Mimpi dan Kenyataan… pernahkah kau mengalami saat dimana kau tidak bisa membedakan keduanya? Kau akan tenggelam dalam kekalutan karena sederet hal yang kau kira mimpi buruk terasa begitu nyata mendatangimu. Membuatmu menangis, terluka, dan menjerit tanpa ada seorangpun yang mampu menolong, yang mampu menarikmu terlepas dari rangkaian misteri tanpa akhir itu.

Black-White Dream… Dimana kau tidak akan bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan.

.

.

.

Konoha, sebuah desa yang tenang dan damai seusainya perang dunia shinobi ke-4. Para penduduk mulai mengerti artinya bertenggang rasa dan rasa saling tolong menolong. Saling memahami dan mengulurkan tangan tanpa harus di minta.

Setidaknya itulah pemandangan indah yang terlihat dalam beberapa minggu ini selama proses perbaikan desa pasca perang terakhir.

Hinata tersenyum kepada setiap orang yang ia lewati, berjalan santai di jalanan desa menuju rumah sakit Konoha untuk membantu Sakura yang mungkin tengah sibuk disana.

Duuuaarrr…

"Hah?" sebuah ledakan besar mengagetkannya dan membuatnya menoleh, mencari asal suara yang mampu mengguncang sedikit tanah tempatnya berpijak. Dia melihat orang-orang yang mulai panik di sekitarnya karena hal itu dan belum mengerti harus melakukan apa.

Gwrrraaaaaaawwwrr…

Geraman kuat yang terdengar dari arah utaranya membuat gadis itu mendongak dan membelalakkan matanya ketika seekor siluman rubah terlihat mengamuk di tengah desa. Siluman rubah yang jelas ia kenali sebagai siluman yang bersemayam di tubuh seseorang yang ia cintai.

Pemahaman itu begitu lambat dan sulit di cerna. Tubuhnya terasa kaku bahkan sulit bergerak meski dia dapat melihat jelas sebuah kayu besar yang jatuh kearahnya.

Set… brrruuuaaakk..

Hinata hanya bisa tersentak kaget saat tubuhnya di tarik sesaat sebelum kayu besar itu menimpa tubuhnya. Dia menoleh dan menatap Sai yang berada di sisinya seusai menolongnya tadi. "Sai-kun?"

"Apa yang kau lakukan hingga tidak bergerak dari tempat itu, Hinata?" laki-laki berkulit pucat itu bertanya dengan nada khawatir yang sungguh kentara.

Pertanyaan yang justru di abaikan oleh Hinata dan justru membuatnya kembali menoleh pada seekor siluman yang masih mengamuk disana. "Apa… yang terjadi?"

"Mereka memanfaatkan kyuubi untuk menyerang desa disaat situasi memang sedang buruk seperti ini. Lebih baik kita bergegas dan segera membantu yang lain."

Hinata berkedip bingung, "Kyuubi… siapa yang memanfaatkannya? Lalu bagaimana dengan Naruto-kun?"

Alis Sai menukik. "Apa yang kau katakan? Tentu saja mereka, Akatsuki yang memanfaatkan Kyuubi. Dan Naruto? Tentu saja penghianat itulah yang berada di belakang semua ini."

"Peng…hianat? Sai-kun, apa maksudmu?"

Sai menghela nafas tak percaya, "Kau yang bicara apa, Hinata? Tentu saja Naruto si penghianat yang sudah lari dari desa itu. Dia bergabung dengan Akatsuki dan menyerang desa."

Apa-apaan ini? Hinata sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di katakan temannya yang satu ini.

"Hinata, lariii…"

Gadis Hyuuga itu tersentak saat tangannya di tarik Sai berlari. Dia menoleh ke belakang dan terbelalak saat cengkraman tangan Kyuubi mengarah pada mereka.

Mendekat… menimbulkan kerusakan di sekitarnya karena ukuran tangan itu yang besar.

Mendekat… membuat teriakan semakin terdengar jelas karena banyaknya orang yang terseret dan tersobek karena cakaran itu.

Mendekat… dan bayangan dari tangan yang besar itu telah menghalangi pandangan Hinata untuk dapat melihat hal lainnya.

.

.

"Tidaaaaaakkkk!" Hinata membuka matanya. Keringat terasa di sekujur tubuhnya saat dia merasa mulai bisa menghirup udara dengan normal.

"Hinata, ada apa? Kau kenapa?" seorang perawat terlihat datang dengan wajah khawatir menghampirinya. Membuat Hinata berkedip bingung dan melihat ruangan di sekitarnya, ruangan itu… salah satu ruangan di rumah sakit Konoha. "Akhirnya kau sadar, tapi kenapa kau berteriak?"

Hinata menelan ludah sedikit lega saat menyadari jika yang tadi adalah mimpi. "Suster, apakah ini… di rumah sakit?"

Perawat itu mengangguk. "Iya. Kau di bawa dan di rawat disini saat kau pingsan dan terluka cukup parah karena ujian Chuunin. Apa sekarang keadaanmu baik-baik saja?"

Kening gadis Hyuuga itu mengeryit. Ujian Chuunin? Apa yang dikatakan perawat ini? batin Hinata bingung.

Sreeekk..

Pintu yang terbuka membuat Hinata menoleh… dan terbelalak melihat Ayah dan Adiknya yang masuk lalu berjalan mendekatinya. "Tou-sama… Ha-hanabi..chan?" dia tidak mampu berbicara banyak saat melihat kedua orang itu. Terutama Hanabi yang berambut sebahu dan berpakaian seperti baru saja selesai berlatih. Bukankah… itu penampilan Hanabi sekitar… tiga tahun lalu?

"Kau sudah sadar?" suara dingin sang Ayah mengalihkan pandangan Hinata. "Huh, seharusnya kau sudah tahu kemampuanmu dibandingkan dengan Neji. Tapi kau malah menantangnya? Melawan Hanabi saja kau kalah."

"Tou-sama… itu.. aku… hanya tidak ingin.. terlihat lemah di-didepannya." Jawaban Hinata terdengar begitu lirih saat kepalanya menunduk.

"Khe," kepala dengan surai indigo itu mendongak saat mendengar dengusan Hanabi. Dia menatap tidak mengerti dengan pandangan mengejek Hanabi yang terarah padanya. "Kau menantang Neji-nii hanya karena bocah bodoh itu memperhatikanmu? Seharusnya kau sadar jika itu adalah hal mustahil. Tidak bisa berubah hanya dengan perhatian dari bocah bodoh itu saja."

Mulut Hinata terbuka tak percaya akan apa yang adiknya katakan. Bukankah hubungan mereka sudah mulai membaik? Kenapa Hanabi malah berbicara sangat kasar seperti itu? "Hanabi.."

"Kau sungguh mengecewakan,, Nee-sama.."

"Aku malu mempunyai anak sepertimu."

Hinata menggeleng, "Tidak… Tou-sama, Hanabi-chan.." Hinata menggapai kedua keluarganya yang mulai berjalan pergi. "Tidak… aku.. aku akan berusaha lebih kuat lagi. Tou-sama… Hanabi-chan… jangan pergi… tidak, tidak.."

Ingin sekali dia turun dari ranjang dan mengejar mereka, tapi kakinya tak mampu ia gerakan sedikitpun. "Tou-samaaa.. Hanabi –ugh.."

Brukk.. tubuhnya terjatuh ke lantai dingin rumah sakit.

Tak ada yang membantu, dia sendirian di ruangan itu. Dia kembali memanggil, tapi suaranya tidak mampu keluar.

Dan saat sesuatu yang aneh dia rasakan pada lantai di bawahnya, Hinata menunduk, lagi-lagi harus terkaget mendapati lantai itu bergerak aneh dan seolah menariknya tenggelam. Dia berusaha berteriak tapi suaranya tidak keluar, dia berusaha untuk berontak tapi tarikan lantai itu malah semakin cepat menelannya.

Hingga… kegelapan dapat ia rasakan.

.

.

Bruk… traaaannngg… blam..

Hinata merasa tubuhnya terjatuh dengan keras. Dia membuka matanya dan sadar jika dia berada dalam kurungan. Sebuah sangkar yang begitu besar untuk mengurungnya disana.

"Heh, lihatlah kematiannya dari sini."

Gadis itu menoleh dan bingung saat menatap seseorang yang berada di sampingnya. Dia tidak kenal tapi tiba-tiba saja dia tahu jika pria itu.. "Toneri.."

Toneri meliriknya dengan seringai lebar di bibirnya. Tangannya bergerak seolah membuat jurus, dan saat matanya beralih ke depan, dia menyerang seseorang dengan jurusnya.

Hinata ikut menoleh, melihat siapa yang menjadi target serangannya. "Naruto-kuuuunnnn…" dia langsung berteriak ketika disana, Naruto yang tubuhnya berselimut cakra Kyuubi tiba-tiba saja terkena serangan Toneri. Nafas Hinata terasa berhenti seketika. Naruto, orang yang dia cintai diserang di depan matanya tanpa dia bisa melakukan apa-apa.

Tawa Toneri terasa bagaikan sambaran petir di telinganya. Begitu asap dari serangan Toneri tadi menghilang, kaki Hinata melemas seketika seiring dengan tawa Toneri yang semakin terdengar puas.

Terlihatlah oleh permata Byakugannya, disana tubuh Naruto terbaring berlumuh darah, tak berdaya dan tidak bergerak.

Perlahan tangan Hinata terangkat, menyelip di antara jeruji yang mengurungnya. Terulur seolah berharap bisa meraih sosok pemuda yang ia cintai. "Naruto-kun,, Naruto-kunn.." air matanya mengalir, deras membasahi pipi gembilnya. Mulutnya bergetar mengeluarkan isak tangis yang begitu mengiris hatinya. "Tidak… Naruto-kun jangan mati… Naruto-kuuuuuuunnnnn…"

.

.

"Hah hah ah.." Hinata terduduk di atas ranjangnya dengan mata terbuka lebar. Lagi-lagi keringatnya mengalir deras seiring detak jantung yang seolah mampu dia dengar dengan sangat kuat. Air matanya masih mengalir mengingat kejadian yang seolah baru saja ia alami. Melihat didepan mata sendiri kematian sang matahari tercintanya. "Naruto-kun, hiks… Naruto-kun.. hk.." isakannya mulai terdengar di gelapnya kamar itu.

"Hinata?"

"Hk?" isakannya terhenti seolah kehabisan tenaga saat mendengar suara yang begitu familiar berada di sampingnya. Dia menoleh dan menatap penuh air mata kehadiran Naruto yang kini duduk di sampingnya. Wajah pria itu begitu sayu karena baru saja bangun dari tidurnya. "Naruto-kun?"

Naruto membiasakan pandangan matanya untuk menatap wanita di sampingnya. "Hinata, kau kenapa Hime? Apa kau mimpi buruk?" tangan tan itu naik dan membelai rambutnya sebelum berakhir dengan menangkup sebelah pipi Hinata. "Kau ketakutan dan kau berkeringat, Hime. Ada apa? Apa yang kau mimpikan?"

Hinata semakin terpaku saat kini wajahnya sudah di tangkup oleh kedua tangan Naruto yang terasa begitu hangat menghapus air matanya. "Naruto-kun… kau…" grep… tak kuasa dia menahan diri untuk tidak memeluk pria itu. Seseorang yang baru saja ia mimpikan mati di depan matanya kini berada disampingnya dan menghapus air matanya. Tubuhnya begitu hangat saat Hinata memeluknya.

Sorot kebingungan muncul di wajah tan sang Uzumaki. Dia mengelus rambut panjang sang istri dengan lembut untuk menenangkan. "Kira-kira apa yang di mimpikan istriku sampai ketakutan seperti ini, hm?"

Hah? Apa telinga Hinata salah mendengar? Wanita itu mendongak dalam pelukan sang pria dan menatapnya bingung. "Is-tri?" tanyanya bingung dan tidak mengerti.

"Hahaha… kau lucu sekali." Naruto tertawa dan mencubit kecil hidung mungil Hinata saat wanita itu mengajukan pertanyaan yang baginya lucu. "Kenapa kau aneh sekali sih? Tentu saja kau istriku. Kita sudah menikah dua bulan, memangnya kau lupa, hm?"

Cuph… Naruto mengecup sekilas bibir peach wanita di pelukannya. Sukses seratus persen membuat wajah itu merona. Tak hanya sekedar karena ciuman, tapi karena fakta mengejutkan yang seolah tak pernah dia alami sama sekali sebelumnya.

Set…

Hinata menarik dirinya menjauh membuat raut kebingungan hadir di wajah Naruto. Apa ini juga mimpi? Pertanyaan itu terlontar dalam hatinya. Dia melihat ke sekelilingnya. Kamar yang terasa asing baginya walau terlihat begitu nyaman. Ranjang yang hangat tempatnya berbagi tempat dengan Naruto saat ini. Apakah semua ini ilusi? Hal itu kembali membuat hatinya gelisah.

"Hah." Naruto menghela nafas dan kembali membuat wajah cantik istrinya menoleh saat dia menarik dagunya lembut. "Kau kenapa Hime? Kau sungguh aneh."

"Naruto-kun… benarkah kita sudah menikah?"

Naruto mengangguk. "Tentu saja. Kau bisa percaya padaku jika kau memang lupa kenyataannya." Pria itu tersenyum dan menarik istrinya dalam sebuah ciuman yang begitu hangat. Membuat kegelisahan hati Hinata berangsur menghilang.

Ketika ciuman mereka terlepas, Naruto menarik sang wanita ke dalam pelukannya. Membuat Hinata merona dan tersenyum manis karenanya. Dia mengangkat tangannya untuk balas memeluk sang pria dengan mata terpejam untuk merasakan hangat tubuh sang suami.

Dan saat matanya terbuka… dia mengernyit saat ruangan gelap yang sebelumnya tiba-tiba menjadi terang. Suasana tampak berbeda meski tak terlalu Hinata sadari. Pandangannya mengarah pada selembar undangan yang berada di atas meja. Ya, jelas itu undangan.

Penasaran membuat Hinata menggerakkan tangannya pada punggung pria yang masih di peluknya kini untuk sekedar memanggil tanpa suara. Tapi…

Hinata berkedip… kenapa tangannya merasakan rambut panjang yang terikat di punggung Naruto?

"Hinata-sama?"

Deg

Hinata segera menarik dirinya dan kembali terbelalak saat sosok seorang Hyuuga Neji yang kini berada di hadapannya. Menatapnya dengan pandangan bingung. "Hinata-sama, apa ada sesuatu? Anda tiba-tiba saja memeluk Saya seperti tadi."

Mulut Hinata terbuka, namun tak mengeluarkan suara apapun. Masih terlalu takjub melihat sang sepupu yang gugur di medan perang kini berada di hadapannya dalam keadaan yang begitu sehat. "Neji… niisan?"

"Hm?" Neji tersenyum dan mengangguk. "Apa Anda merasa kurang sehat? Kalau begitu sebaiknya kita tidak usah pergi dan Anda harus istirahat."

Mata Hinata berkedip, dia memandang sekelilingnya dan mengambil kesimpulan jika itu adalah ruang tamu sebuah rumah yang tak dia kenali, tapi kembali situasi yang sangat aneh itu tiba-tiba terasa normal baginya. "Pergi?" Hinata mengulang kata itu, dia memperhatikan penampilannya yang sudah sangat rapi dengan baju yang seingatnya tak dia miliki. "Neji-nii, kita mau pergi kemana?"

Neji tersenyum tipis dan meraih undangan di meja belakangnya. "Tentu saja pergi ke acara pernikahan Naruto dan Ino."

Astaga!

Apalagi ini? Naruto akan menikah dengan Ino? Hati Hinata terasa benar-benar sakit dan hancur. Apa dia memang harus menghadiri pernikahan laki-laki yang dia cintai dengan orang lain sekarang? Atau mencoba lari dari situasi yang dia kira adalah mimpi ini?

Tapi pemikiran jika itu adalah mimpi perlahan semakin memudar dan menyisakan rasa sesak sepenuhnya di hati Hinata karena pernikahan sang Uzumaki. Tak ada lagi keanehan pada situasi saat itu. Dia hanya merasa sakit dengan kenyataan yang di terimanya sekarang.

"Hinata-sama? Anda baik-baik saja? Sebaiknya Anda beristirahat."

Tidak! Hinata harus pergi. Setidaknya dia ingin melihat laki-laki yang ia cintai bahagia walau tanpa dirinya.

"Hinata-sama?" Neji bertanya aneh saat Hinata justru berdiri tegap.

"Kita pergi, Neji-nii."

"Tapi –"

"Tidak apa," Hinata menoleh dan menatapnya tersenyum. "Aku akan baik-baik saja." Dan dengan kalimat tegas itu, Neji tak mampu menolak.

Keduanya berjalan menuju pintu untuk keluar, bersiap untuk pergi menuju suatu tempat yang menyakitkan khususnya bagi Hinata.

Gadis itu berjalan mantap dan selangkah sedepan di depan Neji. Tangannya terangkat dan mendorong pintu yang ada di hadapannya dengan kuat…

.

.

Cklek

Prok prok prok

…suara tepuk tangan dan riuh suara membuat Hinata lagi-lagi hanya bisa terdiam di tempat. Dia melihat orang-orang yang sudah sangat ramai di depannya.

Dia menoleh lagi, mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang megah dan terhias cantik.

"Hinata?!"

Suara sang Ayah membuat Hinata menoleh ke sisi kanannya, menatap tak percaya sang Ayah yang tersenyum padanya dengan penampilan rapi mengenakan jas hitam. Dia melirik, mencari keberadaan Neji yang sebelumnya ada di sisinya, tapi yang justru ia dapatkan adalah Hiashi yang mengulurkan tangannya kepada Hinata dan memberi isyarat kepala jika mereka harus melangkah maju ke depan.

Hinata menolehkan kepalanya, melihat apa yang harus mereka tuju.

Dan disana… di depan sana… Uzumaki Naruto berdiri dengan gagahnya di ujung altar pernikahan. Tersenyum padanya dan seolah menunggu kedatangannya.

Saat Hinata ingin melangkah, langkahnya terasa berat, membuatnya menoleh dan mendapati gaun pengantin putih panjang yang begitu indah telah melekat di tubuhnya. Dia menoleh, menatap Ayahnya penuh tanya.

"Ini hari pernikahanmu, Nak. Kenapa kau berwajah bingung begitu?" Hiashi bertanya khawatir.

Dan satu penjelasan itu sudah menimbulkan senyuman manis di wajah sang pengantin Hyuuga. Perasaan senang di hatinya karena akan menikah dengan sang pujaan hati membuatnya ingin menangis. Tapi langkah Ayahnya yang terasa menariknya membuat Hinata ikut melangkah. Tersenyum merona mendengar decak kagum dan seruan para tamu undangan. Dia menatap lurus ke depan, menatap bahagia sang calon pengantinya yang terlihat begitu gagah dan tampan.

Naruto-kun!

Satu nama yang terus ia ucapkan dalam hatinya yang sedang berbunga.

Ctaaarrr…

"Kyaaa…" Hinata berjongkok, memejamkan mata dan menutup telinganya saat suara petir yang sangat besar tiba-tiba terdengar seolah menyambar semua yang ada.

Begitu dia membuka mata… gelap!

Ruangan yang tadinya terang, megah dan begitu cantik dengan segala hiasannya… kini gelap.

"A-anoo.."

Suaranya mencicit saat tak dapat di lihatnya satu orang pun berada di sana. Dia sendirian, di tengah ruangan yang gelap dan terasa mengerikan.

Bruk… cpak..

Hinata segera menarik tangannya yang tanpa sengaja menyentuh lantai saat dia terjatuh. Tangannya terasa basah oleh cairan kental yang berbau anyir. Di tengah kegelapan yang samar, mata peraknya masih dapat melihat cairan darah yang kini membasahi seluruh tangannya.

Slap..

Ruangan kembali menyala meski tak seterang sebelumnya, setidaknya cukup untuk melihat. Tapi apa yang dilihatnya justru bukanlah hal yang mampu membuatnya menahan rasa mual di perutnya.

Ayahnya yang terbaring berlumur darah di sisinya, para tamu undangan yang tadinya begitu ramai berseru untuknya kini tergeletak bagaikan para mayat di medan perang. Bau anyir terus menyebar di seluruh ruangan beriringan dengan darah pekat yang mengalir cepat di sekitarnya, membasahi gaun putihnya hingga menjadi merah darah.

"Hoek.." dia menutup mulutnya yang terasa ingin muntah, air matanya mengalir bahkan tanpa ia sadari. "Kenapa? Apa yang –hoek.." kembali perasaan mual itu semakin terasa.

Dia melihat ke depannya, dan semakin deras air matanya kala melihat Naruto pun ikut terbaring di hadapannya dengan darah yang membasahi seluruh tubuhnya. "Na –hoek… hoek.." dia tidak tahan.

Tiba-tiba saja kepalanya sakit, sangat sakit meski kesadaran masih sepenuhnya dia rasakan.

Kwaaaakkk…

Seketika suara gagak memenuhi ruangan. Dia mendongak menatap langit-langit ruangan yang penuh dengan gagak hitam berterbangan, begitu ramai hingga bulu-bulu gagak itu berjatuhan dan menghujani para mayat yang di sekitarnya.

Kepalanya semakin sakit, sangat sakit hingga dia hanya bisa…

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrggggghhhhh…."

.

.

.

And welcome to black-white dream…

Kau akan tenggelam tanpa pernah terlepas…

.

.

Dapatkah kau membedakan mimpi… dan kenyataan?

.

.

.

END

.

.

Black-White Dream by Sunflowers37

Story by Rameen

Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata … ?

Mistery dan Tragedy

Special for #NHTD-2017 / Tema : Nightmare (mimpi buruk)

.

.

NHTD 2017 kembali datang, kami para anggota Sunflowers37 kembali mempersembahkan karya kami yang akan di tulis satu anggota per satu chapter jadi ini akan menjadi fic dengan lima chapter berbeda tema.

Berharap apapun yang kami sajikan bisa menghibur walau nyatanya NHTD lebih membuat semua orang stress.

Berharap apapun yang kami sajikan bisa menjadi yang terbaik meski nyatanya karya kami jauh dari kata sempurna.

Berharap kritik dan saran yang kalian ajukan dapat membuat kami lebih baik walau nyatanya mungkin kami akan tetap melakukan kesalahan. Yaaaa… namanya juga manusia.

Percayalah jika Sunflow berisi para manusia biasa dengan sifat yang beraneka ragam layaknya makanan di Jepang atau Korea yang menyatukan bahan makanan berbeda menjadi satu makanan, walau nyatanya di Indonesia juga banyak makanan yang terdiri dari gabungan banyak bahan makanan.

Percayalah jika Sunflow berisi para manusia labil yang tidak akan sempurna dalam segala hal. Punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, berharap kekurangan kami bisa mendapat saran terbaik dari kalian dan berharap kelebihan kami bisa memberikan dan menyajikan yang terbaik untuk semuanya.

Kenapa saya membahas hal tidak penting dan membingungkan? Untuk menambah kadar kebingungan anda sekalian terhadap chapter pertama yang saya sajikan dengan kacau ini. Jujur saja saya tidak mampu berpikir logis jika harus menulis cerita NaruHina yang membuat mereka tidak bersama. Niatnya mau absen,, tapi satu anggota rewelnya minta ampun sehingga membuat saya menyerah dan menulis. Parahnya, karena ceritaku sudah jadi lebih dulu,,, di jadikan kesempatan satu anggota untuk bertukar posisi karena ceritanya belum rampung. Apalah daya semangkuk mi yang hanya bisa pasrah jika sudah di sajikan.

Oke! Menghindari kalimat atau bahkan paragraph yang berisi omong kosong lebih banyak. Saya disini mewakili para anggota Sunflowers37 untuk mengajak para Author lain untuk ikut meramaikan Event Opera Sabun ini (kata Kimono'z).

Event ini merupakan event tahunan yang 'katanya' di rayakan tiap tahun. Saya tidak mengerti lebih jelas, mungkin akan lebih jelas jika mengunjungi FP UFI atau bergabung dengan Grup Uzumaki Family Indonesia.

Ehm,, apalagikah yang harus saya katakan di Nb kacau ini?

Ah ya… selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Terlambat? Belum lah, kan masih bulan Syawal. Kami Sunflowers37 mengucapkan minal aidin walfa izin. Maaf jika ada salah tulisan karena kita tidak berkomunikasi melalui kata-kata. Maaf jika ada salah paham, karena kita tidak bertemu dan saling sepaham. Semoga kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan dan Syawal tahun depan, karena kalau kita bertemu satu sama lain, mungkin jauh… apalagi Indonesia sedang rame karena Ibukota mau pindah. Takutnya macet kalo kita mau ketemuan, jadi doanya biar ketemu sama Ramadhan tahun depan aja ya.

Sekian aja deh. Kalo kepanjangan takutnya di potong gaji oleh boss.

Semoga suka dengan karya Sunflow.

Kritik dan saran kami terima tapi tidak berharap. Namanya juga manusia, siapa atuh yang berharap dapat kritikan? Manusia mah sifat alaminya mau di nilai sempurnaaaaaa ajah… tapi kami rendah hati kok jadi tetap menerima kritik dan saran. Boleh review, boleh PM, boleh chat, boleh lewat komentar juga nggak problem.

So. Sekian dan terima kasih.

Salam, Rameen.

Salam, Sunflowers37.