Angel And Devil
.
.
By Ashura
.
.
Disclaimer : Naruto Just Have Mr. Masashi Kishimoto
.
.
Chara : Sasuke Uchiha, Hyuuga Hinata, Sabaku no Gaara
Gendre : Drama, Sufranatural, Hurt Comfort
Rated : M
.
.
Warning!
OOC, TYPO, AU, LEMON, ABAL, GAJE, (Tidak patut ditiru dan dipercaya karna ini hanya fiktif belaka)
.
Don't Like? Don't Read!
Please Press Back/Exit
.
.
Summary
Kegegalapan ada karna adanya cahaya. Meskipun cahaya dan kegelapan hidup selalu berdampingan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama karna jika mereka berkehendak demikian hanya akan ada kerhancuran yang didapatnya
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
"Matilah kau Hyuuga!" Geram Sasuke murka. Iapun mengangkat trisulanya ke arah Hinata. Percika listrik hitam terlihat melesat ke arah Hinata.
Hinata terpaku saat melihat Sasuke mencoba untuk membunuhnya menggunakan serangan khas Uchiha.
Suara gemuruh nampak menggelegar membentang di langit angkasa yang hitam. Petir kehitamannya nampak mengerikan menghancurkan semua benda yang menghalanginya. Iris batu onyx yang bertransformasi menjadi batu ruby yang memancarkan kebencian menjadi pusat batu amethys yang tidak gentar akan gertakan kemarahan sang pangeran kegelapan.
Membuat perlindungan yang akan menghalangi energi negatif sang Uchiha. Hinata tidak pernah berurusan dengan peperangan atau pertikaian yang berarti. Ia lebih suka mencari jalan tenang dan damai. Untuk pertama kalinya ia menggunakan cara yang tidak disukainya.
Menggunakan pertahanan diri adalah cara pertama untuknya. Sasuke mulai tertantang dengan sikap Hinata yang emilih defensif dibanding menyerang. Kita akan lihat seberapa tahan angel ini terhadap serangan darinya.
Terjadilah pertempuran yang dahsyat dalam dunia perbatasan, membuat penghuni alam bawah dan atas terganggu. Keseimbangan dua dunia yang goyah mengakibatkan para roh yang tersesat dalam perjalannya ke alam para roh.
Sang lucifer merasakan dunia miliknya sedikit bergejolak. Meskipun kepekatan akan rasa kebencian dan keputus asaan mengaung menjalarkan atmosfire kelam dalam dunianya, kemungkinan akan kejadian yang lainnya masih dapat dirasakannya. Telah terjadi sesuatu dalam dunia perbatasan. Tidak perlu pengecekan secara mendetail akan siapa pelaku dari semua kejadian yang ada.
"Sasuke."
Sementara itu didunia yang bertolak belakang dengan para Lucifer dimana terdapat kedamaian dan ketentraman yang menjalar didalam dunia ini. Dunia para angel. Dan sangat akan jelas terasa jika ada sesuatu yang tak biasa terjadi dalam dunia ini. Hiashi Hyuuga. Sang pemimpin para angel menatap khawatir dilangit cakrawala yang membentang cerah di atasnya. Ia tidak akan bisa membiarkan sang putri tercinta mendapatkan masalah yang membahayakan dirinya.
"My Lord!"
"Aku tahu Neji. Adikmu sedang bertarung dengan putra bungsu Fugaku." Ucapnya menanggapi kecemasan keponakan tersayangnya.
"Lantas apa yang akan kita lakukan?" Tanya Neji memastikan. Walaupun Hinata adalah adik sepupunya tapi itu tidak menjadi alasan bahwa dia tidak menyayangi Hinata layaknya adik kandungnya sendiri.
"Aku yan akn menanganinya sendiri. Aku tahu Fugaku juga akan melakukan yang sama."
"Baiklah, My Lord."
Dalam sekejap mata tubuh Hiashi menghilang dari hadapan Neji.
..
Hinata terengah dengan tongkat perak yang indah dengan bentuk seperti planet saturnus yang indah di kepala tongkat tersebut. Tingginya hampir mencapai dagunya membuatnya sangat efektif menjadi tumpuan beban tubuhnya yang mulai lemah. Sasuke menyeringai menatap sang angel yang hampir mencapai batas spiritnya. Tombak trisula dan sebilah pedang menjadi senjata yang jelas tidak akan seimbang untuk melawan satu angel didepannya.
"Katakan padaku wahai, my princess angel. Siapa yang terkuat sesungguhnya disini!" Sasuke mengarahkan ujung pedangnya ke arah Hinata. Bersiap untuk memberikan hukaman pada orang yang telah melawan dirinya.
"Minta ampunlah padaku! Maka dengan senang hati aku akan memberikan keringanan hukuman padamu." Sasuke tidak perduli jika kekuatan yang dikeluarkanya terlalu kuat membuat dunia perbatasan nampak tidak seimbang membuat para roh penasaran dan tersesat semakin ketakukan.
"Aku tidak akan menyerah! Prince Devil."
Sasuke menggeram karna Hinata berani memutar balik kata-katanya. Sikap keras kepala yang ada pada mereka memang sangat mengerikan. Maka tanpa pikir panjang Sasuke melepaskan pedangnya kearah Hinata. Suaranya menggelegar dengan kekuatan listrik yang dialiri sang empu. Hinata gesit menghindar namun seolah tahu gerakan lawannya pedang ini mengikuti gerakan Hinata dan berbalik menyerang Hinata.
Tongkatnya memang tidak seefektif pedang yang dimiliki Sasuke namun, cukup ampuh untuk menangkisnya.
Ini benar-benar berbahaya. Hinata memejamkan matanya lantas mata amethysnya beruubah soft lavender dengan urat yang menyembul di kedua sisi matanya. Hinata menggunakan element tanah untuk menghentikan pedang Sasuke, tidak hanya itu Hinata menggantikan senjatanya dengan panah berwarna yang sama. Ia menarik busurnya, perlahan sebuah cahaya membentuk anak panah terbentuk. Melesat tepat kearah Sasuke, namun sebuah bola energi hitam menghentikan panah Hinata hingga terciptalah ledakan yang sangat dahsyat.
Jika memang ini akhirnya Hinata harus segera mengambil keputusan untuk melenyapkan sang pangeran kegelapan. Tapi ini jelas diluar kebiasaanya. Tapi, jika dibiarkan maka ia yakin dirinyalah yang akan tewas.
Baiklah, sudah diputuskan.
"Gomenne." Bisik Hinata pelan. Meskipun sangat pelan masih dapat didengar oleh sang pangeran walaupun jarak mereka cukup jauh. Kabut yang cukup tebal menghalangi pandangan, namun bukan devil namanya jika hal itu akan menyulitkannya dalam menemukan objek sasarannya. menciptakan badai topan yang sangat besar membuat hampir semua benda yang berada dipermukaannya terangkat mengalahkan gaya tarik kekuatan gravitasi. Sasuke merentangkan tangannya membuat sebuah simbol yang rumit. Seketika terdapat lambang aneh hampir disetiap hamparan tanah yang sudah tidak berbentuk lagi. Seringainya terbit saat ia menemuka objek kehancurannya melayang terbang kearahnya.
"Kena kau!" Sasuke menggerakan tangan kirinya yang kini memegang sebilah pedang sebelumnya. Hinata dengan busur cahayanya.
Sriiiinng!
Cruush!
Dhuuuar.
sebuah ledakan besar tercipta di karnakan kedua energi yang bertolak belakang menghantam satu sama lain. Cahayannya membentang kesegala arah menghancurkan benda yang berada disekitarnya. Sebuah lubang besar tercipta membentuk lingkaran yang dalam menjorok kebawah.
Hinata terbatuk merasakan sakit dan sesak didadanya. Ia juga merasakan sakit dipunggungnya. Ia meraba bagian punggungnya yang sangat perih.
"Astaga!"
Demi memastikan praduganya Hinata menyentuhnya dan ia berbalik. Sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara histerisnya karna syok, menatap sayapnya tergeletak begitu saja di depannya. Sayapnya terpotong habis dipunggungnya. Amethysnya bergulir pada sosok tubuh yang tergeletak disampingnya.
Tubuh Sasuke Uchiha.
Hinata sedikit menyingkir kesamping menjauh dari Sasuke yang juga mulai tersadar dari pingsannya. Geraman dan umpatannya keluar dari mulut Sasuke. Hinata memperhatikan Sasuke yang terlihat baik-baik saja. Namun..
"Sial! Sakit sekali mataku."
Dan Hinata tidak bisa menyembunyikan suara terkejutnnya saat mata sebelah kiri Sasuke berubah ungu dengan pola melingkar yang rumit. Keluar cairan merah pekat saat sang empu menggosok matanya dikarnakan penglihatannya yang sedikit terganggu.
"Ja..jangan dikucek! Ma..matamu berdarah." Ucap Hinata memperingatkan. Seolah tuli dengan ucapan Hinata, Sasuke mengucek matanya hingga membuat darahnya semakin banyak keluar.
"Hentikan!" Tidak tahan dengan kengerian didepannya Hinata menarik lengan Sasuke berharap Sasuke menyadari kondisinya. Namun yang ada malah semakin membuat Sasuke kesal. Ia bahkan menghempaskan Hinata dengan kasar.
"Menyingkir kau, Hyuuga! Aku tahu apa yang lakukan. Ini semua gara-gara kau!"
"Ta..tapi kau.."
"DIAM KAU!" Bentakan keras Sasuke cukup membuat Hinata diam. Ia duduk menekuk lututnya menghindari pamandangan yang mengerikan padanya.
"AAARGHHHH!"
Hinata menenggelamkan wajahnya berharap tidak melihat Sasuke yang terus menyiksa dirinya sendiri. Setetes air mata jatuh dipipinya. Sasuke yang mulai tersadar mengalihkan perhatiannya pada sang angel yang nampak bergetar disampingnya. Ia terdiam saat melihat Hinata menangis dalam diam. Ia merasakan perasaan yang asing didadanya. Entah kenapa ia merasa lebih kesal dari sebelumnya. Ia ingin membanting apapun yang ada disekitarnya namun...
"SASUKE UCHIHA!" Suara menggelar dari langit menciptakan langit yang gelap dan petir yang saling bersahutan dipusatnya. Tak beraa lama sosok sang luciferpun muncul melayang terbang ketempat mereka berada. Kakinya menapak pada tanah menimbulkan sedikit goncangan pada tempatnya berada. Sayap hitamnya yang hitam terlihat gagah membentang lantas kemudian mengepak lantas menekuk menjadi bentuk yang lebih sempit dari sebelumnya.
Tak berapa lama sebuah cahaya indah menyeruak masuk dari sela-sela langit yang berawan pekat. Wangi alam yang menenagkan membuat siapapun akan terasa damai saat kau membaunya. Namun bagi para lucifer itu adalah hal sangat memuakan. Ketenangan bukanlah bagian dari dunianya.
"A.. ayah." Hinata menatap sang ayah yang berdiri tak jauh darinya. Iris yang sama dengannya menatapnya hawatir. Hinata memalingkan wajahnya menolak menatap sang ayah. Ia sangat malu atas sikap kekanakannya.
"Hinata, kemarilah."
Sebuah cahaya berpendar disekitar tubuh Hinata. Mengangkatnya membawanya kearah sang ayah yang menunggunya diatas. Hinata bakan tidak bisa untuk menyembunyikan kesedihannya dihadapan sang ayah.
"Maaf."
Hiashi menghela napas. Ia jelas tidak bisa berbuat lebih untuk menyelamatkan putrinya. Ia melirik pada Fugaku yang kini masih menatap pada putranya dingin. Sasukepun juga tidak mau kalah ataupun mau untuk terintiidasi oleh sang ayah. Ia membalasnya membiarkan aura kegelapan memenuhi lingkiran auran mereka berdua.
"Aku tidak bisa mengembalikan sayapmu yang patah Hinata. Tapi,mungkin kau masih memiliki kamampuanmu sebagai angel." Jeda Hiashi ia lantas membawa Hinata dalam pelukan kasih sayangnya, "Sayapmu akan tumbuh dengan sendirinya saat kau berhasil menyelesaikan misimu nanti. Percayalah tuhan akan selalu melindungi kitra dalam dalam setiap kebaikan. Jikalaupun para angel dan para devil bertarung, adalah sesuatu yang biasa saat kebaikan dan kejahatan bertemu."
"..."
"Hanya saja para angel tidak pantas untuk memulai suatu pertarungan dengan emosi negatifnya."
"Apa yang harus aku lakukan, ayah? Aku tidak akan bisa menyelesaikan misiku." Ucap Hinata pesimis.
"Kau pasti bisa menyelesaikannya, Hinata." Jawab Hiashi meyakinkan.
"Bagaimana caranya?"
Hiashi tersenyum memberikan tatapan lembut kepada sang putri tercinta. Tidak berapa lama ia menatap sepasang ayah dan anak juga menatap kepadanya. Ia memberikan tatapan datar saat Fugaku menyeringai sinis padanya. Hiashi yakin, tidak semudah yang ia bayangkan saat ia harus berurusan dengan sang penguasa kegelapan dengan level sebagai raja. Kekejaman klan iblis ini tidak bisa ditolelir. Kenyataannya mereka jelas adalah pembuat strategi licik dan tipu muslihat yang terkadang membuat para angel kewalahan menghadapi para iblis macam mereka. Ia hanya berharap putrinya mampu mengatasi permasalahannya bahkan dengan iblis macam pangeran iblis ke 2 Lucifer Fugaku Uchiha.
.
.
.
Malam semakin larut dan langit malam tanpa bintang membuat suasana semakin mencekam. Tanpa adanya yang menyadari saat seorang angel tanpa sayap ini masuk kedalam rumah besar kediaman Sabaku tanpa hambatan. Sekalipun pintu ditutup sekalipun, ia bisa menembus benda apapun yang diinginkannya. Ia berjalan menaiki tangga menuju antai dua tepat kamar seorang balita berusia 3 tahun yang masih terlelap dalam mimpinya. Amethys menatap sedih namun, seketika ia berbalik saat kepakan sayap terasa dibelakangnya. Ia sedikit terkejut saat mata sebelah kiri sosok tersebut sedikit berbeda dari iris ruby sebelah kanannya. Seketika ia menunduk saat tatapan tajam dan bencinya terarah tepat pada iris matanya.
"Tertawalah Hyuuga, aku pastikan tidak hanya sayapmu yang akan aku potong tapi juga kepalamu." Ancamnya marah.
"Maaf, Sa..saasuke, a..aku.."
"Diam kau! Aku muak mendengar suaramu!" Ucap Sasuke kasar, "Gara-gara kau aku harus kehilangan mata kiriku dan mata kananku tidak berfungsi dengan normal."
"Ma.. maaf."
"Cih."
Demikianlah halnya yang terjadi antara mereka berdua. Sejak saat itu tidak ada sekalipun Sasuke mau untuk bersikap lebih baik pada Hinata. Hal yang memang biasa antara Devil dan angel bertemu. Hanya saja ini terlalu berlebihan saat Hinata harus menerima semua perkataan kejam yang keluar dari mulut sang iblis.
Ketika Hinata memberikan arahan pada Gaara akan selalu menggunakan tangan kanannya saat menerima pemberian orang lain, maka Sasuke dengan sengaja akan membuat tangan kanan Gaara bergetar dan apapun yang dipegangnya akan dijatuhkannya. Disaat Hinata membimbing Gaara untuk tidak bermain terlalu jauh dari tempatnya semula dan Sasuke akan membuat rasa ingin tahu Gaara menjadi dominan dan berakhirlah Gaara yang menarik perhatian para makhluk yang haus akan jiwa murni bocah bersurai merah tersebut. Hinata tentu juga harus turun tangan dengan membuat perlindungan yang transparan bagi Gaara. Jiwa manusi ayng memiliki kekuatan indigo mampu menebak apapun yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Alhasil Hinata harus bekerja ekstra saat Sasuke membuat insting Gaara semakin tajam. Mampu melihat apapun yang tidak dapat dilihat oleh orang lain jelas akan dianggap aneh saat pikirannya tidak sejalan dengan pemikiran manusia lainnya. Terkadang ucapannya dianggap aneh dan tidak masuk akal. HAl itu justru semakin memupuk emsi negatif yang tersembunyi dari diri Gaara.
Hal itu berlangsung terus hingga Gaara menginjak sekolah dasar. Banyak anak lain yang mengejeknya karna tingkahnya yang aneh. Terkadang berbicara dan tertawa sendiri. Hal yang paling disayagkan oleh Hinata saat mereka tidak mau mengakui keanehan yang terjadi pada Gaara adalah anugrah tuhan yang diberikan kepada anak-anak pilihannya. Namun ia masih bersyukur saat kelurga Gaara tidak ada yang menganggap demikian. Mereka bahkan menyambut baik keadaan Gaara yang sekarang. Menurut mereka itu adalah mukzizat saat tebakan dan berbagai tebakan diucapkan Gaara benar adanya. Hanya saja Hinata tentu tidak boleh bersenang hati dulu saat ada iblis disampingnya. Hasutannya terhadapap Gaara selalu efektf apalagi saat mengetahui latar lingkungan Gaara yang buruk.
Semestinya Hinata bisa mengubah sikap Gaara menjadi orang yang selalu ceria dan mau berdikap simpati kepada semua orang. Namun dengan hasutan Sasuke aura negatif dan bisikan negatifnya membuat Gaara selalu apatis. Lebih suka menjadi penonton, menyaksikan berbagai kekecewaan, kemarahan dan keputus asaan yang selalu terjadi dilingkungannya. Bahkan ketika Gaara menginjak bangku sekolah Juniornya ia harus rela kehilangan nenek tercintanya untuk selamanya. Sasuke datang dengan bisikan bahwa Gaaralah penyebab sang nenek meninggal. Gaara mendapatkan penglihatan seekor kucing yang menghalangi jalan mobil yang ditumpangi sang ennek dan supir pribadinya. Saat itu sang nenek akan berkunjung kerumah mereka yang berada di Konoha. Gaara sengaja tidak memberitahukannya karna dikiranya itu adalah penglihatan yang tidak terlalu penting dan iapun mebiarkannya begitu saja. Tidak berapa lama kemudian telepon mereka berdering dan berita kematian neneknya pun terdengar dari pihak berwajib. Penyebab dari kecelakann sang nenek tidak lain dan tidak lebih karna menabrak seekor kucing yang lewat dijalanan yang mereka lalui.
"Ini semua salahku yang tidak memperdulikan pengihatan sialan itu." Bisikan itu terus menerus menghantu pikiran Gaara hingga membuat sifat Gaara berubah semakin dingin. Ia bahkan mulai menyendiri. Tidak suka jika ada orang lain yang berdekatan dengannya lebih dari 15 menit. Hinata tentu saja tidak bisa berbuat lebih saat lingkungan Gaara mulai berubah sedikit demi sedikit.
Berbalik dengan Sasuke yang merasa senang dengan perkembangan Gaara. Perlahan Gaara mulai bersikap seperti dirinya. Ia sangat berterima kasih pada peradaban manusia yang semakin berkembang dari waktu kewaktu. Lebih dari itu, sang angel yang biasanya selalu giat melawannya kini sudah tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa mengamati dari belakang Gaara. Ia senang tentu saja. Bagaimana ia menikmati saat-saat ekpresi sedih, putus asa, terkejut, khawatir dan semua hal negatif lainnya yang menurutnya patut untuk dibanggakan. Seperti dulu seperti saat sebelumnya mereka mendaptkan misi yang sama dan berakhir dengan kekalahannya. Kali ini ia bersumpah, dialah yang akan jadi pemenangnya. Jiwa murni Gaara akan menjadi milik dunia kegelapan.
Setiap menit, jam, hari, minggu hingga bertahun lamanya. Hinata dan Sasuke tidak pernah pernah berhenti memperjuangkan tujuan mereka yang bertolak belakang. Tanpa terasa Gaara kini telah menginjak usia remaja. Dimana dalam masa ini manusia akan mulai menemukan hal-hal yang baru yang akan mempengaruhi sifat mereka dalam hal pergaulan dan kebiasaan. Hinata bahkan hampir mencapai batas limit saat Gaara mulai mengacuhklan bisikannya. Bahkan ia sudah tidak bisa menembus pikiran Gaara sekalipun dalam bentuk bunga tidur untuk Gaara. Pekatnya kegelapan yang melingkupi perasaan Gaara membuat cahaya Hinata sulit untuk menembusnya. Apalagi Sasuke sengaja menghilangkan jejak-jejak dirinya yang dulu pernah berinteraksi dengan Gaara kecil. Kelakuan Gaara mulai tak terkendali saat tubuhnya berkembang baik menjadi sosok pemuda dengan penampilan fisik yang membuat kaum hawa terpikat padanya. Usia 17 tahun adalah usia manusia yang paling produktif dalam pembentukan kepribadian, dimana di usia inilah manusia akan menentukan jalan mana yang akan diambilnya. Gaara dan kemampuan barunya sebagai pembaca pikiran jelas tidak menyukainya. Tanpa pikir panjang ia sengaja mengirimkan sinyal mimpi buruk kepada orang yang tidak disukainya. Bahkan ia sengaja menerornya dengan mengirimkan makhluk halus yang dapat dikendalikannya untuk mengganggu orang-orang yang diinginkannya. Salah satu kemampuan Gaara yang paling Hinata benci.
Hinata hampir putus asa. Hingga ketika keluarga Gaara menempatkan Gaara pada sebuah sekolah yang terdapat di pinggiran kota Konoha. Seolah mendapatkan harapan baru saat mengetahui sekola apa yang dimaksudkan sang kepala keluarga. Berbeda dengan Sasuke yang justru sangat tidak menyukai keputusan tersebut. Tentu saja ini tidak menguntungkan baginya, namun ia percaya. Sepanang manusia bernapas tidak ada yang luput satupun dari yang namanya kesalahan atau kesempatan. Mungkin ini adalah awal dari pertarungannya yang sebenarnya dan kota terpencil ini dengan segala seluk beluk didalamnya terutama keberadaan sekolah yang terlihat menarik untuknya bukanlah masalah yang sulit untuknya.
'Hyuchiha Gakuen.'
Nama yang aneh untuk sebuah sekolah.
Ia melirik Hinata yang nampak memikirkan hal yang sama dengannya. Mereka sudah berada di Konoha Village. Aura kota yang khas pedesaan dan masih terlihat adaya jejak kebudayaan Jepang yang khas disini. Siapa yang akan mendapatkan jiwa Gaara dialah yang menjadi pemenangnya bukan?
.
.
.
.
To Be Countinued
.
.
Oke bagaimana kelanjutan dari perjuangan Sasuke dan Hinata sebagai Devil dan Angel dalam mendapatkan jiwa Gaara?
Disinilah awal perjuangan mereka yang sebenarnya
.
.
See you next chap
.
