Impossible for Darkness to Bring Love Back

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Copyright © 2017. All Rights reserve

Prompt : You're Not My Destiny

This is a work of fanfiction. All names, characters, and locations are belongs to Kishimoto. This story is products ofour imagination. Any resemblance to actual persons living or dead or event is entirely coincidental. We don't take any advantage of this story.

If you don't like it then don't read it. As simple as that.


.

"Ya. Aku tidak akan pernah mengakui si monster rubah."

"!"

"Tapi, bukan Naruto. Untuknya, tidak ada rasa lain yang kupunya selain kebanggaan. Dia berjuang dengan sekuat tenaga, tapi meskipun begitu ia canggung dan tak semua orang menerima dirinya. Dia telah mengerti bagaimana kesedihan sebagai seorang manusia. Anak itu bukan lagi monster rubah. Ia adalah Uzumaki Naruto dari Desa Konoha!"

Bagi Uzumaki Naruto, momen saat dimana Umino Iruka mengakuinya adalah kebahagiaan pertama yang pernah dirasakannya seumur hidup. Bagaimanapun, selama ini ia hidup sebagai seorang yatim piatu yang tidak punya siapapun untuk mengakuinya. Bahkan pada kenyataannya ia sama sekali tidak diakui siapapun. Keberadaannya di desanya sendiri terasa salah. Dan baginya, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dianggap tidak ada atau tidak diakui. Karena itulah, perkataan Iruka-sensei seolah merubah dunianya. Ia memiliki alasan untuk terus memerjuangkan mimpinya untuk menjadi seorang Hokage.

"Aku akan menjadi Hokage suatu saat nanti-dattebayo! Lihat saja nanti!"

Ia tidak main-main dengan perkataannya. Ia selalu mencoba meyakinkan semua orang bahwa mereka bisa memegang perkataannya.

"Aku akan menjadi Hokage suatu hari nanti. Dan akan kupastikan bahwa aku akan melampaui para Hokage sebelumnya!"

Namun yang didapatnya hanya perkataan-perkataan kasar yang selalu menghardiknya. Menamparnya kuat-kuat dan membuatnya menelan pil pahit menyadari tidak ada seorangpun yang berada dipihaknya. Tidak ada seorangpun yang menatapnya.

"Orang-orang yang menjadi Hokage terlahir dengan sebuah takdir. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau capai melalui usaha untuk mewujudkannya. Itu ditetapkan oleh takdir!"

"Jangan berikan dia angan-angan! Karena itulah bocah ini selalu bermimpi dan mulai membual bahwa ia akan menjadi Hokage."

"Seorang bocah selalu berpikir bahwa semuanya mudah. Karena itulah ia selalu berbicara tentang mimpinya yang tidak mungkin! Karena itulah ia tidak menyerah. Dan.. akhirnya ia akan mati."

Semua perkataan itu menohoknya. Uzumaki Naruto terus berusaha untuk berpura-pura tuli dan tak melihat apapun. Tetapi semua tekanan yang diberikan semua orang padanya membuatnya muak. Ia ingin menangis. ia ingin berteriak kepada semua orang bahwa mereka tidak berhak memerlakukannya seperti ini. Apa yang sudah dilakukannya? Kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga tidak ada seorangpun yang memercayainya? Ia tidak melakukan kesalahan apapun. Ia tidak pernah melakukan hal buruk yang memancing semua orang membencinya lantas mengabaikan keberadaannya. Ia ingin melarikan diri. Ia bahkan tidak tahu apapun yang harus dilakukannya. Naruto tidak mengerti apapun lagi.

Semua orang membuatnya frustasi. Ia membenci dunia. Ia membenci takdir dan segala hal yang menyulitkannya.

Dan yang lebih buruk dari semuanya adalah kenyataan bahwa dunia dan semua orang bahkan lebih membencinya. Ia tidak bisa menyangkal yang satu itu. Pun melakukan sesuatu untuk merubahnya.

"Bodoh! Jangan sekali-kali kau berteriak seperti itu kepada Sasuke-kun!"

"Hokage? Kau yang lebih lemah dariku? Kh, lebih baik aku yang menggantikanmu menjadi Hokage!"

"Kau tidak apa-apa, pengecut?"

"Naruto bodoh! Tidak bisakah kau melakukannya dengan benar?"

Keberadaannya tidak dibutuhkan. Semua ini terjadi karena ia adalah si monster rubah. Semua ini terjadi karena ia adalah seorang Uzumaki Naruto.

"Itu tidak benar!"

Suara khas anak perempuan itu terdengar tegas dan lembut disaat yang bersamaan. Ia sangat mengenal suara itu. Tentu saja ia mengenalnya, karena suara itu sangat berbeda dari suara kawan wanitanya yang lain. Ia mungkin sudahterbiasa dengan teriakan dan bentakan Sakura maupun Ino, tapi pendengarannya tidak akan pernah salah untuk mengenali pemilik dari suara lembut satu ini.

Dia adalah Hyuuga Hinata.

Kunoichi yang kentara lemah lembut yang dulunya berada di kelas akademi yang sama dengannya. Naruto selalu beranggapan bahwa Hinata adalah gadis yang aneh namun menakjubkan. Hinata termasuk kedalam kategori gadis pemalu yang sangat tidak cocok dengan kriterianya. Gadis itu selalu tersipu malu –bahkan jatuh pingsan– begitu Naruto berusaha untuk berbicara dengannya.

Hyuuga Hinata adalah gadis yang lembut namun bukan berarti bahwa ia adalah gadis yang lemah. Ia mungkin selalu tersenyum malu kepadanya namun Naruto yakin bahwa di balik itu ada banyak sekali beban yang dipikulnya seorang diri. Hinata selalu menyendiri tapi ia sama sekali tidak terlihat kesepian. Gadis Hyuuga itu selalu berusaha keras sekalipun ia adalah keturunan keluarga elit yang memiliki kekkei genkai terkuat di Konoha.

Hinata memang tidak semenonjol Sakura yang begitu disukainya ataupun senang bersolek seperti Ino. Tapi gadis itu memiliki daya tariknya sendiri.

Mata Sakura yang hijau cemerlang memang indah dan kadang memabukkannya, tapi manik lavender Hinata selalu punya caranya sendiri untuk menarik shappire Naruto, membuatnya mendapatkan dorongan untuk menatapnya lama.

Pada saat itu, ia bahkan tidak mengerti kenapa Hinata terasa begitu berbeda dengan yang lainnya.

Kenapa? Pertanyaan semacam itu terus ditanyakan otaknya hingga bahkan ia kembali menginjakankakinya di Konohagakure setelah dua tahun lamanya ia melakukan perjalanan bersama dengan Ero-sennin.

"Karena aku mencintaimu, Naruto-kun."

Semilir angin menerpa wajahnya yang cengo seketika mendengar pernyataan sang gadis.

Hinata dengan segenap chakra yang dimilikinya menyerang Pain, nama musuh yang menghancurkan Konoha. Dengan mudah Pain menghindari serangan Hinata dan melepaskan jutsunya. Membuat gadis berjaket lavender itu terjungkir jauh.

"Hinata!"

Naruto merasakan rasa sakit yang hebat dirasakannya dalam sekejap mata. Rasa sakit yang sedaritadi berdenyut ditangannya tak seberapa dengan rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul menggerogoti hatinya begitu Naruto melihat gadis Hyuuga itu bangkit dengan darah yang merembes dari mulutnya.

Hinata terus berusaha melawan sekalipun pada akhirnya ia kembali terlempar jatuh ke tanah.

Kenapa? Hanya kata itulah yang bisa menggambarkan perasaannya untuk segala hal yang kini dilakukan Hinata untuknya.

"Karena aku mencintaimu, Naruto-kun."

Kenapa Hinata melakukan hal ini untuknya? Kenapa ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk seorang anak buangan macam Naruto?

"Karena aku mencintaimu, Naruto-kun."

Cinta. Bagaimana mungkin Hinata mencintainya sedangkan ia pada awalnya membenci dirinya sendiri? Apa yang membuat Hinata meliriknya? Apa yang membuat gadis itu dengan sudi menaruh atensi untuknya?

"HINATAAAA!"

Suara debuman keras terdengar begitu tubuh Hinata menghantam tanah. Naruto berusaha memberontak dan terus memanggil nama si gadis lavender. Memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Setelah beberapa kali memanggil namanya, Hinata bangkit dengan kaki bergetar. Hinata berjalan dengan susah payah menuju kearahnya. Irama napas sang gadis berantakan, darah mengucur deras dari dahi, menganyam sungai di wajahnya yang mulus.

Gadis itu baru saja terbanting dari ketinggian lebih dari 150 meter. Tapi ia masih berusaha untuk menyelamatkannya. Apa-apaan ini? Untuk beberapa alasan Naruto merasa malu pada dirinya sendiri karena pada akhirnya Hinatalah yang menjadi korban karena dirinya.

Uzumaki Naruto menatap Hyuuga Hinata dengan nanar. Ia akan memberikan Kyuubi. Akan ia berikan hidupnya. Akan ia berikan apapun asalkan gadis itu selamat. Apa saja asal Hinata tidak perlu terluka karenanya.

"Hinata.. Jangan kemari."

Naruto menundukan kepalanya, tidak sanggup bila harus melihat Hinata lebih terluka dari ini hanya untuk menyelamatkannya.

Pain yang sedari tadi terdiam memberikan Hinata kesempatan untuk bisa meraihnya. Entah apa yang dipikirkan sang ketua Akatsuki, namun pria itu membiarkan Hinata merayap mendekatinya.

"Aku tidak mengerti… kenapa makhluk lemah macam dirimu tetap berusaha melawan?"

Hinata tidak menjawabnya. Tangan gadis itu menggenggam erat pasak yang menancap dan menghentikan pergerakan Naruto, berniat mencabutnya dan membebaskan si pemuda Kyuubi.

"…meskipun kau tahu bahwa kau akan mati."

Rasa sakit yang seketika menerjang tubuhnya bersamaan dengan chakra Pain tak membuat Hinata melepaskan genggaman tangannya dari pasak hitam yang menancap di punggung tangan si pirang.

Hyuuga Hinata mencoba untuk mengontrol napasnya. Berusaha sebisa mungkin untuk mengacuhkan nyeri diseluruh tubuhnya.

"…."

"Aku.. tidak akan menarik kata-kataku.."

Naruto mengangkat wajahnya. Menatap manik Hinata yang teduh dengan pupil birunya yang membulat. Nindo itu… Ia sangat mengenali nindo itu, pun dengan kelanjutannya.

Hinata memperlembut tatapannya begitu merasa kalimatnya berhasil membuat Naruto membatu. "Itulah… Jalan ninjaku…"

.


"Naruto-kun… Selamat tinggal."

Hinata melangkah mendekati Toneri. Naruto tidak sadar bahwa ia tengah menahan napasnya begitu Toneri merentangkan tangannya, menyambut Hinata ke pelukannya.

Untuk bebrapa saat pikirannya kosong. Uzumaki Naruto kehilangan seluruh kontrol tubuhnya. Ia tergugu di tempat. Bingung, marah, kecewa dan segala macam perasaan aneh tercampur begitu saja di dadanya, memaksa di pemuda Jinchuuriki untuk memuntahkannya sekaligus.

Naruto menundukan kepalanya. Tangannya mengepal kuat tanpa bisa dicegah.

Hinata berkata bahwa gadis itu mencintainya. Bukankah jika benar gadis itu mencintainya maka Hinata tidak akan pernah sudi untuk pergi bersama pria lain? Bukankah syal yang baru saja dirajutnya untuk Naruto adalah pertanda bahwa Hinata masih dan akan terus mencintainya?

Apakah selama ini cinta yang dimaksud Hinata tidak sama seperti cinta yang ia maksud? Apakah Hinata mempermaikan perasaannya?

Geraman itu lolos begitu saja. Naruto mengutuk dirinya dalam hati. Tidak sepantasnya ia meremehkan atau bahkan mencurigai Hinata. Ini semua salahnya.

Dari awalpun Hinata tidak pernah salah. salahnya yang tidak pernah melirik Hinata yang selama ini berjuang untuk berada disisinya. Salahnya karena selama ini ia menomorsekiankan perasaan Hinata dari daftar prioritasnya. Salahnya yang selama ini tidak pernah menghargai keberadaan Hinata untuknya.

"HINATAAA!"

Uzumaki Naruto melompati pohon demi-pohon secepat mungkin yang ia bisa. Mengeluarkan beberapa bunshin untuk melemparnya ke langit, kearah podium yang melayang milik Toneri.

Naruto merapalkan jutsu secara acak. Ia bahkan tidak perlu memikirkan ulang jumlah bunshin yang dibuatnya. Ia terus membuat bunshin secara barbar hingga satu serangan mengenainya.

Choju-giga milik Sai melesat datang membantunya. Naruto melesat terbang mendekat kearah Ootsutsuki Toneri dengan wajah mengeras.

"Kembalikan Hinata!"

Toneri menatapnya datar. Mengeratkan pegangannya di pundak Hinata. Membuat Naruto menggeram tertahan dibuatnya. "Kembalikan katamu? Hinata datang padaku atas kehendaknya sendiri."

"!"

"Hal ini sudah ditakdirkan sejak dahulu kala. Hinata dan aku akan menikah."

Pupil milik Naruto mengecil. Alisnya semakin menukik tajam. Ia sama sekali tidak menyukai cara pria bulan itu bicara seolah-olah Hinata adalah miliknya.

Uzumaki Naruto menoleh kearah Hinata yang sedaritadi enggan menatapnya. "Menikah? Hinata, itu semua bohong 'kan?"

"…" Tanpa menjawab apapun Hinata menutup matanya pedih.

Dengan sebuah rasengan yang berdesing di tangan kanannya, Naruto membatu ditempat. Tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus di buatnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Suaranya tidak menggapai Hinata. Hinata menolak melihat kesungguhannya. Ia pasti sudah menyebabkan Hinata mengalami penderitaan yang begitu banyak akan cintanya yang dulu tidak berbalas. Mungkin inilah hukuman baginya karena sudah menjadi lelaki bebal yang tidak peka terhadap perasaan si gadis Hyuuga.

Toneri melemparkan bola bersinar hijau ditangannya. Naruto yang tersadar akan posisinya langsung menabrakan rasengannya kearah bola hijau Toneri. Namun, tidak ada ledakan apapun yang terjadi. Normalnya, jenis chakra apapun yang menghantam rasengan miliknya akan menimbulkan ledakan yang menyusul setelahnya.

Naruto terperangah begitu bola hijau milik Toneri menelan rasengan miliknya, begitupun seluruh chakra di tubuhnya, untuk beberapa saat tubuhnya tidak bisa bergerak. Matanya terbuka lebar namun Naruto tidak mampu melihat apapun. Seluruh chakranya dihisap keluar dari dalam tubuhnya. Ledakan chakra dengan jumlah yang sangat besar menyusul setelahnya. Ledakan yang cukup besar hingga membuat sebuah lubang di tanah. Sebuah lubang besar yang menembus menampilkan angkasa yang gelap. Dimana sebuah planet besar berwarna biru, bercahaya dan sangat cantik menjadi pusatnya. Planet bumi.

Naruto terjatuh dengan syal merah yang terbakar di tangan kirinya. Siluet Hinata –dan Toneri– menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum ia menjemput ketidaksadarannya.

.


Uzumaki Naruto mendapati dirinya berdiri di ruang hampa berwarna hitam. Manik terangnya bergerak kebingungan. Sejauh mata memandang, yang bisa dilihatnya hanyalah gelap. Kenyataan dimana otaknya tidak mengenali tempat ini membuatnya semakin kebingungan.

Kaki panjang yang terbalut celana orange itu lantas melangkah pelan. Naruto mempertajam semua indra yang dimilikinya, bersikap waspada.

"Naruto-kun."

Naruto tersentak kaget. Suara yang sangat familiar itu sukses membuatnya nyaris terjungkir. Ia menoleh dengan cepat. Mencari pemilik suara yang baru saja menyebut namanya.

"Hinata? Itu kau 'kan? Kau bisa mendengarku?! Hinata!"

Naruto berlari tanpa arah. Tak bosan pula meneriakan nama sang gadis Hyuuga.

Segenap cahaya yang muncul di sudut kegelapan menghentikan larinya. Naruto menyipitkan matanya begitu ia rasa cahaya itu sedikit menyakiti matanya.

Sebuah sosok muncul begitu saja. Uzumaki Naruto mengedipkan matanya begitu menyadari sosok siapa yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Senyuman yang tidak mampu ia sembunyikan terkembang begitu saja.

"Hinata!"

Sosok Hinata balas tersenyum kearahnya. Senyuman yang sama seperti sebelumnya. Senyuman yang membuat Naruto merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya bersama siapapun –bahkan dengan Iruka-sensei, atau bahkan kawannya di tim tujuh.

Pemuda pirang itu baru saja mengambil langkah pertamanya untuk mendekati sosok gadis didepannya sebelum sosok lain muncul dari belakang punggung Hinata.

Sosok yang lebih kecil dari ukuran manusia-manusia dewasa lainnya. Dua sosok anak kecil dengan wajah yang menyerupai wajah Hinata.

Naruto merasa napasnya mulai tercekat begitu melihat bagaimana cara kedua bocah yang mirip dengan Hinata itu menggelayuti gadis Hyuuga itu manja.

Hyuuga Hinata tersenyum lembut kearah kedua bocah yang memanjati tubuhnya. Lantas senyuman itu berbelok tepat kearahnya.

"Naruto-kun, perkenalkan, ini anak-anakku."

Naruto merasa langit menimpanya saat itu juga. Lidahnya kelu. Tenggorokannya mati rasa.

Belum sepat Naruto menjawabnya, Hinata kembali berkata, "Suamiku akan datang sebentar lagi. kuharap kau tidak keberatan untuk bertemu dengan Toneri."

Manik birunya bergetar. Toneri ia bilang?

Tidak. Demi apapun jangan katakan bahwa kedua anak yang kini berada di gendongan Hinata adalah…

Hyuuga Hinata tersenyum manis. Sangat manis hingga membuat Naruto kehilangan fokusnya. "Ya, benar. Kedua anak ini adalah anakku dan Toneri."

Uzumaki Naruto merasakan seluaruh tubuhnya mati rasa. Ia menggulum bibirnya rapat-rapat dan menatap mata Hinata yang berpedar memesona. Terdiam dalam pikirannya sendiri seolah menyesali nasib yang telah menggariskannya.

"Kau tidak serius 'kan, Hinata?" Naruto menghela napas berat, tubuhnya mulai bergetar. "Kau tidak mungkin benar-benar bersama dengannya 'kan? Katakan bahwa semua ini bohong! Hinata!"

Naruto menaikan suaranya satu oktaf. Tapi hal itu sama sekali tidak mengusik Hinata.

"..."

"Hinata! Jawab aku! Leluconmu sama sekali tidak lucu-ttebayo!"

Hinata menatap sang Jincuuriki Kyuubi datar. Mulut si gadis terbuka, "Aku yakin kau mengenalku dengan baik, Naruto-kun. Jadi jangan membuatku mengatakannya lagi."

Nada lembut yang biasa digunakan Hinata padanya hilang seketika. Naruto bahkan tidak bisa menilai mana yang lebih dingin, tatapan milik Hinata atau suaranya.

Naruto selalu bisa mengendalikan emosinya jika berada di hadapan Hinata. Ia selalu berhasil menutupi segala emosi maupun amarahnya dengan bersikap santai dan ceria kepada sang gadis. Namun sekarang, Naruto merasa ia tidak bisa berpura-pura lagi. Rasa sakit di dadanya nampaknya sudah menyeruak tanpa bisa ia hentikan.

"Lantas bagaimana denganku, Hinata? Apa kau pikir aku akan dengan senang hati merelakanya?! Jangan bercanda! Kau tahu aku tidak bisa! Kau tahu aku tidak akan menerimanya!"

"..."

"Aku ingin kau bahagia. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku ingin kau bahagia bersamaku, bukan dengan Toneri atau pria manapun! Aku mencintaimu, Hinata! Membayangkan bahwa dirimu telah berbahagia bersama dengan pria lain membuatku gila! Kau tahu itu dan kau berhasil melakukannya!"

Hinata menegakan tubuhnya dan menatap tajam kearah pemuda yang dengan lancang meneriakinya. "Gila, kau bilang?" desisnya.

"Seharusnya kau tahu, aku yang lebih berhak menggunakan kata itu dibanding dirimu! Kau mencampakanku selama bertahun-tahun! Kau tidak pernah sekalipun menoleh kearahku, kau bahkan sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun setelah aku menyatakan bagaimana perasaanku padamu! Yang selalu kau lihat hanyalah Sakura! Sakura, Sakura dan selalu Sakura! Tidak peduli sekalipun hati gadis itu sudah bukan lagi miliknya! Segalanya telah kumulai dari aku yang mencintaimu, lalu hati ini menjadi pandai menyakiti dirinya sendiri! Dengar, semuanya sudah berakhir semenjak kuputuskan untuk mengakhirinya!"

Pupil mata Naruto membesar menatap Hinata yang kini sersenggal-senggal. Tatapan gadis itu semakin menajam, seolah memaksa Naruto untuk tahu betapa Hinata merasakan sakit yang lebih daripada dirinya.

Hinata kebali membuka mulutnya dan berkata, "Semesta akhirnya menyadarkanku. Nyatanya selama ini aku hanya meminjam hati seorang pria yang tak akan pernah menjadi milikku."

Naruto mengeja luka di bola mata si gadis. Hanyalah rasa sakit yang tercipta disana, rasa sakit yang lahir karena dirinya; yang ia yakini bernama kesedihan.

Semua ucapan yang Hinata teriakan padanya seolah membungkam bibirnya rapat-rapat. Ia tidak bersuara dan membiarkan jiwanya hanyut entah kemana. "Hinata..."

Hinata mundur selangkah begitu Naruto mencoba mendekatinya. "Tidak! Jangan mendekat!"

Tiba-tiba, Naruto merasakan sesuatu menghujam dadanya secara tak kasat mata. Napasnya mulai memburu dan semua otot ditubuhnya menegang seketika. Hatinya seolah mencelus menuju perut.

Rasanya sulit untuk mengerti keadaan disekelilingnya. Yang diketahuinya hanyalah ia yang membiarkan Hinata berlari dengan mengandeng kedua anaknya. Gadis itu berlari kearah cahaya. Membiarkannya sendirian ditelan kegelapan disekitarnya.

Naruto menatap kosong punggung gadis yang dicintainya. Semua ini terasa seperti mimpi buruk yang belum pernah dialaminya. Ia sama sekali tidak bisa memercayai bahwa Hinata bisa menjadi bagian dari mimpi buruknya. Seketika, Naruto merasa dunianya telah berakhir.

Uzumaki Naruto membiarkan dirinya jatuh kedalam kegelaman yang dingin –menusuk tulangnya. Seluruh tubunya seolah membeku. Ia sama sekali tidak masalah dengan itu, karena rasa sakitnya pun akan ikut membeku. Ia tidak perlu merasakannya lagi.

~À bientôt~


A/N: Allô! Akhirnya Bieber bali lagi di acc Sunflowers! Ada yang kebingungan kah? Gini loh, Bieber ngambil setting The Last Naruto The Movie saat dimana Naruto koma tiga hari setelah chakranya diserap keluar oleh Toneri fufu

Sebelumnya terima kasih buat Rameen yang sudah mau bertukar giliran XD ini semua karena ternyata hati Bieber gak singkron sama hal yang harus Bieber kerjakan. Niat awal bikin ff tapi hati malah maksa jari ini buat nari diatas tab buat ngefanart :') #Ditamvol#

Selain itu, kabar perihal Naruto Gaiden yang akan segera diadaptasi jadi anime ngebuat mood ngegalau ilang huhhuuuuuu. Yang ada malah pengen jumpalitan sambil teriak-teriak saking senengnya hehe T^T)9

I have nothing to say again tbh :'D Don't forget to review! Kritik dan sayang *coret* saran sangat dibutuhkan :)