Hi, everyone!

Anne datang lagi, nih! Hayooo gimana puasanya? Moga lancar, ya!

Seperti yang sempat Anne beri info di chapter sebelumnya, fic ini akan hadir sekali dalam seminggu. Karena masalah banyak tugas dan aktifitas di bulan puasa ini, Anne paling enggak bisa menyapa kalian para readers tiap seminggu sekali dengan cerita spesial ramadan dari fandom HP kesukaan kita semua *kayak apa gitu bahasanya* :)

Oke, kali ini akan melanjutkan chapter yang lalu, ya! tapi sebelum lanjut baca, Anne mau nengok yang review kemarin.

Thanks banget buat ninismsafitri, sakuxhan, dan afadh yang sudah sempatin review. Thanks ya... wkwkwkw.. Anne akan buat puasa untuk klan Weasley lebih spesial. Ada apa? Yuk langsung baca!

Happy reading!


Wajah Lily sumringah tidak terkira. Ia resmi dinyatakan naik kelas hari ini. Rapor di tangan Ginny memang sederhana, namun sesuatu yang tertulis di sana membuatnya bangga luar biasa. Lily mendapat nilai yang sangat baik. Namanya ada di peringkat 2 terbaik dalam satu angkatan sekolahnya. Ada dua kelas untuk tingkat 4 di sekolah Muggle tempat Lily belajar dan ia berada terbaik ke dua setelah seorang murid laki-laki dari kelas berbeda menempati peringkat tertinggi.

Kalau disesuaikan dengan kelasnya, otomatis Lily mendapat peringkat 1. Sayangnya, nilai diakumulasi dari kedua kelas menjadi satu.

"Tak masalah, sayang. Nilaimu sudah sangat baik. Kita semua tak salah, kan. Kau memang naik kelas, Lily Luna Potter!"

"Thanks, Mum! Akhirnya aku bisa makan es krim! Hari ini, ya, Mum. Aku mohon! Kan, besok sudah puasa. Boleh, ya?"

Ginny memiliki peraturan di keluarga kecilnya untuk mengurangi makanan manis. Mereka cukup mengkonsumsi gula sebatas kebutuhan sehari-hari saja. Tidak lebih. Apalagi untuk camilan. Ginny sangat memperhatikan kesehatan seluruh anggota keluarganya. Terutama Harry. Semakin bertambahnya usia, ditambah pula aktifitasnya yang sangat padat—kesehatan Harry menjadi prioritas utamanya.

"Hubungi Dad. Kalau pulang dari Kementerian nanti beli es krim di Diagon Alley. Yang strowberry vanilla, ya. Ayo, Mum!" Lily terus memohon sepanjang perjalanan menuju salah satu halte di dekat sekolahnya. "Bilang juga, nilaiku bagus. Biar Dad belikan yang porsi besar."

"Ah—tidak! Yang biasa saja, ya."

"Ayolah, Mummy! Sekali-kali saja. Please!" Mata Lily menyipit dibuat-buat. Kebiasaannya jika keinginannya sangat besar. "Mummy!" rengeknya.

"Ya sudah. Nanti Mum hubungi Daddy kalau sudah di rumah Uncle Ron."

Sebuah taksi berhenti segera setelah Ginny mengangkat tangannya.

"Belikan yang ukuran sedang saja. Yang biasa dibelinya. Saat kau kasih ke Lily, bilang kalau porsi besar sudah habis."

Pelan-pelan Ginny menyampaikan permintaan putrinya pada Harry melalui perapian di rumah Ron. Harry masih di kantornya dengan beberapa berkas laporan yang terlihat menumpuk di atas mejanya.

"Iya, iya.. nanti aku belikan. Anak-anak yang lain ada, kan?" tanya Harry.

"Ada. Ini Al, Rose, Hugo, dengan Lily asik nonton. Sebentar lagi kita semua baru ke the Burrow."

"Loh," Harry merasa ada yang tidak beres di rumah kakak iparnya itu, "Ron kemana?"

"Itu dia! Saat aku sampai, di rumah hanya ada Rose, Hugo, dan Al. Kata mereka Ron kembali ke toko karena ada masalah. Bahaya sekali, dia meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan."

Ron selalu saja ceroboh. Untung saja tidak terjadi apa-apa dengan anak-anak itu selama Ron pergi hampir satu jam. Ginny tidak banyak mengobrol dengan Harry. sebelum memutus komunikasi mereka dengan perapian, Ginny kembali mengingatkan tentang pesanan Lily.

"Jangan banyak-banyak. Awas, jangan makan di sana diam-diam. Aku akan tanya teman-temanku di Prophet kalau kau sudah datang ke kedai. Mereka akan mengawasimu."

Jarak kantor pemasaran Daily Prophet sangat dekat jika untuk sekadar melihat kedai es krim. Beberapa pegawai koran sihir terkemuka di Inggris itu telah mengenal baik Ginny sebagai salah satu editor senior di sana. jadi, Ginny bisa dengan mudah tahu jika suami atau anak-anaknya nakal untuk makan es krim tanpa sepengetahuannya.

"Iya, sayang!" jawab Harry bak anak kecil yang mendapat petuah orangtuanya.

"Dengarkan, Harry. Aku serius." Ginny benar-benar memasang wajah serius di saat Harry hanya diam, tersenyum, memerhatikan rupa manis sang istri dari gelombang-gelombang bara api. "Ingat kesehatanmu. Sudah minum ramuannya? Jangan sampai telat. Aku tak mau kau pulang dan tekanan darahmu turun lagi. Jangan lupa minum air putih. Aku akan hubungi Marie untuk mengingatkannya menaruh segelas air putih di meja—"

"Ginny!"

Harry sering melupakan makan atau sekedar minum. Beberapa kali Harry pernah membuat Ginny ketakutan ketika suatu siang seorang Auror mengantarkan Harry pulang dengan keadaan lemas dan pucat. Meski emosinya bisa meledak berbahaya, kenyataanya Harry menderita tekanan darah rendah. Suaminya itu tak lagi muda. Meski staminanya bisa dikatakan luar biasa saat bekerja, Ginny sangat paham bagaimana tubuh suaminya memiliki batas untuk bertahan.

"Thanks." Singkat, Harry mengungkapkan kekagumannya pada Ginny atas semua perhatian itu. "Aku tak tahu bagaimana aku kalau istriku bukan kau."

"Kau mau poligami?" tiba-tiba saja Ginny takut.

"No, astaga! Hatiku tertambat hanya padamu, Gin. Bukan yang lain!" aksi menggoda Harry mendapat reaksi tak terduga dari Ginny.

Wanita Weasley itu tersenyum lega. Ketegangan di wajahnya memudar berganti sinar kebahagiaan yang begitu memabukkan seorang Harry Potter. "Syukurlah. Hampir saja aku minta kau tidur di ruang kerjamu malam ini." Harry sontak mendelik. "Sorry, entahlah emosiku sedang naik turun sekarang. Mungkin aku mau haid."

"Yeah—" Harry mendesah kecewa ketika Ginny mengungkit tentang masalah haid. Datang bulannya.

"Kenapa 'yeah'?" perasaan Ginny mulai tak enak. "Jangan bilang yang aneh-aneh."

"Ya.." Harry membenarkan posisi duduknya lebih nyaman bersandar di kursi kerjanya. "Bisa jadi kau tak ikut awal puasa.. lagi. Seperti tahun lalu. Puasa pertama kau tak ikut, kan?"

Ya, Ginny ingat. Tahun lalu ia tidak mendapat kesempatan menjalankan puasa di hari pertama. "Benar juga. Aduhh kalau tidak salah hitunganku jatuh besok, Harry."

"Ya, sudah. Namanya perempuan. Kau dapat keistimewaan, Gin. Kalau kau tak haid, kau bingung juga, kan?" tawa Harry pecah. Ia tahu jika sudah seperti itu, Ginny bisa marah-marah padanya dan menakutkan sesuatu yang bisa saja terjadi.

Ginny ikut tertawa membayangkannya. "Tentu saja. Kalau aku telat datang bulan, bisa ada dua kemungkinan. Satu, karena ada masalah dengan kesehatanku, atau yang kedua, karena.. ulahmu dan kau yang harus bertanggung jawab."

"Aku sudah bertanggung jawab tiga kali, Gin!"

Percakapan keduanya tanpa terasa berlanjut hingga anak-anak mulai berteriak kelaparan. Sudah masuk waktu makan siang. "Sudah, Harry. Anak-anak sudah kelaparan di sana. Aku harus kasih pelajaran ke Ron nanti. Tidak ada makanan sama sekali di sini. Pasti sudah ia habiskan sebelum ia ke toko. Kalau kau bertemu Hermione, adukan ulah suaminya. Kau juga jangan lupa makan siang."

"Baik, Mummy!" jawabnya dengan gaya manja Lily.

Setelah makan siang yang dibuat cepat oleh Ginny, bersama anak-anaknya dan dua keponakannya, ia mulai masuk ke perapian keluarga Granger-Weasley. Perapian bergaya kuno di tengah furnitur modern hasil desain Hermione. Perapian bermulut besar itu sering kali membuat para tetangga Muggle yang mampir ke sana berpikir aneh. Untung saja, tidak ada yang curiga tentang identitas penyihir mereka meski tak sedikit yang sering menanyaan satu gentong kecil bersisi bubuk floo di tembok itu untuk apa.

Anak-anak digiring satu persatu masuk. Lima orang masuk bersamaan. Hugo dan Lily saling bergandengan tangan. Albus dan Rose ikut bergandengan sambil merapat ke tubuh Ginny. segenggam bubuk floo siap dijatuhkan. Dieratkannya genggaman tangan kirinya pada Lily dan Hugo sambil berseru, "the Burrow!"

Dengan jarak yang cukup jauh, hanya berselang beberapa detik saja terdengar suara desingan perapian rumah keluarga besar Weasley. Wanita tua dengan tubuh bulat dan rambut kelabu berteriak kegirangan mendapati anak dan cucu-cucunya sampai.

"Bocah-bocahku yang lain sudah sampai! Ayo, nak! Kemarilah. Grandma buat kue kering di dapur."

Satu persatu cucunya Molly peluk dengan tak lupa menambah satu kecupan di masing-masing pipi mereka. Terakhir, setelah keempat anak masuk Ginny mendampingi ibunya memilih masuk ke arah dapur.

"Sehat, sayang?" tanya Molly selepas memberi pelukan selamat datang. "Kalian hanya berlima?"

"Sehat, Mum. Harusnya berenam dengan Ron tapi dia menghilang bahkan sebelum aku dan Lily sampai ke rumahnya. Dia meninggalkan Rose, Hugo, dan Al di rumah tanpa ada orang dewasa yang mengawasi. Aku minta bantuanmu nanti, Mum, untuk menghajarnya kalau Ron sudah muncul batang hidungnya di sini." Ginny memeluk Angelina dan Audrei di meja dapur dengan beberapa bumbu masakan.

Molly mengacungkan jempolnya setuju. "Ron kebiasaan!" pekiknya.

"Hai, Ginny. Sendirian?" tanya Audrei memberi satu bangku kosong untuk adik iparnya duduk.

Ginny menunjuk ke arah halaman belakang di mana Arthur dan para anak-anak sibuk bermain. "Dengan mereka saja. Harry minta maaf belum bisa datang. Mungkin akan menyusul setelah dari Kementerian nanti." Katanya turut menyampaikan pesan sang suami pada Molly, ibunya.

"Tak apa, sayang. Malah kalau Harry datang sekarang, akan aku marahi dia karena bolos." Molly meletakkan kue kering ketiganya yang baru matang di depan Ginny. "Suamimu itu punya tanggung jawabnya besar di kementerian. Kami semua di sini sangat memakluminya. Toh Harry juga sering menyempatkan kumpul. Jangan khawatir."

"Thanks, Mum!" Ginny senang keluarganya bisa menerima aktifitas Harry yang sangat padat.

Masih ada beberapa jam lagi untuk acara rutin kumpul bersama di the Burrow. Sebelum Maghrib biasanya satu persatu anggota keluarga yang lain akan datang untuk berkumpul.


Tepat setengah jam sebelum Maghrib, sambil berteriak Ron datang dengan sekantung kacang panggang hangat serta satu toples jelly kering aneka rasa. Di sampingnya, George turut serta membawa dua botol jus labu besar tak kalah girangnya. Mereka berteriak mengucap salam berharap semua orang melihatnya dan menyambut kedatangan mereka dengan hangat.

"Ronald-Billius-Wealsey." Harry, sudah datang sekitar dua jam yang lalu bersama Hermione terdengar mengeja nama sang kakak ipar di dekat sang istri. "Katanya kau tadi mau memberi hadiah buat kakakmu itu, Gin?" tanya Harry lebih terdengar menggoda.

Bak seekor naga tidur yang diusik ketenangannya, titik amarah Ginny langsung naik tepat saat arah pandangnya terpusat ke mulut perapian. Dengan tongkat yang langsung teracung ke arah Ron, Ginny siap merapal mantra andalannya yang paling menakutkan itu.

"Kau rindu dengan hex-ku, Ronald?" teriak Ginny langsung memburu Ron yang berlari ke halaman belakang. Hermione ikut berteriak memberi semangat pada Ginny agar tetap meneruskan hukuman itu pada sang suami. Ia tahu perkara anak-anak yang sempat ditinggalkan Ron di rumahnya dari info yang diberikan Harry di Kementerian.

"Kau lupa rasanya ditampar kepakan kelelawar yang keluar dari hidungmu sendiri, huh?"

Ron berteriak minta ampun tepat saat Ginny berhasil meraih tangannya. "Ampun, Ginny. Aku tahu kesalahanku. Aku tak akan melakukannya lagi!" Ron menyodorkan makanan yang ia bawa ke arah muka Ginny. Namun dengan mudah Ginny tolak.

"Aku lupa masih ada anak-anak di rumah. Ayolah, ini aku bawakan makanan untuk mereka."

"Kau tak punya otak, huh.. bagaimana kalau anak-anak tadi—"

"Hey, kalian! Sudahlah!" tubuh tinggi Arthur tampak dari pintu. Meneriaki dua anak paling mudanya untuk melupakan pertengkaran itu dan masuk ke rumah. "Sudah Maghrib! Cepat ambil wudhu dan berkumpul di ruang tengah."

Penuh kemenangan Ron melepas genggaman tangan Ginny di pergelangannya lantas menghambur masuk ke the Burrow kembali. "Aku datang, Dad!" serunya. Ron sempat melirik ke arah Ginny setelah suara seseorang yang mereka kenal mulai terdengar menyuarakan panggilan untuk beribadah.

"Harry sudah adzan. Jangan sampai kau terlambat untuk jamaah. Simpan tongkatmu, pumpkin!"

Seperti mendapat sihir hebat, Ginny benar-benar menurunkan tongkatnya. Itu suara Harry. Suaminya sedang mengumandangkan adzan Maghrib untuk the Burrow. Biasanya, Bill yang mendapat jatah adzan sampai iqomah. Ia juga yang akan menjadi imam untuk menggantikan Arthur—Weasley senior yang sudah susah untuk berdiri memimpin sholat mereka sesekali. Tapi kali ini, Arthur tetap yang akan memimpin dengan Harry sebagai pengumandang adzan. Bill dan keluarganya baru akan sampai saat Isya nanti.

Suara Harry terus mengalun indah menggetarkan hati Ginny. Ia tak kuasa untuk meneteskan air mata saking terharunya. Ia bersyukur memiliki Harry sebagai imam dalam keluarganya. Seorang pria yang baik dan penuh tanggung jawab dengan iman yang kuat. "Tidak seperti Ron! Ahh kenapa Hemione bisa betah sekali dengan pria itu?!" batinnya.

Ibadah sholat Maghrib di keluarga besar Weasley berlangsung khitmat. Dipimpin Arthur sebagai imam, ia memberi sebuah petuah-petuah selepas dzikir ia tutup. "Baik, ada satu pengumuman yang sepertinya kalian semua sudah tahu." ujarnya.

"Puasa kan, Grandpa?" kata Albus. Sang ayah di sampingnya langsung memberi senyuman. "Di rumah tadi juga sudah membahasnya."

"Pintar, Albus. Jadi, menurut kabar yang sudah dipastikan.. besok kita akan mulai menjalankan ibadah puasa 1 Ramadhan."

Arthur langsung mendapat suara-suara saling bisik dari anak, cucu, dan para menantunya. Perbincangan mereka benar-benar mulai terpusat pada ibadah wajib yang akan akan dimulai esok hari. Tidak hanya para orang dewasa, anak-anak turut heboh dengan pengetahuan mereka masing-masing tentang puasa.

"Yang artinya kita tidak boleh makan, minum—" Rose memperbaiki mukenanya sambil melirik lepas ke arah ayahnya, Ron, yang duduk di baris depan di samping Harry. "Bukan begitu, Dad?" tanyanya dengan nada menyindir.

"Apa-apaan kau, Rosie. Tentu saja aku tahu itu." Ron mendapat senggolan pelan di lengannya dari Harry. Hugo sama tertawanya ketika ekspresi wajah Ron seolah ketakutan dan merasa kesal.

Lily, dengan mukena kuning bermotif kelopak bunga merah berseru semangat. "Aku mau puasa penuh tahun ini karena aku sudah besar. Bukan begitu, Hugo!" tanyanya kepada sepupu terdekatnya.

"Hem," Hugo mengangguk semangat, "aku mau berlatih puasa penuh. Supaya Rosie tidak mengejekku lagi."

"Hei, karena memang kau suka makan diam-diam, kan?" Rose berteriak membuat pembelaan.

"—dan masuk ke lemari es pura-pura cari udara segar. Padahal minum jus!" tambah Molly. Neneknya itu sering sekali menangkap basah Hugo menyelinap masuk ke dapur ketika di the Burrow untuk membuka lemari es. Jika tidak ketahuan dengan orang lain, Hugo pasti sudah menghabiskan satu botol jus yang sering di simpan di sana.

Molly mengusap pundak cucu laki-laki termudanya itu dari belakang. Posisi ia sholat berada tepat di belakang Hugo. "Kau itu mirip Daddymu!" bisik Molly.

Sejak kecil, Ron memang paling tidak bisa tahan dengan puasa. Menahan lapar dan haus dengan kondisi banyak aktifitas. Ditambah lagi lama puasa di kawasan Inggris raya memiliki durasi yang sangat lama. Bagaimana siang memiliki waktu lebih panjang daripada malam yang dirasa hanya beberapa jam saja. Ron sering mengeluhkan masalah itu sejak ia kecil.. hingga sekarang.

"Itu dulu, Mum. Aku puasa kok." Keluh Ron makin merasa disudutkan dari tatapan semua orang.

"Janji, ya. Awas kalau kau ketahuan makan di siang hari. Apalagi mengajak anak-anak bandel seperti tahun lalu. Ada hadiah spesial dariku menantimu, Ron."

Tidak hanya Ginny yang mulai mewanti-wanti Ron, ancamannya tadi diikuti sorakan setuju dari Audrey, Angelina, bahkan Hermione yang merasa kewalahan menghadapi suaminya. "Bahaya kalau Ron memang dilepas sendirian. Apalagi dia sudah tidak di Kementerian lagi." ujar Hermione.

"Itu dia," Percy menyahut, "semuanya sudah tidak semudah dulu. Iya kan, Harry?"

Harry dan Percy saling berpandangan menyadari jika mereka tidak lagi bisa mengawasi kebiasaan Ron yang suka sekali jajan makanan ringan di siang hari. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah kafetaria para pegawai Kementerian di dekat loby. Namun sejak Ron memilih mengundurkan diri dari Kementerian dan bergabung membantu George di toko leluconnya, baik Percy maupun Harry tak lagi memiliki akses sebebas dulu untuk sekadar mengingatkan puasa.

"Kalau dulu aku dan Percy bisa saja bertemu di lorong-lorong Kementerian dengan mudah, tapi sekarang.. hanya George yang punya kesempatan penuh bertemu Ron tiap siang hari." Kata Harry.

"Aku hanya bisa memantau dia tiap sahur sampai berangkat bekerja. Setelah itu, Ron bisa jadi tanggung jawab George. Aku—menyadari kuasaku sebagai pegawai Kementerian." Hermione mengangguk. sSebagai istri ia seharusnya yang memiliki tanggung jawab besar untuk mengawasi keluarga kecilnya. Seperti Ginny yang tidak pernah absen untuk mengingatkan ini itu pada masing-masing anggota keluarganya.

Ia memang wanita karir yang tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab terhadap urusan rumah. Namun, Hermione sadar setidaknya sebagian waktunya harus ada untuk mengurus masalah-masalah kecil yang sering kali muncul di tengah keluarganya. Dengan Ron sebagai suaminya, Hermione tahu seberapa besar batasan ia mengawasi suaminya yang sering nakal melanggar aturan-aturan seperti halnya berpuasa.

"Kau sudah berbuat yang terbaik untuk keluargamu, Dear! Namanya perempuan memiliki urusan dan aktifitas yang bebeda. Kau bisa mengendalikan Ron sampai seperti ini sudah sangat hebat. hanya saja.. Ron sendiri yang memang harus merubah sikapnya." Molly menepuk pundak Hermione penuh pengertian. Menantunya yang satu ini punya caranya tersendiri untuk mengurus keluarganya. Dan Molly tidak ingin untuk mencampuri urusan rumah tangga anak-menantunya itu.

George berseru semangat. Ia menarik napas dalam sebelum ikut menyerang Ron dengan gaya sok bijaksananya. "Dengarkan itu. Kau bukan Ronnie kecil lagi, kan. Jadi.. bersikaplah dewasa dengan makanan!"

"Oi, kenapa semua jadi menyerangku, sih!" Ron mulai tak tahan terus digoda. Untung saja dengan tenang Arthur menghentikan kegaduhan yang dibuat oleh anak-anaknya. Walaupun Ron sadar semua yang dibicarakan tentangnya itu benar.

"Sudah.. sudah!" Tegur Arthur, "hey, dengar semuanya. Maka dari itu, semalam aku sudah pikirkan masalah ini. Untuk menjaga puasa kalian, akan ada acara rutin seperti kajian Ramadhan di sini untuk membahas bagaimana puasa kalian setiap minggunya."

"APA?" para anak-anak ditambah Ron dan George kaget bukan main.

"Tiap minggu?" tanya Ron.

"Di sini?" tambah George.

"Benar!" Molly dengan senang ikut menambahkan, "rencananya, untuk menyiasati jadwal di Kementerian, tiap akhir pekan kalian semua akan datang ke sini untuk buka puasa bersama sampai tarawih. Dan ya.. tadarus juga. "

"SETUJU!"

Bill bersama sang istri muncul di perapian sambil membawa satu kotak besar berisi buah-buahan. Mereka ternyata datang lebih cepat dari perkiraan banyak orang.

"Setuju sekali. Apalagi untuk anak-anak bisa mendapat tambahan ilmu di bulan Ramadhan ini. Toh juga tidak berat satu minggu sekali." Kata Bill langsung bergabung di tengah keluarga besar yang lain. ia jabat tangan Arthur lebih dulu sebelum melanjutkan ke saudara-saudaranya. Begitu juga dilakukan Fleur pada para anggota keluarga wanita yang lainnya.

"Dan aku dengar juga, kalau Hogwarts akan memberi libur pada anak-anak selama tiga minggu sampai lebaran. Aku dapat kiriman owl dari Domie tadi siang." Kata Fleur disambut semangat oleh para ibu. Ginny pun rupanya ikut mengangguk membenarkan.

Ginny mendapat kabar yang sama bahkan sehari sebelumnya. "Aku sempat bertemu juga dengan Hannah kemarin. Katanya Hogwarts baru akan meliburkan anak-anak setelah satu minggu puasa. Hogwarts punya acara sendiri di sana untuk memperkuat ibadah. Anak-anak baru akan diliburkan di minggu kedua puasa sampai lebaran."

"Ah.. bagus itu. Hogwarts bisa beri tambahan ilmu keagamaan untuk anak-anak di sana yang jauh dengan orangtua. Godaan di Hogwarts bisa jadi lebih besar dibandingkan di rumah sendiri." Harry menganggap keputusan Hogwarts tidak memberi libur di awal puasa sudah cukup baik dengan digantikan kegiatan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan positif keagamaan.

Ron mengacungkan jempol setuju. Baginya Hogwarts adalah surganya makanan. "Tidak ada kata kelaparan saat di Hogwarts. Ahh aku rindu pudingnya. Bisa bahaya kalau anak-anak tetap di Hogwarts terus sampai lebaran nanti. Pasti.. menu buka puasa di sana sangat enak, apalagi—"

"Ronald Weasley!" Hermione menahan kata-kata Ron dengan acungan kepalan tangannya.

Hugo sampai terbahak mendapati ayahnya sibuk mengkhayal tentang makanan di Hogwarts untuk kesekian kalinya. "Sekolah lagi saja ke Hogwarts, Uncle Ron." Seloroh Albus sambil bersembunyi di pelukan Harry.

"No, aku hanya merindukan makanannya saja. Bukan pelajarannya!" balas Ron.

"Astaga, Mummy," Rose mendelik tak percaya ayahnya benar-benar bersikap kekanak-kanakan, "Daddy mulai membual!"

Semua orang kembali terbahak karena ulah Ron.

"Baiklah.." Arthur kembali mengambil posisi. "Jadi sudah jelas, ya. Tiap akhir pekan, diharapkan kalian bisa berkumpul di the Burrow mulai sebelum Magrib sampai malam kita tadarus bersama. Bagi anak-anak, jangan lupa untuk berlatih puasa. Dan para orangtua juga pasti. Beri contoh yang baik untuk anak-anak kalian."

"Dengar itu, Ron!" pekik Ginny masih tak tahan untuk menyerang kakaknya. Harry sampai harus menghentikan istrinya agar kembali tenang dan menahan emosinya.

"Ahh lihat saja nanti.. aku akan jadi contoh teladan untuk Ramadhan tahun ini!"

Ron, dengan penuh semangat bangkit dari duduknya. Melepas peci dengan tetap memakai sarungnya menuju dapur. "Sebentar lagi Isya, jangan lupa makan sebelum tarawih pertama! Come on, kids! Isi perut kalian untuk tenaga sholat tarawih 20 rakaat.. 23 full! Oh kentang.. aku datang!"

"Yeahhh!" seperti benar-benar dikomando, Lily, Hugo, Albus, dan Rose yang telah terbebas dari perlengkapan sholatnya berlari pontang panting menuju dapur untuk mengambil makan malam mereka.

TBC


#
Yeahhh Uncle Ron pusat dari segala kebatalan yang tercipta. Wkwkwkwk.. pada mulai puasa nih mereka.. jangan lupakan kisah mereka minggu depan!

Maaf kalau masih banyak typo! Anne tunggu reviewnya, loh!

Akhir kata.. selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya! Jangan banyak bolongnya kayak Uncle Ron, hehehe :)

PS: OH YA, ANNE MAU TANYA, NIH? ADA YANG PERNAH BUKA "TAP" NGGAK? SALAH SATU APLIKASI (bentuknya sih aplikasi) YANG SAMA KAYAK WATTPAD. TAPI SISTEM BACANYA KAYAK BACA CHATTING ITU LOH! ANNE MAU KASIH INFO AJA, KALAU ANNE JUGA PUNYA "TAP" DAN ADA CERITA SINGKAT BANGET DI SANA SEBAGAI PEMBUKA. MASIH BARU BANGET ANNE BUATNYA. FIC HINNY JUGA. YANG PENASARAN BISA DOWNLOAD APLIKASI "TAP" DARI WATTPAD TERUS CARI NAMA USER ANNE sifahnur DAN JANGAN LUPA FOLLOW SERTA BACA CERITANYA.. HEHEHE PROMOSI! :)

Thanks,

Anne xoxo