Impossible for Darkness to Bring Love Back
/Wedding Day/
Story (Sunflowers37)
Naruto (Masashi Kisimoto)
.
"Untuk kata yang belum sempat teruntai oleh lidah. Untuk frasa-frasa yang kubaca lewat binar matamu. Untuk segala hal sebelum waktu menelanku. Menelan segala yang kumiliki. Yang ku genggam. Tapi sebelum itu, kupastikan kau ada yang menjaga."
.
Penulis tidak meraup keuntungan apapun dari fanfic ini. Isi cerita berdasar imajinasi penulis. Kevalidan informasi yang disajikan bukan 100%. Fanfiksi ini sebatas hiburan. Kesalahan kepenulisan berupa TYPO(S) dan EBI yang belum benar bukan sengaja.
Spesial untuk Naruhina tragedy days 8/prompt : #Wasiat
Happy Read
.
.
.
Setiap orang boleh memiliki mimpi. Tentang hal-hal indah, pengobat duka, pelipur lara. Tidak ada seorangpun mengharap mimpi buruk. Semua mendamba bahagia. Semua tak ingin lagi repas yang menghasilkan rebas. Semua menumpuk mimpi dalam balutan satu, dua, lima lipat harap.
Ah, aku masih ingat kata-kata mu hari itu, 'Suatu hari nanti kita akan berdiri di depan pendeta. Secara resmi aku merebutmu dari Hyuuga dan mengganti namamu sebagai seorang Uzumaki. Ayahmu, dia akan menangis. Sepasang netra mu hanya akan menatapku, menerawang jauh dalam masa depan indah yang kujaminkan untukmu.'
Kupikir, semua bohong ...
Angan itu sempat pula kuragukan karena kau menggantung lama. Rasa percayaku nyaris pudar, dan membuatku berkesimpulan kau sama saja.
Boleh jadi di sini aku terlalu tinggi berharap. Padamu tiga tahun yang kukenal secara baik. Hingga mereka terus mempertanyakan 'Kapan kau dipinang?', akhirnya lega, karena kau menjawab itu penuh keseriusan.
Sekarang, tiada perlu aku merasa cemas.
.
"Howaaaaaa ... Nee-chan cantik sekali ..."
Hanabi memandangku dengan sepasang iris amethyst yang berbinar. Mulutnya pula terlihat sedikit membuka.
Dalam pantulan cermin di hadapanku, kulihat wanita yang sangat cantik. wajahnya dipenuhi make up sedemikian rupa. Terdapat mahkota emas menghias di kepala, rambutnya tergelung, memesona bak Cinderella.
Aku tersenyum. Bila Naruto-kun berada di dekat ku sekarang, pasti dia melakukan hal yang sama.
Gaun ini kami pesan dari seorang teman. Teman kami mendesainnya secara spesial, karena keinginan Naruto adalah membuat pernikahan bak di negeri dongeng. Dia memintaku mengenakan busana pengantin dengan model ball gown yang berlapis. Terbuat dari kain organza, di mana memiliki banyak aksen bordir bunga pada lapis paling luar.
Dia akan mengenakan baju seperti pangeran. Dia akan menantiku di depan altar, dan menggapai tanganku untuk mengucap janji bersama.
Mimpi kami itu ...
"Hinata, ayo ..."
Ayah menghampiriku.
Tangannya terulur meraih tanganku. Kulihat sekilas matanya berkaca-kaca. Aku tak tahu apa ayah sedang bahagia, atau justru sebaliknya. Sebentar lagi, salah seorang putrinya akan hidup bersama pria lain.
"Calon suamimu telah menunggu,"
Aku mengangguk. Ku mantapkan hati.
sejenak ku tarik napas panjang, 'Naruto-kun ...'
Aku menggapai tangan ayah. Melangkah bersamanya, menuju tempat di mana dia telah menunggu.
Mimpi itu ...
'Naruto-kun,'
Akan segera menjadi nyata
.
"Naruto-kun ... Naruto-kun ... Naruto-kun ..."
"Tolong tenang Nona, tenang ... kami akan berusaha melakukan yang terbaik."
"Naruto-kuuuuun!"
Sasuke memegang kuat bahuku. Aku yang terus berontak, memaksa masuk ke ruang ICU.
Tergambar jelas bagaimana tadi wajah Naruto-kun dipenuhi darah, tubuhnya yang terluka, selepas mobil itu menghantam badan truk dan terseret beberapa meter.
Sasuke terus meyakinkanku. Dia adalah teman baik kami. Dia juga teman di mana aku dan Naruto-kun memesan baju pengantin.
Dia berkata Naruto-kun akan baik-baik saja. Naruto-kun akan selamat. Dan Naruto-kun akan kembali menggenggam tanganku.
Aku berusaha yakin seyakin-yakinnya. Berpikir positif, meski air mata tak kunjung berhenti berurai dalam dekapan Sas.
Dia menguatkanku, hingga saat dokter keluar, dengan sebuah gelengan dan mata yang tertunduk.
Aku hanya dapat membekap mulut. Kuat. Berusaha agar jeritku tak lolos. Kakiku melemas dan itu membuatku jatuh. Sasuke mendekapku dari belakang. Dia berusaha menguatkanku, meski kurasakan tubuhnya bergetar.
Tak lama, kudengar langkah kaki berlari. Dari suara kuyakin seorang wanita. Dia memanggil nama Naruto-kun. Dia menghampiriku, akan tetapi pertanyaannya tak kuasa ku jawab. Dengan melihat tangisku, seharusnya ia tahu.
Dia kehilangan putra satu-satunya.
.
Teng ... teng ... teng ...
Lonceng berbunyi
Kelopak sakura berguguran. Warna merah muda menghias sejumlah sisi atap jendela.
Aku terus berjalan di atas karpet merah yang terjulur hingga depan mimbar. Kulirik ayah, dia terlihat fokus menatap ke depan. Langkahnya gagah dan pelan, mengingat gaun yang kupakai amatlah panjang.
Semua pandang mata menatap kami. Bermacam ekspresi, namun satu, semua bahagia. Wanita yang kulihat di rumah sakit, dia duduk di bangku barisan paling depan. Seulas senyumnya terukir ke arahku.
Aku membalas senyumannya.
Di depan, seorang pria mengenakan jas hitam serta pita kupu-kupu merah telah menanti. Rambut ravennya tersisir rapi. Penuh pesona, sepasang netra oniksnya menatapku lekat.
Pandanganku kemudian beralih pada langit-langit Gereja.
'Naruto-kun, kau melihatnya kan?'
Sampai di depan, Sas menggapai tanganku.
.
Satu bulan sebelum kecelakaan,
"Aku ingin pesta yang sederhana, tetapi berkesan. Aku ingin tamu ku merasa takjub. Sebuah pesta bertemakan Cinderella. Kau bisa membantuku kan?" Penuh harap Naruto-kun menggenggam tangan Sasuke.
Pemuda itu membalasnya dengan sebuah senyuman yang membuat kurva di bibir Naruto-kun kian mengembang.
Hari ini adalah tahap awal. Proses di mana aku dan Naruto-kun mengawalinya dengan fitting baju pengantin.
Sasuke mengukur tubuhku dan tubuh Naruto-kun. Ada beberapa contoh gaun pengantin ditunjukkannya. Semua tampak luar biasa di mataku. Semua bukan hasil jerih sekejap. Semua Sasuke awali dari bersekolah lama di Perancis, hingga dia menjadi desainer hebat.
Wajah Naruto-kun terlihat semringah. Gurat bahagia tak dapat disembunyikannya. Sedetik senyumnya bahkan enggan berlalu. Sama sepertiku, ia tampak lebih dari antusias.
Aku menunggu seraya melihat-lihat gaun yang lain. Bridal ini tampak mengesankan, seperti ku berpijak pada dunia fantasi. Satu ruangan yang dikelilingi begitu banyak cermin, serta rak yang menggantung puluhan gaun pengantin cantik. Dijamin, membuat perempuan manapun merasa betah berada di tempat ini, pun bingung untuk memilih.
Lama sekali Naruto-kun berbincang dengan Sasuke di atas. Lebih baik aku menyusul mereka. Karena setelah ini, kami harus melihat beberapa tempat penjualan souvernir untuk para tamu.
.
"Selamat ya ... akhirnya impianmu tinggal di depan mata." Sasuke meneguk kopinya.
"Um, dari awal aku memang tak main-main. Kau tahu kan, ada banyak perjuangan yang kulakukan untuk mendapatkan Hinata. Berapa banyak lelaki yang perlu ku singkirkan? Dan betapa sulitnya membuat ia yakin padaku meski harus sedikit menunggu. Belum lagi, ayahnya. Ayahnya itu masih terlihat galak sampai sekarang."
Aku tertawa mendengar itu. Sengaja ku tak langsung muncul di hadapan mereka dan memilih bersembunyi sebentar di balik pintu.
Aku ingin mendengar percakapan dua lelaki yang saling mengenal nyaris di seumur hidupnya. Dua orang kawan lama, di mana sejak dahulu kutahu saling berseberangan, tetapi senantiasa kompak.
Aku ingin tahu bagaimana ekspresi Sasuke ketika melihat dua sahabat kecilnya menikah. Mungkin dia akan segera menyusul. Hehehe ...
"Terimakasih mau membuatkan baju pengantin untuk kami, ini pasti sedikit berat ..."
'...? Berat?' Aku jadi penasaran.
Sasuke justru tampak tertawa. Ia mengarahkan kepalannya ke arah kening Naruto-kun. Seperti hendak menonjoknya, tapi sebenarnya hanya ditempelkan saja. Sampai telunjuk Sasuke menjulur menyentil kening itu.
Pletak!
"Oi--!"
"Baka! Persaingan dalam cinta hal biasa, bodoh. Jatuh cinta pada orang yang sama dan sama-sama memperjuangkannya, lewat itu sebenarnya kau akan tahu siapa yang ada di sampingmu."
"..." Tak terdengar jawaban dari bibir Naruto-kun.
"Kau mulai ragu, huh?"
"Tidak sama sekali!" Naruto-kun tegas menggeleng, "Hanya saja kau pikir aku manusia tak punya hati? Aku tahu kau dulu juga menyukai Hinata. Kau membiarkanku melangkah lebih dulu untuk menyatakan perasaanku. Seandainya yang kau lakukan sebaliknya ..."
"... apa? Kau berpikir yang akan menikah dengan Hinata adalah aku?"
Lemah, Naruto-kun mengangguk.
Pletak! Pletak!
Dua kali Sasuke menyentil kening Naruto-kun.
"Oi, apa yang kau lakukan Sasuke bodoh!"
"Jangan remehkan perasaan Hinata!"
"Kau pikir dengan aku menyatakan perasaanku, dia akan serta merta menerima? Logika yang bodoh. Cinta cepat tumbuh di hati seseorang, tapi hati hanya memiliki satu pilihan. Hinata kurasa sedari awal memang menyukaimu, Naruto. Jadi sekalipun aku menyatakan perasaanku lebih dulu, yang ada boleh jadi menghasilkan kecanggungan sampai kini. Dengan membuatnya tampak cantik di hari pernikahannya saja sudah membuatku bahagia. Kupikir, sebenarnya cinta adalah bagaimana cara kau memperlakukan orang yang kau cintai. Melihatnya tersenyum, adalah sebuah hal yang membahagiakan."
Naruto-kun tersenyum tipis. Ia meneguk secangkir kopinya hingga habis.
Aku, entah mengapa mengurungkan niatku untuk muncul di hadapan mereka. Kakiku seperti membatu dan tak mau diajak bergerak. Aku sungguh-sungguh baru tahu perasaan Sas. Selama ini yang kurasakan hanyalah sikap biasa darinya. Meski sekali pun ia tak menunjukkan kekasihnya, aku tidak mau percaya diri dengan menerka dia menyukaiku.
Apa aku sekarang sudah menyakitinya?
"Aku sangat senang karena kalian memesan gaun pengantin di tempatku. Itu artinya kalian masih percaya padaku. Kita dapat berteman seperti ini terus tanpa rasa canggung. Jangan berpikir aku bersedih, karena kebahagiaanku selaras dengan senyum yang teruntai di bibirnya. Oleh karena itu, jagalah senyumannya ..."
"Sasuke ..."
"Hmm?"
"Kau benar-benar yang terbaik,"
'U-uggrr ... apa-apaan ekspresi itu?' batin Sasuke melihat mata Naruto yang berkaca-kaca.
"Mungkin bila suatu saat nanti waktu tiba-tiba menelanku, aku akan tenang karena kau bisa ku andalkan untuk menjaganya."
"Kau bicara apa? Mau kujitak lagi?!"
"Oi oi, keningku sudah cukup jadi korbanmu hari ini. Huuuh ... aku hanya bicara tentang masa depan yang tidak dapat ku prediksi. Setidaknya aku memastikan dia berada di samping orang yang tepat."
"Berhenti bicara ngawur. Mau kujitak lagi ya?"
"Oi!"
Aku memilih turun ke lantai bawah ...
Membiarkan mereka melanjutkan obrolannya ...
Tentang fakta-fakta baru, yang mungkin belum aku tahu.
.
Aku yang menemanimu dalam duka, dalam tangis mu, dalam luka-luka yang merapuhkanmu.
Aku yang akan menjadi pelita walau redup. Meski tak sebenderang kejora, binar kujanjikan senantiasa menyala.
Aku mencintaimu dalam segala kekuranganku. Kelebihanku adalah memilikimu. Setiap doa yang kusemogakan tak lupa ku sisipkan namamu.
Engkau, Hinata Hyuuga ...
Maukah mulai sekarang menjadi seluruh dari bagian hidupku?
Aku memejam saat Sas memasukkan cincin tersebut pada jari manisku.
Kurasakan hangat membekas di bibir. Menjalar sensasi aneh ke seluruh tubuh.
Air mataku begitu saja mengalir. Aku seperti merasakan kehadiran Naruto-kun di sampingku. Dia memeluk bahuku, mendekapku erat, seraya berucap ... 'Semoga kau bahagia, Hinata.'
Selamanya ...
Aku mencintaimu
.
.
.
FIN
Hollaaaa ... Ki disini
bingung mau nulis apa. mungkin hasilnya sedikit aneh. wkwkwwk
happy read minna
di tunggu krisannya.
jika kalian meminta request fict NH, bisa langsung pm atau tulis saja di kotak review. Jangan lupa sertakan summary dan rate yang diinginkan. cerita paling menarik, mungkin akan kami buat fanfiknya di bulan depan
salam,
Kimono'z
