.
BONEKA
Banyaknya film horor yang akhir-akhir ini mengusung tema benda mati dirasuki arwah menggelitik ingatanku lagi tentang satu percakapan di masa lalu yang berisikan hal sama. Siang itu sepulang sekolah aku dan seorang teman dekatku masih tertinggal di laboratorium IPA, sedang meminjam mikroskop guna menyelesaikan tugas yang telat dikumpulkan dua hari. Kami tidak lupa, kami cuma malas.
"Tahu tidak?" celetukku mengabaikan buku catatan sebab menunggu teman yang masih berkutat dengan lensa mikroskop mencari fokus yang tepat. "Di Jepang ada cerita horor sekolah yang menyebutkan boneka anatomi badan manusia bisa bergerak dan berjalan-jalan di koridor ketika malam. Orang yang pernah bertemu dengannya bilang pertama dia melihat bagian yang berkulit, saat dipanggil boneka itu akan berbalik dan terlihatlah bagian organ dalamnya. Sangat menakutkan!"
Temanku tidak menanggapi.
"Kau tidak takut? Boneka itu ada di pojokan sekarang." Aku tertawa, membuatnya menoleh ke pojok ruangan, pada model anatomi manusia yang biasa digunakan untuk praktek pelajaran Biologi.
Temanku mendengus, agaknya tidak terlalu suka dengan gurauanku barusan.
"Aku cuma bercanda. Habisnya kau serius sekali," ujarku membela diri.
"Boneka mana mungkin bisa bergerak dan berjalan-jalan di koridor. Mereka benda mati. Benda mati tidak bisa bergerak. Seperti mayat," ketus temanku.
"Tapi ada 'kan cerita horor tentang boneka yang dirasuki arwah," belaku.
"Arwah tidak merasuki benda mati. Mereka cuma berdiam di dekatnya dan menggunakannya seperti wayang untuk menakut-nakuti."
"Lalu bagaimana dengan cerita boneka yang bisa menulis pesan?" aku masih ngotot.
"Yang menulis orang lain. Dia meletakkan boneka itu di sebelah pesannya untuk memberi kesan boneka yang melakukannya. Please, pakai akal sehatmu." Temanku mulai gusar, bukan saja karena menanggapi perdebatan tidak jelas kami namun juga membuat pekerjaannya tak kunjung selesai.
"Jadi, benar yang orang-orang bilang kalau arwah orang mati akan berdiam di dekat benda kesayangannya?" bisikku.
"Anggapan macam apa lagi itu? Tentu saja tidak ada yang begitu!" temanku menyentak. "Tidak ada orang yang mati lalu arwahnya berkeliaran, jalan-jalan di sekitar kita. Yang namanya orang sudah mati berarti urusannya dengan dunia sudah selesai. Dia akan langsung masuk ke alam kubur dan meneruskan urusan di sana. Dia tidak mungkin punya waktu untuk pergi berkunjung ke sana-kemari."
"Lalu bagaimana dengan kata orang yang arwah merasuki boneka dan membuatnya melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti dia dulu—"
"Yang datang adalah makhluk lain. Mereka menggunakan berbagai media untuk mengganggu manusia, menakuti, lalu melemahkan iman dan akhirnya memberi pengaruh buruk hingga manusia itu melakukan banyak kejahatan."
"Bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan sama seperti yang dilakukan orang mati selama hidupnya?" tanyaku heran.
"Kau lupa kalau selama ini kau hidup dengan banyak makhluk tak terlihat tapi mereka bisa melihatmu? Mereka memperhatikanmu, mempelajari seluruh kebiasaanmu, dan saat kau mati wajar saja kalau kemudian mereka bisa meniru apa-apa yang pernah kau lakukan sebab sejatinya mereka memang selalu mengawasimu."
Aku merinding.
"Lagipula, orang yang suka melamun dan terlalu banyak berpikir akan membuka celah di dalam dirinya untuk dibaca. Mereka akan melihat apa yang sudah meresahkanmu, mempelajari setiap detil yang sedang kau pikirkan lalu menggunakannya untuk menggoda dan mengacaukan pikiranmu. Contohnya kau baru saja ditinggal mati kucingmu, kau galau, kemudian di tengah malam kau seperti melihat bayangan kucingmu keluar kamar, minta untuk diikuti, dan sebagainya. Seperti itulah cara mereka mengganggu dan mengacaukan jiwa manusia."
Temanku menambahkan. "Tapi tidak semua yang membuat bayangan begitu adalah makhluk jahat. Ada juga yang baik yang mencoba untuk menyampaikan sesuatu dari orang mati yang saat hidup belum bisa dia utarakan. Biasanya itu adalah makhluk yang semasa hidup pernah mengikuti dia dan menjadi seperti penjaganya."
"Aku baru tahu ada yang begitu," aku mendesis.
"Makanya berhenti nonton film horor," ketus temanku. "Tontonan itu bisa mempengaruhi cara berpikir seseorang."
"Terus, apa kau pernah melihat kasus boneka atau benda mati yang dikira dirasuki oleh arwah orang terdekat yang sudah mati?" tanyaku.
"Banyak. Mereka tidak tahu saja yang sebenarnya masuk itu siapa."
"Berarti, cerita tentang boneka anatomi di Jepang itu mungkin juga aslinya seperti yang kau katakan." Aku menarik kesimpulan.
"Yang paling sering ditumpangi adalah benda yang mirip dengan manusia."
"Kenapa?"
"Karena lebih mudah menggerakkannya. Punya kepala, tangan, dan kaki yang sama."
BRAK!
Kami berdua terlonjak mendengar suara keras tersebut dan langsung menoleh bersamaan. Kami menelan saliva perlahan saat melihat boneka model anatomi manusia yang sebelumnya ada di atas meja sudah jatuh telentang di lantai. Aku memandang temanku yang tak berkedip menatap boneka itu.
"Oe, ada apa?" bisikku takut, badan mulai gemetaran.
Temanku tak menjawab, cuma diam namun dapat aku lihat ada ketakutan di matanya.
"Ayo pulang," dia mendesis.
"Ha?" aku loading.
"AYO PULANG!" dalam kecepatan kilat temanku langsung menyambar tas dan berlari ke pintu, aku tergoboh-goboh mengikuti di belakang.
"TUNGGU—WAAA!" aku berteriak keras ketika di tikungan lorong sekolah tanpa sengaja hampir bertabrakan dengan seorang kakek, dia tersenyum ramah melihatku, di belakangnya berdiri seorang pria gagah yang memakai—ini seperti ilusi yang tidak nyata—kostum perang yang biasa kami gunakan di pentas drama. Tatapan pria itu yang teduh seperti pernah aku lihat tapi entah dimana aku lupa.
"CEPETAN!" temanku berteriak keras yang membuatku tersadar dan segera tergoboh mengejarnya. Aku menoleh ke belakang, si kakek tua dan pria berbaju perang tersebut sudah tidak ada.
"Ada apa sih? Kenapa buru-buru!?" aku berhasil meraih lengan temanku dan membuatnya berhenti berlari, kami terengah-engah di halaman sekolah.
"Boneka itu..." temanku ngos-ngosan mengatur napas. "Yang di dekat boneka itu bilang akan mencelakai kita kalau tetap di sana," tuturnya seperti mendongengkan mitos. "Dia tidak suka aku mengatakan semua tadi."
"Siapa suruh kau bilang begitu—"
"Berisik! Kau sendiri yang tanya!" temanku mengelak.
"Tadi aku lihat ada kakek tua dan orang memakai kostum perang," ujarku.
"Oh, itu tuan prajuritMU dan kakekKU. Mereka bilang akan berjaga di sana sampai kita pergi."
Aku terdiam. Jadi, ucapan temanku soal ada prajurit yang mengikutiku itu benar? Dan perkataannya tentang tuan prajurit yang sering menjadi orang-orang terdekatku... pantas saja aku seperti pernah melihat sorot matanya entah dimana.
"Buset," temanku mengumpat, kepalanya mendongak dan matanya mengarah ke lantai atas sekolah. Aku mengikuti, seketika badanku merinding. Di salah satu jendela ruangan nampak boneka anatomi itu melihat ke arah kami—entah bagaimana dia bisa ada di sana—seolah tengah mengawasi kami berdua.
"Anjir!" aku langsung berbalik dan ambil langkah seribu, diikuti suara teriakan temanku di belakang.
Gila aja, padahal itu masih siang bolong.
END
Jangan dipikir serius gitu, ini cuma cerita XD
