Mendorong tubuh pria yang berjarak hanya tiga senti dari tubuhnya menjauh menggunakan seluruh tenaga yang terisa. Sasuke tidak yakin apa daya ingatnya melemah karena sakit, atau memang mereka pernah bertemu sebelumnya. Karena sejujurnya ia merasa tidak begitu asing dengan sorot mata pria tersebut.

"Kau salah satu ilmuwan FMIS Corp?" Iris hitam mengamati jas putih yang di kenakan pria itu, dengan mata sedikit terpejam menahan rasa sakit di kepalanya ketika mencoba untuk duduk dan bersandar pada bantal. "Untuk saat ini aku tidak yakin mengenalmu."

Pria itu tidak merespon. Hanya tersenyum tipis saat hendak kembali mendekat, tetapi tatapan tajam dari Sasuke membuatnya mundur perlahan.

"Sebaiknya kau pergi, aku tidak ingin membahas pekerjaan saat ini," tegas Sasuke langsung pada inti, yang juga terdengar seperti sebuah perintah. Iris hitam memperhatikan sekelilingnya, mengernyit bingung mengingat semalam masih berada di dalam lab, bukan rumah sakit.

"Apa ..., kau ..., baik ..., baik ..., saja?"

Sasuke menoleh bingung. Diam untuk beberapa detik sebelum memajukan tubuhnya, iris hitam memperhatikan pria dihadapannya dengan seksama. Tidak ada yang salah menurutnya, pria itu terlihat sehat dan baik-baik saja, hanya saja suaranya terdengar seperti kaset rusak.

Kembali bersandar pada bantal menyamankan tubuhnya, meskipun dengan hati yang ragu. Tiba-tiba saja pria itu melangkah mendekatinya.

"Glitch Detected. Glitch Detected. Glitch Detected."

"Aku ... Ingin–berte–mu–"

"Program crashed."

"Sa–su ... ke—?"

Terbelalak tidak percaya, Sasuke menaikkan sebelah alis saat melihat kelopak mata pria itu perlahan menutup, dengan asap putih tipis mengepul dari pelipis kirinya.

"N4-rt. System shutdown."

Iris hitam melirik sekilas ke arah tepi kasur yang digenggam erat oleh pria tersebut. Setelahnya tertawa pelan sambil memejamkan mata.

"Apa mematuhi perintah orang lain sulit bagimu? Memalukan sekali, seharusnya aku bisa mengenalimu sejak awal."

.

Menekan tombol lift tidak sabar, raut wajah Sakura tampak begitu khawatir. Tangannya bergetar, sepasang matanya berkaca-kaca, terlihat ingin menangis karena merasa sangat bersalah. Bahkan Neji yang memanggil namanya berulang kali tidak dihiraukan. Hanya menggeleng cepat, sebelum berlari ke arah tangga darurat, tidak bisa menunggu lift lebih lama. Bukannya tidak peduli pada Neji, hanya saja kondisinya sedang genting saat ini.

"Tidak," gumamnya pelan. Cepat-cepat melepas sepatunya sebelum menaiki puluhan anak tangga.

"Bagaimana ini," racaunya berulang kali. "Bagaimana jika mereka menemukan N4-rt sebelum Sasuke bertemu dengannya?"

Suara terdengar sedikit serak, tenggorokannya terasa kering akibat terlalu banyak bernapas dari mulut.

"Tidak, Sasuke harus bertemu dengannya terlebih dahu—" Tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya. Alis mengeryit bingung, tubuhnya sedikit bersandar pada dinding. Merasa seperti ada hal penting yang tidak bisa diingat, tetapi tidak tahu itu apa.

"Sasuke?" ulangnya lagi, lalu pupilnya membulat sempurna.

"Benar! Sasuke!"

.

"No Glitch Detected. All Programs Functioning Normally on N4-rt."

Sasuke bersandar pada punggung kursi, tangannya yang dingin menyeka keringat yang menetes di dahi. Pandangannya sedikit kabur, merasa sangat mual dan juga pusing. Tahu akibat memaksa untuk bekerja ketika tubuhnya lemah sepertinya bukan ide yang bagus, tetapi jemarinya tidak tahan untuk tidak menyentuh humanoid di hadapannya.

"N4-rt," panggil Sasuke lemah melepas benda seperti pena berwarna silver dari genggaman tangannya.

"Sasuke?" N4-rt balik memanggil. Suaranya tidak lagi seperti kaset rusak, bariton sedikit serak berbeda dengan suara humanoid lainnya

"Tutup kepalamu," gumam Sasuke memejamkan kedua mata. Mengantuk, entah mengapa merasa nyaman saat di sebelahnya ada yang menunggu.

Menyentuh belakang kepalanya, N4-rt menemukan sebuah kotak kecil berisikan beberapa soket tersambung kabel yang tidak tertutup di sana.

"Tutup kepalamu," ucapnya meniru Sasuke.

"Tutup kepalamu," ulang Sasuke lagi. Menarik napas lalu menghembuskannya pelan. Kedua matanya masih menutup. "Tutup kepa—"

Dentuman pintu terbuka membanting dinding. Sontak Sasuke membuka matanya lebar, iris hitam menangkap sosok wanita bersurai merah muda acak-acakan berdiri di ambang pintu dengan wajah hampir menangis.

"N4-rt!" Sakura berteriak penuh rasa lega, melempar tas beserta sepatunya tidak lagi peduli, berlari untuk memeluk besi berjalan erat.

"Kau baik-baik saja? Mereka tidak menemukanmu 'kan?" Kedua tangan menyentuh pipi N4-rt yang terdiam layaknya patung, mengusapnya lembut, selayaknya berbicara pada manusia.

"Mereka?" tegas Sasuke mengamati dengan seksama.

Pupil emerald membulat sempurna, cepat-cepat melepaskan tangannya dari tubuh N4-rt untuk mundur perlahan. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, menyesali tingkah lakunya yang memalukan.

"Mereka," sahut Sakura menggantung tidak berani menatap ke arah Sasuke.

"Mereka?" ulang N4-rt melangkah mendekati Sasuke.

Sakura masih terdiam, hatinya sedikit mencelos ketika menangkap pergerakan kaki N4-rt melangkah menjauhinya. Meskipun bukan miliknya sejak awal, rasa kehilangan itu cukup membekas di hati.

"Wartawan dan jurnalis."

Suara bariton khas pria terdengar dari arah pintu. Semuanya menoleh, kecuali N4-rt. Neji berdiri di ambang pintu, lagi-lagi memperlihatkan raut wajah tidak senang saat melangkah mendekat ke arah mereka.

Entah mengapa Sakura merasa sorot iris lavender itu membuatnya terpojok tanpa sebab, sedangkan Sasuke tidak bergeming dari posisinya, seakan sengaja menunggu Neji untuk berbicara lebih banyak.

"Kau sudah merencanakan ini sejak awal Haruno?" Neji bertanya, suaranya terdengar sangat rendah.

Sakura menunduk lebih dalam, hingga bisa melihat luka lecet di kakinya yang memerah. Jantungnya berdetak cepat. Seorang diri saat ini, tidak ada Shikamaru di sebelahnya yang bisa membantu, sangat ketakutan.

Neji mengacungkan jarinya ke arah N4-rt. Namun tidak memalingkan pandangannya dari Sakura. "Kau tahu apa akibatnya jika mereka menemukan barang rongsok ini? Bukan hanya Sasuke, tetapi mereka akan memin—"

"Tutup mulutmu, dan Sakura, kembali ke kantor." sela Sasuke bangkit dari atas kursi. Iris hitamnya menatap tajam ketika bertatapan langsung dengan iris lavender.

"Apa kau bilang?" Neji menatap Sasuke. Alis mengernyit tidak percaya, untuk pertama kalinya Sasuke berbicara kasar padanya.

Tidak memedulikan Neji yang menatapnya meminta penjelasan, Sasuke menghidupkan layar ponselnya. "Aku pulang hari ini, siapkan mobil dan pastikan tidak ada satu pun wartawan atau jurnalis yang melihatku," ucapnya pada seseorang melalui telepon.

Sakura segera memungut sepatu dan tas miliknya yang tergeletak di lantai. Tidak ingin terlibat lebih jauh, dan sempat menoleh ke arah N4-rt untuk tersenyum tipis sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan bercat putih.

"Kau tahu?" ucap Sasuke berbalik memunggungi Neji, melangkah ke arah pintu diikuti N4-rt di belakangnya. "Programnya mungkin belum sempurna."

Tanpa harus menyebutkan nama, Neji sudah tahu ke mana arah maksud sahabatnya.

"Bukan berarti, kau bisa menyebutnya barang rongsok."

Neji membuka mulutnya, tetapi tidak ada satu patah kata pun yang terlontar. Sasuke di hadapannya saat ini, bukan Sasuke sahabatnya yang dikenalnya dengan baik. Mengepalkan tangan erat, hanya bisa diam membiarkan Sasuke pergi bersama N4-rt meninggalkannya, tidak lagi berniat untuk mencegah.

.

Berdiri di dalam tabung kaca berwarna putih transparan. Sepasang Iris biru mengamati satu persatu kabel yang tersambung ke dalam beberapa soket di bagian tubuhnya yang terbuka. Kali ini tampilannya terlihat seperti humanoid sungguhan, bukannya manusia.

Sasuke berada di sampingnya, wajahnya masih terlihat pucat. Jemari tidak berhenti mengetik di atas keyboard layar sentuh yang dihiasi garis hijau menyala di tepinya. Iris hitam tertuju hanya ke arah layar monitor, menggabungkan satu-persatu formula baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Sudah hampir 7 jam lamanya mereka berada di posisi yang sama, di dalam ruang kerja merangkup lab pribadi di rumah.

Sasuke bergumam tidak jelas, bersandar pada punggung kursi seraya membaca campuran formula di layar monitor yang menurutnya sudah hampir sempurna.

"N4-rt," panggilnya. "Aku bukannya menjadikanmu bahan percobaan." Bangkit dari atas kursi, melangkah pelan mendekati tabung, menggeser pintu kaca, merogoh saku jas lab yang dikenakan untuk mengambil sebuah benda seperti pena berwarna silver.

N4-rt memperhatikan Sasuke di hadapannya, tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak banyak karena kabel yang menahan tubuhnya.

"Formula ini baru, aku tidak pernah menggunakannya sebelumnya, dan aku tidak tau apa yang akan terjadi padamu nanti." Me-laser baja di dada kiri N4-rt, menarik besinya hingga tidak lagi menempel pada baja yang lain. Memotong sebuah lapisan besi tipis di sana, lalu mencabut sebuah benda berukuran tipis kecil berwarna hijau di dalamnya menggunakan magnet.

Kelopak mata N4-rt menutup perlahan.

Memastikan jika humanoid di hadapannya tidak lagi hidup. Sasuke melangkah ke arah lemari kaca yang terletak di sudut ruangan. Membuka kuncinya untuk mengambil sebuah benda persegi berwarna silver dengan garis hitam di sekelilingnya berukuran hanya satu senti dari dalam kotak berwarna hitam.

"Bertahun-tahun menyimpanmu di dalam sana, akhirnya aku tahu untuk apa fungsimu sekarang," katanya.

Persegi kecil diletakkan ke dalam sebuah alat yang tersambung dengan komputer miliknya. Menekan tombol di dalam tabung secara berurut, lalu menunggu hingga bar yang ada pada layar monitornya penuh.

Beberapa jam setelah itu. Menyingkap lengan jas, dan memasang persegi silver dengan garis hitam di sekelilingnya ke dalam kotak yang berada di dada kiri N4-rt.

Kelopak mata si humanoid terbuka. Iris biru dipamerkan untuk menatap datar Sasuke yang tersenyum puas.

"Namamu Naruto," ucap Sasuke datar. Iris hitam menatap lekat. "Humanoid tiruan manusia paling sempurna. Kau tidak berbeda dengan manusia lainnya. Tidak ada yang boleh mengetahui identitas aslimu."

"Namaku Naruto," ulang Naruto datar. "Humanoid tiruan manusia paling sempurna. Aku tidak berbeda dengan manusia lainnya. Tidak ada yang boleh mengetahui identitas asliku."

Sasuke kembali ke atas kursinya sambil memejamkan kedua mata. Menunggu dengan sengaja, untuk Naruto menyelesaikan kalimatnya.

"Dan aku, milik Uchiha Sasuke."

.

Ruangan dengan meja-meja yang semula kosong kini mulai terpenuhi oleh beberapa rekan kerjanya. Sakura menoleh ke kiri dan kanan, lalu melirik ke arah jam yang mengantung di dinding. Jarum pendeknya menunjuk ke angka tujuh. Mengernyit sesaat, lalu mencolek lengan Shikamaru pelan, mendekat untuk berbisik.

"Kau tahu kenapa alasan Sasuke meminta kita untuk berkumpul sepagi ini?"

Shikamaru menggeleng, wajahnya tampak lelah, bahkan terlihat tidak rela membuang suaranya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan wanita di sebelahnya.

"Tidak biasanya, bukan? Apa mungkin Sasuke ingin membuat humanoid yang baru?" gumam Sakura pelan. Mengetuk jemarinya ke atas meja, lalu menaikkan sebelah alis.

Pintu terbuka, ruangan yang semula ramai menjadi hening.

Sasuke menggunakan jas putih dengan lambang bertuliskan FMIS di dada sebelah kiri melangkah masuk, sedangkan N4-rt di belakang terlihat diam mengikuti.

Sakura membuka mata lebar-lebar. Ingin membuka mulutnya, tetapi Sasuke sudah lebih dahulu menatapnya tajam, seakan memberi kode untuk tetap menutup mulut hingga mereka selesai berbicara. Tidak kehabisan akal, mencubit paha Shikamaru yang saat ini sedang tertidur pulas di atas kursinya, hingga terbangun dengan teriakan cukup keras, adalah hal yang dirasa benar olehnya.

"Apa kau gila?!" Shikamaru berteriak, meskipun detik berikutnya menoleh ke kiri dan ke kanan malu saat seluruh pasang mata yang ada di dalam ruangan tertuju padanya, bahkan Sakura ikut menatap ke arahnya seakan-akan tidak bersalah.

"M-maaf," ucap Shikamaru pelan.

"Kau tidak seharusnya tertidur saat bekerja," tegur Sasuke.

Shikamaru mengangguk pelan, sedangkan Sakura menunduk dalam, tidak menyesali perbuatannya. Namun menunduk karena menahan tawa.

"Kenapa kau lakukan itu?" bisik Shikamaru, memastikan volume suaranya sangat pelan, meskipun masih terdengar kesal.

"Aku hanya ingin membangunkanmu, lihat siapa yang berada di belakang Sasuke," sahut Sakura, suaranya tidak kalah pelan.

Shikamaru melirik, mengamati sosok yang berada di belakang Sasuke sekilas sebelum kembali menatap Sakura. "N4-rt?"

Sakura mengangguk dengan senyuman lebar. "Kenapa Sasuke membawa N4-rt ke si—"

Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, Sasuke memotong dengan suara lantang.

"Mulai saat ini Naruto akan bergabung dengan kalian."

"Apa? Naruto katanya? Siapa?" Sakura tersenyum lebar menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan. Meskipun sesungguhnya ragu dengan maksud Sasuke, hingga membuat wajahnya tampak bodoh.

"Namaku Naruto, senang berkenalan dengan kalian."

Seisi ruangan tersenyum dan membalas sapaan dengan ramah, saat Naruto memperkenalkan dirinya dengan senyum sumringah, bahkan Sasuke tersenyum tipis melihat reaksi yang diberikan oleh anak buahnya, tetapi tidak bagi Sakura, senyum yang ada di bibirnya perlahan memudar. Ia menoleh bergantian ke arah Naruto dan Sasuke, lalu berhenti ketika Shikamaru menatap ke arahnya.

"Eh?"

.

Neji tidak menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat tidak senang saat menatap Naruto yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, tepat di sebelah Sasuke. Hari ini ia diminta untuk datang, begitu juga dengan Sakura dan Shikamaru yang kini duduk persis di sebelahnya.

"Kenapa kau memanggilku ke sini?" tanya Neji. Suaranya terdengar datar, meskipun sesungguhnya masih merasa tidak nyaman karena pertengkaran mereka kemarin.

Sakura dan Shikamaru saling menatap, mulut mereka mengatup rapat, suasana tegang membuat mereka tidak tahu harus bicara apa.

"Aku ingin kalian merahasiakan status N4-rt yang sesungguhnya. Mulai saat ini dia akan membaur di antara kalian, layaknya manusia biasa," jelas Sasuke, bersandar pada punggung kursi.

Sakura membuka mulutnya. "Maksudmu tidak ada yang boleh tahu jika sebenarnya N4-rt adalah humanoid?"

Naruto yang berada di sebelah Sasuke menoleh ke arah Sakura, menatap datar wanita berparas cantik dengan surai seperti gulali.

"Apa maksudmu? Hal seperti itu dilarang, itu ilegal jika kau tidak mempunyai alasan tertentu," sela Neji tidak setuju.

Sasuke diam, iris hitam menatap ke arah Neji seakan mempersilakan sahabatnya berbicara lebih banyak.

"Jika publik mengetahui hal ini, seluruh kerja keras milikmu akan hancur, mereka akan melakukan hal apa pun untuk menuntutmu, karena hal ini ilegal da—"

"Karena itu aku ingin kalian menutup mulut," potong Sasuke.

Neji bangkit dari atas sofa, melangkah ke arah jendela tanpa membuka mulutnya, sedangkan Sakura membalas tatapan Naruto, iris emerald menatap sambil tersenyum lembut, sebelum beralih pada Shikamaru.

Hening menyelimuti ruang kerja Sasuke cukup lama. Bahkan suara detik jarum jam, dan pendingin ruangan seakan mencoba mendominasi.

Shikamaru yang mulanya hanya duduk diam tanpa berkata sepatah kata pun tiba-tiba saja bangkit dari atas sofa, untuk melangkah menghampiri Sasuke. "Aku membutuhkan pekerjaan ini ..., karena itu," ada jeda sesaat, "Aku akan menutup mulutku."

Sakura terbelalak tidak percaya. Namun detik berikutnya cepat-cepat bangkit dari atas kursi dan menghampiri Shikamaru. Iris emerald melirik sekilas ke arah Naruto sebelum bibirnya mengucap, "Aku juga membutuhkan pekerjaan ini! Aku membutuhkan uang untuk hidup."

Neji menoleh, menatap tajam ke arah kedua anak buahnya dengan alis mengernyit tidak percaya. "Sasuke tidak mengancam kalian."

Tahu jika kalimat Neji benar, tetapi Shikamaru memilih untuk tidak merespon. Membungkuk sopan pada Sasuke dan Neji tanda pertemuan telah usai, Sakura juga mengikuti tindakannya, sebelum mereka melangkah ke luar ruangan beriringan.

Neji mendongak kesal, menatap langit-langit ruangan lalu beralih menatap pria bersurai hitam yang kini menatap balik ke arahnya.

"Sasuke," panggilnya dengan nada rendah. "Kau akan menghancurkan semuanya."

"Berpikirlah positif untuk sesaat Neji," sahut Sasuke bangkit dari atas kursi. "Aku juga tidak bodoh, kau pikir aku siapa? Melakukan hal yang nantinya akan menghancurkan diriku sendiri tanpa dipikirkan?"

"Bagaimana dengan keluargamu?" Neji melangkah mendekat. "Fugaku? Mikoto? Itachi? Bagaimana dengan mereka?"

"Itu urusanku," Sasuke menjawab. "Kau tidak perlu membuang waktu untuk memikirkan mereka."

"Aku ..., aku hanya tidak ingin melihatmu terluka."

Mereka saling menatap. Namun tidak lama, karena Sasuke beralih menatap lengannya yang kini digenggam erat oleh Neji.

"Kalau begitu bantu aku," jawab Sasuke cepat. "Tutup mulutmu, itu tidak sulit."

"Tapi Sasu—" Neji mencoba mendesak, tetapi perkataannya terpotong. Ia menoleh ke sisi kirinya, ada Naruto di sana, menarik lengannya cukup keras.

"Kau sudah mendengarkan semuanya. Aku yakin kau mengerti maksud perkataan Sasuke. Kau pintar, Neji. Ini semua mudah bagimu." Iris biru Naruto menatap datar. perlahan, melepaskan lengan Neji dari genggaman tangannya.

Neji lagi-lagi hanya bisa diam, menatap kepergian mereka dengan alis mengernyit. Humanoid yang tidak bertingkah selayaknya humanoid. Program yang berbeda dari humanoid lainnya, suara yang berbeda dari humanoid lainnya, bentuk yang berbeda dari humanoid lainnya. Belum pernah seumur hidupnya melihat Sasuke menciptakan humanoid yang terasa begitu menyerupai manusia hingga membuatnya kehabisan kata.

.

Cangkir kopi diletakkan di atas meja, Sakura melangkah mendekati jendela untuk menatap beberapa mobil lalu-lalang di halaman parkir belakang gedung. Shikamaru duduk tidak jauh dari tempatnya. Namun tidak mengatakan sepatah kata pun.

"Shika," panggil Sakura, "kenapa tadi kau lakukan itu? Aku tahu kau tidak begitu membutuhkan pekerjaan ini. Kau selalu mengeluh tentang bagaimana lelahnya pekerjaan ini, lalu kenapa kau berbohong?"

Shikamaru menoleh, bersandar pada punggung kursi sebelum membuka mulutnya. "Karena aku tahu kau menginginkannya, tetapi kau takut."

Sakura menunduk malu mendengar jawaban yang telinganya dengar.

"Sejak awal, menjadikan N4-rt sebagai pendamping Sasuke adalah tujuanmu bukan? Aku sudah tahu hal itu, Sakura. Tidak perlu disembunyikan lagi. Kau sudah bekerja sangat keras hingga Sasuke menyukai hasil jerih payahmu, bahkan dia menginginkan N4-rt hidup layaknya manusia biasa, tetapi," ada jeda sesaat, "kau takut."

"Aku pecundang ..., pecundang yang sangat payah," ujar Sakura pelan, tersenyum lirih. "Aku menginginkannya. Aku ingin N4-rt hidup layaknya manusia biasa. Iya itu benar! Aku sangat senang saat Sasuke bilang dia ingin kita menutup mulut dan membiarkan N4-rt hidup layaknya manusia biasa, membaur di antara kita." Menggunakan telapak tangan, cepat-cepat menghapus air matanya yang mulai menetes. "Hanya saja aku takut! Bagaimana jika suatu saat nanti apa yang dikatakan oleh Neji akan menjadi kenyataan, dan aku mulai ragu."

Shikamaru menatap lembut sosok wanita yang memunggunginya saat ini. "Karena itu aku membantumu, aku mencoba meyakinkanmu. Sakura, Sasuke tahu apa yang dia lakukan, sebab atau akibatnya," ada jeda sesaat, "Sasuke tidak bodoh."

"Kau benar Shika, aku mungkin bodoh sudah meragukan Sasuke." Ia kembali menunduk, menatap ke arah lahan parkir belakang gedung.

Iris emerald membulat sesaat lalu melembut di detik berikutnya, ketika menangkap dua sosok pria yang dikenalnya melangkah beriringan ke arah mobil berwarna hitam.

.

Merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sasuke merasa sangat lelah, istirahat yang kurang dan kondisi tubuhnya yang masih lemah membuatnya sedikit sulit untuk bekerja dengan maksimal, sedangkan Naruto, sesegera mungkin melangkah mendekati tabung dengan LED berwarna biru di sekelilingnya yang terletak di ujung ruangan. Melepaskan pakaian yang dikenakan sebelum membuka pintu tabung.

"Energi?" Sasuke mengantuk, ruangan hening bersuhu sejuk membuatnya entah sejak kapan merasa sofa di ruang kerja terasa sangat nyaman.

"10," sahut Naruto. Jemarinya menarik beberapa kabel berwarna putih dari sudut tabung untuk dipasang ke dalam tubuhnya.

Alat berwarna hitam, bentuk lingkaran dengan layar yang terletak di sebelah tabung mulai berkedip ketika seluruh kabel tersambung, layarnya menunjukkan beberapa angka dan formula yang berubah-ubah setiap detiknya.

Sasuke kembali membuka mata untuk melihat jam yang mengantung di dinding. Jarum pendeknya menunjukan ke arah angka satu sedangkan jarum panjangnya ke arah angka enam.

"Tersisa 10 persen dalam waktu 15 jam. Tidak terlalu buruk untuk ukuran humanoid sepertimu," gumamnya pelan.

"Apa aku harus terus melakukan ini?" tanya Naruto dari dalam tabung, menatap datar ke arah Sasuke yang berada tidak jauh dari tempatnya.

"Hanya untuk 3 hari, bersabarlah sedikit," sahut Sasuke, "saat ini, anggap saja kau seperti ponsel. Semakin sering kau bekerja, akan semakin cepat baterainya habis."

Naruto menoleh ke arah dada sebelah kirinya, menatap kulit sintetis yang terbuka menutupi bongkahan titanium dan beberapa kabel berwarna hitam di dalam sana. "Sasuke, aku ingin tersenyum dan tertawa."

"Kau sudah tersenyum dan tertawa hari ini," sahut Sasuke. Masih dalam posisi yang sama, menggunakan kedua lengannya sebagai bantal penyangga. "Itu sudah cukup."

Iris biru menatap dari balik tabung, menunggu pria bersurai hitam menoleh ke arahnya. "Aku ingin tersenyum dan tertawa lebih banyak."

"Aku sengaja memprogammu seperti itu," balas Sasuke. Merasa terganggu oleh ocehan Naruto, berbalik ke arah samping, dengan sengaja memunggungi.

"Aku tidak sepertimu, dan aku tidak pernah ingin menjadi sepertimu."

Sepasang kelopak mata Sasuke terbuka, untuk balik menatap tajam. "Apa maksudmu?"

"Kau tidak pernah tertawa. Wajahmu selalu terlihat dingin dan kaku," sahut Naruto datar.

"Naruto, kau—" Kalimat terpotong memang sengaja. Menarik napas dalam, tahu jika hanya membuang tenaga berdebat dengan sosok di hadapannya.

"Jangan membuatku menyesal dan mematikan programmu lalu membuangnya ke peleburan."

"Aku hanya ingin menjadi seperti manusia lainnya." Tangan mencoba meraih wajah Sasuke. Namun kabel-kabel yang tersambung di tubuhnya menahan untuk bergerak. "Aku ingin tersenyum dan tertawa, agar aku bisa mengajakmu tersenyum, dan tertawa juga bersamaku."

Sepasang iris mereka saling menatap, cukup lama hingga Sasuke memalingkan wajahnya.

"Si brengsek ini," rutuknya pelan. Menepis tangan Naruto menjauh dari hadapannya, merogoh saku jas, mengambil alat laser dari dalam sana.

Naruto hanya bisa mengamati dengan seksama. Iris biru tidak lepas memandangi tangan pria bersurai hitam di hadapannya yang saat ini me-laser bagian dada kiri persis di bawah kabel yang kini tersambung pada tubuhnya. Menarik besinya hingga tidak lagi menempel pada baja yang lain, lalu mencabut dengan kasar benda berwarna hijau berukuran micro yang tertanam di sana menggunakan jemari, beberapa detik setelahnya tidak tahu lagi apa yang terjadi, pandangan mata menggelap sempurna.

.

Sakura menguap lebar. Dari arah pintu melangkah terhuyung ke arah meja. Menyapa Shikamaru tidak semangat saat meletakkan tas dan cangkir kopinya. "Pagi-pagi sekali kau sudah ada di sini."

Shikamaru meraih cangkir kopi milik Sakura, menyesapnya tanpa dipersilakan. "Aku tidak pulang."

"Hey itu milikku," protes Sakura pelan, meskipun sesungguhnya tidak punya tenaga sama sekali untuk bertengkar.

"Aku sangat lelah," sahut Shikamaru meneguk lebih banyak.

Sakura menghela napas. Mengangguk, sebelum meletakkan kepalanya ke atas meja, tidak lagi peduli dengan kopi.

Mereka menyamankan tubuh sesuai dengan caranya masing-masing, di dalam ruang kerja bersuhu dingin dan tenang. Hampir tertidur dengan lelap jika saja pintu ruangan tidak membanting dinding cukup keras.

"Huh?"

Sakura mengerjapkan kedua mata, sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, sedangkan Shikamaru masih bersusah payah untuk mengangkat kepala dari atas meja.

"Naruto?"

"Aku membawakan kalian kopi dan sarapan." Melangkah mendekat, tangan kiri dan kanan penuh oleh dua cangkir kopi hitam dan kardus donat ukuran sedang. "Sasuke bilang, mulai sekarang aku akan masuk ke dalam kelompok kalian."

Sakura hanya bisa tertawa tertahan sambil menyikut Shikamaru berulang kali, ketika Naruto tersenyum lebar ke arah mereka.

.

Dua cangkir kopi yang semula panas, kini menjadi dingin sesuai suhu ruangan. Entah sejak kapan kedua ilmuwan asli itu hanya diam, saling menatap, dan tidak berbicara, sedangkan ilmuwan palsu yang sebenarnya humanoid di hadapan mereka, dengan santainya membaca catatan dalam sebuah buku bersampul hijau milik Shikamaru, yang didapatnya dari tumpukan kertas di sudut meja.

"Ini tidak begitu sulit," ujar Naruto. Iris biru bergerak cepat dari kiri ke kanan, hanya perlu waktu selama 3 detik untuk memahami ratusan formula yang ditulis dengan tinta hitam, sebelum membalik lembaran kertas ke halaman berikutnya.

Sakura mengernyit heran melihat pemandangan di depannya, tersenyum meskipun terlihat sangat kaku, terlihat tidak ingin meski dipaksa. "B-benarkah? Shikamaru membutuhkan waktu selama enam bulan untuk memahami formula-formula itu, dan aku ..., satu tahun."

"Apa ada buku yang lain? Sasuke bilang aku harus belajar banyak dari kalian." Tidak menggubris pertanyaan Sakura, Naruto menutup buku, iris biru menatap lurus.

Lagi, Sakura dan Shikamaru hanya bisa saling menatap untuk beberapa saat bingung, sebelum merespon pertanyaan yang diajukan.

"Kami ..., maksudku para ilmuwan di perusahaan ini menyimpan seluruh catatan di dalam ruang berkas, kau bisa mempelajari formula apa pun di sana," jelas Sakura.

"Ruang berkas terletak di lorong timur sebelah kiri," timpal Shikamaru.

Naruto mengangguk, bangkit dari atas kursi melangkah ke arah pintu. Namun belum sempat jemarinya meraih knop, Sakura menyusulnya untuk menghalangi.

"Naruto tunggu! Aku akan menemanimu," ujar Sakura, "Sasuke berharap banyak pada kami, bukan? Karena itu kami akan mengajarimu berbagai macam hal sesuai keinginannya."

Bahkan Shikamaru yang semula duduk di atas kursi, juga ikut menghampiri mereka. "Aku akan menemani kalian."

Sakura dan Naruto menoleh secara bersamaan. Iris emerald menatap tidak percaya, sedangkan iris biru menatap datar.

"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Shikamaru, mengernyit tidak nyaman.

"Apa kau sedang tidak sehat?" ujar Sakura, sebisa mungkin menahan untuk tidak tertawa. "Tidak biasanya, kau setuju dengan apa yang akan kulakukan secepat itu."

"Aku tidak memaksamu untuk ikut Shika," timpal Naruto.

"Aku hanya tidak ingin kalian merusak ruang berkas!" ujar Shikamaru melangkah ke luar ruangan, meninggalkan Sakura dan Naruto di belakang.

"Dia hanya bergurau, Naruto. Aku tahu sebenarnya dia peduli padamu, jadi jangan di pikirkan," ujar Sakura.

"Aku tahu," sahut Naruto, sudut bibirnya terangkat membentuk tersenyum tipis.

Sakura ikut tersenyum tipis. Mereka melangkah mengikuti Shikamaru menyusuri koridor yang dihiasi travelator di sisi kanan.

Beberapa ilmuwan yang kebetulan berpapasan melempar senyum sumringah ke arah mereka. Entah pria atau wanita, Naruto selalu membalas senyuman mereka, tidak kalah sumringah. Bahkan Sakura yang diam-diam memperhatikan, merasa cukup takjub melihat perkembangan Naruto. Jika tidak tahu ada mesin yang diprogram oleh Sasuke dibalik kulit sintetis itu, mungkin juga akan menganggap Naruto selayaknya manusia biasa.

"Naruto," panggil Shikamaru dari ambang pintu ruang berkas. "Semua catatan yang kau butuhkan ada di sini. Kau bisa membaca semuanya, kecuali catatan yang ada di dalam lemari kaca ujung kanan."

"Catatan di dalam lemari?" tegas Naruto.

"Itu milik Neji," jawab Sakura, melangkah mendekat. "Aku tidak tahu dengan apa Sasuke memprogrammu karena aku belum pernah melihat humanoid sepertimu sebelumnya, tetapi kau sangat jenius Naruto. Hanya dalam beberapa detik saja kau pasti bisa mengusai ilmu yang dimiliki Neji, dan kurasa dia tidak akan senang akan hal itu."

"Aku humanoid? Apa maksudmu?" tanya Naruto, mengernyit tidak paham.

Sakura menggaruk belakang kepalanya, sebelum menoleh ke arah Shikamaru sambil mengernyit bingung.

"Tidak apa-apa Sakura, mungkin itu salah satu bagian dari programnya. Bukankah Sasuke tidak ingin ada yang mengetahui jika Naruto itu humanoid?" bisik Shikamaru pelan, yang ditanggapi Sakura dengan anggukan pelan.

"Lagipula Naruto, Neji menggunakan alat pemindai sebagai kunci, kau tidak akan bisa membukanya," lanjut Shikamaru.

"Itu benar, Neji adalah tipe yang sangat berhati-hati jika itu menyangkut dengan pekerjaannya," sahut Sakura, melangkah ke dalam ruangan diikuti Naruto dan Shikamaru di belakang.

Jemari Naruto meraih salah satu buku catatan bersampul hitam yang didapatkan dari salah satu rak besi. Membacanya selama beberapa detik lalu meletakkannya kembali. "Alat pemindai bukan masalah bagiku. Aku bisa membukanya."

Pernyataan humanoid bersurai pirang itu membuat Shikamaru dan Sakura menoleh kaget.

"Yang benar? Kau pasti bercanda Naruto." Sakura tertawa meremehkan, meskipun sebenarnya merasa curiga jika humanoid di sampingnya benar-benar bisa membuktikannya.

"Sasuke memberitahuku beberapa hal yang tidak diketahui oleh kalian," sahut Naruto, dengan penekanan di akhir kalimat.

Sakura, dan Shikamaru terdiam, saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik.

"Naruto, uh ..., kau tidak serius akan melakukannya 'kan?" tegas Sakura. Meskipun tidak menyukai Neji, tetap tidak ingin Naruto berada dalam masalah, tetapi belum mendapat respon, tiba-tiba saja Shikamaru di sebelahnya melangkah mendekati Naruto.

"Apa kau benar-benar bisa melakukannya?" tanya Shikamaru, yang ditanggapi Naruto dengan anggukan. "Kalau begitu, apa kau bisa memberikanku salinan dari buku catatan milik Neji setelah kau membacanya?"

"Tentu," sahut Naruto cepat.

"Shikamaru! Kenapa kau meminta Naruto melakukan hal seperti itu?!" bentak Sakura.

"Ayolah Sakura, apa kau tidak ingin melihat seperti apa buku catatan milik Neji? Meskipun kau ahli dalam bidang outer setidaknya menambah ilmu dalam bidang lain bukan hal yang buruk? Aku yakin Naruto bisa melakukannya, Sasuke pasti melakukan sesuatu pada programnya" ujar Shikamaru balik bertanya.

Sakura diam sesaat. Terlihat berpikir, merasa perkataan shikamaru benar adanya. "Sepertinya kau benar, lagipula jika Naruto mengetahui catatan milik Neji, pria itu tidak dibutuhkan lagi di sini."

"Aku tidak peduli dengan rencanamu, aku hanya ingin melihat isi catatan milik Neji. itu saja," jelas Shikamaru, yang direspon Sakura dengan tatapan sinis.

"Baiklah, lakukan sekarang Naruto."

Jemari merobek paksa kulit sintetis di telapak tangan kirinya, Naruto membuka kotak kecil yang ada di sana. Di dalamnya ada kabel berwarna hitam, dan putih yang tersambung pada sebuah soket. Dengan sangat hati-hati mencabut kabel warna putih, menariknya melebihi panjang tangannya, untuk dipasangkan pada soket alat pemindai yang tertempel pada sisi kiri lemari tatkala memasukkan beberapa digit kode di dalam ruang berkas.

"Isi tubuhnya hanya baja, kawat penghantar arus listrik, dan mesin yang diprogram, tetapi sasuke membuatnya berpikir jika dia adalah manusia. Ironi sekali," ujar Sakura iba.

"Kau masih membahasnya?" tanya Shikamaru. "Sasuke bisa mengubah program Naruto sesuai yang dia inginkan kapan pun, dan di mana pun dia mau."

"Aku hanya takut Naruto mengalami krisis identitas. Dia tidak sama seperti humanoid-humanoid yang sebelumnya ataupun humanoid pabrikan," sahut Sakura menghela napas.

Shikamaru ikut menghela napas, melipat kedua tangannya di depan dada. "Naruto bukan manusia, Sakura. Humanoid adalah humanoid. Memori mereka bisa dihapus, atau dipalsukan, bahkan hidup dan mati mereka bisa di—"

"Access granted. Uchiha Sasuke welcome."

Lagi. Sakura, dan Shikamaru terdiam terkejut, keduanya saling menatap satu sama lain untuk sesaat.

"Dia ..., dia mengubah sistemnya? Bagaimana mungkin?" gumam Shikamaru mengernyit, tidak percaya.

"Sudah kukatakan padamu ini bukan masalah," ujar Naruto menyeringai, jemarinya meraih ketiga buku catatan tebal milik Neji yang bersampul putih, membaca lembar demi lembar, dan sepuluh menit kemudian diletakkannya buku-buku itu kembali ke tempatnya.

"Ayo," ajak Naruto, melangkah ke arah pintu.

"Jadi kau sudah selesai? Bagaimana dengan catatan yang lain?" tanya Sakura.

"Kau tidak harus terburu-buru Naruto," timpal Shikamaru.

"Aku akan kembali ke sini nanti," sahut Naruto. Melirik ke arah kulit tangannya yang terbuka, mengamatinya dengan teliti. "Aku harus kembali ke lab, Sasuke tidak akan senang melihat ini."

Paham dengan apa yang dimaksud Naruto, Sakura melangkah mendekat, menyentuh lengan kiri bersuhu dingin itu dengan senyum lembut di bibirnya. "Jangan khawatir Naruto, Sasuke tidak akan tahu. Kita akan kembali ke lab, dan aku akan membantu mengobati tanganmu yang terluka."

"Itu benar Naruto, Sakura sangat ahli dalam bidangnya," timpal Shikamaru datar.

Sakura menoleh sambil menatap tajam. "Aku tidak tahu jika kau sedang memuji atau mengejek."

Shikamaru tertawa, melangkah santai ke luar ruangan, meninggalkan Sakura dan Naruto di belakang. "Aku akan menunggu kalian di cafe."

"Cafe?" tegas Sakura.

"Apa kalian tidak lapar?" sahut Shikamaru balik bertanya. "Temui aku di cafe setelah kau selesai, aku akan menyiapkan makanan untuk kalian."

"Baiklah," ujar Sakura tersenyum lebar. "Ayo Naruto."

Mereka kembali ke dalam lab. Sakura mengumpulkan beberapa alat yang didapatkan dari lemari kaca sudut ruangan, selagi menunggu kolom bar pada layar monitor 3D dengan tampilan holographic miliknya penuh dalam beberapa detik, sedangkan Naruto menyalin catatan Neji ke dalam komputer milik Shikamaru. Lengan kirinya tidak lagi terlapisi oleh kulit sintetis, dengan sengaja dilepasnya saat Sakura memberinya laser penyobek berukuran kecil yang seingatnya hampir serupa dengan laser pena milik Sasuke.

"Naruto perlihatkan lenganmu," ujar Sakura melangkah mendekat. "Aku tahu kau bisa melakukannya sendiri, tetapi akan lebih cepat jika aku membantu, jadi kau fokus saja mengerjakan apa yang kau kerjakan."

Naruto menatap Sakura datar selama beberapa detik, sebelum bergumam mengiyakan, dan membiarkan lengannya dilapisi cairan berwarna hitam ke abu-abuan.

.

Meneguk kopi panas dari cangkir styrofoam, Shikamaru membiarkan cairan hitam, manis, dan sedikit pahit melewati tenggorokannya. Berharap rasa hangat dapat mengurangi rasa laparnya untuk beberapa saat, karena tidak akan makan kecuali Sakura dan Naruto ada di hadapannya, meskipun sejak tadi indra penciumannya digoda aroma.

"Itu Shika di sana, ayo Naruto."

Jika perutnya bisa berbicara, mungkin akan mengatakan, 'oh syukurlah' saat Sakura dan Naruto melangkah ke arahnya.

"Kau tidak makan?" Sakura mengernyit bingung.

"Apa karena kau menunggu kami?" timpal Naruto, yang direspon Sakura dengan anggukan cepat sambil tertawa geli.

"Aku ..., aku tidak lapar," sahut Shikamaru berbohong, meskipun jemarinya mulai menyendok kentang tumbuk dari mangkuknya.

Mereka mulai makan, tetapi tidak dengan Naruto yang hanya diam menatap datar ke arah mereka.

"Naruto? Kau tidak ikut makan?" tanya Sakura.

Shikamaru melirik Sakura sambil mengunyah, tatapan matanya seolah-olah berkata 'apa-yang-kau-harapkan-dia-itu-humanoid'

"Tidak," sahut Naruto singkat.

Sakura mengernyit bingung. "Kau juga tidak ingin minum? Apa kau tidak menyukai makanan ini? Kau mau beli makanan yang lainnya? Atau mungkin hidangan penutup sa—"

"Sakura, jangan memaksanya," potong Shikamaru. "Naruto tidak lapar, kau seharusnya sudah tau hal itu."

Sakura menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada ilmuwan lain yang menguping, atau mendengar percakapannya dengan Shikamaru saat mereka berbisik. "Kukira dia bisa makan selayaknya manusia biasa, kurasa Sasuke belum bertindak sejauh itu. Bagaimana mungkin dia bisa memprogram Naruto seperti manusia, tetapi tidak dengan detail kecil seperti makan, atau minum?"

"Humanoid tidak memiliki rasa lapar. Mereka memang tidak makan atau minum, yang mereka butuhkan hanyalah listrik. Aku yakin Sasuke tidak memprogram hal itu karena dia tidak tahu jika Naruto akan makan siang bersama kita saat ini," sahut Shikamaru.

"Jadi, maksudmu ini salahku karena mengajaknya untuk makan siang? Kalau begitu aku juga tidak mau makan!"

"Ini salah kita berdua," sahut Shikamaru.

Keduanya menoleh ke arah Naruto, lalu mereka menghela napas.

"Naruto, sepertinya aku juga tidak lapar. Aku sama sepertimu," ujar Sakura meletakkan pisau dan garpu ke atas meja, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Shikamaru bergumam, ikut juga meletakkan garpu dan pisaunya ke atas meja. "Sejak tadi aku memang tidak lapar."

Ketiganya saling menatap, lalu Sakura mengetuk jarinya ke atas meja, mencoba mencairkan suasana.

"Naruto," panggilnya pelan. "Kau tinggal bersama Sasuke saat ini, lalu apa yang Sasuke lakukan di rumah? Maksudku kebiasaannya, atau seperti apa pakaian yang dia kenakan? Atau makanan kesukaannya? A—"

"Sakura? Apa kau ini penguntit? Pertanyaan macam apa itu?" protes Shikamaru.

Sakura tertawa, berniat menjawab pertanyaan Shikamaru. Namun belum sempat membuka mulutnya, cafe yang semula ramai oleh alunan musik dan celotehan ilmuwan lainnya tiba-tiba menjadi sunyi.

"Eh?"

Seisi ruangan menoleh ke arah Sakura, bahkan Shikamaru ikut serta, tetapi bukan menatapnya, melainkan menatap seseorang yang saat ini berdiri tepat di belakangnya.

"Naruto, ikut aku."

Tanpa harus menoleh Sakura tahu siapa pemilik suara, dan tepat sesuai dugaannya, saat Naruto pergi seisi ruangan kembali dipenuhi oleh celotehan para ilmuwan yang merasa heran atas kedatangan orang nomor satu di perusahaan mereka.

"Katakan padaku ini semua hanya mimpi," ujar Sakura, membenturkan dahinya ke atas meja. "Dia tidak mungkin datang ke sini, dia tidak pernah datang ke cafe seumur hidupnya! Semua orang tahu itu."

"Sasuke datang menjemput Naruto, wajahnya terlihat sangat tidak senang. Dia juga sempat menatap tajam ke arahku, dan kau," sahut Shikamaru pelan, seraya bersandar lemas pada punggung kursi.

"Perasaanku campur aduk saat ini. Senang, tetapi juga takut," ujar Sakura menyentuh kepalanya yang terasa pening mendadak. "Sasuke terlihat sangat posesif jika itu menyangkut Naruto, dan itu berarti."

Shikamaru menatap Sakura.

"Jika kita melakukan kesalahan kecil pada Naruto, Sasuke bisa menendang kita keluar dari perusahaan ini kapan saja."

.

"Access granted. Uchiha Sasuke welcome."

Naruto tidak lagi melangkah mengikuti Sasuke. Saat pria bersurai hitam itu kembali ke komputernya, si pirang diam di tempat untuk melepas pakaiannya sebelum mendekati tabung kaca yang terletak di ujung ruangan.

"Seharusnya aku menjemputmu lebih cepat," ujar Sasuke, mengamati beberapa kabel yang secara otomatis terpasang saat Naruto berdiri di tengah tabung.

"Aku memang menunggumu sejak tadi Sasuke," sahut Naruto, tersenyum. Iris biru menatap lekat wajah pria berkulit pucat yang berjarak hanya satu meter darinya, seakan tidak ingin kehilangan detail sekecil apa pun.

"Energi dalam tubuhmu tersisa 75%, itu kemajuan yang pesat," ujar Sasuke, jemarinya yang pucat meraih sebuah amplop putih dari dalam laci meja. "Ini identitasmu Naruto. ID-card, visa, passport, dan buku tabungan beserta uang di dalamnya. Apa kau bisa menjaganya dengan baik?"

Iris biru memperhatikan dengan teliti, sebelum mengangguk cepat, tetapi saat jemarinya mencoba meraih amplop putih dari atas meja, lagi-lagi kabel yang tersambung pada tubuhnya menjadi penghalang.

"Bersabarlah sedikit, besok adalah hari terakhirmu di sana."

"Berada di dalam POD tidak buruk juga, tetapi ini membuatku sulit bergerak," sahut Naruto.

"POD? Maksudmu tabung itu?" ucap Sasuke balik bertanya.

Naruto mengangguk. "Aku memberinya nama, sama sepertimu yang telah memberikanku nama."

"Kau ini aneh," sahut Sasuke mengejek, meskipun saat bangkit dari atas kursi dan melangkah mendekati Naruto, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Kau terlihat cukup bersenang-senang hari ini."

"Sakura, dan Shikamaru mengajariku berbagai macam hal. Mereka mengajakku pergi ke cafe, dan memberikanku ..., makanan," jelasnya dengan penekanan di akhir kalimat.

"Apa kau memakannya? Kau tidak merasa lapar?"

Ada jeda sesaat. "Tidak," sahut Naruto, mengernyit bingung.

"Lalu, apa mereka mengatakan hal yang menurutmu aneh?"

Iris biru menatap Sasuke ragu. "Humanoid," gumamnya pelan. "Sakura mengira jika aku adalah humanoid, bukan manusia."

"Humanoid?" Kini iris hitam mengamati angka pada layar kecil yang terletak di pintu sebelah kiri tabung, lalu beralih menatap humanoid pria di hadapannya.

Naruto merespon dengan anggukan pelan.

"Bagaimana jika yang dikatakan Sakura itu benar," ada jeda sesaat, "kau bukan manusia, tetapi humanoid?" sahut Sasuke, balik bertanya.

Naruto hanya diam, sambil mengernyitkan dahi.

"Akan kuberikan beberapa contoh, Naruto."

Mengambil benda berupa besi yang dipipihkan dari dalam laci meja. Sasuke dengan sengaja menggores lengan kirinya, membiarkan cairan kental berwarna merah pekat menetes ke atas lantai.

"Apa kau mengeluarkan darah saat tubuhmu terluka?"

Belum sempat Naruto membuka mulut, jemari pucat membuka pintu kaca tabung, menarik paksa lengan bersuhu dingin untuk menyentuh dada kirinya.

"Apa kau memiliki jantung yang berdenyut di dalam tubuhmu?"

Naruto menggeleng. "Tidak," sahutnya menunduk, menatap seluruh tubuhnya yang tersambung pada kabel. "Aku tidak memiliki keduanya. Aku tidak memiliki tubuh yang sama seperti manusia pada umumnya."

Iris hitam kembali melirik ke arah layar kecil di pintu sebelah kiri tabung, mengamati angka yang kini mulai bertambah semakin cepat tiap detiknya.

"Humanoid," ada jeda sesaat, "aku adalah humanoid! Sasuke ..., aku ad— huma ..., Sa— noid ..., Su ..., Sa—suke?!"

"System Shutdown."

Menatap datar tubuh kaku humanoid di hadapannya, Sasuke menutup pintu tabung saat membuka mulutnya. "Aku sengaja melakukannya Naruto, aku harus membuat beberapa program lamamu rusak hanya untuk mengaktifkan sistem baru. Bukankah kau ingin menjadi manusia? Kau sudah bebas sekarang, sama seperti manusia lainnya. Kau bisa melakukan apa pun yang kau suka, tidak lagi bergantung atau membutuhkanku karena kau bisa memprogram, programmu sendiri."

"N4-rt. Self-programming complete."

"All Programs Functioning Normally on N4-rt."

Kabel yang terpasang pada tubuh Naruto terlepas secara otomatis. Kedua kelopak mata terbuka, iris biru menatap lurus ke arah Sasuke untuk beberapa detik, sebelum berlari meninggalkan tabung menghampirinya.

"Kau baik-baik saja?!" sergah Naruto, menarik paksa lengan Sasuke yang terluka, membalutnya menggunakan kain putih yang didapatkan dari sobekan jas miliknya.

Sasuke membuang muka. Menepis tangan Naruto, melangkah menjauhinya. "Kenakan pakaianmu, dan cepatlah, aku akan menunggu di mobil."

"Sasuke," panggil Naruto. Memunguti pakaian dari atas lantai selagi melangkah mendekat.

Sasuke memang tidak merespon, tetapi berhenti melangkah hanya untuk mendengar apa yang dikatakan si pirang yang saat ini berdiri tepat di belakangnya.

"Jangan melakukan hal itu lagi," kata Naruto pelan.

"Jadi kau memintaku memperlakukanmu seperti manusia?" ujar Sasuke balik bertanya. Menoleh, dengan iris hitamnya menatap lekat. "Kau ini humanoid, Naruto."

Diam tidak membalas, bibir Naruto rapat seolah menunggu Sasuke untuk menyelesaikan kalimatnya.

"Aku yang menghidupkan dan membawamu ke sini. Menyembunyikanmu dengan identitas palsu di antara ratusan manusia, yang bahkan tidak curiga sedikit pun terhadapmu."

Sasuke mengamati perubahan raut di wajah Naruto. Namun kali ini tidak lagi terlihat ekspresi terkejut ataupun bingung saat mendengar kalimatnya.

"Aku memang bukan manusia sepertimu," sahut Naruto. "Hanya humanoid yang bahkan tidak sedikit pun bisa dikatakan sempurna, tetapi melihatmu terluka membuat programku tidak bisa bekerja dengan baik. Jadi kumohon, jangan lakukan itu lagi."

Sasuke lagi-lagi tidak merespon. Hanya tersenyum puas, saat Naruto menarik tubuhnya mendekat untuk didekap erat.

.

Buku tebal bersampul merah di tangannya ditutup sebelum menoleh ke arah rak kayu yang dipenuhi oleh ratusan jenis buku di setiap sisi dinding. Hampir 7 jam lamanya Naruto terkurung di dalam ruangan seperti perpustakaan. Pria bersurai hitam pemilik rumah mengatakan jika pintu akan terbuka setelah selesai membaca seluruh buku koleksinya dan memahami sedikitnya bagaimana manusia saling berinteraksi.

Naruto tentu tidak menolak, mengangguk dengan patuh, dan melakukan hal yang pria surai hitam katakan.

"Sasuke," panggil Naruto. Namun tidak ada sahutan dari luar pintu.

Seluruh buku telah dibaca. Tugasnya sudah selesai, tetapi pria surai hitam tidak juga membuka pintunya. Iris biru melirik ke arah sudut atas ruangan, menatap dengan lekat closed-circuit television mungil berwarna hitam, dan mengajaknya berbicara selayaknya sahabat.

"Sasuke? Apa kau di sana? Tugasku sudah selesai," ujar Naruto.

Lagi-lagi tidak ada sahutan.

Menoleh ke arah pintu, berniat untuk bangkit dari atas sofa, tetapi perkataan pria surai hitam kembali terngiang di telinganya.

Kembali terdiam menunggu di atas sofa. Tubuhnya kaku, matanya tidak berkedip, dan tidak bernapas layaknya patung, meskipun pria surai hitam melarangnya melakukan hal itu berulang kali. Menurutnya bertingkah selayaknya humanoid pada umumnya tidak berpengaruh jika memang tidak ada orang lain yang melihat, lagipula pria surai hitam tahu jati dirinya yang sebenarnya

"Naik dan turunkan bahumu perlahan se-natural mungkin agar kau terlihat bernapas, kedipkan matamu, dan buat postur tubuhmu rileks agar tidak terlihat kaku," ujarnya menirukan pria surai hitam berkali-kali, hingga suara knop pintu yang diputar mengalihkan perhatiannya.

"Kerja yang bagus," ujar Sasuke datar.

Naruto secara otomatis tersenyum lebar mendengar pujian yang dilontarkan pria itu.

"Kukira kau tidak akan sabar menunggu," lanjutnya lagi, berdiri di ambang pintu menunggu si pirang melangkah ke arahnya.

"Aku ingin menghancurkan pintunya, tetapi itu akan membuatmu mengeluarkan biaya lebih," ujar Naruto.

Sasuke menoleh ke arah humanoid yang berdiri tepat di sampingnya, tampak cukup terkejut mendengar respon yang terlontar untuk sesaat. Di detik berikutnya, tertawa. "Lain kali lakukanlah hal yang kau inginkan. Tidak perlu mematuhi semua perintahku jika memang kau tidak mau melakukannya," ada jeda sesaat, "dan jika itu membutuhkan biaya, aku akan memotongnya dari tabunganmu."

"Aku akan mengingatnya." Naruto membalas diiringi tawa, kakinya melangkah pelan mengikuti Sasuke yang kini sudah lebih dahulu memasuki ruang makan. "Kopi?"

"Dua balok gula tanpa susu," sahut Sasuke cepat, meskipun sedikit ragu jika pria di hadapannya benar-benar mengerti apa yang ia inginkan.

"Penggemar manis?" Iris biru memperhatikan serbuk berwarna hitam kecoklatan, lalu beralih pada serpihan kristal kecil yang dibentuk menyerupai balok dalam sebuah jar dari kaca.

Sasuke hanya bergumam singkat, kedua matanya fokus memperhatikan si pirang meracik berbagai elemen menjadi satu ke dalam sebuah mesin dengan hasil akhir sebuah cairan beraroma kuat.

"Espresso," kata Naruto mempersilakan.

"Espresso dengan gula, bukankah itu terdengar lucu?" timpal Sasuke, menempelkan bibirnya pada cangkir, menyeruput cairan hitam pekat di dalamnya.

"Tidak ada aturan baku yang menyebutkan jika meminum espresso 'tidak boleh' menambahkan gula. Espresso bisa dinikmati dengan berbagai cara sesuai selera masing-masing, karena pada kopi, semua tergantung pada penikmatnya."

Entah sudah keberapa kalinya Sasuke tersenyum puas mendengar respon dari si pirang hari ini. Selalu melakukan semuanya sendiri tanpa ada seseorang disisinya, tentu membuatnya tidak pernah merasa berbicara sangat banyak ataupun tersenyum sesering ini hingga kedua pipinya terasa pegal dan sakit.

"Bagaimana dengan makan malam? Aku bisa membuatkanmu beberapa menu jika kau mau?" tanya Naruto.

Humanoid itu sempurna. Terlalu sempurna bagaikan manusia yang diberkati oleh mesin otak jenius yang tidak hanya membuatnya kagum, tetapi juga takut tersaingi. Bahkan kopi buatannya terasa sangat nikmat.

"Kau bisa membelikanku beberapa botol wine dan tomat? Letak tokonya cukup jauh kau mungkin membutuhkan uang lebih untuk transportasi, dan terbiasa membaur dengan manusia akan membantumu belajar lebih banyak," ujar Sasuke menunjuk ke arah rak kayu seakan mengisyaratkan si pirang untuk menoleh ke belakang.

"GPS-ku berfungsi sempurna Sasuke," sahut Naruto, memperhatikan beberapa botol wine kosong dengan nama brand yang sama. "Aku tahu di mana letak toko-toko itu, lagipula apa yang kau katakan itu benar, semakin banyak berinteraksi dengan manusia dan mengerti bagaimana kebiasaan mereka, akan menguntungkan bagiku."

Sasuke bergumam singkat, saat menyerahkan beberapa lembar uang. Namun Naruto menolaknya sambil memamerkan dompet tebal miliknya.

"Huh?" Sasuke tersenyum sinis, "kau pikir aku tidak punya uang? Lagipula dompet beserta uang yang kau gunakan itu milikku, bodoh."

"Kenapa kau harus mengeluarkan uang jika dompet beserta uangku adalah milikmu?" ujar Naruto balik bertanya. "Aku tinggal bersamamu, jadi apa pun yang kumilikki adalah milikmu juga, bukankah lebih mudah jika seperti itu?"

"Naruto, kau berbicara seolah memiliki banyak uang meskipun kau hidup karena aku membiayaimu?" ketus Sasuke. "Terserah apa yang kau inginkan, benda milikku tetap menjadi milikku. Aku tidak ingin berbagi, kau paham itu?"

"Bukan masalah, kau sudah memberikanku segalanya," sahutnya lembut, "itu lebih dari cukup."

Naruto melangkah mendekat, sengaja menjulurkan telapak tangannya seakan ingin meraih, tetapi belum sempat menyentuh surai hitam si Uchiha tangannya sudah lebih dahulu di tepis kasar oleh sang empunya.

"Naruto," panggil Sasuke.

"Hm?"

Ada jeda sesaat, "jangan lebih pintar dariku," kata Sasuke yang terdengar lebih seperti sebuah perintah.

Naruto tertawa geli, mengangguk tanda setuju seraya melambaikan tangannya ke atas sebelum melangkah meninggalkan dapur beserta pria bersurai hitam yang kini menatapnya dari arah belakang.

"Menyuruhku belajar lebih banyak, tetapi melarangku untuk menjadi lebih pintar, bukankah manusia itu mahluk yang rumit?" ada jeda sesaat, "Sasuke sangat baik, jadi itu bukan masalah bagiku," lanjutnya tersenyum lebar, melangkah pelan menyusuri trotoar.

Sesekali iris biru memperhatikan beberapa kendaraan yang lalu-lalang di jalan dengan sorot lampu sangat menyilaukan terlihat kontras dengan gelapnya warna langit, juga para manusia dengan ciri fisik, dan pakaian yang berbeda-beda berjalan kaki di seberang jalan beriringan dengannya.

Pria, wanita, remaja, anak-anak, orang tua.

Entah mengapa mereka terlihat begitu 'hidup' menurutnya. Dilihat sekilas tentu saja tidak ada yang berbeda jika dibandingkan dengan fisiknya maupun pakaian yang dikenakan. Naruto pun yakin mereka yang disebut manusia tidak akan bisa mengetahuinya secara langsung jika sebenarnya ada mesin di balik kulit sintetisnya.

Meskipun begitu, tetap saja merasa jauh berbeda.

"Kau sebut apa ini? Rasa tidak nyaman yang membuatmu ingin melakukan apa pun hanya untuk melampaui sebuah batas," gumam Naruto pelan.

.

Cangkir pertama, kedua, dan ketiga berisikan espresso buatannya disandingkan tepat di sebelah cangkir berisikan espresso buatan Naruto.

Tidak tahu apa yang salah, tetapi rasanya sangat jauh berbeda.

"Si bodoh itu membuatnya dengan apa?" ujar Sasuke heran, bersandar pada punggung kursi dengan tangan melipat di depan dada.

Saat si pirang membuatnya itu terlihat seolah-olah sangat mudah, hanya mencampur kopi ke dalam mesin, membiarkannya ter-ekstrak selama beberapa detik sebelum menuangkannya pada cangkir berserta dua balok gula, tetapi saat mencoba mempraktekanya sendiri rasanya tidak bisa sama persis.

Jika boleh jujur, Naruto berkembang begitu pesat jauh diluar ekspektasinya. Rasanya baru kemarin bertemu dengan bongkahan humanoid rongsok, dan kini humanoid itu bertingkah layaknya manusia yang bahkan mulai berani menyentuhnya.

"Kalah dengan humanoid buatanmu sendiri, cukup menyakitkan meskipun ini hal sepele," ujar Sasuke bangkit dari atas kursi.

Melangkah pelan menuju sofa yang terletak di ruang keluarga. Melepas jas lab yang dikenakan beserta dua kancing teratas kemejanya sesaat sebelum menyamankan tubuhnya di sana.

Jemari pucatnya menekan beberapa tombol pada sebuah remot. Lampu yang menerangi seluruh ruangan meredup perlahan bersamaan dengan dinding di hadapannya yang berputar 120° ke arah samping.

Tidak ada lagi dinding dengan lukisan yang membosankan, di hadapannya saat ini hanya ada televisi layar lebar beserta perangkat home theater yang entah kapan terakhir kali digunakan.

Iris hitam menatap tidak berkedip seekor anak kucing di dalam layar televisi yang sedang berguling-guling di lantai, seakan tidak ada hal yang menarik lainnya kecuali mahluk pendek penuh bulu menggemaskan, bahkan ketika pintu utama rumahnya terbuka dan suara tapak kaki terdengar jelas menghampirinya.

"Letakkan wine ke dalam rak, dan tomat ke lemari pendingin," ujar Sasuke tanpa berpaling dari layar televisi.

"Aku tidak tahu kau masih bisa bersantai seperti ini?"

Bukan Naruto.

Menoleh malas ke arah sosok yang berdiri tepat di sisi kanan belakangnya. Sasuke memperhatikan pria yang memiliki ciri fisik hampir sama menyerupai dirinya, tetapi tampak lebih tua.

"Siapa? Asisten barumu?" selidik pria itu berjalan menjauh untuk duduk di salah satu sofa.

"Mainan," sahut Sasuke asal.

Pria itu tertawa geli. "Tidak seharusnya kau memperlakukan mereka seperti asisten pribadimu. Jika kau menginginkan seseorang hanya untuk membantu lebih baik gunakan humanoid buatanmu saja, mereka memang diciptakan untuk membantu keseharian aktivitas manusia, bukan?"

"Itachi, aku hanya tahu bagaimana caranya membuat humanoid, bukan hidup bersama mereka," sahut Sasuke cepat sedatar mungkin. Merasa kalimat yang terlontar dari pria itu menyindirnya secara halus, entah disengaja atau tidak.

"Baiklah, terserahmu saja," balas Itachi, "lagipula aku ke sini hanya untuk memberikan berita penting. Mungkin kau terlalu sibuk hingga tidak menyadari jika ada sekelompok pencuri kecil di perusahaan yang berhasil meretas seluruh dokumen milikmu, juga jurnal milik Neji."

Sasuke memincingkan mata saat pria itu meletakkan sebuah chip ke atas meja, tidak tahu bukti apa yang ada di sana, tetapi yakin jika Itachi tidak akan main-main jika itu menyangkut FMIS Corp.

"Apa kau pernah memberitahu orang lain tentang kode sistem alat pemindai di perusahaan? Mereka meretas melalui alat pemindai, menggunakan kode reset yang hanya diketahui olehmu, bahkan aku tidak tahu kode reset untuk alat pemindai," jelas Itachi mengedikkan bahunya.

"Jangan bodoh!" sergah Sasuke cepat, "hanya aku yang mengetahui kode reset untuk seluruh alat pemindai di perusahaan."

Hening. Mereka hanya saling adu pandang, tidak ada yang membuka mulut saat itu.

"Baguslah jika hanya kau yang mengetahuinya," kata Itachi, yang direspon tatapan tajam tidak suka dari Sasuke.

"Aku masih merahasiakan ini dari ayah dan ibu, jujur saja aku tidak ingin mereka mengetahui putra yang selalu dibanggakan terlihat seperti pecundang nanti."

"Hn," ada jeda sesaat, "kau tidak terlihat benar-benar melindungiku saat ini Itachi, atau sebenarnya kau yang takut terlihat seperti pecundang karena tidak bisa menyelesaikan kasus ini?" ketus Sasuke.

"Jurnal adalah bagian terpenting bagi para ilmuwan dan kau tahu aku tidak mengenal Neji sebaik dirimu," ujar Itachi cepat mengalihkan pembicaraan. "Aku punya banyak pekerjaan, jadi kau saja yang mengurusnya, lagipula kau ini sahabatnya."

Sasuke merasa tidak perlu lagi menyahut saat pria dengan kerutan di kedua mata menepuk bahunya lembut sebelum melangkah meninggalkannya menuju pintu utama.

.

"Selamat datang," sapa seorang pelayan, saat si pirang berjalan pelan ke dalam toko melalui pintu otomatis dengan menjinjing sebuah tas dari kertas berisikan tomat di tangannya.

Membalas sapaan sang pelayan dengan senyuman tipis, Naruto melangkah menyusuri lorong besar yang membelah banyak ruangan di lantai utama, memperhatikan ratusan botol wine yang tertata rapi di dalam rak di sisi kiri dan kanan dinding.

Sama sekali tidak menyadari keberadaan sang pelayan yang masih setia mengikutinya dari belakang.

"Ada yang bisa kubantu, tuan?"

Naruto sontak memutar tubuhnya, terdiam selama beberapa detik memperhatikan pelayan wanita di hadapannya yang kini tersenyum ramah ke arahnya.

"Kami memiliki berbagai macam wine dari brand terkenal, dan aku bisa merekomendasikan beberapa yang cukup populer di toko kami," lanjut pelayan itu.

"Oh," sahut Naruto singkat. Tidak tahu jika perbedaan pelayan supermarket dan toko terlihat begitu mencolok. Sebelumnya saat membeli tomat di supermarket para pelayan hanya menunggunya di mesin kasir, tidak mengikutinya ke mana pun ia pergi.

"Aku ingin 5 botol wine dari brand 'X'," kata Naruto.

"Bagaimana dengan brand 'Y'? Itu cukup populer di toko kami, apa kau mau mencicipinya tuan?" usul wanita itu.

Para pelayan supermarket juga tidak banyak bicara.

"Tidak, terima kasih," tolaknya halus, mengingat hanya ada tumpukan botol kosong dengan brand yang sama di dalam rak. "Dia hanya minum dari brand 'X' saja, jadi kurasa itu kesukaannya."

Sang pelayan tersenyum dan mengangguk tanda mengerti, lalu meminta untuk menunggu selama beberapa menit sebelum mengajaknya ke mesin kasir. Beberapa menit setelah itu, si pirang melangkah keluar toko dengan menjinjing 4 buah tas dari kertas berukuran besar di tangannya.

Melangkah santai menyusuri trotoar terlihat seperti seorang pria biasa, menarik sudut bibirnya membentuk senyuman terlebar. Merasa sangat puas menyadari tugasnya sudah selesai, dan ingin cepat kembali ke rumah untuk menerima pujian dari Sasuke.

"Rapatkan jaketmu, di sini dingin."

Iris biru memperhatikan seorang wanita yang membenahi jaket wanita lainnya sembari mengoceh cemas saat mereka menunggu bis. Tahu kalimat itu bukan ditujukan untuknya, tetapi ingin mempelajari bagaimana manusia saling berinteraksi sebanyak mungkin.

"Dingin," gumam si pirang sepelan mungkin, "bersuhu rendah apabila dibandingkan dengan suhu tubuh manusia, tidak panas, sejuk."

Syukurlah Sasuke memiliki banyak buku untuknya memperlajari beberapa hal yang teramat dasar. Karena mekipun mengenakan jaket tebal, lengkap beserta scarf rajut milik Sasuke di tubuhnya, hanya definisi dari dingin yang ia ketahui. Kulitnya tidak bisa merasakan sensasi unik seperti manusia pada umumnya.

"Huh? Paman apa kau kedinginan?"

Naruto menoleh ke arah seseorang yang duduk persis di sebelahnya. "Tidak," sahutnya cepat.

Untuk pertama kalinya ada seorang anak kecil yang berani mengajaknya berbicara.

"Kukira kau kedinginan paman, karena sejak tadi kau mengucapkan kalimat-kalimat aneh," kata anak itu tertawa lebar.

"Kalimat aneh?" ujar Naruto balik bertanya. "Apa menurutmu aku juga terlihat aneh?"

"Bukan begitu paman," tepis anak itu panik, "aku tidak bermaksud mengatakan kau aneh."

Ada jeda sesaat, "oh," sahut Naruto datar.

Anak itu tertawa sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya, upaya menciptakan rasa hangat. Sedangkan Naruto hanya bisa memperhatikan dalam diam.

"Aneh," kata anak itu, "kemarin terasa cukup hangat, tetapi malam ini memang terasa sangat dingin, apa mungkin sebentar lagi akan turun hujan?"

Naruto melirik ke arah scarf rajut yang ia kenakan, lalu beralih menatap sosok di sampingnya.

"Eh? Bukankah ini milikmu paman?" tanya anak itu tidak percaya, saat Naruto mengulurkan tangannya, menyerahkan scarf berwarna abu-abu.

"Kau membutuhkannya," sahut singkat si pirang.

Cepat-cepat anak itu mengalungkan scarf di lehernya sambil terus memamerkan senyuman lebar sebelum pergi berlari begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.

"Dia tertawa? Apa itu membuatnya senang?" gumam Naruto.

Sepasang matanya terus membuntuti ke mana anak itu pergi, hingga menyadari jika ada benda tak asing dalam genggaman anak laki-laki itu.

"Dompet?"

Bergegas pergi untuk mengejar bocah itu. Langkah kecil tentu tidak sebanding dengan langkah lebarnya, dengan mudah bisa menahan bahu anak itu saat hendak berlari ke seberang jalan.

"P-paman?"

Anak itu gemetar ketakutan, raut wajahnya tampak seakan ingin menangis merasakan cengkraman bersuhu dingin di bahunya semakin kuat.

"M-maafkan aku pa—"

Belum sempat anak itu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah lebih dahulu didorong ke arah samping dan membentur tepi trotoar dengan kuat, sedangkan Naruto, tubuhnya terpental ke arah belakang akibat hantaman dari mobil yang melaju cepat ke arahnya.

Orang-orang yang berada di sekitar berteriak histeris.

"Hey! Tolong pria itu!"

"Apa kau bisa mendengarku?! Kau baik-baik saja?!"

"Cepat! Cepat panggilkan ambulans!"

Mereka berlarian panik mengerumuni satu titik berusaha menolong, tetapi saat seorang wanita berusaha mendekat, tiba-tiba saja si wanita berteriak kaget dengan raut wajah tampak shock, terkejut bukan main melihat si pirang yang mulanya tampak tidak sadarkan diri, membuka mata lebar dan menatap tajam ke arahnya.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," kata Naruto datar dan pelan.

"H-hey nak, jangan banyak bergerak. Tenanglah sebentar, kau terluka," ujar salah seorang pria paruh baya mencoba menarik dan menahan tubuh Naruto untuk diam di tempat. Namun tangannya di tepis kasar oleh sang empunya.

Berusaha bangkit dari atas aspal sembari memunguti satu persatu benda miliknya yang berserakan di tengah jalan menggunakan satu tangan. Tidak lagi peduli dengan sekitarnya karena terlalu sibuk, bahkan tidak menghiraukan keberadaan sosok anak laki-laki yang melempar sebuah dompet ke arah kakinya dari balik riuhnya kerumunan orang, setelah menyadari kulit sintetis tangan kirinya sobek cukup parah di balik jaket, dan tidak bisa lagi digunakan.

Beberapa orang menatapnya aneh dan ngeri, mekipun ada beberapa yang membantu.

"Dompetmu terjatuh," ujar salah seorang gadis mengenakan seragam, memungut lalu menyerahkan sebuah dompet kulit berwarna hitam. "Eh," ada jeda sesaat, "itu ..., apa kau terluka?"

"Terima kasih," ujar Naruto tergesa.

Cepat-cepat menutupi bagian kiri wajahnya dengan tangan saat gadis berseragam menunjuk ke arah pelipisnya yang juga tersobek cukup dalam, sebelum berlari menerobos paksa kerumunan orang yang masih berbisik aneh dan menatap takut ke arahnya.

.

Continued