Angel And Devil
.
.
By Ashura
.
.
Disclaimer : Naruto Just Have Mr. Masashi Kishimoto
.
.
Chara : Sasuke Uchiha, Hyuuga Hinata, Sabaku no Gaara
Gendre : Drama, Sufranatural, Hurt Comfort, Romance
Rated : M
.
.
Warning!
OOC, TYPO, AU, LEMON, ABAL, GAJE, (Tidak patut dipercaya atau ditiru karna ini hanya fiktif belaka)
.
Don't Like? Don't Read!
Please Press Back/Exit
.
.
Summary
Kegegalapan ada karna adanya cahaya. Meskipun cahaya dan kegelapan hidup selalu berdampingan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama karna jika mereka berkehendak demikian hanya akan ada kerhancuran yang didapatnya
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
#6# Forbidden Love
.
.
Rasa takut dan khawatir bukanlah milik para iblis yang memang pencipta semua emosi negatif itu. Keangkuhan dan harga diri tinggi bagi para makhluk penghuni neraka. Ia tidak akan pernah mauuntuk mengakui kelemahan dan kelemahan yang hanya dimiliki oleh para makhluk lemah yang tidak pantas hidup kecuali jika kau seorang penjilat yang menjijikan seumur hidupmu. Sasuke sebagai seorang pangeran iblis dengan kekuatan yang mampu menghancurkan satu wilayah kota dalam sekali jetikan jarinya saja. Tidak perduli dengan apapun yang menjadi isinya. Tidak perduli dengan suara jeritan dan terikan kesakitan dan memilukan di indra pendengarnya.
Namun tanpa ada teriakan dan jeritan kesakitan itupun ia sudah merasakan ketakutan yang sangat luar biasa. Kelopak mata yang menyembunyikan iris indah bak bunga lavendernya dan tubuh yang bahkan tidak memberikan gerakan apapun yang membuat hatinya lega. Ia kesal, marah, benci, takut dan emosi yang sama sekali tidak pernah ada sebelumnya menerobos masuk kedalam jiwa tergelapnya. Ia sendiri bahkan melupakan siapa sebenarnya ia dan siapa sebenarnya 'dirinya'. Angel dan devil. Ia bahkan tidak menyadari berapa lama waktu yang dilewatkannya dengan memeluk tubuhnya dengan erat. Awan yang memberikan kehangatan pada tubuh pun sama sekali tidak membuat hatinya lega.
"Hinata." Berapa kalipun ia memanggil nama gadis dalam pelukannya sama sekali tidak membuat sang pemilik nama bergeming sedikitpun dalam tidurnya.
Iris onyx dan purlenya memandang penuh harap wajah cantik sang angel. Perlahan ia mendekatkan wajahnya mengucapkan harapan sebagai do,a yang mustahil akan di dengar oleh sang kuasa.
Cup.
Satu ciuman lembut dan dalam ia layangkan di bibir merah alaminya sang angel.
"Hinata." Bisiknya pelan.
Bagaikan angin oasis yang menyergap jiwa gersang yang tidak pernah tersentuh ia melihat kelopak mata Hinata yang bergerak dengan suara erangan lembut, sang lavender akhirnya kembali, memperlihatkan cahaya cantiknya pada sang makhluk gelap dan suram milik sang pangeran kegelapan.
"S..Sasuke.."
Satu pelukan erat didapat Hinata. Lembut seakan takut jika tubuh sang angel akan pecah layaknya kaca tipis yang remuk dalam himpitan baja. Hinata bingung tentu saja. Ia tentu ingat kapan terakhir kali ia berada sebelum pingsan. Sosok jin jahat dan arwah penasaran yang merasuki tubuh manusia. Gaara yang...
Tunggu. Gaara!
"Tidak!"Potongnya cepat.
Hinata terdiam saat satu kata tegas keluar dari pria yang masih memeluknya ini. Saat tubuhnya terlepas dari dekapan hangat Sasuke ia bisa melihat suatu ekspresi berbeda terlihat di sana.
"Ku mohon untuk saat ini. Bisakah aku... kau hanya kita," Hinata terkejut saat tubuh Sasuke merangsek lebih dekat padanya. Ia bahkan baru menyadari jika tubuh mereka telah sama-sama... telanjang?
"..Aku... menginginkanmu. Sangat sangat menginginkanmu. Untuk saat ini bisakah kita..." Sasuke tidak perduli jika seandainya tindakan ini akan menurunkan harga dirinya sebagai seorang pangeran iblis. tidak perduli jika Hinata menganggapnya sebagai lelaki tidak punya harga diri namun nyatanya, Hinata tidak akan berfikir demikian. Salahkan jika Sasuke mencoba untuk melepaskan belenggu menyiksa dalam dirinya. Lebih tepatnya dalam hatinya. Ia mencoba untuk menuruti insting dan nalurinya tetap sebagai diri sang iblis, namun percayalah ia hanya mencoba untuk bertindak sebagaimana mestinya pada gadis yang akan ditandainya.
"Sasuke apa yang kau bicarakan?" Hinata sedikit mendorong tubuh Sasuke untuk melihat wajah yang menatapnya penuh kelembutan. Hal itu justru membuat hatinya gamang. Terus terang ia sangat menyukai Sasuke yang seperti ini dari pada melihatnya yang selalu dingin tidak memperdulikan apapun kecuali pada dirinya sendiri. Tapi, apakah pria ini lupa dengan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Aku menginginkanmu, Hinata. Jangan biarkan aku mengulang ucapanku."
"Apa kau melupakan siapa kita..."
Satu ciuman dalam menjadi penghalang Hinata menyelesaikan kalimatnya. Sasuke tidak ingin mendengar apapun tentang siapa sebenarnya mereka saat ini. Biarkan seluruh penghuni langit membencinya. Biarkan para malaikat dan iblis memburunya. Dosa ini, ia siap untuk menanggungnya. Perasaan yang telah terpendam selama ribuan tahun lamanya. Perasaan yang bahkan mampu merubah dirinya yang tidak pernah merasakan senyuman yang menyenangkan untuk hatinya yang selalu suram dalam masa keabadiannya.
"Untuk saat ini hanya kita berdua." Bisik Sasuke sebelum kembali menciumi wajah Hinata. Mulai dari kelopak mata, kening, pipi, hidung dan terakhir di bibir kissable Hinata. Sasuke melumat bibir Hinata lembut. Mengikut sertakan lidahnya dalam mengecap semua rasa manis mulut sang angel.
Suara erangan perlahan lolos dari tenggorokan Hinata saat tangan besar Sasuke mulai menjamah tubuhnya. Terus terang Hinata tidak mengerti dengan jalan pikir Sasuke yang dengan terang-terangan meminta diri Hinata. Mereka jelas adalah makhluk yang selamanya menjadi rival abadi. Tidak dalam cerita, dongeng bahkan legenda manapun yang mengisahkan malaikat dan iblis bisa bersatu. Sekalipun latar belakang para iblis adalah malaikat bisa saling menginginkan kecuali dalam kekuatan yang mengorbankan nyawa.
Ini gila. Tidak dalam benaknya sekalipun ia akan melakukannya dengan Sasuke. Meskipun ia sangat menyukai sikap keperdulian Sasuke. Tapi, jika ini... Satu dorongan cukup menghentikan sentuhan ditubuh Hinata. Sasuke menatap Hinata bingung. Hinata menolaknya. Menolak dirinya. Apakah gadis ini masih tidak mengerti juga akan dirinya atau justru ia yang masih tidak mengerti jalan pikiran sang angel. Penolakan ini membuatnya kecewa.
"Kau sungguh menolakku, Hinata?" Tanya Sasuke tidak bergeming namun menghentikan semua sentuhannya untuk sang angel.
"A.. Aku ta.. takut Sasuke. Sungguh, aku dan kau akan di.."
Ciuman penuh gairah dilayangkan sasuke kembali menghentikan ucapan Hinata. "Aku berjanji akan melindungimu. Tidak perduli jika pada akhirnya ayahku turun tangan sendiri untuk memburuku." Ucap Sasuke mantap.
"Aku..."
"Aku akan melindungi. Apapun yang terjadi. Kau milikku. Hanya milikku." Potong Sasuke. "Betapa ketakutannya aku saat melihatmu begitu lelapnya dalam tidurmu seolah kau tidak ingin untuk membuka matamu lagi. Aku bahkan sangat kesal setiap kali melihat luka-luka menganga di tubuhmu. Aku tidak akan pernah memafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu."
Hinata terdiam menatap iris yang dipenuhi oleh tekad dan kesungguhan yang membuat hatinya luluh. Setetes air mata jatuh di pipinya saat ia memeluk tubuh hangat Sasuke. Luapan emosi yang seharusnya tidak boleh dimilikinya. Baik dirinya dan Sasuke memang telah memiliki perasaan ini sejak berabad-abad tahun yang lalu. Sejak pertemuan pertama mereka sebagai sosok iblis dan malaika. Membuang dan menguburnya hingga tidak ada satupun orang yang mengetahuinya. Hanya saja takdir yang kembali mempertemukan dan membiarkan waktu-waktu kebersamaan mereka menjadi pemicu kembalinya cinta terpendam mereka.
"Kau milikku." Bisik Sasuke lembut.
Sasuke memang bukan tipikal orang yang mudah mengatakan cinta. Tapi, Sasuke akan mempertahankan dan akan memperjuangkan apapun yang menjadi miliknya. Possesive tapi, itulah dirinya. Cinta adalah frasa yang sulit ia jabarkan dalam kata-kata. Namun untuk Hinatanya ia tidak akan sungkan untuk mengatakan dan membuktikan betapa ia sangat menyayangi sang angel.
"Aishiteru, Hinata." Bisik Sasuke sebelum kembali mencium bibir Hinata lembut. Ia menarik tubuh Hinata untuk lebih dekat dengannya. Ini bukan karna gairah membara yang menjadi pendorong kuat untuk melakukannya pada Hinata. Ia hanya ingin menjadikan Hinata milikinya seutuhnya. Hal yang sesungguhnya sangat dilarang. Hubungan yang terlalu tabu bagi masing-masing jiwa dengan element yang berbeda. Api dan cahaya. Hanya saja ia sendiripun tidak bisa jika harus kehilangan Hinata. Angelnya, cahayanya. Hanya dengan menjadikan Hinata miliknya seutuhnya dengan tanda kepemilikan dari iblis tertinggi di neraka jelas akan membuatnya terlindungi dari serangan dan kemalangan yang berasal dari apapun yang akan menodai sang makhluk suci, setidaknya ia yakin Hinata akan mendapatkan perlindungannya dari kaum bawahannya.
Mengarahkan posisi yang pas untuk bisa memasuki diri Hinata, Sasuke akan melakukannya dengan selembut mungkin. Erangan pelan lolos dari mulut Hinata saat Sasuke mulai menerobos masuk kedalam diri Hinata. Perasaan melayang yang tiada terkira saat dirinya berhasil menembus pertahanan terakhir sang angel. Berkedut tak tertahankan bagaikan ambrosia yang meleleh ditenggorokannya. Lidahnya mulai bergerak liar dalam mulut Hinata saat ia mulai menggerakan tubuhnya demi setiap desiran yang selalu meningkat dalam darahnya. Oke masih dalam gerakan yang masih dapat terkontrol.
"Aahhh.. uh.."
Desahan yang merdu bagaikan nyanyian pengiring dalam level gairah terbesar sang iblis. Ia mengerang merasakan pacuan adrenalin yang membuat tubuhnya terus bergerak demi mencapai puncak kenikmatan dengan sang angel. Kali ini Sasuke mulai melakukannya se-gentle mungkin.
"Sa.. ahh..Sasu..ke..kuun ..uuuh.."
"Bagus Hinata. Terus panggilah namaku."
"Ukh... Sasuke kuunh..." Racau Hinata semakin putus asa. Hinata mendesah hebat saat Sasuke terus bergerak diatasnya. Ia mencengkram punggung lebar sang iblis kala kenikmatan yang baru pertama kali ini dirasakannya. Hentakan demi hentakan diterimanya saat Sasuke menghujami tubuhnya memperdalam penyatuan yang seolah tak akan pernah ada puasnya bagi sang pangeran kegelapan. Ia mendesah hebat saat Sasuke bermain pada payudaranya dan memainkannya bagaikan bayi.
Saat-saat puncak yang dinantikan hampir tiba, Sasuke mempercepat gerakan in outnya dalam diri Hinata membuat tubuh indah sang angel terguncang. Ranjang yang empuk dan nyaman ini menjadi saksi percintaan dahsyat sosok angel dan devil. Leburan gairah yang meledak dengan sekali hentakan mengakhiri gerakan sang devil di atas tubuh indahnya sang angel. Pelukan erat yang menghantarkan sensasi nyaman bagi keduanya. Ledakan gairah yang memuncak pada inti pusat dibawah perut yang menyebar keseluruh tubuh.
Napas mereka saling memburu dengan peluh tubuh yang membanjiri setiap jejak kulit mereka. Mereka tahu percintaan bisa begitu dahsyat saat bersama dengan orang yang kau sayangi. Sasuke mengangkat wajahnya untuk melihat wajah memerah Hinata. Matanya terpejam dengan bibir yang setengah terbuka. Ia tersenyum tipis lantas satu kecupan yang dalam dilayangkan pada bibir Hinata. Iris lavendernya terbuka, sedikit terkejut atas tindakan mendadak Sasuke. Namun senyuman tipis iblis tampan ini telah memberikan keyakinan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kau lelah, Hime?" Tanya Sasuke lembut. Belaian menenangkan dirasakan Hinata dikepalanya. Sesekali jemari Sasuke menyingkap surai halus Hinata, merapikannya secara lembut di atas bantal hangatnya. Ia terpaku dalam ekspresi lembut Sasuke. Baru disadarinya bahwa Sasuke memang iblis tampan yang menggoda saat wajah penuh kelembutannya dapat dilihat langsung oleh Hinata. Tidak heran kenapa teman-teman angelnya dulu sering membicarakan perihal fisik pangeran iblis ke tiga dari klan lucifer Uchiha. Sebenarnya Hinata tidak terlalu memusingkan ataupun menanggapi akan obrolan yang bahkan dengan topik yang tidak diketahuinya. Ya. Ia dulu tidak tahu jika Uchiha Sasuke adalah seorang pangeran iblis dari keluarga lucifer. Ia bahkan baru mengetahuinya setelah mendapatkan misi ini, itupun sang ayah lah yang memberitahukan padanya.
"..."
"Hime."
"..."
"Hime?" Panggil Sasuke lagi.
"E..eh?"
"Kau melamun.." Satu seringai muncul di bibir sexy sang iblis saat menyadari apa yang di pikirkan malaikat cantiknya. "..Sayang sekali kau baru menyadarinya. Padahal aku sangat populer di kalangan wanita."
Hinata mencibir ke narsisan Sasuke. Yah.. walaupun memnag benar tapi, aneh saja jika Sasuke sendiri yang mengatakannya. Ia menggerkan tubuhnya untuk lepas dari pelukan Sasuke. Namun, sepertinya usahanya sia-sia lantaran lengan sang iblis enggan untuk mengendurkan kekuatan memenjarakan tubuhnya.
"Sasuke. Lepaskan aku. Kita punya tugas harus diselesaikan.."
"Biarkan saja. Toh aku sudah menset waktu di dunia nyata dengan disini." Balas Sasuke santai. Ia kembali menciumi leher Hinata.
"Kau ini. Tetap saja kita harus segera pergi sebelum.."
"Hime..." Potong Sasuke mulai menatap Hinata serius, "Ini adalah tempat khususku. Dimensi yang dapat ku atur sesuka hatiku, termasuk ruang dan waktu. Tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu kita. Sekalipun kita berjam-jam disini. Hanya terlewat beberapa menit disana. Kau tidak perlu khawatir dengan apapun."
"Tapi, tetap saja."
Sasuke menghela napas pelan. Berdebat dengan Hinata sama saja seperti berteriak pada tembok. "Baiklah." Pada akhirnya.
"Bagus. Ayo...Eh?" Hinata yang bersemangat tiba-tiba terkejut dengan sikap Sasuke yang masih memeluknya erat. Bahkan pria itu membalikan tubuhnya merubah posisi higga kini Sasuke kembali berada di atas tubuh Hinata. Tangan besarnya membuka paha Hinata melebarkannya dan sengaja dililitkan disekitar pinggangnya berototnya.
"Sa..Sasuke..." Hinata berusaha berontak mendorong dada bidang yang telanjang didepannya. Astaga betapa indahnya tubuh sang iblis saat lekukan ototnya yang pas ditubuhnya. Hinata memejamkan matanya erat berusaha untuk tidak terlalu blushing sekarang. Ia harus ingat apa prioritasnya saat ini.
"Kenapa? Kau menyukainya bukan? Lagipula apakah aku pernah mengatakan akan membebaskanmu sekarang, hm?" Bisik Sasuke menyeringai puas melihat wajah terkejut Hinata. "..Hanya beberapa ronde lagi tidak akan mengubah apapun."
"Apa?" Hinata menatap horor wajah tampan yang kini menyeringai ganjil padanya. Hinata berusaha menolak namun nampaknya Sasuke sudah mengantisipasinya dengan menahan kedua tangan Hinata di atas kepalanya. Sebelah tangan yang bebas ia gunakan untuk mengarahkan miliknya untuk masuk sempurna kedalam diri Hinata.
"A..Aku mencintai Hinata." Racau Sasuke disela-sela gerakan mendesaknya pada Hinata. Ia menciumi diberbagai sisi yang bisa diciumnya. Ia sangat memuja bagaimana indahnya tubuh Hinata. Sang malaikat yang sempurna untuk sang pangeran kegelapan. Lekukan yang sangat menggoda dengan kelembutan yang membuatnya tidak henti-hentinya menjamah tubuh sang angel. Desahan dan erangan kenikmatan pun menjadi pengisi ruangan yang di dominasi warna abu-abu ini.
..
..
Sepasang sayap hitam mengepak bebas melayang terbang namun, saat kaki sang empu menapak pada salah satu undakan batu dengan ukuran cukup besar sayap itupun menekuk dibalik punggungnya. Iris rubynya bergerak lincah menatap penjuru langit. Raut wajah yang datar terlihat tegang. Aliran air begitu jernih dibawahnya. Ia menatapnya penuh perhitungan dan tampaklah seringai diwajahnya yang tampan.
"Tidak disangka ternyata dulu paman juga kesini ya." Ia melompat turun namun tidak sedikitpun air yang menciprat pada pakian ataupun jubahnya. Ia membiarkan tubuhnya melayang mengikuti arus sungai layaknya daun yang mengambang ringan diatas air.
"Sasuke. Kau membuat Tousan marah." Bisiknya pelan.
..
..
Iris jadenya terbuka perlahan. Mengerjap untuk menyesuaikan terangnya cahaya lampu di langit-langit kamarnya. Ia mengerang dan menundukan dirinya ditempat tidur. Ia melihat bayangan hujan dari jendela yang tidak tertutup gorden. Perlahan ia turun dari tempat tidurnya mendekat pada jendela kamar. Hari telah berganti malam tanpa sadar ia telah tertidur berjam-jam lamanya. Ia dapat melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Ia tahu pada akhirnya akan jadi seperti ini. Ia sudah menyadarinya sedari kecil bahwa ia memang berbeda dari yang lainnya. Kondisi yang berbeda yang membuatnya tidak memiliki satu pun teman. Mereka bilang ia adalah anak keturunan monster. Monster berbahaya yang harus dijauhi. Ia melihat tato ai di dahi kirinya. Tanda penyegalan dari para pendeta terdahulu. Jiwa iblis yang terkurung didalam tubuhnya.
..
~Flashback~
..
Iris rubynya menatap Gaara dingin. Sosoknya yang mengerikan kini berubah menjadi sosok yang tampan layaknya sosok manusia. Namun tatapannya masih sama dinginnya seperti sebelumnya. Tubuh yang memiliki ukuran sama seperti Sasuke bahkan sepintas pria ini sangat mirip dengan satu iblis yang sering berkeliaran di sekitar gadis manisnya.
Izuna.
Iris jadenya sedikit membelalak saat menemukan nama yang rasanya tidak asing baginya. Ia bahkan punya intuisi seratus persen benar saat menemukan berbagai perbandingan yang menurutnya yakin bahwa pria ini adalah orang yang dimaksud oleh wanita kitsune itu.
"Setelah berabad-abad lamanya akhirnya aku menemukanmu." Ucap pria dengan warna mata semerah darah. Iblis ini menatap scaning Gaara dari atas hingga bawah. Dan senyum kepuasannya terbit disela-sela bibirnya yang sensual. "Kau memang anak itu."
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Gaara dingin.
"Asal kau tahu saja, kau bukanlah manusia biasa. Kau adalah manusia rainkarnasi dari teman lamaku, Shukaku." Ucap Izuna menatap Gaara dingin. "Kau adalah manusia setengah iblis yang akan membebaskanku dari penjara para angel sialan itu."
"Jangan membual. Memangnya kau kau pikir aku bodoh. Kalian bangsa iblis hanya memperdaya kami para manusia untuk masuk kedalam perangkap kalian." Gaara mengepalkan tangannya erat, "..Hanya karna aku manusia lemah bukan berarti kau bisa memperdayaku."
"Aku mengatakan bahwa kau lemah. Manusia memang lemah. Tapi, kau jelas bebeda. Apakah kau tidak menyadari dengan semua keanehan yang kau alami selama ini." Izuna melangkahkan kakinya mendekati Gaara, "..Kau mampu melihat masa depan orang lain dan bagaimana tragisnya kematian mereka. Kau bisa melihat mereka yang tidak bisa dilihat oleh manusia lainnya dan... kau di lindungi oleh seorang angel, bukan?"
"..."
"Singkatnya kau memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya." Ucap Madara memperhatikan tatapan kosong Gaara. Ia menyeringai tipis. Tangannya terulur menyentuh tato kanji di kening Gaara, "..Tato ini adalah tanda pemilik tubuh terpilih untuk jiwa iblis. Berbanggalah karna..."
Plak.
Saru tepisan kasar didapat Izuna. Tatapan nyalang dilayangkan Gaara pada iris ruby yang menatapnya datar. Ketenangan sang iblis membuat Gaara semakin kesal.
"Bangga katamu? yang benar saja. Aku bahkan sangat teramat membenci dengan apa yang ku alami selama hidupku." Gaara terengah dengan napas memburu merasakan gejolak kemarahan didadanya, "..Karna tanda ini orang yang ku sayangi pergi, gara-gara tanda ini keluargaku mengucilkanku. Gara-gara tanda ini aku hidupku tidak tenang saat para makhluk sialan itu merongrong ingin mengikutiku dan menggerogoti jiwaku andaikan cahaya itu tidak menamengiku."
"..." Izuna masih terdiam menatap datar Gaara. Ia tahu manusia ini belum menyelesaikan kalimatnya.
"Aku... memang kuat diantara kaumku tapi, bukan berarti kalian bisa mempermainkanku."
Satu kekehan keluar dari bibir tipis sang iblis. Iris rubynya tidak pernah meninggalkan eksistensi Gaara. "..Jika kau mau, kau bisa sekuat kami namun kau harus melepaskan jati dirimu yang sebenarnya. Datanglah padaku maka kau akan menemukan jati dirimu yang sebenarnya."
"Jangan membual, brengsek!" Teriak Gaara marah. Ia tidak perduli andaikan orang didepannya tidak suka dengan tindakan tidak sopannya.
"Manusia bodoh. Aku tidak perduli kau percaya atau tidak," Izuna berbalik melangkahkan kakinya kembali ke tempat tergelapnya, "..Kau hanya perlu tahu siapa kau sebenarnya. Kau berhak untuk mendapatkan yang lebih baik dari sekarang dan 'dia' yang melindungimu harus mengakuimu lebih dari yang seharusnya."
Deg.
"Datanglah padaku. Maka kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan selama hidupmu."
Flash.
Kegelapan tiba-tiba lenyap dari pandangannya. Ia jatuh ambruk dengan pandangan yang mulai mengabur membuat dirinya tidak kuat untuk menutup matanya, namun satu sosok bayangan putih mendekatinya. Bukan sosok manusia tapi, binatang dengan kilauan putih bercorak abu-abu di tubuhnya. Ia dapat melihat iris biru pucat menatapnya datar.
~Flashback off~
Ceklek.
Pintu terbuka menapakan sosok pemuda beryukata putih dengan ukiran disetiap sisi lengannya. Ia berjalan tenang memasuki kamar Gaara lebih dalam lagi.
"Ku kira kau akan tertidur hingga besok pagi." Ucap Toneri menatap dingin Gaara.
"Maaf, tidak sesuai dengan harapanmu." Balas Gaara tidak kalah dinginnya dengan Teneri.
"Tidak masalah. Asal kau masih bisa menarik napasmu dengan normal."
"Ada perlu apa kau kemari." Tanya Gaara to the point.
"Aku senang dengan respon to the pointmu." Toneri bersidekap menatap dingin Gaara. "..aku hanya ingin tahu jawabanmu dengan atas tawaran yang diberikan oleh Izuna padamu."
"Apa urusannya denganmu?" Tanya Gaara sarkatik.
Toneri mendengus kesal, "Aku yang akan menjadi petunjuk jalanmu kesana."
"Tidak butuh." Balas Gaara cepat. Ia membalik tubuhnya kembali melihat pemandangan gelap di luar jendela kamarnya. Ia masih menimbang apakah ia akan menerima atau menolak tawaran Izuna padanya. Kembali ia menatap tato ai dikeningnya. Sebenarnya siapa dirinya yang sebenarnya. Jika memang apa yang dikatakan oleh Izuna benar, apakah ia harus memilih tawaran Izuna? Atau...
Sosok bayangan hitam dan putih melesat di depan jendala kamarnya. Gaara sedikit terkejut saat sosok tersebut melesat kearahnya. Dan pemandangan yang membuat dirinya mengepalkan tangannya kuat saat melihat siapa dua sosok tersebut.
"Hinata, Uchiha. Tidak ku sangka kalian bisa lolo dari makhluk penghuni dasar neraka." Ucap Toneri menatap dingin sang pangeran kegelapan.
Hinata segera melepaskan dirinya dari pelukan Sasuke. Ia menatap Gaara yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Ia mengerjap saat suatu yang janggal pada diri Gaara.
"Gaara kun? Kau baik-baik saja?" Tanya Hinata sedikit khawatir, mngacuhkan dua pria yang tidak suka dengan panggilan sang angel.
"Dia tidak apa-apa, Hinata san. Dia hanya sedikit kecewa karna kalian justru meninggalkannya." Jeda Toneri ia memberikan tatapan dingin pada satu-satunya iblis yang berdiri diruangan ini, "..beruntung aku ada disana dan menemukannya yang pingsan di koridor kelas."
"Apa yang terjadi?" Tanya Hinata menatap Gaara khawatir. Rasa bersalah menggerogoti hatinya saat mengingat-ngingat alasan apa membuatnya melupakan keadaan Gaara. Andaikan ia tidak menuruti ucapan Sasuke mungkin Gaara tidak akan sediam ini padanya. "..Maafkan aku." Ucap Hinata pada akhirnya.
"AKU BENCI KAU!" Ucap Gaara tidak terima. Entah kenapa ingatan-ingatan Hinata yang menghabiskan waktunya dengan sang iblis membuatnya hatinya kesal tidak terkira. Bahkan wajah sedih dan nelangsa Hinata tidak berefek apapun pada hatinya yang sakit. Ia memang bukan manusia hebat atau makhluk abadi layaknya sosok iblis congkak didepannya. Tapi, bisakah Hinata dapat melihatnya barang sedikit saja.
"Gaara kun. A..aku..."
"Aku.. tidak ingin melihatmu di sini. Pergilah."
Terus terang ia terkejut saat Gaara mengatakan kalimat tersebut dengan gamblang. Ia bahkan sudah memperkirakan jika seandainya Gaara akan memarahinya. Hanya saja satu kalimat sarkatik akan membuat hatinya sesedih ini.
"..Maaf."
"Jika kau menganggap semua kesalahan bisa selesai dengan satu kata 'maaf' dunia tidak membutuhkan hukum dan penjara sebagai balasan perbuatan para pelaku kriminal," Jade Gaara bergulir menatap Hinata kembali.
"Apa kau pikir dia melakukan kriminal, Sabaku." Potong Sasuke menatap tajam Gaara. Terus terang ia muak dengan kelakuan manusia berambut merah ini. Ia memang tidak berniat terlibat apapun dengan berinteraksi dengan sang putra indigo. Kecuali berhubungan dengan misi yang dijalaninya, selebihnya ia tidak mau untuk ikut campur. Hanya saja untuk kali ini, manusia ini harus di berikan pelajaran. Kalimat kasarnya memang keren? Tapi jika ditujukan untuk angelnya ia jelas sangat tidak terima. "..Padahal kelasmu jauh dibawah kami. Kau pikir dia pengasuhmu. Tahu dirilah kau, Sabaku."
"Aku tidak bertanya padamu, brengsek!" Ucap Gaara menatap benci pada sang iblis.
"jangan kau pikir kau merasa benar, Sabaku." Geram Sasuke tapat di wajah Gaara. dan pria tersebut sama sekali tidak bergeming pada posisinya.
Sasuke sedikit takjub dengan sikap Gaara. Biasanya manusia lain akan gentar akan kemarahannya. Manusia ini bahkan dengan gamblangnya memperlihatkan sikap menanangtangnya.
"Aku mengatakan fakta yang sebarnya, Uchiha." Gaara menarik kerah jubah Sasuke, memberikan seringai meremehkan yang membuatnya benar-benar murka."..Kau bahkan mengemis cinta pada wanita yang jelas sangat diharamkan untukmu, Uchiha. Lihatlah betapa menyedihkannya kau. Hanya karna kau makhluk kesepian, tanpa kasih sayang dan terbuang dari surga..."
DUK.
BRAAKK.
Satu kepalan tangan menghantam rahang pria yang kini tersungkur di lantai.
Hinata memekik kaget. Ia berjalan cepat ke arah Gaara untuk melihat kedaannya. Pukulan Sasuke tadi jelas sangat keras. Tubuh manusia biasa akan hancur menerima kekuatan sebesar itu. Andaikan keringanan yang bisa di dapat adalah cidera yang bisa membuat cacat seumur hidup.
"Ga..Gaara kau tidak ap..."
SSSHHHH...
Iris mata sewarna goldenrod dengan bentuk puppil menyerupai bentuk shuriken empat titik memerangkap Hinata dalam kubangan kemarahan dan kebencian. Debu-debu pasir keemasan melayang disekitarnya. Hinata terpaku saat melihat wajah Gaara yang di selubungi oleh lapisan pasir. Lapisan pasir di wajah bagian kiri Gaara rusak. Pukulan Sasuke tidak mengenai ujung kulit wajah Gaara sedikitpun. Pasir itu melindungi Gaara dari serangan Sasuke.
"Gaa..Gaara, Kau..."
"..."
SREET.
Hinata melompat menjauh saat lengan Gaara terulur untuk menangkapnya. Ia terkejut bukan main. Namun seringai Gaara yang tidak wajar membuat Hinata mulai waspada.
"Cih. Matilah kalian sema disini." Geramnya dingin. Hinata memang sering melihat Gaara dalam keadaan marah. Tapi, tidak pernah dengan suara sedalam ini. Suara barutonnya sangat datar dan dingin.
Toneri menyeringai saat akhirnya ia melihat pertikaian didepannya. Ia sangat menantikan momen ini. Gaara yang lepas kendali akan mempemudah dirinya dalam mencapai tujuannya. Walaupun perubahan yang terjadi pada Gaara sekarang memang bukan bagian dari rencananya, tapi ini jauh lebih baik dari pada ia harus menunggu lebih lama lagi.
"..."
Tanpa tendeng aling, Gaara lantas menerjang Sasuke membuat keduanya terlempar menghancurkan kaca jendela. Sasuke mengerang kesal saat tangan Gaara mencengkram leherna mendesaknya hingga mungkin dirinya terlebih duhulu menghantam tanah berlumpur karna guyuran hujan yang masih lebat.
Mengumpat pelan segera saja, ia gunakan kakinya yang bebas untuk menedang perut Gaara.
Bukh.
SREEEECTH.
Tubuhnya terhempaskan namun masih bisa ia gunakan keseimbangannya untuk tetap berdiri tegak menyongsong sang iblis yang kini nampak geram padanya. Ia menghiraukan tubuhnya telah basah kuyup. Pikiannya masih mengambang saat kekuatan asing berdesir dinadinya. Ia mengalihkan tatapannya pada sosok gadis yang menjadi sumber kekesalannya.
Hyuuga Hinata.
Gadis yang telah mengisi hatinya, lebih memilih pria lain untuk di sisinya. Ia kecewa jelas kecewa. Bagaimana bisa saat ia menemukan gadis yang menjadi tambatan hatinya justru menolaknya untuk pertama kalinya. Ia menaruh harapan yang sangat besar dari bentuk perhatian dan limpahan kasih sayang yang diberikan Hinata kepadanya. Salahkan jika ia meminta sedikit lebih akan posisinya dalam hati Hinata.
Atau apakah semua kebaikan gadis itu padanya hanya sebatas kepura-puraannya? Apakah sang malaikat hanya mempermainkannya saja. Seberapapun hal yang bisa dilakukannya bukan murni dari ketulusannya hantinya melainkan untuk menjebaknya dalam permainan dengan iblis keparatanya?
'Jelas ia hanya sebuah permainan untuk menghancurkanmu.'
Siapa yang berbicara dikepalanya. Permainan apa yang kau maksud? Gaara bukan pria dengan segala kemelankolisannya. Bersikap mengabaikan, Gaara kembali memfokuskan pandangannya pada satu-satunya gadis yang menatapnya penuh kecemasan.
'Aku sangat mencemaskanmu, Gaara kun. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?' Bukankah ini suara Hinata.
'Sial! Menyingkirlah kau angel sialan.'
Gaara mencengkram kepalanya saat suara-suara asing berteriak dikepalanya. Apa yang terjadi padanya?
'Kau... jangan kau pengaruhi dengan keburukanmu!"
'Jangan ikut campur. Kaulah sumber kekacauan ini, jalang! Tubuh Gaara terasa memanas. Kepalanya mulai berdenyut kesakitan.
'Shukaku. Kau menyakiti Gaara. Lebih baik kau kembali ketempat asalmu.' Suara lembut Hinata kini berubah tegas dalam pikirannya.
'Shit! Kau yang menyakitinya. Jangan pura-pura bodoh. kau tahu perasaannya seperti apa. Aku yakin kau sengaja untuk mengingkarinya dan sekarang kau ingin mengusirku. Cih kenapa tidak dari dulu saja kau mengusirku.' Jeda suara bariton dalam pikirannya. Gaara bisa mendengar suata bariton yang panggil Shukaku ini terkekeh dalam kepala Gaara, "..aku adalah dirimu Gaara, begitu pula sebaliknya. Jika kau terpisah dariku maka, Kau akan mati.'
'Dia berbohong, Gaara kun. Dia...'
'Aku mengatakan yang sebenarnya angel, sialan! Jadi, tahu dirilah kau!'
'...'
Jadi, pada akhirnya sakit kepalanya telah mereda seiring dengan hilangnya suara sang angel dalam pikirannya. Ia tahu kini wujudnya bukanlah wujudnya sebagai manusia murni. Pantaulan genangan air dibawahnya telah merefleksikan seperti apa wujudnya yang sebenarnya. Mata keemasannya membuatnya nampak seperti sosok predator yang mengerikan. Benar. Hinata saja mungkin tidak suka dengan dirinya dengan wujud yang seperti ini. Sebagaimana yang telah ia ketahui jika Sasuke memiliki wujud yang lebih baik dari dirinya.
'Dia akan mengakuinya hanya dengan kekuatan.'
Benar. Kekuatan.
Gaara mengalihkan tatapannya pada hutan yang gelap di belakangnya. Ia akan jauh lebih kuat jika ia menuruti kalimat iblis itu. Ajakan untuk bergabung bersamanya.
Uchiha Izuna.
Dengan langkah pasti Gaara melangkah kaki tanpa beralasnya menuju hutan gelap. Hinata tentu terkejut. Berbeda dengan Sasuke yang menganggap itu adalah hal yang biasa saat manusia mengalami keputus asaannya. Tentu saja ia sudah mengetah tujuan Gaara. Maka dengan tak acuhnya ia berdecak kesal. Namun, saat melihat Hinatanya akan mengejar Gaara ia refleks menarik sang angel dalam pelukannya.
"Sasuke kun. Lepaskan aku. Aku harus menyusul Gaara." Ucap Hinata berontak dalam dekapan sang iblis.
"Aku tidak akan melarangmu hanya saja, kau tidak boleh jauh-jauh dariku," ucap Sasuke pada akhirnya. Sekalipun ia tidak perduli dengan sikap Gaara namun, Hinata pasti tidak akan tinggal diam. Dan tentu saja akan sangat mengkhawatirkan jika seandainya ia tidak berada di sampingnya. Apalagi mengingat sebagaimana gigihnya Gaara dalam mencari perhatian angelnya.
Helaian bulu hitamnya merekah membentang indah di punggungnya. Sepasang sayap hitam yang berkilau bahkan kala gelap yang melingkupi sekitarnya. Dalam satu kali kepakan tubuh mereka melayang melintasi suasan malam dibawah guyuran hujan. Menakjubkan saat tubuh mereka tidak terkena basah sedikitpun.
..
..
Truk.
Sepotong ranting patah kala telapak kakinya tidak sengaja mendarat disana. Sang semesta nampak memberikan restu padanya kala hujan yang derasnya kini telah berhenti menyisakan genangan air dan lumpur ditanah hutan misterius ini. Surai merahnya lepek dan lembab karna terkena air hujan. Tubuhnya basah kuyup tapi, tidak sedikitpun rasa dingin di tubuhnya. Ia menatap awan yang perlahan bergerak memperlihatkan sang rembulan diatas sana. Blood moon.
Siapa yang menyangka feneomena alam ini terlihat sangat menakjubkan saat cahaya terangnya menyinari tubuhmu sepenuhnya. Gua yang kemarin ia lihat dalam mimpinya terlihat di depannya. Ia akan melangkahkan kakinya masuk kedalam gua andaikan seseorang yang tak asing terlihat olehnya disana. Seorang gadis terduduk dengan kaki yang diselonjorkan ke depan. Begitu jenjang dan putih bersih.
Ck. Kitsune.
Gaara mengacuhkannya namun, sepertinya gadis kitsune ini tertarik dengan dirinya. Dalam sekali gerakan kini Matsuri telah berada di depan Gaara, menatap gaara penuh minat. Iris sewarna batu malam ini tidak berhenti untuk melihat sosok Gaara dari atas kebawah. Penilaian yang sangat cermat hingga menimbulkan geraman tidak suka bagi sang empu yang menilai seolah dirinya benda perhiasan menjijikan yang pantas di pandanginya dengan tatapan memuakan itu.
"Menyingkirlah, Kitsune!" Ucap Gaara penuh penekanan. Tiap kata-kata yang penuh nada sarkatik yang tajam. Tapi, nampaknya itu sedikit berlebihan toh pada akhirnya Gaara mengatakan apa adanya. Tidak mengenal kelembutan yang membuatnya seperti laki-laki pecundang saat kau tidak bisa membuktikannya dalam tindakan manismu.
Jadi, Kau pikir Gaara akan bertindak semanis itu. Tentu saja jawabannya 'tidak!'. Tidak perduli seberapa sakit hatinya saat lawan bicara mendengarkan kalimat per kalimat yang dikeluarkan Gaara secara gamblang.
"Jadi kau manusia itu. Tidak ku sangka."
"Apa maksudmu, yokai?"
Matsuri mendelik tidak suka dengan panggilan merendahkan Gaara. Mulut pria ini benar-benar menyebalkan. Ia melenggang masuk ke dalam mulut gua. Ia membalik tubuhnya saat Gaara tidak kunjung mengikutinya di belakangnya. Ia mulai berteriak kesal saat bungsu Sabaku tersebut sama sekali tidak goyah dari posisinya.
"Kh. Kau benar-benar cerewet," balas Gaara dan mulai melenggang masuk lebih dulu meninggalkan Matsuri terbengong karnanya. Nampaknya bungsu Sabaku ini senang sekali membuat orang kesal. Dengan sekali teriakan histeris Matsuri, segera saja ia menyusul pemuda yang memiliki selera humor yang sangat menyebalkan itu.
"Disinilah tempatnya," bisik Matsuri menengadahkan wajahnya menatap patung besar didepannya. Tatapan sendu dilayangkan pada patung menyerupai sosok tubuh manusia yang gagah dengan sepasang sayap membentang di punggungnya.
Uchiha Izuna.
Gaara memperhatikan dengan teliti. Simbol yang sangat rumit dengan ukiran indah layaknya sapuan emas yang indah. Tapi, bukan itu yang menjadi perhatiannya. Tanpa sadar tangannya terulur untuk menyentuh patung yang menjulang didepannya. Satu kilasan kenangan menyergap pikirannya. Ia mengerang perlahan, ingatan masa lalu yang mempertemukannya dengan 4 arch angel. Salah satu diantaranya yang terlihat lebih memuakau dengan segala atribut kebijaksanaan yang membuatnya terlihat unggul dari yang lainnya. Gaara menunduk menahan rasa sakit dikepalanya. Meskipun rasa sakitnya tak tertahankan ia tetap tidak menolak dan melepaskan gambaran rekaman masa lalu yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Kekuatan yang tersegel dan kelahiran seorang bayi menyegel sosok iblis yang mendapatkan kunci pembebesan sang iblis. Kekuatan yang dapat menyegel dan memusnahkan apapun yang berada dalam kuasa hukuman para arch angel. Gaara melihatnya, gadis itu. Astaga betapa miripnya mereka. Itachi Izuna dan... Hikari Hyuuga.
Hinata.
Ia memejamkan matanya kua-kuat berusaha untuk menghilangkan bayangan sang angel saat setelah ia membuka segel penguncian sang iblis.
jeritan keputus asaan yang meggema di kepalanya. Begitu banyaknya kerusakan yang ditimbulkan olehnya. Kekeuasan yang di dapat setelah kekuatan iblis yang didalam dirinya di lepaskan.
'Tidaka akan terjadi seperti itu jika perlakuannya benar. Pengontrolan. Pastikan untuk tetap memegang kendali.'
Ingatan akan bagaimana tatapan Hinata yang berbeda pada Sasuke. Hatinya terbakar api cemburu. Jika memang Hinata akan menganggap pria yang kuat yang layak mendekatinya. Dengan pasti ia menggigit ibu jarinya hingga berdarah. Ia mengambar ulang ukiran simbol yang tertera pada tubuh patung sang iblis.
Ia memundurkan tubuhnya perlahan kala asap hitam melingkupi tubuh sang patung. Tubuh Gaara sidik mengigil saat aura dingin menyebar keseluruh tubuh. Perlahan tapi pasti raungan dan geraman terdengar menimbulkan sikap was-was Gaara. Gaara membelalakan matanya saat seketika disekelilingnya dipenuhi sosok mengerikan penghuni neraka. Dari yang terkecil seekor nyamuk dan hingga sebesar gajah. Mereke berdiri dengan ekspresi kelaparan dan kebengisannya. Jika kau kira Gaara akan takut, maka kalian salah. Gaara tidak akan takut pada hal-hal yang sering ia temukan dalam hidupnya. Para makhluk yang menginginkan jiwanya.
"Haa.. Lihatlah betapa lezatnya dia," ucap salah satu wanita bermulut robek dengan tubuh yang rusak.
"Aku ingin menggigit perutnya. Betapa indahnya detak jantungnya," ucap makhluk kerdil merangkah ke arah Gaara.
"Darahnya...pasti manis sekali,"suara tercekik dari pria yang menunjuk pada Gaara. Matanya tergantung nyaris lepas dari tempatnya. Gaara menulan ludahnya dengan terpaksa. Jelas ia sangat jijik melihat sosok-sosok menjijikan yang mungkin tidak layak untuk dilihat. Suara kekehan terdengar dari makhluk yang merasakan kegetiran Gaara.
"Oh.. Kau tidak akan tahu manusia. Kelak kau juga akan seperti kami. Saat kau pertama kau menjadi bagian kami. Kau pun akan mengalaminya," jawaban ini barasal dari wanita yang menggantung di langit-langit gua.
"Hahaha.. Nampaknya kau sedikit berbeda dari sekian manusia yang aku temui." Kali ini seorang gadis melompat lincah kearah Gaara. Sosoknya berbeda dari makhluk yang lainnya membuatnya sedikit mencolok diantara makluk kegelapan lainnya.
Succubus.
Ia tersenyum sangat manis pada Gaara saat mengetahui seberapa menariknya sosok manusia yang ditemuinya kali ini. Dangan gaya anggunnya ia berjalan lebih dekat pada Gaara yang masih tak bergeming di tempatnya. Ia menyeringai puas. Benar-benar manusia yang sangat menarik. Ia mengibaskan rambut pirang panjangnya kesamping, memperlihatkan seberapa idealnya bagi kaum adam.
"Enyahlah kalian. Kalian sama sekali tidak selevel denganku. Jadi menyingkirlah!" Hardik gadis cantik tersebut pada makhluk yang mencoba mendekatinya karna terkena bisikan undangan sang wanita. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Gaara. Namun,
Plak.
Seseorang mencekal tangannya dan itu cukup membuat gadis cantik tersebut menggeram marah. Ia menepisnya kasar menatap tajam iris onyx didepannya.
"Jangan ikut campur kau, Kitsune! Kau bahkan tidak sebanding denganku."
"Ah ya..Tapi, aku tidak pernah menjajakan diriku pada setiap manusia yang ku temui," Balas Matsuri menatap nyalang wanita succubus didepannya.
"Cih. Bilang saja bahwa kau iri padaku." Ia menepuk menyentuh dadanya yang tidak mengenakan apapun untuk menutupinya, "..aku harus merasakan kenikmatan itu untuk keperluan hidupku. Aku jelas bebas melakukannya, tidak seperti kau. Yang selalu diburu oleh manusia untuk kepentingan pribadi mereka. Betapa malangnya kau yang dimanfaatkan bukannya sebaliknya."
"Kau..."
"Ribut sekali disini."
Suara bariton terdengar membuat semua eksistensi berbalik untuk melihat pemilik suara datar itu.
Matusri terkesiap saat ia bertemu pandang dengan pria yang selama ini selalu dirindukannya. Sosoknya sama sekali tidak banyak berubah dari terakhir kali ia bertemu dengan sanga pujaan hatinya.
"Izuna kun," ucapnya ragu. Ia jelas sangat mengingat bagaimana kesan terakhir mereka dulu. Izuna sangat membencinya karna tindakan egoisnya yang membunuh angelnya.
"Matsuri," bisik Izuna dingin tepar di depan wajah Matsuri.
"..." Matsuri terkejut bukan main saat Izuna kini telah berada tepat di depannya.
"Kau tahu betapa aku sangat mengingat bagaimana baiknya perlakuanmu padaku dulu, hm?" bisik Izuna tepat ditelinga khas rubahnya. Napas hangat menerpa rambut Matsuri kala pria itu sengaja bernapas disana.
Tangannya membelai wajah cantik Matsuri. Perlahan menelusuri garis pipi dan rahang wanita Kitsune tersebut. Terarkhir ia membelai leher jenjang wanita dengan wangi bunga khas melati ini. Izuna memperhatikan dengan seksama ekspresi Matsuri yang nampak menikmati sentuhannya. Namun seketika wajahnya mengeras di iringi dengan pekikan terkejut wanita dalam cengkramannya.
"Tapi, aku sudah muak denganmu, Matsuri." Izuna menatap dingin Matsuri yang nampak tersiksa dalam cengkramannya. Sedikit tambahan kekuatan tubuh Matsuri telah berubah menjadi abu di tangannya. Terbakar dalam sekejam menghanguskan hingga kedalam jiwa yang tergelapnya.
Iblis yang kini berdiri didepannya adalah sosok iblis yang sebenarnya. Waktu dan emosi yang tidak harus di miliki oleh sosok gelap penghuni neraka terdasar dalam akhirat. Penghukum jiwa gelap yang haus dengan kekuasan dan ketamakan.
Tubuhnya bahkan tak bisa bergerak barang seinci pun saat merasakan betapa dahsyat dan mengerikannya sosok yang berdiri tegak dengan sepasang sayap hitam yang mungkin lebih gelap dari Sasuke. Para makhluk kegelapan yang tunduk dengan penuh hormat pada sosok Izuna.
Sekarang pun detak jantungnya terasa memborbardir di balik tulang rusuk yang melingkupi benda pusat kehidupannya yang rentan. Apakah sekarang Gaara menyesal atas apa yang dilakukannya? Apakah karna hawa kematian dari sosok iblis ini mampu merangsek masuk ke dalam mental dan jiwanya yang masih rapuh ini?
"Gaara no Sabaku." Ucap Izuna menatap datar satu-satunya makhluk yang masih memiliki detak jantung disini. Ia menyeringai dingin. Tangannya terulur menyambut sang adam setengah iblis yang membebaskannya dari belenggu hukum para arch angel.
"Kemarilah. Aku sungguh sangat berterima kasih atas bantuanmu, teman. Sebagai ucapan Terima kasihku, Berdirilah di sampingku dan mari kita bebaskan semua belenggu hidup ini dan aku berjanji kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan," ucap Izuna dengan senyuman di wajahnya. Begitu meyakinkan hingga tanpa sadar tangannya terangkat menyambut uluran tangan sang devil. Tingga 5 centi dari kulit dengan kulit dingin sang iblis, hingga tepat saat sebuah suara menyadarakan Gaara dan mengacuhkan sang devil yang nampak murka karnanya.
"Hentikan. Gaara kun!"
Sosok angel yang begitu dikaguminya.
"Hinata."
.
.
To Be Continued
.
.
Huph! Akhirnya selesai juga chap 6 nya.
Untuk yang sering menanyakan endingnya mau sampai chap berapa. so.. Aku kasih bocoran. perkiraan aku akan menyelesaikannya sampai chap 9 ato paling banyak 11 chap (wah kebanyakan) oke mungkin fix 9-10 chap aja.
Kenapa disini agak random dan banyak yang dilompat-lompat alurnya?
Oke. karna aku masih belum mahir dalam buat story yang ngurut. masih dalam tahap-tahap... but aku tidak akan menyerah buat terus belajar supaya aku bisa nyaingin para author-author senior yang udah jago bikin fict yang keren dan super duper rapi dalam tulisannya #Gajemodeon
Aku juga masih cari-cari jawaban apa jadinya kalo malaikat terlibat cinta terlarang dengan iblis atau setan. berhubung mereka kan tidak saling mematikan layaknya air dan api tapi mereka hanya ciptaan tuhan yang terlahir dari api dan cahaya. meski seperti itu jelas mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku benar-benar tertarik dengan kisah ini. makanya kemungkinan besar ff yang lama tidak akan aku lanjutin dulu. aku akan fokus di ff ku yang ini.. dan mungkin satu ff lagi kalo aku berhasil menyelesaikannya lagi. untuk spesial even SHDL2016.#OHmalahcurhat
Oh. Aku nambahin satu karakter lagi disini untuk peran pendukung tambahan dalam kisah cinta terlarang Sasuhina. Kalian pasti sudah bisa menebaknya bukan..? Hahaha#bupt
Semoga Chap ini sedikit lebih baik dari pada yang chap sebelumnya. Semoga lebih memuaskan para reader loveydovey.
Sip. Dah. giliran Balasan kotek review. Mumpung kotak review y sedikit.. maaf kalo masih ada yang belum disebutin.
.
.
#RnR
#Special Thanks For :
HHS Hyuuga L, Kurosuke, SFA30, Nata-chan, Jess, icaraissa11, chefth, chanuchie1, SuHi69, Narulita709, HipHipHuraHura (Pen name yang unik), Miyuchin2307.
Hime : Kayaknya Gaara emang udah suka Hinata dari sejak pertama ketemu. Oke. Adegan erotis sasuhinanya... lock that.
Mhey-chan : bisa jadi engga bisa jadi ya.. thkz. ikutin terus ff y..
Lovely Sasuhina: Ya..thks. Aku juga baru ngeh..pas dibaca lagi. Ikutin Terus kelanjutan ff y..
Alynda B : Walaupun ni pair y Sasuhina.. Tapi ga seru juga kalo ga ada pihak ke 3 nya.. so jangan kecewa y.
hiru nesaan : Wah? ini alur y terasa lambat y? hm. memang susah jga aku nemu titik temu adegan mereka. feeling y belum dapet tapi aku ga bakalan nyerah gitu aja kok. hm. aku juga baru sadar masih banyak typo padahal udah diedit2 beberapa kali. so.. thks y..
.
.
See You Next Chap.
