A Blessing in Disguise
Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others
Length : Parts
Rate : T
Genre : Romance, FamilyLife.
A Blessing in Diguise
Seokjin tahu orientasi seksualnya berbeda, begitu pula Taehyung dan Jongkook. Namun pilihannya membahas hal ini di depan Hayoung membuat Seokjin merasa bersalah, sekalipun Taehyung yang memberinya dorongan untuk menjelaskan.
Taehyung memutar musik di mobilnya, mencoba mencairkan suasana setelah pembahasan topik yang cukup sensitif bersama Hayoung tadi. Namun sepertinya gadis itu terbuka, memahami apa yang dijelaskan Seokjin dan Taehyung dengan tenang dan mencoba mengerti. Jika cinta di dunia ini tak hanya satu warna, cinta di dunia ini tak melulu itu saja.
"Hayoung mau makan di mana?" Taehyung melirik keponakannya yang duduk di belakang bersama Seokjin. Hayoung berfikir cukup lama, menggumam, lalu tak menjawab. "Hayoung bingung? Makan di restoran biasanya saja, ya?"
"Oke!" gadis itu memekik, membuat Seokjin tanpa sadar tersenyum.
Taehyung mendengung. "Jin, Namjoon hyung bilang Ia pulang lebih awal."
"Eh?"
"Sebenarnya Ia dijadwalkan sampai tengah malam, namun Ia reschedule dan datang sekitar pukul sepuluh."
"Lalu?"
"Setelah makan kita menjemput Namjoon hyung sekalian saja, kurasa Ia sudah rindu pada Hayoung."
Seokjin mengangguk mengerti. Tak masalah, semakin cepat Namjoon kembali, semakin cepat pula Ia bisa kembali ke apartemennya, kan?
TAPI TIDAK.
Memang benar, mereka makan di restoran enak lalu menjemput Namjoon. Mereka berpelukan bergantian–dengan canggung–lalu kembali ke rumah besar milik Namjoon. Taehyung berpamitan, mengajak Jongkook yang terlihat kelelahan untuk pulang setelah memastikan semua beres.
"Jin, besok kita kelas pagi, kan?"
Seokjin mengangguk. "Jam sembilan. Jangan terlambat, Kook!"
Lalu Taehyung berpamitan pada Namjoon dan Bibi Lee, meninggalkan Seokjin, Hayoung, dan Namjoon.
"Jika semuanya sudah baik, aku akan pulang."
Namjoon menaikkan satu alis kebingungan menatap Seokjin. "Kau akan pulang? Ini sudah jam," Namjoon melihat jam tangannya, "setengah dua belas. Tidak ada bus jam segini."
Seokjin menggigit bibir. Bodoh Ia tak menumpang mobil Taehyung tadi.
"Tidur di sini saja, Seokjin. Aku bisa mengantarmu besok, sekalian mengantar Hayoung sekolah, kita berangkat bersama."
Dan itu perintah, bukan permintaan. Karena Namjoon langsung memakai kartu asnya, bertanya pada Hayoung. "Hayoung senang 'kan kalau Paman Seokjin menginap?"
Hayoung mengangguk lalu tersenyum, memakan coklat pemberian Papanya. "Oh, Pa, aku lupa. Seonsaengnim jago memasak."
"Oh ya? Apa yang dimasak oleh Paman Seokjin untukmu?"
Hayoung tersenyum sambil menyesap coklatnya, "aku tak tahu namanya. Pokoknya enak!"
Namjoon tertawa gemas, mencium gadisnya lalu mengangguk. "Besok pagi Hayoung minta Paman Seokjin untuk memasak, ya? Biar Papa juga merasakan masakannya." Namjoon mengatakannya sambil berbisik di telinga Hayoung main-main, karena Seokjin dengan jelas mendengarnya.
Dan WOW–
Apakah Seokjin sudah mulai rabun? Jika Seokjin tak salah, Ia melihat Namjoon meliriknya saat berbisik pada Hayoung, dan Yaaaa Tuhaaaan, bagaimana Namjoon tersenyum sambil mengatakan hal itu membuat perut Seokjin geli bukan main.
Dan WOW sekali lagi!
Apakah Seokjin sudah mulai berkurang kemampuan mendengarnya? Karena Ia mendengar Namjoon memanggilnya dengan Paman–bukan seonsaengnim!
Ya tuhan, baiklah, Seokjin terlalu berpikiran aneh-aneh.
.
.
.
Seokjin membaca buku materinya, melanjutkan bacaannya kemarin yang sempat terhenti. Pikirannya sedang kacau, memikirkan banyak kemungkinan tentang pribadi Kim Namjoon. Salah memang, dan Seokjin paham apa yang salah, namun Ia tak bisa berhenti begitu saja.
Otaknya memutar kembali rekaman kemarin pagi setelah sarapan, ketika Hayoung dengan penuh sukacita memamerkan kemampuan bermusik dan menyanyinya pada gurunya ini. Ketika Seokjin menggodanya dan tak percaya jika Hayoung pandai bernyanyi, gadis itu memicingkan matanya lalu bangkit untuk mengambil album fotonya.
"Coba seonsaengnim lihat sendiri." Ia berujar bangga lalu membuka halaman foto satu per satu.
"Whoa, ini saat Hayoung masih kecil?"
Si gadis mengangguk sambil tersenyum lebar. "Ini saat Hayoung dan Papa di Hongkong."
Foto yang dimaksud Hayoung adalah foto dirinya sedang berdiri dengan senyuman lebar berlatar belakang istana Disney. Seokjin tak yakin umur Hayoung saat itu, sepertinya umur lima.
Hayoung melanjutkan ceritanya, mulai dari Ia kecil hingga foto-foto yang menunjukkan Hayoung sedang tampil di atas panggung. Semuanya cantik, Hayoung cantik dan terlihat berkarisma di setiap fotonya.
Namun satu yang membuat Seokjin berfikir macam-macam;
Tak ada foto Hayoung sejak bayi.
Juga tak ada foto Mama Hayoung keseluruhan.
Dalam diam Seokjin berfikir, sesakit itukah sosok Kim Namjoon ditinggal pergi istrinya? Hingga Ia tak mau menyimpan foto wanita itu?
.
.
.
Seokjin pikir Ia akan menjadi orang yang bangun awal di rumah ini selain Bibi Lee. Ternyata tidak. Namjoon sudah membaca koran paginya, meminum kopi, duduk di teras depan. Berkeringat!
Wow, sungguh, Seokjin dan matanya harus dicuci bersih, sekaligus otak nakalnya.
Tapi bagaimana ya? Namjoon memakai kaus hijau tentara, jadi lehernya yang basah karena keringat jelas terlihat mata jeli–superjeli–Seokjin.
"Kau sudah bangun?"
Namjoon tersenyum menyapanya. Baiklah, Seokjin tidak jadi melakukan pergegangan pagi ini.
"Anda sudah bangun?" Seokjin menggigit bibirnya kemudian. Dalam hati Seokjin berseloroh pada dirinya sendiri; Seokjin, Namjoon jelas sudah bangun dan sedang membaca koran di depanmu, lalu kau bertanya pertanyaan basa-basi seperti ini? Uh, Seokjin, kau harus berlatih basa-basi lebih giat!
Lelaki itu tersenyum kecil, mengangkat koran yang Ia baca. "Ya, koran pagi, kopi pagi."
Si mahasiswa mengangguk dan tersenyum kikuk, "ya sudah, aku akan masuk membantu Bibi Lee." Ujarnya cepat lalu berlari kecil, segera menuju dapur dan menyapa wanita itu.
"Kau kenapa berlarian?"
Seokjin tertawa bodoh, "tidak apa. Ngomong-ngomong, bagaimana jika aku yang memasak sarapan pagi ini?"
"Ya?"
Ia tersenyum, "Dulu aku selalu membantu Ibu Panti memasak, sekarang giliranku memasak untuk rumah ini. Tidak apa?"
Bibi Lee tertegun beberapa detik, lalu tersenyum setelahnya. "Tentu saja."
Maka itu adalah kalimat pengantar bagi Seokjin untuk berjalan lebih dalam ke area dapur, membuka isi lemari es dan melihat bahan apa saja yang ada dan bisa dipakainya.
Ia akan memasakkan sup tahu dan jamur, masakan yang sering dimasaknya selama di panti. Mungkin karena kali ini Ia memasak untuk tuan raja, maka Ia bisa menambahkan beberapa bahan yang lebih sehat dan enak.
Seokjin cekatan di dapur. Seolah dilahirkan untuk memasak, Ia benar-benar lihai bergerak di area dapur. Bibi Lee yang membantu Seokjin mengakuinya, bahwa Seokjin terampil dengan alat dapur.
Mungkin sekitar satu jam kemudian Hayoung telah duduk di meja makan, menyantap sereal coklat tanpa susunya seolah memakan keripik.
"Oh, Hayoung sudah mandi?"
Si gadis tersenyum cerah, bergaya menyibakkan rambutnya pada Papanya. "Papa belum mandi, ya?"
Namjoon terlihat tertawa, mengernyitkan hidungnya sambil mengangguk. "Hayoung makan yang lahap. Oh, Seokjin kau benar-benar memasak?"
Si mahasiswa yang sedang menggoreng lauk pelengkap terkejut, berbalik dengan cepat sambil membulatkan matanya. Ada spatula di tangan kanannya, seolah akan memukul Namjoon. "Ya, tidak apa, kan?"
Namjoon terkekeh lalu berjalan meninggalkan area dapur. "Tentu saja tidak apa."
Dan ucapan 'tentu saja tidak apa' yang dikatakan oleh Namjoon bukanlah pemanis semata. Karena lelaki itu memuji masakan Seokjin berlebihan. Seokjin dengan sekuat tenaga menahan matanya agar tidak berputar–tidak sopan–di depan Namjoon dan Hayoung.
Mereka hampir menyelesaikan sarapan ketika Namjoon mengeluarkan sesuatu. "Ini oleh-oleh yang kujanjikan."
Lelaki itu mendorong sebuah tali–oh, tidak, itu kalung! Ia mendorong memberikannya pada Seokjin dan Hayoung, satu persatu. Seokjin melihat miliknya, lalu melirik milik Hayoung, keduanya sama. Kalung dari batu giok berwarna hijau sebagai bandulnya, dan tali berwarna coklat yang sederhana.
"Whoa, Pa! Bagus sekali." Hayoung memekik, melompat ke pelukan Namjoon dengan ringan. Hayoung bergumam 'terimakasih' dan 'aku mencintaimu' di pelukan Papanya, yang dibalas pelukan oleh Namjoon.
Bandul kalung giok ini sungguh sederhana; berbentuk dua lingkarang besar dan kecil yang saling mengikat, dengan satu poros di tengahnya.
"Ya tuhan, Tuan, kau–" lirih Seokjin mengangkat kalungnya.
Namjoon terkekeh, mengibaskan tangan kanannya di hadapan Seokjin. "Aku tidak membelinya. Aku mendapatnya dari investorku di sana sebagai kenang-kenangan."
"Dua?"
Namjoon tersenyum, mengecup pipi Hayoung yang masih dipelukannya. "Satu untuk Hayoung."
Seokjin termangu, tak bisa berucap apapun selain terimakasih pada Namjoon.
Pukul delapan mereka berangkat, Namjoon benar-benar mengantar Hayoung ke sekolahnya dan mengantar Seokjin hingga ke kampus. Gadis itu memiliki kebiasaan baik pula, mencium Papanya dan mengucapkan, "semoga harimu menyenangkan dan pekerjaanmu mudah, Pa!" sebelum turun dari mobil.
Namjoon yang terlihat sangat baik mendidik Hayoung, mengangguk sambil tersenyum lebar. "Ya, semoga hari Hayoung juga baik dan sekolahmu menyenangkan!"
Gadis itu mengangguk, menarik wajah Namjoon mendekat padanya lalu mengecup pipinya.
Yang tak Seokjin kira adalah; Hayoung juga melakukan hal itu padanya.
"Semoga harimu menyenangkan, seonsaengnim!"
Seokjin membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum. Sungguh, Namjoon mendidik Hayoung dengan sangat baik. Bahkan Seokjin yang bukan siapa-siapa merasa dirinya dianggap oleh mereka. Uh, bahagianya Seokjin hari ini.
Hayoung yang telah membuka pintu mobilnya, tiba-tiba diingatkan oleh Namjoon. "Hayoung?"
Lalu gadis itu berbalik, menatap Seokjin lalu menarik wajahnya. Untuk mencium pipi Seokjin, layaknya Ia mencium pipi Papanya.
Maka Seokjin gelagapan dan berusaha menyembunyikan perasaannya. "Ya, semoga hari Hayoung menyenangkan." Ucapnya kikuk, gelagapan, dan terlihat bodoh.
Namjoon menjalankan mobilnya setelah Seokjin pindah duduk ke depan. Mereka tak banyak bicara–ya memang tak ada topik yang menurut Seokjin pas untuk mereka obrolkan.
"Kau tidak lupa untuk datang ke musikal Hayoung, kan?" tanya Namjoon ketika mobil itu sudah berada di depan gedung SNU.
Seokjin yang melepas sabuk pengamannya berbalik dengan cepat, berhadapan kembali dengan Namjoon. "Tentu saja, aku sudah mecatat tanggalnya."
Namjoon mengangguk–dengan tampannya. "Taehyung bilang juga akan datang. Lebih baik jika kalian berangkat bersama-sama."
Seokjin mengangguk. Ia hampir meloncat keluar dari mobil Namjoon jika tak ingat satu hal. "Tapi Tuan–maksudku Namjoon–maksudku hyung. Anda tetap tidak bisa menyisihkan waktu anda sebentar saja? Untuk melihat penampilan Hayoung."
Lelaki di hadapannya tersenyum tenang. Ia mengangguk sambil memejamkan matanya singkat, berusaha meyakinkan. "Kuusahakan,"
Lalu Seokjin turun dengan jantung berdegup tak karuan karena terlalu lama menatap wajah tampan pebisnis kaya itu, sekaligus bersaksi atas ketampanan yang dimilikinya!
.
.
.
Sejak pagi Seokjin sudah bersiap. Bersiap lebih awal, sarapan kimbab dengan tenang dan senyuman, lalu mampir ke laboratoriumnya untuk memberi laporan kepada ketua laboratoriumnya.
"Kau di mana?"
Seokjin menerima panggilan Jongkook dengan tergesa. Tangannya masih sibuk menata tabung reaksi. "Sebentar, kook." Ucapnya tergesa sambil menaruh ponselnya di meja, membiarkan panggilan Jongkook terus tersambung.
"Kau di lab?"
Seokjin tak menjawab. Ia berlarian agar bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, pekerjaan temannya sih, namun menjadi tanggung jawab Seokjin karena temannya tak datang. Hari ini jadwalnya Hayoung pentas di pertunjukan sekolah, dan semalam ketika mereka bertemu sesuai jadwal les, Hayoung mewanti-wanti Seokjin untuk tidak terlambat.
Ini semua karena teman sesama asisten labnya yang tak datang pagi ini!
Sepuluh menit kemudian–Seokjin melupakan ponselnya dan juga telepon Jongkook–lelaki bermarga Jeon itu sudah menyapanya di pintu lab. "Hola, Jin!"
Dengan cepat Seokjin menoleh mendapati dua temannya yang ceria dan ramai itu sudah berjalan masuk ke labnya.
"Whoa, Jaehwan tak bersamamu?"
Seokjin menggeleng, menyelesaikan daftar nama sebagai tugas terakhirnya. "Ingatkan aku untuk memukulnya jika kita bertemu. Dia membuatku berlarian!"
Taehyung terkekeh. "Jaehwan memiliki urusan dengan Profesor Song, jangan memarahinya terlalu keras karena Ia telah dihabisi oleh Profesor Song, Jin."
Jongkook mengangguk sambil tertawa mengingat wajah Jaehwan yang berlarian di koridor. "Ya, wajahnya menunjukkan jika hidupnya akan tamat."
Seokjin meringis, mengambil tasnya lalu ponselnya. "Kita belum terlambat, kan?"
"Jika kita berangkat sekarang, tidak."
Maka mereka berangkat, naik mobil Taehyung yang sama nyamannya dengan mobil Namjoon, menuju sekolah Hayoung. 30 menit jika tidak macet, namun Taehyung menyingkatnya menjadi 20 sehingga mereka sempat bertemu Hayoung sebelum gadis itu pentas.
"Seonsaengnim!" gigi Hayoung berderet rapi terlihat menggemaskan saat memekik menyapa Seokjin. Ia melambaikan tangannya memberi petunjuk Seokjin di mana dirinya berada.
"Kau tak menyapaku?"
Hayoung tersenyum pada Tae sekilas. "Hai, Paman!" lalu dengan cepat Ia berbalik menghadap Seokjin lagi. "Saem, aku baru saja diberi roti oleh guruku, apakah aku boleh memakannya?"
Seokjin terkekeh sebentar mengetahui Taehyung yang merapal sumpah serapah tanpa suara mengetahui keponakannya tak ikhlas menyapanya, lalu Seokjin mengangguk sambil membelai kepala Hayoung. "Jika Hayoung mau, makan saja. Tapi jangan lupa bilang terimakasih lalu berdoa sebelum makan."
"Whoa, Jin." Jongkook memasang wajah terkejut. "Kau seperti itu?"
"Diam, Kook." Seokjin mengangkat tangannya hampir memukul bahu Jongkook. Seokjin beralih pada gadis kecil yang sedang melahap sandwich di tangannya ini, "kapan jadwal Hayoung pentas?"
Dengan mulut penuh, gadis itu mendengung sambil menaikkan matanya. "Sebentar lagi. Kata guruku, Hayoung bisa main dulu, dan jika waktunya tampil akan dipanggil."
Seokjin tersenyum lalu mengangguk.
"Papa tidak datang?"
Mereka bertiga berpandangan, terutama Seokjin yang kebingungan karena berhadapan langsung dengan Hayoung.
"Dia dalam perjalanan."
Lalu gadis itu tersenyum, masih dalam mulut penuh, lalu berlari. Sepertinya gurunya memanggil.
"Makan yang baik, Hayoung-ah!" teriak Seokjin pada gadis itu. "Kau berbohong?"
Taehyung menatap Seokjin dengan pandangan polosnya. Ia mengangkat bahu, juga tak terlalu paham harus bagaimana. "Dia tadi mengatakan akan mengusahakannya."
Seokjin mendecakkan lidahnya pelan. "Ya, dia juga bilang begitu padaku."
"Sudahlah, berharap saja Namjoon hyung bisa datang dan tak mengecewakan Hayoung lagi." Jongkook menenangkan, menarik dua temannya untuk mencari tempat duduk karena pertunjukan seni sudah dimulai dan mulai banyak orang tua berdatangan.
"Aku sempat melihat urutan tampil, Hayoung berada di urutan keempat."
Seokjin dan Jongkook menatap Taehyung bersamaan. "Darimana kau tahu?" ucap mereka bersamaan.
Jari Taehyung menunjuk ke pintu masuk. "Disana tertulis, bodoh."
Seokjin mengangguk, sedangkan Jongkook cemberut mendengar dirinya dipanggil bodoh. Mereka berdebat dan bermain tarik-ulur saat penampilan pertama selesai, hingga beberapa orang tua yang duduk di sekitar mereka melirik–ada yang menunjuk sambil berbisik!–ke arah keduanya.
"Bisakah kalian diam?" Seokjin berdesis menengahi.
Jongkook cemberut menghadap Seokjin. "Duh, Jin. Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya, sih?"
"Kook, aku kan bercanda."
"Kau terlalu sering bercanda, Tae, aku kan ingin serius." Jongkook masih merajuk.
"Diamlah!" Seokjin masih berdesis.
Mereka berdua tak mendengarkan Seokjin, masih berdebat hal enteng selama penampilan kedua. Di penampilan ketiga, Seokjin memukul keduanya, menyuruh untuk diam dan duduk dengan tenang, ketika seseorang menginterupsi di samping Seokjin.
"Syukurlah aku menemukan kalian."
Ketiganya sontak berhenti dan menoleh bersamaan, mendapati Namjoon yang sedikit terengah dengan jas dan mantel panjangnya.
"Kau datang?"
Namjoon mengangguk, terlihat kehabisan nafas lalu duduk di samping Seokjin. "Uh, di depan sangat ramai dan untungnya aku bisa masuk. Apakah aku terlambat?"
Seokjin menggeleng, memutar duduknya hingga menghadap Namjoon. "Tidak, giliran penampilan Hayoung sebentar lagi. Anda datang tepat waktu."
Namjoon terlihat berkeringat, sepertinya Ia benar-benar berlari hingga ke sini.
Tak lama, kelompok ketiga selesai menampilkan paduan suaranya. Giliran Hayoung dengan kelompok drum band. Seokjin dalam hati bersorak ketika Ia bertepuk tangan menyambut kelompok Hayoung. Ia tak sabar melihat bagaimana gadis kecil yang pintar itu menunjukkan bakat musiknya, seperti yang Ia ceritakan beberapa hari yang lalu.
Semua diam melihat anak-anak kelompok Hayoung memainkan alat musik yang beraneka ragam; ada drum kecil, ada pianika, ada terompet. Hayoung membawa pianika berwarna putih, sambil tersenyum ke arah mereka berempat. Mereka tak hanya memainkan alat musik namun juga menampilkan gerakan tarian sederhana namun apik, tentu saja pelatihnya berada di depan sambil mencontohkan.
Hingga akhir, Namjoon terdiam memperhatikan anak gadisnya. Jongkook berkali-kali memekik gemas sambil memukuli Taehyung, dan Seokjin tak berhenti tersenyum. Hayoung terlihat memukau bersama kelompoknya.
Mereka bersorak bertepuk tangan ketika musik berhenti, penampilan selesai. Diantara keempatnya, Jongkook yang paling heboh sambil menarik Taehyung berdiri dan bertepuk tangan heboh bersamanya. Seokjin, dari duduknya, bertepuk tangan tak kalah senang sambil melirik Namjoon. Lelaki itu terlihat berkaca-kaca, menahan luapan bahagia melihat anaknya di sana.
Hingga seluruh ruangan terkejut dan beberapa orang memekik. Keempatnya ikut mencari apa yang terjadi. Di atas panggung–Hayoung–Terjatuh sambil kesusahan bernafas.
"Ya Tuhan!" Jongkook menutup mulutnya dengan mata membulat, sedangkan Namjoon langsung berlari dan melompat ke panggung, memangku anak gadisnya.
Dari jarak beberapa meter ini Seokjin melihat jelas bagaimana wajah khawatir dan kebingungan Namjoon. Lelaki itu memangku gadisnya, dikerumuni beberapa siswa yang diatur oleh gurunya agar kembali ke belakang panggung, menepuk-nepuk wajah Hayoung sambil meneriakkan namanya.
"Ambulans, panggil ambulans, Jin!"
Perintah Taehyung langsung dilakukan Seokjin. Lelaki itu segera merangsek maju sambil menelpon ambulans, menjelaskan apa yang terjadi dan berteriak agar mereka datang secepatnya.
Mata Namjoon berkeliaran, menepuk-nepuk wajah anaknya dengan suara kacau. Wajahnya sungguh memperlihatkan kecemasan, tak peduli beberapa guru yang membujuknya untuk tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang, sialan!"
Seokjin meneguk liurnya, terkejut bukan main mendengar Namjoon yang selama ini terlihat tenang bisa sekalap ini mengenai anaknya.
"Namjoon?" teriak Seokjin dari bawah, berjarak beberapa langkah dari Namjoon yang ada di atas panggung. Lelaki itu masih mengguncang tubuh Narae yang terlihat memerah dan membengkak di bagian leher.
"Namjoon? Namjoon! Joon!" Suara Seokjin berteriak di semakin tinggi, hingga Ia akhirnya bisa mendapat perhatian Namjoon dan lelaki itu menatap Seokjin dengan mata yang berkeliaran. "Bawa Hayoung ke UKS, aku sudah memanggil ambulans."
Namjoon menganguk sambil menjilat bibirnya. Ia mengangkat tubuh anaknya yang lemas, berlari mengikuti salah seorang guru. Di UKS, ketika dokter sekolah mengeceknya, Namjoon memijit kepalanya dengan kebingungan.
"Dia memiliki alergi?"
Namjoon segera menoleh, menatap dokter sekolah dengan was-was. "Ya. Tuna."
Lidah Seokjin kelu mendengarnya. "Dia–Hayoung. Memakan–tuna, Ya Tuhan!"
Namjoon menggigit bibirnya, matanya masih kebingungan dan awas.
Ada sekitar sepuluh menit hingga ambulans sampai, dan dengan teriakan Namjoon memaksa membawa Hayoung ke rumah sakit. "Dia alergi, dan dia memakannya!" teriaknya final membentak petugas ambulans, menggotong Hayoung masuk dan menggenggam tangan gadisnya yang tak sadarkan diri.
Dan Seokjin masih berdiri, mematung di depan pintu ruang UKS, menyadari kebodohannya memperbolehkan Hayoung memakan sandwich tunanya. Seokjin sama sekali tak berpikir jauh tentang kemungkinan alergi yang dimiliki Hayoung.
"Kau tak mau menyusul Hayoung?" Taehyung dan Jongkook berdiri di belakang Seokjin. Ia menghela nafas, mengurangi sesak di dadanya, lalu menjatuhkan kepalanya di pundak Jongkook.
Jongkook menepuk punggung Seokjin beberapa kali, memberi kekuatan pada sahabatnya agar tak menyalahkan dirinya. "Ayo ke rumah sakit, kita harus menemani Namjoon hyung."
"Ya, dia sering emosi jika berhubungan dengan keluarganya."
Maka mereka menyusul Namjoon dan Hayoung menuju rumah sakit terdekat, dan Seokjin berlari setelah Taehyung memarkir mobilnya. Yang Ia tuju adalah IGD, pasti Hayoung berada di sana dan Namjoon membutuhkan seseorang untuk menenangkannya.
"Joon?"
Seokjin setengah tersengal akibat berlari, mendapati Namjoon yang mondar-mandir di depan IGD sambil berkacak pinggang. Ia berkeringat, dan matanya masih awas seperti sebelumnya. Ketika Ia menoleh mendengar suara Seokjin, yang Ia lakukan adalah menarik lelaki itu mendekat padanya dan memeluk Seokjin dengan cepat. Sangat erat, terlalu erat.
Jelas Namjoon ketakutan, dan Ia berusaha menyalurkan ketakutannya pada Seokjin. Mungkin karena rasa takutnya yang terlalu menjadi. Nafasnya terngerah, tersengal lebih parah dibanding Seokjin yang berlarian menuju IGD.
"Seokjin, Hayoung–"
Seokjin yang dalam kondisi terkejut setengah mati, berusaha menyesuaikan diri dan menepuk punggung Namjoon, memberikan ketenangan pada lelaki itu. "Tidak apa, Hayoung sudah berada di sini. Semuanya akan baik-baik saja, Joon."
Nafas Namjoon masih terengah tak beraturan di telinga Seokjin. Lelaki itu makin menarik tubuh Seokjin dan menempelkan wajahnya pada ceruk leher Seokjin, membiarkan udara nafasnya menyapu leher si mahasiswa. "Hayoung–sungguh aku ketakutan."
Seokjin jelas saja tak menyangka lelaki ini akan bereaksi ketakutan hingga taraf demikian. Ia meneguk liurnya dengan kasar, menepuk punggung Namjoon dengan pelan, menggusaknya kemudian. "Ya, aku tahu. Hayoung akan baik-baik saja, Joon."
Namjoon makin menenggelamkan wajahnya ke leher Seokjin, menangis di leher lelaki itu.
Seokjin yang buta tentang hubungan keluarga, buta tentang hubungan anak-bapak, sedikit banyak tak bisa merasakan apa yang Namjoon rasakan. Ya, Ia paham tentang ketakutan, Ia paham tentang rasa kehilangan, juga tentang rasa khawatir. Namun Namjoon adalah pribadi yang Ia nilai sangat kuat dan sangat tenang, bisa bereaksi demikian ketakutan dan rapuhnya saat mengetahui anaknya dalam kondisi demikian. Seokjin hanya bisa menenangkan lelaki yang memeluknya masih erat ini.
"Hyung–"
Suara Taehyung menginterupsi, membuat Seokjin refleks memundurkan tubuhnya dan berusaha melepas pelukan Namjoon. Namun lelaki itu masih bergeming, masih berusaha mengatur nafasnya, masih memeluk Seokjin dengan eratnya, masih menempelkan wajahnya di ceruk leher Seokjin.
Dahi Taehyung berkerut, terkejut bukan main melihat sepupunya memeluk Seokjin sedekat itu–mereka hampir menempel seluruhnya!
"Hyung, ini di rumah sakit. Kalian tak tahu jika kalian jadi bahan tontonan?" gumam Taehyung langsung dipukul oleh kekasihnya.
"Kau ini diam saja dan jaga mulutmu, Tae!" desis Jongkook lalu menarik Taehyung menjauh, memberikan waktu bagi Namjoon untuk menenangkan pikirannya. Di mana mungkin Seokjin menjadi tempat yang dinilainya tepat untuk menenangkan pikiran.
Kesadaran Seokjin kembali seutuhnya, mengingatkannya jika yang memeluknya ini adalah Kim Namjoon yang seperti dewa itu. "Tuan–Kau baik?"
Namjoon masih terdiam, masih tetap di posisi yang sama hingga beberapa menit kemudian.
"Tuan–"
"Panggil aku seperti tadi, Seokjin."
"Eh?" Uap hangat yang keluar dari mulut Namjoon saat Ia berbicara membuat tubuh Seokjin refleks mundur.
"Jangan panggil aku seperti biasanya, panggil aku Joon saja."
"Ya?"
Namjoon melonggarkan pelukannya, menunduk menyembunyikan wajahnya. Tangannya masih mengukung tubuh Seokjin, berada di kedua bahunya dan memaksa Seokjin untuk tetap berdiri di hadapan Namjoon. Perlahan wajah Namjoon diangkat, menampilkan wajah kuyu dan mata merah berair. "Panggil aku Joon saja." Ucapnya lirih dan serak sambil menatap Seokjin.
Itu pertama kalinya. Seokjin merasa ini pertama kalinya Ia ditatap mata setenang, semembutuhkan, dan sedalam ini. Sungguh Seokjin belum pernah mendapatkan tatapan demikian, bagaimana tatapan itu seolah menembus hingga ke belakang kepalanya, mengenai langsung ke jantungnya dan meremasnya, menyebabkan detakan abnormal jantung Seokjin.
"Itu menenangkan." Lirih Namjoon masih menatap Seokjin.
Seokjin menjilat bibirnya yang terasa kering, tak tahan ditatap mata Namjoon. Ia akhirnya mengangguk, mengusap tangan Namjoon yang ada di sisi bahunya. "Ya, tentu. Sekarang duduklah dan tenangkan dirimu."
-TBC-
FYUH, CAPEK AING :(
RnR sayangkuuh?
Hehe, ILY!
