~On the last Chap~

.

Saat kesedihan dan keputus asaan mulai menerjang jiwa Hinata. Sebuah suara yang begitu di hapal dan di kenalnya masuk kedalam indrra pendengarannya.

"LEPASKAN DIA, KEPARAT!"

Hinata membuka matanya dan binar kebahagiaan memancar di sana. 'Dia', seseorang yang beberapa tahun ini selalu bersamanya.

"S..Sasuke kun."

.

.

Angel And Devil

.

.

By Ashura

.

.

Disclaimer : Naruto Just Have Mr. Masashi Kishimoto

.

.

Chara : Sasuke Uchiha, Hyuuga Hinata, Sabaku no Gaara

Gendre : Drama, Supernatural, Hurt Comfort

Rated : M

.

.

Warning!

OOC, TYPO, AU, LEMON, ABAL, GAJE, (Tidak patut dipercaya atau ditiru karna ini hanya fiktif belaka)

.

Don't Like? Don't Read!

Please Press Back/Exit

.

.

Summary

Kegelapan ada karna adanya cahaya. Meskipun cahaya dan kegelapan hidup selalu berdampingan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama karna jika mereka berkehendak demikian hanya akan ada kehancuran yang didapatnya

.

.

.

Happy Reading

.

.

#8# Angel in Hell ( Part ll. )

.

Iris mata ruby menatap murka pada iris ruby yang lain. Kebencian dan kemurkaan yang membuat jiwa tersesatnya ketakutan. Iblis neraka lainnya bergerak menjauh saat sosok sang pangeran dasar neraka bergerak mendekat ke tempat yang dijadikan untuk ritual. Sayap hitam terlipat dipunggung gagah sang pangeran iblis, Uchiha Sasuke.

Sebuah pedang kematian sudah berada dalam genggaman kuatnya. Tatapan kebencian di terima dengan suka rela oleh Izuna. Ia sengaja mempermainkan keadaan jiwa Sasuke yang tidak stabil.

"Lepaskan dia! Dia adalah milikku, paman." Penekanan di setiap kata, Sasuke menunjukan kemarahan yang di tahannya sekuat tenaganya. Kesabaran bukan milik hati para iblis namun, Sasuke tidak perduli dengan hal yang tidak berguna seperti itu. Untuk malaikat sucinya ia rela untuk menyelinapkan sebagian hal yang dbencinya pada dirinya.

Keteguhan yang membuat Izuna cukup takjub akan sikap keponakannya yang menurutnya cukup tangguh dalam pengendalian dirinya. Sayangnya, sekarang bukan timing yang tepat jika sekedar puji memuji sikap. Keponakannya yang bodoh ini menginginkan wanita yang sama dengannya. Cih tindakan yang konyol bagi iblis penguasa yang justru dapat memiliki wanita manapun yang di inginkannya. Sayangnya karna keinginannya itu justru menariknya pada malaikat istimewa ini.

"Butuh waktu 1000 tahun untuk bisa menandingiku, Sasuke. Kau hanya akan ..."

"Aku tidak butuh ocehanmu. Jika kau tidak ingin mengembalikannya padaku. Aku yang akan mengambilnya dengan paksa!" ucap Sasuke tegas. Tidak perduli jika seandainya ia tidak akan memenangkan pertempuran ini, yang pasti ia harus menyelamatkan angelnya dari iblis brengsek di depannya.

Terus terang Sasuke terkejut. Melihat altar dan beberapa ratus iblis yang mengelilingi tempat seperti ritual upacara. Ia bisa menebak apa yang terjadi. Ini adalah salah satu ritual iblis saat menantikan jiwa lain untuk menjadi penghuni neraka yang baru.

Ritual.

Ritual penukar jiwa. Dimana ritual ini dilakukan oleh seorang iblis yang memiliki kekuatan selevel dengan malaikat tingkat tiga.

Iblis penguasa.

Ritual penukar jiwa bisa dilakukan pada pemilik jiwa yang berlainan. Seperti kegelapan dan cahaya. Api dan cahaya. Malaikat dengan iblis. Yang itu artinya Izuna berniat menukarkan jiwa Hinata dengan jiwa iblis kegelapan. Meskipun tubuhnya masih sama hanya saja identitasnya telah berbeda. jiwa malaikatnya termakan oleh jiwa iblis kegelapan.

Tumbal.

Persembahan.

Pengorbanan.

Bisa saja seorang malaikat menjadi iblis tanpa melalui proses ritual ini. malaikat itu harus melakukan banyak dosa hingga dengan perlahan hati bersihnya akan tercemari oleh kelamnya dosa yang telah dilakukannya. Namun, untuk kasus ritual biasanya dilakukan jika malaikat itu spesial, dalam arti jiwa bersihnya menerima kegelapan yang telah memilihnya sebagai belahan jiwa yang lain, yang artinya dalam bentuk penukaran paksa dan tentu saja harus ada jiwa iblis yang benar-benar kuat untuk bisa mengurungnya dalam penjara kegelapan. Malaikat yang seperti ini tidak akan bisa langsung menjadi iblis. Mereka akan kehilangan jati dirinya sebagai malaikat, berganti menjadi manusia, makhluk lemah yang masih dalam keadaan polos tanpa pengetahuan apapun termasuk dirinya di masa lalu.

Perlahan secara alami ia akan merasakan kebingungan pada dirinya dan dunia sekitarnya, lantas mulai mengenal namanya emosi negatf yang cukup tinggi, kemarahan, keputus asaan, kesedihan, dan berakhir dengan kesenangan akan suatu yang tidak wajar. Dan puncak dari semua emosi negatifnya adalah keserakahan. Tahap selanjutnya manusia-mantan malaikat- ini akan merasakan yang namanya gejolak jiwa yang haus akan kesenangan, hanya iblis-iblis tertentu yang mampu mengontrol diri dalam titik ini. Calon sosok iblis mulai terbentuk dan perlahan akan tumbuh alami sesuai dengan karakter dirinya sendiri. Mulai dari fisik dan kemampuan dan kekuatan. Tergantung dari diri serta ciri kemampuan iblis itu sendiri.

Membayangkan hal itu terjadi pada Hinata membuat hati Sasuke terguncang hebat. Bagaimana menderita dan tersiksanya gadisnya. Angelnya cantiknya yang terlihat sangat memprihatikan. Ia tidak bisa menjamin jika dirinya bisa mendapatkan ketenangan dan kenyamanan lainnya selain dengan angelnya yang selalu bersikap hangat dan lembut padanya. Sekalipun ia menginginkan Hinata dalam keabadaiannya bukan berarti ia tega melihat sosok Hinata yang berubah menjadi orang asing bahkan bertingkah seperti bangsa kaumnya. Kesenangan sesaat yang justru berakhir dengan penderitaan yang tidak ada habisnya.

Sekalipun itu bisa meyakinkan dirinya bahwa Hinata akan bisa menjadi miliknya dengan mudah. Tanpa ada hukuman dan pelarian yang akan mengancam mereka berdua. Tapi, membayangkan Hinata yang berubah. Sosoknya yang lembut dan anggun menjadi kasar dan liar..

Tidak.

Sasuke tidak bisa menerimanya. Hinatanya akan tetap menjadi angelnya. Cahayanya, penerang jiwa gelapnya, tempat Sasuke dapat melihat keindahan yang sebenarnya, dan tempat untuk menitipkan.. hatinya.

"Aku memang jauh dibawah levelmu. Tapi, jangan kau kira aku akan diam saja. Aku akan menantangmu dalam pertempuran yang sesungguhnya. Jika perlu hingga salah satu diantara kita ada yang mati."

Ucapan yang penuh dengan kepercayaan diri membuat jiwa lapar Izuna bersorak gembira. Sudah sejak lama ia tidak merasakan gejolak tantangan yang menarik seperti ini. Tidak perduli siapa yang menjadi lawannya Izuna tidak akan menolaknya. Perlahan ia berdiri membaringkan Hinata kembali dan melepaskan jubah untuk menutupi tubuh Hinata.

Satu seringai muncul dibibir tipis Izuna.

"Kau yang memulainya, Sasuke. Jangan salahkan aku jika nantinya 'ini' adalah saat-saat terakhir kau melihat 'angel cantikku'."

'Angel cantik-ku?Yang benar saja. Hanya akulah yang berhak memilikinya, brengsek!'

"MATILAH KAU!"

...

...

Syuush..

Sayap putihnya nampak berkilau meskipun tanpa cahaya. Pagi akan segera tiba membuat awan di upuk timur sedikit memperlihatkan warna jingga keemasannya.

Rambut sewarna karamel dengan kehalusan yang sangat eksotic layaknya seorang putri, namun, paras wajah tampan yang sangat maskulin membuatnya seperti pangeran dari negeri dongeng. Mata sewarna amethys yang meneduhkan dan jangan lupakan sepasang sayap putihnya yang di tekuk di belakang punggung yang dibalut jubah tanpa noda. Terasa sejuk saat kaki jenjangnya mulai menapaki tanah yang lembab. Hembusan angin fajar membawa aroma embun dan kayu cendana segar yang khas dari tubuhnya sangat memanjakan alam sekelilingnya.

Begitu tampan dan mempesona. Dia adalah seorang malaikat dari keturuanan klan tertinggi Hyuuga. Seorang komandan perang pasukan baris pertama dalam pasukan arch angel. Kakak sepupu tersayang Hinata Hyuuga. Hyuuga Neji.

Emethys meneduhkannya menjelajah lingkungan tempatnya berada. Ada beberapa bekas jejak perkelahian dan ada beberapa helai bulu sayap hitam di sana.

Ia berjalan mendekat untuk meneliti helaian bulu sayap lembut sebesar bulu elang dewasa. Ia menyerngit saat merasakan adanya energi familiar dari bulu hitam di tangannya ini.

"Itu adalah bulu sayap milik adikku, Uchiha Sasuke."

Neji melirik sebentar sosok lain yang kini berjalan ke arahnya.

"Aku tidak tahu jika adikmu bisa se-empati ini untuk masuk kedalam perkelahian yang tidak berguna dengan para yokai, bukan? Aku rasa kau juga bisa menjelaskan maksud kedatanganmu kesini, Itachi?" tanya Neji menatap aneh pada teman iblisnya.

"Apa? Aku hanya ingin melihat keadaan adikku." Jawab Itachi enteng. Ia lantas menatap bukit yang sudah berubah bentuk dari yang terakhir ia melihat bukit yang menjadi tempat di hukumnya sang paman yang dulu membangkang terhadap aturan para iblis.

Ia tidak mengerti jika sebegitu memikatnya para angel hingga mampu menjerat emosi iblis. Ia juga tidak bisa menyalahkan pihak mana yang bertanggung jawab dalam hal ini. Hanya saja kali ini ia adik bodohnya yang melakukannya.

"Aku tidak akan menyerahkan adikku pada makhluk terkutuk seperti kalian," ucap Neji. Meskipun nadanya terdengar halus namun kalimatnya yang tidak enak di dengar.

"Sasuke juga dilarang menjalin hubungan dengan mekhluk angkuh seperti kalian. Tapi,.." Itachi membalik tubuhnya untuk menatap pemuda penuh kecerahan di sampingnya. Astaga mereka penggambaran siang dan malam. "...Aku tidak menginginkan adik-ku tertimpa kesialan lebih dari ini. Ayah kami tidak suka dengan pembangkangan sekalipun kecurangan adalah hal yang paling di bencinya. Hanya saja untuk kali ini biarkan sesuatu terjadi di antara mereka setelah itu biarkan aturan kami yang menghukum adikku."

Neji menatap penuh perhitungan pada Itachi yang nampak serius di hadapannya. Sekalipun sang iblis adalah makhluk yang jahat dan suka menyalahi aturan namun, nafsu dan emosi yang di berikan tuhan berpengaruh besar dalam tindakannya termasuk untuk melindungi, menyelamatkan atau apapun yang menurutku mereka penting untuk di perlakukan seperti itu. Setidanya untuk kali ini mereka akan mengambil keputusan yang sama.

'Aku ingin kau menyelamatkan Hinata. Setidaknya untuk tetap hidup sebagai makhluk yang beradab. Aku tidak bisa menerima Hinata yang ternoda oleh jiwa kegelapan. Hanya aku tidak bisa memasuki pintu gerbang neraka karna itu adalah di luar wewenangku selain untuk perintah menghancurkan mereka semua.'

"Aku akan menyelamatkan Hinata apapun yang terjadi, yang mulia." Jawab Neji yakin membuat senyum tipis hadir di bibir Hiashi. Satu anggukan menjelaskan bahwa restu dan kepercayaan telah diberikan oleh sang pemimpin malaikat kepada sang panglima perang sekaligus keponakannya itu.

'Aku percayakan semua kepadamu, Neji.'

Ucapan sang paman masih terus terngiang di ingatannya. Ia lantas beralih kembali menatap Itachi yang kini masih dalam posisi yang sama.

Satu anggukan cukup untuk membuat kesepatan tak tersirat. Tidak perlu ada keraguan diantara mereka karna mereka tidak pernah mengingkari janji dan menghargai peran posisi masing-masing.

"Kita pergi sekarang!"

Mereka merentangkan sayapnya yang gagah nan indah melesat menembus membelah udara. Meskipun memiliki warna yang sangat kontras antara hitam dan putih, tidak mengubah pikiran mereka akan tujuannya yang utama. Menyelamatkan hal yang paling berharga dalam keabadian mereka. Ikatan darah dan cinta. Dengan sekali kepakan sayap mereka melesat cepat ke langit. Namun, tidak lama kemudian mereka kembali berbalik menukik lurus searah gravitasi bumi. Sayap yang membelah angin meninimbulkan bunyi cukup nyaring. Kecepatan layaknya pesawat jet tak membuat ketenangan wajah mereka pudar. Hingga saat tubuh mereka hampir membentur tanah bumi, kedua sosok mereka lenyap dalam bentuk riak gelombang cahaya dan asap kabut hitam.

..

..

Crack.

Braak!

Satu tendangan dan sabetan pedang menghantam tubuh Izuna. Sebelah sayapnya terpotong oleh pedang milik Sasuke. Ia menatap tajam sang Sasuke. Ia cukup terkejut saat merasakan peningkatan kekuatan pada Sasuke. Padahal hanya beberapa abad saja mereka tidak bertemu tapi, ternyata sudah mengalami banyak perkembangan dalam diri keponokan bodohnya ini.

Meskipun dalam kondisi sama parahnya dengan dirinya, Sasuke masih sempat membalas serangannya. Tangan kiri Sasuke telah putus. Tubuhnya terluka begitupun dengan kedua sayapnya.

"Tidak kuduga. Kau cukup tangguh juga, Sasuke. Tapi, pertarungan kita baru dimulai dari sini."

Izuna menyerang Sasuke kembali. Pedangnya kembali beradu dengan pedang Sasuke. Bergerak gesit saling mengayunkan pedang untuk mencapai organ vital lawan.

SRENG.

DHUAR.

Satu serangan menghentakan tubuh keduanya menjauh. Sasuke terdiam mengatur napasnya yang memburu. Pandangannya sudah memburam pertanda stamaminanya sudah mulai menurun. Tapi, Sasuke harus memenangkan pertempuran ini bagaimanapun caranya. Jika tidak, ia harus siap kehilangan Hinata selamanya.

Sasuke berdiri tegak melenyapkan pedangnya lantas menggerakan tangannya yang tersisa untuk membuat simbol terang. Sebisa mungkin ia memusatkan energinya pada tangan kanannya. Cahaya biru mengelilingi pijakan kakinya yang perlahan membesar hingga melewati tanah yang di pijakan Izuna berikut dengan antek-antek iblisnya. Satu gerakan dengan jari-jari yang mengepal, iblis-iblis itu terserap kedalam simbolnya dan musnah menjadi abu. Izuna yang menyadarinya segera melompat untuk menghindari kakinya yang termakan simbol yang di buat Sasuke. Hanya saja Sasuke tidak membiarkan sasaran utamanya lepas begitu saja. Ia membuat gerakan tangan yang berbeda. Seketika sebuah sulur panjang keluar dan menarik tubuh Izuna untuk masuk kedalam perangkap simbol milik Sasuke.

Crash.

Berhasil mendapatkan kaki kanannya. Izuna mengerang saat kaki kanannya terpotong. Menggunakan sisa kekuatannya ia menghilangkan pedang yang masih di tangannya lantas membuat simbol miliknya untuk melepaskan jeratan sulur yang masih menariknya masuk kedalam simbol kemusnahan Sasuke.

Sebagai balasan serangan, Izuna membuat simbol besar di atas kepalanya untuk menyerang Sasuke. Cahaya simbol hitam telah terbentuk digenggamnya kuat-kuat lantas mengarahkannya kearah Sasuke.

"Mati kau!" Seketika sebuah cahaya merah yang membentuk wujud setengah manusia melesat kearah Sasuke. Taring dan cakar tajam menyayat kulit Sasuke. Memang tidak terlalu dalam dangan cukup sakit hanya jika jumlahnya lebih dari 10 tubuhnya akan tercabik-cabik dan perlahan akan hancur.

Menggunakan elemen apinya ia mampu melepaskan diri dari serangan balasan Izuna. Sayangnya energinya sudah hampir terkuras habis. Jika terus begini ia bisa mati. Tubuhnya sudah banyak terluka lengan dan kakinya telah banyak yang terkoyak akibat serangan tadi, ditambah lagi tangan kirinya masih belum pulih.

Sasuke tidak bisa menghentikan pikirannya pada jenis kekuatan Izuna tadi. Kekuatan Izuna kali ini sedikit berbeda dari kekuatan-kekuatan iblis yang pernah di hadapi Sasuke selama ini.

Saat ia merasakan gigitan dan cakaran makhluk itu ada berbagai macam kilasan masa lalu dalam kepalanya. Seolah melihat rekaman video yang di putar dengan cepat. Kesakitan dan penderitaan mereka seolah merasuk kedalam jiwa Sasuke. Siksaan dan kesedihan yang mereka alami entah kenapa.. Sasuke ikut terhanyut. Sempat Sasuke akan pasrah tubuhnya di cabik-cabik oleh jiwa iblis tersesat andaikan jika irisnya tidak menangkap tubuh Hinata yang tergeletak di altar.

Izuna memiliki kekuatan yang mengerikan.

Pikirnya, mana mungkin para iblis tersesat itu dapat dikendalikan sesuka hati oleh Izuna. Jiwa mereka liar dan sulit untuk di kendalikan. Kecuali jika para iblis tersesat itu di kurung dalam tubuh iblis Izuna. Menjadi wadah iblis tersesat dapat mengendalikan mereka sesuka hati. Hanya saja ada resiko yang harus di tanggung oleh si pemilik tubuh yaitu jiwa sejatinya akan dimakan oleh iblis-iblis yang di kurung dalam tubuhnya dan perlahan tubuhnya pun akan berubah.

Sejak awal Sasuke memang sudah menyadarinya. Energi kekuatan yang berbeda pada diri Izuna sejak terakhir kali mereka bertemu.

Kekuatan ini di larang dalam kerajaannya karna memang kekuatan itu adalah kekuatan yang mematikan dan secara tidak langsung juga menjadi racun efektif bagi penggunanya.

Tapi, Izuna jelas telah melanggar larangan itu.

"Kau layak untuk ku bunuh. Sekalipun kau adalah pamanku, Izuna," desis Sasuke dingin.

Satu seringai muncul di bibir tipis Izuna menanggapi ancaman dari keponakannya ini. Sikap santai yang di tunjukan Izuna membuat Sasuke harus ekstra wapada. Sayap yang tadi sempat di potongnya perlahan tumbuh kembali di punggung Izuna. Tunggu! bentuk sayapnya kali ini sedikit berbeda. lebih lebar dengan 8 atau 9 duri yang memanjang di punggung. Jangan lupakan luka ditubuh Izuna yang perlahan mengering lantas berganti menjadi sisik warna hijau gelap.

Erangan kesakitan meluncur dari bibir Izuna. Perubahan bentuk tubuh yang menyiksa tubuh. Sasuke memperhatikan dengan waspada.

Napas memburu dengan rasa panas yang terasa membakar dadanya. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Hanya saja ia tidak menyangka akan secepat ini. Kerusakan pada jaringan tubuhnya menggerogotinya hingga mati. Dapat di pastikan Hinata akan menjadi milik keponakan bodohnya.

Tapi.. tidak. Jika seandainya Sasuke mati sekarang. Siapapun di antara mereka tidak akan ada yang memiliki Hinata. Kalau seandainya Sasuke mati, kalau tidak? Menghadapi Sasuke dengan kondisi tubuh yang terluka cukup parah seperti ini justru mendapatkan penilaian resiko dirinyalah yang akan mati.

Iris ruby Izuna bergulir menatap Hinata yang masih tertidur-berbaring di tempat pembaringannya. Rasa tidak terima menggerayangi perasaan possesivenya membayangkan kegagalan dalam rencana ritual pertukaran jiwa ini. yang lebih parahnya lagi adalah ketika adanya sosok lain yang menggantikan posisinya.

Arrghh!

Jika seperti itu hanya ada satu jalan keluarnya.

Kematian.

Jika seandainya Izuna tidak bisa memiliki Hinata maka yang lain pun tidak akan bisa memilikinya. Sebuah rencana yang begitu membahagiakannya hingga tanpa sadar ia telah menyeringai menatap altar dan tentu saja Sasuke menyadarinya.

Izuna lantas melayang kearah altar. Sasuke yang terluka parah di bagian sayapnya sedikit kesulitan untuk menyusul Izuna ke altar. Selain bebatuan yang tajam dan altar yang tinggi dengan bebatuan sepanas itu, sudah cukup kuat untuk bisa membuat kulitnya melepuh. Tapi, siapa yang perduli jika keselamatan Hinata yang kini dalam pikirannya. Maka, dengan langkah yang terseok-seok Sasuke segera menyusul Izuna menuju puncak altar.

...

Bulu lentik sang angel terbuka untuk menatap Izuna yang kini berdiri di sampinnya. Tatapan terkejut jelas terlihat di iris lavendernya. Ada garis ketakutan yang membuat Izuna sedikit.. muak?

"Hime, ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita berdua." Tangan Izuna bergerak membuat sebuah simbol dan seketika sebuah pentagram rumit terbentuk di bawah tempat pembaringan Hinata. "Aku sungguh tidak ingin menyakitimu karna, akupun juga pasti merasakan sakit yang sama. Tapi, akan jauh terasa sakit saat aku melihatmu dengan pria lain."

"Akh." Satu pekikan keluar dari bibir Hinata. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Panas yang terasa membakarnya dengan perlahan di setiap tarikan urat nadinya. Hinata mengerang dengan badan yang bergetar menunjukan rasa sakit yang terkira.

"Hentikan kau akan membunuhnya, brengsek!" Teriak Sasuke putus asa. Ia tidak tahu apa yang di perbuat Izuna pada angelnya. Tapi, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Hinata. Ia pun menapakan kembali tangannya pada pinggiran altar membuat tangannya kembali berdarah dengan ruam merah yang mengerikan. Kenapa disaat seperti ini dirinya jadi yang paling menyedihkan. Sasuke tidak perduli dengan kakinya yang melepuh akibat memaksa menerjang cairan panas di sekitar altar. Akibatnya ia tidak bisa menggerakan kakinya lagi dengan normal.

"Ya.. benar. Memang lebih bak seperti itu. Jika seandainya Hinata tidak bisa ku miliki, orang lain pun tidak akan bisa memilikinya." Sebuah seringai dingin kembali terbit di bibir Izuna, "Nee.. Hime, kau memang lebih baik mati saja. Tenang saja darahku akan mempercepat proses kematianmu. Jadi, kau tidak akan merasakan kesakitan lebih lama lagi." Ucap Izuna ringan.

"Akh. K..kkami shama. I itai." Rintih Hinata lagi. Dadanya terasa sesak dengan kepala yang sakitnya tidak terkira. Hinata ingin mencakar tubuhnya saat panas semakin membakar tubuhnya. Tapi, tubuhnya masih belum bisa digerakan dengan maksimal.

"Tenanglah Hime, sebentar lagi."

Napas Hinata sudah mulai tersenggal-senggal. Sampai akhirnya delam pekikan terakhir cairan merah membasahi separuh gaun putih Hinata.

"Uhuk." Darah keluar begitu banyak dari mulutnya.

Hinata terbelalak dengan lebar saat rambut raven panjang jatuh ke atas pangkuannya.

Rambut Izuna.

Izuna terbatuk mengeluarkan darah dari dadanya dengan cukup banyak. Posisinya yang membungkuk membuat Hinata kesulitan melihat ekspresi Izuna. Iris lavender Hinata bergilir melihat pedang yang menancap tepat di dada sang iblis. Pedang kematian yang begitu familiar di matanya. Namun, sebelum Hinata dapat menebak dan menemukan kesimpulannya mengenai berbagai macam praduga, sebuah suara geraman lebih tepatnya desisan kemarahan menyergap telinganya.

"Beraninya kau menyentuh adikku!"

Suara sehalus beludru dengan kedalaman bariton yang menyiratkan berbagi macam emosi menyentak semua perhatian Hinata. Hingga binar kelegaan yang membuat sang empu tak kuasa untuk menahan garis lengkungan lembut yang membuatnya seperti menemukan oasis di padang gurun pasir.

"Ne..Neji nii.." Bisikan yang teramat pelan layaknya sebuah terpaan angin yang tak terasa. Namun untuk sang pemilik mata lavender lainnya jelas masih bisa mendengar suara bisikan lirih yang memancarkan kelegaan yang mendamaikan hatinya.

"Hyuuga Neji," desis Izuna tercekat dengan gemuruh dada yang menyakitkan. Bagaikan api yang menjalar menjilat-jilat di rongga dadanya. Ia tahu pedang yang menancap dida-nya adalah pedang sang panglima perang yang paling dihindarinya dalam segala kesesatannya selama dalam hidup seorang iblis.

Sang penghukum paling kejam dengan pedang yang mampu membakar jiwa iblis hingga paling tersembunyi sekalipun dan sekarang ia akan membenarkannya sendiri.

Satu tarikan keras menciptakan lubang yang cukup untuk membuat liquid merahnya mengalir semakin deras. Tidak hanya sampai di situ sebuah tendangan yang cukup keras mengakibatkan dorongan yang kuat untuk menghempaskan tubuh sang iblis yang kini dipenuhi dengan goresan luka yang cukup menganga di tubuhnya.

Menghiraukan kondisi sang iblis, Neji segera menarik Hinata ke dalam dekapan hangatnya dalam kurungan sayap putih berkilau bagaikan bulu kapas yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun.

Aroma embun dan wangi pine yang menyegarkan terhirup oleh Hinata membuatnya nyaman dan tanpa sadar ia meneggelamkan wajahnya pada dada bidang yang dibalut oleh jubah putih berbahan lembut ini.

"Kau jangan khawatir. Nisan di sini," bisik Neji menenangkan. Sesekali ia mencium puncak kepala Hinata yang menguarkan aroma manis antara lavender dan vanila.

Namun saat Hinata mengeluarkan erangannya Neji mulai sedikit panik. Erangan kesakitan hingga membuat air mata luruh dipipi yang semakin pucat.

"Hime! Di bagian mana yang sakit?" tanya Neji menatapnya khawatir.

"Hinata masih dalam ikatan ritual pertukaran." Neji menatap Itachi yang kini berjalan ke arahnya di ikuti oleh Sasuke di belakang. Itachi menatap Sasuke yang segera menghampiri Hinata yang masih mengeluarkan suara erangannya, "...ku rasa hanya ada satu jalan keluarnya untuk bisa membebaskan Hinata dari kesakitannya."

"Hime bertahanlah." Suara yang biasanya datar kini terdengar pilu dan sedikit perasaan putus asa yang pertama kali di dengar oleh Itachi.

"Beri tahukan padaku, bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan Hinata!" ucap Seseorang lain yang kini menatap Itachi penuh pengharapan. Bahkan suara keputus asaan dan rasa takut bisa menjungkir balikan kepribadian seorang pangeran kejam seperti Uchiha Sasuke. Namun, Sasuke tidak perduli, yang ia inginkan adalah keselamatan untuk Hinatanya.

"Tentu saja apa yang bisa kita lakukan lagi selain menyelesaikan ritualnya. Lihatlah..!" tunjuk Itachi dengan dagunya pada satu-satunya wanita yang masih terbaring dalam kegelisahannya, "..tubuhnya membiru. Aku yakin tubuhnya telah terinfeksi oleh darah Izuna."

Menyadari sesuatu Neji mengumpat pelan, "Sial! Seharusnya aku datang lebih cepat."

"Meskipun seperti itu, Hinata tidak akan bisa kembali menjadi malaikat yang sempurna saat tubuhnya telah tercemar oleh iblis. 'Iblis penguasa'," bisik Itachi menekankan kalimat terakhirnya. "Kau tahu, kan itu artinya apa?" Itachi menatap Neji yang masih terdiam menolak mengeluarkan isi pikirannya, "..Ritual ini harus di selesaikan, Neji. Hinata harus hidup meskipun jati dirinya sebagai malaikat telah..."

"AKU MENOLAK!" Potong Neji marah. Lirikan tajam ia layangkan pada Sasuke yang juga menatapnya khawatir pada sosok dalam dekapannya, "..aku tidak sudi jika dia melakukannya."

"..."

"Ck. Kau ingin aku yang melakukannya atau iblis lain yang menjadi pilihanmu?" balas Itachi sarkatik. "...kita harus megesampingkan ego masing-masing untuk bisa menyelamatkan Hinata. kecuali jika untuk membuat jiwa Hinata lenyap dan yang lebih buruk lagi jiwanya akan tersesat di sini untuk selamanya."

"Jika aku melakukanya...mungkin bisa terjadi tapi, kau ingin mencari iblis lain di luar sana untuk menggantikannya, begitu? yang benar saja..." Tawa hambar yang terkesan di paksakan keluar dari mulut sexy sang putra sulung lucifer Uchiha. Tatapan kembali menatap ruby lain yang balas menatapnya, "..kenapa kau tidak menyerahkannya kepada orang yang lebih mencintainya dengan tulus?"

Neji menggeram kesal sebelum akhirnya perlahan dan hati-hati ia melepaskan rengkuhannya pada Hinata. Barulah ia menyadarinya urat-urat mulai membiru di sekujur tubuh Hinata. Darah Hinata telah terinfeksi.

"Baiklah," suara tercekat berusaha untuk menghilangkan perasaan tidak relanya melepaskan sang adik sepupu tersayangnya pada satu-satunya makhluk yang telah menjadi rival kaumnya sepanjang masa. Sungguh permainan takdir yang sangat lucu.

Apakah sang pencipta memang menggariskan takdir salah satu malaikat cantiknya untuk sang iblis jahat. Tapi, apa haknya untuk menentang garis takdir ini. Ia juga sama mutlaknya untuk menerima kehidupan seperti apapun yang diberiakan sang pencipta kepadanya. Jika memang ini yag terbaik Neji bisa apa.

"Neji! Apa kau mau ikut bersenang-senang denganku?" Itachi berbicara padanya dengan ringan. Tubuh kokohnya ia regangkan membuat kedua sayap hitamnya turut membuka melebar mengikuti tarikan tubuh kekar Itachi. "..Biarkan Sasuke melakukan tugasnya. Sementara itu kita bawa penguasa tersesat itu ke tempat yang yang cocok untuknya."

Neji sempat ragu sebelum Itachi menambahkan, "..Percayakanlah padanya. Sekalipun dia memang menyebalkan dan... ya kau tahulah sipat kami. Tapi, Sasuke tidak akan pernah menyakiti Hinata."

Satu kekehan kecil terdengar dari Neji. Tidak menyangka ia bisa melihat ikatan persaudaraan yang kuat di antara makhluk penguasa kegelapan. Kepercayaan. "Tidak ku sangka ternyata kau cerewet sekali seperti perempuan."

"Hey!" Protes Itachi tidak terima.

"...Dari pada itu. Kita harus segera mengakhiri ini," lanjut Neji menatap Izuna yang telah pulih sempurna dari luka-luka di tubuhnya.

...

Sasuke tidak terlalu perduli akan apa yang akan di lakukan oleh kakaknya dan kakak sepupu Hinata itu. Ia hanya memikirkan Hinata. Ia jelas mengerti akan ucapan yang di lontarkan kakaknya.

'Selesaikan ritual pertukaran'

Yang artinya ia akan menggantikan Izuna.

Hinata mulai mengerang kembali. Bergerak gelisah dengan urat-uratnya perlahan membiru. Tangannya refleks menyentuh wajah Hinata membawanya untuk menatapnya."Hinata ini aku. Bukalah matamu. Aku disini."

Hanya erangan kesakitan yang kembali membalas ucapan Sasuke.

'Sebegitu kesakitannya-kah kau Hime.' Sasuke bergumam dalam hati. Sasuke tahu apa yang bisa menghilangkan sakitnya Hinatanya. Hanya saja, mana bisa Sasuke melakukannya di saat situasi seperti ini.

Sasuke memejamkan matanya menarik napas perlahan. Ia menggigit tangannya dan menghisap likuid merah miliknya. Sasuke tidak menelannya tapi, membiarkan cairan itu berkumpul di dalam mulutnya. Ia sedikit mengangkat kepala Hinata sebelum menempelkan bibirnya kebibir Hinata. Ia membiarkan cairan didalam mulutnya berpindah atas bantuan lidahnya memastikan Hinata menelan darahnya.

Plash.

Sasuke terkejut saat Hinata membuka matanya menapakan iris ruby yang tidak asing baginya. Sejujurnya Sasuke tidak pernah mengikuti ritual pertukaran jiwa atau apapun semacamnya, jadi Sasuke hanya bisa mengira-ngira menggunakan instingnya.

"Hime," bisik Sasuke mencoba untuk menghubungkan komunikasi dengan Hinata yang masih memberikan ruby tanpa ekspresinya.

"Hime apakah kau mendengarku?" tanya Sasuke berusaha untuk menyadarkan Hinata.

Suara Sasuke perlahan menggema dalam pendengaran Hinata hanya saja, siapa yang menyangka jika ternyata jiwa Hinata tidak dalam tubuhnya. Cahaya putih yang menyelubungi Hinata yang kini terdiam kebingungan dalam setiap langkah kakinya.

Seiring Hinata berjalan menjauh, cahaya yang menyilaukan perlahan meredup menjadi bayangan yang samar-samar. Dunia yang tidak asing hingga membuatnya sedikit was-was untuk menapakan kakinya yang telanjang.

"Hime."

Hinata tersentak saat suara tak asing memanggilnya lirih. Pandangannya di edarkan kesekeliling berharap ada eksistensi sang pemanggil. Namun yang ada hanya ruang hampa mulai menunjukan dunianya pada iris rembulannya.

"Sasuke?" Suaranya bahkan terasa mengambang dalam pendengaran Hinata sendiri.

Beberapa kali Hinata mencoba untuk memanggil namun tidak ada tanda-tanda kepastian yang sesuai dengan harapannya. Hingga saat suara erangan kesakitan tertangkap indra pendengarannya. Tanpa pikir panjang ia memasuki sebuah lorong gelap asal suara yang mengganggu pikirannya.

"Kamishama."

Mata Hinata terbelalak tak percaya. Jantungnya terasa jatuh meremukan hati rapuhnya saat menemukan sosok yang selama ini telah di jaganya berada dalam jeruji penyiksaan disana. Warna surai merahnya seolah melelehkan kulit yang kini di penuhi oleh banyak luka. Sosok tinggi dengan tubuh di penuhi oleh sisik hitam menjulang disamping tubuh yang sudah tidak berdaya karna kelelahan dan kesakitannya.

"TIDAK...G-Gaara!"

Air mata tak dapat di bendung lagi saat melihat manusia yang didampinginya kini jatuh dalam dunia kesengsaraan. Semua ini karna kesalahannya. Seharusnya ia tidak menuruti emosinya menyambut semua bisikan nalurinya untuk menapakan dirinya di depan Gaara hingga mengorbankan sosok jiwanya yang rentan. Padahal ia sangat menyukai dan mengagumi cahaya yang di pancarkan jiwa Gaara selama ini. Tapi, Karna cemburu dan keiriannya pada sosok lain yang jelas jauh dari tandingannya_Sasuke_membuatnya menerima uluran tangan iblis yang sesungguhnya menjerumuskannya bukan membantunya.

"Hiks..hiks.."

Jade Gaara yang biasanya terlihat jernih dan bening kini menatap Hinata hampa. Tubuhnya di penuhi luka cambuk dan sayatan hingga memperlihatkan sebagian tulangnya yang putih. Hinata tidak tahan melihat kengerian pada tubuh Gaara. Dengan terseok-seok ia berlari kearah Gaara sayangnya, sebuah dinding transparan menghalangi langkahnya. Beberapa kali ia mencoba untuk menghancurkan dinding penghalangnya yang selalu berakhir dengan kegagalan yang menyakitkan.

Jari jemari yang selalu lincah dalam memainkan keyboard dan josy stick game itu telah berlumuran darah bergerak ke arah Hinata. Seolah-olah berusaha untuk menyentuhnya andaikan jarak tak memisahkan mereka berdua.

Tangan Hinata memukul dinding tak kasat mata yang menyiksa dalam jiwanya. Iris lavendernya tak pernah sekalipun melihat pemandangan yang menyakitkan hingga menusuk menghujami jiwa terdalamnya. Hinata putus asa, bingung, dan berakhir dengan tangisan histeris kala cambukan berduri sang iblis kesakitan merobek kulit Gaara.

"O-onegaaaii...Hiks...Hentikaaaan!"

Pandangan Hinata mengabur bukan karna air mata tapi, sesuatu yang kuat menariknya dan menghempaskan dirinya pada geombang yang membuat kepalanya pusing terkira. Sampai akhirnya bayangan lain nampak dalam pandangannya. Surai raven dengan iris ruby dan purple yang menatap balik padanya, tak lupa ada gurat kekhawatiran yang tersirat di sana.

"Sasuke."

"Hime?"

Sasuke membawa Hinata kedalam rengkuhannya. Ia begitu lega saa masih bisa melihat Hinata yang terlihat masih sama.

...

...

TBC.

...

...

...

Bingung mau ngetik apa. Kelamaan up jadi ngerasa bersalah banget. Okelah langsung dech.. ke kotak balasan reviewnya.

...

#RnR#

Miyuchi12307 : Hahaha..soal y mesti harus penasaran dulu biar seru. Maaf ya ritual y selesai chap depan. Udah up chap 8 nya. Minta opininya dengan chap ini. arigato

OnewnyanGembul : Hina ga bakal di apa-apain kok. Sepanjang ada sasu. Oke gimana dengan ini? sudikah untuk memberikan opininya untuk chap ini?

Meera Meow : I am Shocked you find my bad story. thought, this writed in indonesian language, right?. I was deeply moved in the sense that happy. Thank you for your review. I am appreciated. That is my motivation for me to continue by my fire. hahaha. well... could you to give me your opinion for this chap?

Guest : yahhaha.. biarpun aku brengsek setidaknya ga sampe kebablasan. Tapi bisa ampe kebablasan juga kadang. #bupt. Oke. Arigato atas komen y. Siapapun disana.

Kaname : siip. Bagaimana dengan chap ini? boleh dech buat komen y lagi.

Sy : maaf dech.. tahun barunya udah lewat.. hehhe.. soo.. tapi aku bakalan tetep lanjut. Makasih untuk review nya. Apalah dikata, emang penyakit rakus y kagak ketulungan. So.. ditunggu komen y ama chap ini.

Suzukarin : ha'i arigato do,a y.. udah up. Maaf ga bisa kilat. Komen lagi ya..

Uchiha Hinata : Oke..arigato. udah up nih. Giman tanggapan y ama chap ini?

Special To all your comment motivation of :

Ade854 ll, icaraissa11, Hatsune Mikku, Mprill Uchiga, allyelsasals, Atha, Hime, Dark, Yr, Tedasi, Uchihyuu, Han zizah, lavender, Ozellie Ozel, Purupurippaa, Ika507, Tya, Adevil559

Dan semua teman-teman yang udah ngasih support ampe yang di wattpad juga..hehehe..

#bungkukin badan* arigatouuu

..

..

See you next Chap

..