Jangan pernah chatting sendirian di luar kamar sampai tengah malam

.

.

.

Waktu baru saja menunjukkan angka tengah malam ketika chat penutup selesai aku kirim ke temanku.

"Sudah ganti hari. Nanti lagi, tidur pagi dulu." Candaku yang segera mendapat balasan stiker orang tertawa disusul gambar OK.

Aku tersenyum, mematikan layar ponsel dan beranjak dari kursi ruang tamu yang tanpa sadar sudah terasa panas aku duduki sejak beberapa jam lalu. Kapan pastinya aku mulai di sana dan tenggelam dalam banjir chatting aku sendiri lupa, namun dapat ku katakan aku cukup lama teronggok di tempat yang sama sebab sudah ku dengar suara dengkuran dari kamar tidur kedua orang tuaku tanda jika mereka telah terlelap sedari tadi.

Aku berjalan menuju kamar yang masih terbuka pintunya dan menyinarkan cahaya lampu dari dalam ketika tanpa sengaja aku melihat sepasang sinar dari arah dapur gelap yang aku lewati. 'Ku hentikan langkah, 'ku picingkan mata. Sinar itu diam, tak bergerak, dan tetap di sana bahkan waktu aku terus menatapnya.

"Pus~" aku mencoba memanggil.

"Meong~" terdengar balasan dan aku menghela napas lega.

Ternyata cuma kucing. Aku pun melenggang pergi.

Aku masuk kamar dan menutup pintu saat aku sadar kalau...

Tidak ada kucing di rumah ini.

-END-


Myka juga...
Kalo mau lancar chatting harus keluar kamar buat nyari sinyal
Hiks.