Hi, everyone!

Anne datang lagi masih di moment lebaran! Alhamdulillah..

Selamat hari raya Idul Fitri semua bagi teman-teman yang merayakannya! Mohon maaf lahir batin, ya! Maafin Anne kalau selama nulis fic kadang buat jengkel. Kata-kata yang tidak baik atau apa saja yang membuat kalian tidak berkenan. Sungguh, dari lubuh hati Anne yang paling dalam Anne mohon maaf lahir dan batin!

Baiklah, karena sudah masuk lebaran, sebenarnya fic ini telat banget. Awalnya memang mau update di hari Jumat minggu lalu pas masih puasa (minggu terakhir) tapi Anne banyak banget yang lagi diurusin. Namanya juga mau lebaran waktu itu. Belum lagi ada keluarga yang dari luar Jawa datang. Semuanya riweh. Dan mumpung sekarang lagi sepi, Anne coba buat chapter akhir fic Starving Fasting ini.

Oh ya dari review yang sudah kalian tulis ternyata kebanyakan hampir sama ya sama ulah Hogwarts yang minta siswanya buat isi buku Ramadhan. hehehe.. masalahnya dulu waktu SD Anne juga gitu. Sampai antre buat minta tanda tangan Imam sholat tarawih hehehe.. Thanks banget yang sudah review, ya!

Karena kemalaman, Anne mungkin akan langsungkan saja. Ini udah ngantuk banget (ngetiknya ini udah jam 12 malam lebih-masuk tanggal 1 Juli). Jadi..

Happy reading!


Satu loyang dialasi kertas keabu-abuan masih mengeluarkan asap hangat dengan aroma vanila yang harum. Kue kering resep buatan Molly Weasley yang melegenda dibuat sempurna oleh sang putri bungsu yang kini telah menjadi nyonya Potter. Hari ini adalah hari terakhir Ginny membuat kudapan lebaran. Sudah ada tujuh resep kue dari ibunya yang sudah ia buat untuk sajian lebaran esok lusa. Toples-toples kecil sudah terisi penuh. Tinggal cake dan kue-kue basah lainnya untuk di santap tepat di lebaran nanti yang akan ia buat sebelum subuh di hari lebaran.

Lily membawa satu stoples kosong menuju dapur di ikuti dengan Harry di belakangnya. "Mummy," teriak Lily sambil mengangkat toples kosongnya tinggi-tinggi.

"Hanya ini yang aku dan Dad temukan di lemari. Seingatku masih ada stoples yang ukuran sedang persegi di atas lemari. Ternyata tidak ada. Yang ada malah itu. Sudah aku bersihkan, kok. Iya kan, Dad?"

Harry menggangguk dengan tampang lemas kelelahan. "Kalau tahu mau buat kue sebanyak ini kita bisa beli stoples baru." Kursi tinggi di sisi coffe table jadi jujukannya pertama. Tenaganya sedikit bangkit ketika mencium aroma kue buatan sang istri yang diletakan di meja yang sama dengan ia bertopang dagu.

"Semoga muat kue-kue itu. Astaga.. istriku hebat sekali membuat kue-kue ini."

"Aku coba resep Mum ini berharap sama dengan yang biasa dibuat Mum. Tapi, kayaknya memang beda walaupun resepnya sama." Ungkap Ginny sambil memeriksa telapak tangannya.

Harry mengeluarkan tongkatnya untuk merapal mantera. Angin tak terlalu kencang keluar perlahan dari ujung tongkatnya. Ia pada permukaan kue yang masih hangat agar semakin cepat hilang uap panasnya. Lily ikut terkesima dengan ulah sihir ayahnya sambil membantu memindahkan kue-kue itu ke atas papan jaring-jaring agar cepat dingin.

"Ahh—" Harry menggerakkan semakin rata angin yang dibuat tongkatnya, "dari baunya saja enak. Rasanya juga pasti enak, Gin. Kan, kamu yang buat—"

"Aww.. terima kasih, Mr. Potter. Selalu saja kau merayuku. "

Harry dan Ginny asik saling pandang tanpa sadar Lily masih ada di antara mereka. Sejenak gadis cilik itu mengalihkan perhatiannya dari kue-kue ibunya menuju kedua orangtuanya bergantian. Seolah hapal dengan kelakuan mereka, Lily menutup matanya dengan jari-jari tangan mulai mengantisipasi.

"Loh, kamu kenapa, sayang?" tanya Ginny. Putrinya bertingkah aneh dengan mata ditutup kedua buah telapak tangannya.

"Em—takut muntah." Hening sejenak di antara mereka. Lily baru mengerti jika orangtuanya sebenarnya tidak paham apa maksudnya. "Kalian mau berciuman, kan?"

Kebiasaan. Baik Lily maupun kedua kakaknya jika melihat ayah dan ibu mereka saling rayu, biasanya akan berakhir dengan kecupan mesra pada bibir keduanya. Jika para anak jadi 'saksi mata' kejadian itu akan terdengar sorakan 'ew' atau 'hoek' menahan muntah. Sayang kalau harus batal puasa mereka hari ini.

"Nanti bisa batal puasaku." Lanjut Lily benar-benar polos.

Para orangtua itu hanya bisa terbahak mendengar penuturan Lily. Sampai-sampai Ginny mendekati putrinya lantas memeluk kepala berambut merah itu penuh sayang—lebih tepatnya gemas. Saking malunya pada Lily yang hapal dengan kebiasaan Harry dan Ginny, wajah keduanya pelan-pelan bersemu merah. "Dad juga takut batal puasanya." Diminta atau tidak, Harry seolah memaksa Ginny untuk melihatnya, "takut kebablasan." Lanjutnya.

"Hah?" Lily tak paham.

"Sudahlah, nak. Mana toplesnya?" Minta Ginny setelah mencubit pinggang suaminya sebagai permintaan tutup mulut.

Harry, Ginny, dan Lily saling membantu menata kue terakhir mereka pada wadah berwarna jingga dari kaca. Stoples terakhir kosong yang berhasil mereka temukan di tumpukan barang-barang di bawah lemari. Stoples bekas kue yang pernah mereka beli di toko Muggle lebaran tahun lalu ditemukan dengan debu dan sarang laba-laba terajut di dalamnya. Kotor karena memang tidak pernah digunakan lagi setelah isinya habis. Hanya disimpan begitu saja di lemari tanpa digunakan menyimpan makanan lagi. Sampai tadi pagi, saat Ginny kembali memutuskan membuat kue—lagi, ada keributan ketika tidak ditemukan wadah bersih untuk menyimpan kuenya nanti.

Semua stoples tanpa ia sadari sudah penuh terisi kue-kue yang juga hasil buatan Ginny. Entah mengapa Ginny begitu semangat membuat kue-kue lebaran keluarganya sendiri tahun ini. Tepatnya sejak ia memberlakukan membatasi konsumsi gula pada anggota keluarganya. Kue-kue yang dibuat Ginny hasil olahan resep kue dari Molly ibunya. Hanya saja gula yang ia buat adalah gula khusus yang sehat dikonsumsi untuk kesehatan. Takaran sedikit berubah dengan menyesuaikan rasa manis yang dibutuhkan pada setiap kue. Itulah yang membuat Ginny merasa kue buatannya tidak begitu mirip dengan hasil buatan ibunya.

Dari kue-kue yang dibuat Ginny itu, ia berharap keluarga kecilnya masih bisa menikmati kue-kue lebaran tanpa mempermasalahkan manis 'berbahaya' dari berbagai makanan yang akan mereka santap nanti. Ketakutan Ginny adalah ketika mereka berkunjung ke the Burrow atau rumah-rumah yang lain. Tidak ada yang tahu kue-kue di sana dibuat dengan gula seberapa banyak. Sehat atau tidak.

"Kalau urusan kue, James paling bahaya." Ginny membiarkan suami dan putrinya melanjutkan menata kue ke dalam stoples sedangkan ia melanjutkan memasak makanan untuk berbuka nanti.

"Dari dulu James memang paling bahaya!" gurau Albus yang tiba-tiba muncul di area dapur dari arah halaman belakang. Sedangkan James—sambil membawa sekop kecil—mengikuti di belakang sang adik tanpa sadar sedang diperbincangkan.

"Apa?" tanya James tak sempat tahu jika ia sedang dibicarakan.

Mereka baru saja kembali setelah sibuk berkebun. James dan Albus sedang sibuk menata halaman belakang rumah mereka. Taman-taman yang memang sejak awal puasa mulai diperbaiki penataannya oleh Ginny, dibantu oleh Harry dan ketiga anak mereka, kini hanya tinggal pembersihan saja sebagai tahap akhir. Beberapa galian sisa menanam bunga kembali ditutup. Rumput-rumput dirapikan dan batu-batu kecil ditata untuk memberi kesan alami di sana.

Lily menertawai kakak tertuanya sampai menghentikan tangannya memasukkan kue kering terakhir ke dalam stoples. Lily benar-benar heran jika mengingat James memang selalu mendapat masalah jika berhubungan dengan makanan.

"Jangan sampai seperti tahun lalu. Lebaran di klinik dokter gigi." Lily bergaya seolah sedang sakit gigi. Kedua tangannya menekan area dagunya sambil mengerang-ngerang kecil menirukan gaya James dulu ketika sakit gigi. "Aduhhh sakit!"

"Memang rasanya sakit, Lily! Kayak waktu di sunat!" protes James.

Ikut gemas dengan sang putra, Harry sempat mengarahkan tongkatnya yang masih aktif dengan mantera hembusan angin ke arah rambut James. "Lily tak tahu rasanya disunat, James." Ujar Harry.

"Aku kan tak pernah disunat, Daddy!"

"Kata siapa tidak pernah disunat?" Ginny meminta Harry untuk mengaduk supnya selagi ia membereskan kantung-kantung kue buatannya yang tidak dimasukkan stoples. Ada sekitar tiga kantung yang ia sisihkan ke tepi meja.

James dan Albus ikut duduk di samping Lily memperhatikan stoples-stoples lebaran mereka yang sudah terisi penuh dengan aneka kue. Sampai penjelasan Ginny tentang sunat membuat mereka terhenyak.

"Memangnya Lily—disunat?" tanya Albus.

"Lebih duluan Lily yang sunat daripada kalian berdua." Tunjuk Ginny pada hidung James kemudian Albus.

Harry terbahak melihat ekspresi ketiga anaknya. Benar-benar terkejut setelah Ginny mengatakan jika Lily memang sebenarnya sudah pernah disunat ketika masih bayi. Sunat khusus perempuan tentu saja.

"Grandma Andy yang membantu. Waktu—kapan ya, Harry? Aku lupa. Dulu Lily umur berapa, ya?"

"Sepuluh hari."

"Nah!"

Ketika Harry dan Ginny dikaruniai seorang anak perempuan, permasalahan khitan sebenarnya sempat mengalami silang pendapat. Ginny sempat takut jika akan terjadi apa-apa dengan putrinya yang masih merah. Namun dengan pengertian dari beberapa orang tua yang paham dengan hukum agama, ditambah dengan ijin Harry sebagai suami dan ayah dari putrinya—Ginny mulai menyetujui khitan tersebut. Dibantu oleh Andromeda kala itu, Lily menjalani khitan khusus perempuan dengan aman.

"Berarti aku boleh dong, Mummy, kalau sholat ada di barisan depan. Aku kan sudah sunat!" teriak Lily seolah mendapat berkah besar.

"Tapi tetap tidak boleh jadi imam!" goda James pada Lily. Sejak kecil Lily sangat ingin sekali menjadi imam ketika sholat karena sering melihat ayahnya kerap kali menjadi imam sholat ketika berjamaah di rumah atau di tempat lain. Albus pun seperti itu. Sedangkan James, ia lebih senang sholat di bagian belakang.

"Enakan juga di belakang. Lebih cepat kaburnya." Batin James sambil terkikik pelan.

Lily harus mencari sela di depan wajah Albus yang menghalangi duduk James di sisinya. Sambil terus berteriak, ia protes kembali tentang obsesi terbesarnya untuk disamakan dengan orang dewasa. "Kalau jamaahnya perempuan semua aku bisa jadi imam! Aku kan sudah sunat!"

"Semua yang kalian jalani itu untuk kebaikan. Seperti kalian waktu dulu disunat. Selain untuk kebersihan, khusus untuk Lily juga agar bisa menjaga kehormatannya sebagai perempuan sampai dia dewasa. Bukan cuma untuk bisa sholat di barisan paling depan saja." Harry mematikan kompor. Masakannya sudah matang lantas kembali diambil alih oleh Ginny.

Sudah hampir masuk waktu sholat Jumat. Albus membisiki sang ayah untuk melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu sudah semakin sore. Seperti diingatkan, Harry sudah langsung bergegas menyerahkan sendok sayur pada sang istri bersiap untuk mandi. Para laki-laki Potter itu harus segera bergegas.

Meski Lily terus memprotesnya, James masih berpikir keras dalam kepalanya. Tentu saja tentang sunat itu. "Tapi—mana yang dipoto—" tanya James namun cepat disela oleh sang ibu.

"Sudahlah," potong Ginny, "tidak perlu dipikir. Yang sekarang harus kalian pikirkan adalah yang ada di sana. Kalian bisa lihat tiga tumpukan kue itu—"

Tiga kantung plastik berisi kue-kue kering berukuran panjang bertabur keju, bola-bola dengan taburan springkel warna-warni, serta satu kantung lagi bersi kue-kue lucu berwarna merah dan hijau dengan butiran coklat sebagai hiasan tersusun rapi dan rapat tersimpan pada plastik tebal. Ginny menyisihkan kue-kue itu tidak ia masukkan ke dalam stoples.

"Kenapa dimasukkan kantung plastik bukan seperti kue yang lainnya, Mum?" tanya Albus turut menunjuk stoples kue yang sudah penuh.

"Ini pesanan Auntie Hermione untuk Grandpa dan Grandma Granger. Gulanya khusus juga. Besok saat kumpul di the Burrow akan Mummy serahkan ke Auntie Mione. Jadi, jangan sekali-kali menyentuh kue yang ada di kantung itu. Atau kalian langsung berurusan dengan Mummy."

Dengan percaya diri James menjentikkan jarinya penuh keyakinan. "Tidak! Aku tidak akan menyentuh kue-kue itu, Mummy. Dijamin. Tidak baik makan kue banyak-banyak." Ujarnya.

"Alahhh.. belaga sekali kau, James. Biasanya satu stoples kue buatmu saja kurang. Sekarang malah tidak mau."

"Lihat saja nanti, Al. Aku kan sudah tobat! Aku mandi dulu, ya. Sudah mau sholat Jumat, nih! Nanti ditinggal Dad!" dan James bergegas mengikuti ayahnya naik ke lantai dua untuk bersiap-siap ke masjid di kompleks perumahan.

Albus membantu Lily menyingkirkan beberapa stoples kue yang sudah penuh ke dalam lemari untuk disimpan. Pernyataan James tadi membuat Lily menoleh heran pada Albus. "Tumben dia tidak rakus." Bisik Lily pada Albus.

"Entahlah." Kata Albus. "Tapi.. kalau mendengar James bicara seperti tadi.. perasaanku jadi tidak enak, Lily."

"Me too." Balas Lily sama.


Keputusan tentang kepastian lebaran dari Kementerian Sihir Inggris datang setelah sholat Jumat. Minggu nanti sudah dipastikan lebaran. Harry mendapat kiriman surat burung hantu tepat saat ia sampai di kamarnya untuk berganti pakaian. Sebuah surat pengumuman dan satu lampiran khusus untuk Harry sebagai kepala divisi Auror.

"Hari ini juga?"

Suara pintu kamar berderit dengan kemunculan Ginny. Hampir saja Harry menjatuhkan surat-suratnya saking terkejutnya. Ginny datang dengan membawa tumpukan pakaiannya dan Harry yang sudah rapi setelah baru saja selesai ia setrika.

"Gin, seragam Kementerianku sudah dicuci belum?"

Ginny yang merasa dipanggil menghentikan langkahnya di depan lemari pakaian besar Harry. Ia melirik cepat suaminya sambil meletakkan tumpukan pakaian di atas ranjang. "Sudah. Barusan aku setrika. Tapi masih di bawah. Memangnya kamu ke Kementerian?" Ginny memperhatikan perkamen yang ditunjukkan Harry. Ia baca cepat lantas tahu jika memang suaminya harus berangkat segera.

"Shooting?"

"Buat VT—videotape. Ucapan selamat lebaran dari perwakilan tiap departemen. Seperti dulu itu."

"Ya Allah! Terus?"

Harry menggantung pecinya ke kaitan di dinding lemas. Ia ingat satu tahun yang lalu. Pegambilan gambar ucapan selamat lebaran juga sudah pernah ia jalani sejak menjabat sebagai pimpinan Auror di Kementerian. Bahkan tiap tahun ia didapuk dua kali muncul. Pertama mewakili divisi yang ia pimpin, sedang yang ke dua ikut bersama para pimpinan lain untuk mendampingi Menteri Sihir Inggris dalam satu video.

Kementerian Sihir sudah semakin maju. Sentuhan teknologi Muggle pelahan masuk dan menjadi komoditi luas para penyihir di era modern. Tidak lagi siaran radio, dunia sihir Inggris sudah mulai mengenal dunia penyiaran televisi. Di bawah naungan dunia jurnalistik Daily Prophet—koran sihir terbesar di Inggris, stasiun televisi pertama hadir. Tentu saja tidak terlepas dari penyiaran berita harian dan hiburan sederhana dari publik figur dunia sihir.

Sehingga setiap tahunnya, pada momen lebaran tiba pihak Daily Prophet membuat satu bentu ucapan selamat lebaran yang dikemas dengan bentu video. Yang paling utama adalah datang dari pihak Kementerian Sihir.

Salah satunya orang-orang seperti Harry.

"Lah terus.. ya, shooting," Jawab Harry pasrah. Ia masih punya waktu satu jam sesuai permintaan yang ada dalam perkamen yang dikirim.

"Kalau nanti kamu diminta sama pihak Prophet untuk VT keluarga, jangan mau! Kemarin aku sudah dirayu habis-habisan sama Rita. Bisa jadi nanti di kementerian kamu juga dibegitukan. Kayak apa aja buat ucapan lebaran disiarkan lewat televisi. Ibu-ibu pejabat?"

"Kamu kan memang ibu-ibu pejabat, Gin." Goda Harry sembari memilih kemeja dan celana dari tumpukan pakaian bersih yang diletakkan Ginny di atas ranjang.

Ginny mendudukkan badannya di ranjang demi sejenak melepas lelah. Selepas Subuh ia sudah sibuk dengan pekerjaan rumah. Semakin dekat dengan lebaran kesibukan mempersiapkan semuanya membuat Ginny lelah. Setelah membuat beberapa kue lebaran tadi, saat suami dan anak-anak lelakinya berangkat sholat Jumat, Ginny memutuskan menyicil pakaian kering untuk disetrika. Dengan surat permintaan pengambilan gambar yang diterima Harry itu membuat Ginny lega. Beruntung ia sudah menyetrika seragam suaminya.

"Ibu pejabat." Ginny menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang sehingga pandangannya tertuju langsung ke langit-langit kamar. "Aneh! Aku tidak merasa seperti—istri-istri pejabat di luar sana. Aku tidak sebegitu anggun, Harry. "

Ginny berguling untuk melihat suaminya yang masih berdiri di dekat jendela kamar. "Aku sudah mirip anak buah Aurormu yang hobby berkelahi. Rambut pendek, suka berteriak—aku bisa membuatmu malu, Harry—"

"Kamu itu bicara apa, sih?" Harry ikut duduk di atas ranjangnya. Sarung yang masih ia pakai sedikit mempersempit gerakannya naik di atas ranjang. "Aku pasti akan menolak tawaran Prophet misal aku juga diberi tawaran yang sama sepertimu, Gin. Tapi bukan karena aku malu tapi karena aku tak suka seperti itu. Aku malah bangga memilikimu sebagai istriku, sayang."

Keduanya saling pandang membagi senyuman yang tersungging di bibir masing-masing.

"Aku minta maaf kalau selama ini aku jadi istri yang tidak patuh pada suami."

"Gin." Harry menyentuh pipi Ginny dengan lembut. "Kamu wanita terhebat yang pernah aku temui. Aku bahkan berterimakasih untuk kesediaanmu menemaniku hingga sekarang. Aku tak tahu akan jadi apa kalau istriku bukan kamu."

Harry mengecup dahi Ginny sambil melafalkan doa pelan. Doa terbaik untuk wanita yang sangat ia jaga kehormatannya. "Maafkan aku jika aku belum bisa menjadi suami yang baik. Aku akan terus memperbaiki diri untukmu.. untuk anak-anak."

Sebegitu lembutnya Harry mengusap wajahnya, Ginny benar-benar dibuat melambung. Kedekatan wajah keduanya membuat Ginny bisa memperhatikan lekuk wajah pria yang akan ia cintai seumur hidupnya itu.

"Tampan." Ujar Ginny mengamati penampilan Harry.

Baju koko berwarna putih dengan pinggiran krah leher motif hitam dipadukan dengan sarung biru tua garis hitam. Meski tanpa peci, rambut Harry terlihat lebih rapi kali ini. "Aku paling suka kalau kamu pakai baju muslim seperti ini." kata Ginny terdengar berbisik.

"Oh, ya." Harry menyeringai lantas bangkit dari ranjang. "Tapi kali ini aku lebih suka untuk cepat melepasnya." Harry bergegas melonggarkan lipatan sarung di depan perut siap melepasnya. Sontak membuat Ginny bangkit segera dari ranjang dan berteriak kencang.

"Ma—mau apa, Harry! Ingat puasa!" Wajah Ginny benar-benar memerah. Baju koko Harry sempat tersingkap tepat di perutnya yang terbentuk atletis. "Kecupan di dahiku tadi bukan berarti kamu sedang minta jat—"

"Aku minta jas Kementerianku, Gin. Waktunya sudah mepet, nih. Ayo, boleh tolong ambilkan seragamku!"

Wajah Ginny sampai menghangat menyadari kebodohannya yang terlalu hanyut karena pesona suaminya. Saking sebalnya, Ginny menyempatkan berteriak tertahan saat ijin keluar dari kamar.

"Jangan lupa siapkan zakatnya ya, sayang. Lebih cepat lebih baik. Nanti keburu lupa lagi. Zakatnya anak-anak jangan lupa!"

Ginny hanya berteriak paham di luar kamar. Harry paling suka jika Ginny sudah berhasil ia buat salah tingkah.


Fredie

Jangan lupa! Lebaran nanti jubah itu sangat dibutuhkan.

James

Siap. Terus aku bawa tambahan stoples berapa?

Aku baru dapat 3. Semua dipakai Mum buat tempat kue.

Fredie

Itu sudah cukup. Bisa dibuat bergantian. Minggu nanti, aku tunjukkan stoples 'keren' milikku.

James

Aku tak sabar menunggu lebaran!

Fredie

Aku juga! Sampai jumpa di the Burrow, Jamsie!

James menutup ponselnya dengan penuh kepuasan. Ia lihat tiga stoples kosong di bawah kolong tempat tidurnya seperti melihat masa depan yang cerah. Semua persiapan yang akan ia bawa esok ke the Burrow sudah siap. Lipatan besar jubah-tembus-pandang di pangkuannya jadi barang yang sangat diwanti-wanti oleh Fred Jr untuk dibawa lebaran nanti. Sebab jubah warisan keluarga Potter itu akan sangat berguna untuk acara 'bersenang-senang' mereka nanti.


Minggu pagi, semua anggota keluarga besar Weasley bangun dan bersiap untuk menjalankan sholat Idul Fitri di halaman belakang the Burrow. Mereka sudah menginap sejak malam takbir. Sehingga pagi harinya mereka dapat bersama menjalankan sholat Idul Fitri satu keluarga besar. Tanpa atap hanya beralas karpet luas, mereka bersama menutup Ramadhan tahun ini dengan ibadah sholat Idul Fitri tepat saat matahari mulai muncul.

Dengan hapalan surat yang cukup banyak dan suara yang indah dibandingkan para pria yang lain, Arthur mempersilakan menantu pria satu-satunya itu untuk menjadi imam. Harry, dengan tangan terbuka menerima permintaan Arthur untuk memimpin anggota keluarga yang lain. Sementara itu di akhir sholat, Arthur mengambil bagian sebagai khotib yang menyampaikan pesan-pesan dalam tentang puasa dan lebaran yang telah mereka semua jalani. Begitu khitmad, begitu indah.

Sebagai tradisi, saling bermaaf-maafan dimulai bersamaan di area keluarga dalam the Burrow. Semua hidangan lebaran sudah terhidang. Begitu juga aneka kue spesial buatan sang nyonya Weasley senior sudah tersedia di atas.

Itu dia, pusat segala perhatian dua putra keturunan darah Weasley yang sejak lepas dari sholat Idul Fitri telah berada di balik tangga sambil membawa satu kantung besar berisi tiga stoples plastik kosong, satu stoples kaca cukup besar dari kotak kardus, dan satu bandel kain gelap yang mereka tahu adalah jubah legendaris yang termasyur bahkan saat masa perang sihir dulu.

"Keren, kan." Tunjuk Fred Jr pada kotak kardus berisi stoples kaca bertutup kain merah.

James menurunkan jubah tembus pandang warisan ayahnya ke lantai demi memperhatikan stoples yang dibawa Fred Jr. Masih tersegel plastik di luarnya menandakan barang itu barang baru.

"Tinggal masukkan satu makanan yang kamu suka, tutup, lalu hitung mulai dari satu hingga sepuluh dan.. buka penutupnya."

Fred Jr. pelan-pelan membuka segel pelapis stoples-pelipat-ganda-makanan dan memasukkan satu permen yang sempat ia kantungi di baju kokonya. "Maksimal hanya sampai sepuluh detik. Makanan yang dimasukkan ke dalam stoples ini akan berlipat ganda menjadi sepuluh buah. Meski lebih dari sepuluh detik, makanan akan tetap menjadi sepuluh. Tapi misal hanya sampai di bawah sepuluh detik lalu tutup di buka, makanan akan berlipat sejumlah lama waktu. Jika satu detik, makanan akan tetap ada satu. Jika dua akan jadi dua. Tiga detik, di dalam akan ada tiga. Begitu seterusnya."

Produk terbaru dari Weasley Wizard Wheezes stoples-pelipat-ganda-makanan direncanakan akan rilis setelah lebaran nanti. Masih dalam masa pengepakan. Tapi sebagai putra salah satu pendiri toko lelucon terbesar di Diagon Alley itu, Fred Jr dengan bebas mengambil satu dan mencobanya langsung dengan tangannya sendiri. Ah, lebih tepatnya dibantu dengan tangan sepupunya. James Sirius Potter.

"—tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Buka, James!"

Tutup stoples yang mereka berdua hadap segera dibuka. Dan ternyata.. percobaan awal mereka berhasil. "Di stoples ini ada sepuluh permen, Fred. Wow!" ujar James.

"Hebat, kan! sekarang kita tinggal mengambil cukup satu makanan di meja sana. lalu bawa kemari. Tidak akan ada yang marah jika kita mengambil satu. Sekalipun itu Auntie Ginny."

Tidak bisa dipungkiri oleh James, kue-kue buatan ibunya sendiri memang enak. Namun, gula yang akhirnya diganti untuk digunakan dalam pembuatan kue-kue itu membuat cita rasanya berbeda. James dan saudara serta ayahnya pasti akan di dilarang memakan kue-kue yang dibuat neneknya terlalu banyak. Padahal James sangat suka dengan kue-kue itu hingga tahun lalu ia sampai harus diantar ke dokter gigi karena sakit gigi terlalu banyak manis.

"Untuk menyiasatinya, tinggal kita simpan di sini dengan ditutup jubah tembus pandangmu itu. Tidak akan ada yang tahu. Nanti tiga stoplesmu yang sudah penuh itu bisa kau bawa pulang dan kau sembunyikan di kamar."

"Dan aku bisa makan kue Grandma sendirian, tanpa Mum tahu.. sepuasnya!"

Yeah, rencana sederhana untuk kepuasanyang tiada tara. James setuju lantas bergegas menuju meja makan dengan stoples-stoples berisi kue-kue kering buatan Molly. Ia membawa satu persatu kue yang berbeda di atas piring. Menunjukkannya pada sang ibu lantas menepi di balik tangga.

Lily memperhatikan itu dari kejauhan saat duduk bersama sang ayah yang sibuk berbincang dengan para anak lelaki Weasley di ruang keluarga. "Daddy—" panggil Lily menarik-narik lengan baju koko Harry.

"Apa, sayang? Mau kue juga? Jangan banyak-banyak, ya! Nanti Mummy marah, loh!."

"Aku tahu. Tapi, Daddy.. Jamie kayaknya ambil banyak. Itu... lihat, deh."

Lily mengarahkan pandangan ayahnya pada tangga utama menuju lantai dua di sudut ruangan. Ada ruang kecil di sana. Tempat James tampak sering duduk dan bercengkrama dengan Fred Jr.

"James pasti sedang main dengan Fredie, Lils. Anteng gitu. Kalau dia berulah, pasti Mummy sudah marah sejak tadi. Belum lagi kalau seperti katamu tadi. Mummy, kan, ada di samping meja makanan. James pasti ketahuan Mummy kalau ambil makanan banyak." Kata Harry memberi pengertian putri bungsunya agar tetap berprasangka baik. "James bilang sendiri kalau dia sudah tobat. Iya, kan?"

"Iya, sih. Tapi—"

"Kamu pasti lapar. Kamu belum makan, kan? Ayo makan, sayang. Kamu itu susah kalau makan. Daddy suapin, ya."

Terkadang Lily akan super manja ketika bersama sang ayah. Apalagi untuk urusan makan. Jika sudah hatinya tak tenang, Lily lebih memilih berada di dekat orang lain dan mendapatkan perhatian di sana. Harry—ayahnya sendiri adalah orang yang paling nyaman untuknya. Lily akhirnya mau menerima tawaran ayahnya untuk disuapi makan.

Saat diajak untuk mengambil makanan oleh sang ayah, Lily bukannya ikut memilih makanan yang akan ia makan namun mendekati titik di mana James sebelumnya sering terlihat duduk bersama Fred Jr. salah satu sudut di belakang tangga.

Ternyata, tidak ada apa-apa di sana.

"Tuh, James cuma duduk-duduk saja di sana. tidak ada apa-apa, kan?" Harry meyakinkan Lily sekali lagi jika memang tidak ada apa-apa. James tidak sedang menyembunyikan atau merencanakan sesuatu. Setidaknya itu menurut Harry, namun tidak untuk Lily.

Masih penasaran, Lily coba melangkahkan kakinya lebih mendekat ke sudut sisi belakang tangga. Menjejakkan sepatunya pelan merasakan lantai dasar the Burrow yang.. terasa aneh di kaki Lily.

"Seperti ada yang mengganjal, Dad. Empuk seperti kain, bukankah lantainya dari ubin yang keras, ya?"

"Empuk?" tanya Harry sambil memperhatikan bagian kayu penyangga tangga. Setelah diamati baik-baik, Harry menemukan kejanggalan dari bentuk lekuk kayu yang tampak tebal pada bagian alas anak tangga. Seperti terlapis sesuatu. Terganjal benda.

Harry meminta Lily memegang piring makanan yang sudah diambilnya untuk memeriksa sendiri yang dirasakan Lily. Benar saja, saat ia sentuh lantai anak tangga di depannya terasa empuk. Sedikit kasar dari kain dan berstektur.

"Rasanya Dad tahu apa yang kamu injak ini, Lils." Harry menggerakkan tanggannya seperti meremas kemudian mengangkatnya dan melihat sesuatu yang tampak berkilau. Ia tersenyum sembari melirik sang putra sulung yang sedang bermain di halaman belakang.

"Daddy tahu itu apa?" tanya Lily mulai ketakutan.

"Ya," Harry menyeringai, "bahkan sangat tahu."


"Habislah kita, James!"

Sudah hampir sore ketika masing-masing anak keluarga Weasley meminta ijin untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika mereka sedang mempersiapkan barang-barang yang sempat dibawa ke the Burrow untuk menginap, James dan Fred Jr lebih memilih duduk ketakutan di bawah tangga.

"Kau yakin tadi melihatnya, kan? Aku menutupnya sendiri. Di sisni, Fred!"

Sesuatu yang mereka simpan di dekat tangga tiba-tiba menghilang.

"Kalau memanghilang dengan sendirinya sih tak masalah. Tapi kalau diambil orang?" tanya Fred Jr memperhatikan sekelilignya yang ramai dengan para paman, bibi, dan sepupu-sepupunya.

James mendelik tak mau, "tapi jubahnya, Fred. Aku baru satu tahun memilikinya dari Dad. Masa aku sudah menghilangkannya?" tanya James mulai panik. Jubah warisan pemberian ayahnya harus hilang dari terakhir ia letakkan.

"Stoplesku juga hilang. Sudahlah, semoga nanti bisa kita temukan. Yang penting sekarang kita kembali ke orangtua kita. Mereka kelihatannya siap marah dan curiga kalau kita terlihat benar-benar gugup."

James pun setuju. Ia mencoba tenang dan berharap paling tidak jubah-tembus-pandang milik ayahnya bisa ditemukan. Dengan langkah gontai, James mendekati ibu dan ayahnya yang membereskan beberapa pakaian dan peralatan lain yang akan mereka bawa pulang. James masih tak bisa memikirkan kehilangan barang-barangnya sampai semuanya terpecah ketika melihat Harry—ayahnya sedang sibuk melipat jubah yang sedang ia cari.

"Seingatku kamu tidak bawa jubah itu, Harry. Sudah kamu berikan James, kan?" tanya Ginny.

Harry tersenyum sambil menggangguk pelan, "seingatku sih begitu, tapi ternyata malah ada di sini. Mungkin aku lupa sempat meminjamnya lagi dari James terus aku membawanya dan tertinggal di sini." Harry melirik ke arah James yang sedang terpaku melihat jubah yang ia bawa.

"Aku temukan di bawah kolong tangga saat aku menyuapi Lily tadi." Tambah Harry turut menunjukkan dengan bangga, "maaf ya, James. Dad ambil lagi jubahnya. Nanti di rumah kamu ambil lagi tak masalah."

"A—aa iya, D-Dad. Tak apa." James gugup.

"Aduh lain kali jangan ceroboh meninggalkan barang. Kau juga, James. Jangan sampai hilang kalau nanti sudah diberikan Daddymu lagi. Oke!" kata Ginny memberi pelajaran pada James yang suka sekali ceroboh dengan barang-barangnya. "Sekarang bereskan barangmu sebentar lagi kita pulang." Tutup Ginny menyerahkan handuk James untuk ditata sendiri oleh putranya. Ginny tampak menuju dapur membantu ibu dan para kakak iparnya membereskan makanan .

Tinggallah Harry dan James seorang. Albus dan Lily membereskan barang-barang mereka di sudut lain.

Harry mendekat di sisi kiri James lantas berbisik pelan, "cuma tiga stoples? Selain stoples sihirnya tidak ada yang lain—" bisik Harry pelan namun menusuk telinga dan dada James.

Jantung anak sulung Potter itu berdetak tiga kali lebih cepat. Panas suhu tubuhnya dengan cepat naik dari ujung kaki hingga wajahnya yang berubah merah. Ayahnya tahu dengan kelakuannya.

"I'm sorry, Dad—"

"Tak perlu, son! Bukannya kau tadi sudah minta maaf sama Dad, kan? Sampai sungkem juga lagi," potong Harry cepat. James cukup mengangguk membenarkan.

"Nah, jadi Dad tidak akan marah. Ini kan masih momen lebaran. Daddy tidak mau momen setenan lebaran ini berubah dengan saling emosi." Harry menghentikan sejenak aksi membisikki James itu. Sejenak ia menarik napas dalam-dalam mengatur emosi. Semua itu makin membuat James ketakutan.

Badan James gemetar apalagi ketika melihat ibunya kembali mendekat sambil membawa beberapa potong pakaian yang belum sepat dilipat lantas pergi lagi. "Huft—" James menghela napas lega tak ada apa-apa dari sang ibu.

Sampai Harry kembali berbisik, "apalagi Mummymu kalau sudah marah. Wah, hancur the Burrow!"

"Dad—itu semua.. aku mohon jangan beri tahu M—"

"Kue-kuemu sudah aman. Dad memberi mantera perluasan di kantung selimut milik Dad dan menyimpannya di sana." Tukas Harry penuh kemenangan membuat anaknya makin tertekan.

"Ampun, Dad. Aku mohon jangan adukan ke Mummy. Aku hanya ingin makan kue Grandma yang enak tidak hanya satu biji saja. Boleh, Dad. Aku mohon!"

James terus memohon dengan suara paling pelan yang bisa ia ucapkan.

Harry memang tidak marah. Jika ia pikir-pikir semua yang dilakukan James hanya keinginan besar untuk menikmati kue. "Dad tidak akan mengadukannya ke Mummy. Tenang saja—" katanya membuat James mendesah lega. Ia selamat.

"Tapi—ada syaratnya!"

"Apa i-itu, Dad?"

Harry mendekatkan badan James seperti sedang memeluk. Kemudian Harry kembali berbisik, "akan ada ketenangan di momen lebaran ini tanpa amarah Mummy asalkan kau bersedia membagi kue-kue itu dengan Dad." Tegas tanpa ragu, Harry memberi tawaran yang tidak begitu berat untuk James.

Daripada ia kena marah, James pun setuju dengan tawaran itu. "Asal jangan banyak-banyak. Nanti gigimu sakit. Sakit gigi itu tidak enak, Dad." James menghadap ayahnya merasa aman.

"Ya, tidak enak. Sakitnya kayak waktu di sunat. Benar begitu, James?"

James terbahak diikuti Harry yang turut tertawa lepas. "Yeah, begitulah, Dad!" Anak beranak itu pun saling peluk. Tertawa berdua tanpa orang lain tahu apa masalahnya. Bukankah lebaran memang harus bersuka cita tanpa ada perselisihan? Damai itu indah.[]

FIN


#

Alhamdulillah nggak ada yang marah-marah saat udah maaf-maafan hehehe...

Oh ya untuk masalah khitan perempuan itu sering diperdebatkan, ya. Ada yang percaya boleh ada yang enggak. Kalau yang Anne tulis ini cuma dari pengalaman Anne-orangtua Anne maksudnya-aja. Jadi misal ada yang punya pendapat lain tak masalah.

So, fic ini sudah selesai!

Terima kasih atas perhatian untuk fic ini. Yang nungguin lama.. maaf banget. Mohon dimaklumi yang lagi lebaran ini hehehe... Maaf juga kalau masih ada typo. Anne tunggu reviewnya, ya! Akhir kata terima kasih dan met lebaran, semua! Sampai jumpa di kisah yang lainnya! :)

Ps: Anne masih ada fic yang ketunda banget, judulnya Euphemeral. Baru chapter 1. Nanti bisa Anne usahakan update lagi.

Thanks a lot!

Anne xoxo