UNCHILD

Standard Disclaimer Applied


A Letter (Part 5)

Dulu, ketika semuanya masih baik-baik saja, ketika bernafas begitu terasa mudah dan bernyanyi begitu menyenangkan.

Hal tidak terduga selalu muncul untuk mewarnai hidup begitu saja, tak terkendali dan membuat kejutan yang luar biasa.

Semuanya berjalan begitu mulus, mata kuliah yang dijalankan dengan baik, beberapa orang yang bisa diandalkan baik sebagai teman atau rival, dan sahabat baik meskipun di dapat dengan cara tidak wajar membuat wajahnya biru karena refleks yang tidak terhindari.

Yuuri melalui semua impiannya, tepat sasaran sesuai harapan dan catatan kecil rancangan kemajuan hidupnya.

Satu semester ternyata waktu yang cukup untuk membuat namanya sendiri dikenal di kampus sebagai si anomali. Datang dengan modal tekad dan menggemparkan indera pendengaran di jurusannya, di kampusnya karena kesungguhan dan kerja kerasnya sendiri.

Sampai sebuah hal terjadi begitu saja padanya

.

.

"Yuuri, yuuri. Bangunlah Yuuri" tubuh yang selalu bersemangat itu kini terbaring di atas pembaringan berwarna biru muda, sebagian besar tubuhnya memerah dan kain yang membungkus tubuhnya menghitam di beberapa bagian.

"Yuuri. Yuuri. Aku bawakan steak seperti yang kamu inginkan kemarin. Ayolah bangun Yuuri" Victor tak henti mengguncang dan meracau, berharap sebuah suara menyahut perkataanya.

Ketika ruangan kecil itu sudah sesak dengan beberapa orang juga racauan Victor, suara jeritan dan tangisan juga menggema mencekik suasana.

Beberapa saat lalu dormitori yang ditinggali sebagian besar mahasiswa luar terbakar, Yuuri dan puluhan mahasiswa lain yang sedang beristirahat panik dan menyelamatkan diri secepat yang mereka bisa.

Victor menyerah dan berhenti meracau ketika melihat sekitarnya, luka bakar yang melepuh, teriakan dan ringisan ketika prosedur pengobatan diberikan, juga tangisan beberapa orang yang tidak tega melihat rekannya.

Dia menunduk, memeluk lengan Yuuri yang dingin. Menggenggam dan meremasnya beberapa kali.

Senyap menyerggap jiwa Victor dengan cepat, ketika bayangan Yuuri di kepalanya saling berkelebat.

Dua orang dari pintu masuk mendekat berbarengan, berjalan dengan tenang menuju tempat tidur Yuuri, wajah mereka basah dengan keringat dan ekspresi mereka seperti banyak tekanan dan ringisan di dalamnya

Satu orang berambut hitam undercut menyentuh bahu Victor ringan, dia menoleh kemudian dan bangun berdiri.

"Kalian pasti temannya Yuuri" Victor memulai pembicaraan dan mereka diam menunduk

Victor merengut menganalisis gerak-gerik kedua orang dihadapannya.

"Apa kau kerabat Yuuri?" ucap ragu seorang berambut blonde sebahu

Victor refleks tersenyum seadanya sembari menyingkap poni yang menjuntai menutupi sebelah matanya.

"Bukan, dia itu temanku. Kami satu tempat kerja sebelumnya"

"Maafkan aku" tubuhnya ternyata sangat kecil, apalagi ketika dia mulai berjongkok dengan posisi kepala yang masih menunduk, sebagian besar surai pirangnya menjuntai menutupi lutut

Bingung, Victor tidak paham apa yang terjadi sebenarnya, raut wajahnya berubah, berganti datar dan tatapan menelisik meminta penjelasan.

Seperti paham maksud tatapan Victor sosok lain yang maish berdiri tegak, mulai menjelaskan semuanya. Tentang mereka yang ternyata adalah rival Yuuri di universitas, dan tentang Yuuri yang harusnya selamat jika saja mereka tidak disana.

"Yuuri sedang latihan saat penghuni lain berteriak mengatakan kebakaran. Api sudah menjalar di sudut kamar Yuuri, udara panas sudah memenuhi ruangan. Aku sedang dalam kondisi antara sadar dan tidak karena rasa kantuk ketika Yuuri menarik tubuhku paksa dan memerintahkan aku untuk pergi duluan. Tanpa pikir panjang aku mulai berlari ke luar kamar. Ah iya kamarku tepat di depan kamar Yuuri dan saat itu aku sedang di kamar Yuuri untuk berlatih."

Jeda sejenak, menarik nafas dan menenangkan diri.

"Aku yang salah sebenarnya, aku lupa bahwa dia" menunjuk pada sosok yang masih menunduk bergulung dengan lututnya

"Sedang kabur dari rumahnya dan tertidur lelap di kamarku. Mungkin saat itu Yuuri sadar dan berlari menuju kamarku mendobrak pintu kamarku yang dia kunci dari dalam bermaksud menyelamatkan dia. Aku saat itu sudah berada di luar ketika kaca kamarku pecah dan Yuuri meminta pemadam kebakaran untuk menangkap tubuh dia yang sudah lemas karena menghisap banyak karbon dioksida, dari lantai dua tubuh dia jatuh dan ditangkap dengan baik oleh petugas. Sedangkan Yuuri masih terjebak disana" nafas lelaki berwajah datar itu mulai memburu lagi

Apa yang ingin diceritakan belum seluruhnya sampai, namun emosi sepenuhnya menguasai mereka, baik Victor juga dua orang dihadapannya. Victor meringis membayangkan Yuuri yang berjuang sendiri menyelamatkan dirinya ketika kobaran api saling menyambar dan puing-puing mulai roboh.

Tak ada yang tahu ini akan terjadi, Victor segera menyadarkan dirinya

"Namaku Victor Nikivorof. Nama kalian?"

"Aku Otabek Altin dan dia"

"Aku Yuri. Yuri Plisetsky" ucapnya dengan suara parau.