ThirdPainting
Apakah Chanyeol tahu bahwa Baekhyun menangis? Dia tahu. Tapi apa yang bisa dilakukannya saat hatinya sendiri juga getir? Apakah Chanyeol tahu bahwa Baekhyun akan menjawab seperti ini? Dia tahu. Tapi apa yang bisa dilakukannya bila ia tahu betapa Baekhyun dan Kyungsoo saling menyayangi?
Dari awal ia telah menebak bahwa kisah mereka bertiga tidak akan mendatangkan akhir yang bahagia untuk siapapun. Jalan manapun yang dipilihnya, akan selalu berakhir dengan meninggalkan seseorang. Maka salahkah bila Chanyeol memilih keegoisan untuk kebahagiaannya sendiri? Chanyeol sudah berusaha, selama satu tahun ia berusaha untuk memendam apapun yang ia rasakan untuk Baekhyun, dan belajar untuk menerima Kyungsoo. Tapi hatinya sudah terlanjur jatuh dan tak bisa ditarik kembali. Ah, mengapa selalu kata jatuh yang ada di depan kata cinta?
Sejak kapan?
Sejak dulu. Aku tidak ingat.
Chanyeol tidak bohong. Ia tidak ingat sejak kapan ia menyukai Baekhyun. Baginya, Baekhyun telah menempati posisi istimewa itu sejak awal, dan tidak pernah berubah.
Sepuluh tahun yang lalu, Chanyeol yang baru berada di sekolah dasar tidak paham mengapa Hyung-nya harus pulang lebih malam setiap hari. Saat itu, Hyung-nya baru saja bergabung dengan Bulgeong Grup dan ayahnya membebankan banyak tanggung jawab hingga Chanyeol kecil merasa ditinggalkan. Tidak ada Hyung yang menyapanya saat sarapan karena ia sudah pergi lebih dulu. Tidak ada Hyung-nya di siang hari untuk membacakan cerita menarik karena ia masih berkutat dengan berkas-berkas perusahaan. Tidak ada Hyung-nya di sore hari untuk mengajarinya berenang karena ia harus menghadiri rapat direksi. Dan tidak ada Hyung-nya di malam hari untuk menggosok gigi bersama karena ia harus mengikuti makan malam perusahaan.
Chanyeol sudah biasa ditinggalkan oleh Ayah dan Ibunya yang harus mengurus perusahaan besar mereka. Tapi Chanyeol tak dapat menerima konsep bahwa Hyung-nya memiliki kehidupan baru. Bocah yang naif, dan membutuhkan perhatian belimpah ruah dari keluarganya, merasa dibenci dan tidak diinginkan. Setelah Ayah dan Ibunya, Hyung-nya pun ikut pergi... Maka Chanyeol kecil membawa ransel sekolahnya dan pergi dari rumah.
Kemana? Chanyeol tidak tahu.
Saat Chanyeol tengah memikirkan betapa laparnya ia, bocah delapan tahun itu melihat sosok yang dikenalnya di dalam toko roti kesukaannya. Chanyeol tahu sosok itu. Dia teman sekelasnya, perempuan berkuncir kuda yang berdiri seperti orang bodoh di depan pintu kelas, hari pertama mereka masuk sekolah: Baekhyun.
Chanyeol yang kelaparan segera mengikuti Baekhyun, berharap gadis berkuncir itu melihatnya dan akan menawarinya roti. Tapi Baekhyun yang berjalan sambil bergumam tidak menyadari kehadiran Chanyeol. Maka Chanyeol hanya bisa berdiam dan berdiri di depan pintu rumah Baekhyun. Tidak tahu harus kemana, atau bagaimana. Chanyeol kecil yang terbiasa naik mobil tidak pernah tahu bahwa udara musim gugur bisa menjadi begitu dingin. Dan tanpa jaket tebal yang biasa dibawakan pengasuhnya, ia mulai merasa kedinginan.
Mungkin aku akan mati kedinginan disini, begitulah Chanyeol berpikir saat itu. Hanya saja, tepat pada saat itu pintu rumah Baekhyun terbuka dan ibunya menemukan Chanyeol yang duduk gemetar di depan rumah. Bocah kecil itu dibawa masuk, diberi selimut, dan disuguhkan susu hangat dan makanan. Setelah semua selesai, Ibu Baekhyun bertanya dengan lembut, siapa namamu? Di mana orang tuamu?
Demi mendengar pertanyaan itu, Chanyeol teringat akan orang tua dan Hyung-nya yang ia kira membencinya, dan mulai menangis. Nafasnya sesenggukan dan ingusnya keluar dengan tidak sopan. Di sela tangis dan batuknya, Chanyeol hanya mengulang berkali-kali bagaikan kaset yang telah kusut, Hyung... Ayah... Ibu... Pulang...
Saat itulah Chanyeol merasakan sesuatu yang hangat. Tangan, lebih mungil dari miliknya, tapi jauh lebih hangat. Tangan itu memeluk Chanyeol dan bergetar hebat, karena pemilik tangan itu sedang menangis. Baekhyun kecil merasa sangat sedih melihat bocah laki-laki asing ini menangis tak karuan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah membagi apapun yang ia punya untuk menenangkan bocah laki-laki ini. Baekhyun memeluk Chanyeol sambil gemetar dan menangis, tidak apa-apa, Ibu dan Ayahku ada disini. Kau akan pulang. Kau sudah di rumah. Tidak apa-apa.
Dan sungguh, saat itu, Chanyeol merasa pulang.
Sejak saat itu, Chanyeol dan Baekhyun bersahabat. Dan bersama Kyungsoo, nama mereka bertiga tak pernah lepas dari satu sama lain.
Saat mereka kelas empat, Kyungsoo memenangkan sebuah kontes melukis, ia melukis tiga anak yang duduk di bawah pohon. Dengan bangga, Kyungsoo membawanya ke sekolah dan menceritakan bahwa lukisan itu adalah dirinya dan dua sahabat baiknya: Baekhyun dan Chanyeol. Lalu masalah muncul dalam wujud Hera, salah satu teman sekelas mereka, putri satu-satunya dari seorang konglomerat perusahaan kosmetik di Korea. Hera merasa bahwa Chanyeol dan Kyungsoo tidak seharusnya berteman dengan Baekhyun yang berasal dari keluarga biasa saja. Gadis kecil itu tidak suka melihat Kyungsoo yang menyayangi Baekhyun hingga menuangkannya dalam bentuk lukisan yang sangat cantik. Maka, saat waktu istirahat tiba, Hera merusak lukisan Kyungsoo yang digantung di depan kelas. Kyungsoo menangis. Baekhyun marah besar.
Minta maaf tidak!
Tidak mau!
Dan adegan tarik-menarik rambut dan saling pukul antara Baekhyun dan Hera tak pernah dapat mereka lupakan. Bibir Baekhyun berdarah, kuncir kudanya rusak. Kyungsoo berdiri di tengah, menangisi Baekhyun yang berdarah dan menangisi lukisannya yang hancur. Chanyeol menonton, tertawa, dan memimpin teman-temannya meneriakkan Baekhyun! Baekhyun! Baekhyun! Hera menangis lebih keras karena tak ada yang membelanya.
Mereka bertiga tak pernah melupakan kejadian itu. Sore itu mereka tinggal di sekolah hingga malam. Baekhyun dihukum menulis kalimat, Kyungsoo tinggal untuk membantu Baekhyun mengerjakan hukumannya, dan Chanyeol tinggal karena Kyungsoo mengancam akan menggunting ransel barunya bila ia tidak membantu Baekhyun juga. Lukisan Kyungsoo yang rusak sudah mendarat di tempat sampah, tapi sejak hari itu, terlukis kejadian bodoh itu dalam memori mereka. Memori bahwa mereka ada untuk membela satu sama lain.
Dan saat itu Chanyeol benar-benar merasa bahwa ia menemukan rumahnya. Rumah yang hangat, yang rela menerima pukulan hingga berdarah hanya untuk mendapatkan kata maaf sebagai ganti kanvas yang robek.
Saat mereka kelas enam, Kyungsoo sedang mengalami masa sulit dan kehilangan keinginan untuk menyentuh kuas dan cat. Karena itu, saat pelajaran seni akan dimulai, Chanyeol mengajak Kyungsoo dan Baekhyun untuk membolos. Awalnya ia hanya bercanda, tapi ternyata usulnya disambut anggukan penuh semangat oleh Kyungsoo dan tatapan pasrah dari Baekhyun. Maka terjadilah, tiga bocah dua belas tahun menghabiskan waktu bersama. Mereka mendapat tatapan penuh tanya dari orang-orang dewasa di sepanjang jalan, tapi peduli apa mereka?
Tiga sahabat itu menghabiskan dua jam penuh di luar sekolah. Mulanya mereka menghabiskan waktu di arcade, dimana Baekhyun mengalahkan Chanyeol dalam Dunk Shoot dan Kyungsoo mencetak skor tinggi dalam Dance Dance Revolution. Setelah menghabiskan seluruh uang yang Chanyeol bawa dan kelaparan karena banyak berkeringat, Kyungsoo mengusulkan untuk makan di salah satu rumah makan cina favoritnya. Saat itu, Baekhyun menolak habis-habisan, ayolah jangan makan di restoran! Kita ke Pasar Gwangjang saja! Chanyeol dan Kyungsoo menaikkan alis mereka, makhluk-makhluk yang berasal dari keluarga kaya ini tidak pernah benar-benar melihat pasar tradisional.
Kita... kita makan disana, Baek? Kyungsoo bertanya ragu-ragu. Apa makanannya bersih, Baek? Chanyeol menolak dengan halus. Tentu saja makan disana, bodoh! Tenang saja! Makanan disana tidak akan kalah enak dari restoran yang biasa kalian datangi! Dan Baekhyun pun menarik tangan dua sahabatnya yang enggan itu, saling bertukar pandang takut di belakang bahu Baekhyun.
Sesampainya mereka di Pasar Gwangjang, justru Baekhyun yang dibuat terkaget-kaget. Setelah makan masing-masing dua gulung kimbap, Chanyeol dan Kyungsoo seolah dirasuki Dewa Pemakan Segala. Mereka mampir untuk makan heottok, tteokbokki, odeng, hingga jokbal. Setelah lelah berjalan melewati pasar tradisional itu, mereka duduk kekenyangan sambil meminum jus delima.
Aku tidak pernah tahu bahwa heottok seenak itu, Chanyeol masih terpukau dengan pancake khas yang berisi madu itu.
Ayahku selalu melarangku makan jokbal sembarangan, katanya tidak semua orang bisa memasaknya dengan enak. Bibi tadi pasti handal sekali memasaknya. Enak sekali! Kyungsoo tercenung.
Apa kubilang, kalau mau makan makanan ringan khas Korea, kalian harus ke pasar tradisional, bukan restoran yang bikin kaku punggung! Baekhyun masih terheran-heran dengan nafsu makan dua orang yang tiba-tiba meroket ini. Dasar orang tidak pernah susah! Ucapnya dengan senyum yang sangat lembut.
Dan saat itu pun, di tengah-tengah pasar tradisional dengan segala macam makanan lezat di sekeliling mereka, Chanyeol merasa pulang.
Empat tahun yang lalu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol melihat Baekhyun yang meminta izin ke ruang kesehatan. Hari itu, Kyungsoo sedang mengikuti kompetisi lukis sehingga tak ada yang menemani Baekhyun. Maka setelah pelajaran selesai, Chanyeol melangkahkan kaki ke ruang kesehatan untuk meminjamkan catatannya pada Baekhyun. Saat itu, mau tak mau Chanyeol jadi sedikit khawatir karena melihat Baekhyun yang meringkuk di tempat tidur, seperti udang yang sedang direbus. Lebih gawat lagi, karena dahi Baekhyun penuh dengan keringat sebesar biji jagung, padahal saat itu pendingin ruangan sedang menyala.
Baek, kau benar-benar sakit ya?
Mmmm, Perutku nyeri sekali.
Kau yakin tidak sedang ingin ke kamar mandi? Chanyeol bergurau dengan tujuan membuat Baekhyun tertawa. Tapi kekhawatirannya bertambah karena Baekhyun hanya menggeleng dengan lemah. Dimana guru kesehatan, Baek?
Entah, dia bilang akan pergi sebentar tadi.
Ya sudah, kau ku antar pulang saja. Ayo.
Setelah Baekhyun mengangguk dan bangkit dari tempat tidur untuk mengambil ranselnya, saat itulah Chanyeol melihatnya. Noda merah, di tempat tidur, dan pada rok Baekhyun.
Baek..? Apa itu? Dan mereka berdua terpaku. Baek..? Apa kau..? Apa kau mendapat menstruasi pertamamu?
Wajah Baekhyun yang saat itu pucat dengan sangat cepat berubah menjadi merah, seolah ada orang yang menyumbat pembuluh darahnya, kemudian melepasnya tanpa aba-aba. Karena malu yang luar biasa, Baekhyun dengan refleks melempar ranselnya. Sialnya, ransel berat itu mendarat di wajah Chanyeol hingga bocah laki-laki itu mimisan.
Setelah banyak maaf dan tisu, Chanyeol menunggu di depan ruang kesehatan dengan ransel Baekhyun di tangannya. Guru kesehatan tertawa saat mendengar penjelasan Chanyeol yang mencarinya dengan tisu menyumbat hidungnya. Setelah sedikit ceramah dari guru kesehatan, Baekhyun mendapat rok baru dan segera pamit untuk pulang. Sesuai dengan janji, Chanyeol mengantar Baekhyun pulang. Chanyeol yang berhenti diantar-jemput semenjak lulus Sekolah Dasar, mengikuti Baekhyun naik bus. Baekhyun tidak mau melihat Chanyeol, sebagian untuk rasa bersalah karena telah melempar ranselnya, sebagian untuk rasa malu dan canggung karena menstruasi pertamanya. Chanyeol yang merasa sama malunya, hanya berjalan di belakang mengikuti Baekhyun, khawatir kalau-kalau Baekhyun tiba-tiba tidak kuat berjalan.
Chanyeol yang berjalan perlahan, melihat rambut kuncir kuda Baekhyun berayun ke kanan dan ke kiri, semakin yakin bahwa gadis ini adalah rumahnya.
Satu tahun setelah kejadian itu, saat mereka kelas delapan, nama Kyungsoo semakin melejit sebagai pelukis muda, dan Baekhyun sudah mendapatkan sertifikat MENSA-nya, sementara Chanyeol mulai mendapatkan "pelajaran" tambahan dari ayahnya mengenai bisnis dan dunia hiburan. Mereka bertiga semakin dekat, seolah memiliki gelembung yang tak dapat dimasuki oleh orang lain. Seluruh sekolah menjadikan mereka sebagai squad goals. Bagaimana tidak? Kyungsoo adalah gadis dengan jiwa seni yang tinggi, tidak hanya di atas kanvas saja tapi juga dalam berpakaian. Tanpa memoles apapun pada wajahnya, Kyungsoo selalu terlihat cantik dan bahagia. Lalu ada Chanyeol, dengan kakinya yang panjang dan mata bulat berbentuk almond. Ditambah dengan kenyataan bahwa dia adalah bungsu Bulgeong grup, hampir setiap hari Chanyeol mendapat surat cinta, ajakan kencan, hingga hadiah-hadiah picisan. Semuanya ia tolak dengan tegas. Dan yang melengkapi squad mereka adalah ratu segala jenis angka, anggota MENSA dengan IQ 152, Byun Baekhyun. Selalu memiliki rambut kuncir kuda yang menghiasi muka mungilnya, Baekhyun menjadi siswa kesayangan guru-guru. Bukan hanya karena kepribadiannya yang menyenangkan dan bisa diandalkan, tetapi juga karena sikap rendah hatinya meski ia hampir selalu mendapat nilai sempurna dalam aljabar dan geometri.
Dan karena itulah, Baekhyun sangat frustasi saat wali kelasnya memanggil, hanya untuk menyatakan kekecewaan karena nilai geometri Baekhyun menurun. Baekhyun kembali ke tempat duduknya dengan wajah ditekuk, membuat Kyungsoo dan Chanyeol melayangkan pandangan khawatir. Tapi tak ada waktu untuk berbicara, karena saat itu pelajaran Hanja dimulai. Sang guru menuliskan puisi tiga bait milik Yun Seondo—penyair pada zaman Joseon—di papan tulis. Dan semesta memang berkonspirasi untuk memberikan hari yang buruk bagi Baekhyun, sang guru meminta Baekhyun untuk membacakan puisi tersebut. Chanyeol sadar ada yang tidak beres pada gadis berkuncir kuda itu, bukannya menjawab, Baekhyun terdiam sebentar. Chanyeol duduk tepat di belakang Baekhyun sehingga dia tidak melihat raut muka Baekhyun yang bingung, tapi dia merasakan kegugupan yang melanda Baekhyun. Setelah beberapa saat hening, Chanyeol memutuskan bahwa ia akan menjadi pahlawan bagi sang putri yang kebingungan. Remaja berambut hitam itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan membisikkan bait-bait puisi Yun Seondo untuk Baekhyun ulangi dengan keras pada seluruh kelas. Kali itu, Baekhyun terselamatkan.
Tapi rupanya keanehan Baekhyun belum selesai. Setelah pelajaran Hanja selesai dan kelas memasuki jam aljabar, Baekhyun sekali lagi terdiam saat teman-temannya sedang menyalin soal di papan tulis. Chanyeol yang melihat tangan mungil di depannya tidak bergerak, mulai memahami sesuatu.
Baek? Baekhyun terlonjak kaget saat Chanyeol memanggilnya.
Apa?
Kau tidak bisa melihat tulisan di papan ya?
Baekhyun ragu sejenak sebelum mengangguk. Sejak tempat duduknya dipindah ke bagian belakang dua hari yang lalu, Baekhyun baru menyadari bahwa dia tidak bisa melihat papan tulis dengan jelas. Alhasil, dua hari ini ia hanya menerka-nerka apa yang tertulis di papan. Tapi saat menyalin soal seperti ini, Baekhyun bingung. Tentu saja, soal tidak bisa diterka.
Kenapa tidak bilang kalau tidak kelihatan? Chanyeol mendesis dari belakangnya. Baekhyun hanya meringis. Maka, sepanjang sisa hari itu Chanyeol menghabiskan waktunya dengan mendiktekan semua soal dan catatan yang ada di papan tulis kepada Baekhyun.
Dasar bodoh. Chanyeol membatin. Kalau kau adalah rumahku, tidak bisakah kau percaya padaku dan menjadikanku tempat untuk pulang?
Sore itu Kyungsoo dan Chanyeol mengantar Baekhyun pulang. Kau kan rabun, kalau ada apa-apa bagaimana. Begitu kata Kyungsoo. Dan itulah yang memang Kyungsoo lakukan setiap hari hingga Baekhyun mendapatkan kacamatanya. Yang Kyungsoo tidak pernah tahu adalah kenyataan bahwa, bahkan setelah Baekhyun berkacamata dan bisa melihat dengan jelas, atau setelah ia menggunakan lensa kontak, Chanyeol masih sering mengantar Baekhyun pulang. Terkadang pada hari Selasa saat Baekhyun harus pulang malam setelah kegiatan klub belajarnya. Terkadang pada hari Jumat saat Chanyeol tidak ingin pulang dan sendirian di rumah. Atau terkadang dalam sepekan, Chanyeol dapat mengantar Baekhyun pulang setiap hari.
Kau suka sekali rumahku ya?
Mm, aku suka.
Kenapa selau mengantarku pulang?
Kau perempuan, bahaya bila jalan sendirian.
Kau tidak mengantar Soo pulang.
Soo naik mobil.
Kapan-kapan biar aku mengantarmu.
Boleh, lalu aku mengantarmu pulang setelah kau mengantarku.
Aku sudah bisa melihat dengan jelas tahu.
Aku tahu.
Kenapa masih mengantarku pulang?
Aku ingin. Tak boleh ya?
Dan Baekhyun selalu berhenti pada pertanyaan itu. Tak boleh ya? Atau tak suka? Tentu saja boleh. Tentu saja suka. Siapa yang tidak suka bila ditemani pulang. Kalau sudah begitu, Baekhyun akan pasrah saja dan membiarkan Chanyeol berjalan di sampingnya, mengantarnya pulang.
Biarkan aku juga menjadi rumahmu, Baek.
-to be continued-
Catatan:
- Pasar tradisional Gwangjang adalah pasar tradisional di Seoul yang terkenal dengan street food-nya
- Arcade: tempat bermain yang menggunakan koin (seperti timezone)
-Kimbap: nasi berisi sayuran yang digulung bersama rumput laut panggang
- Heottok: pancake berisi madu (seperti yang dimakan Chanyeol-Suho-Luhan di EXO Showtime Episode 6)
- Tteokbokki: kue beras dengan saus pedas
- Odeng: kue ikan yang dimakan dengan kuah yang berasal dari kaldu ikan
- Jokbal: kaki babi
- MENSA adalah organisasi internasional yang beranggotakan 2% orang-orang tercerdas di dunia dengan IQ diatas 148 (Cattel CFI Test)
- Hanja secara harfiah adalah karakter cina. Di SMP di Korea, terdapat satu mata pelajaran untuk mengajarkan karakter cina (semacam kanji untuk Jepang) ceritanya nggak nemu padanan bahasa indonesianya.
