A Blessing in Disguise

Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others

Length : Parts

Rate : T

Genre : Romance, FamilyLife.

A Blessing in Diguise

Dengan keadaan ekonomi demikian, Seokjin harus pandai membagi waktunya. Uang beasiswa yang Ia dapat tak selalu mencukupi kebutuhannya. Di pagi hari memang Ia tak ada kegiatan, namun setiap pagi Ia harus buru-buru merangkum materi dan mempersiapkan bahan untuk keperluan laboratorium karena pekerjaannya sebagai asisten laboratorium.

Ia bekerja paruh waktu di minimarket di dekat apartemennya, yang tak jauh juga dari kampusnya, 6 jam sejak pukul satu siang. Malamnya Ia akan mengajar di rumah Hayoung setiap Selasa dan Kamis, selain itu Ia akan belajar materinya. Di akhir minggu, Ia memilih bekerja membagikan brosur atau pekerjaan lain yang sifatnya borongan.

Dan beruntung, Seokjin tinggal bersama temannya yang lebih berkecukupan dibandingnya, membuat Seokjin lebih santai dalam beberapa hal.

Temannya bernama Hoseok, Jung Hoseok. Lelaki baik hati jurusan kimia seperti Seokjin, teman seangkatannya yang paling baik. Mereka akrab karena proyek salah satu mata kuliah di semester pertama. Sejak saat itu, Seokjin selalu tak lupa bersyukur atas kebaikan Hoseok juga kerendahan hatinya.

"Kau ada tugas?"

Hoseok mengunyah kimbab yang dipegangnya dengan tangan kiri, duduk mengangkat kaki di meja makan dengan tangan kanan memegang pulpen dan menjalankan laptop. "Wawancara."

Seokjin mengangguk paham. Ia menggulung kimbab dengan bahan yang juga Hoseok gunakan, lalu ikut duduk di depan Hoseok. "Siapa?"

Hoseok mengunyah kimbabnya lamat-lamat, matanya fokus menatap layar laptop lalu mencatat beberapa hal. "Kim Namjoon."

"Siapa dia?"

Hoseok memutar laptopnya, menunjukkan layarnya kepada Seokjin. "Kau tak kenal dia? Dia masuk daftar 50 orang terkaya di Korea versi majalah Forbes."

Seokjin melotot. Ia hampir tersedak kimbabnya tapi beruntung Ia berhasil mengatur nafas. Ya Tuhan!

"Tidak usah berlebihan, Jin. Memang dia sangat tampan dan kaya, dia satu-satunya di dalam daftar yang belum genap empat-puluh."

"Gila." Desis Seokjin masih terpaku pada layar.

Hoseok mengangguk, berniat menarik kembali laptopnya namun di tahan Seokjin. "Ya, memang gila."

"Bukan, bukan itu." Seokjin menggeleng, berhasil menyatukan kembali sel-sel di otaknya.

"Apanya?"

Mereka bertatapan, satu terkejut tak percaya dan satunya lagi kebingungan. "Dia Papa Hayoung, gadis anak tutorku!"

"Ya tuhan!"

Seokjin mengangguk semangat, memekik mirip burung. "Ya, benar, Ya tuhan!"

"Kau bohong?" Hoseok ikut meninggikan suaranya.

Seokjin mengangguk sambil melotot, lalu menggeleng mengoreksi. "Tidak, sungguh aku bertemu dengannya semalam!"

"Itu gila!"

"Ya gila!"

"Ya tuhan!"

Seokjin dan Hoseok melotot bersamaan, di pagi hari, melupakan gulungan kimbab di tangan masing-masing. Berita sebesar ini terlalu besar untuk diketahui di pagi hari.

.

.

.

Sungguh, fakta yang diungkap Hoseok membuat Seokjin jungkir balik mengubah persepsinya atas Tuan Kim. Ia sungguh ingin tahu tentangnya, bagaimana tentang sosok itu bisa berada di jajaran keren Korea. Rumahnya memang besar, sangat besar untuk ukuran tiga orang yang tinggal di sana–Bibi Lee dihitung. Sayangnya Seokjin menilai lelaki itu terlalu muda untu masuk ke daftar yang disebutkan Hoseok tadi.

"Kau datang?"

Seokjin melotot, makin melotot memahami alur cerita hari ini. Bagaimana tadi pagi Ia dan Hoseok membicarakan lelaki ini, sekarang Ia berdiri membukakan pintu!

Seokjin tersenyum sopan, membungkuk lalu menjawab. "Anda juga!"

Keduanya terkejut mendengar jawaban aneh yang diberikan Seokjin, mereka terdiam beberapa saat hingga Seokjin mengoreksinya. "Maksudku, ya, saya datang. Ya," Seokjin berdeham kebingungan. "Duh, bagaimana ya. Kabar anda baik?"

Namjoon makin terkejut. Anehnya Ia tersenyum lalu mengangguk, seolah terbiasa mendengar hal seperti ini–kekikukan Seokjin. "Masuklah, Hayoung masih tidur."

"Dia tidur? Tidak biasanya," gumam Seokjin lirih, ikut masuk ke dalam rumah mengikuti pemilik rumah. Sungguh, sialan sekali temannya yang bernama Hoseok itu. Karena atas segala informasi keren dan luar biasa yang diberikannya tadi pagi, Seokjin melihat Namjoon dari pandangan yang luar biasa berbeda.

Sekarang Namjoon sungguh berbeda di mata Seokjin. Seluruh kalimat Hoseok berdampak atas pandangannya terhadap diri Namjoon. Entah benar atau tidak, Namjoon adalah sosok dengan postur sempurna yang memiliki kehidupan sungguh sempurna pula. Tinggi, berbadan tegap, memiliki insting bisnis yang bagus dan kekayaan melimpah, wajah tampan rupawan seperti pangeran, apa yang kurang?

Pendamping? Haha, Seokjin menertawai dirinya sendiri atas pemikiran sempitnya.

Langkah Namjoon melambat lalu badannya berbalik. "Ya, aku mengajaknya olahraga sejak sore. Ia pasti kelelahan."

Seokjin mengangguk, namun melebarkan matanya secara tak sadar. Matanya secepat yang tak Ia kira, turun ke lengan lelaki itu yang terekspos karena Ia hanya memakai kaus hitam lengan pendek yang tipis. Sungguh, badannya tegap dengan perut rata dan tinggi tubuh yang memadai. Ia sempurna.

Seokjin berdeham sekali lagi menghilangkan pikiran joroknya!

"Ini hari Kamis, anda pulang lebih awal."

Namjoon mengangguk, mengajak Seokjin duduk di sofa lembut ruang santai. "Ya, aku ada keperluan sehingga harus pulang lebih awal hari ini."

Si mahasiswa menurut, ikut duduk di sofa yang lembut dan empuk ini. Hayoung beberapa kali mengajaknya menonton kartun di ruang santai ini, jadi Seokjin tahu betul jika tempat yang Ia duduki saat ini sungguh lembut dan empuk, tipikal sofa mahal yang sangat nyaman diduduki.

"Kau mau minum apa?"

Seokjin menoleh, memperhatikan gestur Namjoon yang duduk dengan gagah dan berwibawa di jarak yang cukup dekat dengannya. Belum Seokjin memilih dan menyebutkan keinginannya, Bibi Lee sudah datang membawa nampan berisi dua cangkir untuk mereka.

"Satu teh herbal untukmu, Tuan Kim, satu teh camomile untuk Seokjinku."

Seokjin tersenyum, senang mengetahui Bibi Lee menghafal detail kecil kesukaannya. Membuatnya... merasa dianggap.

"Ahjumma, sudah kubilang tak perlu memanggilku begitu jika tak ada Hayoung."

Bibi Lee kemudian tertawa menutup mulut. Membelai bahu Namjoon dengan lembut. "Baiklah, Namjoon-ah, akan kuingat-ingat."

Namjoon tersenyum sebagai balasannya, tersenyum begitu ramah dan lebar mirip anak laki-laki usia lima tahun pada ibunya.

"Minum, Seokjin. Bibi Lee tak akan suka jika kita tak segera meminumnya."

Maka Seokjin meminumnya, menuruti titah Kim Namjoon seperti seorang penurut. Namjoon meminum dengan lambat, menghirup aromanya terlebih dahulu, lalu menyesapnya dalam hisapan kecil beberapa kali.

"Kau tak ingin tahu apa urusanku hingga aku harus pulang awal?"

Seokjin menoleh menatap mata coklat milik Namjoon. Tidak terpikir olehnya untuk bertanya hal demikian. "Kupikir terlalu lancang untukku bertanya demikian."

Namjoon terkekeh, dan dengan tampannya Ia memamerkan lesung pipinya. "Kau berpikir demikian?"

Mereka bertukar tatapan, Namjoon makin tertawa geli melihat tatapan takut Seokjin.

"Ini yang mungkin belum kau ketahui, Seokjin. Aku tak suka memiliki jarak antara aku dengan siapapun yang bekerja denganku, semua sama saja seperti temanku sendiri. Jadi jangan sungkan dan sungkan padaku apapun alasanmu."

Seokjin mengangguk, entah kenapa merasa tersipu mendengar ucapan Tuan Sempurna Kim Namjoon.

"Ngomong-ngomong, besok aku ulang tahun."

Si mahasiswa melotot, hampir tersedak liurnya sendiri jika Ia tak menahannya. "Benarkah?"

Namjoon mengangguk, menyesap teh herbalnya sekali lagi. "Kau bisa datang?"

Seokjin menggigit bibirnya, kebiasaannya saat tak yakin atas suatu hal.

"Kurasa Hayoung akan senang bersamamu."

Ah, benar, menemani Hayoung!

"Aku tak enak melihatnya tak memiliki teman setiap aku mengajaknya datang ke acaraku. Dia anak umur sepuluh, diantara pria wanita dewasa yang memujinya berlebihan untuk mendapat perhatianku, aku selalu merasa buruk untuknya."

Seokjin mengangguk asal, tak memiliki ide apapun atas apa yang dijelaskan Namjoon padanya.

"Sumpah mati aku berusaha menyenangkan Hayoung dengan tidak mengajaknya ke acara penting yang melibatkan banyak pria wanita dewasa selama ini." Figur Namjoon beranjak dari duduknya untuk menaruh minumannya, lalu duduk dengan menyerong ke arah Seokjin. "Kau tahu, sungguh aku bodoh tak memikirkan tentang baiknya memiliki pasangan sedangkan aku egois memiliki Hayoung. Aku merasa buruk ketika Hayoung harus datang bersamaku sedangkan aku sibuk berbincang dengan semua orang."

Seokjin mengangguk, masih mencoba mencerna ucapan Namjoon sedangkan kinerja otaknya sungguh perlahan.

"Kuharap kau mau datang."

Seokjin berusaha tersenyum, "akan kuusahakan."

Anehnya, Namjoon malah menatapnya dalam diam dan pandangan mereka bertautan beberapa saat. "Usahakan, Seokjin." ucapnya begitu lirih dan dalam, masih menatap Seokjin dengan tenang. Ia lalu beranjak berdiri, menepuk bokongnya yang padat–WOW!–lalu bergumam, "aku akan membangunkan Hayoungku."

Sungguh! Seokjin berjanji pada dirinya sendiri untuk menendang Hoseok sesampainya Ia di rumah karena atas segala ucapan sialannya, Hoseok berhasil mengubah cara pandang Seokjin terhadap Namjoon.

.

.

.

Hayoung masih setengah mengantuk ketika bangun di gendongan Papanya. Setelah sepuluh menit Namjoon menepuk-nepuk dengan pelan punggung Hayoung sambil mengajaknya bercerita, Hayoung merengek dan bangun dari pangkuan Namjoon.

"Aku ingin bersama seonsaengnim."

Gadis itu hanya berujar lirih nan manja. Namun berhasil membuat Papanya terkejut bukan main lalu menatap Seokjin sekilas, yang mana si mahasiswa juga terkejut bukan main. Namun Hayoung si anak cantik ini benar-benar membuat semua orang patuh.

Karena yang Seokjin lakukan–tanpa disadarinya–adalah mengulurkan tangannya, menarik Hayoung ke pangkuannya dan memeluk gadis itu selayaknya Namjoon memeluknya seperti biasa. Dan dengan lancangnya, sekali lagi Seokjin tak sadar, Ia mencium puncak kepala Hayoung saat memeluk gadis itu, seolah gadis itu anaknya.

Ya tuhan!

Ada yang salah. Seokjin sudah tidak beres. Ia memalingkan wajahnya ke arah di mana Namjoon tak bisa melihatnya, memadamkan wajahnya yang memerah.

"Eh, Hayoung-ah, apakah seonsaengnim sudah bercerita tentang laboratorium milik dosen seonsaengnim?"

Hayoung mengangkat kepalanya, duduk tegap masih di pangkuan Seokjin, lalu menatap Seokjin setengah semangat. Ia menggeleng.

Gelengan Hayoung membuat Seokjin tersenyum lebar, setidaknya Ia memiliki cerita yang keren untuk diceritakan pada muridnya yang mengantuk ini.

"Jadi, di laboratorium seonsaengnim, Hayoung bisa mencoba banyak hal dan memeriksa banyak hal." Seokjin memulai ceritanya dengan semangat, seperti biasanya Ia bercerita. Dengan ekspresi dan suara yang meluap-luap Seokjin menjelaskan, dengan pandangan kagum dan ingin tahu Hayoung mendengarkan.

Dan dengan pandangan terkejut juga tenang, Namjoon memperhatikan. Melihat bagaimana Hayoung duduk dan nyaman di pangkuan gurunya, melihat bagaimana Seokjin dengan pandainya meramu cerita hingga anak kecil itu terlihat senang bukan main dan melupakan tubuhnya yang lelah. Namjoon memperhatikan dengan detil, tipikal Namjoon.

Seokjin gugup bukan main. Semampunya Ia menyembunyikan suara gugupnya karena diperhatikan dengan jarak sedekat ini dengan Namjoon, Tuan Kim Namjoon. Jarak mereka memang tak intim, sih, jarak mereka ada empat jengkal. Namun jarak itu bisa mengekspansi pikiran Seokjin tentang bagaimana rupawannya lelaki yang fotonya terpampang di majalah Forbes!

Hoseok dan informasi sialannya!

.

.

.

"Bagaimana tawaranku, Seokjin?"

Namjoon mengantar Seokjin hingga ke depan pintu. Pertama kalinya dalam tiga bulan Seokjin bekerja di rumah ini, Ia dibukakan pintu oleh pemilik rumah dan diantar hingga depan pintu pula. Dan sudahkah Seokjin menjelaskan jika Namjoon terlihat supertampan-namun-manusiawi ketika Ia dengan tampilannya sekarang, yang menggendong Hayoung dengan kaus dan celana rumahan?

Ya tuhan!

Kalian tak perlu melihatnya, sungguh. Seokjin hampir berteriak mirip remaja perempuan membayangkannya!

Seokjin berdeham, menetralisir pikirannya yang sungguh nakal. "Aku masih tak yakin."

Namjoon tersenyum miring, lalu secepat itu Namjoon menatap Hayoung dengan pandangan kebapakan seperti biasanya. "Hayoung-ah, apakah Hayoung ingin seonsaengnim datang ke acara ulang tahun Papa besok?"

Dan berhasil. Seolah tahu apa yang bisa mengabulkan permintaannya, Namjoon benar-benar memiliki kartu as!

Karena secepat kilat ekspresi Hayoung berubah tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Benar! Aku lupa bilang, Pa. Seonsaengnim akan datang, kan?"

Seokjin menaikkan alis dan tersenyum canggung.

"Hayoung akan sedih jika seonsaengnim tak datang..."

Dan bapak-anak itu menang telak. Mereka berdua tersenyum lebar saat Seokjin akhirnya mengangguk.

.

.

.

Seokjin benar-benar hampir menendang pantat Hoseok atas kekacauan yang Ia buat. Hampir, karena Seokjin tak akan setega itu menendang teman baiknya. Lagipula tendangan Seokjin memalukan, payah. Jadi sebagai gantinya Seokjin memukuli Hoseok, sekitar 15 pukulan.

"Parahnya dia mengajakku datang di acara ulang tahunnya!"

"Kau bohong!"

Seokjin mengangkat alisnya. "Menyuruhku, sih."

Hoseok berkespresi berelebihan, meracau beberapa saat tentang fakta gila dan menakjubkan ini.

"Kenapa kau senang sekali, sih?" Seokjin benar-benar ketus.

Hoseok tertawa aneh, lalu bertepuk tangan. Sungguh, Hoseok cukup aneh dan Seokjin lebih aneh karena mau berteman dan berbagi apartemen dengannya.

"Karena aku juga akan datang!"

"Kemana?"

"Ke acara itu! acara ulang tahunnya!"

Giliran Seokjin yang bereaksi berlebihan, Ia melotot sambil berseloroh, "tidak mungkin!"

"Ya mungkin! Ya, Seokjin. Aku meminta waktunya wawancara untuk majalah kampus dan Ia menyisihkan waktu sepuluh menit setelah acara itu!"

"Wow,"

"Ya, Wow! Ini sangat wow! Wow, aku merasa benar-benar wow, kupikir aku akan menjadi anak paling kampungan di sana, ternyata ada kau yang bersamaku!"

-TBC-

Hehe, gantung ya?

Iya, gak asik banget buset gantung banget berenti tengah jalan. Tapi gak apa, itu enaknya Dee sebagai penulis, haha!

BTW WOW SAYANGKU! gila sih, buat crazyalpaca412, aku yang kebetulan lagi nulis part4 ff ini dan iseng buka internet, dan WOW kamu sudah ngereview sebelum 30 menit? Wah serius sih aku seneng bgt ini aku jingkrakan mukaku merah hehe, lebay ya GAK KOK wkwkwk. VERY BIG THANKS sayangku :))))

RnR sayangku?

ILY!