UNCHILD
Standard Disclaimer Applied
A Letter (Part 2)
"Maafkan aku." Seseorang yang dimaksud hanya duduk dalam diam menghadap ke arah berlawanan, membelai pipi sebalah kanannya yang bengkak sembari meringis.
"Maafkan aku" ujarnya lagi, kemudian dia berbalik
"Ini sangat menyakitkan tau"
"Aku kan tadi sudah bilang aku minta maaf"
Sebelah lengan Yuuri terulur, mengusap perlahan warna merah kebiruan, sesekali tiupan ringan dia berikan.
"Kau siapa" Yuuri berhenti sejenak kemudian melanjutkannya lagi
"Aku Yuuri."
"Aku tidak butuh namamu"
"Aku seseorang yang sedang menunggu semester baru dimulai dan harus hidup kemudian bekerja di restauran tadi" panjang lebar dalam sekali tarikan nafas. Wajah dengan pipi kebiruan itu tersenyum puas
"Ah jadi calon mahasiswa, eh?" Entah memang wajah orang ini yang menyebalkan tapi Yuuri merasa dia sedang dipermainkan. Usapan lengan Yuuri terhenti, berganti tepukan ringan dan Yuuri menarik lengannya ke sisi tubuhnya lagi.
"Awww. Apa kau sengaja?" tak ada jawaban. Yuuri pergi begitu saja.
"Heiiii, kau harus bertanggung jawab" ujarnya sembari membuat wajah meringis menunjuk pipinya yang masih belum ada perubahan.
.
.
Aku baru saja sampai di kota ini beberapa saat yang lalu. Ayah memintaku untuk mengurus restauran cabang disini, meskipun aku sudah sangat nyaman dengan karirku di Rusia. Tapi ucapan orang tua tak pernah bisa dibantah kan?
Beristirahat, tapi aku tak bisa tenang sama sekali sebelum tahu bagaimana sebenarnya kenampakan restauran yang dimaksud ayah. Sepuluh tahun lalu atau lebih jauh lagi, aku sudah tidak ingat ketika pertama kali ayah mengajakku ke tempat ini.
Pukul 23.00, menjelang dini hari berbekal map digital aku pergi. Berjalan kaki di malam hari bukan ide yang buruk.
Kota ini mengingatkanku pada Ibu, yang bahkan sudah tak bisa kuingat lagi bagaimana rupanya. Ayah seringkali bercerita tentang pertemuannya dengan Ibu di kota ini. Penerangan yang cukup, jalanan yang sunyi, dan aroma yang aneh. Sesuai dengan deskripsi ayah.
Tak lama langkah kakiku terhenti di sebuah bangunan klasik dengan cat berwarna merah maroon.
"Ternyata tidak jauh"
Sudah gelap, jelas tak mungkin restauran masih buka di waktu seperti ini. Menelaah setiap tampilan luar juga beberapa detail yang mungkin akan kuperbaiki nanti. Dari luar ini sama sekali tidak seperti sebuah restauran, seperti sebuah rumah kecil yang penuh kehangatan. Papan nama tergantung kecil di sisi kiri pintu utama.
"Memoire" aku tersenyum sendiri mengingat ucapan ayah tentang asal muasal nama itu.
'Victor ayah meninggalkan kenangan indahku bersama ibumu disini. Mekipun tuhan mengambilnya sangat cepat setidaknya disini dia tetap hidup'
Retauran ini awalnya milik ibu, kemudian ayah ambil alih karena banyak hal. Jelas saja ayah sangat suka restauran ini. Ditambah menu autentik yang tak pernah berubah setiap tahunnya, hasil karya ibuku.
"Semoga semuanya akan berjalan lancar"
Ketika langkah kakiku terhenti sayup terdengar sesuatu yang aneh dari dalam
"Jangan bilang bangunan ini ada penunggunya?" tubuhku meremang ketika mataku mengintip dari salah satu jendela, tak ada apapun hanya imajinasi yang mulai meluap membayangkan hal yang tidak-tidak.
Suaranya semakin jelas ketika aku melangkah ke bagian belakang.
Suara itu ternyata nyanyian seseorang. Tapi siapa yang malah menyanyi ketika orang lain sudah terlelap tidur.
Alunan aneh yang indah, sekaligus menakutkan di saat bersamaan ketika kubayangkan yang sedang bernyanyi itu bukan manusia.
"Siapapun itu, sepertinya dia sedang menikmati kehidupannya" nyanyiannya seperti sebuah cerita dari mulut seorang anak kecil tentang kejadian yang dialaminya seharian.
Aku tak ingin beranjak dulu, setidaknya sampai nyanyian ini selesai. Beberapa saat hingga suara pintu terbuka terdengar, syukurlah ternyata ada orang di dalam.
Disana seorang lelaki berdiri, dan nyanyian itu masih berlanjut, ternyata dia yang bernyanyi tadi. Kuhampiri perlahan, berdiri tepat di belakannya. Suaranya terlalu lembut untuk seorang laki-laki, aku suka suaranya.
"Suaramu bagus" berniat mengapresiasi tapi sepertinya ini nasib sialku karena sebuah lengan tiba-tiba melayang memukul pipiku.
"AAAAAAAAAAAAAAGH!" semoga wajahku baik-baik saja.
.
.
TBC
