Hi, everyone! Assalamualaikum!
Anne akhirnya kembali dengan fic yang satu ini. Seperti (Jumat malam) biasanya, Anne akan update chapter baru untuk fic Starving Fasting ini. Pada chapter kali iini ternyata Anne kebabalasan nulisnya. Kepanjangan. Tapi akhirnya Anne agak rombak sedikit di ending chapter ini biar jadi surprise untuk nunggu chapter selanjutnya. Nah, untuk itu.. panjang chapter ini bisa standart kayak chapter-chapter sebelumnya.
Baiklah, Anne balas review dulu yang sudah masuk!
Airena Lily Fadillah: makasih ya sudah di follow akun 'tap' aku. Ikuti terus cerita ini, ya :)
sakawunibunga: wehehehe itung-itung hiburan pas puasa :) Bisa di download lewat playstore, ya, karena setau aku masih sebatas app aja itu. 'tap' itu masih sodaraan sama wattpad tapi 'tap' udah berdiri sendiri. Dicoba aja dan jangan lupa follow aku kalau udah bisa. Makasih :)
Afadh: semangat deh buat puasanya. Tambah berkah sama ibadahnya. Entar kalau udah kumpul di the Burrow bakal tahu bagaimana kegiatannya. Okehh lanjut baca chapter ini dulu, yes! :)
Karena cuma sedikit yang review, Anne langsungkan saja, ya!
Happy reading!
Komitmen Ron untuk jadi lebih baik dibuktikan sejak puasa pertama. Hingga sepuluh hari lebih ia jalani, tidak ada ulah tercela yang Ron lakukan. Setidaknya belum ada tanda-tanda kenakalan seperti tahun lalu Ron ulangi lagi di puasa tahun ini. Rutinitasnya dimulai setiap sahur tiba. Jika Hermione sudah bersiap di dapur untuk mengatur makanan sahur, Ron akan sigap berpatroli ke kamar kedua anaknya. Rose dan Hugo secara bergantian ia bangunkan dengan lembut. Sama seperti Hermione yang selalu ia bangunkan lebih awal.
Dan sahur hari ini pun kembali Ron yang bertugas pada kewajibannya membangunkan sahur untuk keluarga kecilnya.
"Wake up, love!" bisik Ron. Sesekali ia membubuhi kecupan singkat di pipi Hermione. "Sahur, yuk!"
Wanita yang dibangunkan hanya sempat mengerang pelan lantas membuka perlahan kedua matanya. Ron ada di depannya. Hermione tersenyum kembali mengingat suaminya hari ini melakukan tugasnya dengan baik. "Kau bangun tepat waktu, sayang." Pujinya.
"Always. Nah, sekarang aku mau bangunkan anak-anak dulu sementara kamu—"
"Siapkan makanannya. OK. Aku tunggu di ruang makan, ya!"
Mereka setuju lantas mengambil bagian masing-masing. Mereka berpisah di ujung tangga. Hermione turun sementara Ron masuk ke kamar Hugo yang berada lebih dekat dengan tangga.
Pintu anak bungsu Granger-Weasley itu tidak dikunci. Gelap yang pertama ditangkap Ron ketika melangkahkan kakinya masuk ke sana. Ranjang Hugo yang berada menepi ke arah tembok ia dekati. Ron pelan-pelan merendahkan badannya mendekat ke arah ranjang. Mendekatkan kepalanya ke posisi telinga Hugo yang berbaring miring ke kanan. Mulutnya sedikit terbuka ketika tidur. Menurut Hermione, Hugo punya kesamaan gaya tidur dengan ayahnya. Ron tersenyum geli jika melihat ekspresi Hugo tidur ternyata mirip dengannya.
"My little dinosaur! Saatnya sahur, buddy!"
"Daddy—" si kecil Hugo mengeliat sadar. Ayahnya sudah tersenyum dengan rambut dan jenggot merahnya yang mulai menebal.
"Bangunlah.. Mummy sudah siapkan sahur untuk kita di bawah. Semalam siapa yang minta dibuatkan tuna sarden dan sup labu, huh?"
Kantuk Hugo perlahan memudar berganti senyuman semangat. Sepulang dari tarawih, Hugo sempat mengutarakan permintaannya untuk disiapkan makanan spesial saat sahur. Pasalnya, pada siang hari sebelumnya ia menyerah tidak tahan lapar sebab makan sahurnya tidak selera. Meski Hermione tahu anak-anak seperti Hugo suka sekali cari alasan jika sudah tidak kuat puasa. Sehingga pada malamnya Hermione memberikan tawaran khusus pada si bungsu untuk meminta makanan apapun asal Hugo mau berjanji untuk kuat menjalani puasanya. Dan pilihannya tertuju pada tuna sarden favoritnya dan sup labu gurih yang pernah dimasakkan oleh neneknya, ibu Hermione, ketika berkunjung ke London dari Australia.
Selimut di tubuhnya langsung disibak menjauh. Hugo bangun dengan semangat memuncak sambil diiringi teriakan ayahnya. "Anak Daddy harus semangat! Dad sudah semangat untuk puasa. Jauh lebih semangat dari tahun lalu. Jadi, kamu juga harus semangat seperti Daddy!" Seru Ron begitu senang. Anaknya akan puasa dengan sungguh-sungguh setelah ini.
"Hem, aku akan puasa sungguh-sungguh sekarang. Tapi—" Hugo terhenti sejenak, begitu juga Ron, "tapi.. tuna dan supnya ada kan, Dad?"
Ron hanya bisa mengangguk tak percaya. Hugo tak jauh beda dengannya jika berhubungan langsung dengan makanan. Hugo berjanji, jika ia akan bersemangat puasa karena makanannya benar-benar menggoda. Yang Ron lakukan hanya mengangguk yakin sebagai jawabannya.
"Kita bangunkan Rosie sekarang! Let's go, son!" Ajak Ron dengan semangat menyala.
Lain dengan kegiatan sahur di keluarga Potter. Tidak ada yang perlu siapa dibangunkan siapa. Tidak pernah ada pelatihan kekompakan pula sebelumnya. Satu persatu anggota keluarga kecil Potter terbangun dengan kesadaran sendiri. Ginny lebih dulu bangun seperti biasa. Kemudian disusul beberapa menit kemudian Harry menggeliat pelan di balik selimutnya dan bergegas meraih kacamatanya di bibir meja.
"Oh, ya. Vitaminnya ada di atas meja itu. Semalam aku lupa menaruhnya ke kotak ramuan di luar. Lily sudah mengambil kantungnya duluan setelah keluar dari mobil kemarin."
Masih dengan nada mengantuk Ginny tertawa pelan, "kamu pasti belikan dia jelly-jellyan itu lagi, ya?"
"Lily yang minta, Gin. Nggak banyak, kok." Tukas Harry berusaha memberi pembelaan. Ia memang membelikan Lily satu bungkus jelly kemasan yang dijual di minimarket. Semalam Lily dan Harry berbelanja kebutuhan sahur sekaligus membeli tablet vitamin C yang biasa mereka konsumsi rutin setiap hari.
Ginny sering sekali melarang anak-anaknya, terutama Lily, untuk memakan jelly warna-warni buatan pabrik yang sangat tinggi gula. "Kalau Lily batuk, baru tahu rasa. Anak itu susah sembuhnya kalau sudah batuk. Apalagi ini puasa, Harry. Kalau sudah sakit.. kasihan." Kata Ginny kecewa. Suaminya sering tidak tega ketika mengajak Lily berbelanja dan meminta sesuatu.
Lily akan siap mengeluarkan cara andalannya dengan memasang wajah memelas. Memohon dengan begitu lugu sampai siapapun yang melihatnya benar-benar tak tega untuk menolaknya. Salah satunya adalah ayahnya sendiri. Korban utama setiap Lily meminta sesuatu.
"Tahu sendiri Lily bagaimana kalau sudah minta apa-apa. Wajahnya itu loh, polos sekali. Kayak kamu." Harry mulai menggoda.
"Nah, kalau begitu—" tiba-tiba Ginny mengubah posisinya lebih dekat ke arah Harry. Terdiam sejenak sambil mengatur napasnya. Wajahnya perlahan mengendur lemas. Memasang ekspresi super manis dan mulai memohon, "boleh tidak kali ini kamu yang siapkan makanannya? Badanku capek semua, nih. Aku sudah siapkan semua di lemari pendingin semalam. Tinggal dipanaskan saja. Mau, ya?! Boleh ya, Harry sayang! Suamiku paling tampan!"
"Aku memang tampan, sayang." Ujar Harry senang sekaligus sebal. Ginny mulai mengadopsi cara Lily untuk memohon sesuatu. "Dan caramu itu memang mirip seperti Lily."
Harry bangkit dari ranjang. Ia menyempatkan menggoda Ginny sebelum benar-benar keluar dari kamar sampai Ginny terbahak menahan geli. Kakinya yang keluar dari selimut digelitik Harry tanpa ampun. Namun sebelum keluar, Harry sempat berpesan.
"Ikutlah sahur, biar-anak-anak tidak curiga." Pinta Harry meminta Ginny untuk tidak kembali tidur.
"Pastilah.. bagaimana jadinya dapur kalau aku tinggalkan pada kalian bertiga. Sudah.. kamu turun duluan, nanti aku menyusul."
Harry tersenyum senang. Meski ia bisa memasak, Harry belum begitu nyaman untuk mengambil alih pengurusan dapur tanpa campur tangan Ginny.
Di depan televisi, Albus dan Lily sedang asik menonton tayangan tengah malam di salah satu channel TV kabelnya. Salah satu channel khusus anak-anak yang menayangkan animasi non-stop 24 jam jadi pilihan mereka. Tidak ada tayangan menarik lagi di saat jam menunjukkan pukul 2 dini hari untuk channel TV normal. Albus dan Lily sadar-sadar saja. Beruntung jika TV rumah mereka memasang channel TV berlangganan yang mana acara TV yang sedang tayang tergantung channel mana yang mereka pilih.
Dari arah tangga Harry turun sambil melirik ke arah jam dinding di sudut ruang keluarga. Imsak masih sekitar satu jam lagi. Sehingga ia masih bisa menyiapkan makan sahur dengan sedikit santai.
"Daddy, Mummy mana?" tanya Lily yang pertama kali menyadari kehadiran ayahnya di lantai bawah.
"Masih di kamar. Hey, sebentar lagi langsung ke ruang makan, ya. Sahur dulu, nanti lanjut lagi nontonnya." Pinta Harry dituruti langsung oleh kedua anaknya.
Albus melihat ke arah dapur tempat ayahnya sedang menyiapkan makanan. Tidak seperti biasanya ayahnya yang menyiapkan makanan untuk sahur mereka. "Lils," panggil Albus mencoba bertanya keanehan yang ia rasakan, "Mummy mana, ya?"
"Em—kata Daddy masih di kamar. Aku tak tahu, Al." Jawab Lily tanpa melepas pandangannya dari layar televisi.
"Tumben Mummy masih di kamar. Apa Mummy sakit?"
"Ah, yang benar saja—" namun segera Lily terdiam tepat saat ibunya terlihat menuruni tangga, "itu dia Mummy baru turun."
Hanya saja ekspresi wajah Ginny terbilang juga aneh. Dahinya berkerut dan kebingungan sambil bergumam tidak jelas. Albus dan Lily tidak paham apa yang diucapkan ibu mereka sendirian. Tanpa mempedulikan kedua buah hatinya, Ginny langsung menuju ke dapur sambil memanggil-manggil nama suaminya. Ginny lantas mendekati Harry sambil berbicara lirih—hampir seperti berbisik.
"Semalam kamu beli tampon juga tidak?"
"Hah? Nggak. Memang kenapa? Kamu nggak pesan, kan?"
"Aduh.. gimana, sih! Seharusnya kamu belikan juga walaupun aku nggak minta!"
Samar-samar Lily mendengar kedua orangtuanya berbicara tentang sebuah benda yang harusnya turut dibeli semalam di minimarket. Lily tidak ingat jika ibunya menitip sesuatu selain belanja makanan untuk sahur. "Kira-kira Mum minta apa, ya?" ujar Lily penasaran.
"Memangnya Mummy semalam minta dibelikan apa, Lils? Aku kan di rumah dengan Mum."
"Ah—" Lily berlaga menghitung dengan jarinya mengingat-ingat, "sudah semua, kok. Cuma makanan. Tapi Mummy kenapa, ya? Kelihatannya sebal sekali dengan Dad."
"Jangan-jangan mereka bertengkar sebentar lagi—"
"Albus, jangan begitu. Ini kan bulan puasa. Nggak boleh bertengkar. Tapi.. Mummy sama Daddy kenapa, ya?"
Televisi yang menayangkan film animasi tentang babi perempuan dan keluarganya langsung dimatikan Albus. Ia mulai penasaran dan mengajak adiknya langsung mendekat ke arah dapur. Setidaknya kedatangan mereka bisa menghalau pertengkaran kedua orangtuanya jika itu memang benar terjadi.
"Yang penting untuk sekarang masih ada, kan? Kamu juga, sih, kenapa sampai bisa kehabisan stok, sih?"
"Loh kok, kamu yang sekarang marah? Kamu bagaimana sih, Harry. Harusnya kamu juga ingat kapan-kapannya saat aku butuh pakai—" Ginny menghentikan omelannya tepat saat Albus dan Lily muncul di pintu dapur. "Hay, anak-anak! Sudah siap sahur?"
Ekspresi wajah kesal Ginny berubah drastis. Kekesalan sebelumnya langsung melunak ketika kedua buah hatinya datang. Harry hanya bisa terpaku mengakui kehebatan wanita yang sedang mengalami masa-masa spesial. Emosi yang bisa dengan mudah berubah seperti membalik telapak tangan.
"Aha, langsung duduk. Sebentar lagi supnya siap." Tambah Harry kembali menghadap kompor dan membiarkan Ginny mengambil posisi duduk di hadapan Lily.
Tidak ada yang berani bertanya baik Albus maupun Lily. Beberapa menit mereka makan, Harry terdengar mengeluarkan suara. "Rencananya kereta dari Hogwarts akan sampai lebih awal. Kira-kira jam sembilan sudah sampai. Jadi nanti kita akan jemput James di Kings Cross agak lebih pagi, ya."
"Hah? James pulang hari ini?" Albus terkejut menyadari kakaknya akan pulang.
"Iya. Hogwarts sudah liburan sepanjang puasa. Nanti setelah lebaran James kembali lagi. Liburannya baru bulan depan." Jawab Harry dengan mulut penuh makanan.
Lily menyendok supnya dengan pandangan menuju tajam ke arah sang ibu. Ada yang tidak beres dengan ibunya sejak ia melihatnya turun dari kamar. Merasa diawasi, Ginny membalas tatapan Lily dengan sama tajamnya.
"Kenapa, sayang? Supnya tak enak?" tanya Ginny. Ia sentuh pelan-pelan tangan Lily mulai khawatir. "Kau tidak menambahkan apa-apa lagi kan, Harry?" Pertanyaan itu Ginny tujukan kepada suaminya. Harry langsung terhenyak tak tahu apa-apa.
Harry menggeleng tegas merasa ia tak melakukan apa-apa dengan sup itu. dengan percaya pula Lily menyatakan jika tidak ada apa-apa dengan sup yang ia makan. "A-aku hanya memikirkan Jamie, Mummy. Aku tidak apa. Enak kok supnya." Begitu kata Lily memberi ketenangan pada yang lain.
"Aduh, Lily. Ya sudah kalau begitu lanjutkan makan kalian. Nanti sholat subuhnya bareng daddy, ya. Mum sebentar lagi mau ke the Burrow sebentar—"
"Bukannya nanti sebelum buka kita ke sananya, Mum?" tanya Albus. Makanannya sudah lebih dulu habis.
"Iya, Mum hanya berkunjung sebentar. Mau mengambil sesuatu."
Sekitar pukul tiga kurang lima belas menit Ginny meminta ijin untuk mengunjungi the Burrow dan membiarkan kedua anaknya bersama Harry. ketiga Potter yang tersisa menyempatkan bersama di depan televisi menyaksikan kembali animasi favorit Lily sejak bayi yang masih terus tayang di channel yang sama.
Harry duduk tepat di tengah sofa panjang. Di kanannya ada Lily sedangkan di sisi kirinya bersandar badan Albus. Keduanya memeluk erat badan ayahnya dengan kepala sama-sama bersandar nyaman di dada bidangnya. Harry dengan senang memeluk dua tubuh kecil itu lebih mendekat. Menghirup bau khas anak-anak yang begitu khas dari tubuh Albus dan Lily. Harry merasa ketenangan yang sangat nyaman.
Sampai Imsak dan tiba waktu Subuh. Harry memita kedua anaknya untuk segera mengambil wudhu dan berkumpul di ruang ibadah di lantai bawah.
Harry mengambil posisi sebagai Imam, Albus betugas iqomah, dan Lily menjadi makmum perempuan sendirian pada jamaah Subuh kali ini. Ginny masih belum kembali sampai mereka benar-benar sudah siap.
"Tidak terasa sudah sepertiga lebih kita puasa di bulan Ramadhan ini." Albus tersenyum menunjukkan kalender duduk di dekatnya.
Selesai mencium khidmat tangan ayahnya Lily menjawab, "dan aku belum ada yang kosong. Full! Kau juga kan, Albie?"
Albus mengangguk setuju dengan pernyataan adiknya. Ia dan Lily sangat bersemangat dan sangat menjaga puasa serta ibadah mereka yang lain. Tidak bisa dipungkiri jika usaha keduanya turut serta dari pengawasan kedua orangtua mereka. Ginny benar-benar mengawasi ibadah putra dan putrinya itu sepanjang hari. Untuk evaluasinya, Harry akan sering menanyakan dan meminta pertanggungjawaban baik Albus dan Lily pada setiap malamnya sebelum tadarus bersama.
Kedua anak itu akan menjelaskan aktifitas mereka sepanjang hari pada Harry untuk selanjutnya diberikan petuah-petuah sederhana namun bermanfaat bagi Albus dan Lily sebagai evaluasi.
"Hebat. Kalian masih kecil tapi puasanya sudah bisa full. Apapun yang dijalankan dengan ikhlas, hasilnya saat menjalankannya akan lebih terasa ringan. Ibadah lebih baik dengan kesadaran sendiri. Kalau Mummy atau Daddy sampai marah itu karena memang kewajiban kami sebagai orangtua mengawasi kalian."
Albus mengangguk, lantas menambahkan, "karena kami masih menjadi tanggung jawab Mummy dan Daddy, iya kan?" kata Albus.
"Kita juga masih kecil. Jadi perlu di awasi. Jangan sampai puasanya bolong—nah, bagaimana Jamie di Hogwarts, ya? Kata Uncle Ron kan banyak sekali makanan di sana? Benar begitu, Dad?"
Pertanyaan polos Lily mengundang tawa Harry. Ia mengangguk membenarkan tentang masalah makanan itu. "Apapun makanan yang kamu inginkan, Hogwarts menyediakannya, Lils." Tukas Harry ikut mengulang kenangannya di Hogwarts.
"Pantas saja Uncle Ron pengen sekali kembali ke Hogwarts. Alasannya cuma untuk cari makanannya." Tambah Albus membuat semua ikut tertawa. "Dan itu bahaya juga untuk James. Untung dia nanti kembali."
"Iya, kita bisa mengawasi dia apa benar James masih puasa atau sudah tidak kuat di tengah jalan dia makan satu kotak coklat kodok."
"Hus, sudah-sudah!" Harry menghentikan segera perbincangan anak-anaknya yang terus membicarakan si sulung. James memang nakal. Tahun lalu ia beberapa kali ketahuan batal puasa karena tak tahan lapar dan haus. Namun di tahun ini, James sempat mengirim surat pada keluarganya jika ia berjanji akan berpuasa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
"Semoga saja James sudah berubah. Sekarang, kalian bisa keluar nonton tv atau tunggu Mummy pulang."
"Oh, ya, Dad. Mummy kenapa, sih? Tadi makan sahurnya sedikit sekali." Tanya Lily menahan Harry yang melepas peci di kepalanya.
Harry mengapit pundak Albus keluar dari ruang ibadah. Di tengah ruang keluarga langkah mereka kembali terhenti akibat pertanyaan Lily tentang Ginny.
"Em—" Harry bingung memulainya dari mana, "Mummy hari ini tidak puasa, sayang. Sedang halangan. Jadi nanti jangan kaget kalau Mummy ketahuan makan atau apapun itu."
"Hem.. enak, ya. Perempuan ada halangannya. Jadi tidak puasa." Tutur Albus iri dengan keistimewaan yang beberapa kali ia tahu dari ibunya. Salah satunya tentang berpuasa atau beribadah yang lainnya.
Lily tampak mengerutkan dahi tak paham. "Halangan?" Lily benar-benar tidak tahu. "Seperti dulu Mummy tidak ikut sholat dan puasa?"
"Benar, Lily. Mummy sedang.. mens-truasi. Ya, menstruasi." Jawab Albus tenang.
"Hah? Menstruasi itu seperti apa? Kenapa tidak boleh sholat dan puasa, sih? Nanti kan dosa kalau tidak puasa. Iya, kan, Daddy?"
Harry ikut kembali meraih tubuh Lily mendekatkan ke tubuhnya. Lily selalu membuatnya terkesima dengan keluguannya itu. "Malahan kalau Mummy sholat atau puasa, bisa dosa, sayang. Mummy boleh saja puasa tapi tidak dapat pahala. Badan Mummy juga bisa lemas karena.. menstruasinya itu." setidaknya Harry sudah berusaha menjelaskannya dengan sangat sederhana.
"Kenapa harus menstruasi? Laki-laki saja tidak. Benar, kan?" Lily masih belum terima dengan penjelasan itu.
"Itulah keistimewaan perempuan. Keistimewaan yang diberikan Tuhan pada Mummy dan perempuan yang lain.. Karena kalau tidak ada siklus menstruasi itu.. tidak ada anak-anak hebat seperti kalian lahir di dunia ini."
Lily benar terpaku. Kepalanya pusing mencerna satu persatu alasan yang membuat berpikir berkali-kali. Terlalu berat untuk masalah itu dipikirkan anak yang belum genap sembilan tahun itu
"Tidak masuk akal!" Spontan Lily menjawab sambil melangkah naik ke arah tangga menuju kamarnya bersama Albus.
Harry menahan tawanya setelah mendengar balasan Lily. "Nanti saat tiba waktunya kamu juga akan merasakannya, sayang. Kalau sudah besar." Tambah Harry masih berdiri di tempatnya. "Tentu saja masuk akal, nak. Bahaya kalau Mummymu tidak menstruasi." Tambahnya dalam hati.
Beberapa orangtua wali para siswa Hogwarts telah memenuhi peron 9 ¾ . Sebentar lagi kereta akan sampai dengan siswa siswi Hogwarts yang akan berlibur selama sisa bulan puasa yang ada. Salah satunya adalah James dan Fred Jr yang juga siap ditunggu sang ayah tidak jauh dari Harry dan keluarganya menunggu.
"Itu dia!" Lily berteriak kencang setelah kepulan asap Hogwarts Express mulai terlihat dari kejauhan.
Benar saja kereta kebanggaan Hogwarts tiba. Satu persatu penumpang yang sebagian besar adalah siswa Hogwarts turun dengan wajah gembira dan lega telah sampai dengan selamat. Dari arah kerumunan penumpang dan penjemput, Harry berinisiatif untuk mendekat sambil membantu membawakan barang-barang James.
Setelah beberapa saat menunggu, Harry bersama James dan sebuah troli berisi satu tas berukuran sedang mendekat ke kerumunan keluarga kecil mereka. Tidak banyak yang dibawa James sebab ia masih harus kembali setelah lebaran nanti. Ranselnya pun tidak begitu terisi penuh sehingga membuatnya mudah untuk berlari dan memeluk ibu serta adik-adiknya bergantian.
"Assalamualaiku, semuanya. Masih puasa, kan?"
"Hah?" Albus dan Lily terhenyak dengan sikap berbeda kakak mereka. jauh seperti yang terbayang di pikiran mereka sebelumnya.
"Kau sehat, James?" tanya Albus tidak percaya.
Dengan senyuman manisnya, James menyentuh pundak Albus lantas membalas, "alhamdulillah, adikku. Aku sehat, sangat sehat. Puasa membuatku sehat dan bugar. Kalian harus semangat juga, ya!"
Benar. Itu memang James. Hanya saja kelakukannya jauh lebih berbeda.
"Mari kita pulang. Nanti keburu Dzuhur kalau kelamaan ngobrol di sini." James sempat berbalik melihat ayahnya yang baru mendekat dengan tas bawaannya. Dengan sopan James ikut mengangkat tasnya lantas berkata, "sini, Dad, aku bantu."
Tanpa pikir panjang Harry memberi kesempatan James membantunya membawa barang-barang itu menuju mobil mereka di area parkir.
"Harry—" bisik Ginny setelah menyamai langak suaminya di belakang anak-anak mereka, "kau melihatnya, kan?"
Harry menggeleng pelan. "Ya, aku tak tahu apa yang sudah diperbuat para profesor Hogwarts selama seminggu lebih puasa kali ini sampai James berubah sekelas ustad."
"Prankster kita sudah tobat!" tambah Ginny bersyukur. "Alhamdulillah!"
"Rasanya ingin Ramadhan terus kalau melihat James seperti ini." Harry benar-benar terharu menyadarinya. Tentu saja. Orangtua mana yang tidak bangga melihat perubahan besar anaknya yang terkenal nakal menjaduh jauh lebih alim dari biasanya.
Mereka bersiap pulang. Tujuan mereka akan kembali ke rumah terlebih dahulu untuk sejenak berisitirahat. Baru nanti setelah Ashar mereka harus berkunjung ke the Burrow untuk mengikuti kajian minggun khusus keluarga untuk Ramadhan tahun ini. Mendegar penjelasan itu dari Lily, James tampak sangat bersemangat.
"Wah kalau setiap hari bisa lebih asik daripada seminggu sekali. Ibadah jadi lebih spesial. Benar, kan?" tanya ulang James sebelum kembali mengulang bacaan Al-Quran saku yang terus ia bawa di kantung jaketnya.
TBC
#
Wahhh ada apa ya dengan James sampai berubah begitu? Apa saja kelakukan James setelah pulang nanti? Penasaran? Tunggu chapter mendatang minggu depan. Maaf kalau masih nemu typos. Jangan lupa follow, fav, dan review fic ini. Anne akan senang sekali. Semoga menghibur! Sampai jumpa minggu depan. Insha Allah!
Selamat puasa!
Thanks,
Anne xoxo
