-FouthPainting-
"Bibi~ Dua tteokbokki dan satu odeng untuk kami ya!"
"Cumi goreng juga ya bi!"
Hari itu hari Minggu, setelah acara menginap di rumah Baekhyun, ia dan Kyungsoo memutuskan untuk menghabiskan waktu di Myeongdong. Dan tentu saja, tempat pertama yang mereka datangi adalah tempat Bibi Jung, penjual tteokbokki paling suka menggerutu seantero Myeongdong, tapi tetap saja memberi banyak tambahan minum dan snack tanpa diminta. Dua gadis itu mengambil tempat di ujung untuk bisa dekat dengan pendingin ruangan. Keduanya menghela nafas dan sibuk mengipas-ngipas wajah mereka yang berpeluh karena musim panas tahun ini benar-benar bisa mengubah manusia jadi panggangan.
"Aku heran, kenapa setiap tahun makin panas sih" Kyungsoo menggeser tempat duduknya sedikit ke kanan agar bisa mendapat lebih banyak suhu dingin dari pendingin di sebelahnya.
"Global Warming ini Soo" Baekhyun berkata sambil lalu dan mengambil dua botol soda di lemari es.
Bibi Jung datang membawa pesanan mereka, dan meletakkannya asal di meja sebelum buru-buru kembali ke dapur untuk melayani pelanggan lainnya. Kyungsoo dan Baekhyun yang kelaparan mulai melahap makanan di depan mereka. Sejak kejadian Pasar Gwangjang saat mereka kelas 6, Kyungsoo sangat suka mengajak Baekhyun berkeliling untuk mencoba macam-macam street food. Dan dari semuanya, tteokbokki inilah yang menjadi favorit Kyungsoo.
"Tidak bisa ya kita hidup tenang tanpa memikirkan ozon yang menipis" Kyungsoo menerawang sambil memainkan mangkuk yang isinya tinggal separuh.
"Bodoh, kalau tidak kita pikirkan, kita yang mati karena kekurangan oksigen"
"Ingin rasanya, hidup sederhana, makan tteokbokki setiap hari"
"Makan tteokbokki setiap hari itu bukan hidup sederhana, Soo" Baekhyun meringis. Terkadang sahabatnya yang cantik itu berpikir tanpa diduga, melompat-lompat dan membuat orang terkejut di setiap obrolannya.
"Atau aku jadi ninja saja ya, loncat-loncat di atap rumah sepanjang hari"
Tuh kan, mulai lagi Baekhyun membatin. Bila Kyungsoo sudah memasuki labirin pikirannya ini, tidak ada yang bisa mengikuti. Pikirannya macam benang ruwet yang tidak ingin ia urai. Biasanya bila begini, Kyungsoo akan menggumam sendiri kesana-kemari sambil menerawang. Karena itu Baekhyun diam saja dan sibuk dengan pikirannya sendiri, sambil sekali-kali menyahut "ya," "um," atau "uh huh."
"Baek! Uh kau tidak mendengarkanku ya?"
"Hah? Apa?"
"Ah sudahlah, kau dan Chanyeol sama saja, selalu mengabaikanku. Aku benci kalian"
"Eii, kau tahu sendiri kau suka menggumam tidak jelas. Jangan salahkan aku dong"
"Hhh, aku rindu Chanyeol"
Aku juga, Soo.
Sejak Rabu lalu, Chanyeol berhenti datang ke sekolah. Ia tidak mengatakan apapun pada Baekhyun atau Kyungsoo. Ia hanya... tidak muncul, tidak bisa dihubungi, dan tidak bisa dicari. Awalnya Baekhyun lega karena artinya ia tidak perlu berurusan dengan segala hal yang ia letakkan di belakang kepalanya. Tapi lama-lama Baekhyun merasa gelisah. Apa yang ia letakkan di belakang kepalanya, membuat hatinya berat. Dan hatinya yang tidak bebas semakin meneriakkan rindu saat lelaki besarnya tidak muncul. Ah, bukan, dia bukan lelakiku. Begitulah hati Baekhyun terus berdialog membuatnya lelah. Kerinduan yang membuncah-buncah dalam hatinya, Baekhyun tolak dengan penegasan bahwa dara cantik yang saat ini ada di depannya lebih layak mendapat kebahagiaan yang ia takutkan itu. Toh, Chanyeol pergi begitu saja tanpa kata. Bukankah itu artinya dia juga menyerah?
"Kau benar-benar menyukai Chanyeol ya Soo?" Baekhyun sangat kaget saat mendengar suara sumbangnya melontarkan pertanyaan itu. Dasar mulut bodoh! Kenapa tidak bisa membedakan apa yang harus diam di dalam hati dan yang harus dikeluarkan sih! Baekhyun memaki dirinya sendiri. Kyungsoo juga sama terkejutnya. Tapi reaksi yang ia keluarkan sungguh berbeda. Bila Kyungsoo yang biasanya adalah perempuan super cuek yang dapat berbicara meledak-ledak, demi mendengar pertanyaan Baekhyun itu, rautnya menjadi lembut. Matanya berkilat dan berbinar, bibirnya merekah membentuk senyum sangaaat tipis, seolah ia tahan agar tidak menyeringai terlalu lebar. Pipinya bersemu, dan detik saat noda merah menghiasi tulang pipinya, Kyungsoo menunduk tak berani menatap Baekhyun.
Baekhyun terkesiap.
Tuhan, Kyungsoo benar-benar menyukai Chanyeol. Sangat.
"Terlihat sekali ya Baek?" Kyungsoo bertanya lirih—sangat tidak seperti Kyungsoo yang Baekhyun kenal.
"Ya, begitulah"
"Aku pasti terlihat bodoh ya?"
"Tentu saja tidak"
"Tapi aku benar-benar tidak bisa mengontrolnya"
Aku tahu
"Dia seperti magnet. Menarik mataku, apapun yang dia lakukan" Kyungsoo masih menunduk sambil memainkan mangkuk odeng yang kosong di depannya. "Aku—aku selalu merasa aman bila dia ada. Kau tahu perasaan itu Baek?"
Aku tahu, Soo.
"Awalnya aku tidak suka saat ayah bilang akan menjodohkanku. Tapi Chanyeol... berbeda. Maksudku, aku sudah bersamanya sejak kecil. Dan dia sangat baik padaku. Usil, tapi baik. Dia suka merampas makananku, menghina lukisanku, tapi anehnya aku suka."
Hening sejenak, "Aku aneh ya?" Kyungsoo bertanya, masih dengan tersipu, sambil mengangkat mukanya menatap Baekhyun. Baekhyun yang masih terkaget-kaget berusaha mengontrol ekspresi wajahnya dan berusaha tersenyum.
"Tentu saja tidak Soo. Perkara hati, siapa yang tahu? Hati kita selalu menjatuhkan pilihan pada orang yang tidak pernah kita duga kan? Dan hatimu memilih untuk menyediakan ruang bagi Chanyeol. Tidak ada yang aneh dengan itu" Baekhyun memberikan senyuman manisnya untuk Kyungsoo. Baekhyun tulus mengucapkan itu. Kalau aku bisa memilih, aku tak akan mau jatuh hati pada dia, Soo.
"Terakhir kali aku bertemu dia, aku membentaknya karena dia mengganggu kerjaku. Kemudian dia pergi tanpa kabar begini, membuatku khawatir. Aku belum bilang maaf untuk yang terakhir itu dan dia hilang begitu saja. Aku jadi rindu. Ini baru empat hari dan aku sudah sangat rindu, Baek"
Terakhir kali aku bertemu dia, aku menolak hatinya. Aku tak mengizinkannya masuk dalam ruangan yang sudah kusiapkan untuknya dalam hatiku. Ku tolak mentah-mentah, kukunci hatiku dan kuletakkan kuncinya pada persahabatan kita Soo. Kemudian dia menghilang. Menghilang setelah aku tahu telah membuatnya hancur. Tak berkabar setelah aku tahu, aku telah membuatnya menjadi orang asing dalam hidupku. Aku juga merindukannya, Soo. Kemarin aku merindukannya. Malam itu aku merindukannya. Bahkan saat bertemu pun aku rindu. Aku sangat rindu hingga suara beratnya terdengar bagai musik di telingaku, dan bekas baunya terus menggelitik hidungku. Aku begitu rindu hingga terasa sesak, seakan ada tali tak kelihatan yang menarik hatiku. Aku merindukannya hingga dalam setiap nafas yang kutarik, aku berdoa agar ia mendengar lagu rindu yang kukirim padanya.
Setiap hari.
Setiap jam.
Setiap tarikan nafas...
Aku juga merindukannya, Soo.
Sangat.
o
o
Hari kedelapan tanpa Chanyeol.
Kyungsoo sedang berada di perpustakaan, membuka-buka bukunya tanpa minat. Ia mendengarkan penjelasan Baekhyun mengenai aljabar tanpa minat. Sang Ratu segala angka itu tengah mengulang beberapa pelajaran aljabar dua bulan belakangan kepada sekelompok makhluk-makhluk ingin pintar di kelas. Kyungsoo yang tidak pernah tertarik pada pelajaran-pelajaran seperti ini hanya diam dan mendengarkan sambil lalu. Buku catatannya penuh dengan coret-coret dan sketsa kasar. Kalau saja Chanyeol sekolah, biasanya Kyungsoo dan Chanyeol akan mundur ke belakang dan mulai bermain. Mulai dari tic tac toe, hingga gunting batu kertas, atau sekadar taruhan berapa menit lagi "murid" Baekhyun akan menguap. Chanyeol selalu bisa membuat Kyungsoo tertawa, tawa tulus yang ia ledakkan karena bahagia, bukan senyum palsu yang biasa ia pahatkan pada wajahnya saat menghadapi kamera. Dan setelah delapan hari Chanyeol menghilang, Kyungsoo benar-benar merasa kehilangan. Ia merasa kehilangan Chanyeol, dan kehilangan dirinya yang tertawa bahagia saat bersama Chanyeol.
Setelah 70 menit penuh dengan kebosanan, akhirnya Baekhyun menutup bukunya, dan orang-orang ingin pintar yang mengerumuninya pun bubar satu per satu. Baekhyun tahu seberapa bosan pelukis kesayangannya itu, atau ketidaksukaannya saat belajar angka, dan setiap kali Baekhyun memaksa Kyungsoo menemaninya ke perpustakaan, Baekhyun tahu ia harus membayar waktu Kyungsoo. Maka hari ini Baekhyun berjanji akan menemani Kyungsoo mengunjungi pameran fotografi sepulang sekolah.
"Kau tidak apa-apa pulang agak malam, Baek?" Kyungsoo bertanya saat mereka mulai memasuki galeri.
"Tidak ada yang peduli, tidak ada orang di rumah" Baekhyun berkata, agak getir. Semenjak ibunya menjadi Kepala Departemen Matematika di KAIST, Baekhyun harus membiasakan diri di rumah sendirian. Tapi karena Baekhyun tumbuh dengan waktu penuh dari kedua orang tuanya, kesendiriannya di rumah sungguh membuatnya sedih. Di rumahnya tidak ada pelayan yang bisa ia ajak mengobrol seperti di rumah Chanyeol. Atau adik kecil yang bisa ia temani bermain seperti adik Kyungsoo. Saat Baekhyun sendirian di rumah, ia benar-benar sendirian. Dan tumbuh dengan dikelilingi keluarga serta sahabat yang selalu ada setiap waktu, membuat kesendiriannya di rumah benar-benar mengerikan bagi Baekhyun. Entah sejak kapan, Baekhyun mulai enggan pulang ke rumah. Baekhyun tidak siap pulang dan mendapati rumahnya gelap, dingin, dan mati. Tanpa orang tuanya, dan kehangatan mereka.
"Ibumu masih sibuk Baek?"
"Bahkan sekarang dia hanya meninggalkan uang untukku" Baekhyun memaksakan tersenyum, meski dengan getir.
"Kau tahu, kau bisa ke rumahku kalau mau. Pintu rumahku tak pernah tertutup untukmu."
"Terima kasih Soo, sungguh." Ada nada final dalam pernyataan Baekhyun. Dan Kyungsoo tahu, Baekhyun tidak ingin topik ini dilanjutkan. Baekhyun adalah orang yang sangat hangat, ia tumbuh dalam keluarga yang memberinya kasih sayang yang berlimpah. Dan ketidakhadiran orang tuanya, bagi Baekhyun adalah pengkhianatan yang besar. Kyungsoo paham, Baekhyun tidak ingin orang lain menyentuhnya saat ia kehilangan kehangatannya. Baekhyun merasa orang tuanya meninggalkannya. Dan berusaha tampak baik-baik saja mempermudah Baekhyun untuk menipu dirinya sendiri, meyakinkan bahwa segalanya memang baik. Maka apa yang bisa dilakukan Kyungsoo? Ia hanya mengikuti kemauan Baekhyun dan menganggap semuanya baik saja.
"Bagaimana persiapan pameranmu, Soo?" Baekhyun bertanya setelah merasa ada kecanggungan diantara mereka. Kyungsoo selalu bersemangat membicarakan lukisannya.
"Aku sedang berusaha mencari galeri untuk menjadi sponsorku. Ku harap segera ada kabar baik"
"Karena itu kau datang ke pameran ini?" Baekhyun bertanya memicingkan mata.
"Hahaha, aku ketahuan" Kyungsoo tergelak, matanya selalu menghilang saat ia sedang tersenyum. Baekhyun ikut tersenyum dan mereka melanjutkan berjalan mengitari galeri untuk ber-oooh dan ber-aaah untuk semua hasil foto yang dipamerkan.
Dan begitulah hari-hari mereka terus berjalan. Sekolah, pergi berdua, rumah, dan seterusnya dan seterusnya. Chanyeol belum menampakkan batang hidungnya yang terlampau mancung sekali pun. Dan melihat bagaimana Guru mereka tidak mencarinya, Baekhyun dan Kyungsoo semakin yakin bahwa Chanyeol pergi untuk urusan keluarganya. Tapi bagaimanapun juga, hati kedua gadis itu masih gelisah, sebagian karena raksasa kesayangan mereka tak berkabar, sebagian karena rindu yang berdentam-dentam dalam hati mereka, menolak untuk meninggalkan malam nyenyak membuai mereka. Kyungsoo semakin disibukkan dengan persiapan pamerannya, sementara Baekhyun belajar mati-matian untuk persiapan NMSC-nya. Keduanya semakin sering menginap di tempat satu sama lain, bukan hanya karena mereka saling membutuhkan, tapi juga karena Kyungsoo tahu Baekhyun membenci kenyataan bahwa ia sendirian.
Hari ketujuh belas setelah Chanyeol menghilang tanpa kabar, Baekhyun pulang larut dari sekolah. Ia baru saja menyelesaikan latihan soal yang diberikan guru Zhang padanya untuk persiapan NMSC. Kyungsoo sudah menghilang sejak jam makan siang, sehingga Baekhyun pulang sendirian. Perutnya keroncongan, tapi Baekhyun yakin ibunya sudah di rumah dan memasak makan malam karena hari ini adalah hari Jumat. Tidak ingin membuat ibunya kecewa dengan makan di luar, Baekhyun mengabaikan saja perutnya yang memprotes. Tubuhnya lelah karena seharian duduk, otaknya lebih lelah karena dipaksa menyelesaikan soal-soal rumit sepajang hari. Hatinya? Jangan ditanya. Baekhyun tidak ingat kapan terakhir kali ia tidur nyenyak. Tidurnya selalu gelisah, dihantui mimpi-mimpi buruk mengenai orang tuanya yang menghilang, dan Chanyeol-nya yang menghilang... Bahkan, karena beban hatinya ini, performa Baekhyun dalam persiapan NMSC menurun dan ia terancam untuk digantikan oleh siswa yang lain bila terus-menerus kehilangan fokus. Belakangan ini Baekhyun merasa ingin terus menerus menangis, tanpa ia sendiri tahu apa sebabnya. Baekhyun hanya merasa lelah, dan rindunya yang mendendam pada lelaki besarnya yang entah kemana tak berkabar itu, tak membuatnya lebih baik.
"Aku pulang" Baekhyun membuka pintu rumahnya, hanya untuk menjumpai pemandangan yang sama sekali asing baginya.
Ayah dan ibunya berdiri bersebrangan di ruang tengah. Dan diantara mereka, beberapa vas bunga pecah dan benda-benda lain berserakan sangat berantakan. Wajah ibunya memerah, dan rambutnya mencuat kesana kemari. Maskaranya belepotan, kentara sekali ibunya sedang menangis. Ayahnya tak kalah berantakan. Bahkan dari pintu depan, Baekhyun bisa mencium aroma alkohol dari badan ayahnya yang tak karuan. Kacamatanya miring, dan kakinya terlihat berdarah. Ayah dan ibunya mematung saat melihat Baekhyun di depan pintu.
Cukup. Baekhyun tak tahan lagi. Matanya panas, air mata mulai menghujani wajahnya.
Tanpa memedulikan ayah dan ibunya, Baekhyun berbalik dan keluar rumah. Tanpa menoleh ke belakang, Baekhyun menapak pergi dari rumah. Rumahnya yang selalu hangat, yang kini menjadi bagian dari neraka baginya. Selama delapan belas tahun Baekhyun hidup, tak pernah sekalipun—tak pernah, Baekhyun melihat ayah dan ibunya bertengkar. Mereka selalu terlihat manis dan serasi, selalu menatap satu sama lain dengan penuh cinta. Kesibukan ayah dan ibunya yang semakin menjadi-jadi setahun belakangan ternyata memperburuk keadaan. Ayahnya lebih sering pulang terlambat, mulanya karena tak ada orang di rumah dan ayahnya merasa kesepian. Lama kelamaan, ayah Baekhyun pulang dalam keadaan mabuk. Dan tak jarang pula ayahnya tak pulang ke rumah. Ibunya yang selalu menunggu hingga sang suami pulang pun, makin hari lelah dengan kesibukannya sendiri dan tak lagi peduli. Orang tuanya semakin menjadi orang asing terhadap satu sama lain. Dan rumah yang selalu bisa menjadi tempat pulang bagi Baekhyun, kini menjadi tempat yang paling enggan ia datangi. Tak ada tatapan penuh cinta, tak ada pelukan hangat. Dan malam ini mungin menjadi puncaknya.
Baekhyun sudah tersedu-sedu tak terkendali. Air matanya keluar susul menyusul, begitupun ingusnya. Aku tak bisa begini. Tangan Baekhyun yang gemetar mengambil poselnya dan menelepon Kyungsoo. Sahabatnya itu mengangkat teleponnya dalam dering ketiga. Tapi sebelum Baekhyun bisa mengatakan apapun, atau sekadar menangis di telepon, atau meminta untuk ditemani saat itu juga, di sisi lain telepon Kyungsoo berbisik dengan sangat tergesa, "Baek, maafkan aku. Aku sedang makan malam dengan calon sponsorku. Ku hubungi kau nanti ya, sungguh. Maaf" dan hening. Terputus. Satu-satunya orang yang Baekhyun harapkan akan mengerti dan menyediakan rumah yang aman bagi Baekhyun memutuskan sambungan teleponnya.
Baekhyun masih berdiri di jalan, berjalan entah kemana. Otaknya kalut, ia hanya ingin pergi, jauh dari rumahnya dan orang tuanya yang mungkin saat ini sedang saling berteriak. Sudah cukup semuanya. Baekhyun tak bisa melihat apa-apa, matanya buta karena air mata yang berkumpul. Tangannya yang gemetar menyeka air mata dan ingusnya. Sebelum matanya terbutakan oleh air mata lagi, Baekhyun melihatnya.
Disana, di ujung jalan. Baekhyun melihatnya. Berdiri memakai mantel, menatapnya dan bergeming. Jaraknya terlalu jauh memang, tapi Baekhyun melihat bibirnya bergerak, membentuk namanya. Memanggilnya. Chanyeol memanggilnya.
Dan semua terjadi begitu saja. Kakinya melangkah perlahan.
Satu langkah
Dua langkah
Tiga langkah
Tapi Chanyeol masih terlalu jauh.
Baekhyun berlari. Dan menubruk Chanyeol yang berada di ujung jalan. Baekhyun memeluk erat tubuh Chanyeol, membauinya dan yakin bahwa wangi ini adalah lelaki besarnya. Baekhyun memeluknya semakin erat dan menumpahkan semua tangisnya. Chanyeol membalas pelukannya dan meletakkan dagunya pada ujung kepala Baekhyun. Tangannya membelai halus punggung Baekhyun. Membiarkan yang lebih kecil menangis begitu saja membuat kemejanya basah, entah oleh air mata, liur, atau ingus. Baekhyun mencengkram mantel Chanyeol meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan ilusi. Dadanya mulai terasa sesak. Dan sebelum Baekhyun pingsan karena tangis ataupun pelukan eratnya, Chanyeol melepas pelukannya pada Baekhyun.
Baekhyun mendongak, masih menangis. Ia tak bisa melihat apapun karena air matanya semakin membutakan. Tapi ia tahu, tahu bahwa Chanyeol sedang menunduk memandangnya.
"Baek"
"Jangan pergi lagi. Jangan pernah pergi begitu saja seperti ini."
"Aku tidak pergi, aku disini"
"Tapi kau pergi! Tujuh belas hari! Kau pergi!" Baekhyun histeris saat mengucapkan tuduhan-tuduhannya pada Chanyeol. Chanyeol kembali memeluknya. Bukan pelukan erat seperti yang Baekhyun lakukan. Chanyeol hanya memeluknya dengan lebar, berusaha memasukkan berbagai hal dalam pelukannya itu. Tangan Baekhyun terkulai dan Chanyeol mendekap seluruh tubuh Baekhyun dalam tubuhnya yang besar.
"Aku disini sekarang"
Dan saat itulah, saat hidung Baekhyun sudah tak bisa membaui apa-apa, saat matanya sudah tak bisa melihat apapun selain air mata, saat yang ia rasakan hanyalah hangat tubuh Chanyeol, dan tangannya yang besar melingkari tubuhnya. Saat itulah, dalam sela tangisnya yang pilu, yang memendam sakit dan rindu sekaligus.
Saat itu Baekhyun merasa ia pulang.
o
o
Mereka tetap dalam posisi itu selama beberapa menit. Atau beberapa puluh menit? Entahlah, hal-hal seperti waktu seakan tidak penting bila Chanyeol sedang memeluk gadis mungilnya itu. Tangan Chanyeol mulai kesemutan, tapi karena Baekhyun masih tersedu sengan sangat jelek, Chanyeol tetap bergeming. Hingga... bunyi perut Baekhyun menggelegar bagaikan petir menginterupsi, dan mereka pun melepaskan diri. Baekhyun cegukan, dan Chanyeol nyengir sangat lebar, "Kau yakin tidak ada singa dalam perutmu?" ujarnya sambil mengacak ujung kepala Baekhyun.
"Diam kau. Aku lapar," Baekhyun berkata dengan suaranya yang seperti sedang flu berat.
Maka mereka masuk ke supermarket dan membeli ramen sekaligus tiga buah kimbap. Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang melahap semua makanan itu di sebelahnya. "Aku tidak tahu menangis bisa membuat lapar." Baekhyun dengan mulutnya yang penuh hanya memandang Chanyeol dengan tatapan menghina dan melanjutkan makannya dengan rakus. Setelah cup ramen dan kemasan kimbap dibuang, Baekhyun meminum susunya dalam diam sambil memandang keluar jendela supermarket.
"Kau pergi kemana?" Baekhyun bertanya dengan datar, berusaha terlihat tidak peduli. Meskipun mereka berdua tahu hal itu tidak mungkin setelah acara menangis yang sangat tidak cantik tiga puluh menit sebelumnya.
"Ke Jepang. Menemani Hyung" Chanyeol memutuskan untuk menjawab semua pertanyaan Baekhyun tanpa banyak alasan.
"Kenapa tidak bilang?"
"Ku kira kau tidak mau menemuiku?"
"Kau rindu ya?" Kini Chanyeol yang bertanya.
"Tidak" Baekhyun berdusta.
"Lalu kenapa menangis?"
"Sedang banyak masalah"
"Tapi senang melihatku kan?"
"Mungkin"
Chanyeol tak bisa mengontrol wajahnya yang tersenyum. Ia bisa melihat wajah Baekhyun memerah, bahkan Chanyeol bisa merasakan panas tubuh Baekhyun yang menguar.
"Kenapa kau disini?" Giliran Baekhyun yang menginterogasi Chanyeol lagi.
"Aku rindu. Mau bertemu."
Wajah Baekhyun semakin memerah. Chanyeol tidak bohong, setelah pesawatnya mendarat di bandara, Chanyeol langsung minta diantar ke rumah Baekhyun. Tidak untuk bertemu, mungkin hanya untuk memandangi rumah Baekhyun, berharap gadis itu tahu bahwa Chanyeol disana dan merindukannya. Remaja laki-laki itu tak pernah menyangka ia akan melihat Baekhyun yang menangis berlari memeluknya seperti itu. Menangis? Tunggu dulu, bila dipikir-pikir lagi, Baekhyun sudah menangis saat Chanyeol melihatnya dari ujung jalan. Menangisi apa anak itu?
"Kau ada masalah apa Baek?"
"Tidak ada apa-apa"
"Jangan bohong, aku tidak bodoh. Kau menangis"
Inilah yang membedakan Chanyeol dan Kyungsoo. Bila Baekhyun tak ingin bercerita, Kyungsoo selalu paham dan membicarakan hal lain. Tapi Chanyeol tidak. Ia akan menuntut Baekhyun untuk bercerita hingga Chanyeol puas. Terkadang hal itu menyebalkan. Tapi hari ini Baekhyun tidak merasa begitu. Karenanya, alih-alih memaksa Chanyeol untuk membicarakan hal lain, Baekhyun menyerah dan menjawab pertanyaan Chanyeol setenang mungkin.
"Ayah dan Ibuku bertengkar"
"Ini pertama kalinya"
"Kau pergi begitu saja?"
"Ya"
"Mereka mungkin khawatir. Sudah hubungi mereka?"
"Aku tidak mau pulang."
"Aku tidak menyuruhmu pulang. Aku menyuruhmu menghubungi mereka"
"Tidak mau"
"Baiklah. Lalu apa maumu? Kau mau kemana?"
"Tidak tahu"
"Kita pulang ke rumahku saja ya?"
"Tidak mau. Ayahmu pasti bertanya macam-macam padaku"
"Kyungsoo?"
"Dia sedang sibuk"
"Lalu kau mau kemana?"
"Ke perpustakaan saja ya? Kau mau menemaniku kan?"
"Tentu saja"
Karena saat itu hampir tengah malam, mereka pergi ke Perpustakaan Universitas Hanyang yang buka selama 24 jam. Untungnya tidak banyak orang saat itu sehingga Chanyeol dan Baekhyun dapat sesekali mengobrol tanpa mengganggu siapapun. Baekhyun sudah membuka buku latihan soalnya sementara Chanyeol hanya duduk di seberang dan memandanginya. Beberapa kali Baekhyun merasa terganggu dan menutup bukunya hanya untuk mendesiskan jangan-memandangiku pada Chanyeol. Tapi yang disebut belakangan hanya tergelak geli dan mengganti posisinya untuk terus memandangi gadis mungilnya.
Sekitar pukul 3 dini hari, kepala Baekhyun sudah terkulai diatas meja, dan Chanyeol telah memindahkan tempat duduknya persis di samping Baekhyun. Chanyeol meletakkan kepala menghadap Baekhyun, memperhatikan wajahnya yang mungil. Matanya yang sipit terpejam dengan tenang. Hidungnya masih merah, dan masih ada sisa-sisa ingus di ujungnya. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka. Baekhyun selalu terlihat cantik. Bahkan saat ia menangis seperti tadi, Baekhyun tetap terlihat bersinar, bukan sinar yang menyilaukan, tapi yang dipancarkan dengan indah, hangat.
Baekhyun belum tidur. Ia hanya menyandarkan kepalanya karena kelelahan. Dan memejamkan matanya karena pusing sehabis menangis tidak karuan tadi. Baekhyun merasakan nafas Chanyeol yang hangat di depan wajahnya, tapi ia diam saja. Saat tangan Chanyeol tengah merapikan poninya yang berantakan, menyisirnya dengan lembut dan meletakkannya di belakang telinganya, darah Baekhyun berdesir. Jantungnya yang sudah tidak bisa ia kontrol sejak tadi, berdegup semakin cepat. Baekhyun membuka matanya. Tangan Chanyeol berhenti bergerak di udara, tidak menyangka bahwa gadis mungilnya belum terlelap. Jarak mereka terlalu dekat hingga Chanyeol bisa melihat bulu mata Baekhyun yang melentik ke atas, bahkan Chanyeol bisa melihat bintik hitam kecil di atas bibir tipis Baekhyun dengan sangat jelas. Mata Baekhyun yang coklat menelannya bulat-bulat, membuatnya lupa bagaimana cara bernafas.
"Bagaimana kalau kita pacaran saja?" Baekhyun berbisik.
Dan tanpa menunggu jawaban, atau bahkan kedipan mata dari lelaki besarnya, Baekhyun menciumnya.
o
o
o
-to be continued-
Yeay! Fourth painting ini diupdate barengan sama sunbaenim tercinta, parkayoung_ silakan diintip juga yah :))
Daaan, Bi mau ucapin makasih banyak buat yang selama ini udah mau baca dan review peeping girl! Karena ini ff pertama Bi, rasanya seneng banget setiap ada notif masuk di email XD Makasih yaaaa ㅋㅋㅋㅋ xoxo
