.

.

.

Mingyu melirik tak senang pada apa yang bergelayutan sedari tadi dilengannya. Sebenarnya dia bisa saja menghempaskannya begitu saja, tapi perlakuan buruk pada yeoja bisa menghancurkan reputasinya.

Semua orang seperti sudah mematri dalam pikirannya, jika seorang Kim Mingyu adalah namja yang sempurna. Dia tampan dan juga pintar. Bermain alat musik, bernyanyi dan bahkan untuk bermain akting di teater.

Menjadi bintang di lapangan olahraga, berlari, basket sampai berkuda. Like a Prince.

Dia memiliki karisma seorang pangeran dan bahkan dia tak harus memiliki abs seperti Choi Minho sepupunya ataupun anggota klub judo lainnya. Dia hanya perlu menjadi dirinya dan dia memiliki sinarnya sendiri.

"Eum... Hana-ssi, kurasa Dokter Lee sudah selesai dengan pasiennya yang tadi."

Mingyu menunjuk kearah pintu yang terbuka. Yeah, ruangan dokter itu memang tengah menunggu Mingyu, dan karena kesibukan Hana yang mengagumi Mingyu _ ia hampir melupakan tugasnya.

Hana tersenyum kecil, dan jujur_ ia merengut tak senang saat Mingyu mengabaikan payudara indahnya yang seperti mendesak keluar itu. Ia sudah bersusah payah untuk mengatur dirinya agar terlihat sangat baik didepan Mingyu, tapi...

"Mingyu-ssi..."

Hana mendesah pelan saat Mingyu sekarang sudah menghilang dibalik pintu. Hana mendengus kesal, ia bahkan sempat menghentakkan kakinya dan mengumpat kecil sebelum ia kembali masuk ke ruang resepsionis di klinik itu.

.

.

.

Mingyu berdebar. Bukan karena ia baru saja melihat hampir seluruh payudara Hana –terkecuali putingnya yang masih tersembunyi-

Lupakan_

Ia berdebar, karena takut. Ia tersenyum kikuk saat duduk dihadapan Dokter Lee. Terlebih melihat wajah itu sepertinya menahan senyumannya.

"Apa sangat aneh, saat seorang pasien seperti aku mendatangimu?"

"Bukan seperti itu. Tapi, sebenarnya bisa juga disebut seperti itu. Kau tak terlihat sudah menikah, meskipun kau cukup tampan dan dengan presentase hampir 100 persen dijamin kau sudah pernah making love."

Mingyu melengos. Dia menoleh kearah lain. Jujur, pria dihadapannya ini benar-benar sok tua dan sok tau. Membuat dia semakin kesal saja.

"Hei, katakan_ apa kau bingung? Apa kesulitan saat yeojamu hamil? Ck... harusnya kau tidak berkonsultasi padaku jika kau menghamili yeojamu, kau salah dokter."

Mingyu kemudian meluruskan posisinya dengan sang dokter. Dia meletakkan satu tangannya diatas meja dan kemudian satu tangan lain sibuk menggaruk tengkuknya. Dia sungguh bingung, bagaimana menyampaikan ini.

"Hei, aku ini dokter khusus untuk menangani pria impoten dan juga hubungan suami istri yang tidak harmonis karena sex. Dan bahkan kulihat, Hana sangat senang karena kali ini ada seorang namja tampan yang datang ke klinik."

"Resepsionismu itu gila."

"Yeah, dan mungkin kau senang jika dia gila seperti itu."

"Mungkin jika aku bisa, aku sudah mengajaknya bercinta didepan ruanganmu, Tuan Lee."

Raut wajah Mingyu sukses membuat Dokter itu terkekeh. "Baiklah, sepertinya kau sedang sangat kesal. Mungkin kau hanya butuh teman yang dewasa dan pintar dalam hal bercinta. Aku bisa mengajarkanmu bagaimana menikmati dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk bercinta dengan yeojamu."

"Heuh?"

"Ya... berjam-jam. Bahkan kau bisa kubuat tahan untuk tak keluar selama 30 menit atau lebih. Ukuran lebih besar dan menusuk lebih dalam. Bukankah itu bagus."

"Ck... sebenarnya bukan itu masalahku."

"Lalu?"

Mingyu menoleh kearah lain. Dia mulai gelisah dan kembali menggaruk tengkuknya. "Heuh... bagaimana mengatakannya."

"Kenapa malu, bukankah kau perlu solusi?"

"Heuh... baiklah." Mingyu kembali menghadap dokter itu. "Masalahnya adalah aku tak bisa berdiri."

"Berdiri?" Dokter itu merengut. Dia melepaskan kacamatanya dan kemudian berdiri. "Maksudmu, kau tak bisa melakukannya dengan berdiri? Ah... itu posisi yang sangat enak kau tahu? Apalagi jika kau melakukannya dengan seseorang yang masih virgin, kau akan me_"

"Bukan berdiri seperti itu." Mingyu ikut berdiri dan menghentikan gerakan dokter aneh yang sekarang benar-benar terlihat pervert itu. "Bukan posisinya yang jadi permasalahannya. Semuanya aku bisa, dan semua video porno pun mengajarkannya dengan sangat amat teliti hingga kedetail terkecil."

"Lalu?"

"Masalahnya, itu tidak bisa berdiri?"

"Eoh?"

"Yaiks! Juniorku_ penisku _ ini tidak bisa berdiri."

"Mwo!?"

"Ish..."

"Bwahahhaa... hahahhaa...haahahha..."

.

.

.

.

.

Not Suitable for Children

.

.

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T to M

Cast :

-Kim Mingyu

-Jeon Wonwoo

- Other SVT member

& Teman-teman yang lainnya

Pairing : || mean MEANIE ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves

Genre : ||Drama || Romance|| Humor ||

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo's || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

.

Another PRESENT From Me

.

.

Just MEANIE

Please be Patient With me. Don't Like Don't Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

.

.

Dan ... ini sambungan yang kemarin.

.

HAPPY READING

.

.

Chapter 1

.

.

.

Mingyu mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, meski ini sudah memasuki pekarangan rumahnya. Taman megah nan luas. Mingyu menghentikan mobilnya tepat didepan rumah. Dia tersenyum kecil saat melihat mobil berwarna merah gelap sudah terparkir indah disana.

"Wonu datang?"

"Nde. Dia sudah menunggu tuan muda di halaman belakang."

"Ck... Jangan katakan dia sedang menggoda para maid."

Buttler Jung hanya tersenyum dan kemudian menggerakkan tangannya seolah mengisyaratkan Mingyu untuk mengikutinya.

Sampai ditaman belakang, Mingyu lagi-lagi harus menggeleng. Ia heran dengan tingkah Wonwoo, namja itu seperti tak pernah kehabisan kata untuk merayu dan menggoda yeoja-yeoja dimanapun dan siapapun. Termasuk maid dirumahnya.

"Sebaiknya kau panggil maid itu. Ini jam kerja."

Buttler Jung segera mendahului Mingyu untuk menjauhkan maid itu dari sahabat kesayangan Tuan Mudanya ini. Wonwoo tersenyum malas. Dia merentangkan kedua tangannya dan mendesah kesal, seakan mengatakan Mingyu benar-benar menyebalkan kali ini.

"Ayolah, Gyu..."

"Ck... kau ini benar-benar. Kalau mau jadi playboy, jangan para maid-ku."

"Hei, kenapa?"

"Mereka dari desa."

"Lalu masalahnya apa?" Wonwoo mengikuti Mingyu yang sekarang melangkah ke rumah kecil yang terdapat di bagian paling belakang di taman itu. Wonwoo duduk nyaman di salah satu sofa putih kesayangan Mingyu.

Ia melihat Mingyu bahkan mengusir beberapa maid yang tengah membersihkan rumah itu. "Yeah, kau benar-benar tak asik Gyu."

"Bukan tak asik, kau yang menyebalkan Jeon Wonwoo. Mereka hanya maid, dan mereka bekerja untuk keluarga mereka. Aku tahu kau tak akan menghamili mereka tapi, bisakah kau tak mengganggu mereka?"

"Yeah, baiklah." Wonwoo menerima gelas yang disodorkan Mingyu, dan dengan senang hati dia menunggu tuangan wine koleksi Mingyu yang disembunyikan di rumah itu. "Kau benar-benar penipu kecil. Bahkan rumah ini kau jadikan sarang wine seperti ini. Kuharap Uncle Kim tidak membunuhmu saat tahu anak kesayangannya adalah penggila dan sekaligus pencuri wine miliknya."

Mingyu tertawa kecil dan kemudian menghempaskan tubuhnya di sisi Wonwoo. "Huah... appa terlalu sibuk bermesraan dengan yeoja itu. Selingkuhannya itu membuatku muak."

"Ck... sepertinya dia wanita yang cukup berkelas meski dia seorang janda, tapi tubuhnya benar-benar sexy. Tak heran appamu rela meninggalkanmu dan memilih tinggal dirumahnya."

"Bukan meninggalkan aku. Hanya saja, appa memang selalu ingin sex dan sex lagi dengan yeoja itu. Aku tak tahu, bagaimana perasaan Umma. Untung saja, Umma sudah meninggal. Setidaknya, aku tak harus menyaksikan Umma menangis karena tingkah appa."

Mereka kemudian saling melirik satu sama lain dan kemudian tertawa terbahak. Tak jelas, entah apa yang sebenarnya mereka tertawakan. Wonwoo bahkan tertawa hingga beberapa kali ia tersedak.

"Memikirkan keluargamu, membuatku cukup bersyukur. Meski banyak orang yang menyukai Umma, aku tahu dia hanya menyayangi dan mencintai appaku. Mungkin, aku perlu menjadi seseorang yang seperti appa atau seperti Umma."

"Heuh... umma-mu itu terlalu muda untuk usianya dan appamu seperti bodyguard yang dikirim langsung oleh FBI. Seperti beruang yang sedang menjaga angsa putih. Sangat konyol sekali."

Dan kemudian mereka saling tertawa lagi. Bahkan lebih terbahak-bahak. Membicarakan kedua orang tua mereka saja, bisa membuat mereka kehilangan pikirannya.

"Bagiku, menjadi seperti Umma sangat baik. Dia setiap hari dikelilingi namja tampan. Bukankah seorang koreografer di SM itu pekerjaan yang sangat menguntungkan."

"Dan menjadi appaku, adalah sangat buruk. Dia hanya mencintai Umma dan mencintai Heechul. Hanya 2 orang itu seumur hidupnya. Tapi, tak buruk juga saat mendengar mereka berteriak dan mendesah."

Kembali mereka saling melirik dan kemduian tertawa lagi.

"Hahhaa...hahaha... hidup ini lucu sekali."

"Yeah, menurutku lucu sekali."

.

.

.

Untuk beberapa menit mereka diam kembali. Sekarang malah sibuk memutar wine didalam gelas mereka. Meski sesekali, Mingyu masih tetap mencuri pandang kepada Wonwoo. Sepertinya rasa penasarannya belum habis.

"Ehmm... Wonu..."

"Heuh?"

"Bagaimana jika kita melakukan percobaan lain?"

Wonwoo hampir tersedak, tapi ia berusaha menahannya. Setelah satu minggu berlalu dan dia bersusah payah menghilangkan ingatan itu, kini namja tampan nan pabo disisinya itu dengan seenaknya seperti mengajaknya bercinta saja.

Wonwoo hanya bisa menggeleng pelan. "Kau lakukan saja dengan yang lain. Aku tahu, klub para gay di bawah kota."

"Ck... aku tak yakin aku bisa berdiri."

"Heuh... tapi patut dicoba bukan? Lagipula, mereka cantik."

Mingyu melirik pada Wonwoo. Sebenarnya itu sedikit membuat Wonwoo tak nyaman. Wonwoo kemudian berdiri dan berjalan keluar. "Jika kau setuju, ayo ikut aku. Aku bisa mengenalkanmu dengan temanku. Mungkin saja dia punya jalan keluar yang lain."

Sebenarnya untuk hal yang satu ini, Mingyu sedikit ragu dan juga malas. Tapi entahlah, ia tak mau mengecewakan Wonwoo. Tapi disisi lain, ini benar-benar terlihat seperti Wonwoo tengah menjauhinya.

"Hei, apa kau marah padaku?" Mingyu berucap pelan sembari ia berjalan dibelakang Wonwoo.

"Ahniya."

"Lalu kenapa kita harus pergi kesana jika aku bisa melakukannya denganmu."

Wonwoo berhenti dan kemudian menoleh ke belakang. Dia menunjukkan tubuhnya dengan menggunakan kedua tangannya dan juga gerakan kepalanya. "See..."

Sebenarnya, yang ingin ditunjukkan Wonwoo adalah satu hal wajar. Tapi, mungkin dimata Mingyu hal itu seperti Wonwoo tengah memamerkan keindahan yang ia miliki. Dan Mingyu benar-benar sudah gila untuk ini.

"Kurasa aku tampan, kaya, pintar dan juga terlihat berkelas. Aku juga terkenal di kampus, di rumah. Bahkan diantara teman-teman Umma."

"Yeah... baiklah." Akhirnya Mingyu memilih mengalah.

Ia berjalan mendekati Wonwoo dan kemudian meraih bahunya. Sempat sesekali Wonwoo menggeliat tak senang, tapi akhirnya hanya dengan melihat senyuman bodoh Mingyu _ Wonwoo berusaha merubah pikirannya dan menerima perlakuan Mingyu.

.

.

.

.

-Boys meet Love-

.

.

"Boys meet Love?"

"Nde, ini club-nya. Dan aku sarankan, jika kau ingin kesini kau harus mengajakku. Tak semua orang diijinkan masuk.

"Lalu, bagaimana kau bisa menjadi bagian dari mereka?"

"Hehehe... itu karena ini adalah usaha Hyungku."

"Siapa? Kurasa kau tak punya Hyung. Kita berteman dari kecil, dan bagaimana aku tak tahu itu."

"Dia dibuang karena dia gay. Dia hampir memperkosa anak tetanggaku."

Mingyu sedikit terperangah. "Benarkah?"

"Nde, dan anak tetanggaku masih berumur 10 tahun."

"Heuh, pedo." Mingyu menggeleng. Ia kemudian mengikuti langkah Wonwoo yang dengan lincahnya melewati begitu banyak lorong sebelum akhirnya dia memasuki ruangan gemerlap yang remang itu.

Saat membuka pintu itu, Mingyu sudah harus dikejutkan dengan 2 orang bodyguard yang berbadan hampir sama atau bahkan melebihi Appa Wonwoo. Belum lagi setelahnya, ia harus dikejutkan dengan tontonan gratis seorang dancer yang tengah menari indah di atas meja bar.

"Dia hampir telanjang." Mingyu menggumam pelan. Ia merasakan tangannya ditarik oleh seseorang.

"Kau hampir tak berkedip saat melihatnya."

Mingyu tersenyum kikuk ke arah Wonwoo. Mereka memilih untuk duduk dimeja paling dekat dengan dancer itu. Wonwoo kemudian memesan minumannya dan kembali_ ia mendapatkan wine kesayangannya di sana.

"Dimana Cheol hyung?"

"Ouh, dia sedang bekerja."

"Heuh... bekerja." Wonwoo tertawa pelan dan kemudian mulai menikmati minumannya. Wonwoo dan Mingyu, memang seorang peminum. Tapi mereka bukan perokok apalagi pemakai obat. Bagi mereka, itu sama saja tindakan bodoh dan bunuh diri.

"Apa maksudnya dengan bekerja?"

"Cheol hyung, dia terkadang juga melayani para namja. Sebagai seme?"

"Seme?"

Jujur, Wonwoo hampir saja memukul wajah bodoh Mingyu. Rasanya gemas sekali. "Apa? Kau tak tahu seme? Kenapa wajahmu seperti itu?"

"Ehehhee.. memang tidak tahu. Aku baru mendengar istilah itu."

"Ck... kau terlalu sering bergaul dengan map dan perjanjian bodoh di meja kerja appamu." Wonwoo mengumpat pelan. Mingyu memang terbilang sukses sebagai pengusaha muda. Sebenarnya tak mudah, saat Tuan Kim kemudian hanya peduli dengan keberhasilan perusahaan ditangan vtanpa pernah berniat membantunya sekalipun.

"Itu karena appa sibuk."

"Heuh... sudahlah." Wonwoo kemudian menoleh kesegala arah. Dia tersenyum saat matanya menemukan seseorang yang sangat cantik. "Hei Gyu..." Wonwoo menepuk pelan bahu Mingyu. Mengisyaratkan agar namja itu menoleh padanya.

"Heum?" Mingyu mendekatkan wajahnya pada Wonwoo, dan kemudian mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk Wonwoo yang sudah mengarah pada seseorang.

"Bagaimana dengan itu?"

Wonwoo menunjuk seorang namja yang tengah duduk sendirian dan diam di sudut club itu. Mingyu hanya mengangguk pelan. "Cantik, dan benar-benar seperti yeoja."

"Coba saja."

"Eoh?"

"Nde, coba saja dekati dia."

Sebenarnya Mingyu tak yakin dengan ini. Tapi, melihat Wonwoo_ ia juga tak mau mengecewakannya. Akhirnya, Mingyu beranjak dari duduknya. "Aku akan mencobanya."

.

.

.

Jujur, jika boleh dan jika bisa_ maka Wonwoomungkin sudah menangis. Ini seperti dia sudah dikhianati tapi entah oleh apa. Ia sendiri juga kurang mengerti, atau memang dia bodoh?

"Ck.. tak mungkin aku cemburu."

Wonwoo melirik kesal, pada dua namja yang sekarang sepertinya sangat menikmati waktunya. Ia melihat Mingyu dengan namja cantik itu tengah sibuk tertawa dan sepertinya sangat asyik sekali.

"Sepertinya, kau akan membelok juga seperti Hyung."

"Mwo? Anhieyo..." Wonwoo menggeleng pelan. Dia menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa disana. Kemudian menoleh malas pada namja tampan yang sudah duduk disisinya. "Kau habis bercinta, Hyung?"

"Nde, tentu saja."

"Dengan siapa?"

"Yeah, siapa lagi kalau bukan nae lovely Lee Jihoon."

"Cih... kau gila."

Mingyu mencibir pria disisinya itu. Seungcheol hanya tersenyum pelan dan kemudian menggeleng. "Yeah, setidaknya setelah aku memperkosanya dia jadi mencintaiku dan bahkan sekarang dia meninggalkan keluarganya hanya untuk bersamaku. Bukankah itu bagus?"

Seungcheol tersenyum tepat didepan wajah Wonwoo. Dia seperti tengah mengejek Wonwoo, dan kemudian dengan jahilnya dia menunjuk pelan hidung Wonwoo. "Tidak sepertimu."

"Memangnya aku apa?"

"Ayolah, kau menyukai Mingyu."

"Apa? Tidak..."

"Baiklah. Menyangkal saja sekarang, tapi jika nanti kau benar-benar menjadi gay_ aku akan membuat pesta untukmu."

"Dan umma akan bunuh diri."

"Ahhaha... yeah, mungkin saja. Atau malah mereka membuat bayi yang baru lagi."

"Huh... apa maksudmu."

Dan kemudian mereka hanya saling tertawa satu sama lain. Sejujurnya, Seungcheol merindukan suasana rumahnya. "Jadi, bagaimana keadaan Umma."

"Kurasa dia sudah seperti biasa."

"Syukurlah."

"Eum..."

.

.

.

"Yoon Jeonghan imnida."

"Jeonghan?"

"Nde, tapi kau bisa memanggilku Hanie."

"Ah, aku Kim Mingyu."

Dan kemudian sedikit canggung. Sebenarnya, Mingyu pun tak tahu harus berbicara apa dan memulai dari mana. "Eum, kau datang sendiri."

"Yeah, begitulah."

"Bolehkah aku bertanya?"

"Apa?"

"Apa kau gay?"

"Uhhuk..."

Jeonghan terbatuk mendengar pertanyaan dari Mingyu. Sesungguhnya dia ingin marah, tapi saat melihat wajah Mingyu, sepertinya semua kemarahannya hilang dan malah dia kini tertawa terbahak-bahak.

"Apakau sedang mengajakku bercanda?"

"Wae?"

"Ck..." Jeonghan berdecak pelan dan kemudian memberikan pose terbaik dan tercantiknya. "Apa aku masih terlihat kurang cantik untuk mencadi seorang bottom?"

Mengambil jeda sejenak. Jeonghan kemudian tersenyum. "Tentu saja aku gay. Lagipula mana ada orang stright yang pergi ke sini."

"Ah, begitu yah."

Mingyu menganggaruk pelan tengkuknya yang tak gatal. "Eum, bisakah kau menggodaku?"

"Mwo?"

"Ah... ahni." Mingyu langsung menggeleng cepat saat melihat ekspresi Jeonghan."Bukan seperti itu. Aku tahu, kau bukan salah satu dari dancer itu. Emh... hanya saja aku... eum... aku.."

Dan Jeonghan tahu.

Hanya dengan mengikuti gerakan Mingyu yang tengah menatap namja yang cukup jauh diseberang mejanya. Namja yang tengah berbincang riang dengan entah siapa itu.

"Ah... yes I know. Kau baru menjadi gay."

"Mungkin bukan seperti itu. Sebenarnya, aku.. eum... itu..."

"Apa?"

Melihat mata Jeonghan yang mengerjap imut, sebenarnya membuat Mingyu mengingat seseorang. "Eumh... itu aku sebenarnya...Ah, sepertinya aku mengenalmu."

"Ck... jangan berbasa-basi. Katakan saja, maumu apa?"

"Yeah, hanya menggodaku sedikit. Aku hanya ingin membuktikan, jika teoriku benar itu baik, tapi jika teorinya yang benar itu buruk."

"Maksudmu?"

Jwonghan memang tak mengerti apa yang dikatakan Mingyu. Dan yang semakin membuatnya gemas adalah sikap Mingyu yang begitu kekanakkan dan sedikit pabbo. "Ah.. sudahlah. Baiklah, aku akan menggodamu. Tapi, jangan menyentuhku. Aku tidak mau kekasihku marah karena ada yang menyentuhku."

Mingyu cengo (?)

"Kekasih?"

Tapi Jeonghan tak mempedulikannya. Dia mulai beranjak dari posisinya dan kemudian berdiri. Dia mengarahkan telunjuknya didepan wajah Mingyu, meski tak sampai menyentuh ujung hidung namja itu tapi tetap saja posisi mereka benar-benar dekat.

Jeonghan bahkan mengangkat satu kakinya untuk bertumpu di kaki Mingyu dan mulai memainkan jemari kakinya yang lincah itu untuk menggelitik bagian baha dalam Mingyu. Sementara bibirnya tengah sibuk meniupkan nafas hangatnya menggoda telinga dan menggoda tengkuk Mingyu dengan sentuhan-sentuhan lembut jemari lentiknya.

"Bagaimana, heum...?"

"Rasanya biasa saja."

Jeonghan sedikit bingung. Ia tak mungkin melakukan lebih, tapi perasaannya cukup kesal karena sepertinya Mingyu sama sekali tak terangsang.

Jeonghan kemudian menggigit perlahan jari telunjuknya dibibirnya dan kemudian memposisikan wajahnya begitu dekat kearah Mingyu. Dan entah bagaimana, sekarang jemarinya tengah bergreliya bebas di paha Mingyu hingga akhirnya menemukan pusat tubuh namja itu.

"Apakah kau masih akan seperti itu Tuan Kim." Jeonghan mengedip genit dan kemudian dia mulai mendekati sarang junior (?)Mingyu hingga akhirnya_

"Stop."

Sebuah suara menghentikan kegiatan asyik mereka.

"Eoh..."

Dan Mingyu hanya memasang wajah bingungnya , sementara Jeonghanharus menahan kekesalannya. "Wae?"

"Yah... pergi Hanie, jangan mengganggunya. Atau aku akan melaporkanmu pada Americahyung-mu itu."

"Ish..." Jeonghan mendesah kesal. "Huah... lagipula, aku juga hanya menggodanya. Dan sepertinya dia bukan gay. Atau miliknya saja yang kecil. Hahaha...!"

"Yah! Maksudmu apa dengan kecil? Yah!" Mingyu berteriak cukup keras, hingga mampu mengundang perhatian beberapa orang. Dan Jeonghan, tetap melenggang pergi dari meja itu tanpa mau memikirkan atau menarik ucapannya tadi.

"Aish... kau kenal dia?" Mingyu mengacak rambutnya. Sungguh kesal, dan Wonwoo hanya mengangguk_mengiyakan Mingyu. "Bagaimana bisa ada namja sepertinya. Meneybalkan. Kau tahu sendiri kan, kalau punyaku itu besar?"

"Eoh?"

"Yeah, kau tahu 'kan ... Jeon Wonuu~~~."

"Ish... "

"Yah! Kenapa wajahmu begitu?"

"Huah... sudahlah. Kita pulang saja."

"Shireyo. Aku masih belum membuktikannya. Tadi jelas-jelas Jeonghan menggodaku tapi kenapa tak juga berdiri bahkan aku sempat merasakan jarinya dimmmpppphh..."

Kelima jari Wonwoo sukses membungkam mulut Mingyu.

"I can give you more. Jadi jangan membicarakannya lagi. Kau benar-benar menyebalkan Kim."

"Eoh?"

Mingyu terbengong ria. Dia bahkan belum begitu mengerti apa yang sebenarnya dimaksudkan Wonwoo.

"Ish... kajja, pulang saja."

Wonwoo menyeret lengan Mingyu, dan entah ada setan dari mana_ tapi Mingyu tersenyum cukup aneh dan mengerikan. Mingyu menangkap pergelangan tangan kurus Wonwoo dan itu berhasil membuat Wonwoo menoleh pada namja itu.

"W-wae Gyu?"

"Eum... bagaimana jika aku membalasmu."

"Eoh?"

"Kau menyukaiku, 'kan?

"Ahnieyo. Ish... kurasa kau tertular virus Jeonghan."

"Ah... jangan bohong, wajahmu merah Jeon Wonwoo."

"An_"

Dan suara itu terbungkam sempurna, saat bibir Mingyu mengklaim bibir tipis Wonwoo. Hanya sebentar, hingga ia melepaskannya dan kemudian menangkup kedua sisi pipi pucat itu. "Kau tahu, aku malah membayangkanmu. Dan kurasa,simulasi menggunakan namja lain atau yeoja lain tak akan berhasil."

"G-Gyu..."

"May I..."

.

.

.

.

.

.

TBC.

.

Ini remake yah. Maap kalao typo masih bertebaran

Makasih buat yang udah vote and komen

#tebarketcup...

.

GamsaHAE ^_^

.