UNCHILD

Standard Disclaimer Applied


A Letter (Part 3)

Yuuri pada dasarnya bukan seseorang yang jenius, hanya saja dia diberkahi waktu luang dan kerja keras untuk bisa berlatih sepuasnya. Bernyanyi adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan selain itu dia bahkan belum bisa menempatkan dirinya sendiri di luar sana. Resah adalah rasa harian untuknya, dan bernyanyi meredakannya.

Bernyanyi lagi-lagi menjadi harapan juga kekuatannya di saat yang bersamaan. Juga menjadi peninggalan dari memorinya dengan seseorang yang sangat berharga untuknya.

"Vicchan"

"Hn"

"Aku ingin bisa bernyanyi sebagus dirimu"

"Boleh, maka dari itu berlatihlah denganku setiap hari Yuuri"

Dia memanggilnya dengan sebutan Vicchan, seseorang yang dianggapnya sebagai seorang kakak. Tempat mengadu, berkeluh, bergantung dan bermain. Meski sebatang kara Yuuri ingat Vicchan tak pernah berkecil hati dan terus berjuang untuk bisa bernyanyi selama hidupnya, untuk menjadi penyanyi hebat. Tapi sepertinya tuhan menariknya lebih cepat, dia pergi setelah taxi yang ditumpanginya tertabrak truk. Yuuri merajuk selama seminggu ketika tahu kabar itu, namun hidup harus tetap berlanjut kan?

Itu lima tahun lalu, tahun ini dengan modal keberanian dan tekad juga kemampuan yang dimiliki dia pergi jauh demi satu asa menjadi penyanyi hebat dengan teknik bukan kebetulan apalagi hanya hobi. Berjuang sendirian menjadi bakat alami yang dia miliki.

Tapi disini, di tempat ini, tak ada kerabat dan hal buruk lainnya dia bahkan tidak pandai membuat sahabat.

Seseorang yang memberi pekerjaan di tempat sekarang bahkan hanya kenalan biasa yang berkewajiban memberikan pekerjaan sampingan bagi mahasiswa beasiswa untuk bisa tetap hidup selama menunggu living fund cair.

Meskipun demikian, keyakinan selalu berulang dia lakukan dalam hatinya.

"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku bisa melalui ini semua." Yuuri tersenyum pada dirinya sendiri ketika melihat pantulannya di cermin.

Pagi ini dia bersiap untuk porsi latihan yang telah dia susun sendiri. Sebelum siang datang dan dia harus segera mulai bekerja lagi hingga dini hari.

Menggenggam asa yuuri mulai berlatih sendirian lagi dan lagi.

.

.

Tak ada yang tahu bagaimana sebenarnya takdir bekerja, tak ada yang tahu apakah sebuah perjuangan selalu berakhir keberhasilan atau malah kegagalan yang nyata. Apakah itu sebuah masalah? Apakah seseorang benar-benar ingin tahu tentang itu? Atau malah lebih baik ketika mereka tidak mengetahuinya.

Yuuri sedang bekerja seperti biasanya sore itu, bergumam lebih pelan dari biasanya, karena suasana masih ramai dan keramaian bukanlah suasana terbaik untuk dia bisa bernyanyi.

Ketika cucian sedang menggunung, pelanggan memenuhi restauran, dan dapur sedang sangat sibuk

"Halo tuan nyanyian indah" seseorang yang tak terduga muncul di hadapan Yuuri dengan menggunakan seragam putih khusus, Chef Utama.

Yuuri terpaku.

.

.

"Apakah suaraku terdengar?"

"Tentu pak manager" ujar para pekerja berbarengan.

"Kalian tidak perlu berkumpul, ataupun menghentikan pekerjaan kalian. Pelanggan di luar sedang menunggu. Jadi cukup dengarkan ini" jeda sejenak, dengan hiruk pikuk dapur yang tak terhenti sedikitpun.

"Hari ini kita kedatangan seseorang yang akan menjadi Chef utama disini. Anak dari pemilik retauran ini. Sambut dengan baik dan bekerjalah dengan baik." Manager mempersilakan seseorang yang diperkenalkannya untuk berbicara.

"Aku Victor Nikiforov. Kumohon kerahkan usaha terbaik kalian untuk restauran ini. Mohon bantuannya dari kalian semua. Dan terima kasih untuk kerja keras kalian"

Semua orang bertepuk tangan sejenak kemudian kembali pada pekerjaan mereka lagi. Victor mulai bergerak dengan gesit, mendampingi chef utama sebelumnya membuat hidangan.

"Yakov-san terima kasih untuk bantuannya selama ini" ujarnya pad Chef Utama sebelumnya

"Ah tidak, harusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih karena datang lebih cepat, aku tidak akan bisa bekerja seperti ini lagi dalam satu minggu. Istriku butuh aku untuk masa-masa sulitnya. Dan tolong sampaikan pada ayahmu karena telah memberikan tunjangan hari tua untukku. Terima kasih banyak" victor menahan bahu tua yang hendak menunduk padanya

"Tidak usah seperti ini, kau sudah bekerja keras untuk kami dan kau layak mendapatkannya. Ah iya ayo kita bekerja lagi, apa yang bisa kubantu?"

"Bisakah kau ambilkan penggorengan besar di sana" tunjuk yakov ke sudut dapur, tempat mencuci peralatan.

Victor bergegas, mengambil apa yang diminta ketika sosok itu tertangkap matanya.

'Ternyata dia benar-benar bekerja disini' victor terseyum beberapa saat, memikirkan hal untuk mengejutkan seseorang yang meninggalkan luka lebam selama satu minggu di pipinya.

Dengan perlahan dia kembali ke tempat pencucian, berdiri di sebelah kanannya kemudian berbisik lagi.

"Halo tuan nyanyian indah" bukan kepalan tangan yang sekarang victor terima, melainkan tatapan terbelalak dan tubuh yang terpaku menghadap dirinya.

.

.

TBC