A Blessing in Disguise

Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others

Length : Parts

Rate : T

Genre : Romance, FamilyLife.

A Blessing in Diguise

Perasaannya campur aduk, sumpah. Ia tahu dirinya gay, dan Ia tahu dipeluk orang seperti Namjoon–yang tampannya luar biasa–di depan publik, dengan jarak seintim itu, jelas membuat perut Seokjin serasa diaduk. Ia gay! Dan Namjoon seolah tahu orientasi seksualnya demikian, seolah mengolok Seokjin dengan melakukan hal itu.

Dan mengingat bagaimana straightnya Namjoon, memiliki Hayoung dan Ibu gadis itu, seolah meyakinkan Seokjin jika lelaki itu memperoloknya.

"Tidak, Ia hanya sedang lemah dan dunianya sedang hancur. Ia membutuhkan tempat berlindung. Tenangkan pikiranmu, Seokjin, sadarlah."

Kalimat itu dirapal Seokjin beberapa menit, menenangkan dirinya sendiri di dalam bilik toilet. Ia merapal kalimat itu seolah merupakan mantra yang bisa menyadarkannya.

Bahwa Namjoon straight.

Bahwa Namjoon memeluknya bukan seperti bayangannya.

Bahwa Namjoon hanya membutuhkan orang yang bisa menguatkannya saat itu–saat itu.


.

.

.


Kim Hayoung alergi terhadap tuna, menyebabkan gadis itu mengalami peradangan di kerongkongannya. Selama hampir tiga jam tubuhnya membengkak dan kemerahan namun segera reda setelah dokter memberi pertolongan. Namun tidak lehernya, leher gadis itu juga membengkak dan bertahan hingga malam hari.

Gadis itu tertidur, terlihat tenang dan lelap sekalipun kondisi tubuhnya tidak baik. Namjoon menunggu anak gadisnya di rumah sakit, melupakan kewajibannya untuk datang rapat hari Jumat setelah makan siang, melupakan janjinya untuk mengunjungi Orang tuanya bersama Hayoung.

Kedua orang tuanya sudah dikabari, sempat menjenguk Hayoung beberapa jam, namun harus kembali karena mereka memiliki jadwal pertemuan dengan komite audit perusahaan di Milan.

Meninggalkan Namjoon dengan kemejanya yang berantakan, terduduk menggenggam tangan Hayoung. Tangannya yang satu lagi mengelus dahi anak gadisnya sejak panas gadis itu mulai turun.

"Kau tak lapar?"

Namjoon segera menoleh, mendapati Seokjin yang berdiri canggung di belakangnya dengan jarak beberapa langkah. Ia tak memikirkan tentang perutnya, atau tentang pekerjannya sama sekali. Dengan mata lelah Ia menggaruk kepalanya. "Apa sekretarisku menelpon?"

"Ya," Seokjin mengangguk sambil menyerahkan ponsel Namjoon yang tadi sempat dibawanya karena lelaki itu terlalu bingung untuk menjawab panggilan. "Dia bilang akan mengatur jadwalmu kembali dan akan datang menjenguk Hayoung."

Namjoon tersenyum simpul, wajahnya sungguh kuyu.

"Pergilah ke kantin, aku akan menjaga Hayoung."

Namjoon baru sadar, jika Seokjin benar-benar berada di sini menunggunya, sedangkan hari sudah gelap dan Taehyung tak terlihat. "Kau tidak pulang?"

"Tidak." Ia menjilat bibirnya, dua kali, lalu berdeham. "Namjoon, kumohon maafkan aku. Hayoung sempat meminta izinku untuk memakan sandwich pemberian gurunya dan aku memperbolehkannya."

Namjoon mengangguk, masih tersenyum simpul. "Tidak apa, lagipula Hayoung sudah membaik."

"Aku masih merasa bersalah pada Hayoung."

Namjoon berdiri, memegang pundak Seokjin pelan. "Tidak apa, tenang saja."

Seokjin menghembuskan nafasnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia mengangguk meyakinkan dirinya.

Mereka terdiam beberapa saat.

"Makanlah, Joon, kau belum makan sejak siang."

Dan ucapan lembut dari Seokjin, ditambah panggilan itu, membuat Namjoon tersenyum simpul dan menurut. Ia mengangguk, tanpa banyak bicara, lalu berjalan ke luar ruangan. Tersisa Seokjin dan Hayoung, gadis yang tertidur dengan tenang.

Seokjin menghembuskan nafasnya, mengatur emosinya, lalu duduk di kursi di samping tempat tidur Hayoung. Tangannya terulur merapikan rambut Hayoung. Leher gadis itu masih membengkak, terlihat dengan jelas.

Jelas saja Seokjin merasa tak enak. Sekalipun tak ada yang menyalahkannya karena mengizinkan Hayoung memakan sandwich yang ternyata berisi tuna itu, tetap saja Ia menyalahkan dirinya sendiri. Sekalipun Jongkook menenangkannya dan mengingatkannya bahwa Seokjin mengizinkan Hayoung memakannya karena Ia tak tahu alergi Hayoung, tetap saja Ia merasa bersalah.

Ia hampir menangis hingga suara pintu kembali terbuka, Namjoon berjalan masuk dengan tenang.

"Kau sudah selesai makan?"

Namjoon tersenyum simpul lalu mengangguk, "pulanglah, Jinseok. Kau butuh istirahat juga."

"Lalu kau?"

Ada jeda sebelum Namjoon menjawab. "Tidak mungkin aku meninggalkan Hayoung sendirian."

Benar. Namun Seokjin tidak buta, Ia melihat Namjoon tidak dalam kondisi berantakan. "Kau tidak baik, Joon."

Dada Namjoon berdesir sekali lagi, merasakan panggilan Seokjin untuknya, yang sekarang terdengar lancar keluar dari mulut Seokjin. Namjoon tak menjawab beberapa saat, akhirnya tersenyum sedikit cerah. "Kuantar kau pulang, lalu aku akan berganti pakaian yang lebih nyaman dan kembali kemari."

Mereka sepakat. Namjoon mengecup dahi Hayoung beberapa detik, lalu berjalan keluar. Dan Seokjin–dengan baiknya–merapikan jas, mantel, dan tas Namjoon yang tertinggal. Mereka berjalan dengan langkah lebar, berpesan pada suster jaga untuk menjaga Hayoung yang sendirian di kamar, lalu berjalan menuju parkiran tetap dengan langkah lebar.


.

.

.


Hari Sabtu, Seokjin datang pagi-pagi sekali. Membangunkan Namjoon yang tertidur di sofa, lalu menyapa Hayoung yang sudah terbangun.

"Bagaimana keadaanmu?"

Hayoung tersenyum simpul mirip Namjoon, Ia mengangguk dan matanya berbinar. "Seonsaengnim membawa apa?"

Seokjin melebarkan matanya, mata Hayoung tetaplah jeli. Ia tersenyum lalu mengangkat kotak makan yang Ia bawa. "Seonsaengnim memasakkan Hayoung bubur, kucampur dengan cincangan dada ayam dan kecambah."

Hayoung cemberut. "Hayoung tak suka kecambah."

Dan si mahasiswa sudah menebak reaksi anak gadis ini. Karena dengan semangat, Seokjin membuka kotak makannya dan menunjukkan pada Hayoung. "Lihatlah, semuanya putih dan harum. Hayoung yakin tak mau?"

Gadis itu melirik Seokjin bergantian dengan kotak makan berisi bubur itu. Benar ucapan Seokjin, bubur itu semuanya putih, tak terlihat kecambah seperti yang Hayoung bayangkan. Hanya ada potongan kecil ayam diantaranya, juga potongan daun seledri di atasnya.

"Kecambah sangat baik untuk tubuh Hayoung yang sakit, namanya antioksidan."

"Anti apa?"

Seokjin tertawa. Ada tawa lain di ruangan, ternyata Namjoon sudah selesai membilas wajahnya di kamar mandi dan sejak tadi melihat interaksi keduanya. "Benar, Hayoung. Kecambah sangat baik untuk tubuh."

Seokjin merasa menang. "Coba dulu bubur ini, jika Hayoung merasakan ada kecambah dan Hayoung tak suka, kembalikan pada seonsaengnim."

Maka Hayoung menerima sendok pemberian Seokjin, mengaduk bubur itu mencari ekor kecambah yang rasanya aneh. Tidak ada, karena memang Seokjin merebusnya terlebih dahulu hingga cukup lunak, lalu mencincangnya sehalus mungkin namun tetap memiliki tekstur.

"Bagaimana?"

Hayoung terdiam beberapa saat setelah menyuapkan bubur buatan Seokjin. Sungguh Seokjin berdebar menunggu reaksinya.

Gadis itu tersenyum lebar, menaikkan jempolnya. Tawa kedua orang dewasa itu berhambur melihat Hayoung yang lahap.

"Masakan seonsaengnim lebih enak dari masakan rumah sakit, Hayoung-ah."


.

.

.


Seokjin tak menemani Hayoung seharian, karena Ia memiliki janji dengan Hoseok untuk bekerja borongan setelah minggu sebelumnya membatalkan janjinya. Hayoung terlihat cemberut saat Soekjin berpamitan, namun Papanya berjanji untuk menelpon Seokjin saat Hayoung akan tidur–mirip cara Seokjin berjanji pada Hayoung saat ditinggal Namjoon.

Benar saja, ponsel Seokjin berdering saat mahasiswa itu mengoreksi laporan praktikum.

"Hayoung-ie?" sapa Seokjin buru-buru, Ia mendorong laptopnya, melemparkan tubuhnya di kasur untuk beristirahat, dan tersenyum menunggu jawaban anak gadis itu.

"Bukan, ini Papanya." Suara bass itu terdengar merdu dan lembut.

Tubuh Seokjin terlonjak, duduk dengan tegap, terkejut mendengar suara berat Namjoon.

"Hayoung sudah tidur karena obat yang Ia minum."

Seokjin mengangguk, kebingungan atas apa yang harus Ia lakukan.

"Kau sibuk?"

"Eh?" Seokjin merasa bodoh dengan jawabannya. "Aku... ya, aku memeriksa laporan hasil praktikum."

"Kau laborat?"

"Tidak, aku asisten."

"Ah, benar. Ini tahun ketigamu, ya?"

"Ya benar."

Namjoon terdiam beberapa saat, sedangkan Seokjin mulai berpikir macam-macam; apakah Ia menjawab sesuatu yang salah?

"Aku memiliki perusahaan obat-obatan, Jinseok."

"Eh?"

"Kau jurusan Kimia, mungkin aku bisa mengenalkanmu kepada mereka."

Seokjin termangu. "Apakah itu perlu?"

"Kau tak mau?"

Ya tuhan! Jelas saja mau!

"Bukan, maksudku kau terlalu baik, memperlakukanku dengan baik dan sangat baik malah. Jujur saja, aku merasa dihargai olehmu dan Hayoung, juga Bibi Lee."

"Lalu?"

Seokjin menjilat bibirnya, lalu menggigit bibirnya beberapa saat. Sungguh, Ia kebingungan dengan situasi demikian. "Uh, bagaima aku menjelaskannya, ya? Tuan Namjoon, kau sungguh baik dan sangat baik. Kau mengajarkan anakmu semua tentang kebaikan. Dan kalian memperlakukanku dengan sangat baik, lebih dari yang seharusnya kudapatkan. Tapi apakah itu benar?"

"Memperlakukan orang lain dengan baik adalah suatu kesalahan?"

"Bukan–"sergah Seokjin cepat. "Sungguh, aku tak pandai menjelaskan ini. Bagaimana ya?" Seokjin mendengung berfikir.

"Seokjin.." suara Namjoon yang lembut menyapa indra pendengar Seokjin, membuat lelaki itu merinding membayangkan Namjoon yang mengatakan hal itu. "Seseorang akan selalu mendapat apa yang telah Ia berikan, selalu memetik apa yang Ia tanam, selalu mendapat imbalan atas yang Ia lakukan."

Seokjin mendengar.

"Jika kau mendapatkan kebaikan bertubi, jangan pernah menolaknya apalagi mempertanyakan hal itu. Karena mungkin saja itu merupakan imbalan atas apa yang telah kau berikan, atau mungkin itu semua adalah balasan atas pengorbananmu selama ini."

"Ya,"

Namjoon terkekeh. "Kau punya aku, jika membutuhkan apapun."

"Eh?"

"Kau bisa mengajukan permohonan magang pada kami, kau bisa meminta beberapa data kami untuk hasil riset, kau memilikinya."

"Aku bisa meminta?"

Namjoon terkekeh. "Ya, tentu saja."

Seokjin senang bukan main mendengarnya. Semester depan Ia harus segera menyelesaikan studinya agar cepat selesai dan wisuda. Lalu tiba-tiba Namjoon menawarinya magang, data untuk riset, WOW!

"Sungguh, terimakasih, Joon!"

Seokjin tersenyum lebar, melemaskan tulang punggungnya sekali lagi dengan tiduran di kasurnya.

"Aku senang kau memanggilku demikian, Jinseok."

Senyuman di bibir Soekjin perlahan menghilang. Ia baru sadar, bahwa Ia sudah sangat lancar memanggil Tuan-Kim-Namjoon dengan panggilan kurang ajar tanpa sufiks; Joon. Juga bagaimana Namjoon yang entah darimana memanggilnya demikian. Hatinya berdesir, tentu saja.

Seokjin berdeham ketika perutnya mulai geli. "Ngomong-ngomong, ada apa menelponku? Kupikir Hayoung yang menelpon."

Namjoon terkekeh geli. "Tidak,"

"Lalu?" Seokjin bertanya santai, lalu tercekat kemudian.

"Ingin saja."

WOW!

Seokjin menggigit bibirnya, kebingungan lagi atas situasi ini.

"Hayoung sangat nyaman denganmu, Jinseok."

"I–Iya, benar."

"Dan aku akan nyaman atas pilihan Hayoung."

Bagai disambar petir, Seokjin melotot mendengar penuturan Namjoon. Sungguh, akumulasi figur sempurna Namjoon, ketampanan wajahnya, bagaimana sikap dewasanya menghadapi anak kecil, lalu bagaimana tampannya Ia saat menjadi Kim-pengusaha sukses-Namjoon, semuanya menumpuk menjadi satu dalam bayangan Seokjin, membuatnya merasa mual dan geli dalam satu waktu.

"Aku membuatmu merasa tak nyaman?" intonasi suara Namjoon naik di akhir kalimatnya, menunjukkan kekhawatirannya. "Maaf, Jinseok, aku sungguh tak pandai urusan begini."

Seokjin tertawa garing, buru-buru meyakinkan Namjoon jika ini tak masalah. "Tidak, tidak apa. Aku bisa mengerti."

"Mengerti apa, Jinseok?"

Seokjin menggigit bibirnya sekali lagi, hampir terluka karena terlalu sering digigiti. Seokjin tak tahu jawaban pertanyaan Namjoon, karena sejujurnya Ia tak paham apa yang Ia ucapkan sejak tadi.

"Tidak apa," Namjoon memotong. "Aku memang tak pandai urusan begini, namun aku tak akan memaksamu."

"Namjoon–" Suara Seokjin tercekat.

Namjoon menjawab dengan cepat. "Ya?"

Seokjin memejamkan matanya lama, mengatur kinerja tubuhya agar kembali normal, menghembuskan nafas untuk menenangkan dirinya. "Selamat tidur."

Namjoon terkekeh sebelum menjawab. "Ya, selamat tidur. Semoga mimpi indah dan diberkati."

Seokjin menahan nafas, begitu panggilan terputus, Ia tanpa bisa ditahan berteriak dan meloncat-loncat di atas kasur, lalu berlari ke luar kamar dan mencari Hoseok.

"Wajahmu memerah, kau sakit?"

Seokjin tersenyum makin lebar, tak peduli jika wajahnya memerah semerah apa, Ia meninju Hoseok main-main saking senangnya.


.

.

.


Hubungan Namjoon dan Seokjin berubah secepat topan. Dua malam berturut setelah hari Sabtu itu, Namjoon menelpon Seokjin, hari Minggu Hayoung yang menelpon beberapa saat lalu memberikannya pada Papanya, namun sungguh di hari Senin malam lelaki itu menelpon Seokjin tanpa alasan apapun.

Namjoon–menelpon–Seokjin.

Jelas saja dunia Seokjin seolah dijungkirbalikkan. Bagaimana Namjoon hanya menelponnya untuk bertanya hal-hal sepele, atau bagaimana Namjoon bertanya tentang kuliahnya, yang sebenarnya tak perlu ditanyakan untuk hubungan Namjoon-Seokjin; Wali murid-guru.

Dunia Seokjin sungguh amburadul, jantungnya berdegup dengan tempo cepat seperti anak remaja bertemu idolanya, perutnya merasa diaduk dan mual, atau senyumannya yang lebih sering muncul tiba-tiba diikuti rona merah di wajahnya.

"Kau yakin baik-baik saja?" Hoseok bertanya khawatir pada Seokjin setelah temannya tersenyum mirip orang gila sejak perjalanan dari lab.

"Ya, kau lebih sering tersenyum, Jin."

Seokjin melebarkan matanya dan mengangkat alis, memasang senyuman lebar namun datar. "Aku baik. Kalian baik?"

Yang malah dilihat sebagai keanehan oleh tiga orang temannya–dua sih, karena yang Taehyung pedulikan hanya Jongkooknya.

Di jam makan siang, ponsel Seokjin bergetar. Mereka baru selesai kelas Profesor Hong yang melelahkan dan menegangkan dan mengerikan.

"Jin, ponselmu bergetar, kau melamun?"

Seokjin buru-buru mengangkat ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya lalu berdesis lirih, "mati aku."

Jongkook yang sedang merapikan buku di dekat Seokjin menoleh, "mati kenapa?"

Seokjin menggigit bibir, berucap 'kim namjoon' tanpa suara, mengangkat buku-bukunya dalam sekali gerakan lalu mengangkat panggilan itu seraya melambaikan tangannya pada teman-temannya. Ia tak mungkin mengangkat panggilan itu di depan ketiga temannya, apalagi Taehyung dan Hoseok.

"Ya?"

"Aku di depan kampusmu, kita makan siang?"

"Eh?"

Dan di sinilah Seokjin, duduk di depan Namjoon, berdua saja, menunggu pesanan mereka datang.

Jarak mereka sungguhlah dekat, Seokjin bisa melihat jelas figur Namjoon yang terlihat supertampan dalam balutan jas lengkap dan rambut yang tertata rapi, sedangkan dirinya hanya memakai kaos dan kemeja yang tak dikancingkan, jeans, dan converse yang sudah belel.

"Kupikir Hayoung akan ikut."

Namjoon tersenyum menatap Seokjin. "Kau mau Hayoung ikut?"

Ya. Dan tidak. Duh Seokjin bingung dan serba salah!

"Kau tak nyaman?"

Seokjin masih terdiam. Namjoon berturut-turut memberikan pertanyaan yang memiliki jawaban ganda bagi Seokjin. Yang pertama; Seokjin ingin Hayoung ikut agar menghindari kecanggungan yang mungkin terjadi karena ulahnya, namun Seokjin juga tak ingin Hayoung ikut agar Ia bisa leluasa melihat wajah rupawan yang tidak bisa ditemuinya di sembarang tempat ini. Sama halnya untuk pertanyaan kedua.

Namjoon tetap mengajaknya berbincang sekalipu Seokjin tak menjawab dua pertanyaannya tadi. Ia bertanya tentang kuliah Seokjin, bagaimana pekerjaannya yang menjadi asisten lab, atau pekerjaan Seokjin di minimarket. Semuanya tentang Seokjin, Ia tak pernah bercerita tentang bagaimana keluh kesah atau penatnya Ia menjalani pekerjaannya–yang jelas lebih memusingkan.

Seokjin terkekeh, "Aku merasa menjadi anakmu sekarang."

"Huh?" Namjoon melotot lebar.

Seokjin menjilat bibirnya, meyakinkan dirinya jika ucapannya tadi tak salah. "Kau, bertanya semuanya tentangku, seperti orang tua yang ingin tahu perkembangan anaknya." Seokjin tersenyum, lalu berbicara lirih, "sekalipun aku tak tahu betul bagaimana orang tua yang ingin tahu perkembangan anak."

Terlihat jelas wajah terkejut Namjoon, lelaki itu terdiam beberapa saat lalu tersenyum tipis. "Kau ingin tahu tentang pekerjaanku?"

Seokjin tak yakin. "Bukankah hal seperti itu yang biasa dilakukan orang tua kepada anaknya?"

Namjoon terkekeh, "semuda apa aku saat menikah hingga aku memiliki anak seumuranmu?"

Sayangnya Seokjin tak bisa tertawa, hanya ikut tersenyum mencoba memahami semua perilaku Namjoon.

Mereka menyelesaikan makan dengan cepat karena Seokjin berbohong jika dirinya harus menyiapkan lab lalu secepat mungkin harus pergi ke minimarket tempatnya bekerja paruh waktu di pukul satu. Seokjin, si mahasiswa yang sering merasa sungkan, berkali-kali meyakinkan Namjoon untuk mengantarnya sampai gerbang, namun Namjoon menolak dan mengatar Seokjin ke depan gedung fakultasnya.

"Kau dari mana?"

Seokjin mengerjapkan matanya beberapa kali. Itu Taehyung dan Jongkook, sedang pacaran di bangku taman dan melihat Seokjin turun dari mobil Namjoon.

"Eh?"

Dahi Taehyung makin berkerut. "Itu mobil Namjoon hyung?"

"Eh?"

"Kau ya?" Taehyung mulai memahami situasi dan tanpa sadar berteriak.

"Aku tidak." Sergah Seokjin dengan kikuk.

"Jin, kau pergi makan siang dengan Namjoon hyung?"

"Eh?"

"Kim Namjoon? Namjoon hyungku?"

Jongkook merasa aneh, meremas tangan Tae pelan. "Tae?"

Wajah Taehyung cukup tegang, dengan alis sedikit menyatu dan dahi berkerut, Ia menajamkan mata. "Jin, kau dekat dengannya?"

Seokjin terdiam. Hubungannya dengan Namjoon tidak jelas. Seokjin jelas memiliki harapan jika Namjoon tiba-tiba berubah gay dan ikut menyukainya sedangkan Namjoon tidak gay dan hubungannya bisa dikatakan hanya sebatas itu saja.

Dan seperti biasanya, Jongkook adalah penyelamat Seokjin. "Taehyung? Kau kenapa sih?" Ia menarik wajah Taehyung agar menatap matanya dengan halus. "Jika Seokjin dan Namjoon hyung dekat atau apapun itu, lalu apa masalahnya?"

Taehyung mengerjap beberapa kali, baru menyadari apa yang Ia lakukan. Ia menoleh kembali pada Seokjin, menatap wajahnya lalu menggumam sangat lirih. "Karena Namjoon hyung–"

-TBC-

BAM! Sukurin malem-malem aku dateng update lagi hehe. Gini deh, susah bgt nahan diri :( gak apa, karena aku juga gatau bab 7 yang udah selesai bakal ku publish kapan KARENA besok kuliahku sudah mulai hectic dan aku susah nyolong waktu saking hecticnya.

BTW guys, aku curhat maaf nih ya hehe. Duh guys, rek, sayangku, aku mellow bgt nih orangnya, seneng banget bacain reviewan kalian, serius aku ketawa-happy sendiri :( YOU GUYS MY SUPPORT SYSTEM huuuuuu, saranghae buset deh maaf ketauan receh-garing-sok asik nya aku ya ehhehe

RnR, sayangku?

ILY! ILY! ILY!