~Last Chapter~

DHUAAR.

Sekali lagi ledakan yang dahsyat terjadi. Tekanan angin yang terlalu kencang membuat Gaara terpental begitu pula dengan Toneri dan Matsuri. Mereka jatuh meringkuk saat terlempar sejauh 10 meter dari lokasi pertarungan antara Hinata dan Sasuke. Mereka terbatuk mempertajam penglihatannya saat kepulan asap debu mulai menghilang. Gaara melebarkan matanya saat tetesan darah keluar dari ujung pedang Sasuke.

'Tii..tidaaak!'

.

.

Angel And Devil

.

.

By Ashura

.

.

Disclaimer : Naruto Just Have Mr. Masashi Kishimoto

.

.

Chara : Sasuke Uchiha, Hyuuga Hinata, Sabaku no Gaara

Gendre : Drama, Sufranatural, Hurt Comfort, Romance

Rated : M

.

.

Warning!

OOC, TYPO, AU, LEMON, ABAL, GAJE, (Tidak patut dipercaya atau ditiru karna ini hanya fiktif belaka)

.

Don't Like? Don't Read!

Please Press Back/Exit

.

.

Summary

Kegegalapan ada karna adanya cahaya. Meskipun cahaya dan kegelapan hidup selalu berdampingan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama karna jika mereka berkehendak demikian hanya akan ada kerhancuran yang didapatnya

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

#5# Jealous


..

..

'Tii..tiidaaaak!'

Iris lavender terbelak menatapnya tidak percaya.

Ujung pedang menancap langsung ke dada kiri sang iblis. Iris rubynya perlahan berubah menjadi onyx menatap sayu kearah Hinata. Ia bingung dengan tindakan tubuhnya sendiri yang justru bergerak diluar kontrolnya. Ia memang kesal dan tidak suka dengan tindakan Hinata yang terlalu baik pada semua orang. Tapi, ia lebih kesal pada dirinya sendiri. Semestinya perasaan asing ini sudah ia buang jauh-jauh. Ia benci memilikinya. Dirinya adalah makhkuk terkuat dan tangguh tapi, kenapa hanya karna ada secuil rasa asing didadanya dapat mengalahkannya telak. Pikirannya buntu dan rasa tidak rela didadanya jelas membuatnya seperti seorang yang kehilangan jati dirinya sebagai seorang iblis. Pandangannya mulai memburam kehilangan fokus hingga akhirnya tubuhnya ambruk andaikan sosok lembut dengan aroma lavender tidak mendekap dan menahannya dalam pelukan menyejukannya.

"Sa..Sasuke san." Panggil Hinata panik. Dada Sasuke mengeluarkan banyak sekali darah. Dengan hati-hati ia mencabut pedang yang masih menancap di dada sang iblis. Apa yang dipikirkan oleh iblis berhati dingin ini. Bisa-bisanya menusuk dirinya dengan pedang miliknya sendiri. Bukankah tadi iblis ini terlihat kesal lantas berusaha untuk mencelakainya.

"Jika kau ingin tertawa, tertawalah. Aku sendiri juga tidak mengerti tanganku bergerak sendiri." Ucap Sasuke terkekah mengejek, "Otak dan tubuhku memang selalu bermasalah jika itu berhubungan denganmu. Kau tahu kenapa?" Tanya Sasuke menatap Hinata.

Hinata menggeleng pelan " Aku tidak tahu hanya saja, terus terang aku terkejut. Padahal ku kira kau akan membuatku melihat ibuku disana. Pedangmu bisa membunuhku secara permanen." Balas Hinata membenahi kepala Sasuke dalam pangkuannya. Ia menunduk meneliti luka menganga Sasuke dan ia tersenyum lega."..Sedikit menggeser kekiri maka pedangmu akan merobek jantungmu. Itu akan mengakhiri hidupmu."

"Hm. Ku rasa kepalaku mulai lelah. Pendarahannya cukup parah dan aku sangat mengantuk." Ucap Sasuke menggeser wajahnya lebih merapat ke perut Hinata. Ia melingkarkan tangannya pada perut Hinata. Tidak sadar tindakannya itu justru membuat berbagai pasang menatapnya tidak suka. Tidak sampai satu menit Sasuke pingsan dalam pangkuan Hinata. Kegelapan yang sangat menenangkan.

..

..

Tubuhnya terbaring lemah dia atas kasur king sizenya. Dadanya di balut oleh perban dengan bentuk yang sangat rapi menutupi luka yang cukup parah. Jangan tanya siapa yang melakukannya. Yang pasti orang itu adalah orang yang selalu bertindak dengan penuh ketulusan dan kepedulian yang sangat besar bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Seberapapun tahu bahwa lelaki gagah ini akan baik-baik saja sekalipun lukanya dibiarkan begitu saja. Bukankah iblis itu adalah makhluk immortal. Walau begitu luka yang didapatnya memang bukan luka biasa. Bahkan perban pun kurang efektif untuk menutupi bekas darah yang sedikit merembes dari kulit putihnya. Luka karena pedang iblis memang mengerikan. Jika pedang itu bisa membunuh para makhluk atas lantas bagaimana dengan dirinya yang yang hanya seorang yokai yang bahkan kekuatannya pun masih dibawah level iblis. Kembali ia mendengus menanggapi seberapa rendahnya ia di bandingnkan dengan makhluk sufranatural kalangan atas.

"Aku snugguh tidak menyangka akan menemukanmu lagi Izuna." Bisik gadis yokai mentap penuh damba pada sosok yang kini terbaring tenang ditempat tidur Gaara. Betapa ia sangat mengagumi sosok sempurna sang iblis. Begitu mempesona seolah pandangannya tertarik untuk tidak mengalihkan tatapannya makhluk menggoda dan pendosa ini. Dia tidak buta namun cinta membuatnya buta untuk melihat siapa sosok sebenarnya 'dia'. Uchiha Sasuke, itu adalah nama yang disebutkan si gadis angel bernama Hinata. Dia memang tidak mau mengerti seberapa mendetailnya Hinata menceritakan akan siapa sebenarnya pria yang kini terbaring lemah ditempat tidur ini. Uchiha Sasuke adalah seorang pangeran ketiga dari generasi klan Lucifer Uchiha.

Uchiha?

Ya. Uchiha.

Kenapa para Uchiha selalu menarik dan mempesona.

Ia mendekat mendudukan dirinya di samping sang iblis. Ia membelai pipi tirus Sasuke. Rambutnya terasa lembut saat ia menyentuhnya, jika Izuna berambut agak panjang Sasuke sedikit lebih pendek namun dengan poni yang sangat cocok pada bentuk wajahnya yang maskulin. Sama-sama memiliki kulit putih dengan mata yang onyx yang sama-sama memikat. Betapa kokoh garis rahangya, dagu yang lancip hidung yang mancung dan bibir yang sangat sensual. Ia tersenyum tipis, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya bibir sexy Sasuke. ekor berwarna coklat keemasannya bergerak untuk menyentuh Sasuke. Ketahuilah ekor seorang yokai rubah mampu membuat seseorang terpedaya dan terbuai akan kelembutannya.

Hinata yang hendak masuk kemar tempat Sasuke berbaring terdiam sesaat. Ia menyerngit bingung saat merasakan ada aura lain didalam kamar tersebut. Maka dengan hati-hati dan penuh waspada ia membuka pintu kamar perlahan. Dan...

BRAAAK.

Ukh.

Hinata terkesiap saat Matsuri terdesak di dinding dengan leher yang dicengkram Sasuke. Matsuri meronta ingin dilepaskan. Napasnya tersengal-sengal karna cekikan yang menghambat pernapasannya. Mata dengan iris yang berbeda, merah dan ungu menatap dingin pada Matsuri yang meronta dalam cengkramannya.

'mati'

Sasuke memberikan tekanan lebih kuat lagi pada bagian leher sang yokai. Ia tidak perduli jika seandainya wanita yang terjebak dalam cengkramannya ini mati. Tidak ada ampun bagi siapa saja yang terlibat masalah dengannya. Tidak terkecuali kitsune jalang ini. Jika perlu ia akan memotong-notong bagian tubuhnya dan menghancurkan mulut lancangnya.

"Sasuke san!"

Sasuke menatap Hinata sekilas lantas melemparkan tubuh Matsuri kedinding. Bantingannya yang cukup keras mampu membuat dinding beton tersebut retak. Ia tidak perduli jika dadanya kembali berdarah karna gerakan spontanitas otot pada rongga dadanya. Toh ia adalah iblis. Luka separah apapun akan smebuh dengan sendirinya hanya saja, sekarang ia harus menuntaskan hukumannya.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Hi.. hin.. hinata.. akh." Matsuri nampak kepayahan beruasaha untuk meminta pertolongan pada Hinata.

Hinata beranjak mendekati Matsuri namun sesuatu yang mungil melilit dan mencegah kakinya untuk berjalan mendekati Matsuri. Hinata terkejut saat menemukan sosok bayi berusia 1 tahun mencengkram kakinya. Warna mata onyx polosnya membuat Hinata terpesona. Kulitnya putih bersih dan rambut pendeknya sewarna bulu gagak membuatnya teringat akan seseorang. Hinata menyukai bayi imut tersebut.

"Ma.. ma.. ma.." Bicaranya masih kaku namun sangat menggemaskan. Tanpa tahu akibatnya Hinata membawa bayi tersebut kedalam gendongannya. Mendekapnya dengan sayang mencium kedua pipinya yang tanpa sadar membuat seseorang menggeram tidak suka. Namun siapa yang bisa membuat seorang Hinata dapat mengalihkan perhatiannya dari sang bayi imut tersebut. Ia mencubit gemas pipi gembilnya. Rambut hitamnya nampak berkilau. Sangat tampan.

"Ma..ma..ma.."

"Hina.. ukh.."

Deg.

Namun sebuah suara yang memohon membuat Hinata terdiam. Seakan tersadar Hinata mengalihkan tatapanannya kearah Matsuri dan ia terbelalak saat pedang Sasuke sudah mengacung pada wanita kitsune tersebut. Sang bayi mulai mengetahui Hinata mengalihkan tatapan darinya mulai kesal. Ia mecoba menarik perharian Hinata lagi dengan suara rengekan hendak menangis.

"Ma..maa.. hiks.."

Kepala Hinata menoleh pada bayi dalam gendongannya. Bayi itu berkaca-kaca. Dan semakin mendekapnya erat. Hinata tersenyum lantas berjalan tergesa-gesa ke arah Sasuke yang sudah siap menebas kepala Matsuri. Merasa rencananya gagal si bayi tampan tersebut mulai kembali merengek dan kini menangis dengan pilu digendongan Hinata.

"Hwaaa..Hiks.. ma.. maa.."

Si bayi menangis dan Hinata sedikit kewalahan. Ia sedikit panik antara ke arah matsuri atau meredakan tangisan sibayi. Tapi, Matsuri? Kenapa pula Matsuri tidak menggerakan tubuhnya dan bergerak menjauh dari sana. Sepertinya Sasuke sengaja menggunakan jutsu pengikatnya.

"Di..diamlah. Sayang.. jika tidak aku akan meninggalkanmu disana."

Bagaikan mantra sang bayi itu akhirnya diam menyelusupkan wajahnya ke perpotongan leher Hinata yang menguar aroma yang menenangkan dan menyejukannya. Dia tidak ingin kenyaman dalam dekapan sang angel hilang darinya. Maka ia akan menuruti semua yang diucapkan Hinata agar ia tidak lepas dari gendongan Hinata.

"Matilah kau kitsune!"

Sriing.

Prang!

Sasuke menggeram marah saat pedangnya mengenai lapisan pertama kekkai penghalang. Cih pengganggu, sialan. Ia membalikan tubuhnya dan mendapati Hinata yang tersenyum innoncence padanya dan apa itu? Makhluk kecil yang ada di gendongan Hinata. Makhluk itu nangkring di leher Hinata menghayati kenyaman yang ditawarkan sosok lembut sang angel. Sialaaan. Berani sekali iblis kecil itu menghianatinya. Seharusnya makhluk itu menghalangi pergerakan Hinata tapi, binatang kecil itu justru mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia memberikan tolerir saat Hinata memberikan ciuman di kedua pipinya. Tapi, untuk yang ini ia tidak akan mengampuninya. Cih. Yang benar saja, hanya dirinyalah yang berhak atas angel itu.

Tunggu. Dari mana pemikiran itu. Kenapa ia berpikir Hinata adalah miliknya? Cih. Brengsek! Ia tidak perduli yang jelas dia tidak suka dengan pemandangannya sekarang.

Dengan gerakan cepat. Ia menarik makhluk kecil dan menyebalkan dari gendongan Hinata secara kasar membuat Hinata terkejut dan replek ia mempertahankan posisi si bayi dalam gendongannya.

"Apa yang kau lakukan?" Hinata menahan tangan Sasuke menjauhkan sang bayi dari tangan kekar Sasuke, "Dia bisa kesakitan. Bayi ini masih rentan."

"Brengsek. Lihatlah baik-baik Hinata. Dia bukanlah bayi yang sebenarnya. Dia adalah ular peliharaanku yang sengaja ku panggil kesini."

"A..apa? Tidak mungkin. Lihatlah." Hinata mendekatkan sang bayi ke arah Sasuke, "Betapa tampan dan menggemaskannya dia. Aku sangat menyukainya dan...Hey!"

Hinata lengah dan Sasuke segera menarik kaki sang bayi dan membuatnya menggantung terbalik, "Lihat dan perhatikan baik-baik."

SSSHHHHH...

Hinata membelalakan matanya saat bayi tersebut berubah sosoknya menjadi memanjang dan menjadi... seekor ular? Hinata cemberut lantas berjalan melewati Sasuke menghampiri Matsuri yang telah pingsan.

"Padahal aku sangat menyukainya." Hinata memangku Matsuri kepundaknya memapahnya ke tempat tidur yang semula di tiduri Sasuke.

"Kau memang menyukai manusia terutama dalam bentuk bayi." Ejek Sasuke menyimpan ular peliharaanya di atas meja, ekspresi ular yang diberi nama Manda ini terlihat murung, berbeda dengan Sasuke yang terlihat menyeringai puas pada hewan peliharaannya itu.

'Angel itu milikku. Jangan macam-macam. Kecuali jika kau ingin merasakan apiku kemarahanku.'

'Baik tuanku.'

"Kau terlalu kasar padanya." Gumam Hinata menatap kasihan pada Matsuri, cetakan tangan terlihat di leher Matsuri akibat cekikan sang iblis, "biasakan untuk tidak melakukan seperti itu."

Sasuke mengalihkan tatapannya dari ular yang kini sedang di berikan wejangan pamungkasnya. Bibir tipis Sasuke mengkerut kebawah tanda ketidak sukaannya akan kalimat Hinata. Ia menarik pinggang Hinata membalikan tubuhnya hingga akhirnya mereka berhadapan.

"Kau tahu, wanita kitsune ini mencoba untuk menciumku saat tertidur. Apa kau menyukai hal itu, hm?" Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Hinata yang kini memerah atas kedekatan mereka.

"Lihatlah.." Sasuke menatap dalam iris lavender milik Hinata. Betapapun ia menyadari dan mengakui akan segala keindahan yang dimiliki oleh sang angel. Tangannya tidak tahan untuk menyentuh pipi meronanya yang lembut, ".. kau begitu menggoda untuk disentuh oleh siapun yang melihatmu, betapa mendambanya mereka yang menyentuhmu, Hinata."

"Sa..sasuke san. A..aku rasa ini sedikit berlebihan." Hinata berusaha melepasakan dekapan Sasuke padanya. Kondisi ini membuatnya risih. Namun sepertinya sang devil sengaja, bahkan semakin Hinata ingin melepasakan diri semakin mengeratlah lingkaran lengannya dipinggang Hinata.

"Apanya yang berlebihan, hm?" Goda Sasuke, "..menurutku ini tidak berlebihan. Bukankah kita pernah melakukannya lebih dari ini."

Hinata hendak protes, namun pintu kamar terbuka kasar memperlihatkan Gaara yang terdiam sebelum akhirnya ia kembali berjalan. Ia berusaha untuk tdiak perduli pada posisi Sasuke dan Hinata yang berpelukan. Meskipun dalam hatinya ia merasa terbakar api cemburu melihat gadis yang menarik perhatiannya berada dalam pelukan orang lain. Sasuke tentu menyeringai mendapati pemikiran naif Gaara.

"Sasuke san. Lepaskan aku." Hinata kembali berontak dan Sasuke mendecih kesal. Jika ia tetap mempertahankan Hinata mungkin manusia merah itu akan merasa menang akan penolakan Hinata padanya. Dengan tidak rela ia menurunkan Hinata dari dekapannya.

"Aku hanya ingin tahu sebarapa irinya kau padaku." Ucap Sasuke memanasi Gaara yang kini terlihat kesal karnanya.

"Aku tidak perduli dengan seorang pembual sepertimu." Gaara menatap Hinata, "ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan padamu." Gaara menarik tangan Hinata untuk mengikutinya tidak perduli dengan sang iblis yang kini mengumpat kasar padanya. Dalam hati ia senang mendapati posisi mereka yang terbalik.

"Tidak baik berpikiran seperti itu, keburukan yang dibalas dengan keburukan akan menghasilkan keburukan juga." Tegur Hinata mengingatkan.

"Aku tahu." Balas Gaara berusaha untuk tetap tenang. Meskipun ia dongkol karna angelnya membela iblis ayam itu.

"Aku tidak membelanya. Aku jelas menyayangimu. Aku tidak ingin kau seperti dia." Ucap Hinata sambil tersenyum lembut. Gaara menghentikan langkahnya membuat Hinata heran.

"Kau bisa membaca pikiranku." Tanya Gaara was-was.

Hinata menggeleng pelan, 'Tuhan semoga engkau mengampuniku,' Bisik Hinata dalam hatinya. Ia hanya tidak ingin jika Gaara salah paham dan menjauhinya karna kelancangannya dalam hal yang sangat privasi. Hidup bersama dengan Gaara sejak kecil mampu membuatnya mengerti akan bagaimana perangai pamuda bimbingannya. Manusia yang selalu berhati-hati dalam hidupnya terutama dalam hal privasi dan rahasia. Meskipun hal itu mungkin tidak berlaku bagi Hinata yang nota benenya adalah malaikat pelindungnya.

"Aku hanya menebaknya saat melihat wajah yang tidak mengenakanmu tadi, Gaara kun."

Gaara mengalihkan tatapan kesamping, menatap Hinata terkejut. "Katakan sekali lagi. Panggil namaku." Titah Gaara memastikan

"Gaara kun?"

Seketika senyum tipis tersungging dibibir tipisnya ia mengalihkan tatapannya mendahului Hinata. Ia tidak ingin Hinata melihat wajahnya yang mulai memanas. Baru kali ini ia merasakan rasa senang yang aneh saat ada seseorang yang memanggilnya dengan suffiks 'Kun'. Dadanya berdebar kencang tapi, sangat menyenangkan dan ia ingin kesenangan ini terus berlanjut.

"Doushite?" Tanya Hinata penasaran. Namun seketika ia juga turut tersenyum meskipun tidak diketahui Gaara. 'Manusia memang sangat indah saat hatinya senang.' Percayalah para angel selalu melihat sinar yang berbeda-beda pada tiap diri manusia. Biasanya hal itu dapat dipengaruhi oleh suasana hati ataupun bagaimana pembawaan manusia itu sendiri.

"Hm."

Gaara membawa Hinata kebelakang rumahnya tepatnya ke arah sebuah kebun buah berry yang memang sengaja ditanam disana. Ia melirik kekanan kekiri mencari makhluk kecil yang akan ditunjukannya pada Hinata. Dengan terpaksa ia harus melepaskan tangan lembut sang angel untuk mencarinya. Ia benci jika dikatakan cemburu, berhubung tadi ia melihat Hinata yang terlihat senang dengan bayi yang ternyata adalah ular peliharaan Sasuke. Dia bukan type manusia yang suka menguping hanya saja jika hal itu berhubungan dengan Hinata, mungkin bisa dibilang itu adalah salah satu cara pembelajaran dalam hal memahami seorang gadis.

"Disitu kau rupanya." Ucap pelan, Gaara lantas berjalan ke arah pepohonan kecil yang tumbuh disekitar kebun kecilnya. Tak lama ia mengacungkan seekor rakun kecil dan dua anak kucing yang sangat menggemaskan.

Hinata tersenyum cerah. Ia lantas menghampiri Gaara untuk melihat binatang kecil yang menggemaskan. Gaara tersenyum tipis melihat wajah Hinata yang nampak antusias dengan peliharaannya.

"JANGAN DISENTUH!"

Teriak seseorang menghentikan kegiatan mereka. Gaara menatap tajam pada pria yang kini berdiri santai di atas pagar rumahnya. Ia mendelik tajam yang dibalas dengan tatapan sengit dari sang iblis.

"Apa maksudmu setan ayam?"

Sring

Muncul perempat siku-siku di dahi sang iblis. Ia masih pada posisinya berusaha untuk tidak melompat dan merobek tubuh si setan merah menjadi dua. Sangat menyenangkan mendengar teriakan-teriakan kesakitannya.

"Atas dasar apa kau melarang dia menyentuhnya." Ucap Gaara datar. Menatap sengit Sasuke.

"Lihatlah baik-baik. Binatang itu penyakitan." Tunjuk Sasuke santai.

Gaara mengalihkan tatapannya pada rakun dan kedua anak kucing peliharannya. Dan..

"A.. Apa ini.."

Ketiga hewan peliharaanya tiba-tiba tergolek begitu saja ditanah. Bulunya terlihat sedikit lebih kusam dari sebelumnya. Ia menyentuhnya dan menggerak-gerakannya namun sayangnya, sama sekali tidak ada respon yang berarti sebagai jawaban. Kedua kucingnya mati begitu pula dengan rakunnya. Ia tidak percaya ini. Bukankah tadi mereka baik-baik saja. Tapi, kenapa sekarang mati.

Hinata menatap Sasuke seolah berkata, 'Kau ini. Dasar usil.'

Yang tentunya dibalas dengan tatapan datar tidak perduli sama sekali, 'Biarkan saja. Biar tahu rasa.'

Tangan Hinata terulur untuk menyentuh pundak Gaara namun sesuatu kembali menahan tangannya. Ia menatap jengah pada tangan Sasuke yang kini sosok iblis Uchiha itu sudah berada disampingnya. Ia menghentakan tangannya sedikit kasar dan kembali mengacuhkan Sasuke.

'Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh mereka secara sembarang. Kau itu seperti alkohol yang membuat mereka mabuk dan sekarang kau terkesan memberikan mereka harapan yang tinggi.' Sasuke benci mengatakannya namun ia memang tidak suka dengan kebaikan yang Hinata lakukan kepada semua orang. Ingat! semua orang.

'Aku adalah angel dan semua sentuhan yang ku berikan tidak memiliki unsur jahat yang mencelakai mereka. Apapun yang kau sebut dengan menggoda, ku rasa.. kau seperti sedikit salah paham saja dengan segala kebaikanku.' Balas Hinata dalam pikirnya.

Hinata menyiapkan senyuman terlembutnya untuk menghibur hati Gaara yang sedang lara. Ia menyentuh bahu yang bergetar dan memberikan senyuman lembutnya, "Jangan menyalahkan diri sendiri, kau tahu apapun yang terjadi dalam hidup kita memang itu adalah garis jalan dari tuhan yang harus kita lalui dengan lapang dada."

"..."

"Kau kan laki-laki, Gaara kun. Dan menangis..."

"Aku tidak menangis." Potong Gaara cepat. Ia benci jika terlihat lemah dan menyedihkan didepan seorang gadis, tidak Hinata adalah angelnya. Tapi, percayalah Gaara tetap saja menganggap adalah seorang gadis manusia. Tingkah lakunya yang sederhana dan tidak berlebihan kecuali dengan kecantikan dan keanggunannya yang tidak biasa. Dan Gaara jelas tidak ingin menjadi pria yang tidak mengsankan untuk Hinata, "..Aku hanya sedikit...kesal."

"Dasar munafik."

"Sasuke san." Tegur Hinata memotong kalimat Sasuke. Ia tahu apa yang akan diucapkan sang devil untuk memperkeruh suasana hati Gaara.

"Cih." Dengus Sasuke kesal. "Jangan pernah untuk mencoba bertindak curang, 'my angel'." Sindir Sasuke.

Gaara sigap berdiri tepat didepan wajah sang Iblis, menatapnya penuh kemarahan. "APA MAUMU, BRENGSEK! AKU DIAM KARNA MULUTMU MEMANG MEMANG PEMBUAL. KAU TDIAK BERHAK UNTUK MENGATUR DIA! DIA BEBAS MELAKUKAN APAPUN YANG..."

"APA YANG KAU TAHU MANUSIA! KETAHUILAH POSISIMU!" Balas Sasuke mau kalah.

"Maaf, ja..jangan.." Hinata berusaha untuk menengahi tapi, nampaknya sama sekali tidak berpengaruh pada pertengkaran dua pemuda yang nampak sepantar ini. Terkecuali dengan keadaan tubuh Sasuke yang sedikit lebih tinggi beberapa inci dari Gaara.

"KAMI MEMANG TIDAK SEKUAT MAKHLUK SEPERTIMU. Tapi, kami lebih dihargai dari pada..." Gaara memberi jeda saat Sasuke menarik kerah bajunya menatapnya penuh kemarahan, "..makhluk sepertimu yang bahkan dibuang oleh tuhan."

"DIAM KAU MANUSIA HINA! Jika aku mau aku akan menghabisimu tanpa bisa kau berkedip sekalipun." Ancamnya menantang.

"Buktikan maka akan aku lihat seberapa kotornya kau sebagai seorang iblis hina." Balas Gaara tersenyum puas melihat kemarahan meladak sang iblis.

"MATI KAU!" Geram Sasuke. Dengan penuh kekuatan ia mendorong Gaara hingga pria berambut merah tersebut terpental menabrak berton dinding di belakangnya. Ia terbatuk mengeluarkan darah mulutnya. Tidak puas dengan serangan yang hanya membuat luka yang ringan, Sasuke kembali mengangkat Gaara melemparkannya pada batang pohon dibelakangnya. Menggunkaan cara yang sama kali ini, pohon besar dibelakang-nyalah yang menjadi sasaran tubuh rentan Gaara.

"Hentikan!" Hinata sigap menghampiri Gaara yang kesakitan. Hinata yakin ada tulang punggung yang patah karna menghantam benda dengan sangat keras. Tapi, masih beruntung organ vitalnya tidak ada yang rusak. Padahal tadi Sasake melemparnya dengan sangat keras. Ia kembali menjoba memanggil Gaara agar tetap masih sadar. Namun setelah menyebutkan nama Hinata dengan suara pelan, Gaara pingsan.

"Menyingkir Hinata! Biar ku beri pelajaran manusia angkuh ini."

"Hentikan. Sasuke! Tindakanmu bisa dianggap pelanggaran karna telah menyakiti manusia tanpa adanya ikatan atau perjanjian apapun diantara kalian. Tidak bisakah kau untuk sedikit lebih tenang." Ucap Hinata. Ia kembali menatap Gaara yang kini memejamkan matanya menahan rasa sakit yang berlebih di bagian punggungnya. Hinata tersenyum tipis saat mengetahui Gaara menahan sakit karna dirinya. Tapi, Sasuke tetap saja keterlaluan, "jika aku mau, akulah yang akan menjadi lawanmu dan membunuhmu.

Sasuke terdiam memperhatikan Hinata yang memperlakukan Gaara dengan baik. Ia benci pada Hinata. Benci dengan kebaikan yang terlalu berlebihan. Inilah yang membuat para angel terlihat memuakan dimatanya.

"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan Hinata. Kau akan membuatnya bergantung padamu." Ucap Sasake dingin. Ia jengah melihat Hinata nampak berusaha membantu Gaara untuk berdiri. Iblis dengan warna iris berbeda ini menatap tidak suka.

..

..

Hinata kini berdiri memperhatikan pria yang tertelungkup di tempat tidur king sizenya. Bertelanjang dada hanya perban yang melilit bagian atasanya. Memang tidak ada luka luar. Namun ia hanya ingin memastikan luka-lukanya sang pemuda bersurai merah sembuh. Ia sudah memperbaiki tulang punggung Gaara dan memberikan salep anti septik untuk mengobati luka lecet. Ia menghela napas perlahan menatap bulan yang bulat penuh. Tidak disangka ia telah menjalani misinya selama 17 tahun. Ini berarti waktunya untuk menjaga cahaya Gaara semakin berkurang. Semakin ia tumbuh dewasa maka akan semakin banyak hal yang akan mempengaruhi dunia Gaara. Ia sendiri tidak yakin bisa menjaganya selama itu. Dirinya juga tidak mungkin akan terus dapat terlihat oleh Gaara. Bagaimanapun hal itu terlalu riskan. Ia kembali menatap Gaara yang sedikit gelisah dalam mimpinya. Ia terdiam saat melihat kilatan mimpi yang memperlihatkan kehidupan disekolah barunya nanti.

Ia tersenyum tipis saat melihat banyaknya para gadis yang menjerit-jeritkan namanya. Namun ia sedikit menyerngit saat melihat kehadiran Matsuri dan Toneri yang berbaur dengan murid-murid sekolah. Yang lebih mengherankan lagi mereka bersekolah disana. Bukan hanya mereka, ada beberapa yokai lainnya yang juga menyamarkan dirinya menjadi murid Hyuchiha Gakuen. Apa maksudnya ini. Sekolah itu seolah-olah menjadi tempatnya para yokai dan..

"Tidak perlu sebingung itu. Yang penting mereka tidak mengganggu manusia." Ucap Sasuke tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.

"Aku harap begitu. Tapi, aku tidak yakin mereka akan membiarkan para jiwa tersesat itu menyesatkan jiwa yang masih hidup." Balas Hinata masih memperhatikan kilatan-kilatan mimpi Gaara.

"Tapi, kurasa.. ini mungkin adalah tujuan mereka yang sebenarnya."

"Hm. Maksudmu?" Tanya Hinata menatap Sasuke penasaran.

"Apa kau tahu Gaara lahir saat saat peristiwa blood moon terjadi. Menurut kepercayaan orang yahudi dan nasrani blood moon adalah pertanda suatu peristiwa yang besar akan datang." Sasuke menatap Hinata yang kini nampak memperhatikannya dengan seksama. "Di percaya sebagai suatu pertanda bencana atau kesialan lantaran kehadiran bulan yang tidak wajar." Ia menyeringai, menarik Hinata untuk duduk dipangkuannya. Hinata terkejut tentu saja, dan ia berusaha untuk melepaskan dirinya.

"Tidak. Sangat tidak menyenangkan bercerita sambil berdiri. Kakiku pegal." Kilah Sasuke mempererat pelukannya.

"Kau bukan manusia yang renta, Sasuke san." Balas Hinata.

"Tidak ada gunanya kau meronta. Aku tidak akan berbuat apapun yang tidak menyenangkan padamu." Ucapnya misterius. Ia menopangkan dagunya ke bahu bahu kecil sang angel. Sesekali ia menghirup dalam wangi lavender yang menenangkan dari Hinata. Ia selalu menyukai aroma Hinata membuatnya selalu nyaman.

Hinata menghela napas pelan. Kadang Sasuke memang sangat aneh. Terkadang sifatnya seperti anak kecil selalu ingin dimanja dan diperhatikan. Padahal usianya sudah tua. Tidak..tidak sangat tua malah. Tapi, mau bagaimana lagi, ini lebih baik dari pada iblisnya muncul akan menghancurkan apapun yang tdiak disukainya. Pria ini bahkan tega memotong sayapnya.

"Begini lebih baik." Bisik Sasuke memeluk tubuh Hinata dari samping. Hinata berusaha untuk tenang meskipun dia tahu pipinya sedikit memanas.

"Aku melihatnya saat pertama kalinya ia lahir kedunia ini. Aku benci mengatakannya, bahwa bayi Gaara memang terlihat berbeda dari kebanyakan bayi yang ku pernah ku temui. Dia sedikit lebih terang dan itu membuatku tidak menyukainya," Sasuke menyeringai mendongakan wajahnya menatap iris lavender Hinata, "..tapi, itu membuatku semakin menginginkannya. Dan saat aku melihat angel yang menjadi rivalku adalah gadis berambut pirang itu semakin membuat rencanaku semakin mudah."

"Kau memang licik Sasuke san."

Sasuke mengangkat bahunya acuh mendengar jawaban Hinata. "Bukan salahku, Gadis itu yang tertarik terlebih dulu padaku. Aku hanya menjalani peranku dan kesalahan sang angel yang membuat kecemburuan antara keluarga karna Karura yang melahirkan Gaara meninggal."

Hinata masih ingat bagaimana tatapan tidak suka dari adik ibunya Gaara itu. Ia bahkan berani bersumpah andaikan jika ia tidak selalu berada disamping Gaara mungkin pria itu akan mencelakai Gaara.

"Aku senang saat melihat para makhluk kecil itu mengganggunya. dan angel itu tentu saja sangat mengecewakan, bukan? Tapi, aku tidak menyangka mereka menurunkanmu untuk menghadapiku." Sasuke menetap sinis pada Gaara, "Manusia beruntung, bukan?"

"..."

"Tapi, hal yang pentingnya.. Kau tahu Gaara lahir bukan dirumah sakit yang sering di ucapkan oleh Sabaku Rei. Dia lahir disini, di kota kecil ini. Kota kelahiran Sabaku rei."

"Tapi, semua penjelasan yang kau ucapkan tidak menjurus pertanyaanku." Ucap Hinata cemberut. Bibir merah ranumnya mengerucut karna jengkel. Sasuke menyeringai mendapati Hinata yang seolah menggodanya untuk dicium. Hingga satu kecupan lembut dibibir didapat Hinata dari Sasuke. Sukses membuat Hinata terkejut sontak menyikut dada Sasuke membuat sang empu mengerang kesakitan, namun kedua lengannya masih tetap memeluk Hinata dipangkuannya.

"Kau melanggar janjimu, Sasuke san. Lepaskan." Ucap Hinata yang justru terdengar seperti rengekan manja ditelinga Sasuke.

"Aku memang mengatakan tidak akan berbuat yang tidak menyenangkan. Namun ini jelas menyenangkan." Ucapa Sasuke terkekeh. Namun sesuatu seperti membakar lengannya membuatnya sontak berteriak dengan makian yang yang tidak layak untuk diucapkan. "Sial! Kau mengeluarkan apimu, Hinata."

"Itu salahmu sendiri." Balas Hinata cuek. Ia lantas berjalan mendekati jendela memperhatikan matahari yang mulai terbenam.

"Oke..." Sasuke beranjak. Ia tersenyum saat Hinata menegang saat ia melingkarkan tangannya dipinggang Hinata. Namun tidak ada rontaan yang berarti kali ini, dan itu cukup membuatnya senang. Untuk kesekian kalinya ia merasakan perasaan asing ini lagi.

"Entah apa yang direncankan sang pencipta. Tapi, tetap saja itu tidak akan mengubah apapun dengan tujuan kita disini." Hidung bangirnya menghirup wangi menenangkan dirambut Hinata. Memejamkan matanya meresapi energi menyenangkan yang dikeluarkan sang angel. Ia tidak perduli jika seorang devil jelas dilarang untuk berdekatan terlalu lama dengan para pelindung kebaikan. Kekuatan dan kemampuan akan melemah tidak perduli setinggi apapun ia dalam kerajaan nerakanya.

"Aku tidak akan menyerah padamu, Sasuke san."Bisik Hinata sama sekali tidak ingin mengubah posisinya.

"Aku tahu. Jadi aku tidak akan pernah membiarkan apapun mengganggu kita." Sasuke mengubah posisi Hinata untuk berbalik padanya. Ia tersenyum tipis menempelkan kening mereka, "..aku tidak akan membiarkan apapun menghalangiku. Sekalipun kau pergi jauh aku akan berhasil untuk menemukanmu dan akan aku pastikan bahwa kau tidak akan pernah punya kesempatan untuk lari lagi karna kau hanya milikku"

"Eh?"

..

..

Braaak!

Bunyi debaman yang cukup keras menarik eksistensi semua pasang mata dalam ruangan bertuluskan XI-A1. Iris jadenya berkelana memperhatikan seluruh penghuni kelas. Ia menatap sengit saat guru bersurai perak menyuruhnya untuk masuk dan memperkenalkan dirinya sebagai siswa baru di Hyuchiha Gakuen. Ia tidak suka diperintah apalagi dengan guru mesum macam lelaki dewasa yang menatapnya malas ini. Ia segera mengalihkan tatapannya kedepan menatap tajam satu tutik didepannya. Ia hanya sedang berusaha untuk acuh dengan lingkangan barunya ini. Ia bahkan berusaha untuk tetap tenang saat seorang wanita berjubah putih bergelayut pada punggungnya. Dilain pihak suasana yang berubah menjadi bising dengan kasak-kusuk para siswi yang mengagumi ketampanan siswa baru yang kini menatap lurus kedepan dan tidak bergeming. Langkah yang tegas dan penuh percaya diri menandakan sebagai pria gantle dambaan semua wanita. Astaga pesona yang tidak akan pernah ditolak oleh wanita manapun yang dinginkannya.

"Sabaku no Gaara." Suaranya yang dalam khas laki-laki. Semua siswi berteriak histeris dengan kesan sexy sebagai pembawaannya. Hanya saja mereka tidak menyadari akan apa yang sekarang Gaara lakukan untuk menahan diri dan tidak berteriak pada hantu yang kini masih menempel padanya. Punggungnya sangat kebas dengan sentuhan energi yang diciptakan oleh para makhluk astral ini.

Guru bersurai perak tersebut hanya bisa menghela napas lelah. Padahal ia juga laki-laki yang penuh pesona tapi tidak sekalipun ia mendapatkan respon berlebih seperti ini. Padahal dibandingkan dengan lelaki tanggung ia jelas jauh lebih berpengalaman dan pasti lebih menjanjilkan. Oke. Berhenti membahas lelaki yang suka meratap dan tidak pernah untuk tidak terlembat dalam memanage waktu dalam hidupnya.

"Kakashi sensei! Biarkan Gaara kun duduk disebelahku!" Unjuk seorang siswi bersurai kuning panjang.

"Tidak, Kakashi sensei. Gaara kun harus duduk disebelahku!" Siswi bersurai coklat panjang tidak mau kalah.

"Tidak. Lebih baik disebelahku..."

"Kakashi sensei.. Gaara kun harus..."

Dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang membuat gendang telinga seorang sensei matematika ini berdenging. Seketika perempat siku-siku muncul didahinya dan..

BRAAAK!

Bunyi gebrakan yang cukup keras membuat suasan kelas senyap seketika. Mungkin ini adalah kemarahan yang paling hebat untuk seorang Kakashi yang hobi dengan berbagai macam gaya hidup yang monotonnya. Deheman pelan menjadi suara pembukanya. Ia begitu puas melihat para murid yang sulit diatur ini menjadi sedikit penurut padanya. Tidak buruk juga menggunakan emosi dalam kegiatan belajar mengajarnya.

"Baiklah Sabaku san. Tempat dudukmu ada disebelah.. Inuzuka Kiba. Kiba angkat tanganmu!" Perintah sang guru pada pemuda yang menelungkupkan wajahnya di kedua lengannya. Seseorang menyentakan bahunya dari depan saat Kakashi memanggilnya untuk kedua kalinya.

"Kiba. Bangun! Kakashi sensei memanggilmu."

"Hm? Ha'i sensei." Reflek Kiba berdiri dengan wajah tegangnya. Iris dengan pupil kecil ini menatap heran saat teman-temannya memperhatikannya dengan tampang mengejek.

"Ada apa sensei..."

"Gaara akan menjadi teman sebangkumu mulai sekarang Kiba."

Kiba yag masih memproses kenyataan atau hanya mimpi belaka. Namun saat iris jade menatap langsung kematanya sedikit membuatnya penasaran. Wajahnya terlihat tidak asing. Kiba masih menatap Gaara yang kini telah menundukan diri di bangku sebelahnya. Merasa terganggu Gaara balik menatapnya tajam lantas mendecih menunjukan rasa tidak sukanya dengan siswa yang masih menatapnya penasaran.

"Ck. Hentikan pikiran bodohmu itu. Aku bukanlah yokai jenis apapun." Ucap Gaara ketus. Namun kalimat yang cukup membuat seorang Kiba terkejut bukan main.

"Ha.. Kau ternyata bisa..."

"Aku akan membunuhmu jika kau sampai menyelesaikan ucapanmu." Ancam Sasuke menatap tajam Kiba.

Glek.

Kiba segera mengalihkan tatapannya saat mata jadenya masih menatapnya tajam. Pria yang menyeramkan.

Sementara itu disisi ruangan yang lain sosok angel cantik menatap sekelilingnya dengan kengerian yang sangat ketara dari wajahnya. Ia bergerak pasti kearah Gaara yang masih memfokuskan perhatiannya pada gadget yang sering dibawanya kemana-mana. Hanya benda inilah satu-satunya yang bisa diandalkannya saat Gaara merasa terganggu dengan keberadaan mereka disekitarnya. Gaara bahkan menghiraukan sosok wanita hantu yang sedari tadi menempelinya.

Tangan putih Hinata terulur untuk menyingkirkan hantu pengganggu. Tentu saja menyadari akan sosok terang disamping Gaara membuat wanita hantu tersebut panik. Tanpa disangka wanita hantu tersebut melesat masuk pada badan salah satu siswi bersurai pirang panjang. Siswi tersebut menjerit histeris panik dan bergerak sangat brutal.

Tindakan yang justru membuat seisi kelas ribut. Jeritan ketakutan dan kepanikan memenuhi kelas XI-A1.

"Tenang kalian semua. Kita amankan Shion. Kiba, Choji bantu aku!" Ucap Kakashi meminta kedua murid yang kini memperhatikan Shion yang masih menjerit histeris.

"MATI! MATI DIA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Racau Shion menunjuk Gaara yang kini berdiri tenang dibangkunya. Sontak semua orang menatap Gaara yang tidak bergerak ditempatnya. "KALIAN DATANGLAH! BERIKAN NYAWANYA UNTUKKU!"

Tidak lama berselang angin yang cukup kencang berhembus masuk pada jendela yang terbuka. Gorden putih melambai kencang saat angin kuat melesat melaluinya. Cuaca yang mendung membuat aura disekitar menjadi sangat menakutkan. Hinata menatap terkejut saat bayangan para arwah tersesat melesat masuk memenuhi ruangan kelas. Beberapa siswa dan siswi yang dirasuki mulai histeris dan menjerit penuh keputus asaan. Kakashi mulai kewalahan menghadapi para murid yang kerasukan masal.

"Matilah Kau ANGEL!" Ucap Shion dengan suara yang melengking menakutkan. Jelas itu adalah suara sang arwah yang merasuk ketubuh Shion.

Seolah tersadar sesuatu Gaara menatap sekelilingnya berharap seseorang yang diharapkannya dapat di tangkap indra penglihantannya.

'Hinata'.

Merasa kecewa Gaara beranjak untuk meninggalkan ruangan kelas. Suara derap langkah yang cepat melesat ke arah Gaara. Sebuah Tarikan yang kasar dan bunyi gedebug terdengar saat tubuh Gaara terjatuh dengan wajahnya yang lebih awal menyentuh lantai yang dingin. Gaara tidak siap saat tarikan kasra menariknya kuat. Cekikan kuat terasa menyesakan ditenggorokannya. Gaaara berusaha melawan tapi, kekuatan dari sang arwah lebih besar dibandingkan dengan dirinya yang hanya manusia biasa.

"Mati kau rambut merah. Janga karna kau istimewa kau bisa menyingkirkanku dengan mudah. aku benci cahaya itu! Aku benci kau! Matilah kau!" Teriak Shion tepat diwajah Gaara.

Beberapa orang yang melihatnya mencoba untuk melepaskan cekikan Shion yang seolah ikatan simpul mati dileher Gaara yang sudah hampir kehabisan napasnya.

"Hentikan!" Teriak seoang tiba-tiba menghentikan suara brisik dikelas XI-A1. Gaun putih sehalus sutranya menjuntai hingga mata kakinya. Kulit putih cantiknya nampak memukau saat gadis itu tesenyuim indah pada Gaara. Anggun dan mempesona bagi siapapun yang melihatnya. Tidak ada satupun yang mengalihkan tatapannya dari sosoknya yang sangat mencolok.

"KAUU! Baguslah. Aku tidak perduli bahwa kau adalah angel. Aku tidak akan takut. Dengan membunuhnya akan membuatku lebih kuat lagi." Tawa mengerikan dengan kikikan mengancam membuat bulu kuduk merinding.

Namun Hinata tidaklah merasa takut sedikitpun. Tatapannya berubah cemas saat Gaara sudah hampir kehabisan napas.

'Hi..Hinata.'

"Lepaskan dia!"

"Kenapa? Aku sangat menyukai pemuda ini. Aku ingin dia ikut.. Akh!"

Cahaya terang terpancar dari mata Hinata. Cahaya yang terlalu menyilaukan membuat sang arwah mengerang kesakitan. Ia menjauh melepaskan Gaara yang kini terbatuk dengan napas yang memburu. Pandangannya sedikit berkunang-kunang namun sosok familiar yang berdiri di depannya membuatnya berusaha untuk dapat melihat dengan jelas.

"Hinata hime."

Hinata menghiraukan Gaara, ia lebih fokus pada sang arwah agar tunduk padanya. Pertama ia harus melepaskan arwah itu dari tubuh gadis bernama Shion ini. Terlalu beresiko untuknya jika ia melepaskan paksa dari tubuh yang masih bernyawa. Kemungkinan jika ia ceroboh maka jiwa gadis ini juga akan ikut dengan sang arwah. Hinata mengeluarkan busur dan anak panahnya membidiknya langsung kearah sang arwah.

"Keluarlah dari tubuh gadis itu. Jika tidak kau akan ku lenyapkan dari dunia ini."

Ancaman yang justru membuat sang arwah tertawa geli. "Aku percaya kau tidak akan melakukannya saat gadis ini masih hidupkan?" Tanya sang arwah sarkatik.

"..."

"Ayo lakukanlah sayang karna jika tidak aku akan membawa anak ini untuk ikut bersamaku. Betapa menyenangkannya, ini." Ucap Shion ceria.

"..."

"Baiklah. Kalian semua bunuh dia!" Geram sang arwah marah saat Hinata sama sekali tidak merespon ucapannya.

Angin kencang berhembus masuk memenuhi raungan kelas. Meja, kursi dan kertas-kertas berhamburan tidak terarah. Beruntung Kakashi telah mengevakuai murid-murid yang masih dalam alam sadarnya. Hingga yang tersisa disini hanya Hinata, Gaara dan para siswa yang telah dirasuki roh jahat termasuk Shion. Hinata masih berdiri dengan tenang memegang erat busur dan anak panahnya. Raungan dan geraman memenuhi ruang kelas XI-A1. Meskipun debu dan benda-benda kecil berterbangan di sekitar Hinata, sama sekali tidak membuat kelima panca indranya terganggu. Kulit tubuh yang telah dirasuki oleh para arwah jahat mulai rusak dengan warna yang membiru. Jika terus dibiarkan jiwa-jiwa hidup yang terbelenggu akan mati. Tapi, jika Hinata melepaskan secara paksa akan menimbulkan resiko kematian.

Sigap Hinata menarik Gaara saat tangan-tangan kematian menariknya untuk tenggelam dalam dunia yang tanpa dasar dibawahnya. Hinata menatap Shion yang kini menyeringai iblis padanya, kulit dan wajahnya mulai rusak. Darah hitam keluar dari mulutnya saat ia merangkak langit-langit. Hinata segera membuat kekai pelindung saat Shion menyerangnya dari atas. Tidak. Hinata tidak bisa memusnahkan mereka jika seandainya para arwah masih terjebak dalam tubuh manusianya.

'To..tolong...'

Hinata terbelak saat mendengar suara lirih seorang perempuan. Matanya menjelah untuk menemukan seorang siswi yang meringkuk ketakutan di pojok ruangan. Iris coklatnya menatap Hinata putus asa membuatnya terenyuh. karna fokus dengan siswi tersebut ia tidak menyadari saat Shion menyeringai padanya. Dengan sekali hentakan dari tangan yang kini telah tumbuh cakar iblis, kekkai yang dibuat Hinata pecah. Gaara berusaha untuk menarik Hinata keluar dari ruangan namun tarikan yang lainnya didapat pada kakinya. Menyeretnya hingga keluar ruangan kelas.

"Hinata!" Teriak Gaara saat pintu tertutup dengan keras. Ia berusaha mendobrak beberapa kali namun pintu sama sekali tidak bergeming. Saat itu pulalah ia menyadari bahwa keadaan sekitar sekolah telah kosong melompong. Seolah hanya dirinyalah yang berada dalam gedung ini.

SRIIK. SRIK. SRIK.

Bunyi besi yang diseret-seret dilantai didengarnya dari ujung koridor. Jadenya menatap fokus pada lorong koridor gelap dari arah kirinya. Saat kaki dengan kuku hitam panjang menyembul dari ruang tanpa cahaya kosridor. Perlahan sosok tubuh yang cukup tinggi besar dengan sayap hitam layaknya kelelawar menyembul dari sela kegelapan yang menyelimuti lorong koridor dan berdiri didepannya dengan aura mengancam dan penuh ketersesatan. Wajah yang menyeramkan dengan taring yang saling menyembul dari sela bibir hitamnya. Iblis dasar neraka. Pemburu jiwa kotor. Tombak besi digenggam kuat oleh tengan besarnya. Pergelangan kaki yang masih terikat rantai yang putus masih membelenggu menciptakan suara gemerisik rantai yang diseret-seret saat melangkah.

"Apa maumu." Tanya Gaara tenang. Ia tidak terlalu terkejut saat melihat keseluruhan wujud sang iblis, karna iblis inilah yang selalu masuk dalam mimpinya beberapa hari ini. Hanya saja tentu ia tidak menduga bahwa ia akan bertemu iblis ini disini.

"..." Sang Iblis tidak menjawab. Namun perlahan sebuah cahaya keunguan yang pekat menyelimuti tubuh sang iblis membuat Gaara terbelalak sempurna saat mengetahui sosok dibaliknya makhluk kegelapan didepannya ini.

..

BRAAK!

Hinata terdorong saat tubuhnya ditarik dan dibanting kedinding oleh Shion. Tapi, Hinata tidak perduli saat ia melihat seorang siswi yang masih meringkuk dipojokan. Ia harus menyelamatkan gadis itu sebelum menjadi korban para arwah. Hinata mulai berdiri berusaha untuk tetap tenang. Ia mulai berkonsentrasi membuat kekkai jarak jauh untuk siswi bersurai hitam tersebut. Hanya saja saat ia membuat kekkai tiba-tiba gadis tersebut menjerit kepanasan. Hinata jelas terkejut dan barulah ia sadari bahwa..

Tarikan kuat membuat Hinata terjatuh terlentang kepalanya terantuk sangat keras ke lantai. Ia meringis pelan dan Shion yang menindihnya dengan kuat. Tangannya dicengkram kuat begitu pula dengan kedua kakinya. Ia ingin mengeluarkan senjatanya namun ia tidak bisa untuk menyakiti manusia.

"Kenapa, Angel cantik? Kau menyerah, hm?" Suaranya yang datar dan dalam membuat Hinata kembali waspada. "Aku sangat tidak suka kau cantik? Aku benci dengan orang yang suka dipuji dengan kecantikannya dan aku sangat muak dengan kalian para cahaya." Racau Shion dengan penuh dramatis.

"Apa kau tidak mengerti? kecantikan fisik tidak akan pernah kekal. Tapi, hati yang cantik akan membuatmu tetap cantik meskipun tubuhmu mulai renta dimakan usia." Balas Hinata bijak. Ia kini mengerti arwah penasaran ini hanya lah arwah yang tersesat. Belum sepenuhnya tertelan kegelapan, jadi masih bisa di kembalikan dengan cara yang biasa ia lakukan pada roh yang tidak bisa kembali dengan tenang kealamnya.

"Apa? Tapi kenapa mereka mengabaikan aku. Bahkan dengan tega mereka telah membunuhku." Geram Shion menatap Hinata tajam. "Lihatlah wajah ini begitu buruk tapi, kau sangat cantik, aku benci ini!"

Satu cekikan dilayangkan untuk Hinata. Ia benci dengan sesuatu yang indah. Ia benci dengan rupa fisik sempurna sang angel yang kini meronta dalam cekikannya.

"Kenapa kau tidak melawanku, huh?" Cekikan semakin kuat membuat Hinata memjamkan matanya berharap ia masih bisa berkosnsentrasi pada satu titik ditubuhnya. "A..jika kau sampai melukaiku? Aku bersumpah untuk menyakiti gadis ini ini." Merasa cekikannya kurang efektif. Shion menarik sebuah kursi dan menghantamkannya pada Hinata. Tidak hanya itu ia juga menyuruh antek-anteknya untuk menggigit Hinata di berbagai tempat yang mereka ingini.

Darah segar merembas dari sela-sela gaunnya yang putih. Hinata membiarkan mereka melakukannya. Ia hanya berkonsentrasi untuk mencari sosok gadis yang tadi ingin diselamatkannya. Dan ia menemukannya masih dalam posisi yang sama. Meringkuk ketakutan. Ia harus berhasil kali ini. Ia menggulingkan tubuhnya yang bersimbah darah membuatnya bisa terlepas dari rongrongan para iblis terbelenggu dalam tubuh manusia.

Ia menunduk untuk membuat sebuah simbol kecil dibawah kakinya. Ia konsenstrasikan pada sang gadis. Semula ia ragu untuk melakukannya tapi, jika dibiarkan maka...

Apa boleh buat ini untung-untungan. Gerakan Hinata yang tiba-tiba membuat arwah dalam diri Shion marah. Ia kembali menyuruh antek-anteknya untuk menyiksa Hinata.

Dan gigitan demi gigitan didapatnya membuatnya tersungkur kedepan. Ia harus bertahan, ia tidak akan boleh kalah sekarang. Terlalu bahaya untuk sang gadis untuk berada di ruangan ini. Ia membuat gerakan terakhir untuk membuat gadis tersebut bergelinjang kesakitan. Tangan Hinata menahan benang cahaya biru yang menghubungkannya dengan sang gadis. tidak berapa lama kemudian kepulan asap hitam keluar dari mulut sang gadis.

Kepulan asap hitam begemul menjadi satu membentuk sosok dengan tubuh yang tinggi.

AAGRRHHHH.

Raungan dan geraman kemarahan lolos dari mulutnya yang bergigi taring. Lidahnya memanjang membentuk layaknya lidah ular. Kedua telinganya beranting besar menggantung layaknya sasak kerbau. Tanduk merah dan kulit kebiruannya nampak mengerikan dengan aura kebuasan khas para penguasa.

'Jin.'

Hinata terkejut saat tubuh gadis itu menjadi rumah jin yang dianggap penghasut manusia. Gadis itu.. Hinata kembali menatap sang gadis yang kini tidak sadarkan diri. Waktu yang tepat untuk segera memindahkannya ketempat yang lebih aman digedung ini.

"Aa.. angel." Geram sang jin menatap sosok Hinata yang kini telah bersimbah darah. Para arwah yang menyiksa Hinata telah menyingkir menghormati tingkatan level kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki oleh sang jin.

Hinata masih mengabaikan jin biru tersebut ia lebih perduli pada manusia yang tergeletak dipojokan ruangan.

"Kau tidak perlu repot-repot untuk menyelamatkannya. Gadis itu telah terikat denganku sebagai rumah persemayaman untukku." Ucap Sosok tinggi tersebut saat mengetahui niat Hinata untuk menolong tubuh yang menjadi wadahnya.

"..."

"Lebih baik kau pikirkan keselamatanmu sendiri, my princess angel." Jin mendekat melihat tubuh Hinata yang telah bersimbah darah. Kulit putih dan halusnya kini telah terkoyak akibat gigitan-gigitan arwah penasaran yang kelaparan. "Betapa di sayangkannya tubuh cantik mu my princess. Bagaiman jika aku membawamu untuk ikut denganku dan kupastikan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan. Hm, Bagaimana?"

"..."

Hinata masih mengacuhkan Jin. Ia mulai konsentrasi untuk memindahkan tubuh tergeletak sang gadis. Tidak hany itu ia juga memberikan benteng perlindungan agar Jin tidak akan bisa menggunkan tubuh rentannya untuk dijadikan tempat bersemayamnya.

Cahaya menyelubungi tubuhnya dan seketika melenyapkan tubuh sang gadis membuat penghubung tali kegelapan dengan Jin terputus. Raungan kemarahan kembali memenuhi ruangan yang kini dipenuhi dengan percikan dunia neraka. Para arwah dan roh jahat mengkerut ketakutan di pojok ruangan melihat kemarahan luar biasa sang Jin.

"SIALAN! BENAR-BENAR TIDAK BISA DI MAAFKAN!" Geram Jin mengangkat tubuh Hinata yang sudah kelelahan menggunakan kekuatan sfirit angelnya. Setidaknya ia akan kembali ke surga untuk bertemu dengan ibunya. Ia sudah pasrah.

"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU UNTUK KEMBALI KE SURGA DENGAN MUDAH! Akan ku buat kau seperti kami didunia fana ini. Hingga waktu pembalasan tiba." Bisik sang Jin menyeringai. Ia menarik Hinata lebih mendekat padanya. Aroma bunga yang menyejukan membuat dirinya senang. Ia menunduk melihat Hinata yang telah terkulai dilengannya. Tinggi yang hanya sebatas perut membuat Hinata terlihat kecil, membuatnya semakin bersemangat untuk segera melaksanakan tujuannya.

BREEET...BREEET..

Robekan kain gaun Hinata terjatuh dibawah kakinya. Jin menyeringai melihat sang angel yang tidak melakukan perlawanan apapun terhadapannya. Ia menarik Hinata lebih dekat padanya mendekap possesive, menikmati kesejukan tubuh telanjang sang angel.

"Aku akan menjamin kau juga akan menikmatinya, cantik." Bisik Jin ditelinga Hinata. Aroma darah yang sangat harum dan manis membuatnya tidak tahan untuk mencicipi liquid merah sang angel. "ahh.. nikmat."

Jin mendudukan Hinata dipangkuannya. Kembali ia menyeringai puas saat tatapan kosong didapat dari mata berlian sang angel. Ia begitu mengagumi kecantikan dan rasa manis tubuh Hinata dalam dekapanya. Hingga tanpa pikir panjang ia menidurkan Hinata dilantai bersiap untuk memasuki diri sang angel dan mengambil sari jiwa keabadian sang angel. Namun.. Suara halilintar yang nyaring dan petir yang menyambar membuat niatannya terhenti seketika karna kepanikan dan ketakutan yang dirasakannya. Ia merasakan aura yang sangat pekat dan kuat disekililing ruangan. Ia mendecih jijik saat para arwah semakin ketakutan dan bergetar hebat merasakan aura mistik disekelilingnya.

Kepulan asap hitam dengan percikan bubuk fixie ungu gelap berrgumul dibelakangnya sang Jin. Tanpa bisa bereaksi lebih sebuah benda masuk menembus punggungnya. Tangan dengan kuku yang lebih runcing menembus melewati dada dan berakhir didepan wajahnya. Darah segar mengucur dari dadanya. Tubuh besarnya terangkat memperlihatkan pelaku yang kini menetap tajam para arwah yang enggan untuk melihat sosoknya barang sedikitpun.

Iris berbeda warnya bergulir menatap tubuh bergerak kesakitan diatasnya. Dengan sekali hentakan tubuh besar Jin terlempar menghantam dinding hingga menembus 3 lapis beton kuat dibelakangnya. Sayap hitamnya ditekuk dibelakang tubuh tegapnya. Aura kebencian dan kemarahan menguar disekitar tubuhnya menimbulkan bayangan hitam pekat yang berteriak meminta untuk dilepaskan. Debu fixy hitam yang menyelubigi sosoknya sang iblis sejati menandakan kemarahan iblis dalam jiwanya. Penguasa kekal penghuni dasar neraka.

"Berani sekali kau menyentuh milikku, makhluk hina." Bisiknya dingin.

"Ma.. maafkan saya... Uch.." Rahang jin dicengkam kuat dalam sekejab.

Mata merah penuh ketakutan terbelalak. Bahkan tanpa sempat berkedip sang pengeran iblis kini mencengkramnya kuat, hingga terasa retakan tulang rahangnya yang lebar.

"Jangan coba-coba kau menyebut namaku dengan mulut kotormu! Makhluk Hina." Ancam sang iblis rupawan menatap penuh benci pada sang Jin.

"Ma.. Maaf Uchi..."

CRAAACK!

Tubuh besar Jin ambruk saat organ pentingnya direnggut paksa oleh sang pangeran kegelapan. Kedua tangannya berlumuran darah setelah mencabut jantung kehidupan Jin yang kini teronggok tak berdaya di bawah kakinya.

Ia berbalik untuk melihat keadaan sesorang menjadi tujuannya kesini. Dengan sekali kibasan, noda darah yang menempel pada tubuh sang pangeran telah lenyap. Ia menunduk untuk mengangkat Hinata dalam gemdongan bridal style. Tubuh Hinata masih bersimbah darah namun luka-lukanya sebagian sudah kembali seperti semula. Ia mendekapnya erat seolah Hinata akan lenyap dari rengkuhannya. Ia sedikit menyesal karna sedikit terlambat untuk mengantisipasi serangan dari makhluk akan haus jiwa kehidupan manusia.

Iris merahnya dan ungunya bergulir untuk melihat wujud arwah-arwah yang masih bersemayam ditubuh manusianya. Ia berjalan pelan mendekati para makhluk tidak lazim didepannya.

"Enyahlah kalian dari hadapanku jika kalian masih ingin bebas didunia ini." Ucapnya dingin menatap satu persatu sosok-sosok menunduk didepannya. Termasuk arwah yang mendiami gadis bersurai kuning didepannya. "Sepertinya aku juga ingin memberikan beberapa hadiah sebagai kenang-kenangan untuk kalian sebelum kalian benar-benar pergi. " Bisiknya menyeringai dingin.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah suara jeritan ketakutan dan kesakitan yang terdengar dari dalam ruangan bertuliskan XI-A1.

..

To Be Continued

..


Gomenne minna san..Ni FF lelet banget updatenya

Oke ini absurd banget yaa..

Dichap ini sebenarnya aku hanya akan mengadakan love momment Sasuhinanya. Apakah memuaskan? Kuharap ya.

.

Arigato.. kalian udah baca ffku yang membosankan ini

So.. silahkan review lagi jika berkenan

#Spesial Thanks To..#

HarukaHi, : Oke. Udah ;anjut nih.

Kitune SasuHina : Oke bisa dipertimbangin. arigatou

Han Zizah : Oke. Thks y..

Loveli Sasuhina : Thnks ya.. perhatiannya. Disini apakah masih banyak yang typo? Ditunggu komentarnya.

SHL : Was update. Thnks.

sasuhina always : Udah terjawab dichap ini kan?

Mo : Pasti Izuna kan muncul. Tapi Nanti Dichap 8 ato 9.. Thnks y..

HL : Was update

Sikumbang - chan & mawarputih : Thnks ya.. was update

Vacum : ya semangatnya. chap ini semoga memuaskan

Narulyta709 : semoga happy ending. just be Sasuhina must be..