.

.

.

"Hoahhh...wuahhh..."

Mingyu yang tadinya ingin menguap lebar, harus dikejutkan dengan sesuatu yang tiba-tiba saja menimpa kakinya. Dia terbangun, dan ini kejadian langka saat kedua matanya bahkan terbuka lebar sepagi ini.

Mingyu menoleh ke arah meja nakasnya, masih jam 7 pagi. Bahkan para pelayan mungkin belum datang.

Mingyu menyingkirkan kaki Wonwoo yang dengan indahnya jatuh diatas kakinya. Dia tertegun.

Diam...

Mematung...

Sungguh, ia benar-benar mengabaikannya selama ini. Atau dia hanya dibutakan atau ini kebohongan masal. Wonwoo menyembunyikannya selama ini, dengan sangat baik dan rapi.

'Jangan-jangan, Wonwoo yeoja?'

Mingyu memukuli kepalanya sendiri.

Ia tak mau tetap seperti namja bodoh yang selalu berfikir kelewat batas dan aneh. Tapi...

"Eoh... bagaimana kakimu bisa sebagus ini?" Mingyu berucap lirih sambil mengangumi kaki putih dengan jari yang sungguh cantik.

Mingyu menoleh takut ke arah wajah namja yang masih terpejam itu. Yeah, bisa saja Wonwoo nanti bangun dan menendangnya.

Entahlah, sepertinya apa yang ia lakukan sekarang berjalan begitu saja...

Tanpa paksaan, atau bahkan Mingyu tak memikirkan apapun. Benar-benar berjalan begitu saja.

Mingyu turun dari bed-nya dan kemudian berdiri tepat didepan kaki Wonwoo.

Mingyu makin terlihat seperti kebanyakan ibu yang baru pertama kali melihat bayinya. Ada perasaan senang yang memenuhi hati dan pikiran Mingyu. Mingyu merasa ia seperti orang yang mulai kehilangan kewarasannya.

Ia tersenyum kecil dan bahkan sempat menyeringai menunjukkan taringnya, sebelum akhirnya ia mulai mengecupi telapak kaki Wonwoo, perlahan mengusapkannya ke wajahnya.

"Heum... kakimu saja begini. Hehe... coba yang lainnya yah?"

"Eunghh..."

.

UPSS...

.

Segera Mingyu melepaskan kaki Wonwoo dan kemudian memastikan jika namja itu masih tertidur seperti semula. Mingyu berjalan ke sisi bed-nya dimana wajah Wonwoo yang terlihat sangat menggemaskan itu berada tepat dihadapannya.

Sedikit gatal, dan akhirnya Mingyu memutuskan menyentuh hidung Wonwoo. Sungguh, mungkin ini akan diluar batas dan aneh saat ia mulai mengagumi Wonwoo. Tapi, ia sadar...

"Like an angel..."

Mingyu berbisik lirih, dan kemudian mencolek kecil bangir belum berfikir cukup jauh untuk memberikan morning kiss. Bisa saja Wonwoo langsung menembaknya saat itu juga.

"Ah... baiklah. Sebaiknya aku tak terlalu lama disini. Ck... aku bisa gila."

.

.

.

.

.

Not Not Suitable for Children

.

.

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T to M

Cast :

-Kim Mingyu

-Jeon Wonwoo

- Other SVT member

& Teman-teman yang lainnya

Pairing : || mean MEANIE ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves

Genre : ||Drama || Romance|| Humor ||

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo's || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

.

Another PRESENT From Me

.

.

Just MEANIE

Please be Patient With me. Don't Like Don't Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

.

.

Maap, updatenya lama. HBD dady Ming yang makin ketcheh dan penuh kemodusan...HAHAHAA

.

HAPPY READING

.

Chapter 4

.

.

.

"Yaiks... apa ini?"

Mingyu yang sudah terlihat tampan dan bersih, juga wangi baru saja keluar dari pintu kamarnya. Dan belum juga beranjak dari sana, ia harus menginjak sesuatu yang aneh yang berceceran di lantainya.

"Hah... kenapa belum ada pelayan yang datang."

Dan seketika itu juga dia melihat seorang pelayan dirumahnya melintas. "Yah kau ...! Cepat bersihkan ini!"

Pelayan itu mengangguk cepat dan kemudian segera menghilang dari hadapan Mingyu. Sedikit penasaran akhirnya Mingyu mencolek cairan itu. Dari warnanya saja, sudah mencurigakan.

"Mana mungkin ingus sampai seperti ini. Lagi pula, ini musim panas dan kemungkinan orang pilek juga sedikit. Tapi..."

Mingyu mencium ujung jemari yang baru saja dengan bodohnya menyentuh cairan kental itu.

"Eih...?"

Pikiran Mingyu bercabang. Dahinya mengkerut aneh, ia mulai berfikir jika ini mungkin cairannya semalam. Ia lupa...!

Atau bahkan lebih parahnya lagi, cairan itu keluar dengan sendirinya.

Atau cairan Wonwoo? Ah ... anhiya!

Dengan segera dia beranjak dari posisinya, hendak mencari pertolongan pertama namun belum juga satu langkah berjalan...

.

Brughhh...

.

Mingyu malang jatuh dengan sempurna mencium lantai kayu dirumah itu. "Ah... sial!"

Dia berusaha berdiri, tapi sepasang kaki lengkap dengan sandal rumahnya berhenti tepat didepan wajahnya. Dan ini benar-benar berhasil menambah rasa khawatirnya. Mingyu berusaha mengangkat wajahnya, dan ,

'GOTCHA!'

"AP-Appa...?"

"Nde, kau pikir siapa?"

Dan dengan seenaknya, Hangeng mengusap wajah Mingyu yang entah bagaimana penuh dengan cairan yang menempel diwajahnya. Dengan lembut dan menahan senyumannya ia membersihkan wajah tampan putranya itu menggunakan satu pack tissue yang ia bawa bersamanya.

"Yaikss... harusnya aku membereskannya semalam." Hangeng sedikit terlihat jijik saat membersihkan wajah Mingyu. "Sebaiknya kau mandi lagi, atau ini akan bertahan bau hingga nanti sore. Heuh... seharusnya aku tak bermain disini."

"Eh... maksud appa?"

"Yeah... kami mengintipmu dan making out di depan kamarmu. Bukankah itu keren?"

"MWO!?"

"Ck... jangan berlebihan seperti itu. Mungkin sekali-kali kita akan foursome, bagaimana?"

"YAH... APPA!"

.

.

.

.

.

.

.

Suasana diruangan ini cukup hangat, ditambah lagi beberapa pelayan yang ada disana terus berusaha menahan tawanya. Mereka masih sayang pekerjaannya dan tak mau dipecat hanya karena ketahuan menertawakan tuan muda mereka.

Sementara itu, Heechul selaku (?) calon nyonya rumah sedang menyiapkan roti dan juga susu untuk calon suaminya dan juga...

"Baby boy?"

"Heuh..."

Mingyu menyahut sekenanya. Dia tak bisa melarang Heechul memanggilnya seperti itu. Dan masalah panggilannya yang aneh itu sebenarnya karena masalah sebelumnya, dimana anu (?) itu tidak bisa berdiri.

"Kulihat, kau berhasil melakukan terapi atau pengobatan atau entah apapun itu namanya."

Mingyu terhenti sejenak dari kegiatan mari menyeruput susu di pagi harinya. Ia menatap bingung pada calon umma-nya yang super ekstrim. "Pengobatan?" Dahi Mingyu berkerut. Ia sungguh tak mengerti. "Pengobatan apa?"

"Heuh," Heechul Mengangguk pelan.

Tapi Mingyu rupanya masih loading. Ia sama sekali belum nyambung (?)

Heechul menghentikan pekerjaannya."Whatever-lah. Terserahmu mau kau namakan apa itu." Heechul mendekatkan wajahnya pada Mingyu, memberikan kode pada namja itu untuk mendekat padanya. "Jadi, bagaimana semalam?"

Wajah Mingyu memerah tak karuan. Calon umma barunya, dengan seenaknya menanyakan itu padanya. Bahkan seperti melupakan pelayan dan buttler yang ada disana.

"Ish... "

Mingyu hanya mendengus kesal.

Kemudian dia memberikan kode kepada semua pelayan untuk menyingkir. Ia mulai melahap rakus rotinya. Entahlah, ini perasaannya atau hanya saja rotinya bertambah enak. 'Lapar...'

"Heuh... setelah menguras tenaga begitu, kau jadi rakus yah?"

Mingyu melirik sengit. "Entahlah, mungkin rotinya saja yang enak."

"Jadi bagaimana? "

"Apanya?"

"Ya tentu saja bercinta dengan Wonwoo, pabboya Kim Mingyu?"

"Uhhhukkk..." Mingyu terbatuk, tersedak rotinya.

Sedetik kemudian dia menatap tajam pada Heechul yang sudah menahan senyumannya. "Aku tak menyangka, appa akan bertemu yeoja mesum sepertimu. Ish... seperti takdir saja. Kalian suka menyiksaku."

Hanggeng hanya tersenyum kecil dan kemudian meninggalkan koran paginya. "Huh... biasa saja, kukira Heekyo juga mesum. Dan Heechul, yeah... mereka sama saja."

Mingyu hanya bisa memaklumi apa yang akan terjadi setelah kedua manusia itu saling bertatapan seperti saat ini, tepat dihadapannya.

Mingyu sangat yakin, sebentar lagi dia akan mendapatkan tontonan gratis dari kedua manusia yang kini entah mengapa bisa sangat cepat dan gesit seperti itu, sudah berada di satu bangku.

Mingyu tak habis pikir. Padahal Appanya tak lagi muda.

"Ya ampun! Bisa tidak, jangan bercinta disaat makan? Ck... kenapa kalian juga harus pulang? Mengganggu saja."

Mingyu berceloteh seenaknya. Dia tetap memakan rotinya tapi benar-benar

.

.

.

pandangan kedua matanya yang tajam (?) membuat Heechul tak tahan untuk tertawa. "Yeah, baiklah baby boy. Kukira kau senang melihatku dan Hannie make out. Kalau kau mau melihat, bilang saja. Jangan mengintip seperti semalam. Aku juga dengan senang hati mengijinkanmu. Kau bisa meniru gaya kami, yeah... kami lebih berpengalaman."

Sebenarnya Mingyu sedikit terbatuk, tapi dia berusaha menahannya. Sangat tidak enak saat ketahuan mengintip, apalagi itu appa dan calon umma-mu sendiri. Ah... dia baru ingat, jika kedua orang mesum itu juga mengintipnya bersama Wonwoo.

"Kalian juga mengintipku, dan aku tidak protes." Mingyu berucap sekenanya. Dia kemudian meminum susunya. Melihat ke arah kamarnya. "Wonwoo, apakah dia tidak mau bangun?"

"Ck... mungkin dia langsung koma, karena penismu itu terlalu besar." Heechul berucap sekenanya, dengan nada mengejek dan juga sangat amat menyebalkan itu. Tapi, kali ini sepertinya apa yang dikatakan Heechul sama sekali tak berdampak pada Mingyu. Tapi_

"Uhhhukkk..."

Kali ini Hangeng yang tersedak. Dia menatap melas pada Heechul.

"Aish...yeobo ya..." Heechul mengusap wajah Hangeng dengan jemarinya. "Bukannya punyamu kecil, itu karena Mingyu masuk ke lubang belakang jadinya mungkin akan sangat sakit. Dan juga, jangan lupakan satu hal. Aku yakin, itu yang pertama bagi Wonwoo. And i'm pretty sure that's hurt like hell."

Dan kemudian bibir merah penuh dengan lipstik yang mengkilat itu menempel dan memberikan bekas di pipi Hangeng.

"Iya..." Hanggeng mengangguk pelan. "Memang sih, pasti sangat sakit. Eh... tapi Gyu, kenapa milikmu sebesar itu."

"Maksud appa, punyaku paling besar?"

"Nde, sepertinya begitu." Hangeng kemudian mengeluarkan sesuatu yang Mingyu yakin itu adalah biang petaka baginya. Hangeng sibuk dengan gadget bodoh itu, dan malah kini Heechul pun ikut mendekat.

"Nah... ini lihat baby..." Hangeng menunjukkannya, dan lalu di zoom hingga perbesaran berkali lipat.

"Ommo, memang sangat besar dan cute sekali."

Hangeng mengangguk dan kemudian menunjukkan gadget itu pada Mingyu. "Lihatlah, mungkin ini hampir 20. Ah... kau memang keturunanku."

Memang jarak sedikit jauh, antara Hangeng dan Mingyu hingga Mingyu harus sedikit mengangkat tubuhnya untuk meraih gadget milik appanya itu.

"MWOOOO?"

Kedua mata Mingyu membulat. Dia menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya. "Wuah... ternyata penisku sempurna. Ajuuuu niceee..." Mingyu bersorak senang. Kemudian dia menatap pada Heechul dan Hangeng. "Heum... kurasa, appa harus berusaha keras untuk mengalahkanku."

"Huh... kekanakkan sekali." Hangeng tersenyum kecil. "Kau pikir aku tak tahu, kalau penismu itu sama sekali tak bisa berdiri jika bukan dengan Wonwoo."

"Ahahahhaa..."

"YAYAYYAA...! Terus saja kalian tertawa."

"Memang itu benar-benar payah. Ahahaha...!"

"YAH! Berhenti!"

.

.

.

.

.

"MWO!"

.

Wonwoo berteriak keras, dan kemudian dia bersusah payah untuk menahan amarahnya. Siapa yang tak ingin memukul wajah babo dihadapannya itu.

"Kenapa?"

"Yah! Kau masih tanya kenapa?" Wonwoo menggeleng tak percaya. "Ck... kau sudah gila."

Mingyu tak menyahut. Dia terlalu sibuk dengan makanannya, sambil sesekali meneliti hasil pekerjaan sekretarisnya. Sedangkan Wonwoo, dia tengah sibuk menaikkan lengan sweaternya. Entahlah, udara terasa panas hingga ke kepalanya.

"Heh... apakah menjadi masalah, bukankah bagus?"

.

PLAKKK...

.

Satu pukulan sukses mendarat dikepala Mingyu. Memang tak keras, tapi hantaman setumpuk map kerja Wonwoo itu cukup membuat Mingyu pening. Ia kemudian menutup mapnya dan kembali memakan sushinya.

"Wae?" Mingyu mengangkat wajahnya, dan mencoba melihat keadaan Wonwoo setelah dia menceritakan semuanya. "Appa tidak masalah."

"YAH!"

"Ish... kenapa kau jadi suka berteriak, Wonu? Seperti yeoja saja."

"Bagaimana tidak berteriak pabbo!" Wonwoo menggeram lirih,tapi terdengar jelas jika dia teramat sangat marah. "Kau menceritakannya pada appamu yang pervert itu, dan juga calon ummamu yang entah kenapa bisa se-yadong itu."

"Lalu kenapa?"

"Yah!"

Wonwoo memukul keras mejanya, membuat beberapa orang yang ada direstoran itu menoleh kepada mereka. Sementara Mingyu sibuk meminta maaf, Wonwoo malah sibuk menurunkan emosinya.

"CK... kau berlebihan Wonu."

Mingyu kemudian berpindah tempat duduk menjadi disisi Wonwoo persis. Mingyu berbisik pelan tepat ditelinga Wonwoo, "Hei, bukankah sejak kita kecil juga kita sering mandi bersama? Aku juga pernah melihat penismu, dan juga appa... kita bahkan berenang bersama dan saling melihat, yeah... memang milik appa dulu paling besar."

"Gyu..."

"Tapi sekarang milikku paling besar."

"YAH! KIM MINGYU!"

.

Plakkkk!

.

.

.

.

.

Jika dilihat sekarang, memang keadaan Mingyu jauh dari kata baik-baik saja. Ia merasa sedikit pusing karena Wonwoo yang memukul kepalanyanya berulang kali. Meski hanya menggunakan tumpukkan kertas, tapi tetap saja rasanya sangat sakit.

Mingyu mengekor Wonwoo, berjalan dengan santai di belakang namja manis itu sambil sesekali tersenyum geli melihat Wonwoo. Mingyu tahu, jika ITU mungkin masih terasa sakit.

"Harusnya kau tak bodoh dan memaksa bekerja. Lagi pula, bukankah kau bisa membiarkan semua diurus oleh Jun. Tak harus kau datang ke rapat itu."

"Heuh... dan membiarkanmu menang tender? Lupakan!" Wonwoo tersenyum sengit. "Lagi pula, yang bodoh aku atau kau? Kau saja yang bodoh sampai berani melakukan itu padaku. Bersyukurlah aku masih baik hati dan tak menembakmu mati."

"Hehhee..." Mingyu hanya tersenyum kecil, dan seperti orang yang benar-benar aneh dan entahlah...

Mingyu hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan terus tersenyum. Jika boleh jujur, Mingyu tengah memperhatikan bongkahan seksi yang kini tepat berada dihadapannya.

Itulah mengapa, ia memilih berjalan dibelakang Wonwoo.

"Tapi, bukankah sekarang sudah tak sakit lagi? Buktinya kau bisa berjalan, berarti pengobatanku berhasil."

"Berhasil kepalamu?!" Wonwoo menoleh dan kemudian menginjak kaki Mingyu.

"Awwww... Sakit ! Kau tega sekali."

"Nah, diinjak saja sakit. Bagaimana jika sekali-kali aku yang memasukkannya? Heuh... kukira kau akan berteriak lebih keras dari ini. Dasar pabbo, kau sangat menyebalkan. Untung kita berteman baik, jika tidak aku mungkin sudah mendorongmu jatuh ke sungai Han dan tertawa saat kau benar-benar mati mengambang dan mengenaskan. Hahhaa..."

Mingyu mengikuti mimik Wonwoo yang marah sambil menunduk mengusap kakinya yang memang benar-benar terasa sakit. "Kau tak sadar, sepatumu itu keras."

"Kau lebih tak sadar lagi, penismu itu juga keras, besar dan itu sakit. PABBO!"

Wonwoo sedikit berteriak dan mendengus kesal. Untunglah mereka sudah ada didepan mobil yang mereka tumpangi, dan kemungkinan yang mendengar ocehan mereka hanya orang yang berlalu –lalang didepan restoran Jepang itu.

"Baiklah, aku pabbo... makanya tadi kalah tender."

"Anggap saja itu bayaranku, Gyu. Kau ini pelit sekali. Hanya tender berapa milyar saja pelit."

"Yeah... gwenchana. Untukmu juga tidak apa-apa. Lagi pula, yang terpenting punyaku paling besar dan juga kau puas dengan servisanku."

"YAH! Berhenti membicarakan itu, atau kau keluar dari mobilku."

"Ish... baiklah." Mingyu akhirnya memilih duduk manis dan memakai seatbeltnya.

Wonwoo mulai mengemudikan mobilnya, perlahan untuk kembali menuju ke kantornya.

"Bagaimana jika kita jalan-jalan dulu Wonu?"

"Kemana? Kau mau ke tempat Cheol Hyung? Mau mencari namja lain?"

"Ahniya, bagiku cukup kau saja."

"Heuh... bangunlah dari mimpimu, Kim."

"Hehhee... hanya bercanda. Begitu saja, sudah hampir keluar lagi tandukmu itu. Eum... bagaimana kalau ke lotte world?"

"Heuh... yang benar saja. Kita sudah besar Gyu."

"Kalau begitu, ke hotel saja. Aku akan menghubungi appa dan calon ummaku tersayang."

"Heuh... kau mau minta ijin untuk menginap? Ck... konyol sekali, lagi pula jangan pernah sekali-kali kau berfikir aku mau denganmu lagi. Cukup itu saja. Waktu itu aku benar-benar sedang bodoh-bodohnya."

"Heuh... bagaimana yah? Padahal, appa mengajak kita foursome."

.

CKIIITTTT...

.

"MWO?" Wonwoo menghentikan mobilnya seketika dan kemudian mencengkeram kerah baju Mingyu. "APA KATAMU?"

"Four_ foursome?"

"YAH! Jangan katakan tuan Kim mesum itu mengintip kita."

"Ehehehehe..."

"PABO!"

.

.

.

TBC

.

.

Gomen...

Update-nya lama banget. Kerjaan lagi sibuk-sibuknya.

Jangan lupa Voment yah.

Diingiatkan lagi lho,ini genre romcom + esek2. Aku menghindari banget konflik berat disini. Jadi maaf yah kalau ga sesuai ekspektasi. Makasih..

.

GamsaHAE ^_^

.