A Blessing in Disguise

Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others

Length : Parts

Rate : T

Genre : Romance, FamilyLife.

Warning! 4k words on this chapter, so you better ready

A Blessing in Diguise

Jongkook dan Hoseok memekik hampir bersamaan ketika Seokjin ketahuan dijemput Namjoon di gedung fakultasnya. Wow, si tua yang tampan luar biasa itu sekarang berani melangkah maju beberapa langkah dengan berani menunjukkan dirinya di banyak orang, menunjukkan senyum lebarnya pada Seokjin sedangkan Taehyung melongo menatap mereka.

"Jin, kau berhutang banyak cerita padaku!" Jongkook berteriak tanpa malu saat Seokjin berjalan di belakang Namjoon.

"Ya benar. Awas saja jika kau tak bercerita nanti!"

Mereka berdua terkikik mirip remaja sedang puber, sedangkan Taehyung terlihat paling terkejut. Dari semua yang dipilihkan orang tuanya, Namjoon memang memiliki kualitas dan selalu berhasil melihat hal dari aspe yang berbeda, dan Taehyung mengakuinya. Ia bahkan mengagumi cara pandang Namjoon hingga detik ini.

"Temanmu itu kenapa, Jinseok?"

Seokjin melirik Namjoon dengan kesal setengah mati–kesal setengah mati bagi Seokjin adalah ketika kau merasa ingin menyumpah hingga ke ujung lidah. Seokjin melihat bagaimana Namjoon berpakaian hari ini, dan bagaimana caranya tersenyum seolah sedang berjalan di catwalk, uh, Seokjin ingin memukul kepalanya.

"Pikirkan saja sendiri bagaimana sikapmu, Tuan Kim Namjoon yang Terhormat." Seokjin berseloroh sambil masuk ke mobil Namjoon, hampir membanting pintu mobil itu karena kesal jika tidak ingat harga pajak mobil ini–ya, pajaknya saja sudah membuat Seokjin melongo.

Namjoon terkekeh, ikut masuk lalu memasang sabuk pengamannya dengan senyum lebar. "Kau kenapa marah? Kau cemburu karena banyak orang melihatku?"

Matanya melotot tanpa bisa Seokjin kendalikan. "Kau berharap aku cemburu?"

Namjoon mengangguk dengan senyuman.

Seokjin memutar bola matanya hiperbola, berharap Namjoon langsung menjalankan mobilnya. Ups, tapi tidak. Lelaki itu malah tersenyum lebar, menatap lurus ke wajah Seokjin. "Sungguh aku senang melihat sikapmu yang seperti ini."

Telinga Seokjin memerah mendengarnya.

"Kau terlihat, seperti manusia sungguhan."

Seokjin hampir mematahkan lehernya, atau memotong lidah Namjoon, jika tidak ingat umur Namjoon yang jauh lebih tua darinya. Sekalipun Namjoon selalu memposisikan dirinya sebaya dengan Seokjin, tidak pernah bersikap sok otoriter karena jauh lebih tua, Seokjin selalu memahami jika umur Namjoon jauh di atasnya. Ia jauh lebih pantas dihormati.

Mobil Namjoon mulai berjalan, memutari lapangan yang banyak memiliki kursi taman di bawah pohon di depan fakultas Seokjin, membunyikan klakson ketika melewati kursi taman yang diduduki teman-teman Seokjin.

"Tidak boleh membunyikan klakson!" pekik Seokjin kesal.

Namjoon, sekali lagi, malah tertawa. Ia gemas melihat sisi Seokjin yang jarang Ia lihat ini.

Mereka makan mie dingin di dekat kampus Seokjin, atas paksaan Seokjin. "Jika kau ingin bersamaku, kau harus terbiasa dengan apa yang sering kulakukan."

Maka Namjoon menurut, sekalipun Ia harus melepas jasnya sehingga Ia hanya memakai kemeja dan dasi–agar penampilannya tak terlalu anjlok pula.

Sayangnya, niat Seokjin memberi pelajaran kepada Namjoon tentang kehidupannya tidak berjalan mulus. Lelaki itu, dengan santainya, bersikap layaknya Ia biasa melakukan ini. Sekalipun Taehyung yang sering dipaksa Hoseok dan dirinya datang untuk makan mie dingin setelah tiga tahun kuliah, tetap tak terlalu suka makan di sini. Sekarang lihat, siapa yang sedang meminta kimchi tambahan seolah Ia sudah langganan di tempat ini.

Sayangnya, lagi, setelah mereka selesai makan sesuai permintaan Seokjin, Namjoon memanfaatkan keadaan.

"Jika kau mau bersamaku, maka kuharap kau mau terbiasa dengan apa yang sering kulakukan juga, Jinseok." Lelaki itu berbisik lirih ketika menjalankan mobilnya, bergumam kecil mengikuti lagu yang di putar di radio, menunjukkan jika kondisi perasaannya sedang baik saat ini.

Seokjin menahan nafas, mengetahui Namjoon mengatakan kembali ucapan yang Ia gunakan tadi saat mengajak Namjoon makan mie dingin sekalipun Namjoon sedikit mengubahnya. Jelas Seokjin paham, kalimat lelaki itu tak memaksa seperti kalimat Seokjin. Namjoon memberikan peluang bagi Seokjin untuk tak melakukannya, Namjoon memberinya ruang bergerak, sama sekali tak memaksa.

Dan Seokjin nyaman dengan cara Namjoon yang tak memaksanya.

Lelaki itu membawa mobilnya ke daerah Gangnam, tempat semuanya terlihat mahal dan berkelas. Namjoon masih melepas jasnya dan kini melonggarkan dasinya, membiarkan dirinya hanya memakai kemeja yang lengannya telah Ia lipat hingga batas siku. Tidak membiarkan Seokjin merasa terintimidasi dengan perbedaan busana keduanya.

Namjoon menangkap jemari Seokjin ketika mereka jalan beriringan di trotoar, menggenggam tangannya seperti genggaman tangan mereka pertama kali–hangat dan lembut. Sehangat itu genggaman tangan Namjoon hingga dada Seokjin–tanpa sadar–ikut merasa hangat.

Mereka bergenggaman tangan hingga memasuki toko yang cukup sepi sedangkan isinya terlihat sangat mewah. Banyak manekin berjajar di dalam, terpasangi busana indah dan mewah.

Seokjin tak berani berbicara, tak berani pula menarik genggaman tangannya.

"Tuan Kim?"

Mereka berdua menoleh bersamaan. Dari kiri seorang pria paruh baya tersenyum menyambut Namjoon diikuti dua wanita yang sepertinya asisten lelaki itu. Namjoon menjabat tangannya, diikuti Seokjin.

"Pertama kalinya anda tidak sendirian, Tuan Kim." Lelaki itu tersenyum santun namun terlihat rona bahagianya. Ia menatap Seokjin seolah mendamba, bertahan beberapa saat hingga Seokjin merasa terganggu atas tatapannya.

Dan Namjoon menangkap gelagat tipis Seokjin ketika lelaki itu tak nyaman diperhatikan.

"Ya, bisa aku memesan jas untuknya?"

"Dengan senang hati."

Kemudian Seokjin diarahkan untuk mengikuti dua asisten lelaki itu, menurut ketika tubuhya diukur dan ketika Ia disuruh untuk merentangkan tangan atau lainnya. Seokjin menurut dengan baik, dan Namjoon tersenyum memperhatikan wajah lelaki itu.

Sungguh, Namjoon sudah gila pada pribadi Seokjin yang seolah selalu memiliki sisi lain yang Namjoon belum ketahui. Bodohnya, Namjoon baru menyadari bahwa dunianya berputar pada Seokjin ketika Ia dengan tenangnya menitipkan Hayoung pada Seokjin.

Itu sejarah!

Karena Namjoon sangat memperhatikan perkembangan putrinya, sangat memperhatikan pertumbuhan putrinya, dan baru sadar jika Ia memberikan kepercayaan pada Seokjin secara penuh untuk menemani anaknya tumbuh.


.

.

.


Seokjin merasa Namjoon berlebihan. Ia tak tahu pasti harga jas yang dikirimkan padanya hari Kamis siang itu. Ia tak tahu dan takut menebak. Namun ketika selesai mengajari Hayoung di Kamis malam dan Namjoon pulang lebih awal, lelaki itu merasa Namjoon terlalu cepat mendekat padanya.

Karena Ia mengajak Seokjin bermain dengan Hayoung lebih lama, bermain-bersama-bertiga-mirip keluarga!

Seokjin sama sekali tak masalah untuk bermain dengan gadis pintar itu. Yang Ia permasalahkan adalah ketika Namjoon dengan tegas mengajarkan pada Hayoung jika tak selamanya titel Seokjin adalah seonsaengnim. Seokjin ingin protes pada Namjoon namun ditahan karena Hayoung mengajaknya bicara. Pikirannya teralihkan lagi oleh Hayoung dan tak memikirkan Namjoon.

Ia baru menyadari sosok Namjoon ada di sampingnya ketika Hayoung pergi masuk ke kamarnya untuk berganti menjadi piyama tidur. Jarak mereka sungguh dekat–Namjoon yang mendekat terlalu dekat!

Seokjin memundurkan duduk, memberi jarak antara mereka, lalu berbisik lirih. "Apakah kau menyuruh Hayoung untuk tidak menganggapku gurunya?"

"Ya. Kau akan menjadi Papanya."

Hati Seokjin mencelos mendengarnya. Tentu saja jika dalam keadaan lain, Ia pasti sudah tersenyum lebar karena perutnya geli bukan main. Namun Ia masih tak suka dengan sikap berlebihan Namjoon. "Aku tidak pernah bilang begitu, Joon."

Namjoon tertawa lebar, seperti puas akan sesuatu. "Kau memanggilku 'Joon', yang jelas-jelas aku menyukainya. Kau mau kupanggil Jinseok saja di depan Hayoung?"

Telinga Seokjin memerah. "Berhenti menggoda."

"Oke, oke, aku tak mau Hayoung melihatmu memerah seperti kepiting, sayang." Namjoon terkekeh mendengar panggilan barunya untuk Seokjin yang tiba-tiba terucap oleh mulutnya dan Ia menyukai panggilan itu terdengar. "Tapi, Jinseok, aku sudah mulai mengganti titelmu di depan Hayoung sejak lama, dengan memanggilmu Paman Seokjin, bukan seonsaengnim."

"Kapan?"

Namjoon menggeleng, "aku juga lupa. Tapi aku sudah lama melakukannya, sejak aku yakin denganmu."

Seokjin tak sabar menghadapi Namjoon, tangannya memukul paha lelaki itu dengan keras, hingga Namjoon mengaduh.

"Papa kenapa?"

Mereka berdua menoleh bersamaan, melongo melihat Hayoung yang kebingungan melihat Seokjin yang memukul Papanya. Dengan cepat Namjoon menarik tubuh Hayoung untuk berdiri dalam pelukannya. "Tidak apa, Paman Seokjin sedang bergurau dengan Papa. Hayoung sudah mengantuk?"

Si gadis mengangguk.

"Sikat gigimu dulu lalu Papa temani tidur nanti." Titah Namjoon halus, lalu mengecup kening putrinya. Si gadis tersenyum, mengucapkan selamat tidur pada Seokjin dan mendoakan Seokjin agar mimpi indah, lalu berlari ke kamarnya.

Namjoon beralih menatap Seokjin dengan lembut, tersenyum saat menggenggam tangan Seokjin. "Kau tunggu di sini dulu, jangan pulang sendirian. Kuantar pulang."

Seokjin tersenyum mirip Hayoung, sangat lebar dan puas.

"Kau kenapa?"

Seokjin terkekeh geli, menutup wajahnya malu. Ia menggeleng menolak menjawab.

"Kau baik?"

Seokjin masih tertawa, menutup mulutnya lalu berbisik. "Aku suka saat melihatmu seperti tadi."

Namjoon ikut tersenyum lebar. "Seperti tadi yang mana?"

Seokjin masih tersenyum hingga ke mata dan tangannya masih menutupi mulutnya. "Aku suka melihatmu memperlakukan Hayoung."

"Eh?" Namjoon kebingungan, namun senyuman lebar tetap tersungging di wajahnya.

Seokjin malu bukan main, wajahnya mulai memerah sedangkan telinganya sudah semerah kepiting rebus.

"Kau suka melihatku seperti tadi? Caraku bicara pada Hayoung?"

Seokjin mengangguk.

"Suka saat aku memeluk Hayoung dan menyuruhnya bersiap tidur?"

Seokjin mengangguk lagi, wajahnya mulai memanas dan memerah.

Namjoon memajukan tubuhnya, menatap lekat ke mata Seokjin lalu berbisik. "Kau akan sering melihatnya jika kau mau menjadi suamiku."


.

.

.


Namjoon menelpon Seokjin beberapa kali dalam sehari ini. Ia menelpon Seokjin sekitar pukul sembilan untuk basa-basi dan menanyai jadwal Seokjin, pukul 1 ketika Ia bilang tak bisa makan siang dengan Seokjin, lalu pukul 3 untuk mengingatkan Seokjin jika Ia akan menjemputnya pukul 7 malam untuk datang ke pesta.

Sejak pagi perut Seokjin mual.

Dengan segala ketidakyakinannya pada sosok Namjoon, lelaki itu seolah berlari dengan cepat padanya. Terlalu cepat hingga Seokjin merasa semuanya menjadi berbeda. Beberapa minggu yang lalu, mungkin dua minggu yang lalu, hubungan mereka masih sangat profesional, dan minggu ini Seokjin terkejut melihat ponselnya yang lebih sering bergetar menerima panggilan dari Namjoon atau ketika laki-laki itu muncul di area pandanganya. Seokjin terkejut dengan perubahan ini, Ia masih sulit menyesuaikannya.

Karena Seokjin membayangkan semuanya dengan pelan, sehingga Ia menikmati prosesnya.

"Kau mau ke mana, Jin?"

Seokjin melirik Hoseok yang berseloroh di ambang pintu kamarnya. Pikirannya sedang kalut memikirkan pesta yang akan dihadapinya ini. Pesta dengan kalangan orang penting, bertemu orang tua Namjoon, dan duh Seokjin ingin pipis!

Seokjin menjelaskan secara singkat pesta yang akan dihadirinya sebentar lagi. Sesingkat-singkatnya, namun Hoseok yang pandai menggali informasi itu dengan santainya menginterogasi Seokjin tentang hubungannya dengan Namjoon.

"Itu gila, Jin. Kau tak mau dengannya?" Hoseok berseloroh dengan keras, lalu tersenyum tiba-tiba, "untuk aku saja boleh?"

Seokjin mengangkat pukulannya, pura-pura akan memukul Hoseok. Ia lalu mendudukkan bokongnya di kasur, merasa kesal pada Hoseok. "Bukan, aku bukannya tak mau dengannya."

"Karena Ia sudah punya anak?"

Seokjin meringis mendengar deduksi Hoseok yang berlebihan. "Tidak, bukan, sungguh."

Hoseok lalu ikut duduk di depannya, menatap Seokjin dengan tenang. "Lalu tidak ada yang perlu dibingungkan, Jin."

Seokjin menggigit bibirnya, membuang pandangannya dari Hoseok. Temannya benar, tidak ada yang perlu dibingungkan. Seokjin tak masalah dengan selisih umur mereka dan Seokjin percaya Namjoon bisa mengatasi Hayoung dengan baik. Lalu apa yang dikhawatirkan Seokjin?

"Dia pria yang baik, Jin. Aku bisa melihatnya."

Seokjin mengangguk lesu. Namjoon memang baik, dan segala sifat tanggung jawabnya memang sangat mengesankan. Sekali lagi Seokjin mengangguk, meyakinkan dirinya sendiri.

"Kau bisa percaya padanya, Jin. Meskipun aku tak tahu apapun tentangnya, tapi aku yakin Ia bisa dipercaya."

Seokjin menatap Hoseok beberapa saat. "Namjoon... terlalu cepat berlari ke arahku."

Hoseok terpaku, Ia hanya menaikkan alisnya terkejut, lalu kembali terdiam. Mereka berdua terdiam, saling menatap berbagi kejujuran.

Hingga ponsel Seokjin bergetar halus. Namjoon menelpon.

"Dia sudah di depan, aku pergi dulu, Jung."

Hoseok mengangguk, memperhatikan Seokjin yang sekali lagi berdiri di depan kaca lalu merapikan baju dan rambutnya dengan singkat.


.

.

.


Dua kali Seokjin datang ke pesta semewah ini, yang pertama saat ulang tahun Namjoon. Keduanya sama-sama mewah, berkelas, bedanya pesta ini terasa lebih feminim dari sisi dekorasi. Sedangkan aspek lainnya seperti kemewahan gedung dengan lampu hias yang sombong, makanan dan minuman yang diedarkan, ataupun tamu undangan semuanya mirip.

Seokjin berdeham pelan saat turun dari mobil Namjoon di depan layanan vallet. Sekalipun ini bukan yang pertama baginya untuk datang di acara demikian, Ia tetap saja belum terbiasa dengan lampu yang menyala terang dan bagaimana orang berpakaian rapi saling menyanjung.

"Kau siap?"

Seokjin menoleh ke sampingnya, baru menyadari jika mereka bertiga berdiri di depan pintu besar bernuansa yunani ini. Namjoon dan Hayoung berdiri menatap Seokjin dengan pandangan bertanya.

Seokjin mengangguk dan tersenyum simpul. Berjalan mengikuti langkah Namjoon dan Hayoung. Ya, Seokjin berjalan di belakang mereka. Membiarkan mereka memimpin langkah. Mereka berjalan ke tengah ruangan, mencari sosok yang menjadi bintang utama pesta malam ini.

"Nenek!" Hayoung memekik dengan riang ketika seorang wanita paruh baya berdiri dengan anggun bersama beberapa orang lainnya. Wanita yang terlihat cantik dengan gaun malam berwarna maroon itu menoleh ke asal suara dan tersenyum lebar ketika Hayoung berlari ke arahnya.

Seokjin semakin gugup.

Namun Ia melupakan sosok yang bersamanya, Kim Namjoon, yang mengetahui gerak-geriknya seolah Ia peramal. Karena ketika kegugupan menyerang Seokjin dan kebingungan atas apa yang harus Ia lakukan, lelaki itu dengan pelan melingkarkan tangannya ke pinggang Seokjin lalu membimbingnya berjalan mendekat ke orang tuanya.

Sayangnya semua itu terasa terlalu terburu bagi Seokjin. Ia yang terkejut atas sikap Namjoon tanpa sadar menjauhkan tubuhnya satu langkah disertai pekik lirih suaranya terkejut.

Tentu saja Namjoon juga tak menyangka atas refleks Seokjin. Ia mengharapkan jarak mereka yang intim dan dekat. Namun Ia tersenyum setelahnya, menyadari jika mungkin Seokjin tak ingin terburu dan merasa tertekan untuk melakukannya.

"Tangan saja, Joon." Lirihnya tanpa menatap mata Namjoon.

Kim Namjoon, lelaki tampan yang sempurna ini tersenyum dan mengangguk. Ia paham dan menerima permintaan konyol Seokjin sekalipun tak seperti yang Ia inginkan. Dengan tenang Namjoon menarik tangan Seokjin ke dalam genggamannya, meremasnya dengan pelan. "Kita bisa menikmati waktu kita."

Seokjin tak paham maksud ucapan Namjoon, tetapi lelaki itu mengangguk seolah tersihir dengan akumulasi ketampanan Namjoon, sikapnya yang seperti pangeran berkuda putih, dan suaranya yang halus.

Si pangeran berumur 36 masih menggandeng tangan Seokjin untuk berjalan mendekat ke tempat orang tuanya berdiri. Seokjin gugup bukan main. Besar kemungkinan Namjoon menyadari jari Seokjin yang dingin dan tangannya yang berkeringat.

"Halo, Ma, Pa." Namjoon berujar lirih, tersenyum di depan pasangan yang sedang menciumi Hayoung.

Keduanya menaikkan pandangan dan tersenyum cerah saat melihat Namjoon. Senyum mereka terasa lebih cerah saat melihat sosok Seokjin yang berdiri dalam jarak dekat dengan Namjoon.

Tangan mereka masih bertautan, bahkan ketika Seokjin menggerakkan telapak tangannya memberi kode Namjoon untuk melepas tautan mereka, Namjoon tetap menahannya dengan lembut.

"Biar kutebak, kau pasti Kim Seokjin. Benar?"

Wanita itu tak berhenti tersenyum, berbeda jauh dari bayangan Seokjin seperti yang pernah Ia lihat di drama. Membalas senyuman hangat wanita itu, Seokjin mengangguk sambil tersenyum lebar.

"Ini seonsaengnim yang Hayoung ceritakan."

Keempat orang dewasa itu melirik Hayoung seketika. Seokjin meneguk liurnya kesusahan. Bagaimana jika mereka tak suka dengan pekerjaan Seokjin? Atau latar belakangnya? Atau–

"Hayoung, bukankah Papa sudah bilang untuk memanggil Paman Seokjin, bukan seonsaengnim?" suara lembut dari bibir Namjoon memecah ketegangan Seokjin.

Tanpa sadar Seokjin meremas tangan Namjoon dengan cukup keras.

"Oh iya, benar! Hayoung lupa," ucapnya sambil tersenyum lebar.

Tanpa Seokjin sadari pula, ibu jari Namjoon sudah bergerak mengelus pelan telapak tangannya, memberikan keyakinan dan janji ketenangan saat Seokjin ketakutan.

Seokjin sudah siap jika kedua orang tua Namjoon akan menginterogasinya. Siap jika harus dicecar pertanyaan yang menyedihkan. Siap akan kemungkinan terburuk.

Wanita itu tersenyum, dengan senyuman yang masih lebar dan cantik seperti sebelumnya. "Tenang saja, Seokjin. Kami tidak mempermasalahkan siapa dirimu dan bagaimana tentangmu."

Tuan Kim senior tertawa setelahnya. "Kami tidak kolot, tenang saja."

"Oi, lihat siapa yang kutemui ini? Hayoung-ie!" suara panggilan panjang nan keras terdengar kemudian. Diikuti sosok Taehyung yang tersenyum lebar terlihat berlari ke arah mereka, merentangkan tangannya ke depan bersiap memeluk Hayoung.

Mereka sungguh seperti teman sebaya.

Kini Seokjin gugup atas drama baru yang mungkin saja terjadi. Ia seumuran dengan Taehyung, dan tepat ketika Taehyung menyapanya, orang tua Namjoon akan tahu tentang umurnya dan selisih umurnya dengan Namjoon.

"Oh, ada Seokjin-ie juga di sini."

Mata Seokjin melebar mendengar cara Taehyung memanggilnya dengan sufiks manja itu. Ia hampir memukul Taehyung jika tidak ingat tentang keberadaan orang tua Namjoon dan lelaki yang sedang menggenggam tangannya–oh, Hayoung juga!

"Namjoon bilang kalian kuliah di tempat yang sama."

Taehyung tersenyum bersama Hayoung yang digodanya, menggendong gadis itu di tangan lalu menjawab dengan santai. "Kami berteman, Paman."

Seokjin merasakannya, bagaimana keluarga ini sangat terbuka. Mereka menerima orientasi seksual yang berbeda, menerima anak angkat dengan sangat baik, terbuka akan semua kemungkinan. Dalam beberapa menit, Seokjin menjadi saksi bagaimana Taehyung yang kekanakan bersikap santai pada Paman-Bibinya, atau bagaimana kedua orang tua Namjoon mengajaknya berbicara sambil berkali-kali memegang pundaknya.

Semata-mata untuk membuat Seokjin tenang dan merasa diterima.

"Kau lega?"

"Apa?"

Mereka berdua sedang berdiri di dekat meja di tengah ruangan, setelah Namjoon merengek jika Ia kehausan dan kedua orang tuanya harus menyapa tamu yang lain.

"Kau terlihat gugup sejak tadi, Jinseok. Bahkan orang tuaku tahu jika kau gugup bukan main."

"Eh?"

Namjoon mengangguk, menyesap cocktail dingin di tangannya. "Mereka selalu sama, selalu melakukan skinship untuk menenangkan siapapun."

Seokjin tak sadar, jika saat Ia berbincang dengan orang tua Namjoon, mereka berusaha menenangkan Seokjin. "Ngomong-ngomong, ini gaya hidup kalian?"

Namjoon terlihat terganggu dan menyatukan alisnya. "Apanya?"

Bahu Seokjin mengendeik sekilas, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Bekerja keras di hari Senin hingga Jumat, lalu pesta setiap akhir minggu?"

Namjoon terkekeh, menyesap minumannya sekali lagi, tanpa memutus pandangan matanya ke wajah Seokjin. "Kau tidak suka?"

"Pesta?"

"Gaya hidup yang kau jelaskan tadi. Kau tidak suka?"

Lidahnya menjilat bibir bawahnya, Ia tak yakin. "Kurasa tidak."

Terlihat mata Namjoon melebar dengan alis terangkat, dahinya berkerut terkejut. "Karena?"

Bahu Seokjin sekali lagi mengendik, tak yakin atas jawaban yang Ia pikirkan. "Entahlah, Joon. Aku tak suka konsep bekerja seperti orang gila lalu pesta di akhir minggu. Aku selalu tak setuju dengan istilah work hard party harder, terasa picisan untukku."

Namjoon mendengarkan. Dengan jelas menyuruh Seokjin menjelaskan lebih jauh pemikirannya.

Seokjin berdeham. "Untuk apa kau berpesta meriah jika dua hari–atau sehari kemudian, kau akan menemui hari Senin yang akan terasa lebih melelahkan setelah pesta yang menyenangkan. Kau paham maksudku tidak?"

Ia mengangguk, setuju dengan ucapan Seokjin. "Noted."

"Apa?"

"Kucatat itu, keinginan dan prinsipmu yang akan kuterima jika kita resmi menikah."

Seokjin hampir tersedak ludahnya!

"Sejujurnya aku juga tak suka berpesta, pergi ke club, big no. Di pesta seperti ini, kalian seolah baik-baik saja dan berteman dengan siapapun. Saling menyanjung, membual kepada yang lebih tinggi, aku tak suka konsep itu."

Seokjin tersenyum lebar. "Kita memiliki pemikiran yang sama. Aku suka itu."

Namjoon tersenyum main-main, menatap Seokjin jenaka, lalu berbisik seolah menggoda. "Kau suka kecocokan ini?"

Telinga Seokjin memerah otomatis. Bibirnya tak kuasa menahan senyum namun ditahannya dengan melipat bibirnya ke dalam. Ia membuang muka dari Namjoon yang tiba-tiba berjalan selangkah lebih dekat ke tubuhya.

"Aku sungguh ingin menciummu jika kau malu seperti ini,"

Hati Seokjin mencelos. Namjoon yang berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengannya itu, berbisik tepat di samping telinganya yang memerah, sengaja berbisik dengan suara rendah dan nafas yang ditiupkannya.

"Keterlaluan, Namjoon!" pekik Seokjin tertahan. Menghasilkan tawa lepas Namjoon saat lelaki itu memundurkan tubuhnya.

Ia menertawai Seokjin dengan puas, benar-benar geli karena sikap Seokjin. wajah Seokjin yang merona dan daun telinganya yang memerah, lalu matanya yang bermain kesana kemari karena kebingungan, paket lengkap yang menggemaskan. "Tenang saja, Jinseokku, aku tak akan melakukan hal itu tanpa persetujuanmu."

Lidah Seokjin kelu, merasakan perasaan geli di perutnya dan bagaimana jantungnya terasa diremas oleh tangan tak terlihat.


.

.

.


Namjoon dan sikap manisnya, termasuk sikap lembutnya, sungguh berhasil menggetarkan hati Seokjin. Sungguh, kalian tahu tidak sih, ketika kalian benar-benar tidak mengira akan begitu dan tiba-tiba begitu? Duh, Seokjin bingung menggambarkannya.

Dalam diam, ketika dirinya sedang memeluk Hayoung yang tertidur dalam pelukannya, ketika Namjoon menggenggam tangannya dengan lembut, Seokjin ingin menangis.

Mereka sudah sampai di depan rumah besar Namjoon sejak sepuluh menit yang lalu. Namun lelaki itu tidak membuka kunci pintu mobilnya dan membiarkan mesin mobilnya menyala.

"Kita tidak turun?" bisik Seokjin saat tahu Namjoon tak membuka kunci pintu di sampingnya.

Lelaki itu menggeleng tanpa mengucapkan sepatah katapun, menatap Seokjin sekilas lalu menarik tangan kiri Seokjin. Tubuhnya sedikit dicondongkan ke kanan, ke tempat Seokjin, sehingga lelaki yang dicintainya itu tak perlu merentangkan tangan kirinya.

"Biarkan seperti ini sebentar, aku sangat senang hari ini."

Suaranya terdengar lirih dan halus, seiring lantunan lagu lembut yang mengudara. Telapak tangan kiri Seokjin hangat dalam genggaman Namjoon, apalagi setelah lelaki itu meminta izin kepada Seokjin.

"Boleh aku mencium tanganmu?"

Jantung Seokjin mencelos. Perutnya sekali lagi merasa mulas dan geli dalam satu waktu, dan juga bagaimana perasaannya terasa meletup. Ia mengangguk, menyadari jika Namjoon benar-benar tidak akan melakukan sesuatu tanpa izin Seokjin.

Hayoung masih tertidur di pelukan tangan kanan Seokjin ketika Ia meraskaan udara hangat melingkupi telapak tangan kirinya. Dengan takut Seokjin melirik spasi di kirinya. Ia melihat sosok itu sedang mengecup tangannya dalam diam, dengan mata terpejam, cukup lama.

"Aku sungguh bersyukur atas apa yang terjadi hari ini." ucapnya setelah Ia puas mengecup tangan Seokjin.

Seokjin terdiam mendengarkan. Lalu tubuh Hayoung bergerak sambil mengeluarkan rengekan halus di pelukan Seokjin.

"Jangan egois, Namjoon. Kasihan Hayoung, setidaknya kita menidurkannya di kasur terlebih dahulu."

Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah agar Hayoung tidur dengan nyaman setelah gadis itu menggeliat risih. Bagaimanapun, sesuka apapun Hayoung tertidur sambil memeluk dalam posisi duduk, Seokjin tahu jika posisi ini tidak cukup nyaman.

Dan Seokjin tak pernah menduga jika sekali lagi Namjoon melakukan hal yang sama ketika mobilnya sudah sampai di jalanan depan apartemen Seokjin. Sekali lagi Ia tak membuka kunci pintu mobilnya, membiarkan mobilnya menyala dengan iringan musik.

"Terimakasih, Seokjin."

Seokjin tak berani menjawab.

"Kau tahu bagaimana aku membayangkan pertemuan pertamamu dengan orang tuaku?"

"Eh?"

Namjoon mengangguk, menarik tangan Seokjin sekali lagi lalu menggenggamnya.

"Mereka selalu mendesakku untuk bertemu denganmu sejak aku bercerita tentangmu."

Alis Seokjin menyatu. "Kau bercerita tentangku?"

Namjoon mengangguk sekali lagi, kini memainkan jari-jari Seokjin dengan tangannya. Ia menggenggam-melepas tangan Seokjin di tangannya, mengabsen jari-jari Seokjin yang panjang dan lentik, lalu memainkan jari telunjuk Seokjin. "Ya, sejak aku sadar jika kau yang paling pantas, Jinseok. Sejak aku jatuh cinta pada sosokmu."

"Kau–"

Namjoon terkekeh, memperhatikan bagaimana tangannya memainkan jari Seokjin. "Aku seperti bukan diriku sendiri sejak denganmu."

Jantung Seokjin terasa diperas, Ia ingin menangis.

"Dan orang tuaku sangat menginginkan bertemu dengan orang yang berhasil membuat anaknya gila, Jinseok."

"Namjoon–"

"Aku mencintaimu."

Suara itu terdengar merdu, begitu lirih nan halus, namun berhasil menggetarkan jantung Seokjin. Seumur hidup Seokjin tak pernah membayangkan akan mendengar kalimat itu ditujukan padanya, lengkap dengan suara merdu, wajah tampan di depannya, dan mata teduh yang menatap lekat padanya. Ia tersihir, tenggelam dalam gema suara ucapan Namjoon yang diulang-ulang sendiri oleh sistem otaknya.

"Aku mencintaimu dengan segenap hidupku, Jinseok. Tak ada sedikitpun keraguan dalam diriku mengenai dirimu."

Mereka berpandangan dalam diam setelah Namjoon mengucapkannya. Suara dan pilihan kalimat Namjoon sungguh mengganggu kinerja tubuh Seokjin. Ia merasakan dengan baik ketika perutnya terasa diaduk dan geli bukan main, termasuk saat jantungnya terasa diperas dan berdegup dengan cepat.

"Apakah ini saatnya aku menciummu?"

Seokjin masih membeku tanpa berniat memutus tautan pandangan mereka. Ia dengan ragu mengangguk saat mata Namjoon masih dengan teduh seperti menghipnotisnya.

Gerakan pelan kepala Seokjin ditangkap dengan baik oleh mata Namjoon. Lelaki itu tidak membiarkan waktu mereka terbuang, melepas genggaman tangan mereka lalu menangkup pipi gembil Seokjin. Bibir mereka menempel dengan pelan dan lembut, membiarkan masing-masing merasakan kelembutan bibir lawan.

Tidak, Namjoon tidak menyelipkan nafsu di ciumannya. Ia sempat menempelkan bibir mereka dan membiarkan dua gumpalan itu hanya cukup menempel. Karena ini saja sudah cukup untuknya sejauh ini, setelah selama ini bertanya dalam diam bagaimana rasa bibir Seokjin dan seberapa kenyal bibir merah Seokjin.

Air mata Seokjin mengalir jatuh disela matanya yang terkatup rapat, mengalir menuruni wajahnya hingga mengenai wajah Namjoon. Mereka berdua tahu betul air mata itu sekaligus artinya bagi masing-masing.

Lidah Namjoon menjilat dengan pelan bibir atas Seokjin ketika wajahnya bergerak miring, meminta persetujuan Seokjin untuk memperdalam ciuman mereka selayaknya pasangan yang mendamba.

Seokjin yang benar-benar terbuai atas kenyamanan yang Namjoon berikan bertubi ini, menurut dengan membuka bibirnya, ikut menangkup rahang tegas Namjoon dengan tangannya. Namjoon memijat bibirnya dengan pelan dan lamat, memakannya dengan pelan dan lembut. Dalam pikirannya, Seokjin mengulang kembali seluruh rekaman kilas balik sosok Namjoon di matanya, dan bagaimana dunianya berrotasi sempurna pada satu matahari bernama Namjoon.

Ciuman mereka berubah basah ketika Namjoon sedikit memajukan tubuhnya, menjulurkan tangannya ke belakang tengkuk Seokjin, dan menekan lembut tengkuk Seokjin. Namjoon memakan bibir Seokjin, memainkan lidahnya dalam rongga mulut lelaki yang dicintainya, dan menjilati bibir indah itu seperti seorang profesional. Sedangkan Seokjin menurut, menerima permainan Namjoon, hingga dadanya sesak dan paru-parunya panas.

Ia menarik mundur kepalanya sambil mendorong tubuh Namjoon bersamaan. Ciuman mereka terputus, dengan benang liur yang memanjang ketika ciuman mereka berpisah.

Dan malam itu, Seokjin menjadi saksi bagaimana Namjoo mencintainya tanpa syarat. Ia memahami bagaimana besarnya cinta Namjoon padanya, menyadari bagaimana Namjoon tak pernah memaksanya untuk menuruti dirinya, menyadari jika Namjoon sungguh obsesif dengan menggenggam tangannya di depan semua orang namun tak sekalipun lelaki itu memaksa Seokjin.

Genggamannya halus dan lembut, namun tak sekalipun Namjoon memaksa. Begitu pula ciumannya yang pelan dan mendamba, namun tak sekalipun Namjoon menyelipkan nafsu di dalamnya.

-TBC-

WOW, tugas ada di depan mata, buku setebel kitab ada di depan mata, tapi mata menatap layar laptop dan jari mengetik. Hehe, gajelas sumpah aku mah :(

Hai sayangku!

RnR?

ILYSFM muah!