Pastikan kau mengenal setiap 'orang' yang mengobrol denganmu.

Rumah Kosong

Ku mainkan gelas kosong di tanganku dengan bosan, ku angkat hingga menutupi pantulan layar proyektor dan akhirnya menyeletuk karena tidak tahan.

"Aku mau ambil minum lagi." dan aku pun beranjak tanpa menunggu jawaban beberapa temanku yang sebenarnya juga tidak menanggapi sebab terlalu fokus pada film horor yang tengah mereka tonton. Aku keluar kamar, melihat kanan-kiri, mencoba mengingat jalan yang barusan dijelaskan temanku di rumah barunya ini. Sial, menjadi pelupa benar-benar merepotkan!

Aku berjalan di lorong sepi sambil melihat arloji. Sudah jam sebelas malam. Kalaupun mau pulang sekarang juga aku berani, namun aku terlanjur janji untuk menginap di rumah ini selama semalam dalam rangka mem'perawani' rumah baru temanku (tidak, sebenarnya dia hanya takut sendirian di rumah besar bergaya tempoe doeloe di malam pertama kepindahannya).

Jarak dapur tinggal beberapa meter ketika cahaya di sekitarku tiba-tiba berpendar. Aku mendongak menatap lampu neon yang berkedip nyala-mati. Apa rusak? Bekas rumah kosong sih, tidak heran kalau ada propertinya yang tidak beres. Maka aku pun melanjutkan langkah tanpa menggubrisnya lagi.

"Hai. Kau tidak nonton?" seseorang menyapaku begitu kakiku sampai di mulut pintu dapur seolah dia sudah menungguku.

"Bosen. Filmnya gitu-gitu aja," jawabku.

"Itu karena kau tidak takut film horor." Pemuda yang seusia denganku tersebut melengos.

"Kenapa masih di sini? Katanya pulang," tanyaku dijawab kekehan, gelas berisi air putih di tangannya.

"Tidak jadi. Di luar dingin. Besok saja," dia menjawab.

"Barusan lampu di luar kedip-kedip waktu aku lewat," ceritaku setelah menuang air ke gelas dan menutup kulkas.

"Bilang saja ke Sandy biar diganti, daripada meletus nanti lampunya," tanggap temanku santai, berdiri menyandarkan pinggang di tepi meja makan.

"Nanti habis ini," ujarku ikut berdiri di sebelahnya. "Bagaimana menurutmu rumah ini?" aku menoleh memandang temanku.

"Menurutmu?" dia balas menatapku.

Aku mengedikkan bahu. "Ada banyak sudut yang masih gelap, itu sedikit membuatku merinding."

Temanku tertawa kecil. "Itu karena kau negative thinking pada gelap saja."

"Mungkin. Kalau kau bagaimana?"

"Setiap rumah punya penghuninya masing-masing," temanku menjawab dengan kalimat mengambang tapi itu sudah cukup memberi pengertian bagiku. Untuk seorang indigo, dia memang bukan tipe yang akan mengatakan sesuatu secara gamblang dan langsung ke inti, dia suka mengkiaskannya lalu membawa orang-orang biasa seperti aku untuk menafsirkannya sendiri. 'Segala sesuatu itu tergantung pada sugesti dan pemikiran masing-masing individu yang nantinya akan membawa efek berbeda ke tiap-tiap mereka. Kalau kau punya energi positif kau akan mendapat hal positif juga, tapi kalau sebaliknya kau hanya akan merasa cemas dan ketakutan' adalah kalimat yang pernah dia ucapkan saat aku bertanya kenapa dia selalu mengatakan hal berbau spiritual dengan setengah-setengah.

"Seperti apa?" aku menyenggol lengan temanku usil. "Laki-laki? Perempuan? Atau anak kecil?"

Temanku hanya tersenyum. "Seperti punyamu," jawabnya. "Cuma mungkin sedikit pemarah."

Dia memang pernah satu kali memberitahuku (bukan, sebenarnya karena aku yang bertanya) jika aku memiliki 'seseorang' yang mengikutiku kemana pun aku pergi. Bisa dibilang 'dia' itu penjaga, bisa juga cuma menumpang sebab menyukai auraku. Seorang prajurit, dia bilang. Muda dan gagah, memakai pakaian perang lengkap dengan pedang serta perisai seperti dalam ilustrasi buku-buku sejarah.

"Gawat, mereka bisa bentrok," candaku yang kembali membuat temanku tertawa.

"Itu tergantung padamu, apa kau akan membiarkan 'yang di sini' menggodamu atau tidak. Tuan Prajurit 'kan cuma mengawasi."

Drak! Suara benda menabrak benda hampir membuat jantungku meloncat, namun dengan santainya temanku hanya menoleh memandang sebuah pintu di bagian bawah kitchen bar.

"Dari tadi bunyi terus. Apa ada tikus?" desis temanku, ia meletakkan gelas di meja dan beranjak untuk jongkok membuka pintu loker kecil yang biasa digunakan menyimpan piring serta perkakas makan lainnya. Aku mengamati tanpa beranjak dari tempatku berada.

"Minum aja lama banget." Mendadak terdengar teguran Sandy, si tuan rumah, dari arah pintu dapur. Aku menoleh dengan terkejut.

"Sebentar lagi selesai," jawabku.

"Aku mau jalan-jalan ke luar. Mau ikut? Sepertinya kau bosan dengan filmnya." Dia menawari.

"Aku sedang bersama umm..." aku menoleh kembali memandang temanku yang berjongkok di depan loker kitchen bar namun sosoknya sudah tidak ada. Aku mengedarkan pandangan, tidak nampak seorang pun di dalam dapur kecuali aku.

"Ada apa?" Sandy mengerutkan kening.

"Ah, tidak," jawabku sedikit gugup, tanganku mendadak terasa dingin.

"Jadi, mau ikut keluar?" dia mengajak lagi.

Tidak.

Satu kata itu seperti menggema di dalam kepalaku diikuti perasaan kuat untuk menolak ajakan Sandy dan aku pun melakukannya.

"Tidak, di luar dingin. Aku takut masuk angin," jawabku sambil sedikit bercanda.

"Baiklah kalau begitu," Sandy berlalu dari depan pintu, berjalan menuju bagian depan rumah.

Aku kembali mengedarkan pandangan, memastikan jika benar-benar tidak ada orang selain aku. Ku letakkan gelas di sebelah gelas bening berisi air putih yang tadi sempat dipegang temanku atau siapapun yang menyerupai dia.

"Terima kasih sudah menemaniku mengobrol," bisikku yang meski pelan aku yakin 'dia' masih akan mendengarnya.

Aku berjalan keluar dapur, melewati lorong dan mendongak memandang lampunya yang tidak lagi berkedip-kedip, lantas melanjutkan langkah ke kamar.

"Sandy?" panggilku begitu masuk ke dalam ruangan yang gelap sebab lampunya dimatikan.

"Yo~ ada apa?" Sandy menjawab dari barisan terdepan.

"Tidak apa-apa," jawabku sembari menghembuskan napas lega. Untung aku tidak ikut keluar barusan, kalau iya entah aku akan dituntun sampai kemana.

-o-

"Kau mengobrol denganku di dapur? Padahal aku sudah pulang lho," ujar temanku ketika esok paginya kami bertemu di sekolah.

"Mana aku tahu! Pokoknya kau ada di dapur kemarin dan kita mengobrol lalu Sandy datang mengajakku keluar. Entah siapa itu yang mirip kalian, aku tidak tahu!" sentakku kesal dan temanku cuma tertawa. Sialan, tidak tahukah dia semalaman aku ketakutan setengah mati!?

"Makanya, aku 'kan sudah mengajakmu pulang tapi kau bilang mau menginap. Salah siapa."

"Kau tidak bilang apapun dari awal, mana aku tahu!" aku ngotot.

"Rumah itu menyebalkan. Dilihat dari luar saja sudah terasa auranya tidak bagus. Sejak awal aku ditolak masuk ke sana, ya sudah sekalian saja aku pulang," tutur temanku masih sambil tertawa, merasa lucu dengan ekspresi kesalku.

"Jadi yang semalam itu, apa 'dia' mencoba mengusirku?" tanyaku.

"Memang. Dan kau melawannya. Hati-hati kalau ke sana lagi, bisa-bisa kau dilempar dari jendela." Temanku menakut-nakuti.

"Hentikan!" aku makin kesal. "Terus siapa yang jadi kau?"

Temanku mengedikkan bahu. "Tuan Prajurit mungkin. Dia sering kok jadi orang-orang dekatmu dan mengajakmu ngobrol. Kau saja yang tidak sadar." Kembali dia tertawa, "Takut ya?" godanya.

Brengsek!

END


Ada yang pernah begini?
Wkwkwk
Anggap aja mereka pengertian kalian sedang kesepian dan butuh ditemani XD

Banyak yang tanya apa cerita-cerita di sini berdasarkan kisah nyata atau tidak, Myka cuma bisa jawab "Segala sesuatu itu tergantung pada sugesti dan pemikiran masing-masing individu yang nantinya akan membawa efek berbeda ke tiap-tiap mereka." *kibas poni*