat seorang pastur dan juga disebelah pastur itu terdapat lelaki lain dengan mata yang kecil diam dihadapan Jongdae dan Myungsoo. Pastur itu mulai untuk membacakan janji sakral pernikahan, hingga akhirnya aungan dan juga geraman menghentikkan ucapan sang pastur. Merekapun melihat kebelakang hingga akhirnya menemukan seekor seigala berbulu abu tepat berada dibelakang mereka. Mereka terlihat ketakutan bahkan Jongdaepun nyaris mengeluarkan air matanya, tapi seorang lelaki lain datang dan menodongkan pistol pada serigala itu. Si serigala terus meraung, dan akhirnya terjadi pertempuran tak seimabang itu, hingga akhirnya suara tembakan menghentikkan kegiatan dua mahluk beda jenis itu.

"hentikan semua ini Chanyeol!."

Teriakan Xiumin membuat Jongdae seketika mengehentikan tangisannya, ia terlihat bingung bahkan saat Xiumin emncoba untuk menahan serigala abu yang tadi ia panggil Chanyeol, nama seseorang yang sudah special didalam hatinya.

Xiumin terliaht kewalahan dengan si serigala yang terus bergerak dipelukannya, hingga Myungsoo dengan cepat menembakan secaara acak pada dua tidak satu orang dan juga seekor serigala dihadapannya. Tapi sial dengan skill menembak yang paspasan Myungsoo tidaklah menembak apapun hingga sebuah sirine polisi menghentikan Myungsoo dari acar menembak asalnya.

"Angkat tangan kalian, kalian kamu kepung."

Ya, stelah perkataan itu akan mudah tertebak apa selanjutnya, Myungsoo telah dibawa oleh pihak kepolisian, dengan perlahan juga pergerakan serigala abu itu terhenti. Keadaan sedikit canggung, hingga Jongdae dengan tudung dan tiara diatas kepalanya berjalan dengan perlahan menghampiri Xiumin, dan juga seekor serigala abu besar itu.

"Hyung..,"

"Jongdae-ah, kau tidak apa-apa?,"

"tidak apa-apa Hyung. Hyung apa benar serigala ini Chanyeol?,"

"Kau akan mendapatkan jawabanmu nanti, Dae."

.

.

.

.

Disebuah kamar dengan nuansa biru terlihat dua orang lelaki saling berhadapan, tapi lelaki yang lebih mungil itu mengenakan sebuah tudung ala pernikahan.

"Chanyeol, apa benar tadi kau berubah menjadi Serigala?,"

"Kenapa? Kau tidak takut?,"

"apa aku bisa menyentuh bulu serigalamu?,"

"kau tidak takut?,"

"Chanyeol..,"

"Tidak jawab pertanyaanku, dae. Kau tidak takut aku bisa berubah menjadi serigala?,"

"Tidak, itu tampak keren bagiku,"

"Kau unik,"

"tidak aku biasa saja. jadi..,"

"jadi?,"

"Bisa aku merasakan bulu serigalamu?,"

"tentu.."

Setelah itu dengan sesaat Chanyeol kini telah berubah menjadi Serigala dengan bulu berwarna abu dan juga terlihat sangat lembut, kedua matanya juga berwarna hijau Cantik. Jongdae seperti melihat boneka serigala yang sangat besar. Ia sedikit takut saat melihat Chanyeol atau si serigala itu bertranformasi menjadi serigala yang sangat besar. Tapi setelahnya ia tersenyum dan mulai memeluk tubuh serigala itu. Bahkan ia menenggelamkan wajahnya pada bulu-bulu ditubuh serigala itu.

"Chanyeol hangat, Aku suka,"

"Rawr..,"

"jangan berbicara kau mengerikan saat berbicara sepeti ini,"

"Chanyeol hangat..,"

"Chanyeol besar..,"

"Jongdae suka Chanyeol..,"

Jongdae terus menggesekan wajahnya pada bulu bulu Chanyelol hingga akhirnya saat Jongdae menenggelamkan tubuhnya pada serigala itu, Jongdaepun merasa aneh, karena dalam sekejap bulu-bulu hangat tadi tergantikan dengan dada telanjang seseorang dan juga sebuah lengan mausia normal yang melingkup di punggungnya.

"Chanyeol juga menyukai Jongdae."

TBC

maaf jika ada typo. maaf pendek. maaf updatenya lama, maklumi author yang anak kelas 3 SMA. maklumi juga Real Life author yang harus diurus, karena emang Real Life author tuh lagi harus diaktif(?)in gitu.

kritik dan saran author terima.

mau ngobrol sama author? boleh PM atau kontak ke di instagram (author ghostie disana hehe, tapi selalu on).

Terima kasih buat yang review, fav, ataupun follow.

Author sayang kaliaaan 3