.

ANAK

Tahun ini sempurna sudah kodratku sebagai seorang wanita. Aku baru saja melahirkan anak pertama. Bahagia? Tentu saja! Menjadi seorang ibu adalah idaman setiap wanita, setiap istri, dan gadis yang beranjak dewasa setelah menemukan cinta sejatinya. Semua tetangga berdatangan mengucapkan selamat, ibuku yang terkadang mewakiliku menyambut mereka jika anaknya ini sudah terlanjur terlelap dengan buntelan cucu mungilnya di pelukan. Beberapa teman dekat yang masih menjalin kontak pun silih berganti mengetuk pintu rumah dengan membawa bingkisan, kartu ucapan, atau sekedar candaan "Kapan mau dibikinkan adik?" yang hanya aku jawab dengan tawa ringan.

Seorang sahabat yang terjebak dalam perantauan ternyata punya kesempatan pulang ke kampung halaman tahun ini, dia langsung mengunjungiku dengan suaminya yang dulu semasa sekolah pernah ia ceritakan adalah salah satu kakak kelas yang populer. Dia menikah lebih dulu dariku, bisa dibilang 'nikah muda'. Belum sempat menyandang gelar sarjana dia sudah mengikat akad dan kalau tidak salah tahun ini mungkin genap lilin keenam umur pernikahannya. Dia bilang rumah tangganya baik-baik saja, dia sibuk namun masih sempat menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan beberapa kali membuat kue serta masakan kesukaan suami, suaminya juga bukanlah tipe pekerja kantoran yang doyan lembur bermalam-malam menjauhi istri, namun hingga sekarang mereka masih belum dikaruniai momongan.

"Aku iri padamu," akunya ketika melihat bayiku yang tidur lelap dikepung selimut.

"Memang masalahnya apa? Kalian sudah tanya dokter?" tanyaku ikut prihatin.

Dia menghela napas panjang. "Pertama, dokter bilang ada kista di rahimku. Setelah operasi, nyatanya masih tidak terjadi perubahan. Sperma suamiku juga sehat-sehat saja. Entahlah." Ia mengedikkan bahu.

"Sabar ya, mungkin Tuhan belum ridlo," hiburku sembari mengusap lengannya pelan.

"Kaaak! Anak siapa itu di depan naik-naik atap mobil!?" tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari teras yang mengejutkan bayiku. Selanjutnya tangisan melengking menggema menggantikan.

"Dek! Sudah dibilang jangan teriak-teriak, adekmu kaget ini," hardikku kesal pada pemuda yang kemudian muncul dari luar pintu. Dia adik laki-lakiku, masih usia SMA. Adikku tidak menjawab bentakan kakaknya dan hanya memandang diam kedua tamu yang duduk di sofa bergantian.

"Tolong ambilkan botol susu di dapur, Dek," pintaku yang kerepotan menggendong si bayi yang masih menangis. Kembali adikku tidak menjawab, namun ia bergegas ke dapur dan kembali dengan sebuah botol berisi susu di tangan. Aku mendongak melihatnya yang ternyata masih menatap kedua sahabatku.

"Ada apa?" tanyaku heran.

"Tidak ada," jawab adikku singkat lantas berbalik dan sosoknya menghilang di belokan tangga ke lantai atas.

"Aku tidak tahu kau punya adik," tegur temanku yang langsung membuatku menoleh.

"Ah, dulu dia dititipkan di rumah nenek. Setelah nenek meninggal, dia baru pulang ke sini. Jangan heran padanya, dia memang agak aneh." Aku tersenyum.

.

Petang mulai turun dan satu per satu tamu tidak lagi mengetuk pintu. Aku mendudukkan diri di depan televisi, di sofa samping adikku yang sedang membaca buku komik.

"Kau lihat teman kakak tadi?" tanyaku sembari mengambil kaleng wafer di sebelah pemuda itu.

"Hm," dia menjawab pendek.

"Cantik 'kan?"

"Iya."

"Kau tahu masalahnya 'kan?"

Adikku tidak menjawab.

"Dia sudah menikah sangat lama tapi belum diberi keturunan. Bagaimana menurutmu?"

Adikku masih tidak menjawab, cuma membalik halaman buku dan melanjutkan membaca.

"Apa ada 'sesuatu'?"

"Sesuatu apa?" dia membalas.

"Kau tahu apa maksud kakak!" aku mulai kesal sementara remaja di dekatku hanya menghela napas.

"Ah, terserahlah!" aku benar-benar kesal dan bangkit berdiri, hendak meninggalkan ruang keluarga namun suara adikku mengurungkan niatku.

"Teman kakak itu—" dia terdengar enggan melanjutkan. "—kalau seandainya punya salah pada orang lain, lebih baik minta maaf. Kalau sakit hati berkurang, kesulitan dia juga akan berkurang."

Aku tersenyum. "Oke, akan kakak sampaikan."

.

"Apa maksudmu?" tanya temanku keheranan ketika aku menelponnya malam ini.

"Lakukan saja. Sebenarnya, bagaimana ya bilangnya, adikku itu semacam punya indera keenam. Waktu dia melihat kalian kemarin, caranya menatap sangat aneh 'kan? Biasanya dia akan begitu kalau dia 'melihat' sesuatu yang hanya dia sendiri yang bisa memahaminya. Aku tahu ini mungkin tidak masuk akal. Tapi saranku, kau coba saja dulu," ujarku menyakinkan dan memang aku sama sekali tidak berbohong. Sejak kecil adikku sudah menampakkan tingkah aneh seperti bicara dan tertawa sendiri. Karena hal itulah kemudian nenek mengambilnya. Nenekku yang ibu bilang juga punya kemampuan yang sama, aku yakin beliau mengajari adikku beberapa hal yang sampai sekarang sama sekali tidak mau ia bagi maupun ceritakan padaku.

Di seberang telpon terdengar temanku diam. Mungkin dia bimbang, mungkin dia menganggapku tidak waras, aku tidak tahu.

"Akan ku coba," desisnya menutup obrolan kami malam itu.

.

Dua tahun berlalu. Anakku sudah tumbuh lucu dan mulai bisa dipakaikan sepatu-sepatu mungil yang dapat menyalakan lampu warna-warni. Dia juga sudah lancar berjalan dan makin ramai mengoceh seperti anak burung, membuat rumah yang hanya dihuni orang tuaku, aku, suamiku, dan adikku tambah ceria.

"Dek, masih ingat teman kakak yang dulu pernah ke sini?" tanyaku sore itu sambil menemani si kecil dan adikku yang sedang bermain krayon.

"Teman yang mana? Teman kakak banyak," jawab adikku, yang tahun ini sudah mulai masuk kuliah, tak begitu menghiraukanku dan lebih asyik menggoda keponakannya.

"Yang sudah lama menikah dan belum punya anak itu. Yang terus kamu bilang suruh minta maaf kalau ada salah."

Dia nampak mengingat-ingat sebentar. "Oh itu. Sudah punya anak sekarang?"

"Belum," jawabku. "Dia bilang dia sempat hamil, tapi keguguran. Sampai dua kali. Kira-kira kenapa?"

"Belum minta maaf mungkin," jawab adikku seenaknya.

"Sudah! Dia yakin dia sudah menemui semua orang. Bahkan sampai suaminya ikut minta maaf juga ke orang-orang yang pernah dia sakiti."

"Yakin sudah semuanya?" kalimat adikku terdengar sangat menyebalkan. "Coba kakak tanya ke dia, dia pernah punya salah tidak ke seorang anak perempuan."

"Anak perempuan?" ulangku.

"Wajahnya tidak jelas tapi yang pasti dia terus mengikuti teman kakak itu kemana-mana."

"Maksudmu—" kalimatku terhenti, mendadak aku teringat adikku pernah berteriak keras waktu pertama kali dia bertemu dengan sahabatku.

"Kaaak! Anak siapa itu di depan naik-naik atap mobil!?"

Padahal di komplek perumahan yang langsung berhadapan dengan jalan raya ini sangat jarang ada anak-anak kecil yang bermain ke tetangganya. Tidak mungkin juga sahabatku membawa orang lain bertamu saat itu. Ditambah, mobil keluargaku selalu ada di dalam garasi jika tidak sedang digunakan dan yang berada di halaman hanya mobil milik temanku. Jadi...

"Dek, kalau orangnya sudah tidak ada, mungkin teman kakak tidak akan ingat." Aku mendesis. "Kamu tidak tanya nama'nya'?"

Adikku menoleh. "Dia tidak punya nama," jawabnya. Sebentar matanya menerawang.

"Kakak coba tanya langsung saja..." dia melanjutkan. "Teman kakak itu pernah aborsi atau tidak."

END


SELAMAT LIBUR LEBARAN~