A Blessing in Disguise
Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others
Length : Parts
Rate : T
Genre : Romance, FamilyLife.
Im sorry, it'll be a 3.7k words full with Seokjin anxiety
A Blessing in Diguise
Pagi-pagi sekali Namjoon menelponnya, membangunkannya dari tidur singkatnya. Seokjin tak bisa tidur semalaman, menghabiskan malamnya dengan menatap langit-langit apartemennya yang selama ini selalu menemani tidurnya. Semalaman pikirannya terbang, jauh ke dua bulan yang lalu, setelah Ia tiga bulan mengajar gadis bernama Hayoung, ketika pertemuan pertamanya dengan sosok Namjoon. Ingatannya memutar semua dengan jelas seolah kaset perekam, mengulang semua bagian yang Seokjin rekam dengan matanya hingga menimbulkan efek beragam dalam diri Seokjin.
Seokjin menggeram, merasa pusing karena tidurnya terganggu. Ia melirik jam di ponselnya dengan mata setengah terbuka. Baru dua jam Ia tertidur.
Suara Seokjin serak saat mengangkat telepon Namjoon. "Ya?"
"Kau masih tidur?"
Kepala Seokjin masih pusing karena baru tidur dua jam, juga matanya perih bukan main. "Ya, aku baru bisa tidur dua jam yang lalu."
"Ya sudah tidur lagi saja." Sela Namjoon cepat lalu panggilan telepon mereka terputus. Seokjin mengernyit, kebingungan dengan sikap lelaki ini. Namun akumulasi kepalanya yang pusing dan matanya yang masih perih, Ia tak memikirkannya lebih panjang dan segera tidur kembali.
Pukul sebelas Seokjin terbangun, dengan kepala lebih ringan karena pusingnya sudah hilang. Ia terduduk di tempat tidurnya, menguap sambil mengumpulkan kesadarannya, lalu menghela nafas. Ingatan indahnya tentang sosok Namjoon memenuhi ruang pikirnya, membuatnya bahagia bukan main.
Seokjin berjalan ke luar dari kamarnya, berniat bertemu Hoseok untuk membicarakan rencana magang mereka. "Jung?" Suaranya serak, Seokjin butuh minum.
"Hoseok pergi sejak satu jam yang lalu."
Kantuk Seokjin hilang. Ia melupakan suara seraknya atau bagaimana Ia berniat membicarakan hal penting dengan Hoseok. Ada Namjoon, ya, Kim Namjoon!
Duduk bersila di sofa murah apartemen Seokjin, tersenyum lebar, bersikap santai seolah ini hal lumrah, sambil memainkan ponsel.
"Apa yang kau lakukan–demi tuhan."
Seokjin melompat duduk di sebelah Namjoon, menghasilkan sengatan rasa pusing sementara di kepalanya karena Ia baru saja bangun tidur dan kini Ia sudah melompat lincah.
"Menunggumu bangun, Jinseokku."
Terlalu pagi untuk melihat senyuman lebar Namjoon dan bagaimana rambut hitam lelaki itu membuyarkan konsentrasi Seokjin. "Kenapa?"
Belum sempat Namjoon menjawab, Seokjin kembali menghujani laki-laki itu dengan pertanyaan lanjutan. "Maksudku, kau menungguku bangun? Untuk apa? Kenapa? Kau serius?"
Namjoon terkekeh, dengan manisnya, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. "Bersiaplah."
"Untuk?"
Alis Namjoon terangkat sekilas, "besok Hayoung ulang tahun, Jinseok!"
"Apa?"
Namjoon mengangguk, "setiap tahun kami selalu merayakannya berdua dan aku mau tahun ini lebih spesial."
Entah karena Seokjin yang baru bangun tidur atau memang berita ini terlalu heboh, Seokjin merasa otaknya sulit mencerna. Di tengah kebingungannya, Namjoon tersenyum dan memajukan tubuhnya, menarik wajah Seokjin dan meremas pipinya. "Sudah, cepat mandi. Kutunggu."
.
.
.
Namjoon bilang besok ulang tahun Hayoung. Di mobil Namjoon bercerita, sejak mengadopsi Hayoung, mereka memiliki waktu seharian untuk dihabiskan bersama dan tepat ketika hari gadis itu lahir, Namjoon akan membawanya ke makam Ibunya. Seokjin tak yakin, apakah seharusnya Ia bergabung atau tidak. Bagaimanapun Ia merasa tak seluruhnya telah menjadi bagian dari Namjoon dan Hayoung.
"Kau yakin aku perlu ikut?"
Namjoon tersenyum, mengangguk lalu menggenggam tangan Seokjin dengan sedikit remasan. "Kau tak yakin?"
Seokjin tak yakin, bahkan tak seratus persen yakin jika Ia benar-benar menginginkan hubungan dengan Namjoon.
Ada sinar kecewa di mata Namjoon, begitu pula senyumnya yang tak seindah biasanya. "Aku hanya mencoba, menyebutmu dalam setiap rencanaku, melibatkanmu di kegiatanku, dan memikirkanmu saat aku memikirkan masa depanku."
"Duh, ini masih jam makan siang dan kau sudah berbicara topik yang berat."
Namjoon tertawa, melihat bagaimana Seokjin meringis sambil memprotes. Ia hanya memperhatikan Seokjin dalam diam, memuja wajah sempurna lelaki di depannya.
"Kau mau memelukku?" bisikan Seokjin sehalus dan sepelan angin, namun ditangkap dengan baik oleh telinga Namjoon. Laki-laki berumur 36 itu jelas terkejut mendengarnya. Ini pertama kali Seokjin meminta sesuatu darinya, benar-benar meminta Namjoon melakukan sesuatu atas permintaannya.
Maka Namjoon tersenyum, menarik bahu Seokjin dengan lembut untuk jatuh di pelukannya. Ia memijat tengkuk Seokjin dengan pelan dan lembut, tanpa perlu tahu apa yang ada di pikiran Seokjin sejak pagi dan bagaimana lelaki itu mencoba akur dengan pikirannya sendiri.
Seokjin tahu, pelukan adalah obat baginya untuk menyelesaikan pikirannya saat ruwet. Ia menyadari itu sejak lama, dan selama ini pelukan Hoseok selalu menenangkannya. Namun tak sekalipun Seokjin mengira jika pelukan Namjoon lebih dari segalanya. Tubuh lelaki itu hangat, dan caranya memperlakukan Seokjin saat Ia meemeluknya adalah dambaan. Bagaimana Namjoon bersikap lembut dan mengayomi, meyakinkan Seokjin untuk menenggelamkan wajahnya di bahu Namjoon, mempercayakan bahu itu untuk menenangkan pikirannya.
Pikiran sialan yang mengganggu!
.
.
.
Hayoung tidur saat mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan berpegangan tangan. Namjoon menarik Seokjin untuk duduk di pantry di dapurnya, berbincang sebentar dengan Bibi Lee tentang pagi Hayoung yang dihabiskan dengan Taehyung sementara Namjoon pergi ke apartemen Seokjin.
"Ngomong-ngomong, Bibi Lee kesayanganku." Namjoon mengubah arah pembicaraan. Ia tersenyum melirik Seokjin lalu kembali menatap Bibi Lee yang ada di depannya. "Bagaimana Seokjin menurutmu?"
Wanita itu menoleh terkejut, namun tersenyum cerah kemudian. "Seokjin," Ia melirik Seokjin dengan senyumannya yang sampai ke mata, "dia lelaki yang baik. Aku memang baru mengenalnya beberapa bulan lalu namun aku tahu jika Ia memiliki hati yang baik."
"Benarkah?"
Wanita itu mengangguk. "Seokjin pantas mendapat yang terbaik, Tuan."
Namjoon tersenyum lebar setelahnya. Ia menyesap bir dingin di tangannya, meremas tangan Seokjin dengan ringan masih dengan senyuman lebarnya. "Apakah aku cukup untuk menjadi yang terbaik bagi Seokjin, Bi?"
Wanita itu terdiam beberapa saat memandang Namjoon. Ia menilai dengan cermat lalu mengangguk sambil tersenyum dengan tenang. "Kalian ditakdirkan untuk bersama, aku tahu sejak awal."
"Ya?"
Seokjin melongo menatap wanita itu, lalu melirik Namjoon yang masih tersenyum mirip anak kecil.
"Kalian memiliki pandangan yang sama tentang keluarga, meskipun aku tak menyangka jika Tuan Namjoon benar-benar mencintaimu, Seokjin, tapi aku tak akan pernah terkejut mengetahuinya."
Namjoon terkekeh riang, mengepalkan tinjunya di udara lalu bersorak 'yes' dengan senangnya. Seokjin yakin jika telinganya memerah sekarang.
Ponsel Namjoon berdering, membuyarkan atmosfer diantara mereka bertiga. Ia merogoh saku celananya, berpamitan setelah melihat nama kontak yang menelponnya.
Tiga puluh menit, mungkin lebih, Namjoon berada di kamarnya setelah menerima panggilan di ponselnya tadi. Tak betah, Seokjin menyusul lelaki itu dan mengetuk pintunya.
Sungguh, Seokjin cukup bingung dengan dirinya sendiri. Satu sisi Ia mempertanyakan dirinya tentang ide hubungannya dengan Namjoon sekaligus seluruh kekhawatirannya. Namun sisi lain dalam dirinya jelas melakukan segalanya dengan santai seolah Ia benar-benar santai dengan hubungan ini, melihat bagaimana dirinya sekarang mengetuk pintu kayu berwarna putih yang terlihat mewah di matanya ini.
"Hai, Jinseok, masuklah."
Wajah Namjoon terlihat saat pintu terbuka, memperlihatkan raut wajah tenang lelaki itu. Seokjin mengikuti Namjoon dan menutup pintu kamarnya.
"Sebentar, ya, kuselesaikan ini dulu." Gumam Namjoon singkat lalu berjalan ke salah satu ruangan yang ada di kamarnya.
Wow, kamar ini sungguh berbeda dari kamar Hayoung maupun kamar tamu yang Seokjin tempati saat Ia menginap di rumah ini dulu. Kamar Namjoon luas, dengan dominasi warna biru navy dan abu-abu. Tempat tidur Namjoon menghadap langsung ke sisi ruangan yang dibatasi kaca dari ujung ke ujung, memperlihatkan halaman rumah Namjoon yang baru kali ini dilihat Seokjin. Lalu di kanan dan kiri kaca itu ada dua ruangan lain yang tidak berpintu, satu Seokjin yakini sebagai walk in closet dan satu lagi ruang kerja Namjoon–karena lelaki itu sedang duduk di sana menerima panggilan sambil membuka laptop.
Di sudut ruangan Seokjin melihat tas golf berisi tongkat pemukul yang Soekjin tak tahu namanya, lalu ada pistol dan peralatan olahraga menembak, yang sekali lagi Seokjin tak tahu namanya. Seokjin duduk di kasur empuk Namjoon, memperhatikan nakas berwarna hitam mengkilat yang diatasnya terdapat dua pigura foto; satu foto Namjoon yang menggendong Hayoung dimana keduanya yang tersenyum lebar, lalu ada foto keluarga Namjoon lengkap dengan kedua orang tuanya.
Ya, Namjoon tipikal family man.
"Aku berencana menambah satu lagi pigura foto di sana, Jinseok?"
Suara Namjoon mengagetkan Seokjin dari lamunan singkatnya, membuatnya melonjak kaget dan berbalik. Mendapati Namjoon tersenyum tenang sambil berjalan mendekat.
Namjoon membungkuk, membuka rak paling atas di nakas itu, lalu mengeluarkan satu pigura kosong dan sebuah kotak kecil. "Aku sudah menyiapkan ini sejak lama dan selalu membayangkan bagaimana caraku memberikannya padamu."
"Ya?"
Namjoon duduk di hadapan Seokjin, masih tersenyum dengan tenang. "Aku membeli pigura ini saat memikirkanmu, entah kenapa tiba-tiba memikirkan akan bagus jika foto pernikahan kita dipasang di sini dan satu lagi ukuran yang sangaaat besar di pasang di ruang keluarga."
Seokjin tercekat. Lidahnya kelu bukan main, kebingungan dengan topik yang tiba-tiba ini.
"Karena aku selalu melihat nakas ini setiap pagi, jadi aku memasang foto orang terpenting dalam hidupku untuk mengingatkanku tujuan hidupku, sekaligus mengingatkanku untuk bersyukur telah memiliki mereka dalam hidupku."
Namjoon tersenyum singkat, memutus pandangan matanya yang sejak tadi menembus kepala Seokjin. Ia melirik kotak berwarna biru muda bertuliskan Tiffany n co di tangannya, lalu dengan gerakan perlahan Ia membukanya.
"Aku mendapatkannya, cukup susah, namun berhasil mendapatkannya."
Seokjin menahan nafas.
"Kau suka?"
Pandangan mata Seokjin berganti-ganti dengan cepat, dari cincin di tangan Namjoon lalu mata Namjoon, bergantian dengan cepat.
Namjoon terkekeh memperhatikan wajah Seokjin yang menegang sambil bergantian menatap cincin itu. "Tenang saja, aku tak akan melakukannya sekarang." Ia menarik tangan lelaki itu dengan lembut, menggenggamnya dengan kasih, "aku hanya ingin menunjukkan kesungguhanku padamu, Jinseok."
Suara itu menggema di telinga Seokjin, mengulang-ulang suara Namjoon yang berat dan tenang yang mengucapkan kalimat itu dengan lembut. Seokjin tanpa sadar meneteskan air matanya.
Pikirannya semakin berkecamuk menjadi-jadi. Cukup sudah sejak pagi Ia berfikir buruk tentang dirinya dan hubungannya dengan Namjoon hanya karena keberaniannya mencium Namjoon malam sebelumnya. Sekarang, dengan segala keberanian lelaki di hadapannya ini, membuat Seokjin merasa sesak bukan main. Kepalanya ingin meledak, begitu juga jantungnya yang memompa terlalu cepat.
Namjoon. Umur. Hayoung. Guru-murid. Keluarga. Semuanya.
Sungguh menyesakkan membayangkan semua pikiran buruk itu berteriak bersamaan, mengingatkan Seokjin jika dirinya pecundang yang ingin lari dari masalah. Air mata Seokjin semakin deras ketika Namjoon mengusap air mata di pipinya.
"Joon–" Suara Seokjin terdengar tercekat. "Bukankah, bukankah ini terlalu cepat?"
Mata Namjoon melebar sekalipun sangat singkat, jelas pria itu terkejut mendengarnya. "Ini terlalu cepat bagimu?"
Seokjin memejamkan matanya, menutup matanya dan merasakan dadanya merasa diperas melihat sinar kecewa di mata Namjoon dan bagaimana lelaki itu bertanya penuh kecewa. Ia merasa jahat jika benar-benar menyakiti hati Namjoon.
"Apakah aku benar-benar terlalu cepat bagimu?"
Seokjin mengangguk, merasakan tangisannya semakin sedih dan ringkih. Ia memaksa membuka matanya, memberanikan diri menatap Namjoon sekalipun Ia harus melihat aura sedih yang Namjoon tunjukkan. "Ya, maksudku, Namjoon.. bagaimana dengan Hayoung? Bagaimana kuliahku? Mimpiku untuk bekerja dan semuanya?" Seokjin tanpa sadar mengguncang tangannya yang masih berada dalam genggaman Namjoon.
Ia ketakutan saat mengatakannya, Ia ketakutan saat membayangkan Namjoon yang tersakiti oleh ucapannya. Ia merengek, jelas-jelas merengek pada Namjoon.
"Joon, Kim Namjoon, sungguh maafkan aku." Seokjin menggigit bibirnya sekilas, masih merasakan air mata yang mengalir di pipinya. "Kau sungguh baik dan segala yang kau lakukan memang sangat baik. Tapi tidakkah kau berfikir jika ini semua terlalu cepat, bagiku? Aku merasa dikejar, aku merasa kau terlalu berlari sedangkan aku masih ingin mengenalmu dan memperhatikan sosokmu."
Namjoon terdiam, merasakan apa yang Seokjin ucapkan satu demi satu.
"Kau selalu melakukan ini-itu, membuatku terkesan dan terkagum melihatmu. Tapi sama sekali aku tak pernah merasa apa yang kau lakukan benar-benar sampai ke ulu hatiku. Aku terkesan, namun tidak hatiku." Seokjin menunduk, merasakan kepalanya yang pusing dan masih menangis. "Maafkan aku,"
Namjoon menarik Seokjin ke dalam pelukannya, merasakan tubuh ringkih yang bergetar karena tangis dalam pelukannya. Ia tak tahu, sama sekali tak tahu, jika begini ternyata semuanya. Ia tak pernah tahu apa yang Seokjin rasakan karena selama ini memang dirinya terus yang mengatakan jika Ia mencintai Seokjin setengah mati. Ia menenggelamkan wajahnya ke bahu Seokjin ketika lelaki itu menangis semakin keras di pelukannya.
Namjoon tak pernah tahu, tak pernah sadar, jika selama ini bukannya Ia mencoba membuat Seokjin menerimanya hingga Ia membuka hati, Namjoon malah selalu melakukan ini itu agar Seokjin terkesan. Ia tak pernah bertanya pada Seokjin tentang perasaannya, yang Ia pedulikan hanyalah dirnya yang ingin memberikan Seokjin kenyamanan versinya, tanpa perlu sibuk bertanya bagaimana perasaan Seokjin.
Ya, Namjoon merasa seperti orang bodoh yang menginginkan cinta Seokjin sedangkan dirinya tak pernah mencoba mencintai Seokjin dengan tulus.
.
.
.
Seokjin tertidur dalam pelukan Namjoon selama Ia menangis, lalu Namjoon membiarkannya tertidur di kamarnya dan pria itu memilih untuk keluar dan membangunkan Hayoung untuk makan siang.
"Seokjin memasakkan puding susu untuk Nona Hayoung,"
Namjoon terdiam beberapa saat. "Seokjin melakukannya?"
"Ya, karena Nona sangat menyukai puding susu buatannya."
Namjoon berdeham gugup, "apakah menurutmu Seokjin melakukannya karena senang?"
Dahi Bibi Lee berkerut singkat, lalu wanita itu tersenyum geli. "Tentu saja. Ia menikmatinya, Ia menyukainya."
Namjoon memproses informasi itu dalam diam.
"Jika tuan bertanya apakah Seokjin juga menyukaimu, kurasa ya."
"Eh?"
"Seokjin juga menyukaimu, Ia menikmati semua yang Ia lakukan. Bukankah itu hal yang baik?"
Namjoon tersenyum simpul, lalu berjalan ke kamar anaknya memastikan gadis itu bangun untuk makan siang dan merasakan puding susu buatan Seokjin.
Sore harinya, ketika Seokjin terbangun dengan mata bengkak, Namjoon dan Hayoung tertawa puas–menertawai lelaki itu. Namun melihat bagaimana Seokjin berbalik badan untuk masuk ke kamar Namjoon lagi dan saat Ia membanting pintu tanpa sadar, Namjoon tak tega. Ia menyusul Seokjin ke kamarnya dan menemukan Seokjin sedang membilas wajahnya di wastafel di kamar mandi.
Namjoon masih terkekeh kecil saat melihat Seokjin menggosok wajahnya dengan kasar. "Maafkan kami, kami menertawaimu."
Laki-laki itu menatap Namjoon sengit melalui kaca yang memantulkan wajahnya, lalu mencibir tanpa suara.
"Kau terlihat lucu, kok."
Seokjin membasuh wajahnya sekali lagi.
"Hayoung yang bilang." Lanjut Namjoon lalu berjalan mendekat ke tempat Seokjin berdiri. Mereka sama-sama terdiam dalam atmosfer yang canggung, lalu Namjoon berdeham. "Maafkan aku,"
Seokjin menggigit bibir bawahnya, merasakan jantungnya yang terpompa dengan cepat seiring ucapan lembut yang diucapkan Namjoon padanya.
"Aku tidak pernah berfikir tentang perasaanmu, atau bagaimana dirimu. Yang kupikirkan hanyalah diriku dan kebahagiaan Hayoung."
Seokjin memberanikan diri untuk berbalik meskipun tak cukup berani untuk menatap Namjoon. "Aku, juga terlalu egois tadi."
Namjoon melangkah ke depan hingga berhadapan langsung dengan Seokjin lalu menarik tangan Seokjin ke genggamannya, membuat mata Seokjin menatapnya secara tak sadar. "Tidak, tidak, kau tak perlu menyalahkan dirimu atas perasaanmu."
Seokjin terdiam, merasakan pandangan lembut Namjoon yang menenangkannya. Ia mengangguk, tak sanggup lagi menatap wajah Namjoon.
Namjoon menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Bukan seperti ini bayanganku tentang waktu yang kita habiskan seharian ini." Ia terkekeh pelan dan melanjutkan. "Tapi tidak apa, aku akan mencoba menerima semuanya berjalan sekalipun tidak sesuai dengan bayanganku."
Senyum Seokjin muncul bersamaan dengan suara Namjoon yang sampai di telinganya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Namjoon dengan tawa kecil di bibirnya. "Aku senang kau demikian."
"Apa rencanamu sekarang?"
Uh, Seokjin benci ditanyai rencana! Ia bukan Namjoon yang terstruktur dan terencana dengan jelas. Ia mengendikkan bahu, "tidak ada."
Namjoon membalas jawaban Seokjin dengan senyuman lebar, lalu berbalik dan berjalan ke luar. "Bagus kalau begitu, karena aku dan Hayoung berencana pergi ke bioskop."
"Bersamaku?"
"Jelas saja–" Namjoon terdiam setelah menjawab dengan cepat pertanyaan Seokjin. Itu dirinya yang lama, yang memaksa dan berusaha mengatur hasil. Ia berdeham kecil, "tidak, itu Kim Namjoon yang lalu sebelum bertemu Seokjin. Sekarang aku akan bertanya, kau mau ikut bersama kami?"
Hati Seokjin membesar mendengarnya, bagaimana Namjoon membuatnya seolah dirinya yang merubah Namjoon yang dirasa lebih baik. Ia tersenyum lebar, seiring perutnya yang merasakan geli lagi. "Ya, aku akan ikut."
Namjoon tersenyum puas lalu berjalan ke luar. Dari dalam Seokjin mendengar Namjoon berteriak kepada anaknya, 'Ayo cepat bersiap, jangan sampai ketinggalan filmnya, Hayoung-ah,'
Seokjin tersenyum, sangat lebar, seolah bibirnya akan sobek saking lebarnya senyumannya. Ia tak yakin, apakah Ia bersikap benar atau tidak, dengan membuat Namjoon berpikir untuk berubah demikian. Namun yang jelas Ia senang, mengetahui Namjoon mau berubah–sekalipun sangat sulit–untuk memberikan pilihan bagi Seokjin. Memberikan pilihan sehingga kehidupan berjalan tidak seperti bisnisnya yang terproyeksi dan terramal, tidak seperti pekerjaannya yang memerintah dan harus memiliki hasil sesuai ekspektasinya.
Jantung Seokjin berdebar sekali lagi, merasakan geli sekali lagi, dan dengan yakin Seokjin mengetahui jika ada konfenti bayangan di dalam perutnya yang sedang meletup seiring lonjakan perasaan bahagianya.
.
.
.
Mereka benar-benar menghabiskan waktu bertiga, bersama. Pertama nonton bioskop keluarga–dimana mereka menyewa semacam satu tempat tidur, lalu pergi makan, dilanjutkan ke pusat permainan, lalu diakhiri dengan masuk ke box untuk foto instan.
Penjaga tempat foto instan itu menyapa Hayoung ketika gadis itu diajari Namjoon melakukan transaksi. "Siapa namamu?"
"Hayoung,"
Gadis penjaga itu tersenyum gemas dan mencubit pipinya. "Hayoung-ie sangat cantik dan pintar, orang tuamu pasti bangga memilikimu." Ucapnya sambil melirik Namjoon dan Seokjin.
Si dua orang dewasa yang merasa disebut saling melirik, menjaga mulut mereka untuk tidak berkomentar. Tapi Namjoon tersenyum kemudian, "ya, Hayoung memang pintar. Tapi kami bukan orang tuanya,"
Seokjin mencelos lalu melirik Namjoon yang tersenyum tenang. Si gadis penjaga itu terlihat terkejut dan bersalah dalam satu waktu.
"Maksudku, ya, kami berharap akan menikah, tapi belum sekarang."
Seokjin merasakan perasaan lega muncul dalam kapasitas besar di dalam dirinya. Sekali lagi Ia berterimakasih pada Namjoon, untuk memberinya pilihan dan tidak memaksa.
"Kau mau menginap?"
Seokjin terlonjak kecil ketika Namjoon bertanya padanya demikian. Mereka berjalan bertiga menuju basement tempat mereka memarkirkan mobil, dan Hayoung yang luar biasa hebat masih terbangun di jam ini.
"Haruskah aku menginap?"
Namjoon mengangkat alisnya, lalu tersenyum miring dan menurunkan pandangannya menatap anaknya. "Hayoung -ah, haruskah kta mengantar Paman Seokjin pulang?"
Gadis itu melirik tak suka kepada Seokjin, matanya memicing dan alisnya bertemu. "Tidak." Jawabnya tegas.
Namjoon tertawa puas sedangkan Seokjin melotot tak percaya. Apalagi setelah Hayoung tos dengan Namjoon yang masih tertawa puas. Seokjin tahu, Namjoon memiliki kartu as di mana Hayoung yang mudah diajak koalisi dengan Namjoon. Seokjin ingin protes, namun tak tega melihat bagaimana bapak-anak itu tertawa senang.
Sekali lagi hati Seokjin merasa hangat, bagaimana Namjoon memperlakukan Hayoung yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Ini gambaran keluarga impian Seokjin sejak Ia tinggal di panti asuhan; seorang kepala keluarga yang menyayangi keluarganya dan dekat dengan anak gadisnya, seorang anak gadis yang menganggap orang tuanya sebagai teman dan membalas rasa sayang orang tuanya, lalu ada–
Seokjin?
Haruskah Seokjin masuk ke lingkaran keluarga kecil di depannya ini dan merusaknya? Bisakah Seokjin melengkapi bagian dari gambaran keluarga impiannya sendiri? Mungkinkah Hayoung akan menerima Seokjin untuk melengkapi bagian keluarga ini? Apakah Hayoung mau menerima Seokjin yang tiba-tiba berubah dari gurunya menjadi lelaki perebut Papanya?
Seokjin merasa mual tiba-tiba.
.
.
.
Hayoung langsung tidur sesampainya mereka di rumah sesuai ucapan Namjoon, apalagi mereka berencana pagi-pagi sekali akan singgah di tempat memorial Mamanya. Seokjin benar-benar menginap di rumah ini sekali lagi–masih merasa mual dan sedikit pusing–namun memaksa mengunci diri di dalam kamar tamu.
Pikirannya penuh sekali lagi, memikirkan berbagai macam hal. Bagaimana sosok Kim Namjoon yang selalu terlihat tampan dan sempurna itu selalu memperlakukan Seokjin dengan baik dan membuatnya merasa berharga. Bagaimana senyuman manis anak gadis bernama Hayoung yang Ia sayangi sejak lama karena kepandaiannya. Lalu dengan cepat pikirannya berputar ke waktu di mana Ia mendapatkan ciuman Namjoon untuk pertama kalinya, juga bagaimana perasaan bahagianya saat itu.
Semuanya indah, jauh dari perkiraan Seokjin selama ini. Karena Kim Seokjin selalu ketakutan membayangkan bagaimana kehidupan percintaannya kelak. Karena Kim Namjoon yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik dan jauh dari ekspektasi Seokjin. Karena ini terasa terlalu tidak nyata.
Seokjin memutuskan keluar pergi ke dapur sekedar untuk mencari air dingin, untuk apalagi selain mendinginkan kepalanya.
"Kau belum tidur?"
Seokjin menghentikan langkahnya saat melihat Namjoon duduk di bar stool di pantry dapurnya. Ada kaleng bir di tangannya, sedangkan laki-laki itu duduk sendirian bawah satu-satunya lampu gantung yang menyala di dapur itu.
"Ya, aku kehausan." Seokjin berjalan dengan berani untuk membuka lemari es, lalu ikut duduk bersama Namjoon. "Kau tidak tidur?"
Namjoon tersenyum simpul. "Kurasa kita sama-sama tidak bisa tidurnya."
Kekehan kecil keluar dari bibir Seokjin. "Apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Kau."
Tangan Seokjin menggenggam botol air dingin itu lebih keras.
Kemudian mereka berdua terdiam, duduk menatap tangan masing-masing yang menggenggam minuman. Keduanya terdiam tak ada yang membuka pembicaraan, membiarkan masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Namjoon, kau benar-benar ingin menikahiku?" Suara Seokjin tercekat di akhir ucapannya, terkejut bukan main atas mulutnya yang menyuarakan kalimat yang dipikirkannya sejak tadi.
Namjoon mengangguk, reaksi yang jauh di luar ekspektasi Seokjin. Ia tersenyum simpul saat menatap Seokjin. "Tapi tidak apa, aku benar-benar akan menunggumu. Ataupun jika kau menolakku, aku akan mencoba hingga aku lelah."
"Benarkah?"
Namjoon mengangguk mantap. "Kau orang pertama yang benar-benar membuatku berubah, tidak seperti diriku sebelumnya, Jinseok. Kau orang yang kuat yang menyadarkanku jika bukan aku saja yang hebat, kita memiliki visi sama tentang keluarga, kita ditakdirkan bersama."
Seokjin tertawa geli mendengar kata 'takdir' yang dilontarkan Namjoon. Sungguh ironi ketika Namjoon begitu yakin mengucapkannya sedangkan Seokjin mati-matian bertanya kesungguhannya.
.
.
.
Ini pertama kalinya bagi Seokjin, untuk datang ke pemakaman dan tempat memorial, karena sejak kecil bisa dibilang Ia hidup sendiri. Maka Seokjin menebak-nebak sejak pagi, apa yang harus Ia lakukan dan bagaimana perasaan Namjoon dan Hayoung nanti.
Pikirannya terus sibuk hingga mobil Namjoon berhenti dan mereka berjalan di bukit kecil.
"Kami hanya pergi ke pohon memorial Mama Hayoung,"
Seokjin mengangguk, lalu sedikit terkejut ketika Namjoon menarik tangannya ke dalam genggamannya dan merasakan lelaki itu meremas tangannya dengan lembut. Tak lama, Seokjin kembali terkejut ketika mereka hampir sampai di puncak bukit dan melihat beberapa pohon besar berdiri. Hayoung berteriak sambil berlari ke salah satu pohon.
"Mama!"
Sepertinya ini tanah milik keluarga Kim, dimana setiap anggota keluarga yang meninggal akan ditanamkan sebuah pohon di bukit ini.
Genggaman tangan Seokjin menguat ketika melihat Hayoung membungkuk dan berteriak memanggil 'mama'nya dengan riang di salah satu pohon yang teduh. Itu Mama Hayoung, wanita yang melahirkannya.
Wanita yang melahirkan Hayoung, tak bisa tergantikan, dan Namjoon jelas-jelas mengatakan jika posisi wanita itu tak akan tergantikan oleh siapapun di mata Hayoung.
"Joon–"
Seokjin merasa mual.
Mendengar nada tercekat Seokjin, Namjoon menghentikan langkahnya dan menatap Seokjin, membiarkan Hayoung menikmati waktunya bersama Mamanya. "Ya, Jinseok?"
Nafas Seokjin tak beraturan dan pikirannya kacau. Hayoung tak akan bisa menerimanya. Ditambah bagaimana gambaran Hayoung padanya saat mengetahui seseorang yang dulunya adalah guru baginya tiba-tiba berubah menjadi Papanya, tidur di kamar bersama Papanya, lalu tinggal di rumah yang sama dengannya selama 24/7–Tidak!
Seokjin tidak bisa.
Matanya memanas ketika Namjoon mengguncang bahunya, dan air matanya jatuh bersamaan.
"Aku tidak bisa."
Alis Namjoon sedikit menyatu, kebingungan. "Ya?"
Lelaki di depannya itu menggeleng dengan mata yang memerah. "Aku tidak–Joon." Suara Seokjin tercekat, Ia ketakutan. "Aku harus pulang,"
"Kuantar."
Seokjin masih menggeleng ketika mencoba melepas genggaman tangan Namjoon yang sekarang terasa menyakitkan. "Tidak. Jangan."
Namjoon tidak punya ide apapun atas sikap Seokjin yang berubah demikian.
"Aku tidak bisa bersamamu. Tidak untuk bekerja, untuk menjadi guru–" Seokjin terkejut sendiri saat Ia mengucapkan kata guru, mengingatkannya jika Ia akan selamanya dianggap sebagai guru oleh gadis yang Ia inginkan menjadi anaknya kelak.
Ya, hati Seokjin ingin pula Hayoung menjadi anaknya, bersama Namjoon, menjadi keluarga yang Ia idamkan sejak lama.
-TBC-
Im so fakin sorry if i dont fufill your expectation of this fic. Im so sorry guys, forgive me.
ILY!
RnR?
