Malam itu, Chanyeol gelisah. Sesaat setelah ia mengatakan dengan tegas pada Baekhyun, bahwa Chanyeol menyukai gadis dengan mata sipit itu, reaksi Baekhyun sungguh di luar dugaan. Normalnya, Baekhyun adalah makhluk super cerdas dengan reaksi yang meledak-ledak. Tapi sore tadi, setelah pernyataan cinta picisan yang Chanyeol lakukan, Baekhyun hanya terdiam dan membelalakkan matanya, seolah terlampau bodoh untuk memahami tiga kata yang Chanyeol ucapkan dengan jelas. Dan setelah Kyungsoo kembali dari telepon singkatnya, Baekhyun bersikap seolah tak terjadi apa-apa selama Kyungsoo pergi. Ia tak lagi membahas ketidakhadiran Chanyeol ataupun pertunangan Chanyeol dengan Kyungsoo. Dan selalu meninggikan nada bicaranya setiap kali Chanyeol memanggilnya.
Tidur Chanyeol gelisah. Telinga besarnya ia letakkan pada bantal empuk saat ia mengubah posisi tidur untuk kesekian kalinya malam itu. Ia kira selama ini Baekhyun tahu. Lebih buruk lagi, ia kira selama ini Baekhyun juga sama... Dia begitu kaget tadi, Chanyeol membatin. Atau mungkin dia yang terlalu bodoh, tidak menyadari perasaannya sendiri? Chanyeol mengganti posisi tidurnya lagi, Apa memang aku yang berlebihan dan menganggap gadis bodoh itu juga menyukaiku? Tapi apalagi yang bisa menjelaskan semua tatapan Baekhyun padanya? Semua wajahnya yang merona saat Chanyeol juga membalas tatapannya? Semua tangis dan ingus berlebihannya disamping Chanyeol yang tertabrak saat mereka kelas tujuh? Dan semua degup jantungnya yang terdengar sangat jelas tiap kali Chanyeol berada terlalu dekat dengan Baekhyun? Yang bahkan debar tak beraturan itu dapat ia rasakan seiring dengan debar jantungnya sendiri saat Chanyeol menggendong Baekhyun yang terkilir, di punggungnya dua tahun lalu. Atau, apakah selama ini Chanyeol termakan asumsinya sendiri dan melihat hal-hal yang ingin dilihatnya saja? Chanyeol tidak tahu. Aku harus bicara pada Baekhyun, pikir Chanyeol sembari berusaha menenangkan hatinya dan tertidur.
Senin berlalu tanpa batang hidung mungil milik Baekhyun. Begitu pula Selasa yang begitu saja dijemput senja tanpa wangi manis dari rambut Baekhyun. Dan ketika Rabu siang tiba, Chanyeol yang frustasi karena tak melihat Baekhyun sekalipun untuk mengatakan segala hal yang perlu ia katakan, memulai rutinitasnya mencari gadis mungil itu. Mulanya ia pergi ke kelas Baekhyun, kemudian melongok ke perpustakaan. Ketika tak dilihatnya rambut ekor kuda Baekhyun disana, Chanyeol beranjak ke kantin, berharap hari ini Baekhyun akan makan siang di kantin.
"Hei! Hei Kyungsoo!" Chanyeol melambai dan menghampiri Kyungsoo yang duduk sendirian sambil berbicara cepat di ponselnya. Chanyeol duduk di hadapan Kyungsoo, mempertimbangkan keadaan sebentar, kemudian memutuskan Kyungsoo masih akan menelepon cukup lama dan mulai mencomot makanan di hadapan Kyungsoo.
"Bodoh, ini makananku!" Ujar Kyungsoo kasar setelah selesi menelepon, merebut piring makanannya dari Chanyeol yang juga kelaparan.
"Telepon dari siapa?"
"Kurator Museum Seni Seoul"
"Belum selesai urusan dengan pak tua itu?"
"Kalau aku benar-benar ingin mengadakan pameran tahun depan, paling tidak aku harus mendapatkan dia sebagai kurator pameranku."
"Ya ya ya, baiklah. Selamat berjuang, Nona"
"Uh-huh" Kyungsoo melahap makanannya sambil memainkan ponselnya dengan cepat. Chanyeol memperhatikan raut muka Kyungsoo yang serius. Sahabatnya yang satu ini, biarpun dia menyenangkan dan selalu tertawa, bila sudah berurusan dengan lukisan, keseriusannya tidak dapat diganggu gugat. Chanyeol tersenyum saat melihat dahi Kyungsoo yang semakin berkerut, tanda dia tidak senang.
"Apa?" Kyungsoo bertanya kasar pada Chanyeol. "Kau tidak punya hal lain untuk dikerjakan ya? Aku sedang sibuk. Sana sana, pergi!"
Chanyeol hanya tergelak geli, "Kenapa sendirian? Mana si Nona cerewet yang satu lagi?"
"Uh? Baekhyun?" Kyungsoo medongak dan memandang Chanyeol, "Dia ada di ruangan Guru Zhang seperti biasa. Dia kan sedang bersiap untuk ikut NMSC bulan depan, kau tidak tahu?"
"Apa? MM apa?" Chanyeol menarik kembali makanan Kyungsoo di hadapannya.
"NMSC! National Math and Science Competition," Kyungsoo kembali mendongak dan mengetik dengan cepat di ponselnya. "Dan jangan ganggu aku, Park, aku sibuk!" Beberapa menit kemudian, Kyungsoo berbicara lagi di ponsel, entah dengan siapa.
Chanyeol menyuap makanan Kyungsoo dalam diam. Ia masih memperhatikan Kyungsoo yang berbicara dengan cepat, mencoret beberapa hal di buku catatan yang ia bawa kemanapun, dan mencatat hal lain. Gadis bermata bulat itu menyelesaikan panggilan teleponnya dengan helaan nafas yang panjang.
"Berita bagus?" Chanyeol bertanya tenang.
"Bisa dibilang begitu," Kyungsoo menjawab dengan senyum yang cukup lebar. Mereka berpandangan dalam diam selama beberapa saat sebelum Chanyeol memecah kesunyian diantara mereka.
"Aku masih tidak paham mengapa kau menerima pertunangan ini, Soo," Chanyeol memulai, masih memandang Kyungsoo. "Ku kira kalau kita berdua menolak, pertunangan itu akan batal."
Selama sepersekian detik, Chanyeol dapat melihat kilat pada mata Kyungsoo. Dan senyumnya yang merekah beberapa menit lalu tiba-tiba lenyap. "Kau tahu Ayahku tidak mau ditolak Yeol. Aku sudah mengatakan ini berulang kali padamu! Kau kira aku mau menikah denganmu? Dan kemarikan itu, itu makananku!"
Baekhyun pulang cepat hari ini. Dia tidak ikut kelas malam karena sudah diizinkan untuk fokus pada NMSC yang akan dia ikuti bulan depan. Baekhyun sudah meminjam beberapa buku kalkulus dan aljabar dan berniat berlatih dengan buku itu sampai habis hari ini. Sebenarnya dia bisa saja belajar di perpustakaan sekolah, atau di meja Guru matematikanya, Guru Zhang, bila dia meminta. Tetapi, Baekhyun memutuskan, semakin lama dia berada di sekolah, maka kesempatan dia ditemukan oleh Chanyeol akan semakin besar.
Baekhyun tidak lupa, tentu saja, pada kejadian Sabtu lalu. Ia ingat dengan jelas apa yang dikatakan Chanyeol padanya. Ia masih ingat ia bisa merasakan sesosok makhluk dalam hatinya mendengkur dengan senang saat Chanyeol menatapnya dengan tegas dan mengatakan tiga kata itu. Tiga kata itu... Tapi justru disitulah letak masalahnya. Bagaimana mungkin...? Selama satu tahun belakangan, dengan absennya Chanyeol dalam banyak kehidupannya, mau tidak mau Baekhyun jadi lebih memperhatikan Kyungsoo. Apa yang dia ceritakan, apa yang dia lukis, apa yang dia beli. Dan entah bagaimana, semuanya selalu berujung pada Chanyeol. Kemarin Chanyeol bilang... Besok aku dan Chanyeol... Chanyeol kan... Chanyeol suka... dan seterusnya dan seterusnya. Saat mereka belanja bersama, dibandingkan membeli barang-barang untuknya, Kyungsoo lebih banyak memilih pakaian laki-laki beserta semua aksesorisnya. Begitupun dengan lukisan, Kyungsoo lebih sering membuat sketsa laki-laki yang sama berulang kali dibandingkan hal lain. Tentu saja Baek, mereka bertunangan. Baekhyun menegur dirinya sendiri.
Tetapi yang lebih mengusik Baekhyun bukanlah bagaimana Kyungsoo menunjukkan rasa sayangnya pada Chanyeol, tapi bagaimana reaksi makhluk aneh dalam hati Baekhyun terhadap itu. Baekhyun baru menyadarinya belakangan ini, setiap kali Kyungsoo menyebut nama Chanyeol dalam ceritanya, Baekhyun akan sama bersemangatnya untuk menyambut cerita sahabat mungilnya itu. Dan kemudian mereka akan membicarakan Chanyeol selama berjam-jam. Chanyeol ini dan Chanyeol itu. Bagaimana dulu Chanyeol begini dan dimasa depan dia akan begitu.Chanyeol yang bodoh, Chanyeol yang pintar. Makhluk dalam hatinya akan tertawa riang bila Baekhyun tahu hal-hal tentang Chanyeol yang tidak diketahui Kyungsoo. Dan makhluk itu akan menari-nari, membuat perut Baekhyun bergejolak aneh, saat tahu bahwa Chanyeol tidak pernah mengantar Kyungsoo pulang, sebagaimana biasa dia lakukan untuk Baekhyun. Tapi kadang makhluk itu juga mengerang marah dan membetot hati Baekhyun dengan perasaan sedih yang tak bisa dijelaskan saat Kyungsoo tahu merk parfum kesukaan Chanyeol, atau jam tangan yang sedang Chanyeol inginkan.
Kehadiran makhluk ini—yang semakin terasa dengan absennya Chanyeol selama setahun belakangan—membuat Baekhyun kembali bertanya, mengapa ia merasa kesepian dan ditinggalkan oleh Chanyeol dan Kyungsoo. Baekhyun tidak bodoh, tentu saja. Perempuan dengan kaki mungil itu memiliki hipotesis mengapa ia merasa sangat sedih dengan pertunangan dua sahabatnya. Dan setiap kali hatinya mengutarakan hipotesis ini, makhluk dalam diri Baekhyun menggeram senang. Tapi setiap saat itu pula, bagian diri Baekhyun yang memegang kendali penuh atas kesadarannya selalu menolak. Dia tunangan Kyungsoo. Dia terlarang.
Masih ia ingat jelas, di hari pertama Baekhyun kecil berangkat sekolah, dia hanya berdiri di depan pintu. Baekhyun tak berani masuk dan menyapa teman-teman barunya. Dia hanya berdiri di depan pintu sambil memegang ranselnya tanpa kata. Baekhyun kecil sangat gugup hingga dia mengompol. Dan karena itu, dia semakin tidak berani bergerak dari depan pintu.
Kenapa kau berdiri disini? Gadis mungil bermata bulat bertanya padanya. Kyungsoo.
Baekhyun kecil tidak menjawab, dia masih diam seribu bahasa, takut akan diolok karena ketahuan mengompol di hari pertama sekolahnya.
Apa kau sakit? Kyungsoo meletakkan tangannya pada dahi Baekhyun, kemudian membandingkannya dengan suhu tubuhnya sendiri.
Kau takut? Tidak apa-apa, aku akan bersamamu. Jangan takut. Kyungsoo kecil menggenggam tangan Baekhyun dan menariknya. Tapi Baekhyun kecil tetap tidak bergerak dan mulai menangis diam-diam. Saat itulah Kyungsoo melihat rok Baekhyun yang basah.
Tidak apa-apa. Ayo kita ke kamar mandi dan mengganti bajumu. Ujar Kyungsoo kecil sambil mengusap air mata Baekhyun. Aku tidak akan bilang siapa-siapa, aku janji. Dan mereka berdua tersenyum.
Baekhyun tidak pernah lupa. Kyungsoo adalah orang pertama yang menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa syarat. Bahkan dalam masa-masa terburuknya. Sepanjang sepuluh tahun mereka bersahabat, Kyungsoo selalu menjadi orang pertama yang memahami Baekhyun dan melindunginya. Mendoakan kebahagiaan Kyungsoo bersama Chanyeol tentu tak akan cukup untuk menebus seluruh waktu berharga yang telah Baekhyun lewatkan sebagai sahabat Kyungsoo. Maka, kenapa tidak? Itu yang seharusnya kulakukan bukan? Tidak, Itulah yang akan kulakukan. Bahkan menjadi gadis pengintip dalam kehidupan Kyungsoo saja, seharusnya aku bersyukur.
"Baek?" Seorang perempuan paruh baya membuka pintu kamar, menghempaskan Baekhyun kembali ke bumi, di dalam kamarnya, menghadapi latihan kalkulusnya.
"Ibu? Kenapa sudah pulang?"
"Kau bilang akan pulang cepat hari ini, jadi aku pulang dulu untuk memasakkanmu sesuatu. Kau belum makan kan?"
"Belum," Baekhyun memandang paras Ibunya yang lelah. Ayah Baekhyun adalah seorang Profesor bidang Ilmu Sosial Humaniora dari Universitas Nasioanl Seoul. Sementara ibunya, saat ini sedang menjadi Kepala Departemen Matematika KAIST. Dengan kedua orang tua yang merupakan tokoh di dua universitas besar Korea, Baekhyun sudah biasa ditinggal di rumah hingga malam pada hari kerja. Bahkan terkadang ayah atau ibunya tidak pulang ke rumah untuk menyelesaikan penelitian ini itu atau mengikuti seminar-seminar penting bersama orang-orang pintar lain. Karena itu Baekhyun kaget melihat ibunya sudah pulang sesore ini.
"Kau ini, kalau Ibu tidak pulang, kau tidak akan makan kan?" Ibu Baekhyun menuju dapur dan mulai mengeluarkan bahan makanan dari lemari es.
"Ibu memang yang terbaik!" Baekhyun mengikuti ibunya keluar kamar. Tapi kemudian Baekhyun terhenti di ambang pintu kamarnya, pemandangan di luar kamarnya sungguh tidak Baekhyun kira.
"Halo Baek. Bagaimana belajarnya?" Disana, di depan televisi di ruang tengah, duduk makhluk dengan telinga mencuat dan mata bulat. Begitu santainya dengan kaki diluruskan melewati meja rendah di depan sofa. Wajahnya menyeringai, matanya berkilat nakal seolah-olah mengatakan, aku menang.
"Kenapa kau disini?" Baekhyun bertanya kasar sambil merebut remote TV dari tangan Chanyeol dan memukul belakang kepalanya, tidak memedulikan jerit teredam dari suara Chanyeol yang berat. Baekhyun tidak peduli, dia benci pada semua kenyataan yang melekat pada laki-laki bodoh ini, mulai dari seragam sekolahnya yang agak berantakan, hingga posisi duduknya yang terlalu santai. Baekhyun bahkan membenci kenyataan bahwa mahkluk gila dalam hatinya melonjak senang saat ia melihat Chanyeol, disini, di rumahnya.
"Kutanya, kenapa kau disini?" Baekhyun duduk di atas sofa dan menyilangkan kakinya, sehingga kepala Chanyeol yang duduk di bawah sofa tepat berada di sebelahnya.
"Ibu yang membawanya masuk," Ibunya menjawab dari dapur. "Tadi Chanyeol berdiri di depan pintu rumah, jadi ibu suruh masuk saja. Memangnya dia tidak bilang padamu kalau datang, Baek?"
"Tidak," Baekhyun menjawab lebih ketus, "Jangan beri dia makan, Bu! Pulang sana kau! Hus hus! aku sedang belajar!" dia menambahkan pada Chanyeol, sambil sekali lagi memukul belakang kepalanya.
"Hei! Aku tahu aku tidak sepintar kau, tapi jangan pukul kepalaku terus-menerus dong! Aku bisa semakin bodoh tahu!" Chanyeol menggerutu sambil mengelus kepalanya yang nyeri akibat dipukul Baekhyun berkali-kali.
"Kau tidak kabur dari rumah lagi kan Yeol?" Ibu Baekhyun bertanya pada Chanyeol sambil meletakkan piring berisi strawberry dan semangka yang telah dikupas di atas meja.
"Hahaha, tidak Bi, tidak." Chanyeol menjawab sambil mulai memakan buah dengan garpu. "Aku kan bukan anak sepuluh tahun lagi Bi, tenang saja."
"Ya sudah kalau begitu. Kan repot kalau kau kabur dari rumah lagi. Bibi harus berkata apa pada orang tuamu? Bibi tidak lama, nanti kau makanlah dengan Baekhyun, sudah Bibi siapkan di dapur"
"Ibu, jangan beri dia makan, nanti dia kesini terus!" Baekhyun masih mendesis.
"Sudah ya, Baek, Ibu pergi lagi. Chanyeol, kalau sudah makan dan urusanmu sudah selesai dengan Baekhyun, segera pulang sebelum malam. Kalian sudah sama-sama dewasa, siapa yang tahu apa yang terjadi kalau kalian di rumah berdua saja kan?" Ibu Baekhyun tertawa dan berjalan ke arah pintu.
"Ibu!!" Baekhyun meneriakkan ketidaksetujuannya bersama dengan suara pintu yang tertutup.
Sementara itu, Chanyeol hanya terkikik geli sambil berjalan menuju dapur. Baekhyun mengikuti dan mulai mengeluarkan makanan-makanan pendamping dari lemari sepen. Ibunya membuatkan sup telur, jadi Baekhyun mengeluarkan dua mangkuk sup dan dua mangkuk nasi. Chanyeol sudah duduk manis di meja, tangannya sudah menjelajah, mencomot kimchi dan acar telur ikan dengan sumpitnya.
"Cuci tangan dulu" Bakhyun berujar datar sambil menyendokkan nasi untuk raksasa yang selalu kelaparan itu. Chanyeol menurut, meletakkan sumpitnya dan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya. Saat ia kembali duduk di meja makan, nasi dan sup telur untuknya sudah terhidang manis.
"Masakan ibumu memang yang terbaik!"
Dan kemudian mereka makan dalam diam. Baekhyun tahu, Chanyeol diajarkan untuk diam saat makan sejak kecil. Maka Baekhyun menahan semua pertanyaannya dan berusaha menyelesaikan makannya dengan cepat. Tapi ternyata, seberapa cepat pun Baekhyun menyelesaikan makannya tidak jadi masalah, karena dia harus menunggu Chanyeol menghabiskan mangkuk kedua, dan mangkuk ketiganya. Setelah akhirnya Chanyeol menyelesaikan sup keempatnya, Baekhyun membawa semua piring kotor ke tempat cuci piring dan menyusul Chanyeol yang kembali menyelonjorkan kakinya di ruang tengah.
"Jadi?" Baekhyun bertanya sambil duduk diatas sofa, menyilangkan kakinya.
"Jadi apa?" Chanyeol tetap membelakanginya, ia menatap televisi yang tidak dinyalakan seakan itu adalah tontonan favoritnya.
"Jadi? Kenapa kau kemari?"
Chanyeol tidak menjawab, masih sibuk memperhatikan televisi di depannya. Atau sebenarnya yang Chanyeol perhatikan adalah semut di atas televisi itu? Chanyeol tidak tahu, pikirannya menimbang-nimbang, hatinya terasa berat.
"Kalau tidak ada apa-apa ya sudah, kau sudah makan kan? Aku akan melanjutkan belajarku, kau pulang saja" Tentu saja Baekhyun tidak serius mengatakan itu. Dia tahu Chanyeol tidak akan pergi sebelum mengatakan apapun yang ingin dia katakan. Baekhyun bergeming dan menunggu jawaban dari Chanyeol.
"Baek"
"Hm?"
"Kau tahu aku serius kan?"
"Apanya?"
"Sabtu lalu"
"Yang mana?"
Chanyeol menghela nafas dan memutar tubuhnya. Kini mereka berhadapan. Chanyeol mendongak, menatap Baekhyun yang duduk di sofa. Baekhyun merasakan sensasi yang sama yang dirasakannya Sabtu lalu, pandangannya sedikit memudar karena Chanyeol terlalu dekat. Ia bisa mendengar degup jantungnya sendiri, yang berkhianat, mendeklarasikan kegugupan yang ia rasakan.
"Ini sungguhan. Aku menyukaimu."
Baekhyun terdiam. Ah, ini lagi. Tentu saja aku berharap kau serius, Yeol. Tapi tidak bisakah topik ini ditangguhkan dulu? Baekhyun menyesal mengonfrontasi Chanyeol untuk membahas topik ini lagi, tanpa ia sendiri tahu jawaban atas pertanyaan Chanyeol. Ah, Baekhyun bahkan tidak paham bagaimana cara menjawab hatinya sendiri. Seketika, soal-soal kalkulus dan aljabar yang sedang ia kerjakan menjadi lebih mudah untuk dijawab ketimbang soal hati ini. Makhluk dalam hati Baekhyun bergembira karena Chanyeol menunjukkan kesungguhannya. Tapi, bukan ini yang terbaik kan? Apa artinya kesungguhan dan kebahagiaan karena perasaan yang meluap-luap ini ternyata tidak Baekhyun rasakan seorang diri, bila di ujung jalannya, Baekhyun dapat melihat dengan jelas sahabatnya terluka. Berdarah-darah karena pengkhianatan yang Baekhyun lakukan. Tidak, Chanyeol adalah milik Kyungsoo, Chanyeol terlarang. Baekhyun mengulangnya dalam hati, bagaikan mantra, berharap dalam doanya yang keseratus-ribu, perasaannya akan hilang, menguap bagai buih, siap untuk dilupakan.
Tapi ternyata tidak.
Baekhyun tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Dengan setiap penolakannya, setiap keengganannya untuk mengakui, apa yang dia rasakan pada Chanyeol bertambah kuat. Kerinduan yang ia rasakan setiap hari saat tak bisa melihat raksasa besarnya, kesedihan karena Chanyeol yang menghilang begitu saja dan mengabaikannya, semuanya bukan perasaan kesepian, semuanya adalah rasa sayang yang meluap-luap. Membungkus dirinya dalam kebutaan, menjebaknya saat semua sudah terlambat. Pada akhirnya, Baekhyun menyadari bahwa tidak ada makhluk gila dalam hatinya, akulah makhluk gila itu. Baekhyun menyadari bahwa dirinyalah yang bahagia saat Chanyeol datang, bahwa dirinyalah yang bersedih saat Chanyeol pergi, dan dirinyalah yang cemburu saat orang lain memahami Chanyeol lebih baik...
Tidak, Chanyeol terlarang.Dia milik Kyungsoo.Terlarang.
"Baek?" Chanyeol masih mendongakkan kepalanya, memandang Baekhyun dengan mata almondnya yang menenangkan. Tidak ada riak paksaan dalam mata Chanyeol, atau bahkan tanda-tanda bahwa Chanyeol berharap. Yang ada hanyalah pandangan dalam yang mengisyaratkan kesedihan yang lebih dalam. "Tolong jangan abaikan aku lagi, Baek."
Baekhyun mengusakkan tangannya pada ujung kepala Chanyeol dengan sedikit lebih halus daripada yang dimaksudkannya, membuat yang disebut belakangan berjengit. Chanyeol sama sekali tak menyangka Baekhyun akan menyentuhnya dengan lembut, membuatnya berharap agar Baekhyun menyerah pada kekeraskepalaannya dan menerima kesungguhan Chanyeol.
"Tolong jangan lakukan ini padaku, Yeol"
"Baek"
"Kau sahabatku"
"Aku tak pernah melihatmu sebagai sahabatku"
"Sejak kapan?" Baekhyun bertanya, tenggorokannya panas, suaranya serak karena ia tengah berusaha menahan lelehan air mata yang bersikeras akan jatuh, entah apa sebabnya.
"Sejak dulu, aku tak ingat"
"Yeol," Baekhyun terhenti, dalam usahanya untuk tidak menangis di hadapan Chanyeol. Tidak mengakui bahwa ia juga menginginkan hal yang sama. Bahwa hatinya saat ini tengah berusaha keras mengatakan bahwa ia juga. Ia juga...
"Kau orang pertama yang melihatku sebagai diriku Baek, yang menerimaku, yang membuatku merasa aman"
"Dan Kyungsoo orang pertama bagiku, Yeol. Dan dia menyayangimu. Sangat" Ini dia, alasan telak yang diberikan Baekhyun. Chanyeol tahu bahwa ia takkan menang. Baekhyun terlalu menyayangi Kyungsoo.
Dengan berat, Chanyeol bangkit, mengambil ranselnya dan berjalan ke arah pintu. Suaranya bergetar menahan marah, menahan kutukan pada takdir yang mempertemukan mereka bertiga dengan cara yang paling rumit.
Tanpa menoleh pada Baekhyun, Chanyeol berhenti dan berkata, "Lalu kau? Lalu bagaimana denganmu? Lupakan Kyungsoo atau pertunangan sialan ini. Lalu bagaimana dengan hatimu? Apa yang ia katakan Baek?"
Dan Chanyeol pun pergi, meninggalkan pintu menutup dibelakangnya. Meninggalkan Baekhyun yang menyerah, kesulitan menarik nafas karena air mata yang jatuh saling menyusul, menyesali hatinya yang telah lancang mencintai milik sahabatnya.
-to be continued-
