.
.
.
Not Not Suitable for Children
.
.
Author : rainy hearT
Length : Series
Rated : T to M
Cast :
-Kim Mingyu
-Jeon Wonwoo
- Other SVT member
& Teman-teman yang lainnya
Pairing : || mean MEANIE ||
Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves
Genre : ||Drama || Romance|| Humor ||
Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo's || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||
.
Another PRESENT From Me
.
.
Just MEANIE
Please be Patient With me. Don't Like Don't Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.
.
.
Dan ... ini sambungan yang kemarin.
Sebagai ucapan maap karena update yang begitu lama
Ini chapnya panjang banget loh...
.
HAPPY READING
.
.
Chapter 3
.
.
.
Degh...
.
Sesekali berdegub kencang. Seakan jantungnya siap melompat keluar. Ada getar ketakutan yang diselingi sebuah perasaan nyaman yang aneh.
Wonwoo merasaknnya secara jelas.
Di belakang tubuhnya.
Di belahan bokongnya yang sexy (?) itu.
Sesuatu yang mengganjal dan seperti terus berkedut berada di sana dan mulai mendesak belahan bokongnya.
Payahnya lagi, dia seperti terlena atau entah Mingyu yang mungkin tengah memainkan perannya dengan sangat baik.
Mingyu menurunkan zipper celana Wonwoo hingga tanpa sadar celana panjang itu sudah turun bersamaan dengan boxer hitamnya.
Mingyu kecil (?) yang memang sudah terbebas itu semakin bebas memanjakan bokong Wonwoo dan malah membiarkan penisnya terjepit indah dan nikmat diantara bongkahan kenyal Wonwoo.
Mingyu sedikit memundurkan tubuhnya. Membasahi jemarinya sendiri dengan air liurnya. Ia membasahi dan mengocok penisnya sendiri dan itu entah atas ajaran siapa. Mana terfikirkan olehnya menggunakan lube atau apalah itu.
Nafsunya sudah tak bisa diaak kompromi lagi.
Mingyu dengan seenaknya mendorong Wonwoo untuk menungging dan berpegangan pada sandaran sofa, sementara ia melancarkan penisnya untuk masuk, walau harus bersusah payah.
"Pabbo..."
Wonwoo tak menjerit, hanya merintih lemah.
"Mianhhe, tapi ini benar-benar ketat. Mianhhe..."
"Sakit paboya Kim Mingyu..."
"Euhh... aku akan membuatnya menjadi nikmat. Bersabarlah..."
Mingyu masih berusaha untuk memasukkan penisnya, meski harus sangat bersusah payah. Tapi, belum juga Mingyu berhasil memasukkan seluruh penisnya_
.
Kreek... kreek...
.
Seketika saja, kedua tubuh yang sempat terlena itu langsung menegang dan panas.
Suara pintu dibuka berhasil membuat mereka tak karuan.
Wonwoo sudah mulai gelisah dan berusaha untuk bergerak. Sementara Mingyu, ia bahkan seperti sudah mati rasa meski hanya untuk menenelan salivanya sendiri.
"Ah... sial!" Mingyu menggeram kesal.
Dan dengan seenaknya, Mingyu langsung mendorong Wonwoo agar menjauh dari tubuhnya, berusaha dengan sedikit susah payah untuk mengeluarkan penisnya dan segera memakai celananya dengan benar. Sementara Wonwoo sendiri masih harus menahan sakit di butt-nya dan itu benar-benar berhasil membuatnya tak berkutik.
"Wonu, ayo cepat pakai bajumu."
Ingin rasanya Wonwoo memukuli Mingyu habis-habisan. Jika saja dia tak merasakan nyeri yang entah bagaimana bisa sesakit itu, mungkin chingu pabo kesayangannya itu hanya akan tinggal nama.
"Pabbo!" Wonwoo berteriak lirih, meski sesekali ia masih meringis menahan perih ditubuhnya.
"Pakai baju bagaimana?" Wonwoo bergerak pelan dan berusaha untuk memutar tubuhnya menghadap Mingyu. Sedikit kesusahan untuk bergerak dan pada kenyataannya memang butt-nya benar-benar nyeri, dan sangat aneh saat nyeri itu seperti masuk keseluruh bagian tubuhnya. Berhasil membelah tubuhnya menjadi dua. Wonwoo bersumpah,ia lebih baik dipukuli daripada harus merasakan ini lagi (?)
Ih... siapa juga yang mau merasakannya lagi.
Sungguh, Wonwoo akan membunuh Mingyu.
Benar-benar akan membunuhnya.
Entah bagaimana, Wonwoo juga tak begitu merasakannya. Tapi pandangannya sedikit kabur dan pipinya basah.
Sial! Sakit sekali...
Harga dirinya terinjak-injak, dan sakit melebihi sakit yang ia rasakan ditubuhnya.
"Omona... kau menangis."
Dan dalam bayangannya yang penuh kemarahan hingga ke ubun-ubun itu, Wonwoo hampir saja menginjak kaki Mingyu. Melihat wajah pabbo itu membuatnya benar-benar mual.
"PABBO!" Wonwoo berteriak. Lirih, tapi benar-benar terlihat jika namja emo itu tengah marah.
"Eumh... bagaimana yah?"
"Ish... kau yang bersalah, dan kau tanya bagaimana. Cepatlah, atau kita akan menjadi bulan-bulanan appamu."
Dan memang dari kejauhan, mereka berdua pun bisa mendengar suara tawa yeoja dan namja. Yeah, mungkin memang sedikit mabuk, tapi tak cukup mabuk hingga mengabaikan kehadiran Mingyu dan Wonwoo.
"Arra, sini aku gendong saja."
"Ya sudah cepatlah."
Mingyu mengangguk dan kemudian berjongkok. "Ayo naik ke punggungku."
"Naik bagaimana? Ish... kau ini pabbo sekali sih?!" Wonwoo sudah meremas pelan rambut lebat Mingyu, membuat Mingyu sedikit meringis. "Kau pikir aku bisa naik hah? Kau ini bagaimana? PABBOYA!"
"Ishhh... iya-iya..."
Awalnya Mingyu bingung, akan menggendong Wonwoo dengan cara apa. Tapi, akhirnya bridaly style-lah yang di pakai namja pabbo itu.
Dan tanpa permisi juga, Mingyu segera mengangkat tubuh Wonwoo dan kemudian membawanya berlari menuju kamarnya di lantai atas. Yeah... dia seperti memiliki alarm yang berdengung ditelinganya.
Suara appa dan mungkin calon ummanya semakin mendekat. Mingyu menoleh kearah Wonwoo, dan ia tersenyum melihat posisi Wonwoo yang entah bagaimana bisa, meski dia sedang panik dan gugup tetap saja dia memikirkan hal itu.
"Jika begini, kita seperti akan memasuki kamar pengantin. Kau cantik..." Mingyu sempat-sempatnya berceloteh ria disaat keadaan genting (?) seperti ini. mereka tertahan dipintu, karena memang tangan Mingyu sedikit kesulitan membuka pintu kamarnya.
Malah ia sempat-sempatnya mengagumi kecantikan khas asia milik Wonwoo.
Wonwoo mengangkat wajahnya dan menatap Mingyu, dia tersenyum aneh atau entahlah apa itu. "Tak bisakah kau segera biarkan aku tidur dan berhenti berbicara aneh? Atau kau ingin aku benar-benar membunuhmu Tuan Kim pabbo?"
"Huah..." Mingyu menghela nafasnya dan kemudian memasang wajah sedihnya. "Ya... baiklah."
Mingyu mendesah pelan. Dia sangat paham bagaimana watak dan kelakuan Wonwoo, meskipun pada kenyataannya Mingyu terlihat pabbo dan terkesan polos. Tapi dia benar-benar menikmati perlakuan Wonwoo padanya dan juga apa yang ia lakukan pada Wonwoo pun sepertinya terlalu berjalan apa adanya.
Benar-benar tak dibuat-buat. Ia seperti sudah terbiasa dengan keadaan mereka saat ini yang terbilang aneh atau belok.
"Setidaknya, aku jujur Wonu-ya."
"Teruslah bicara, sebelum kau mati ditanganku."
"Ah... aku sangat takut." Mingyu berbicara dengan nada mengejek.
Susah payah dia mencoba membuka handle pintu dan sama sekali tak berhasil. Wonwoo yang memang merasa aneh, mencoba melihat apa yang di lakukan Mingyu untuk beberapa detik itu. Wonwoo berdecak sebal.
"Ck... kau ini, bisanya hanya menyusahkanku." Dan dengan sabar akhirnya Wonwoo memilih sedikit bergerak dan membuka handle pintu bodoh itu.
Dengan perlahan dan hati-hati Mingyu membawa Wonwoo masuk kedalam kamar luasnya. Dan hanya dengan menggunakan kakinya, dia mendorong pintu itu.
.
Klek...
.
Pintu kamar Mingyu tertutup sempurna, meski belum terkunci. Mingyu segera menuju bed-nya dan membantu Wonwoo untuk berbaring diatas bed besar itu. "Aku akan menemui appa dan calon ummaku."
"Ah... iya, bawakan aku minuman."
"Mungkin hanya bisa jus, kau mau?"
"Ya... terserah-mulah."
.
.
.
.
Mingyu tersenyum kecil saat ia sudah berdiri diluar pintu kamarnya. Entahlah, ia juga tak tahu pasti apa yang membuatnya sebahagia ini. Mingyu melangkah ringan dan terus mengembangkan senyumannya, tapi baru beberapa langkah ia berjalan...
"Eunghhh... owhhh yeah... baby...unghhh..."
Seperti tengah menonton film porno secara life. Mingyu berusaha menutup kedua matanya dengan kesepuluh jarinya.
"Jangan lihat Gyu... jangan lihat." Mingyu menggeleng pelan.
Ia berusaha menahan keinginannya untuk melihat tontonan gratis itu. Meski penisnya tak bisa berdiri tegak, bukan berarti tubuhnya tidak tergoda saat diberi tontonan gratis yang terbilang sangat panas dan bahkan ia bisa mendengar jelas suara desahan yang saling menyahut terdengar tak karuan.
"Akhhhhhh... Hannie..."
.
'Shit!'
.
Mingyu dengan sangat terpaksa, akhirnya ia terduduk diam dan kaku, bersembunyi di balik pagar pembatas tangga dan mengintip kegiatan yang berada tak begitu jauh darinya, hanya 5 meter dan bahkan semua adegan didepan matanya itu sangat panas melebihi film porno.
Mingyu memang menikmati apa yang ia lihat.
Tapi sangat aneh saat ia tak merasa tertarik saat melihat tubuh hampir telanjang milik yeoja yang kini tengah mengangkang bebas memberikan vaginanya untuk terus dimasuki oleh penis besar Kim Hangeng.
Tak juga Mingyu mempunyai perasaan tertarik dengan dada besar seorang nyonya Kim yang bisa dipastikan memiliki ukuran 40 atau bahkan lebih.
Mingyu menyeringai kecil. "Ugh... aku harus pastikan milik appa lebih kecil dari milikku." Kapan lagi ia bisa melakukannya. Kalu dipikir-pikir Mingyu memang kurang kerjaan.
Mingyu merayap menuruni tangga hingga akhirnya dia bisa mendekat dan menjadi lebih dekat lagi dengan pemandangan itu.
"Chullie-ya..."
"Eungh..."
"Kau selalu saja sempit. Tau begini aku sudah menikahimu dari dulu."
"Ck... memangnya Heegyo eonnie mau kau kemanakan?"
Mingyu tak mempedulikan apa yang dibicarakan kedua manusia itu. Baginya, semua itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah memastikan ukuran penis appanya tak lebih besar dari miliknya.
Mingyu merayap lebih kebawah lagi, hingga akhirnya dia sampai di lantai bawah dan hanya bersembunyi seperti anak kecil yang bodoh. Berharap kedua manusia yang tengah asyik saling bergerak berlawanan arah itu tak terganggu dengan kehadirannya.
Heechul sendiri yang sudah sibuk menoleh kesana-kesini saat ia sungguh merasa tak mampu untuk menerima tumbukan keras di liangnya. "Unghhh... morehhh..."
"Yeah... ahhhh..."
Heechul menoleh sekilas. "Ehhh..." Ia mendesah pelan. Bukan karena merasakan ujung penis itu mengenai titik ternikmat didalam tubuhnya, tapi...
"Ehh... baby boy..." Heechul menyeringai saat dengan sengaja mata cantiknya itu menoleh lagi dan menangkap sesosok penampakan yang diyakini bernama Mingyu.
Hangeng sedikit erasa terganggu dengan ucapan lirih Heechul. Dan ia langsung menghentikan genjotannya. "Baby boy?"
Heechul mengangguk pelan. Ia meraih rahang tegas Hangeng dan kemudian menolehkan wajah itu untuk melihat kearah dimana seorang namja tampan nan babo ini tengah tersenyum kaku. "Nde... lihatlah, di ujung tangga. Mingyu sepertinya tengah menikmati apa yang ia lihat."
Dan...
"APPA! Ahniya! Aku tidak melihat apapun!"
Dan dengan segera Mingyu berlari menuju ke lantai atas.
"Hhahaa... sudah kuduga."
"Eumhh... Hannie... "
"Heum?"
"Bisakah lanjutkan lagi, si setan kecil itu sudah pergi."
"Dengan senang hati, my beloved princess..."
"Unghhh..."
.
.
.
.
.
BRAKK!
.
Mingyu segera menutup pintu dengan keras dan kemudian ia berlari menuju bednya. Dengan segala kebodohannya ia berharap ia bisa menyembunyikan wajah memalukannya dan menghindari cemoohan appanya sekarang, atau nanti atau besok pagi. Tapi...
.
Brugh...
.
"Arghhh...! Aww... appo!"
Dengan sukses, Mingyu terpeleset entah oleh apa itu dan berhasil jatuh tepat diatas tubuh namja yang tadinya sudah hampir terlelap.
"Awhh... appo! Ahsss..."
Wonwoo meringis menahan sakit di bagian belakang tubuhnya. Ia baru pertama kali merasakan, sesuatu memaksa masuk kedalam hole kesayangannya dan ia bersumpah, bahwa itu sangatlah sakit. Ditambah lagi dengan tubuh besar yang lalu menimpa tubuhnya dengan seenaknya.
"Kim babo...ughh... neomu appo..."
"Ahh... mianhe Wonu."
"Ish..." Wonwoo meringis kecil. "Menyingkirlah, Gyu."
Mingyu mencoba mengangkat wajahnya, dan sungguh... inilah bagian terbaik dalam hidupnya.
Ia berhadapan tepat dengan sesuatu yang sedari beberapa menit yang lalu benar-benar ia harapkan.
Sesuatu yang berukuran mungil dan menggemaskan sekarang berada dihadapannya. Tepat didepan hidungnya, dan jujur jika dia bisa menghirup wangi aneh yang benar-benar memabukkan.
"Eum... apakah tubuhmu sakit, Wonu-ya
"Ya tentu saja babo..."
Mingyu yang sudah berada dalam posisi duduk di bednya itu, langsung merayap mendekati Wonwoo. "Mianhe..." Mingyu berucap lembut.
"Ah... sudahlah. Aku mau tidur saja."
"Eh... tunggu dulu. Tadi aku sudah menanyakannya pada appa."
"Eh?"
"Nde..." Mingyu mengangguk. "Yeah, aku hanya bertanya jika lewat belakang memang pertamanya sangat sakit. Tapi aku sudah bertanya tentang bagaimana cara mengobatinya."
"Benarkah?" Wonwoo terlihat berfikir. "YA! Kau tak mengatakan hal-hal aneh 'kan?"
"Tentu saja."
"Kau tak bilang jika kau hampir saja me..." Wonwoo menghentikan kalimatnya. Entahlah, tiba-tiba saja dia merasa malu dan entahlah...
"Tenang saja. Aku hanya bercerita kecil tentang percintaan Cheol hyung dengan kekasihnya."
"Huah... baiklah. Jadi apa yang harus dilakukan."
Mingyu menyeringai dalam hati. Tak menyangka jika Wonwoo bisa dibodohi seperti ini. Dan entahlah, bagaimana bisa pikirannya memikirkan hal sampai seperti ini.
"Eehhhh..." Tangan Wonwoo menghentikan kegiatan Mingyu. "Untuk apa kau memegang celanaku? Owh... jangan kira aku bodoh ya..."
.
'UPSS...'
.
"Kau pasti ingin melakukannya lagi padaku. Yah... Kim Mingyu, kau mau mati cepat hah!?"
"Ck... ahniya. Kau bilang tadi sakit, dan pasti yang sakit itu butt-mu. Menurut appa, kita harus menjilatnya."
"Eh...? Kau terlihat semakin bodoh jika sedang berbohong, Kim."
"Heuh...kalau tak percaya, kau bisa tanya sendiri pada appa. Dia mungkin sedang bercinta dengan yeoja itu."
Wonwoo menggeleng. "Aku belum cukup bodoh untuk menanyakan hal itu. Yeah, lakukan sajalah kalau begitu."
.
'HAHAHAHA...'
.
Mingyu tertawa menyeringai dan bahkan terbahak-bahak didalam hatinya, tapi dia tetap berusaha untuk memasang wajah datarnya saat kembali berusaha untuk menurunkan kembali serangkaian (?) celana yang masih menggantung di kaki Wonwoo.
"Kuharap kau tak menghentikan aku, Wonu."
"Tergantung pada apa yang akan kau lakukan nanti."
Mingyu berpura-pura marah dan membatalkan niatannya. "Ya sudah, tidak jadi saja. Nanti kau malah membunuhku."
"Haish... baiklah, baiklah. Sudah lakukan saja."
Mingyu tersenyum kecil. Lampu kamar yang remang dan sedikit redup benar-benar menambah kesan eksotis dan juga hawa panas yang entah bagaimana mengalir begitu saja.
Dengan berhati-hati, Mingyu membuang celana itu untuk menyingkir dari bed dan daerah jajahannya. Dia kemudian membuka kedua kaki Wonwoo dan mulai menghirup aroma yang memang begitu memabukkan.
Mingyu tersenyum kecil saat ia melihat penis Wonwoo sedikit menegang. "Won, kau tenang saja. Jangan tegang begitu."
"Ish... cepat lakukan, sebelum aku berubah pikiran."
Mingyu kemudian membuka kaki Wonwoo dan meletakkannya di atas bahunya (ini Wonu posisi telentang ya (?). Mendorongya kedepan hingga ia bisa melihat hole Wonwoo yang memang terlihat menyedihkan. "Mianhe Won, aku benar-benar tak menyangka akan seperti ini. Dan asal kau tahu, ini benar-benar merah. Mungkin jejak darah, mianhe..."
Wonwoo diam saja. Dia tak menyahut ataupun menoleh ke arah Mingyu, dan oke...
Itu artinya jika Wonwoo akan membiarkan apapun yang ia lakukan pada sesuatu berwarna pink kemerahan di hadapannya itu. Mingyu mengangguk mantap, memantapkan niat sucinya (?)
Mingyu sedikit merasa aneh.
Entah bagaimana dia sama sekali tak merasakan perasaan apapun.
Tak ada perasaan jijik, atau apalah itu.
Meski apa yang ia lakukan terdengar konyol dan menggelikan. Tapi, benar-benar gila saat jiwanya seakan berontak dan mendorong dirinya sendiri untuk memanjakkan Wonwoo.
Bahkan sepertinya, tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Ia sungguh, tak pernah belajar tentang hal ini.
"Unghh..."
Wonwoo melenguh pelan. Ia merasakan benda lembab dan basah mulai bergerak di sekitar hole-nya. Entahlah, perasaan apa yang sekarang tengah memaksanya. Tapi sungguh, ia tak bisa menahan desahannya.
Terlebih saat merasakan lidah Mingyu seakan memaksa masuk untuk sedikit demi sedikit memanjakan holenya dan membasahinya dengan salivanya.
Wonwoo menutup matanya kuat-kuat, dan ia bahkan mengunci bibirnya rapat-rapat berharap bisa menahan desahan yang semakin memberontak didalam tubuhnya.
Dan sepertinya Mingyu juga malah semakin terpancing dengan apa yang ia rasakan sekarang. Ia sungguh menginginkan lebih dan lebih. Bahkan ia mulai merasa menggila saat ia malah berfikir untuk memasukkan beberapa jarinya ke dalam hole itu.
Mingyu mengangkat wajahnya untuk memastikan jika Wonwoo memang lalai dan sibuk merasakan kenikmatan yang ia berikan. Dan dengan mudahnya dia meludahi jemarinya sendiri dan...
.
Jleb...
.
"Unghhh..." Wonwoo menjerit pelan. "Apa yang kau lakukan, Kim..."
Wonwoo tersentak saat merasakan salah satu jari Mingyu memasukinya. Dan juga blowjob dadakan pada penisnya, membuat adik kecil itu perlahan semakin membesar.
"Hanya mengobatimu, apa kau lupa."
"Tapi..."
"Anggap saja, aku membalasmu atas blowjob yang kau lakukan beberapa hari yang lalu dulu."
"Tapi... ahhhh..."
Wonwoo tak bisa berfikir jernih. Penglihatannya seakan berwarna putih dan siap untuk menggambarkan apa yang ia rasakan. Ruang hampa dan lembab mulut Mingyu yang mengelilingi penisnya secara tiba-tiba, berhasil membuatnya menegang sempurna.
Wonwoo ingin memberontak, tapi sungguh konyol saat ia malah mendesah semakin gila dan sama sekali tak berniat menghentikan Mingyu.
Mingyu semakin bersemangat menggoda Wonwoo. Dengan jelas bisa ia rasakan, urat penis Wonwoo yang kasar dan menegang, juga sensasi jepitan yang lembut dan seakan menarik jarinya didalam hole Wonwoo.
Mingyu berfikir untuk melakukannya sekarang. Inilah kesempatan yang sangat amat tepat baginya. Dia kembali memasukkan jemarinya di lubang Wonwoo. Untuk pertama kalinya satu dan satu lagi, hingga ia akhirnya memasukkan ketiga jemarinya dan terus berusaha untuk menusuk lebih dalam lagi.
"Agghhhh..."
Wonwoo menjerit pelan.
Mingyu menyeringai. Dia menyudahi blowjobnya dan berusaha menusuk semakin dalam di hole Wonwoo.
"Ouhh... FUCK! Kim... ahhhhh..."
Mingyu yakin, inilah yang disebut titik sensitif itu. Dan dengan jahilnya, dia terus berusaha mengenai titik itu dan membuat Wonwoo semakin menggila.
"Bagaimana, bukankah tak sakit lagi?"
"Nde... ahhhh...tapi...ughhh Kim..." Wonwoo merintih lirih.
"Pasti sedikit tak nyaman jika begini, baiklah... mungkin sekarang aku akan mengobatimu dengan cara yang sesungguhnya, aku janji ini yang terakhir."
"Ughhh... cepatlah...ahhss..."
Wonwoo kembali meringis pelan saat ia merasakan jemari nakal itu ditarik oleh sang empunya. Jujur, Wonwoo merasa bodoh saat ia malah merasa kekosongan didalam holenya, tapi...
"Arghhhh... APPO!"
Wonwoo menjerit keras. Ia membuka kedua matanya dan menatap sayu pada Mingyu.
"Tenang Won, ini hanya awalnya saja. Aku janji setelah ini, kau akan baik-baik saja."
"Awas Kim... apa yang kau masukkan itu?"
"Eungh... penisku, kesayanganku..."
"MWO?!"
"Yeah... ouhhh sangat sempit..."
"Tapi, Kim... arghhh.. jebal..."
"Tenang Won, ini hanya awalnya. Nanti kau juga akan merasakan nikmat dan melupakan sakitmu."
Mingyu menangkap penis Wonwoo yang semakin menegang dan kencang. Dia mulai mengocok penis itu seiring dengan gerakannya. Semakin cepat dia menggenjot hole Wonwoo, semakin cepat juga dia mengocok juior Wonwoo.
"Unghh... fuck... fuck...fuck..."
"Yeah... teruslah bicara kotor Wonu."
"Arghh... bagaimana bisa? Ahss... Gyuhhh... Ouh jebal.."
Dan bagi Mingyu ini tak cukup. Ia sungguh tergoda dengan bibir tipis memerah yang sekarang digigiti oleh Wonwoo. Dengan cepat dia menurunkan tubuhnya dan menyambar bibir itu.
Melumatnya dengan cepat, seiring dengan dorongan didalam tubuhnya yang memaksanya untuk segera menyemburkan jutaan spermanya didalam hole Wonwoo.
"Emhhh... mhhh..."
Wonwoo merasakan sesuatu tuntutan didalam tubuhnya. Penisnya semakin berkedut cepat, seiring dengan dinding holenya yang semakin menjepit penis Mingyu.
"Nghhh..."
Dan Wonwoo tak tahan lagi, dia menyemburkan spermanya di kemeja Mingyu dan membasahinya hingga kembali jatuh ketubuhnya sendiri.
"Mhhh... tak kusangka, bercinta akan senikmat ini."
Mingyu tersenyum,memamerkan taringnya. Kedua pandangan mereka bertemu. Mata sayu Wonwoo benar-benar menggoda dirinya. Dan ia belum bisa untuk berhenti sekarang.
Perlahan ia mulai menggerakkan tubuh bagian bawahnya lagi. Sambil tersenyum dan beradu tatap dengan Wonwoo. Ia melihat gurat kekesalan di wajah Wonwoo. Tapi tetap saja, ia masih belum bisa menghentikan apa yang ia lakukan.
"Aku pastikan kau menikmatinya, Wonu-ya..." Mingu berucap pelan sambil mengocok kembali penis Wonwoo.
Wonwoo yang sudah merasa lemas, seperti tak sanggup untuk melawan gerakan Mingyu. Ia hanya menggeliat pelan dan berusaha mendorong tangan Mingyu untu menjauh. "Nghhh... hentikan bodoh...arghh..."
"Ayo, jepit lagi Won... ouh... damn tight..."
Mingyu masih sibuk dengan kegiatannya. Memaju mundurkan tubuhnya perlahan namun tepat sasaran(?), membuat ia bisa merasakan dinding sempit yang membuatnya menggila.
"Gyuhhh.. jebal...Gyuh..."
"Sebentar lagi Wonu. Ayolah, aku tahu kau menikmatinya."
Mingyu hampir keluar, dia semakin keras dan semakin menggila menumbukkan penisnya kedalam hole Wonwoo. Dan entah bagaimana, dia bisa seliar dan segila ini.
Mingyu menurunkan tubuhnya hingga ia bisa menyesapi tubuh putih pucat itu. Menjilat dan menggigiti leher Wonwoo dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher yang beraroma memabukkan itu.
"Ughhh aku keluar arghhh..."
"Mingyu... ughh..."
Wonwoo merasakannya.
Hangat yang begitu memabukkan didalam tubuhnya.
Bahkan ia seperti mengalir didalam tubuhnya. Cairan hangat mingyu dan juga spermanya yang lagi-lagi menyembur bebas membasahi tubuhnya.
Mingyu tersenyum puas. Ia menatap Wonwoo, mata sayu dan juga wajah kemerahan. Jangan lupakan hasil karyanya yang memenuhi tubuh pucat Wonwoo dan juga leher putih itu. Mingyu tersenyum penuh kemenangan.
"Uh... aku tak menyangka, jika bercinta akan seenak ini. Apalagi, ini dengan seorang cassanova bernama Jeon Wonwoo."
"Diamlah Kim... keluarkan penismu itu sebelum aku memotongnya."
"Hehehe... baiklah."
.
Chup~
.
Mingyu mencuri sebuah ciuman kecil di bibir Wonwoo sebelum perlahan mengeluarkan penisnya.
.
BLUSHHH
Entah kenapa, Wonwoo tak bisa menghentikan laju darah yang menghangati wajahnya. Ia yakin, wajahnya pasti sangat merah. Karena malu,tentunya."Ck... jangan menciumku lagi, kau benar-benar menyebalkan Kim."
Mingyu berbaring di sisi Wonwoo. Dia tersenyum melihat ke arah sampingnya. Wonwoo, tengah berusaha untuk menutup kedua matanya.
"Hehehe... aku suka kulitmu Wonu. Sangat halus dan cantik. Dan juga bibirmu, ck... bagaimana bisa bibirmu semanis itu tadi. Kurasa kau benar-benar terbuat dari permen."
"Diamlah... aku benar-benar lelah..."
.
.
Dan tak lama setelah itu, hanya terdengar suara dengkuran halus di kamar Mingyu. Sementara itu, kedua manusia yang sedari tadi menahan hasratnya bisa bernafas lega didepan pintu.
"Chullie baby..."
Hangeng segera mendorong yeojanya dan menindihnya di atas lantai saat itu juga, didepan kamar Mingyu.
"Kurasa aku butuh beberapa ronde lagi."
"Tentu saja, Hannie..."
.
.
.
.
.
.
"MWO!"
.
Wonwoo berteriak keras, dan kemudian dia bersusah payah untuk menahan amarahnya. Siapa yang tak ingin memukul wajah babo dihadapannya itu.
"Kenapa?"
"Yah! Kau masih tanya kenapa?" Wonwoo menggeleng tak percaya. "Ck... kau sudah gila."
Mingyu tak menyahut. Dia terlalu sibuk dengan makanannya, sambil sesekali meneliti hasil pekerjaan sekretarisnya. Sedangkan Wonwoo, dia tengah sibuk menaikkan lengan sweaternya. Entahlah, udara terasa panas hingga ke kepalanya.
"Heh... apakah menjadi masalah, bukankah bagus?"
.
PLAKKK...
.
Satu pukulan sukses mendarat dikepala Mingyu. Memang tak keras, tapi hantaman setumpuk map kerja Wonwoo itu cukup membuat Mingyu pening. Ia kemudian menutup mapnya dan kembali memakan sushinya.
"Wae?" Mingyu mengangkat wajahnya, dan mencoba melihat keadaan Wonwoo setelah dia menceritakan semuanya. "Appa tidak masalah."
"YAH!"
"Ish... kenapa kau jadi suka berteriak, Won? Seperti yeoja saja."
"Bagaimana tidak berteriak pabbo!" Wonwoo menggeram lirih,tapi terdengar jelas jika dia teramat sangat marah. "Kau menceritakannya pada appamu yang pervert itu, dan juga calon ummamu yang entah kenapa bisa se-yadong itu."
"Lalu kenapa?"
"Yah!" Wonwoo memukul keras mejanya, membuat beberapa orang yang ada di restoran itu menoleh kepada mereka. Sementara Mingyu sibuk meminta maaf, Wonwoo malah sibuk menurunkan emosinya.
"CK... kau berlebihan Wonu."
Mingyu kemudian berpindah tempat duduk menjadi disisi Wonwoo persis. Mingyu berbisik pelan tepat ditelinga Wonwoo, "Hei, bukankah sejak kita kecil juga kita sering mandi bersama? Aku juga pernah melihat penismu, dan juga appa... kita bahkan berenang bersama dan saling melihat, yeah... memang milik appa dulu paling besar."
"Gyu..."
"Tapi sekarang milikku paling besar."
"YAH! KIM MINGYU!"
.
Plakkkk!
.
.
TBC.
.
Gomawo untuk yang selalu nunggu dan setia voment di ff ini. Hahah... mianhe jika Ncnya seperti itu. Ga yakin juga itu hot. Hahhahaa...
.
GamsaHAE ^_^
.
