Hi, everyone!
Anne datang lagi cukup malam. Hehehe maaf..
Kali ini chapter 4 akan melanjutkan kisah di chaptr 3 tentu saja dan sekaligus menjelaskan tentang perubahan sikap alim yang dialami James-dan mungkin sepupu-sepupunya yang lain juga. Hem.. penasaran?
Anne balas review dulu!
ninismsafitri: alhamdulillah moga James tobatnya beneran :)
sakawunibunga: semoga James ikhlas tobatnya.. biar Harry sama Ginny terharu :) Hehehe Lily masih kecil, kakak, jadi nggak paham yang begituan... :)
ekspuulsoh: peeves ikutan tobat gitu ya hehehe :)
Afadh: James tobatnya ada sebab. Kayak peribahasa ada asap ada api.. ahh cowo emang nggak peka kerjaannya. Kamu juga yeee :)
sakuxhan: alhamdulillah seneng ya James toba :) *kesannya James emang nakal banget gitu, ya!* :)
Baiklah.. yang udah penasaran bisa langsung baca.
Happy reading!
"Oh, come on! Dataku sudah mati? Atau sudah habis? Seriously?"
James mengerang sebal di dalam kamarnya. Ponsel yang sudah ia tinggalkan beberapa bulan untuk ke Hogwarts tidak bisa ia gunakan. Data untuk koneksi internetnya masih ada, namun masa berlakunya ternyata tidak lagi bertahan. Seingat James, terakhir ponselnya terisi data satu bulan sebelum ia berangkat ke Hogwarts. Dalam hitungan sederhana memang sudah waktunya ia mengisi ulang jika masih ingin mengoptimalkan ponsel pintarnya itu.
"Dad, aku boleh minta sesuatu," James menyodorkan ponselnya ke hadapan Harry di ruang kerjanya. Siang ini Harry masih sibuk memeriksa beberapa laporan Kementerian hasil rapatnya dengan beberapa divisi. Ada lima tumpukan yang baru ia selesai tiga.
Harry melipat ulang dokumennya lantas melirik ke arah ponsel James. Ia ingat ponsel itu Harry hadiahkan pada putra sulungnya untuk kelulusan James dari Primary Schoolnya.
"Rusak?" tanya Harry mengamati bagian luaran ponsel James. "Masih bagus, kok."
"Masih bagus, sih. Tapi data internetku habis, Dad. Aku butuh sekarang."
"Sekarang?"
James mengangguk. Wajahnya mulai menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh dengan permintaannya. James mengambil kembali ponselnya dan menyalakan aplikasi kirim pesan yang akan bekerja jika ada koneksi di sana.
"Nggak nyala." James mengeluh.
"Memangnya kamu mau chatting dengan siapa?" Harry kembali sibuk dengan dokumennya tanpa melepas perhatiannya pada James.
"Fredie." James mengingat sepupu terbaiknya itu. "Aku tidak sempat bertemu dengan dia sejak masuk kompartemen. Ada yang ingin aku bicarakan sebelum nanti ke the Burrow, Dad."
Sebenarnya Harry bisa saja memberi yang dibutuhkan James dengan sekali berkirim pesan lewat ponsel pribadinya. Toh, James juga sudah saatnya mendapat jatah paket data internet dan pulsa bulanan darinya.
Tapi, Harry ingin mencoba menguji James. Harry ingat perubahan yang ia lihat secara langsung sejak anak laki-laki itu turun dari kereta. Hanya sekadar menguji kebenaran perubahan drastis itu, Harry ingin memulainya dengan menguji kesabaran James.
"Em—" Harry tiba-tiba mulai yakin dengan rencananya, "boleh saja. Nanti Dad pesankan lewat ponsel Dad. Tapi sebentar lagi. Dad mau sortir semua dokumen ini dulu. Libur akhir pekan lebih enak tanpa kerjaan. Boleh kan, James?"
"Yeah! Kok begitu, Dad! Ini kan akhir pekan. Dad libur, kan?" James mendesah lemas. Ia butuh secepatnya. Tapi sang ayah tidak bisa.
Harry merasa caranya lumayan berhasil membuat sifat asli James muncul. Rupanya James belum seberubah yang ia pikirkan. Potter senior itu kembali berlaga sibuk dengan tumpukan dokumennya. Coba-coba membaca lembaran yang berbeda atau membaca buku secara acak yang tidak 'nyambung' dengan pekerjaan yang sedang ia kerjakan.
"Bekerja untuk mengisi hari-hari puasa, kan, sama saja ibadah, James. Seperti Al di halaman belakang itu," Harry menunjuk jendela besar ruang kerjanya yang menghadap langsung ke halaman belakang rumah. Ada Al dan istrinya sedang sibuk menanam tanaman baru di sana. "Ia dan Mummy menanam, menyirami tanaman.. berbuat hal baik dan bermanfaat itu semua juga ibadah."
Harry meletakkan buku psikologi yang asal dibukanya kembali ke atas meja. Diperhatikannya baik-baik ekspresi James dengan seksama. Ponsel di tangannya masih dalam keadaan mati. Sengaja karena memang James membutuhkan ponsel itu untuk mengirim pesan pada Fred Jr saja. Tanpa koneksi internet, James tidak bisa berbuat apa-apa dengan ponselnya itu.
"Nanti Dad belikan. Tapi kamu harus bersabar, James. Bukan hanya menahan lapar dan haus saja, berlatih sabar juga inti dari puasa yang kita jalani sekarang. Tunggu saja, paket data internetmu akan kembali aktif bahkan sebelum kamu menyadarinya. OK!" Harry mengetuk-ngetuk pelan dahi James dengan gulungan koran yang ia buat saking gemasnya, "hitung-hitung tambah amalan baikmu—"
"Amalan baik?"
"Ya, sabar juga termasuk amalan baik! Setuju, kan—"
Belum selesai Harry berbicara, James lebih dulu berlari keluar dari ruang kerja Harry dan mengilang menuju arah kamarnya. Ya, mungkin karena memang hanya ke arah itu James berlari. Ruangan kerja pribadi Harry di rumah berada di paling ujung lantai dua. Sedangkan kamar James berada di ujung lain di lantai yang sama. Sehingga kemungkinan besar jika James akan kembali ke kamarnya atau mungkin turun ke lantai bawah.
Tidak lama kemudian, kepala James muncul di ambang bibir pintu dengan senyuman merekah. "Aku setuju, Dad. Catatan amalanku akan bertambah lebih banyak hari ini. Aku akan sabar menunggunya!" Dan James kembali berlari menghilang. Sempat terdengar ia bergumam aneh yang masih sempat Harry dengar meski tak paham.
"Yuhuu hari ini aku akan dapat poin banyak!" gumam James.
Yups, meski tak paham apa maksudnya, cara Harry berhasil.
Harry tidak tahu ulah apa lagi yang akan dilakukan putranya. Sejak kedatangannya hari ini, James memang terkesan berubah jauh lebih baik dari kelakuannya sehari-hari. Sedikit banyak itu semua berpengaruh dari satu minggu full James dan juga siswa Hogwarts lain tidak mendapat libur mereka di awal puasa lalu. Harry dan Ginny sempat saling menebak jika kegiatan Ramadhan di Hogwarts cukup keras hingga mengubah sikap putra mereka itu menjadi jauh lebih baik.
Mungkin jika Harry menanyakannya langsung pada Neville tentang kegiatan Ramadhan di Hogwarts semacam apa bisa membuatnya paham mengapa James sampai 'hijrah'.
Toko WWW tutup lebih awal sejak bulan puasa. Apalagi tiap akhir pekan yang biasanya buka dan tutup lebih larut saat ini hanya buka pagi dan tutup menjelang siang saja. Ron dan George memutuskan lebih memprioritaskan ibadah mereka selama satu bulan penuh ini. Keputusan itu sejalan dengan kegiatan mingguan yang orangtua mereka kerjakan tentang kajian mingguan keluarga besar Weasley di tiap akhir pekan selama puasa.
Keluarga Weasley telah tumbuh menjadi benar-benar keluarga besar. Memiliki banyak anak, cucu, dan menantu yang jumlahnya tidak sedikit memberi keuntungan besar jika cukup membuat acara keluarga saja. Pasti akan ramai. Dan di kesempatan Ramadhan kali ini, Arthur dan Molly ingin memberi kesan yang 'mendidik' khususnya bagi para cucu mereka.
Charlie memutuskan pulang ke Inggris dan tinggal di the Burrow sampai lebaran nanti. Naga-naga yang ia jaga di penangkaran tempatnya bekerja di Rumania masih harus diurus. Jadi ia memang tidak bisa berlama-lama di kampung halamannya sendiri.
"Kapan mereka semua datang?" Charlie gusar berjalan mondar-mandir di sekitar perapian. "Kemana semua keponakan-keponakanku itu? Tidak tahu apa aku sudah datang?"
Baru tadi pagi, ia sampai ke the Burrow dari Rumania untuk menghabiskan cutinya di rumah. Berhubung Charlie satu-satunya yang tidak berkeluarga dari klan Weasley, dirinya selalu dilanda rindu pada para keponakannya tiap ia pulang ke Inggris.
"Sabar, Charlie. Bukankah kedatanganmu nanti bisa jadi kejutan kalau mereka tidak tahu. Rencananya mereka datang setelah Ashar." Ujar Arthur yang sibuk memperbaiki meja kecil untuk tempat mereka nanti tadarus bersama.
Tidak lama setelah Charlie memilih membantu ayahnya, suara desingan kencang terdengar dari arah perapian. George muncul dengan sebuah kantung kertas besar di pelukannya.
"Mungkin aku benar-benar lapar sampai berhalusinasi." George terhuyung masuk sendirian ke area ruang keluarga. Ia meletakkan kantung belanja dari sang istri di meja dapur untuk segera mendekat ke tempat ayah dan sosok lain yang ia kenal seperti kakaknya.
Charlie memperhatikan suara berat yang sudah sangat ia kenal. "Georgie! Adikku yang makin gendut!" teriaknya lantang.
"Bloody hell, kapan kau kembali, Charlie?"
"Aduhh baru tadi pagi. Aku datang tepat saat Dad diam-diam kencing di bawah pohon ayunan." Suaranya kencang seolah menyindir ayahnya.
Terang-terang Arthur berteriak merasa tersinggung, "khilaf, son! Mumpung tadi olahraga di halaman."
"Kebiasaan." Tutur George tahu kelakuan ayahnya yang makin malas untuk sekadar pergi ke kamar mandi. "Kalau sudah olahraga kecil-kecilan di halaman belakang, pipisnya ya di situ. Tak apa, asal jangan kau beritahu anak-anak soal pohon ayunan mereka sering dikencingin Dad. Apalagi pada Vic, Rose, dan Lucy. Mereka bisa kejang tahu kakek mereka berbuat jorok di tempat mereka bermain."
Ketiga cucu perempuan Weasley itu terkenal tidak suka dengan hal-hal jorok. Mau bagaimana lagi, mereka harus diam walaupun terkadang baik Victoire, Rose, atau Lucy sempat curiga dengan bau pesing di sekitar tempat mereka bermain ayunan.
"Jangan, George. Kasihan anak-anak itu."
Tawa George dan Charlie menggema lepas. Kakak beradik itu benar-benar bahagia akhirnya bisa dipertemukan kembali di bulan Ramadhan tahun ini. Hampir dua tahun Chalie tidak bisa berpuasa bersama di Inggris. Ia hanya sempat pulang 2 atau 3 hari untuk menikmati lebaran untuk selanjutnya kembali ke Rumania. Oleh sebab itulah, Charlie benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan waktu pulangnya itu.
"Angie akan ke sini sekitar jam 8, Mum. Ia harus mengunjungi adiknya yang sakit." George menyerahkan kantung yang ia bawa untuk langsung diserahkan pada Molly. "Belanja pesanan Mum sudah disiapkan Angie di kantung ini. Dia minta maaf sekali tidak bisa membantu menyiapkan buka puasa."
Molly menepuk pundak George tak masalah. "Biarkan istrimu mengunjungi adiknya dulu. Mum yang minta maaf belum sempat menjenguknya. Ya sudah, biar Mum periksa dulu belanjanya. Kau bantu Charlie dan daddymu menyiapkan meja untuk pengajian nanti."
"Pengajian? Ada pengajiannya juga?"
Delapan meja rendah kecil selesai diperbaiki. Masih ada beberapa lagi yang akan Arthur paku dan poles sedikit kerangkanya agar terlihat lebih baru. Arthur menunjukkannya sebagai bukti jika kata Molly tadi memang benar.
"Meja-meja ini untuk alas Al Quran saat tadarus, pengajian, dan kajian yang lain. Kalau mejanya bagus, anak-anak pasti tambah semangat kan ibadahnya." Arthur menyerahkan mur dan baut pada Charlie untuk dipasang ulang pada engsel-engsel meja lipat yang lepas.
Di bantu George, pekerjaan mereka bisa jadi lebih cepat dan ringan sampai selesai nanti. "Woho, anak-anak pasti suka. Kalau mereka semangat ikut, buku laporan Ramadhan mereka akan penuh sampai lebaran nanti." Kata George girang.
"Buku laporan?" tanya Arthur dan Charlie bersamaan. "Maksudmu, George?"
George tertawa lagi melihat ayah dan kakaknya kebingungan dengan kata-katanya. "Buku laporan dari Hogwarts. Kalau kata Fredie tadi dia menyebutnya.. rapor amalan bulan puasa. Begitu katanya tadi. Yeah nanti lah kalian tahu sendiri.. satu lagi, siapapun yang akan memimpin sholat tarawih, siap-siap bawa pena bulu, ya! Buat bagi-bagi tanda tangan." Tukasnya.
Para ibu sudah sibuk mempersiapkan makanan di dapur dipimpin Molly sebagai yang dituakan. Sementara para pria mendapat tugas mengajak anak-anak untuk berkumpul melakukan aktifitas di halaman belakang the Burrow.
"Daddy, ini lepas lagi."
Semua berjalan dengan normal sampai suara teriakan Lily mengalihkan perhatian Harry selaku ayah gadis itu. Lily berlari menepi ke area teras rumah menghampi pria berkacamata yang ia panggil Daddy. "Kenapa lagi, sayang? James mana?" Harry menerima sebuah kapal-kapalan aluminium dari tangan putrinya. Mainan itu lagi, batin Harry.
Kapal-kapalan buatan Arthur yang dibagikan pada anak-anak untuk mengisi waktu menjelang buka puasa itu memang sudah terlalu tua. Mainan yang anak-anak bawa sudah ada sejak Ron seusia Lily sekarang. Ada beberapa kapal-kapalan yang utuh tersimpan di gudang perkakas Muggle Arthur. Dengan sedikit sentuhan di sana sini, lantas Arthur mencoba perbaiki kembali untuk cucu-cucunya.
"Jangan dilepaskan bagian ujungnya, Lis. Nanti kalau kamu taruh di atas air, bisa oleng terus—"
"Tenggelam. I know, Dad. Sorry. Aku lupa melepas penutup yang mana."
Harry meminta Lily mengambilkan tisu di salah satu meja tempat berbuka nanti untuk membersihkan bagian kapal-kapalan yang kemasukan air.
"James di mana, sih? Kenapa tidak minta bantuan James saja. Dad sedang membantu Grandpa untuk sholat nanti loh."
Harry, Ron, Percy, dan Bill bertugas membantu menyiapkan tempat untuk sholat mereka nanti mulai Magrib tiba. Sebuah tenda sihir dibangung di belakang halaman the Burrow. Kecil, tapi tidak untuk isi di dalamnya. Cukup luas untuk diisi satu klan Weasley lengkap tiga generasi. Sedangkan George dan Charlie mendampingi anak-anak menjauh dari area dapur—agar tidak tergoda, untuk bermain di halaman belakang dan menghindar dari area tenda.
"Itu," Lily menunjuk ke pondok kecil di salah satu sudut pekarangan, "ngobrol.. aku tidak tahu. kedengarannya membosankan, Dad. Jadi aku ikut main kapal-kapalan saja dengan Albie, Rosie, Hugo, Roxxy, Vicky—"
Sedikit diberi mantra pengering, kapal-kapalan Lily sudah siap untuk dimainkan lagi. Lily menerima mainannya dengan senang lantas meminta ijin untuk kembali ke kolam untuk mencoba mainannya lagi.
Dari depan pintu tenda sihir Harry melihat putranya sedang duduk melingkar bersama para keponakannya yang lain. James dan sepupu-sepupunya tampak serius dengan sebuah perbincangan yang tidak bisa Harry dengar dari tempatnya berdiri. Ia hanya melihat ada buku-buku tipis sesekali diangkat untuk dibicarakan oleh mereka. Satu persatu anak-anak itu memilikinya, juga James.
"Kalau buku dari Hogwarts, sepertinya aku tidak pernah tahu buku semacam itu diberikan dari Hogwarts? Buku apa, ya?" tanya Harry dalam hati. Pikiran negatif coba ia buang jauh-jauh dan berharap James dan anak-anak yang lain tidak membuat ulah yang aneh-aneh.
"You know, kata Profesor Slughorn kalau kita bisa memenuhi daftar di dua halaman pertama saja, ia akan memberi nilai ramuan minimal A. Meskipun kau mengikuti pelajarannya dengan tidur." Kata Fred Jr. penuh kesungguhan.
"Berarti.. kalau bisa penuh semua—nilai O bisa cuma-cuma, dong?" Louis, yang baru duduk di tahun pertamanya coba menarik kesimpulan sederhana. Ia membuka lagi lembaran buku berlogo Hogwarts dan kubah masjid di tangannya dengan penuh ketelitian.
Lucy mendesah lemas ikut ketakutan. Buku yang ia bawa baru berisi tiga perempat di halaman pertama. Belum penuh hingga tabel kolom terakhir. "Seandainya saja ada mantera untuk mengisi penuh buku ini." katanya pelan.
"Kalau mau coba-coba, bukannya terisi semua.. catatan yang sudah tertulis di buku ini malah hilang semua. Bagaimana kalau malah gagal? Mau usahamu menjadi orang baik selama puasa sia-sia begitu saja saat ini dikumpulkan nanti? Oh.. jangan!" Kakak Lucy, Molly, yang terkenal overparanoid tidak ingin berbuat hal konyol untuk membuat buku-catatan-amalan-baik-Ramadhan-Hogwrats—nya jadi makin kacau.
"Sihir di buku ini terlalu sulit dihancurkan." Dominique menunjukkan sampul bagian belakang bukunya pada para sepupunya yang lain. Ada sebuah logo hologram yang berkilau jika terkena cahaya.
Sebagai anak yang menyenangi pelajaran mantera, Dominique memiliki alasan tentang sihir yang terkandung di dalam buku itu. "Logo hologram ini berisi mantera yang ditanam khusus untuk memantau pergerakan perbuatan pemilik bukunya. Manteranya di segel kuat. Siapapun tidak akan bisa menghancurkannya karena memang—sistemnya seperti itu."
"Ini konyol sekali!" pekik James. "Rasanya seperti masih ada pelajaran meski kita pulang ke rumah untuk liburan."
Kata-kata James itu dibenarkan masal oleh para sepupunya yang ikut berkumpul. Semua hanya karena buku. "Habislah kita!" suara-suara tak teriam keluar dari mulut-mulut para anak keturunan Weasley itu.
Tidak terasa semua aktifitas yang mereka semua lakukan, baik para anak dan orang dewasa, tiba sampai waktu berbuka. Menginjak pukul 9, London masuk waktu Maghrib. Harry kembali menjadi muadzin untuk kesempatan kali ini. The Burrow diserang atmosfer ketenangan dan suka cita tiba saat Harry mulai bersuara.
Air sirup dingin dan beberapa biji kurma dihidangkan pertama oleh para ibu. Tidak ada hidangan lain sampai sholat Magrib selesai ditegakkan. Anak-anak yang sudah pasrah setelah perbincangan 'hati-ke-hati' di pondok kecil the Burrow hanya bisa tenang dan ikut aturan yang sudah dibuat oleh orang dewasa.
Mereka ikut sholat, mendengarkan ceramah, sampai berbuka bersama. Tiba saat tarawih yang hingga usai di sholat sunah witir menjelang tengah malam, Fred Jr. menguap tak tertahan lagi. Ia benar-benar mengantuk dan bosan. Itu juga dirasakan James yang tak tahan untuk memainkan petasan pelangi—produk WWW—yang sengaja dibawa Fred Jr. secara diam-diam. Tapi baik Fred Jr. dan James tahu jika meraka harus bersabar. Setidaknya mereka harus bertahan di tempat sholat sampai buku-catatan-amalan-baik-Ramadhan-Hogwrats otomatis terisi sendiri sebagai hasil amalam baik mereka.
"Yes, finnaly—" pekik Louis yang tampak khusyuk selama sholat tarawih pecah kegirangan setelah melihat buku kecil di balik sajadahnya mengeluarkan suara seperti goresan pena. Buku-catatan-amalan-baik-Ramadhan-Hogwrats milik Louis lebih dulu terisi keterangan 'telah melaksanakan sholat tarawih' dan muncul kolom kecil kosong untuk bukti tanda tangan sang imam sholat.
"Hey, aku sudah muncul!" Louis menyenggol lengan Fred Jr. sambil berbisik.
Fred Jr. coba mengecek buku miliknya tapi tidak ada tulisan baru muncul di buku miliknya. "Aku belum ada." Kata Fred Jr. diikuti anggukan senasib dari James.
"Kalian kurang khusyuk, sih. Dari tadi ribut sendiri—"
Suara pekikan Louis tadi sempat membuat para paman, bibi, dan sepupu-sepupunya terkejut. Ditambah lagi, ketika Arthur coba bertanya tentang perbincangan diam-diam para cucu lelakinya.
"Lou—ada apa, nak?" tanya Arthur. Anak yang dipanggil langsung duduk tegap saking terkejutnya.
George membisikkan sesuatu pada sang ayah sambil menunjuk ke arah buku-buku kecil yang tersimpan di balik sajadah para anak yang baru tiba dari Hogwarts pagi tadi.
"Ada yang ingin kau lakukan dengan buku itu?" tanya Arthur lagi. Ia menawarkan dengan lebih lembut agar bungsu pasangan Bill dan Fleur itu mau membuka suaranya menjelaskan yang sebenarnya.
Fleur ikut meminta putranya lebih terkesan memaksa, "kalau kau tidak bicara, kami akan terus bertanya tentang apa yang kamu bawa itu. Sejak pulang kau tampak berbeda, Lou. Domie, kau juga, nak?" Begitu jelas Fleur ikut didengar para orangtua yang lain. Fleur menggenggam tangan Dominique memberi ketenangan. Putrinya itu terlihat khawatir sekali.
Harry menoleh cepat ke arah James lantas disambung ke sudut shof wanita di mana istrinya masih duduk anteng bersama Hermione. Ginny paham maksud tatapan suaminya itu.
"Jauh lebih alim?" Audrey ikut menanyakan hasil pengamatannya tentang kedua putrinya sendiri.
"Yups," pekik George semangat, "begitu juga yang dialami Fredie, putraku, dan—"
"Rekan seperjuangannya.. James, putraku." Sambung Harry tidak kalah semangatnya. Ia makin penasaran dengan ulah James di bulan puasa ini.
Masing-masing anak yang telah dicurigai oleh kedua orangtuanya tertegun tak percaya. Sejenak tidak ada suara gaduh hingga suara goresan baru terdengar dari balik sajadah di shof perempuan. Buku milik Victoire bersuara.
"Vic, ada apa sebenarnya?" tanya ibunya, Fleur mengambil buku milih Victoire setelah putrinya dengan senang hati. "Buku-catatan-amalan-baik-Ramadhan-Hogwrats? Apa ini?" baca Fleur dengan aksen Prancisnya yang masih kental.
"Itu buku laporan kegiatan selama Ramadhan yang diberikan Hogwarts, Mum. Satu minggu kami ikut kegiatan Ramadhan di kastil kami diajarkan tentang amalan-amalan yang baik di bulan puasa. Nah, sebelum pulang.. kemarin kami dibagi buku ini untuk memantau ibadah dan kelakuan kami selama liburan di luar Hogwarts." Jelas Victoire. Ia membantu membukakan di halaman khusus tepat di bagian pertengahan buku.
"Lalu, tadi suara-suara apa yang keluar dari buku itu, Vic?" tanya Hermione penasaran.
"Penulisan amalan secara magic." Jawab Victoire tanpa ragu.
Sebuah judul tebal bertuliskan 'ibadah sholat tarawih' dengan tabel panjang di bawahnya Victoire tunjukkan lantas dijelaskan, "tidak hanya tabel kegiatan tarawih, semua amalan yang kami lakukan selama puasa ini akan secara otomatis tertulis dengan sendirinya. Buku ini tidak bisa ditulis manual. Semuanya otomatis bekerja dengan sihir dari buku ini. Kalaupun bisa ditulis hanya oleh imam sholat atau penanggung jawab yang benar-benar ada ketika amalan itu dibuat. Misal ini," Victoire menunjuk kolom kosong di samping keterangan sholat tarawih yang baru muncul di bukunya.
"Ini harus ditandatangani oleh Grandpa selaku imam sholat yang aku ikuti. Selain Grandpa, jangan harap bisa membuat tandatangan di sini. Bahkan dengan pena sihir sekuat apapun.. tidak ada yang bisa memanipulasi sihir dari buku ini."
Sorakan para orang dewasa yang paham dengan konsep pendidikan religi terbaru dari Hogwarts itu menimbulkan spekulasi cepat tentang perubahan sikap para putra putri mereka. Ginny dengan semangat ikut bertanya pada Victoire tentang efek yang akan timbul jika catatan amal itu terbentuk.
"Kita akan dapat poin untuk menambah perolehan skor asrama. Masuk pada laporan hasil akhir saat kenaikan atau kelulusan nanti juga. Ada juga beberapa profesor yang menjanjikan nilai baik jika amalan yang kita lakukan—tentu saja yang tertulis di buku itu—berjumlah banyak, Auntie Ginny."
"Ahh, I see—" suara Ginny kencang sekali. Menujukan pada James yang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Bagus, dong. Apalagi kalau ibadah dan amalan baiknya itu dilakukan dengan ikhlas. Bukan cuma sekadar mencari poin tinggi." Kata Albus mendapat anggukan setuju Rose dan usapan pelan dari sang ayah di punggungnya.
"Tapi kalau kembali nakal kan nggak boleh. Jangan sampai setelah puasa amalan itu—selesai. Hasilnya sia-sia. Bukan begitu, Mummy?" protes Lily pada ibunya.
"Sudah—sudah," Arthur mulai menengahi, "semuanya itu memang baik, tapi jika tidak disalahgunakan. Namanya beribadah, harus dengan hati yang ikhlas. Memang kita mengharap surga setelah semua amalan yang kita lakukan di dunia ini, tapi jika alasannya untuk menambah nilai dan melupakan begitu saja setelah selesai.. benar katamu, Lily, hasilnya sia-sia. Allah tidak suka umatnya membuat mainan sebuah ibadah."
Petuah Arthur telak mengenai batin masing-masing anak yang merasa tidak ikhlas dalam beribadah. Semuanya tertunduk, menyadari kesalahan mereka yang hanya mengejar poin untuk memenuhi buku mereka.
"Yang penting sekarang.. tetap beribadah. Jalankan dengan ikhlas tanpa paksaan. Dengan kesadaran penuh jika itu sebuah kewajiban. Mengerti?"
"Mengerti, Grandpa." Jawab para anak dengan lemas.
"Baiklah, sebentar lagi kita akan tadarus bersama, ya. Tapi bisa istirahat sebentar sekitar sepuluh menit. Nanti kembali lagi kemari."
Komando Arthur dijalankan dengan semangat oleh semua anak, menantu, dan cucu-cucunya. Beberapa dari mereka ada yang menyempatkan keluar untuk mengambil cemilan, sekedar menghirup udara segar, atau ada yang masih di dalam tenda seperti Harry, Ron, dan Bill yang membantu menyiapkan tempat untuk tadarus bersama.
Sepuluh menit selesai sehingga satu persatu tampak kembali memenuhi tenda untuk berkumul menyimak Al Quran yang mereka bawa. Hanya saja, ada kurang.
"James kemana, Harry?" tanya Ginny pada suaminya yang siap memulai bagian pertama membaca. Harry menyadari putranya tidak tampak kembali di tenda setelah istirahat.
George rupanya ikut sadar jika putranya pun tidak ada. "Fredie pun tak ada, Harry."
"Louis juga," tambah Bill ikut mengambil posisi di dekat Arthur.
"Ahh mungkin masih mengambil makanan. Kalau begitu dimulai saja dulu. Biar nanti mereka bisa langsung ikut menyimak." Pinta Arthur mempersilakan Harry memulai tadarus mereka.
Harry mengangguk. Ia menarik napas pelan-pelan lantas memulai, "a'udzubillah himi—"
Dor dor dor!
Percikan cahaya warna-warni menyebul indah ke langit gelap. Dari balik jendela tenda sihir keluarga besar Weasley dengan jelas kembang api unik berbentuk pelangi itu tercipta setelah tiga bocah laki-laki dengan senangnya menyalakan api pada sumbu kecil petasan yang mereka mainkan. Sungguh menyenangkan menjadi diri sendiri. Meski sempat melewatkan ibadah tadarus yang harusnya mereka ikuti.
"Itu dia.. mereka yang sesungguhnya." Ujar Arthur sejenak lepas dari depan Al Quran tua miliknya. Menikmati sejenak langit malam Ramadhan dengan kembang api warna-warni buah karya para cucunya.
TBC
#
Jiahh Anne terispirasi dari buku Ramadhan yang biasa Anne dapat dulu waktu SD. Isinya harus nulis semua kegiatan selama Ramadhan sampai tarawih yang harus minta tanda tangan imam sebagai bukti. Wkwkwk kalo ingat lucu banget tiap akhir tarawih selalu ngantre di dekat imam buat tanda tangan. Di daerah kalian dulu gitu nggak, sih? Hehehe..
Masih akan berlanjut karena belum lebaran. Mungkin minggu depan jadi chapter terakhir, ya. Ada apa dengan mereka? Ikuti lagi kisahnya minggu depan. Maaf kalau masih ada typo dan.. seperti biasa Anne tunggu reviewnya! Selamat puasa bagi yang menjalankan!
Thanks,
Anne xo
