UNCHILD
Standard Disclaimer Applied
A Letter (Part 6)
"Victor, lihat" dengan berbangga dan mungkin sedikit pamer, siang hari itu mereka bertemu. Menyengaja tepatnya, satu semester berlangsung cepat ternyata menghantarkan mereka menjadi dua orang manusia yang akhirnya mau saling mengusahakan untuk bisa memahami kondisi satu sama lain.
Tempat duduk kayu berwarna hitam dengan sedikit corak, coraknya muncul berkat pengaruh waktu dan beberapa kejadian yang dalam diam ia lalui begitu saja, ia jadi saksi bisu bersama taman dimana ia berada, saksi bisu untuk banyak hal. Pertama kali Victor dan Yuuri berinteraksi malam itu, pertemuan pertama yang diinisiasi Victor, pertemuan pertama yang diinisiasi Yuuri, dan banyak hal lainnya lagi setelahnya yang dilakukan di taman juga kursi kayu hitam itu.
"Kalau hanya ingin pamer aku lebih baik pulang saja" nampak perubahan ekspresi yang kentara, ia Victor yang mengatakannya bahkan hanya duduk di atas kursi itu sembari menyeringai seperti puas karena berhasil menggoda teman baiknya.
Yuuri yang awalnya berdiri mendadak meletakan bokongnya bebas di atas papan kayu dari kursi yang diduduki juga oleh Victor. Ia tidak berniat berbicara lagi sepertinya, hanya duduk menatap air mancur di hadapannya sembari meremas sedikit ujung kertas yang awalnya ditunjukkan dengan raut bahagia.
"Ya tuhan kenapa aku merinding melihat seorang lelaki hampir dewasa bertingkah seperti gadis remaja"
"Hey!"
"Kau seperti baru mengenalku saja"
"Maafkan aku, mungkin aku hanya belum terbiasa"
"Dengan?"
"Kenyataan bahwa sebenarnya kau itu orang yang sangat amat menyebalkan"
Tawa tunggal pecah seketika, Victor sepertinya mentertawakan kenyataan diri.
"Sebuah kehormatan untukku" berlagak seperti seorang pengibur yang menunjukkan apresiasi untuk pujian yang dikemukakan sekitarnya.
Victor kemudian pergi menjauh menuju sebuah stand makanan ringan di sudut taman, kemudian kembali membawa dua buah soft ice cream. Yuuri hanya diam menatap sosok victor yang semakin mendekat.
"Sebagai orang yang lebih tua dan mungkin bisa kau anggap sebagai kakak."
"Siapa yang bilang?"
"Sialan, ternyata kau juga sama menyebalkannya" victor mendecih kemudian memberikan satu ice cream pada yuuri.
"Ini ceritanya sogokan?"
"Terserahmu sajalah"
"Jadi?" Yuuri menjilat tepian cone ice creamnya yang mulai lumer.
"Selamat karena telah berhasil menyiksa dirimu untuk mencapai apa yang kau inginkan semester ini. Aku bahkan tidak menyangka ternyata suaramu bisa membuat para dosen menjadi tuli dan tidak bisa membedakan mana suara yang benar-benar bisa bernyanyi dan mana yang tidak"
Mata Yuuri menyipit, memberikan tatapan menusuk pada sosok di sampingnya.
"Baiklah-baiklah, aku menyerah. Selamat yuuri untuk sertifikat pertama yang kau dapatkan" Victor menyeringai sembari menikmati es krimnya.
.
.
Kursi kayu hitam itu masih di sana, mungkin jika ia hidup dan berbicara banyak hal yang akan dikemukakan ketika Victor duduk merenung selepas kembali dari restoran berjalan menuju rumah sakit.
Udara malam itu sedang cukup hangat, langit malah sangat bening tanpa awan yang berarak namun hitam legam kosong tanpa kedipan yang biasa orang banyak kagumi.
"Jika saja malam itu kau ikut denganku" victor mendesah membuang nafas berulang kali sepanjang jalan.
Victor sampai di ruangan Yuuri ketika malam sudah beranjak menjadi dini hari. Udara hangat di luar tidak cukup selaras dengan keadaan pembaringan yang masih saja dingin tanpa pergerakan yang berarti. Yuuri masih saja teriam, tidak berniat bangun.
Victor menggeser salah satu kursi lipat dari sudut ruangan menuju tepi kiri pembaringan Yuuri, sebuah kantung orange yang ia bawa sebelumnya ia letakkan di atas meja teronggok begitu saja tak tersentuh sama sekali.
Memandangi adalah hal yang setiap hari ia lakukan selama tiga hari ini, dari dini hari yang masih awal hingga sinar sang surya sudah cukup terik. Terkadang Victor akan bercerita sendiri sembari membersihkan bagian tubuh Yuuri yang bisa ia seka dengan tissue basah seadanya.
"Dokter bilang kau akan bangun setelah beberapa jam berlalu saat itu. Tapi nyatanya sampai saat ini kau tidak berniat bangun sama sekali." Jeda berselang, Victor merogoh sesuatu dari kantung celananya.
"Ah iya Yuuri aku ingat sesuatu, tadi temanmu mengirim sesuatu padaku via Line. Mau mendengarnya?" setelah sebuah gambar segitiga pada layar datar smartphone miliknya disentuh, alunan musik mellow menggema dan diikuti beberapa ucapan berbeda tone yang saling bergantian, menyampaikan dukungan, semangat dan doa yang tulus.
"Kau ternyata orang baik Yuuri" ujar Victor selepas apa yang diputarnya itu selesai.
"Banyak orang menyayangimu. Jadi bangunlah dan berlatih juga berjuang lagi seperti biasanya"
"Maafkan aku karena aku tidak bisa menghubungi keluargamu. Karena memang aku tidak tahu bagaimana cara mengabari mereka tentang kondisimu sekarang."
Victor kemudian tersenyum.
"Bangunlah secepatnya Yuuri dan ceritakan tentang bagaimana keluargamu di sana, bagaimana kau hidup dulu, dan ceritakan juga tentang kesulitan yang selama ini kau simpan sendirian."
.
.
Apa yang dianggap normal hari ini merupakan sebuah gabungan puzzle norma yang tertanam begitu saja menjadi sebuah keyakinan bahwa apa yang terindera merupakan sebuah rutin yang bisa dianggap sesuai oleh logika.
Bagaimana jika semuanya itu dibalik, hal yang sebenarnya normal itu sebenarnya bukanlah sebuah hal yang normal jika kita kemukakan. Maksudnya?
Malam itu Yuuri ingat ia sedang berlatih bersama Otabek di dalam kamar, berlatih beberapa melodi baru untuk kompetisi kelompok pertama mereka pekan depan. Otabek sebelemnya tak pernah berinisiasi untuk berlatih bersama meskipun kamar mereka di dormitori berdampingan, sepertinya ada sesuatu namun Yuuri tak ingin bertanya untuk sesuatu hal privasi yang tidak terbuka sendiri.
"Yuuri. Maafkan aku jadi mengganggumu" Yuuri yang sedang sibuk dengan handphone di lengannya sembari mengintip langit malam lewat jendela berbalik menuju asal suara
Yuuri tersenyum.
"Kenapa minta maaf? Aku tidak keberatan." Wajah otabek memang jarang berekspresi, terlampau datar biasanya, tapi kali ini sedikit senyuman darinya seperti sebuah penghargaan yang sangat berarti karena telah berbaik hati membantunya.
"Sepertinya kau harus sering tersenyum otabek" wajah datarnya kembali
"Kapan aku tersenyum?"
"Baiklah lupakan apa yang kukatakan sebelumnya"
Malam yang hening pada akhirnya berakhir dengan sedikit keramaian yang ditimbulkan mereka berdua. Yuuri biasanya berlatih agak sedikit larut namun untuk malam ini sepertinya dia memulainya lebih awal.
From: Vic
Yuuri apa perutmu tidak lapar? Aku buat steak kesukaanmu
Kutunggu di restauran.
Makan malam dengan Victor selalu menyenangkan, maksudnya makanan sehat dengan rasa yang baik bahkan sangat baik ditambah, namun malam ini sepertinya Yuuri lebih memilih untuk di kamar saja.
To: Vic
Aku sepertinya akan di kamar saja. Ada temanku dan kita harus berlatih
Hal buruk selalu datang tanpa peringatan. Malam itu berjalan dengan sangat baik sampai suara teriakan dan asap juga hawa panas masuk perlahan ke dalam kamar Yuuri. Otabek beberapa saat yang lalu berkata ingin istirahat sejenak sedangkan Yuuri masih berlatih seperti biasanya.
"Kebakaran-kebakaran" terlambat adalah kata yang tepat ketika rasa sadar muncul, untung saja ada yang berteriak meskipun hawa panas dan asap sudah mulai merembes masuk
Refleks pertama yang Yuuri lakukan ketika menyadari situasinya malam itu adalah membangunkan Otabek secepat mungkin.
"Otabek bangun!" ucapnya setengah berteriak, rasa kantuk sepertinya belum menarik Otabek lebih jauh karena tak lama ia langsung bangun dan ikut dalam kericuhan di sana.
Yuuri dan Otabek bergegas berlari melewati lorong yang mulai sesak, setengah jalan mereka bersama hingga sebuah ingatan membuat Otabek panik
"Yuuri, Yuri masih di kamarku. Ya tuhan bagaimana ini" mendengar itu Yuuri terhenti kemudian berbalik arah
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau pergilah lebih dulu, aku yang akan bawa Yuri. Ah iya bisa kau minta tolong pada fire fighter untuk bersiap di bawah dekat jendela kamarku?" setelah itu Yuuri menghilang menuju kumpulan asap yang mulai pekat
Otabek melakukan apa yang diminta Yuuri. Di kamar Otabek Yuuri menemukan Yuri yang sudah lunglai tidak sadarkan diri, dengan sekuat tenaga Yuuri membawanya. Di luar sana fire fighter sudah bersiap dan dengan dorongan lemah Yuri jatuh bebas tepat di bantalan yang sudah dipersiapkan.
"Yuuri. Kau juga cepat lompat" Otabek berteriak sekuat tenaga ketika masih melihat sosok Yuuri.
Yuuri ingat pesan terakhir yang dia kirim pada Victor saat tubunya terasa muai berat dan tenggorokannya mulai perih. Bara api di hadapannya mulai menyebar tidak terkendali. Kepalanya mulai tak karuan ketika satu kaki mulai dia angkat untuk menaiki jendela, dan sedikit upaya lagi yang Yuuri berikan
BRUAGH
Bara dari kayu penyangga di atas kamarnya ternyata lebih cepat sepersekian detik membuatnya lapuk dan jatuh tepat di atas punggung atas Yuuri.
Otabek dan beberapa orang di luar berteriak memanggil nama Yuuri ketika kobaran api terlihat dari luar mulai menyala di jendela kamar Yuuri.
Yuuri tertelungkup dengan bara api yang mulai merayap di punggungnya. Ingatan terakhir Yuuri adalah ketika ia tahu bahwa bisa jadi saat itu ia tidak akan selamat.
Sepertinya ingatan terakhir Yuuri hanyalah sebuah berkas yang tidak akan orang lain percayai, pemadam kebakaran bergerak cepat dan segera menemukan Yuuri dengan punggung yang hampir melepuh sepenuhnya. Meskipun sedikit terlambat setidaknya tidak benar-benar terlambat karena tanda-tanda hidup masih ada ketika Yuuri diperiksa petugas.
.
.
Ketika ingatan baru mulai akan dibangun lagi dan visi Yuuri perlahan terbuka yang ia rasakan pertama kali adalah rasa dingin yang menempel di lengannya dan rasa perih uar biasa di sekujur tubuhnya.
Dengan susah payah menoleh Yuuri menemukan surai pirang yang tertelungkup di sebelah kiri tubuhnya.
Tanpa melihat wajahnya pun Yuuri sepertinya sudah tahu siapa orang disampingnya itu, berniat memanggilnya namun sesuatu tertahan dan tak bisa dilakukannya.
Nafasnya pendek, rasa panik muncul karena suaranya tidak bisa keluar seperti apa yang dia inginkan.
Author Note
Sorry sebelumnya gw salah upload hahaha. Ini yang benernya yang mau di upload sebelumnya hehe.
Dan thanks bgt bagi yang masih mau baca hehe
See ya X)
