Langkah kaki pemuda bersurai pirang itu berhenti di kedai yang menjadi langganannya setiap pagi. Entah apa yang Naruto pikirkan, tanpa pulang terlebih dahulu ke flat miliknya—setelah keluar dari rumah Menma—ia malah berhenti di kedai milik sepasang suami-istri—Asuma dan Kurenai.
Tanpa mempedulikan orang-orang yang memandangnya bingung sekaligus prihatin, Naruto melangkah masuk ke kedai dengan langkah perlahan. "Kurenai-san." Naruto menghampiri Kurenai yang tampak sedang mencatat sesuatu di belakang meja kasir.
"N—Naruto?" wanita cantik beririskan rubby itu terbelalak—kaget dan bingung melihat sesosok pemuda pirang di hadapannya yang nampak berbeda dari penampilannya. "Ada apa denganmu?" Kurenai berdiri dari duduknya. "Kau—"
"Kurenai-san, tolong seperti biasa , ya." Naruto—memaksakan—tersenyum. "Dan aku rasa, aku membutuhkan segelas cokelat panas buatanmu yang lezat itu." Naruto menunjuk satu sisi tempat duduk di pojokan kedai yang menghadap jendela. "Tolong antarkan, aku menunggu di sana, ya, Kurenai-san?"
Tanpa menunggu lama, Naruto melangkahkan kakinya menuju satu spot favoritnya di tempat ini. Mendudukkan dirinya dengan hati-hati, lalu bersandar pada kursi. Sesekali Naruto menggigit bibirnya lalu menghela nafas—salah satu kebiasaannya jika ia sedang gugup atau merasa tak nyaman.
Naruto mengambil ponselnya di saku celana—milik Menma—yang dipakainya. Melihat angka yang menunjukan bahwa kini pukul setengah sembilan. Pantas di sini mulai cukup sepi. Menjelang siang, kedai milik Asuma dan Kurenai ini memang tidak akan seramai pagi hari—di mana waktu orang-orang sarapan. Akan kembali ramai ketika jam menunjukan makan siang.
Sasuke, sudah bangun kah?
Naruto menggigit bibir bawahnya, menatap ponselnya ragu—mengirim pesan pada Sasuke atau tidak. Beberapa detik kemudian, pemuda berparas ayu ini menggeleng, membuang pikirannya untuk menghubungi—mantan—kekasihnya.
"Aku rasa kau sedang ada masalah, betul kan, Naruto-kun?" Naruto tersentak. Dengan refleks pemuda pirang ini menatap Kurenai yang berdiri di sampingnya. Wanita cantik bersurai hitam itu menaruh nampan di meja Naruto. "Mau berbagi denganku?"
Mata sapphire jernih milik Naruto memperhatikan gerakan Kurenai yang kini mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Naruto terdiam. Matanya beralih pada nampan dengan makanan di atas meja. "Aku tidak pesan ini, Kurenai-san."
"Cokelat panas sesuai pesananmu," Kurenai berujar dengan nada lembut. "Aku pikir brownies juga dapat sedikit menghilangkan stress. Cokelat baik untuk menenangkan pikiran, Naruto-kun."
Naruto menatap Kurenai lirih, "Kau—terlalu baik padaku, Kurenai-san." Lagi-lagi, memaksakan tersenyum. "Aku baik-baik saja."
"Aku telah hidup lebih lama darimu, Naruto-kun." Kurenai bertopang dagu. "Matamu tidak dapat berbohong—dan tentu saja penampilanmu." Naruto tersentak melihat pandangan mata Kurenai. "Pakaianmu benar-benar menarik perhatian—yah, baju kebesaran yang kau kenakan ini."
Naruto meneguk liurnya gugup. Yah, Naruto telah mengundang perhatian dengan mengenakan pakaian Menma yang kebesaran. "Ku-Kurenai-san, ini tidak—"
"Dengan kekasihmu kah?" tubuh Naruto menegang saat Kurenai memotong ucapannya. "Ada masalah dengan kekasihmu, Naruto-kun?" Ya, Kurenai memang tahu jika Naruto memiliki kekasih, itulah alasannya mengapa ia menjadi langganan di kedai Kurenai. Dan lagi, wanita cantik itu tahu jika kekasih—tepatnya mantan kekasih—Naruto adalah seorang pria. Toh, Kurenai tidak mempermasalahkannya.
Naruto merunduk. Masalah? Dari awal aku dan Sasuke memang masalah—tidak, aku adalah masalah untuk Sasuke. "Tidak. Hanya ada sedikit kesalah pahaman antara aku dan Sasuke, Kurenai-san." Kesalah pahaman apa? Naruto terkekeh. "Yah, begitu—uh, nanti juga akan selesai."
Kurenai menatap Naruto menyelidik. Bagaimanapun Kurenai tahu—sangat—jika Naruto berbohong. Kurenai memejamkan matanya, menghela nafas. Naruto bukanlah tipe orang yang membagi masalahnya dengan orang lain. Naruto selalu memendam semuanya sendiri—sejak dulu tanpa Kurenai tahu.
"Mmm.. Brownies buatan Kurenai-san memang paling enak!" Kurenai tidak sadar jika Naruto kini telah melahap brownies yang ia hidangkan. "Aku merasa sudah lebih baik. Arigatou, Kurenai-san."
Senyuman itu, Kurenai tahu senyuman pemuda beririskan sapphire indah itu bukanlah ketulusan. Tentu saja bibirnya menyunggingkan senyum, namun tidak dengan matanya. Namun ia tahu, Naruto melakukan itu agar orang-orang di dekatnya merasa senang—tidak perlu khawatir akan dirinya.
Kurenai tersenyum, "Jika begitu, maka habiskanlah." Wanita cantik itu berdiri dari duduknya. Iris rubby milik Kurenai menatap Naruto lirih dengan bibir yang menyunggingkan senyuman tipis. "Aku akan kembali ke kasir."
Naruto mengangguk mempersilahkan Kurenai kembali ke pekerjaannya. Baru dua langkah berjalan menjauhi Naruto, wanita yang menjadi istri dari Asuma itu terdiam sejenak, membuat Naruto terbingung. "Kurenai-san?"
Kurenai masih tidak memberi jawaban. Wanita cantik itu menunduk. "Naruto-kun," Iris rubbynya menatap Naruto lirih. "Jika kau mencintai seseorang dengan tulus, aku yakin, orang itu akan balas mencintaimu dengan tulus—jernih."
Naruto terdiam, menghentikan suapan brownies ke mulutnya. Kelereng sapphirenya memandangi setiap langkah Kurenai yang makin mengecil dalam jarak pandangnya. Pemuda bermarga Uzumaki ini merunduk, telapak tangannya berada di atas paha mengepal keras.
Sang emuda bersurai pirang menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan tetesan bening yang menggenang di pelupuk matanya agar tidak trun mem basahi wajahnya. Naruto mendongkakkan wajahnya, menatap kosong lurus kedepan.
Sasuke mencintai Naruto? Bodoh.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Forbidden Love © Haraguroi Yukirin
PERINGATAN:Fanfic ini berunsur Boys Love a.k.a Shonen-Ai. Dengan latar Alternative Universe, lill' bit Out of Character disesuaikan dengan kebutuhan fanfiksi, etc.
Please, If You Don't Like, Don't Read it!
.
.
.
Forbidden Love
What's love?
And how do I get love?
Sweet but hurt, isn't it?
I know my feeling is a forbidden love
But I can't move away from you
It's because you show me this sweet feeling
This Love that I've never felt before
.
.
Apartement. Naruto mematung di depan pintu apartement yang kini tertutup rapat, tidak seperti kemarin yang terbuka sedikit. Naruto tersenyum miris. Sasuke memang tidak membutuhkannya lagi kini, pemuda tampan dengan kelereng onyx yang Naruto cintai itu sudah bisa mengatur hidupnya lagi. Iya, kah?
Naruto tahu sandinya—sandi untuk membuka pintu apartement milik Sasuke. Pikiran lainnya berkata, mungkin saja Sasuke telah mengganti sandi apartement miliknya sehingga Naruto tidak bisa seenaknya masuk seperti dulu.
Pemuda pirang itu mendengus. Naruto juga tahu diri. Sasuke tidak menginginkannya lagi, Naruto hanya orang asing kini bagi Sasuke—itulah yang dipikirkan Naruto. Naruto meletekan paper bag di depan pintu apartement milik Sasuke—paper bag berisikan sarapan pagi yang selalu Naruto bawakan tiap pagi ketika ia menjadi kekasih Sasuke. Ini adalah terakhir kalinya Naruto membawakan sarapan untuk Sasuke, setelah itu Naruto berjanji pada dirinya sendiri jika pemuda pirang itu akan menghentikan kebiasaannya ini.
Telapak tangannya ia bawa untuk menyentuh pintu apartement Sasuke, mengusap tangannya dengan lembut pada daun pintu yang terasa dingin. Naruto mendekatkan wajahnya, membuat dahinya tersandar pada daun pintu kemudian ia berbisik lirih, "Jangan lupa sarapanmu, Sasuke."
Ia menjauhkan tubuhnya, menghela napas berat seolah berusaha mengeluarkan sesak pada dadanya. Naruto terkekeh pelan, menertawai dirinya yang terlihat lemah begini. Bagaimana bisa ia melupakan Sasuke sementara ia masih membawakan pria itu sarapan seperti dulu?
Karena semuanya tidak akan seperti dulu kembali.
Sasuke menatap dirinya pada pantulan cermin. Sekali lagi ia membenarkan vest yang dikenakannya. Tangannya mengambil botol parfum dan menyemprotkannya pada leher dan sedikit pada tubuhnya.
Ia tersenyum melihat dirinya. Hatinya terus merapelkan doa dan berharap hari ini berjalan dengan baik. Sasuke menganggap hari ini adalah hari yang baru, di mana ia telah mengakhiri segala kesalahannya dan akan memulai jalan yang menurutnya benar.
Ia mengambil kunci mobil dan bergegas keluar dari kamar. Ketika ia berjalan melewati ruang makan ia berhenti sejenak untuk menatap meja makannya yang kosong, tidak seperti biasanya—tidak seperti lima bulan belakangan di mana sarapan selalu terhidang untuk Sasuke.
Jangan lupa sarapanmu, Sasuke.
Sasuke mendengus geli. Ia menggelengkan kepalanya dan mengabaikan rasa sakit yang menyerang ulu hatinya. Ia kembali berjalan keluar dari tempat tinggalnya. Ia tidak bisa terus mengingat-ingat hal yang menurutnya salah.
Atau ia belum bisa melupakannya.
Sasuke mengernyit ketika ia membuka pintu ada sebuah paper bag di depan pintunya. Sasuke mengangkat paper bag itu dan mengintip apa yang ada di dalamnya.
"Si bodoh itu." Sasuke menggeram ketika ia melihat ada sarapan yang terbungkus dengan rapi, seperti yang selalu Naruto bawakan untuknya. Rasanya ia sudah memberitahu Naruto jika semuanya telah berakhir. Ia tidak tahu sebebal apa Naruto hingga masih datang ke apartement miliknya.
Sasuke mendengus kesal dan berniat meninggalkan kembali paper bag itu di depan pintunya, biarlah nanti Office Boy yang membuangnya.
Namun tidak, ia tidak membuangnya. Ia membawa paper bag itu bersamanya dan melangkah meninggalkan apartementnya.
Tentu selama menyetir mobil Sasuke tidak ada hentinya menggerutu kesal. Namun ketika ia turun dari mobil tapat di depan afe dengan membawa dua paper bag di tangannya, raut wajah kesal itu mengendur dan menampilkan senyuman tipis.
Sasuke dengan langkah mantap berjalan ke depan kafe itu, membiarkan pelayan membukakan pintu dan membiarkan Sasuke berdiri di ambang pintu sejenak untuk memandangi desain indah dan minimalis dari kafe yang tidak asing baginya, juga mencari seseorang yang menunggunya.
Sasuke menghela nafas lega ketika melihat seseorang yang ia kenali duduk pada kursi yang tidak jauh dari jendela besar. Ia dengan langkah besar berjalan mendekati meja itu. Saat ia sampai di sana, Sasuke tidak langsung menyapa orang itu, melainkan menatap orang itu yang sedang bertopang dagu dan menatap keluar jendela, memainkan suraiannya dan membiarkan biasan matahari menerpanya.
"Sakura."
Gadis itu menoleh ketika seseorang menyebut namanya. Ia tersenyum cantik dengan mata yang terpejam anggun. "Sasuke-kun!"
Sasuke tersenyum lembut. Ia menarik kursi di hadapan Sakura dan mendudukkan diri, dua paper bag yang ia bawa ia taruh begitu saja di atas meja. "Maaf aku sedikit terlambat."
Gadis itu menggeleng lembut, suraian merah muda yang indah menari mengikuti gerakannya. "Tidak, tidak masalah." Sakura menyandarkan tubuhnya. "Ini 'kan pertemuan pertama kita sejak sekian lama. Santai saja, Sasuke-kun."
Sasuke tidak menjawab itu. Ia lebih memilih membawa tangan kanan Sakura yang berada di meja, menangkupnya dan mengecup singkat tangan itu. "Kau masih sama seperti dulu, Sakura."
Sakura terkekeh anggun. Dengan lembut ia menarik tangannya dari genggaman Sasuke kemudian memukulnya pelan. "Kau juga sama, Sasuke-kun." Sakura menghentikan tawanya. "Aku tidak tahu sudah berapa banyak gadis yang jatuh dengan gombalan Uchiha Sasuke."
Tidak ada, tentu saja. Karena selama ini hanya Haruno Sakura, gadis yang telah berubah menjadi wanita anggun nan mempesona yang selalu menawan hatinya. Bertahun-tahun tidak bertemu dengan Sakura tentu tidak menghapus perasaan Sasuke pada wanita itu.
Sakura adalah cinta pertamanya.
Dengan lembut Sasuke menatap Sakura yang menceritakan perihal kehidupannya kini. Sakura yang menyadari Sasuke terus menatapnya menghentikan ucapannya dan menatap Sasuke meminta maaf. "Ah, maaf, Sasuke-kun. Aku terlalu cerewet ya?"
Sasuke menggeleng, "Tidak. Tentu tidak, lagipula bukan masalah." Sasuke menunjuk kearah dua paper bag yang berada di meja. "Aku membawakan sarapanku ke sini, dan juga hadiah untukmu." Sasuke tersenyum. "Kau masih suka dengan macaroons 'kan?"
"Tentu saja!" Sakura menepuk tangannya dengan senyuman gembira. "Tapi—kau tidak sarapan? Bodohnya aku langsung bicara tanpa pesan makanan terlebih dulu!"
"Salahku." Sasuke menghela nafas. "Aku terlalu senang ingin bertemu denganmu sampai melewatkan sarapanku." Ia bisa melihat Sakura yang membulatkan matanya. "Sebaiknya kita pesan makanan, Sakura."
Sasuke merasa ini merupakan awal yang baik untuk mereka berdua.
Jika Naruto tidak salah ingat, di sinilah tempat tinggal pemuda yang menyelamatkannya di tengah badai salju. Rumah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, hanya berbeda blok saja. Naruto mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Mungkin aku terlalu pagi? Naruto menggeleng ketika pikiran itu melintas. Sudah jam sebelas, tentu saja ini tidak terhitung pagi. Walaupun cuaca di musim dingin yang sangat bersahabat untuk bermalas-malasan.
Naruto sekali lagi mengetuk pintu, kali ini dengan lebih keras. "Permisi!" Ia terus mengetuk dengan diiringi teriakan agar pemilik rumah lekas keluar. "Permisi!"
"Agh! Iya tunggu sebentar!" Ia mendengar raungan kesal dari dalam rumah, hal itu membuat Naruto terkekeh. Pintu itu terbuka, menampakkan pemuda dengan kaus dan sweatpant menggaruk kepalanya dengan kesal. "Ada ap—" Pemuda itu mengerjap. "Naruto!"
"Maaf, aku mengganggumu, Menma!" Naruto dengan segera membungkukkan tubuhnya. Ketika ia menegakkan kembali tubuhnya, ia menatap Menma dengan alis yang bertaut dan mata memancarkan permohonan maaf. "Sebaiknya aku kembali nanti—"
"Tunggu—tidak!" Menma langsung memegang pergelangan tangan Naruto, tidak membiarkan pemuda pirang itu pergi. Naruto mengerjap menatap tangan Menma, membuat sang raven dengan salah tingkah menarik kembali tangannya. "Ma-maksudku, kau tidak mengganggu tentu saja."
Naruto terdiam sesaat. Ia menatap Menma yang menepuk-nepuk tengkuknya dengan canggung. Naruto tersenyum lembut. "Syukurlah." Ia menghela nafas lega. "Oh, aku ke sini untuk mengembalikan ini." Naruto mengangkat paper bag di tangan kirinya.
Menma mengernyit, "Apa itu?"
Naruto ikut mengernyit diiringi bibirnya yang sedikit maju. "Tentu saja ini pakaian yang aku pinjam darimu." Naruto menyerahkan paper bag itu pada Menma. Ia kembali membungkukkan tubuh. "Sudah aku cuci, sekali lagi terimakasih banyak, Menma."
"Tidak perlu berterimakasih padaku." Ketika Naruto menegakkan kembali tubuhnya, ia disambut dengan senyum hangat dari Menma. "Apa salahnya membantu? Aku saja tidak merasa keberatan." Menma tersenyum, amat lebar.
Naruto memejamkan matanya dan menghela nafas pelan. "Jika kau tidak keberatan," Naruto tersenyum lembut pada Menma. "Aku ingin mengajakmu makan siang sebagai rasa terimakasihku padamu."
Menma mematung. Tubuhnya serasa melemas, paper bag yang ia terima dari Naruto jatuh. "Huh?"
Pemuda pirang itu membulatkan matanya, menatap Menma dengan khawatir. Mungkin saja Menma tidak suka dengan ajakan Naruto, pemikiran negatifnya mulai bicara. "Menma?" Ia memanggil nama pemuda itu. "Jika kau tidak bisa—"
"AKU MAU!" Menma memegang pundak Naruto dengan erat. "Sekarang?"
Naruto mengangguk canggung. "Ya, sekarang."
"Be-beri aku waktu lima belas—tidak sepuluh menit!" Menma dengan kasar mengambil paper bag yang terjatuh, ia berlari dengan tergesa ke dalam. "Tidak lima menit saja! Kau tunggu di dalam, Naruto!"
Bahkan sang pemuda bersurai pirang itu mendengar teriakan Menma yang menggema. Naruto mengerjapkan matanya dan berusaha menghubungkan kembali pemikirannya tentang kejadian barusan. Naruto terkekeh geli dan menggelengkan kepala. Dalam benaknya bertanya-tanya mengapa Menma harus terburu-buru seperti itu.
Tentu saja Naruto mendengar teriakan Menma yang menyuruhnya menunggu di dalam. Namun saat ia ingin masuk ke dalam, Menma terlebih dahulu berada di depannya dengan napas terengah dan wajah yang mengkilap karena keringat. "Aku siap!"
"Menma," Naruto meneguk ludah melihat Menma yang terlihat sangat kelelahan. "Aku pikir kau tidak perlu terburu-buru. Aku akan menunggumu—"
"Sekarang aku sudah siap. Ayo makan siang." Menma tertawa tanpa beban, mengabaikan suaranya yang tertutup dengan engahan nafasnya. Ia menarik tangan Naruto ke luar dari rumahnya, mengunci pintu rumah dan berjalan sambil menggandeng tangan Naruto.
"Ouch—Menma pelan-pelan jalannya." Naruto protes ketika ia kesulitan berjalan disaat Menma menariknya dan salju menghambat jalannya. "Saljunya bisa masuk ke dalam sepatuku."
Di tengah hawa dingin pada siang hari, Naruto berjalan di belakang Menma dengan tangan yang tergandeng dengan pemuda raven itu. Ia melihat punggung Menma yang terbalut dengan coat berwarna marun, bergetar karena tawa yang keluar dari Menma.
"Aku hanya tidak sabar untuk makan siang bersamamu, Naruto."
Mereka sampai di kedai milik Kurenai dan Asuma. Di tengah perjalanan, mereka saling bertanya tentang di mana tempat yang akan mereka habiskan di waktu makan siang. Hingga akhirnya Naruto memutuskan untuk membawa Menma ke sini karena pemuda itu membiarkan Naruto yang memilih.
"Aku sering ke sini." Naruto berjalan di depan Menma dengan senyum di bibirnya yang masih terpatri. Pemuda pirang itu membuka pintu. "Pemiliknya sangat ramah dan makanannya enak. Kau pasti tidak akan menyesal."
Naruto berjalan ke meja kasir. Ia tersenyum ketika melihat Kurenai berada di sana sambil mencatat pesanan gadis yang antri di depannya.
"Kurenai-san." Pemuda bersurai pirang itu memanggil dengan nada halus.
Kurenai berdiri dari duduknya, wanita berkepala tiga itu tersenyum hangat menyambut Naruto. "Ah, Naruto-kun! Jarang sekali aku melihatmu ke sini di siang hari." Wanita itu mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Naruto lembut. "Kau sarapan di sini tadi. Jadi aku pikir—"
Mata sapphire itu meredup, bibirnya terbuka sedikit bergetar. "Aku mau mentraktir temanku makan siang di sini." Ia sedikit melangkah ke samping, membuat Menma terlihat oleh Kurenai. "Ini temanku, namanya Menma."
"Salam kenal." Dengan sopan Menma membungkukkan tubuhnya untuk menyapa Kurenai. "Mohon bantuannya, uh, Kurenai-san?"
Kurenai tertawa, punggung tangannya ia bawa untuk menutupi mulutnya. "Kau sungguh sopan sekali." Puji wanita itu. "Kau boleh memanggilku seperti itu juga, Menma-kun. Teman Naruto adalah bagian dari kami juga."
Menma tersenyum lega ketika tidak ada kejadian canggung di antara mereka. "Terima kasih, Kurenai-san."
Mata pemuda pirang itu melembut menatap Kurenai dan Menma yang saling bercakap ringan. Hingga mereka berdua menatap Naruto dengan senyum lembut. "Jadi, Naruto-kun, apa yang kau mau untuk makan siang?"
"Hmm, cuacanya dingin sekali. Aku ingin yang hangat." Jari Naruto menyusuri menu yang terpampang pada meja kasir. "Satu zuppa soup rasanya cocok. Juga banana cinnamon roll dan cokelat hangat buatan Kurenai-san sangat cocok."
Kurenai terkekeh sambil mencatat pesanan Naruto. "Wow, rasa dingin membuatmu lapar, ya? Sangat bagus." Naruto dan Menma ikut tertawa. "Lalu bagaimana denganmu, Menma-kun?"
"Aku," Menma melangkah, matanya menusuri menu dan mencari apa yang dia inginkan. "Aku tidak ada ide. Sepertinya semua enak, tapi aku tidak mungkin makan semua."
"Aku tidak akan membiarkanmu makan semua dalam menu karena aku yang membayarnya." Naruto memukul bahu Menma diiringi raut wajah kesal yang dibuat-buat.
Menma menjulurkan lidah mengejek Naruto, "Justru karena kau yang membayarnya."
Mereka berdua akhirnya berdebat kecil, Kurenai menggelengkan kepala geli melihat dua pemuda itu. Beruntung tidak ada yang mengantri di belakang mereka, jadi wanita beriris rubby itu membiarkannya.
"Tapi serius," Menma menghela nafas. "Aku bingung apa yang harus aku makan." Ia menatap Naruto dengan senyum tipis. "Bagaimana kalau kau yang pilihkan untukku?"
Naruto mengangkat sebelah alisnya. Ia tersenyum dengan jenaka. "Kau sudah aku traktir, sekarang minta aku pilihkan." Naruto terkekeh. "Jangan menyesal ya dengan apa yang aku pesankan untukmu."
Menma menggeleng singkat, "Tidak akan."
"Hmm, coba kita lihat." Naruto kembali melihat kearah menu, menunjuk-nunjuk apa yang sekiranya cocok untuk Menma. "Bagaimana dengan mushroom risoto?"
Menma mendekat pada Naruto, tubuh bagian belakan pemuda pirang itu bersentuhan dengan dada Menma. "Hmm," Ia menunduk melihat ke arah yang Naruto tunjuk. "Baiklah, tidak masalah."
Naruto melirik ke arah Menma. Betapa terkejutnya ia melihat Menma yang sangat dekat dengan dirinya. "Menma, kau terlalu dekat denganku." Naruto mendorong pelan Menma dengan sikunya, membuat pemuda raven itu berpura-pura mengerang kesakitan.
"Aww, Naruto, sikumu." Menma tertawa ketika melihat mata Naruto memicing, bibir itu dimajukan, membuat pemuda pirang itu terlihat lebih manis di mata Menma. Ia menjauhkan tubuhnya dari Naruto dan menatap Kurenai. "Kurenai-san, aku mau mushroom risoto dan black tea."
Kurenai menutupi wajahnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegangi perutnya yang sakit akibat menahan tawa. "Uhm, maaf." Ia berdehem. "Baiklah, mushroom risoto dan black tea untuk Menma-kun." Kurenai tersenyum menggoda. "Silahkan duduk dan menunggu, lovebirds."
"Kurenai-san!"
Naruto mengajak Menma untuk duduk di tempat Naruto biasa menunggu Kurenai mengantar pesanannya. Mereka duduk saling berhadapan. Sang pemuda pirang melepas coat dan sarung tangan yang ia kenakan, kemudian menopang dagunya degan tangan dan melihat jendela yang ditutupi embun hawa dingin.
Menma terdiam, mulutnya terkatup tanpa berniat membuka percakapan. Matanya tidak lepas dari figur pemuda pirang yang sangat menawan di matanya. Bola mata yang memancarkan kejujuran, hidung bangirnya yang memerah karena terkecup hawa dingin.
Mereka tersentak ketika suara mengusik pendengaran mereka. Dua pasang bola mata sapphire menatap Kurenai yang menaruh pesanan di meja, bibir merah tersenyum lembut kepada mereka. "Maaf menunggu lama. Silahkan menikmati selagi hangat."
Naruto menatap makanannya dengan penuh binar. "Terimakasih, Kurenai-san!" Ia mengatupkan tangan dan tertawa lebar melihat wanita itu. "Aku pasti habiskan tanpa sisa."
"Bagus kalau begitu, Naruto-kun." Tangan putih itu terjulur menepuk pelan pundak Naruto. Bibirnya menyunggingkan senyuman sendu, seolah ia tahu apa yang Naruto rasakan kala ini. "Makanlah yang banyak, kau juga harus menjaga kesehatanmu."
Menma melihatnya. Ketika iris rubby menyendu menatap pemuda di hadapannya, juga ia melihat ketika bola mata sapphire jenaka milik Naruto meredup. Menma menarik napas dalam, berusaha menahan untuk tidak memeluk pemuda di hadapannya.
Setelah itu Kurenai pergi, dengan tidak berkata sepatah kata lagi meninggalkan Menma dan Naruto dalam keheningan yang menusuk, sama seperti hawa dingin di luar sana.
"Jadi," Menma berusaha membuka percakapan. Pemuda itu melepas sarung tangannya dan menaruhnya di meja. "Kau sering ke sini? Kurenai-san dekat sekali denganmu." Komentarnya. "Dia wanita yang baik."
Naruto terkekeh lesu. Tangannya membawa cangkir cokelat panas dan membiarkan tangannya mengatup pada cangkir, membuat tubuhnya lebih hangat. "Tentu saja, Kurenai-san dan Asuma-san benar-benar orang yang baik." Naruto menggigit dalam mulutnya. "Biasanya aku membeli sarapan di sini dan—" Naruto terdiam. Alisnya bertaut, matanya menerawang sedih ketika ingatan tentang Sasuke kembali memukul dirinya. "—dan, uh, begitu."
Begitu.
Begitu cara ia mencurahkan perhatiannya untuk Sasuke, memberikan hatinya untuk pemuda yang ia cintai dan ia ingin Sasuke tahu bahwa dialah yang paling menyayangi Sasuke.
Namun sepertinya itu tidak cukup. Naruto selamanya tidak dapat membuat Sasuke bahagia.
"Naruto, kau baik-baik saja?"
Naruto mengerjap beberapa kali, mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia tersenyum pada Menma, senyum yang terlihat jelas memancarkan kesenduan. "Um, tidak apa." Ia menggeleng. "Ayo habiskan makanan kita. Setelah ini, aku ingin berjalan-jalan denganmu."
Menma terdiam, tidak berniat membalas ucapan pemuda yang telah kembali melahap makan siangnya. Ia membiarkan rasa penasaran terus melekat padanya.
Semakin Menma melihat pada Naruto, semakin Menma menyadari jika banyak sekali yang tersembunyi di balik senyum yang selalu pemuda itu sunggingkan. Mata biru itu seakan tertutupi sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapapun.
Menma menatap Naruto yang berjalan di sampingnya dengan senandung kecil yang keluar dari mulut terkatup itu. Sesekali Naruto menjulurkan lidah untuk merasakan butiran salju yang turun. Menma menggeleng melihatnya.
"Kau tahu ciri-ciri orang bodoh itu apa?" Menma masih memperhatikan pemuda itu ketika melontarkan pertanyaan. Pemuda pirang itu hanya bergumam penasaran tanpa melihat pada Menma. "Ialah yang tidak menggunakan syal ketika musim dingin dan salju turun dari langit kelabu."
Paham dengan apa yang dikatakan oleh pemuda raven di sampingnya, Naruto langsung mengernyit dan menatap Menma dengan wajah—seolah—marah. "Maksudmu aku bodoh?" ia melemparkan pertanyaan. "Lagipula, kenapa bahasamu sangat melankolis sekali?"
Sungguh, Menma merasakan jika semua yang pemuda itu pancarkan adalah sebuah kebohongan. Menma menggeleng, aku ingin membuatnya terlepas dari sesuatu yang menutupi sinar bahagianya. "Tidak semelankolis wajahmu, Naruto."
Untuk sesat Naruto hanya diam memandang wajah tampan Menma yang menatapnya dengan seutas senyum yang sulit ia artikan. Dengan tanpa kata, Menma mengulurkan tangannya yang terbalut oleh sarung tangan dan menyentuh pipi dingin Naruto.
"Tunggu di sini ya!" Suruhnya dengan cengiran lebar. Pemuda itu berbalik dan melambai pada Naruto. "Aku ingin membelikanmu sesuatu. Jadi tunggu, jangan pergi!"
Naruto terdiam melihat pemuda itu berlari di tengah jalan yang tertutupi salju semakin menjauhi dirinya. Ia mengatupkan tangannya, hembusan napas lembut keluar dari bibirnya. Bukankah pemuda bernama Menma itu sangat baik?
"Sepertinya aku pulang di musim yang salah." Sakura tersenyum, wajahnya menunduk melihat jejak kakinya pada jalan yang tertutupi salju. "Harusnya aku pulang ketika musim panas tiba. Jadi aku bisa menikmati kepulanganku."
Sasuke semakin erat menggandeng tangan wanita itu, memastikan agar Sakura tidak tergelincir dengan langkahnya. Ia menatap pujaan hatinya itu. Cantik. Di matanya Sakura sangatlah cantik dengan senyum menghangatkan.
Senyum menghangatkan, eh?
"Aku merasa, semakin cepat kau pulang maka semakin cepat aku bertemu denganmu." Ketika Sakura memandang ke arahnya, Sasuke menyunggingkan senyum tipis. "Aku sama sekali tidak masalah kau pulang di musim dingin.. atau panas, terserah. Asal aku bisa bertemu denganmu."
Sakura terkekeh dengan lembut, ia memiringkan kepalanya dan tersenyum malu. "Sasuke-kun memang pintar sekali merayu." Wanita itu menggeleng. "Bicara soal musim panas, aku pernah bertemu dengan seseorang yang hangat."
Sasuke membeku. Ia tidak mengerti mengapa angin musim dingin seolah menusuk ke dalam rongga dadanya.
Sakura tersenyum, lebih lebar, dengan mata emerald cantik yang berbinar. "Dia benar-benar hangat, juga sangat ceria sehingga membuat semua orang suka berada di dekatnya."
Sasuke sungguh yakin ia tidak ingin mendengar Sakura meneruskan kata-katanya. Namun dalam diam, ia memperhatikan Sakura yang tersenyum dengan manis, matanya terpejam mengikuti senyumannya.
"Orang itu, aku sungguh menyukainya hingga saat ini."
Ketika Menma kembali dengan menjinjing sebuah paper bag di tangan kirinya juga wajahnya yang dihiasi senyuman lebar membuat Naruto menampakkan wajah khawatir—pemuda itu berlari di tengah hujan salju, bersyukur tidak terjadi apa-apa padanya.
"Kau ini berlari di tengah hujan salju," Naruto menggerutu, mengeluarkan rasa tidak suka akan tindakan Menma yang membuatnya khawatir. "Jika saja kau terpeleset lalu tertimbun salju bagaimana?"
Menma tersenyum meminta maaf, ia menepuk tengkuknya gugup. "Maaf ya, Naruto." Ia langsung mengubah raut wajahnya menjadi lembut. "Aku tidak ingin kau menunggu terlalu lama, jadi.. yah, aku berlari?"
Lagi, untuk kesekian kalinya pemuda pirang itu terpaku dengan tindakan Menma. Rasa khawatir dan kesalnya menguap begitu saja ketika satu kalimat sederhana keluar dari bibir Menma sebagai jawaban atas rasa khawatir Naruto.
Pemuda dengan surai raven itu mengeluarkan sesuatu dalam paper bag yang ia jinjing. Sebuah syal rajut berwana biru pucat, terlihat sangat hangat.
Orang bodoh ialah yang tidak menggunakan syal ketika musim dingin dan salju turun dari langit kelabu.
Manik safir Naruto membulat ketika ucapan Menma kembali terngiang dalam telinganya. Menma tersenyum, ia mengalungkan syal itu pada leher Naruto, sebuah gestur kecil yang mampu membuat Naruto merasa begitu disayangi.
Menma berlari bodoh hanya untuk membeli syal agar bisa Naruto gunakan.
"Nah, aku rasa warnanya cocok denganmu." Menma tersenyum dengan bangga sambil mengacungkan jempolnya. "Aku harap kau memakainya saat musim dingin seperti ini. Pikirkan kesehatanmu, jangan sampai tidak sadarkan diri kembali di tengah badai salju."
Bibir pucat Naruto bergetar, bukan karena merasakan hawa dingin yang menusuk sejak tadi. Naruto menggenggam syal pemberian Menma, ia menutupi setengah wajahnya dengan syal hangat itu.
Ia merasa begitu hangat, ketika seseorang memberinya perhatian lebih—itulah yang membuat dirinya bergetar. Ah, ini untuk pertama kalinya ada yang mementingkan diriku.
Naruto memejamkan matanya, dengan gumaman kecil ia berterimakasih pada pemuda di hadapannya.
Namikaze Menma.
"Namanya Namikaze Menma."
Sasuke mengingat senyum menawan Sakura ketika menyebut nama itu. Nama dari pemuda yang membuat pujaan hatinya jatuh cinta. Pemuda hangat yang lebih dulu menarik perhatian Sakura yang ia kasihi.
Pemuda yang saat ini sedang tersenyum dan menyentuh pipi pemuda pirang yang ia kenali. Pemuda bersurai pirang yang ia campakkan karena hubungan mereka adalah sebuah kesalahan.
Uzumaki Naruto.
Firstly, saya mau ngucapin, Happy SasuNaru Day 2017!
Merayakan SN Day jadi saya publish cerita ini dikarenakan Perfect Nanny Candidate selesai, maka story ini yang akan saya teruskan sampai tamat, karena ternyata saya banyak hutang *cry*
SasuNaru Day tahun ini, semoga para Kizuna masih tetap setia dengan otp satu ini dan semoga masih banyak yang cinta SasuNaru karena saya gak bisa lepas dari pair ini.
Saya juga mau ucapkan banyak terimakasih karena banyak respon positif, terimakasih sudah review, fav/follow. Saya benar-benar terharu, kelewat senang haha.
Once again, happy SasuNaru Day!
With love,
Harayuki
