UNCHILD
Standard Disclaimer Applied
A Letter (Part 7)
Teriakan Victor pada akhirnya sama sekali tak berguna untuk membuat Yuuri meninggalkan kegiatannya. Memangku dagu dan menunggu, suara Yuuri memaku Victor untuk tetap berada di tempat.
.
.
Victor POV
Ketika semua orang mengatakan tidak punya cukup waktu untuk semua yang mereka inginkan, sosok dihadapanku, dia yang selalu sibuk dengan apa yang selalu ia inginkan menampakkan bagaimana aturan waktu sebenarnya berjalan.
Aku pernah membaca sebuah buku, tentang sebuah kutipan berbunyi 'waktu akan selalu elastis atau kaku seperti diri memprioriaskan atau meniadakan sesuatu' atau kutipan lainnya 'Aku tidak punya waktu yang berarti Itu bukan prioritas untukku' dan satu lagi 'apa yang kau dapat juga kuasai adalah kualitas juga kuantitas waktu yang kau habiskan'.
Seperti mudah merangkai kata dan dulu kuabaikan begitu saja namun kutipan itu benar-benar muncul ketika aku bersama dengannya selama beberapa tahun ini.
Selama 2 tahun terakhir waktu adalah hal menyiksa untuk jalan hidup tak terduga yang ternyata harus dihadapi Yuuri, setiap hari berjalan menyakitkan ketika hal yang kau takuti menjadi hal nyata bahkan ketika kesadaran tertangkap indera.
Teriakan kosong dengan wajah basahnya saat itu memberikan rasa sakit tersendiri ketika kuingat lagi.
"Kau sudah berusaha dengan sangat baik Yuuri" ujarku sendiri ketika Yuuri menyadari kehadiranku, tersenyum kemudian menghampiriku cepat.
Victor POV –end-
.
.
"Kau sedang apa Yuuri?" suara Victor menggema dengan baik memberi tanda pada Yuuri untuk menengadah menuju sumber suara.
Pembaringan berseprai biru sedikit berkerut ketika seseorang yang duduk di atasnya menggeser tubuhnya menjauh dari sosok yang berdiri di hadapannya.
"Aku tahu kau sedang menulis sesuatu. Benar?" Yuuri tersenyum sembari menyembunyikan selembar kertas yang digenggamnya di dada
"Apa itu rahasia?" Yuuri mengangguk cepat.
"Baiklah. Mungkin itu hal yang memalukan, aku tidak tertarik" nafas lega cukup keras berhembus dari mulut Yuuri. Decihan Victor terdengar setelahnya.
Bunyi kain yang saling bergesek berganti sebuah benda padat yang bergesekan dengan kain. Dengan terampil Victor menyusun pack makanan yang dibawanya dari restoran diatas meja portable pembaringan Yuuri.
"Maaf aku agak telat. Tadi ada sedikit kekacauan di dapur. Tapi tidak sekacau ketika kau bekerja, tenang saja." Victor terkekeh sendiri ketika sadar ekspresi Yuuri berubah masam
"Kau memang yang terburuk Yuuri, akui saja itu haha." Yuuri memutar matanya
"Apa kau akan bertanya kekacauan seperti apa yang terjadi?" Yuuri mengangguk
Hening sejenak setelah makanan selesai tertata, Victor sibuk mencari sesuatu di dalam tas yang dibawanya, sebuah sendok.
"Ah ternyata terselip." Ujarnya sendiri
"Yuuri aku akan ceritakan, tapi kau harus makan dulu sekarang." sendok dari tangan Victor beralih tempat, Yuuri menggenggamnya kuat, menatap setiap makanan yang tersaji di hadapannya.
Tersenyum, setelahnya dengan bersemangat Yuuri melahap suapan pertamanya, satu kunyahan, dua kunyahan
"Yuuri, kau akan mulai pemeriksaan untuk pita suaramu besok." Yuuri berhenti menyendok makanannya, menatap Victor yang duduk di samping kanannya.
"Mari kita berusaha. Aku akan jadi walimu. Masalah administrasi dan sebagainya tak usah kau pikirkan. Cukup jangan lakukan seperti semalam dan aku akan sangat senang" mata Yuuri mulai terlihat berair ketika Victor mulai mengungkit tentang kejadian semalam.
'Maafkan aku' mulut Yuuri bergerak berulang kali mengatakan itu tanpa suara.
"Terima kasih. Ucapkan itu saja" Victor berdiri menepuk pundak Yuuri.
'Terima kasih' meski tak terdengar Victor tahu, Yuuri mengatakannya dengan sangat tulus.
.
.
Suara gaduh akibat gesekan kain di atas pembaringan menarik paksa kesadaran Victor untuk kembali. Visi kabur, fokus belum terkumpul, Victor sibuk menggosok matanya sesekali selang-seling dengan beberapa kedipan.
"Yuuri apa kau sudah bangun?" dia berujar memastikan sebelum sadar apa yang ada di hadapannya.
"YUURII!" teriakan Victor menggema tak terkendali, nada kasar dengan hentakan seperti ingin menghentikan sesuatu.
Sosok dihadapannya tengah merengut berekspresi putus asa, wajah yang sepenuhnya basah, mata merah dan bengkak, otot leher yang tertarik dengan urat menonjol representasi pemaksaan otot sekitar rahang untuk berkontraksi dengan keras, mulutnya terbuka seperti berteriak namun tak ada apapun yang terdengar dari sana.
'Victor apa yang terjadi?' mulutnya megap-megap menuturkan sesuatu yang tak bisa didengar Victor, dia mencoba mencerna apa yang ingin dikatakan Yuuri belum tercerna dengan baik telapak tangan Yuuri mulai meraih pangkal lehernya sendiri, memberi tekanan disana hingga warna wajahnya berubah menghitam.
"Yuuri kumohon apa yang sebenarnya kau lakukan?" Victor bergerak cepat menarik lengan Yuuri untuk menjauh dari pangkal lehernya.
'Apa yang yerjadi dengan suaraku Victor' mulut Yuuri megap-megap lagi, Victor menelaahnya cepat dan memahaminya dengan baik.
Menelan ludah sendiri, Victor tak tahu apa yang harus dia katakan pada Yuuri karena sebenarnya dia pun tak tahu apa yang terjadi.
"Tenang dulu Yuuri, jangan menekan lehermu seperti tadi."
Victor menekan tombol berwarna merah di dekat tiang infus, tak lama beberapa orang berseragam medis berdatangan, dua perawat laki-laki dan seorang dokter. Pemeriksaan berlangsung cukup lamban dengan ekspresi dokter yang sulit untuk dideskripsikan.
"Dia tidak apa-apa kan dok?" Victor mulai bertanya ketika gestur janggal dari dokter membuka gerbang kekhawatiran lebih jauh
"Mari ke ruangan saya" ajak dokter tersebut sebelum meninggalkan Yuuri yang masih bingung dengan apa yang terjadi, Victor mengekor setelah memberi isyarat semua akan baik-baik saja.
"Voice disorder. Pasien sepertinya mencederai lehernya tanpa sadar" dokter memulai dengan sebuah kemungkinan awal
"Dia baru saja bangun dok, beberapa hari kemarin dia hanya terbaring" Victor menjelaskan lagi kondisi Yuuri selama dua hari kemarin
"Ah pasien termasuk korban kebakaran dormitori kampus?" Victor mengangguk, dokter mencari catatan pasien korban kebakaran dari PC di hadapannya.
"Saudara Yuuri?" Victor mengangguk lagi.
"Sepertinya luka bakar di punggungnya itu juga mencederai lehernya, disini tertulis lehernya memar juga melepuh, sepertinya dia tertindih puing-puing bangunan. Pita suaranya sepertinya lumpuh. Ini hanya terkaan saja, lebih jauh lagi harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut." Berat nafas Victor, tatapannya menerka siapa tahu ada kebohongan dari ucapan dokter di hadapannya, namun malah keyakinan lain yang didapatnya, sebuah kebenaran.
"Apa dia bisa bicara lagi?" menekan rahang, victor berharap dokter memberikan sedikit ekspektasi
"Untuk beberapa kasus terkadang peradangan terjadi hingga pasien kesulitan bernafas, trakeostomi prosedur itu yang biasanya dilakukan, akan dibuat lubang di tenggorokannya untuk dimasukan selang ke sana untuk membantunya bernafas dan berarti pita suaranya tak akan selamat. Itu kasus ekstrem tapi saya harus tetap memberi tahu anda kemungkinan terburuknya. Lebih jauh, kebanyakan harus dilakukan operasi. Atau kasus ringan biasanya bisa sembuh dengan sendirinya. Saya belum tahu kasus apa yang terjadi pada pasien jadi mari kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut dulu." Tenggorokan Victor kering, bingung dan cemas menyergap bersamaan, bagaimana nanti dia menjelaskannya pada Yuuri.
"Mungkin hanya itu yang saya sampaikan. Semoga semuanya baik-baik saja. Kabari saya ketika pasien sudah setuju untuk pemeriksaan lanjut."
Beranjak dari tempat duduknya, Victor membungkuk kemudian pergi.
Sampai di hadapan Yuuri, Victor terdiam. Wajah Yuuri terlihat tidak bisa menunggu dan ingin segera tahu apa yang terjadi padanya.
Dingin ruangan itu tidak begitu kentara namun perlahan merambat menuju jemari kaki dan lengan Victor. Suasana hening membuatnya semakin tidak nyaman.
Menarik sebuah kursi, Victor duduk di sebelah kanan Yuuri.
"Yuuri" tatapan Yuuri menelisik, menusuk, seperti menembus kepala Victor saat itu juga.
"Apa punggunmu perih?" Yuuri mengangguk cepat.
"Lehermu?"
'Sakit' ujar Yuuri tak terdengar, dia meraba lehernya sendiri
"Lehermu cedera, mungkin tertimpa puing-puing malam itu." Putus sejenak berganti nafas dalam beberapa kali
"Karena itu, bisa jadi pita suaramu juga ikut cedera." Victor tak tahu lagi bagiamana cara halus menjelaskannya.
"Voice disorder. Itu kata dokter. Tapi tetap harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut agar lebih jelas, juga untuk penanganan selanjutnya" Victor mulai menunduk, menelan ludahnya sendiri
"Bisa jadi suaramu tak akan terdengar lagi Yuuri. Kau tidak bisa berbicara lagi, maupun bernyanyi lagi. Itu kemungkinan terburuknya" wajah Yuuri seperti tidak terima setelah penjelasan berakhir.
'Apa aku lebih baik mati saja malam itu?' Yuuri megap-megap terburu, bulir air matanya sudah jatuh begitu saja.
"Apa maksudmu? Apa kau tidak tahu bagaimana bersyukurnya aku ketika tahu kau selamat?"
Victor tertunduk, Yuuri menangis dalam diam, meringis menggenggam tepian seprai yang bisa diraihnya.
Dalam hening, raungan putus asa Yuuri menggema tak bersuara.
Author Note
Maafkan sangat, banyak hal terjadi termasuk laptop ngadat dan beberapa kerjaan yang tidak terkendali jadi selang se bulan ternyata hahaha. Dan here it is. Oh iya sekadar info, ada sedikit kesalahan upload chapter sebelumnya tapi udah dibenerin kok, kalo berkenan silakan dibaca lagi, kalo nggak juga gpp si wkwkwk.
Daaaan thanks bagi yang masih mau baca X)
See Ya XD
