.
.
.
"Aish... kepalaku benar-benar sakit."
Mingyu terus mengusap kepalanya. Dia berjalan mengekori Wonwoo memasuki rumah besarnya.
"Umma dan appa sedang pergi ke Jepang. Mungkin tak akan pulang sampai bulan depan."
"Wuah, bagus sekali Wonu~. Aku bahkan tak perlu repot-repot mengajakmu ke hotel saat ini. Ahahha..."
.
Plakkk...
.
.
Suara tamparan itu terdengar sangat miris dan menyakitkan. Mingyu mengusap bibirnya yang baru saja ditampar lembut oleh tangan kurus Wonwoo.
"Sekali lagi aku mendengarmu berbicara seperti itu, akan kupastikan kau benar-benar menyesal Kim Mingyu."
"Ish... sama sekali tak bisa diajak bercanda."
Mingyu duduk seenaknya di meja bar yang ada di rumah Wonwoo. Beginilah, dia selalu menyukai rumah sahabat (?) tersayangnya ini. Rumah bergaya Jepang yang bahkan memiliki bar tersendiri. Mingyu sibuk melihat koleksi minuman Appa Jeon.
"Jangan menyentuh atau mengambil apapun. Ke kamarku saja." Wonwoo menyeret Mingyu untuk turun dari atas meja bar itu. "Bukankah kau takut pada appaku?"
"Yah... hanya melihat saja, pelit sekali."
.
Cklek...
.
Mingyu tersenyum senang saat pintu bercat hitam itu terbuka, ia langsung berlari dan menjatuhkan tubuhnya di kasur nyaman nan lebar itu. "Wuah... rasanya aku capek sekali. Bahkan semalam aku tak bisa tidur. Ugh... aku menginap ya."
"Kau pikir salah siapa tak bisa tidur."
"Tentu saja salahmu, Wonu~."
"Kenapa aku? Aku bahkan tidak melakukan apapun dan menggodamu."
"Memang sih... tapi sayangnya, Gyu kecil langsung berdiri saat melihatmu."
.
Brughh...
.
Sebuah bantal melayang tepat mengenai wajah tampan Kim Mingyu. "Jangan sampai aku benar-benar menembakmu, Gyu." Wonwoo memicingkan kedua mata foxynya.
Sebenarnya apa yang dilakukan Wonwoo, benar-benar pose orang marah (setidaknya menurut Wonwoo). Tapi, apa yang dilihat Mingyu...
Bahkan Wonwoo nampak sangat sexy dengan kemeja yang menggantung ditubuhnya. Ia memang tahu-tahu sudah melepaskanpakaiannya satu per satu. Niatnya sih ingin berganti baju.
Entah sengaja atau tidak, atau memang kebiasaan Wonwoo. Ia sama sekali tak berfikiran buruk, dengan hadirnya Mingyu dikamarnya.
Wonwoo lupa...
Mungkin...
.
.
.
.
Mingyu berjalan mendekati Wonwoo, tanpa sepengetahuan Wonwoo. Wonwoo memang tengah sibuk memilah baju tidurnya.
"Kukira jika menginap disini tak akan ada baju tidur yang muat untukmu Gyu."
Wonwoo berucap sekenanya sambil memakai pakaiannya.
.
Greeep...
.
"Enghhh... itu sudah pasti Wonu~. Apa kau pikir kita butuh piyama?"
Dan Wonwoo merasa, mulai tak aman dengan Mingyu.
Lagi...
.
Not Suitable for Children
.
.
Author : rainy hearT
Length : Series
Rated : M
Cast :
-Kim Mingyu
-Jeon Wonwoo
- Other SUJU & SVT member
Pairing : || Mean Meanie ||
Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Jeon Wonwoo menjadi milik saya.#Mimmpi...#
Genre : ||Drama || Romance||
Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo's || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||
.
Another PRESENT From Me
.
.
Just Meanie
Please be Patient With me. Don't Like Don't Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.
.
.
HAPPY READING
.
.
Chapter 5
.
.
"MMMPPhhhh!"
"Heummmm?"
"MMphhh... ! MMMhhhhhmmmm mmmmmm...?"
Wonwoo menoleh malas pada namja yang terus mencoba berontak di sisinya. Dia tersenyum nakal dan kemudian mencolek dagu namja itu. "Salahmu sendiri. Sudah tidur saja."
"MMMHHHHHH!"
"Ckk... jangan berteriak seperti itu. Orang lain yang mendengar pasti akan berfikir yang tidak-tidak." Wonwoo kemudian kembali ke posisinya semula. Ia membenarkan kacamata dan mulai sibuk bermain game online di laptop kesayangannya.
Mingyu mendesah kesal. Dia menggerakkan tubuhnya dengan susah payah hingga kakinya mampu mengganggu Wonwoo. Dia memainkan jemari kakinya dan mulai mengganggu Wonwoo. Mencubit kulit kaki Wonwoo atau bahkan menarik sedikit bulu halus di kaki putih itu.
Wonwoo sesekali masih menoleh, tapi dia hanya tersenyum kecil dan menepuk kepala Mingyu yang ditumbuhi ribuan helai rambut tebal yang sudah acak-acakan.
Keadaan Mingyu sangat mengenaskan.
Kedua tangan terikat kedepan, di sambungkan dengan kedua kaki yang diikat menggunakan satu tali yang entah asalnya dari mana. Bibir Mingyu yang terus mengoceh sedari tadi disumpal menggunakan sapu tangan yang entah dari mana didapatkan Wonwoo.
"Hahahhaa..." Wonwoo yang sedari tadi tertawa, semakin tertawa melihat keadaan Mingyu.
Namja tampan itu masih memakai pakaian kerjanya, dan sialnya dia telah salah menggoda Wonwoo.
Untuk kali ini malah berbalik, hingga Mingyu bisa dengan mudah dikalahkan oleh Wonwoo dalam pergulatan kecil mereka tadi.
"Kau ini sahabat terbaikku, Gyu. jangan terus berfikiran mesum."
Wonwoo berucap pelan saat ia merasakan gesekan jemari kaki Mingyu melembut pada kakinya, dan ditambah ekspresi wajah Mingyu saat melihat Wonwoo. "Sepertinya kau butuh seseorang untuk memperkosamu."
Dan dengan polosnya Mingyu mengangguk, menunjukkan wajah sumringah yang bahkan sangat ingin membuat Wonwoo melakukan lebih (read: kejahatan) pada Mingyu.
"Kau pikir aku gay?" Wonwoo menggeleng dan kemudian dia menyingkirkan kakinya dari sisi Mingyu. Dia menyeret Mingyu untuk tiduran karena ia sendiri sudah mengantuk. Sedikit kesusahan karena Mingyu seakan memaksa dirinya sendiri untuk tak bergerak.
Wonwoo melotot tajam dan alhasil hanya mendapat cengiran yang bisa dilihat dari kedua mata Mingyu yang menyipit. Wonwoo mencubit hidung Mingyu karena gemas.
"Kau ini, tak bisa apapun. Bela diri tak bisa, pegang senjata api juga tak bisa. Ck... apa yang bisa diharapkan dari mahasiswa tanggung yang belum lulus, dengan kepintaran aneh diluar batas dan juga kegilaan yang tak kenal orang. Ck... benar-benar Kim Mingyu style."
Wonwoo menggeleng pelan dan entah bagaimana, Mingyu masih bisa jahil dan mendekatkan wajahnya cepat pada Wonwoo, hingga tak sengaja hidungnya menyentuh pipi tirus Wonwoo.
.
Plakk...
.
Kembali kepala Mingyu menjadi sasaran kekesalan Wonwoo. "Yah! Sekali lagi kau menggunakan otak mesummu itu, aku jamin kau akan tahu dimana letak ruang bawah tanah rumah ini. Dan aku pastikan, kau akan terkurung disana sepanjang hidupmu. Dasar Tuan Kim menyebalkan!"
Mingyu tersenyum dalam hati.
Wonwoo langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Mingyu. Entahlah, dia seperti yeoja yang sedang PMS dan sangat sensitive.
Tapi sepertinya, Mingyu belum kehabisan akal. Terbukti dia berusaha dengan susah payah mendekati Wonwoo dan berusaha menghirup wanginya. Wonwoo merasakan nafas yang berhembus pelan di tengkuknya. Sungguh, ia sangat geram dan gemas.
Wonwoo menghela nafasnya, ia mencoba mengendalikan dirinya. "Gyu, jangan menggangguku. Besok kita harus kuliah. Kau tahu, otakku sudah pusing. Jangan menggangguku."
.
Sreekk.. srek...
"Yah! Kim Mingyu!"
Dan setelah berteriak cukup keras, akhirnya Mingyu menghentikan gerakan kakinya yang tadi mengganggu Wonwoo. Dalam hati dia tertawa gemas. Ah... kesayangannya ini memang sangat menggemaskan.
.
.
.
.
"Engh..."
Terdengar suara lenguhan kecil. Wonwoo meraih jam di atas meja di sisi tempat tidurnya.
"MWO! Ommo, aku terlambat."
Dia segera bangun dan bergegas mandi.
"Aish... ujian dan aku terlambat. Sial sekali!"
Wonwoo bahkan lupa jika dia mengikat Mingyu semalaman. Ia baru menyadarinya saat ia sudah selesai mandi dan hendak meraih pakaiannya. Entahlah bagaimana, tapi sebuah ide gila muncul dikepalanya.
Mungkin saja Wonwoo sempat terbentur tadi di kamar mandi, atau dia salah menggunakan sabun (?) pagi ini yang jelas dia mendekati Mingyu dan kemudian duduk disisinya. Dia bahkan lupa jika dia sudah benar-benar terlambat untuk datang ke kampusnya. Dia meniup wajah Mingyu.
Tercium wangi mint yang sangat segar.
Berulang kali Wonwoo melakukan itu, mengganggu Mingyu. Ia melepaskan sapu tangan di bibir Mingyu.
Ah... Mingyu pagi ini memang terlihat sangat tampan. Seperti baby yang benar-benar polos. Sejenak, hilangkan sifat mesumnya karena Wonwoo tahu benar jika Mingyu adalah namja yang benar-benar polos.
"Ck... alasan saja jika kau tak bisa berdiri. Memangnya kau pikir aku bodoh?"
Wonwoo menggumam kecil. Entah apa yang ada dipikirannya, tapi dia mengarahkan telunjuknya untuk mengusap bibir Mingyu.
Kedua mata Mingyu masih tertutup, setidaknya itulah yang dipastikan Wonwoo kali ini.
Wonwoo seperti orang yang ketakutan. Lucu sekali.
Takut ketahuan, hanya karena mengangumi wajah tampan orang yang disebut 'sahabat'nya itu.
Sementara Wonwoo terpaku dengan bibir itu, Mingyu sendiri sudah membuka matanya. Dia menatap Wonwoo, menatap namja manis itu lekat-lekat.
Mingyu sangat suka wangi Wonwoo. Jika dulu, mereka bahkan suka saling mengeringkan rambut saat masih sekolah. Dan sampai sekarang, wangi Wonwoo tak pernah berubah. Rasa manis dan mint yang entah bagaimana tercampur sempurna.
Seperti memakan permen yang manis. Ieuhhh... bahkan Mingyu sudah hampir meneteskan air liurnya saat membayangkan itu.
"Aishh... apa yang kulakukan?" Wonwoo seperti tersadar dan saat dia hampir beranjak dari posisinya, ia terhenti saat mendengar tawa lirih. Ia menoleh dan melihat Mingyu tersenyum padanya.
"Aku tahu, bahkan saat bangun tidurpun aku terlihat sangat tampan. Ck... akui saja kau menyukaiku."
"Euh... bermimpi saja Kim."
Wonwoo beranjak dan segera mendekati kabinet pakaiannya. Ia memilah baju mana yang kira-kira pantas dan akan ia pakai ke kampus.
"Kita sudah sangat terlambat, apa kau masih mau ke kampus juga."
"Setidaknya, aku sudah mandi dan sudah kesana. Jika tak bisa ikut ujian, aku bisa meminta Miss Park untuk memberikanku nilai yang bagus dengan hasil ujian palsu. Sedikit rayuan, dan juga ciuman."
Mingyu memanas. Entahlah, tapi ia sangat tak suka saat Wonwoo mulai menceritakan kebebasan dan juga kemudahannya dalam merayu yeoja.
"Euh... seperti kau bisa merayunya saja. Miss Park itu masih muda, dan kau adalah playboy cap kucing yang benar-benar tidak bermutu. Bahkan kau tak bisa disebut tampan. Atau, bisa jadi Miss Park akan bunuh diri saat menyadari bahwa kau lebih cantik darinya."
Wonwoo menoleh kepada Mingyu. Ia mengancingkan kaitan celana jeans nya dan kemudian mendekati Mingyu. Ia menatap Mingyu dan tersenyum kecil. "Terima kasih atas pujianmu tuan Kim. Coba aku dengar sekali lagi..." Wonwoo perlahan membuka ikatan di tubuh Mingyu. "Kau akan berakhir di ruang bawah tanah dan aku pastikan itu."
Wonwoo mendekati Mingyu dan melepaskan ikatan pada kakinya.
"Issh... kau kejam sekali. Lihat kedua tangan dan kakiku. Merah-merah dan ini sakit."
"HYaHHHH! Seperti anak kecil saja. Sudah sana mandi, dan kau berangkat sendiri. Kunci mobil ada di bawah. Aku tak mau berangkat bersamamu."
Wonwoo merapikan dirinya dan mulai fokus dengan tatanan rambutnya. Tapi, ia sungguh tak sadar jika ada serigala lapar yang tengah mengintainya kini kembali berada di belakangnya.
.
Greeep...
.
"Kau pikir kau bisa pergi tanpaku, Jeon Wonu-ya~? Dan apa kau berfikir, kau akan mengajak kencan salah satu noona atau Miss di kampus kita?"
Dan detik berikutnya, kini malah Wonwoolah yang menjadi tahanan Mingyu. Entah bagaimana tapi Mingyu berhasi mendapatkan kedua tangannya. Dan dengan mudah menyeret Wonwoo mengikutinya. Ia melempar tubuh Wonwoo dengan mudahnya ke atas bed empuknya.
"Yah... mau apa KIM? Aku sudah terlambat. Ck... jangan sampai aku menendang penismu dan akan kupastikan selamanya kau tak akan bisa berdiri."
"Ayolah, yeppeo..."
"YAHHH!"
.
Brakkk...
.
Brakkk...
.
?
.
.
.
.
.
.
Dan detik berikutnya, scene sudah berpindah ke ruangan ini, sebuah klinik yang dulu pernah di datangi Mingyu. Entah bagaimana, Mingyu kembali terjebak diklinik sang dokter mesum. Bagaimana bisa Wonwoo malah mengajaknya ke dokter mesum itu?
Dokter Lee...
Suster Hana...
Kedua orang itu seperti virus yang menyebalkan dan Mingyu benar-benar alergi. Ia sangat kesal, bahkan saat pertama kali masuk, dan Hana malah sibuk menggoda Wonwoo sedari tadi. Jika saja Mingyu tidak menyeret namja itu untuk mengikutinya maka bisa dipastikan Hana dan Wonwoo akan berakhir dengan dinner romantis yang membuatnya mual bahkan meski hanya membayangkannya saja.
Wonwoo tersenyum kecil saat mereka baru saja meninggalkan Hana dan berjalan menuju ruangan cokter Kim. "Kau tak bilang jika Hana cantik."
"Dia bukan cantik, Won. Kau pikir dadanya asli?"
"Yeah, biarpun tidak asli yang penting aku tidak dinner barsamamu lagi. Membuatku kehilangan selera makan."
Mingyu kemudian berhenti, membuat Wonwoo ikut berhenti. Entah bagaimana seperti keluar begitu saja, pemikiran aneh di kepala Mingyu. Ia tersenyum penuh arti pada Wonwoo membuat namja itu merasa sedikit aneh.
"Heuh... kau harus sadar, jika dadamu itu lebih membuatku tertarik."
.
Plakkk...
.
"Yah! Lama-lama aku bisa bodoh." Mingyu meringis saat ia merasakan kembali pukulan Wonwoo dikepalanya. Yah... meski hanya pelan, tapi cukup membuatnya kesakitan. Mingyu sudah mencoba menghindar tapi ternyata gerakan Wonwoo lebih cepat.
"Jaga mulutmu Kim. Kurasa memang otakmu itu sudah sedikit bergeser selain dari Kim kecil yang mengalami gegar otak siang ini." Dan Wonwoo hanya bisa terkekeh saat melihat wajah kesal Mingyu.
Ia sedikit merasa bersalah dan kasihan. "Maaf, aku tak sengaja menendangnya."
"Ish... kau tak tahu bagaimana menderitanya aku. Ini membuatku susah berjalan dan kau masih saja senang memukul kepalaku. Dasar tidak sopan."
"Tapi aku, HYUNG~-mu! Dan bagiku itu tidak apa-apa!"
"YA... terus saja banggakan itu HYUNG~!" Mingyu menekankan kata Hyung, hingga akhirnya dia masuk ke ruangan dokter Lee.
"Wahhh! Kau datang lagi, Mingyu..."
Dokter itu menyambut Mingyu dan Wonwoo dengan senyuman seribu wattnya. Wonwoo hampir pingsan saat melihat giginya yang berkilau itu. Baiklah, abaikan yang ini.
Wonwoo menahan tawanya, saat melihat ekspresi dokter yang berlebihan. Apalagi saat dokter itu mengelilingi mereka beberapa kali hingga akhirnya sang dokter mesum itu kembali duduk di kursinya.
Dokter Lee memasang wajah cool-nya kemudian mengusap dagunya. Ia melihat Wonwoo dan Mingyu bergantian. Wonwoo terlihat sangat manis dengan sweater baby blue-nya yang sedikit kebesaran. Yah... Alasan Wonu simple saja, supaya Mingyu tidak menatap lapar pada tubuhnya.
Tapi dia salah besar! Mingyu bahkan hampir meneteskan air liurnya saat membayangkan betapa manisnya Wonwoo saat ia bisa memakannya nanti. Ah... lupakan. Saat ini Mingyu kecil sedang butuh pengobatan karena tendangan maut dari kaki kurus Wonwoo.
#Hahaha...
Seketika, terukir kembali senyuman lebar seribu watt dari dokter itu. "Jadi, kau sudah menemukan pasanganmu Kim?"
Mingyu tersenyum lebar, dan mengangguk mantap. "Ah... nde tentu saja. Dan asal kau tahu, aku benar-benar bisa berdiri. Maksudku, penisku langsung berdiri tegak saat didek...awwww...! Sakit ...!" Mingyu mengusap pahanya yang baru saja menjadi sasaran empuk cubitan maut seorang Jeon Wonwoo.
Sang dokter terkekeh pelan melihat kelakuan Wonwoo dan Mingyu. "Kalian romantis sekali. Ah.. pasanganmu juga sangan cantik tuan Kim. Jadi, apa kau kesini untuk konsultasi? Aku bisa mengajarimu beberapa macam gaya."
"Ah, itu sebenarnya..." Mingyu tersenyum kecut, ia hendak menjelaskan tapi_
"Atau kalian mencoba untuk main kasar yah...? Kulihat kau sedikit pucat, Mingyu-ah. Hei ... sampai berapa ronde semalam. Ck.. jangan main kasar, penismu bisa sakit."
"Ahh... itu..." dan lagi –lagi...
"Tunggu sebentar, aku punya obat baru. Ini akan membuat kalian tidak terlalu capek meski main kasar. Aku juga punya koleksi beberapa sex toys dan..."
.
Brak!
.
"Yahh! Kau ini mesum sekali!" Wonwoo menggebrak meja, ia sudah merasakan kepalanya terbakar saat mendengar dokter mesum itu terus berbicara hal aneh yang tidak-tidak. "Ck... bisa tidak kau berhenti berbicara tentang sex, dan aku BUKAN pasangan namja bodoh ini."
"Eh..." Dokter Kim terlihat sedikit terkejut. Ia melihat kearah Mingyu dan kemudian kembali kearah Wonwoo.
"Mwo!" Wonwoo berteriak kasar. Kemarahannya belum surut.
Sang dokter tersenyum dan kemudian mengamati Wonwoo yang sedang menahan marahnya. Mengamati lebih detail dan terus membiarkan otak mesumya bekerja mencerna apa saja yang menjadi kemungkinan (?) diantara hubugan mereka.
"Ternyata kau namja." Sang dokter berbicara dengan santainya.
Wonwoo semakin geram dan berusaha meredam amarahnya sambil menggenggam kuat tangannya. Dia sempat melirik kearah Mingyu, dan namja itu hanya acuh. Wonwoo semakin kesal. "Kau pikir aku yeoja, eoh?"
"Aish... Mingyu-ah.." Dokter itu mengacuhkan Wonwoo dan kemudian mendekati Mingyu. dia mencekal leher Mingyu dan kemudian mendekati telinganya.
Sang dokter sebenarnya sudah berbisik, tapi entah d]sengaja atau tidak tapi Wonwoo bisa mendengarkan mereka.
"Hei.. apakah sangat sempit? Biasanya, dia jadi galak jika merasakan sakit berlebih. Apa kau tidak memakai lube?"
"YAHHH! Tidak usah berbisik! Aku mendengar kalian!"
.
Brakkk...
.
Brak...
.
.
.
TBC
.
.
Entah apa yang terjadi disana. Hahahha...
Gomawo buat yang selalu ComMent... I lOve you all...
GamsaHAE ^_^
.
#Maaf updatenya lama banget. Lagi beres2 usaha ini. Hehe...
