Memangnya apa yang lebih indah dari di cintai?
Naruto © Masashi Kishimoto
Forbidden Love © Haraguroi Yukirin
PERINGATAN:Fanfic ini berunsur Boys Love a.k.a Shonen-Ai. Dengan latar Alternative Universe, Out of Character disesuaikan dengan kebutuhan fanfiksi, etc.
Please, If You Don't Like, Don't Read it!
Forbidden Love
What's love?
And how do I get love?
Sweet but hurt, isn't it?
I know my feeling is a forbidden love
But I can't move away from you
It's because you show me this sweet feeling
This Love that I've never felt before
Naruto tidak tahu apa yang terus membuat bibirnya menyunggingkan senyum di balik syal pemberian Menma. Senyum yang tidak hilang sejak Menma melambaikan tangan untuk berpisah di persimpangan jalan tadi.
Mungkin karena ia diberikan sesuatu oleh seseorang? Atau mungkin karena Menma orang yang sangat hangat, begitu perhatian. Sederhana namun segala hal yang baik berpusat pada orang itu.
Karena ia percaya Menma adalah orang yang baik—dari beberapa orang yang baik padanya.
Rasanya menerima kebaikan dari orang lain merupakan sesuatu yang sangat berharga baginya. Memang bukan berarti jika ia mengharapkan pembalasan akan segala sikap baiknya selama ini. Hanya saja, kebaikan yang diterimanya terasa hangat.
Naruto mendongkakkan wajah, menatap langit yang menggelap sempurna dengan hiasan semburat awan kelabu. Butir salju yang turun mengenai pipinya, menciptakan bulir air yang mengalir lembut melewati pipi dengan garis menarik itu.
Sasuke, sudahkah ia berjumpa dengan Sakura?
Pada nyatanya hingga saat ini ia masih mengingat pria itu kembali di saat seharusnya ia melupakan Sasuke.
Langkahnya terasa begitu berat walau ia berjalan menuju tempat tinggalnya. Tumpukkan salju menghalangi setiap langkahnya, rasa dingin mulai menjalari kakinya. Satu nama terlintas dalam benaknya dan membuat langkahnya semakin berat, dadanya terasa sesak.
Sudah jelas Sasuke tidak mencintainya—dulu mungkin iya—atau tidak pernah sama sekali. Naruto bahkan tidak tahu. Namun entah mengapa, melupakan seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya dari keputus asaan ternyata merupakan hal yang berat.
Jika saja, mungkin, Sasuke mencintainya, Naruto akan memberikan seluruh yang ia punya pada pemuda bermata gelap itu.
Naruto terpaku di hadapan tangga flat sederhana yang ia sewa. Matanya menatap nanar sosok yang berdiri di sana, bibirnya bergetar mengucap satu nama yang sejak tadi menguasai pikirannya.
"Sasuke?"
Pria itu berbalik. Tangannya ia sembunyikan pada kantong coat yang di pakainya. Raut wajahnya sangat keras, matanya memicing—menatap Naruto dengan benci.
Entah apa yang membuat pria itu membenci Naruto, bahkan Naruto sangat ingin tahu alasan dari pandangan mata itu.
"Aku benci harus melihatmu kembali." Ketus Sasuke dengan dingin. Bahkan pria itu berusaha tidak mempedulikan perasaan apa yang tertulis di wajah pemuda bersurai pirang di hadapannya. "Tapi aku harus bicara denganmu."
Naruto mengangguk kecil, mungkin Sasuke tidak dapat melihatnya. Ia berusaha mengumpulkan suaranya, meredam suaranya agar tidak bergetar. "Apa yang—mau bicarakan di dalam?"
"Tidak perlu." Jawaban langsung itu membuat Naruto terdiam, hanya menunggu Sasuke kembali menyelesaikan pembicaraan di antara mereka.
Naruto tidak ingin Sasuke semakin membencinya.
"Aku sudah bertemu dengan Sakura, juga telah beberapa kali mengobrol dengannya." Begitukah, Sasuke? Naruto menggigit bibirnya yang terhalangi syal pemberian Menma. "Dan ia mengatakan sesuatu padaku yang berhubungan denganmu."
Naruto terpaku mendengar ucapan itu. Ia tidak bisa mengingat kapan ia pernah bertemu dengan Sakura sehingga ada hal yang berhubungan dengan dirinya terkait dengan Sakura. Hanya Naruto yang tahu tentang Sakura, cinta pertama dari Sasuke—pria yang ia cintai—yang tidak akan pernah terhapus.
"Aku tidak pernah bertemu dengan Sakura." Jawabnya seolah ia tahu arah pembicaraan Sasuke. "Jadi aku tidak yakin jika Sakura mengenalku."
Sasuke berdecih kesal. Alisnya bertaut, menampakkan mimik marah. "Sore ini di taman, pria yang mengalungkan syal itu—" Sasuke mendengus. "—padamu. Namikaze Menma. Dia adalah pria yang Sakura sukai."
Sasuke mengatakannya, dengan lantang dan tergesa. Diiringi dengusan sebal di akhir kalimat. Mengucapkannya benar-benar membuat Sasuke muak. Ia tidak ingin melihat Naruto, namun ia harus melakukan ini agar Sakura tidak tersakiti hatinya.
Karena sebuah hal menjijikkan.
Naruto terdiam. Ucapan Sasuke, dengusan Sasuke, napasnya yang menggebu, semua Naruto dengarkan dan perhatikan dengan baik. Bahkan dinginnya malam ini akan kalah dingin dengan tatapan benci Sasuke yang membuat Naruto merengis.
Rasanya sekarang ia ingin tertawa, namun semuanya berakhir dengan senyuman miris.
Haruno Sakura, wanita pujaan hati Sasuke yang membuatnya iri hati karena dicintai sebegitu besarnya oleh pria itu, ternyata menyukai Menma.
Naruto memejamkan matanya sesaat. Ketika ia membuka matanya, safir itu menatap Sasuke dengan mata sayu yang tersenyum, "Bukankah itu... sangat lucu?" Naruto menatap jauh ke dalam manik Sasuke. "Juga tidak adil?"
Sasuke menggertakan giginya karena kesal. Seolah ia dapat menangkap maksud pria di hadapannya dan tentu tidak bisa diterima olehnya.
"Ketika aku mencintaimu, namun kau memalingkan wajah karena cintamu pada Sakura yang begitu besar." Naruto mendongkak, menahan air matanya untuk turun. Ia menarik napas dalam sebelum kembali menatap Sasuke. "Di saat seluruh cintamu kau berikan untuk pujaan hatimu, ia berpaling karena ia mencintai orang lain."
Terasa getir dan menyesakkan dada. Sangat lucu dan tidak adil, namun ia akan melakukan segalanya karena ia begitu mencintai sosok yang meninggalkannya.
"Lalu," Naruto memandang Sasuke dengan tatapan lelah. "Apa yang kau inginkan Sasuke?"
Sasuke diam. Memang benar dugaannya, Naruto akan selalu mengikuti apa yang ia katakan dan apa yang ia mau. "Jauhi pria bernama Menma itu." Ucapan Sasuke terasa begitu mutlak, tidak ingin dibantah. "Aku tidak ingin melihat Sakura menangis karenamu."
Sangat lucu ketika Naruto menjaga hari Sasuke agar tidak terluka, sebaliknya pria itu menjaga perasaan seorang wanita yang cintanya bukanlah untuk Sasuke agar tidak tersakiti. Bukankah perasaan Naruto lebih dalam pada Sasuke?
Naruto mengangguk sekali, matanya terpejam kala senyum menghias di bibirnya. "Jika itu maumu, akan aku lakukan." Ia menatap Sasuke, berusaha membaca apa yang pria itu rasakan detik itu. "Aku tidak akan membuat orang yang kau sukai tersakiti, Sasuke."
Dengan itu Naruto membungkuk, berjalan meninggalkan Sasuke untuk masuk ke dalam tempat tinggalnya tanpa melihat sedikitpun ke arah Sasuke—tidak sekalipun ia melihat Sasuke saat ia terakhir mencoba membaca raut wajah pria tampan itu.
Tidak ada yang lebih indah dari mencintai 'kan, Sasuke?
Ketika wanita cantik itu berucap bahwa Menma adalah sosok yang disukai olehnya, Sasuke merasa untuk sesaat dunianya berhenti berputar. Wanita dengan senyum memikat itu terus bercerita tentang pria yang ia sukai.
Sasuke merasakannya, begitu berat melihat cintamu ternyata mencintai orang lain. Namun ia tidak dapat melampiaskan kemarahannya. Senyuman yang Sasuke sunggingkan ternyata terasa sangat berat, dan membuatnya sesak.
Ketika ia mengantar Sakura untuk pulang ke rumahnya, tanpa sengaja Sasuke melihatnya. Uzumaki Naruto dan seorang pria yang Sasuke kenal karena Sakura menunjukkan foto pemuda itu dengan senyuman menawan dan nada bahagia.
Menma.
Pria asing itu tertawa seraya mengalungkan syal di leher Naruto. Hal yang membuat Sasuke sangat terganggu dan merasa muak. Bukankah aneh pria melakukan hal itu pada pria lain?
Hal yang langsung membayang di pikiran Sasuke adalah Sakura yang menampakkan raut wajah sedih, menangis, ketika melihat seseorang yang ia cintai ternyata memiliki hubungan tabu dengan pria lain.
Walau mungkin Sasuke akan senang karena ia akan mendapatkan Sakura. Ia mencintai Sakura, wanita itu adalah segalanya untuk Sasuke. Namun melihat wanita yang ia cintai menangis pastilah lebih menyakitkan, itulah yang ia yakini. Sasuke tidak ingin wanita itu bersedih.
Jadi hal yang harus ia lakukan adalah mencegah wanita cantik bernama Sakura itu patah hati dengan cara menjauhkan Menma dari Naruto.
"Kau tahu, Sasuke-kun?" Sakura mengeratkan genggamannya pada tangan Sasuke yang sejak tadi menggenggamnya. "Kau pria yang sangat baik. Sangat mudah untuk mencintaimu."
Sasuke tersenyum getir. "Tapi kau tidak mencintaiku." Ia mengelus punggung tangan Sakura dengan ibu jarinya. "Padahal aku mencintaimu, Sakura. Sangat."
Sakura terkekeh lembut. Ia menggeleng. "Aku tahu." Lirih wanita itu. Ia tersenyum tipis. "Tapi aku bukan—tidak bisa jadi yang terbaik untukmu."
Sasuke tahu kalimat yang Sakura ucapkan hanya semata-mata untuk menghibur dirinya, tidak lebih jauh melukai Sasuke karena peolakan. Hanya karena wanita itu mencintai pria lain yang bahkan Sasuke simpulkan tidak menyukai Sakura.
Lagi, Sasuke mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura. Menatap wanita cantik di hadapannya dengan getir. Sakura hanya dapat menyuarakan maaf lewat tatapan matanya.
"Aku yakin Sasuke-kun, pasti ada yang lebih mencintaimu dibanding siapapun." Sakura tersenyum lembut, berusaha membuat Sasuke sedikit lebih tenang, "Seseorang yang melakukan segala hal untukmu—
—karena kau adalah orang yang sangat penuh cinta, Sasuke-kun."
Pikiran Sasuke saat itu juga melayang. Memang apa gunanya ada orang yang mencintai dirinya namun wanita yang ia cintai menolak perasaan yang ia berikan. Itu semua terasa tidak berguna untuk Sasuke.
Hanya saja ia tidak tahu bahwa yang dirinya rasakan sama seperti perasaan ia yang kau sakiti.
Naruto tidak mengerti mengapa mencintai bisa sesakit ini. Karena ia mencintai orang yang tidak mencintai dirinya, semuanya terasa begitu memberatkan bagi Naruto.
Ia bukan orang bodoh, ia juga bukan orang merasa senang jika disakiti. Hanya saja, entah mengapa ia selalu tidak bisa menolak apa yang Sasuke minta darinya. Semua terjadi tanpa pemikiran panjang. Ia hanya akan mengangguk setuju ketika Sasuke mengatakan atau meminta sesuatu darinya.
Ketika pria yang ia cintai meminta dirinya untuk menjauhi Menma, jika boleh jujur Naruto tidak ingin menjauhi Menma. Walau hanya sehari ia bersama dengan Menma di kala itu, ia tahu bahwa Menma adalah orang yang baik dan hangat. Menma dapat menjadi teman yang baik.
Pada esoknya, Menma di pagi hari mengetuk pintu rumahnya dan mengajaknya untuk berjalan bersamanya. Naruto dengan wajah menahan kantuk karena semalaman memikirkan cara untuk menjauhi pemuda yang ada di hadapannya kini harus berhadapan dengan Menma yang ingin ia usir saat itu juga.
Nyatanya takdir berkata lain. Naruto tetap tersenyum menyambut Menma—walau hanya senyum tipis yang lesu. Ia mempersilahkan Menma masuk dan menghidangkan beberapa cemilan dan cokelat panas untuk Menma.
"Hee." Menma menatap isi rumah Naruto. Tidak begitu besar, hanya ada ruang kecil berisi satu sofa sedang dan meja kecil tempat Menma berada sekarang. Kamar tidur yang hanya dihalangi tembok tanpa pintu sehingga Menma dapat melihat ranjang kecil tempat pemuda itu tidur. Juga dapur kecil dan kamar mandi.
"Kau tinggal sendiri, Naruto?" Manik birunya menatapi bingkai bingkai foto yang menghiasi dinding. Memang tidak banyak, namun cukup membuat Menma tersenyum melihat figur Naruto yang terpotret dalam sana.
Menma terpaku melihat satu bingkai foto yang memotret dua orang yang tersenyum terlihat sangat bahagia. Naruto di sana tersenyum lebar, membuat matanya terlihat terpejam—sangat bahagia dan menawan. Pria di samping Naruto yang terlihat terseyum tipis namun dengan pandangan mata teduh dan garis mata bahagia. Mereka saling merangkul satu sama lain.
Naruto yang Menma kenal, bukan Naruto yang seperti sekarang. Walau ia tersenyum, namun safirnya terlihat tertutup oleh sesuatu.
"Aku hanya punya ini saja." Menma tersentak dengan kehadiran Naruto yang menaruh secangkir cokelat hangat dan roti kering. "Maaf ya. Kebanyakan persediaan makananku hanya ramen instan saja."
Naruto tertawa canggung, ia mendudukkan diri di sebelah Menma yang sedari tadi hanya termenung menatap sesuatu. Ketika pandangan Menma beralih pada Naruto, pemuda itu tersenyum. "Tidak kok. Ini lebih dari cukup." Ujarnya. "Aku 'kan ke sini mau bertemu denganmu, bukan untuk meminta makananmu."
Naruto hanya mengangguk. Ia memperhatikan Menma yang mengambil cangkir itu dan menyeruput cokelat panas dengan perlahan. Jika diingat, sudah lama sekali sejak terakhir ada seseorang yang berkunjung ke kediaman kecilnya. Bahkan selama delapan bulan mengenal Sasuke dan lima bulan berhubungan dengan pemuda itu, hanya tiga kali Sasuke menginjakkan kaki di kediamannya.
"Oh iya." Naruto kembali pada kesadarannya. Menma melirik ke arahnya sambil mengambil roti kering. "Mau berjalan-jalan denganku hari ini?"
Naruto menggumam. Tentu saja ia mau. Menma adalah orang yang menyenangkan, berjalan dengan Menma sangat mengasikan karena pemuda yang baru ia kenal itu selalu bisa membuatnya tertawa.
Jika saja Sasuke tidak memintanya untuk menjauhi Menma.
Naruto ingin sekali menghiraukan apa yang Sasuke suruh padanya. Karena nyatanya hidupnya adalah miliknya, Sasuke tidak berhak menentukan apa yang harus Naruto lakukan. Jika saja cinta dan rasa terimakasih tidak selalu membayangi dirinya.
Surai pirang itu bergoyang berirama ketika Naruto menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Tapi kau harus traktir aku makan siang ya." Ia tersenyum lebar seolah tidak memikirkan apapun. Menma di sampingnya menatapnya dengan alis terangkat. "Tunggu sebentar, aku mau mengambil mantel dan syal dulu."
Untuk saat ini, biarlah ia mengidahkan perintah Sasuke. Ia ingin merasakan kesenangan itu datang menghampirinya lagi.
"Makanan kesukaanmu?"
"Ramen!"
"Wah, aku juga menyukai ramen lho, Naruto."
Mereka berdua tertawa. Sesekali kaki Naruto menendang gundukan salju yang menutupi jalan. Sejak tadi Menma terus berceloteh, memancing Naruto agar terus mengobrol dengannya. Tentu saja pemuda pirang itu selalu menanggapinya.
Rasanya sudah lama sekali Naruto bicara semenyenangkan ini dengan orang lain.
"Itulah mengapa namamu Menma?" Naruto tertawa sambil melontarkan pertanyaan itu.
Menma menepuk tangannya sekali. Seolah menyadari sesuatu, ia langsung memegang pundak Naruto untuk menahan pemuda itu. "Namamu juga Naruto." Menma terdiam sesaat untuk membuat Naruto penasaran, kemudian pemuda itu tersenyum lebar.
"Menma dan Naruto 'kan sama-sama ada dalam ramen." Menma menjentikkan jarinya. Ia menatap Naruto dengan binar mata jenaka dan senyum yang membuatnya terlihat sangat tampan. "Nama kita saling berhubungan. Mungkinkah ini sebuah takdir?"
Naruto termenung sesaat sebelum akhirnya ia secara refleks terkekeh. Tawanya semakin jelas terdengar. "Menma, kau sungguh berpikir begitu?" ia menggeleng tidak percaya. "Nama kita itu sama dengan nama makanan, apa iya bisa menjadi sebuah takdir?"
Menma menanggapinya dengan menggenggam tangan kanan Naruto yang terbalut sarung tangan. Ia mengangguk mantap ketika menatap manik biru Naruto yang memandanginya heran. "Tentu saja. Menma dan Naruto 'kan sama-sama pelengkap ramen." Menma menggoyangkan tangan mereka. "Seperti kau melengkapiku dan aku melengkapimu."
Naruto tidak tahu ingin membalasnya dengan perkataan apa. Mungkin jika diulang kembali, rayuan yang Menma lontarkan sangatlah konyol dan akan membuat siapa saja tertawa—begitu juga dengannya yang nyatanya ingin tertawa.
Namun entah mengapa, melihat senyum Menma yang mengatakan seolah pemuda itu bersungguh-sungguh mengatakannya tanpa ada maksud mengejek atau hal jelek apapun, tentu membuat Naruto tersentuh.
Seperti kau yang melengkapiku dan aku yang melengkapimu.
Naruto tersenyum tipis sehingga Menma tidak bisa melihatnya. Ia melihat Menma yang masih menatapnya dengan binar mata sama. "Rayuanmu tidak ada romantisnya sama sekali." Ujarnya diiringi mencubit lengan Menma. "Kau tidak malu menggombali seorang pria, huh?"
Menma menggumam, ia menatap ke atas seolah berpikir. Ketika ia kembali menatap Naruto, dengan mantap ia mengangkat bahunya. "Tidak sama sekali. Memang kenapa kalau yang aku gombali seorang pria? Toh, tidak ada salahnya 'kan."
Memang benar tidak salah. Namun sebagian orang mungkin memandang hal itu menjijikkan dan itu membuat Naruto sangat takut.
Namun Menma dengan mantap mengatakan hal itu, seolah menggandeng tangan Naruto dan menggodanya sama sekali bukan hal yang tabu dan menjijikkan. Semuanya terasa normal di mata Menma.
Andai saja semua orang memiliki pemikiran seperti Menma, mungkin perasaan yang Naruto miliki tidak akan dilabeli dengan kata terlarang atau menjijikkan. Di mana setiap orang dapat mencintai siapa saja yang hati mereka kehendaki tanpa takut dicibir oleh semua orang.
"Agh!"
Naruto terlonjak ketika Menma tiba-tiba menjerit. Ia menoleh pada Menma dan menatap was-was. Menma yang berdiri di sebelahnya meringis memegangi belakang kepalanya yang kotor karena salju.
"Ah! Maafkan kami!" tiga orang anak kecil berlari dengan tergesa dengan pandangan takut. Mereka berdiri di depan Menma dan Naruto. "Maafkan kami, Niisan. Kami tidak sengaja melakukannya." Ujar seorang anak dengan rasa bersalah yang besar. Mereka semua membungkuk dan tidak berani meampakkan wajah.
Menma menepuk punggung anak laki-kali itu, "Tidak masalah, aku sama sekali tidak marah." Ucapan Menma yang santai membuat anak-anak itu mendongkak. Bahkan ada dua anak yang bersembunyi di balik manusia salju dan kini menghampiri mereka.
Naruto tersenyum melihat Menma yang menepuk lembut pucuk kepala anak-anak itu. Seorang anak perempuan bahkan tersipu karena Menma yang kini bicara santai dengan mereka.
Menma adalah pusatnya, semua orang tentu menyukai pemuda ramah seperti Menma.
Naruto menggenggam segumpal salju di tangannya, ia jadikan gumpalan itu sebagai bola lalu melemparkannya pada pelipis Menma.
"Hei!" Menma kembali berteriak tidak terima. Ketika ia menoleh pada sang pelaku, ia bertemu pandang dengan Naruto yang sedang menyeringai jahil.
Rasa kesalnya menguap ketika Menma menatap wajah yang menampilkan kejahilan yang sudah lama Menma tidak lihat.
"Bagaimana kalau kita main perang bola salju?" tanpa persetujuan, Naruto kembali membuat bola salju di tangannya dan bersiap melemparkannya pada Menma. "Nah, Niisan di sana yang akan menjadi orang jahatnya."
Menma sontak panik, "Hei, jangan memutu—"
"Hore!" anak-anak itu langsung berteriak kegirangan mendengar ucapan Naruto, bahkan mereka tidak bertanya kembali pada Menma. Berlari-lari kecil membentuk sebuah formasi seolah ingin berperang. Tangan-tangan mereka sibuk membuat bola salju untuk menjadi senjata melawan musuh.
"Naruto," Menma melirih menatap Naruto yang juga menyibukkan diri membuat bola salju. Alisnya bertaut, wajahnya dibuat seolah ingin menangis. "Hei, aku akan diserang mereka lho."
Naruto mendongkak menatap pemuda itu. Ia tersenyum lebar, wajahnya terlihat tanpa beban. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Suara indahnya melantunkan tawa yang membuat Menma kembali jatuh hati.
Uzumaki Naruto yang Menma kenal, sosok hangat dengan senyum menawan. Menma ingin sekali menjaganya hingga tidak hilang kembali.
Menma tidak bisa memilikinya, untuk mendekat saja ia merasa tidak memiliki keberanian. Baginya, melihat sosok yang ia sayangi dalam diam tersenyum dengan wajah bahagia merupakan suatu semangat dalam hidupnya.
Ia terus berharap agar sosok itu tetap tersenyum bak mentari yang menghangatkan di musim semi.
Uzumaki Naruto, seorang anak yatim-piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan dan mendapat keringanan dalam bersekolah karena ia anak yang tidak memiliki orangtua.
Tidak terlalu pintar, hidup dengan menerima tatapan iba dari orang lain, juga bertahan akan belas kasihan orang lain dan kerap menjadi bahan cacian nyatanya tidak membuat Naruto menjadi pemurung.
Pemuda itu justru menonjol dengan sifatnya yang berisik dan menggebu-gebu. Tawanya selalu terdengar, semangatnya tidak pernah hilang, kebaikan hatinya dan senyumnya yang khas itu membuat Menma menujukan pandangannya pada sosok itu.
Menma ingin sekali meraih pemuda itu, ia juga ingin seperti pemuda itu. Naruto yang ia perhatikan karena rasa penasaran, kemudian rasa itu berubah menjadi tertarik, lalu mengagumi, dan pada akhirnya Menma tidak dapat menahan hatinya untuk tidak jatuh cinta pada sosok itu.
Tahun ketiga pada sekolah mereka, di mana semuanya mengucap selamat tinggal setelah upacara kelulusan. Menma melihatnya, sosok ceria itu seorang diri memeluk lututnya. Menenggelamkan wajahnya pada lutut sehingga Menma tidak tahu mimik apa yang terlukis di wajah itu.
Hanya saja bahu itu bergetar. Menma tahu itu adalah sebuah isakkan, namun kakinya tidak dapat bergerak untuk mendekati sosok itu.
Andai saja ia lebih berani mendekati Naruto saat itu, mungkin ia tidak akan kehilangan senyuman yang sangat ia suka.
Takdir menggariskan Naruto menjauh dari dirinya. Menma kembali bersekolah sesuai dengan apa yang orangtuanya inginkan. Ia berusaha lebih terbuka dan bersikap menyenangkan seperti Naruto. Bahkan setiap hal yang ia lakukan, segala tentang Naruto masih terpatri dalam benaknya.
Hal lucu ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Naruto setelah beberapa musim berlalu.
Pemuda yang berdiri di tengah badai salju dengan wajah tertutupi rasa putus asa dan kesedihan. Racauan yang membuat Menma merasakan sakit melilit hatinya. Sosok yang seolah sudah menyerah. Seolah Menma menghadap pada orang yang berbeda.
Uzumaki Naruto, ia kehilangan cahayanya.
Menma ingin mengembalikannya. Senyum itu, tawa itu, raut wajah itu, segalanya. Ia mencintai pemuda itu hingga terasa sakit ketika melihat senyum penuh kebohongan di wajah Naruto.
Ia tidak akan mengatakan bahwa ia rela melakukan apapun untuk Naruto—ia tidak melakukan hal bodoh. Ia akan memberi apapun yang ia miliki untuk mengembalikan kebahagiaan pemuda itu.
Mungkin saja kebahagiaan Naruto sekarang bukanlah Menma. Suatu saat, ia ingin menjadi seseorang yang membuat dunianya tersenyum.
"Sudah lama sekali aku tidak bermain seperti itu." Naruto berucap sambil merenggangkan tangannya ke atas. "Rasanya lelah sekali."
Menma terkekeh geli. "Bukannya kau yang paling bersemangat melempariku dengan bola salju?" Menma kembali mengingatkan, membuat Naruto ikut tertawa. "Kau seperti memiliki dendam pribadi padaku."
Naruto tidak menjawabnya. Pemuda itu menatap langit yang sudah mulai menggelap. Rasanya waktu cepat sekali berlalu hari ini. Rasanya baru tadi Menma berdiri di depan tempat tinggalnya dan mengajaknya keluar.
Mereka hanya berjalan dan berbincang ringan. Bermain dengan anak-anak yang baru mereka kenal dan menghabiskan sore bersama. Sekarang bulan sudah menampakkan diri, malam telah datang. Naruto tidak tahu mengapa semuanya terasa cepat.
Ia sangat senang. Sudah lama sekali sejak ia bermain dan tertawa seperti tadi. Sudah lama sekali mulutnya terasa sakit karena tertawa. Berapa lama yang Naruto lewatkan sehingga rasanya lama sekali sejak ia merasakan buncahan senang meletup di dadanya?
"Aku senang sekali hari ini." Naruto menyuarakannya. Ia tersenyum menatap ke arah jalan yang kini diterangi lampu yang cantik. Ia menunduk, surainya menutup dua bola mata yang indah. Seraya tersenyum, ia berkata. "Terimakasih, Menma."
Menma menyukai suara itu, ia juga menyukai waktu yang ia habiskan hari ini dengan Naruto. Ia ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Naruto. Dengan alasan yang ia buat sendiri, ia menahat Naruto agar menghentikan langkah mereka.
"Mau... menghabiskan waktu sebentar lagi?"
Tanpa menolak, Naruto mengikuti Menma yang mengajaknya ke tepi jalan untuk duduk di penyangga jalan. Suhu dingin ia tidak pedulikan. Lampu jalan cukup membuat mereka dapat melihat wajah masing-masing.
Sedikit waktu yang akan mereka bagi mungkin saja akan memperdekat hubungan mereka.
"Tahu 'kah kau, Naruto? Kau yang membuatku menjadi seperti ini. Bahkan senyummu dulu masih aku ingat. Sosok yang selalu menghangatkanku, walau mungkin kau tidak menyadarinya. Sosok yang masih membuatku jatuh hati hingga sekarang dan tidak akan pernah hilang dari perputaran hidupku."
Naruto terpaku mendengar pernyataan pemuda itu. Kenyataannya ia tidak menyadari bahwa Menma telah memperhatikannya sejak dulu, ketika Naruto terfokus pada hidupnya yang terasa membebani pundaknya namun hanya dapat ia jalani dengan tertawa bodoh.
"Menma, aku—tidak sehebat yang kau katakan," Naruto mengulum bibirnya, merasa sekujur tubuhnya membeku. "Aku tidak bisa menghangatkan seseorang hanya dengan cengiran bodohku ini. Atau aku dapat membuat seseorang jatuh hati sedalam itu."
Karena nyatanya ia tidak bisa membuat Sasuke mencintainya barang setitik. Karena nyatanya, apapun yang Naruto lakukan, Sasuke tidak akan pernah melihat ke arahnya.
Hingga saat terakhirpun, sebesar apapun usahanya, Sasuke tetap meninggalkannya.
Menma menangkup pipi pemuda di sampingnya, memaksa agar Naruto menatap pada wajahnya. "Aku buktinya."
Naruto terpaku, bibirnya seolah terkunci rapat tidak dapat terbuka. Ia melihat pantulan wajahnya—wajah yang menyedihkan, terlihat sangat mudah untuk dikasihani, dan tidak secantik Sakura, wanita yang Sasuke cintai tentu saja.
Ia pria, ia dengan wajah menyedihkannya saat ini. Tapi mengapa Menma menatapnya begitu? Seolah memandang hal yang paling berharga dengan keyakinan kuat dan sinar mata yang meyakinkan juga menyakitkan.
"Naruto, aku tidak tahu apa yang membuatmu merendahkan dirimu." Ibu jari Menma mengusap tanda di pipi pemuda bersurai pirang itu. "Aku juga tidak tahu apa yang membuatmu kehilangan senyum hangat yang sangat aku sukai itu."
"Tapi yakinlah, ketika kau berusaha sendiri dan memendam semua rasa sakitmu, itu tidak pernah akan meringankan bebanmu." Menma berujar dengan suara sayup yang terdengar lembut di telinga Naruto.
Pemuda dengan surai hitam itu tersenyum tipis melihat pucuk hidung Naruto yang memerah—pemuda itu menahan tangis. "Datanglah padaku—tidak. Aku akan datang padamu, kapanpun kau membutuhkanku. Setiap hari, setiap jam, maupun detik, aku tidak akan keberatan menjadi tumpuanmu."
Menma adalah sosok yang hangat. Ia adalah orang yang baik, yang menatap dirinya yang bukanlah apa-apa dengan tatapan yang memberi Naruto sebuah harapan baru.
Tubuh Naruto bergetar, matanya terasa memanas ketika Menma terkekeh lembut dan mennyapu sudut mata Naruto yang mulai basah.
"Maka dari itu, biarkan aku terus berada di sisimu hingga kau lelah."
Menma, tahukah ia bahwa Naruto memang sudah lelah sejak awal. Lelah dengan ikatan yang ia pertahankan dengan Sasuke dan berujung sebuah kesengsaraan pada dirinya.
Ia bodoh, ia terlalu mendahulukan Sasuke dan mengabaikan apa yang ia inginkan dan apa yang harus ia lakukan pada hidupnya sendiri.
Ia ingin sekali menyuarakan pertanyaan yang membuatnya gelisah.
Bolehkah kali ini ia bertumpu pada orang lain selain Sasuke?
Okay. Setelah chapter sebelumnya yang *sigh* lebih panjang dan kerasa sekali masalahnya (re: Sasuke yang Teme banget dan Naruto yang cocok banget dipanggil Usuratonkachi) part ini serasa bukan apa-apa *cry*
At least, Menma confessed his feelings XD
Dan kalau ga salah ada yang sempet komen 'jangan jadikan Naruto bodoh', I won't. Saya suka seme tersiksa kok.
Thank you for reading and see you in the next part :)
Saya janji gak akan selama ini.
With love,
Harayuki
