A Blessing in Disguise
Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others
Length : Parts
Rate : T
Genre : Romance, FamilyLife.
ENJOY 5.3K FINAL CHAPTER!
(and sorry for typos)
A Blessing in Diguise
Bagaimana Seokjin membayangkan keluarga kecilnya kelak?
Ia ingin dua anak. Anak pertama seorang noona agar lebih dewasa menghadapi adiknya dan membantu Seokjin mendidik adiknya, dan anak keduanya adalah laki-laki, perempuan pun tak masalah namun Seokjin merasa lebih baik laki-laki. Seokjin selalu memiliki gambaran demikian sejak lama, membayangkan setiap weekend dihabiskan bersama keluarga kecilnya termasuk suaminya, seperti keluarga lain.
Memiliki suami yang mencintai Seokjin dengan sepenuh hati juga menjadi gambaran idealnya. Terlebih suami yang memiliki konsep tentang kehidupan yang sama dengannya, suami yang mau mendidik bersama karakter anaknya, juga menemani Seokjin menikmati waktu ketika anaknya tumbuh.
Seorang suami yang selalu terbuka pada Seokjin. Suami yang mau berbagi keresahan ketika Seokjin mendapati anak pertamanya memiliki kekasih, atau mendapat ciuman pertamanya. Suami yang mau mendengar keluhan Seokjin ketika anak kedua mereka mengacau dan tidak mau mendengarnya. Suami yang selalu ada untuk Seokjin hingga anak mereka tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing.
Suami yang seperti itu ada pada diri Namjoon.
Dan Seokjin tahu itu.
Maka mengetahui beberapa fakta tak sejalan dengan kehidupan keluarga idaman Seokjin membuat ketakutan merengkuhnya dan menyesakkan dadanya. Seokjin ketakutan tanpa tahu pasti penyebabnya.
.
.
.
Seokjin tak bisa memperlihatkan tangisan sekaligus ketakutannya di hadapan Hayoung. Maka Ia memilih memberi jarak antara dirinya dan Namjoon setelah menghapus air matanya dan menekan perasaannya, melangkah ke depan lebih dahulu dan bersanding dengan gadis itu.
Ia menghela nafas, merasakan jika sosok Ibu Hayoung ada di antara mereka, menyaksikan bagaimana dirinya terlihat bodoh mencoba memasuki kehidupan Hayoung. Seokjin berbisik dalam hati, berjanji untuk tidak akan menyakiti Hayoung dan membuat gadis itu merasa insekur atas suatu hal, apalagi jika dirinya penyebabnya.
Namun berada diantara Namjoon dan Hayoung bukan ide yang baik, menyebabkan tiap detiknya Seokjin merasa terhimpit atas sesuatu di dadanya. Maka Ia secepat mungkin berpamitan pada mereka, menolak ketika Namjoon memaksa untuk mengantar.
"Sungguh, tak masuk akal jika kau menolak kuantar. Bus atau apapun sangat jauh dari tempat ini." Namjoon dengan yakin menahan Seokjin.
Seokjin menggigit pipi bagian dalamnya. Itu benar.
"Hayoung juga akan kebingungan jika kau menolak." Suara Namjoon terdengar putus asa kali ini.
Dari jarak beberapa langkah di depan mereka, Seokjin melihat Hayoung sedang berjalan dengan riang sambil menggenggam bunga yang dipetiknya dari rumput di sekitar pohon memorial Ibunya.
Maka Seokjin menurut. Bukan karena permintaan Namjoon atau karena lelaki itu sekali lagi menggunakan kartu As miliknya. Namun karena Seokjin tak ingin membuat Hayoung kebingungan.
Setidaknya masalah orang dewasa tak mempengaruhi Hayoung.
Ini pertama kalinya Seokjin terdiam dan pasif di dalam mobil berisi mereka bertiga. Hayoung dan Namjoon terlihat bercerita tentang banyak hal, termasuk bermain tebak-tebakan dalam bahasa inggris seperti biasanya. Namun Seokjin hanya memperhatikan, tak berniat tersenyum atau ikut tertawa melihat pemandangan indah di depannya.
Mengenai keluarga, Seokjin bertanya apakah memang Ia tak pernah ditakdirkan untuk memiliki keluarga.
.
.
.
Masa kecil Seokjin berbeda dari anak kecil kebanyakan. Ia tak memiliki orang tua, tak tahu pula siapa orang tuanya. Hanya satu yang Ia panggil dengan sebutan Ibu, ialah Ibu Pantinya. Wanita paruh baya yang berbau coconuty itu selalu bersikap baik pada Seokjin, menyayangi Seokjin seolah Ia anaknya sendiri, selalu datang mengambil rapor Seokjin lebih awal dibanding teman-teman sebanyanya yang juga tinggal di panti.
Namun Ia sudah memiliki anak yang jauh dewasa dibanding Seokjin. Dan sekalipun Seokjin tak pernah berhasil berdamai dengan hatinya untuk menganggap dua hyung itu–anak Ibu panti–sebagai kakaknya sesuai permintaan Ibu panti. Tidak, Seokjin tidak semudah itu memasukkan seseorang ke dalam daftar orang yang berarti di hidupnya. Hanya Ibu panti yang Ia anggap Ibunya, tidak bagi kedua hyung itu.
Maka sekalipun Seokjin selalu tercukupi kasih sayangnya, Ia tak pernah bisa memasukkan wanita itu ke dalam daftar nomor satu di hidupnya. Karena nomor satu itu akan selalu Seokjin kosongi, memberikan celah bagi Seokjin untuk nama orang tua kandungnya mengisi tempat itu.
Maka itu yang Seokjin yakini; bahwa posisi nomor satu dalam daftar tiap orang akan selalu terisi–atau dibiarkan kosong–sebagai tempat untuk nama orang tua masing-masing.
Dan begitu Seokjin sadar jika Mama Hayoung akan selamanya di nomor satu, Seokjin tak ingin repot-repot mencoba memasuki dunia gadis itu, memaksa namanya ada di daftar itu, terlebih jika sebelumnya Ia adalah guru Hayoung. Tidak, Seokjin tak ingin egois.
Karena egois bukan diri Seokjin.
.
.
.
Nyatanya Seokjin adalah orang yang egois.
Karena saat berada di depan gedung apartemen murahnya, saat dimana Ia berpamitan dengan Hayoung dan gadis itu berucap, "sampai bertemu besok Selasa, Paman!" Seokjin berbohong dan mengangguk.
Terlebih ketika Namjoon menyusulnya keluar dan menahan tangannya, Seokjin bersikap begitu egois dengan menarik tangannya dengan kasar dan meninggalkan luka di mata Namjoon.
Seokjin egois.
"Maafkan aku," lirih Seokjin menatap sepatunya. "Sebaiknya aku tak bekerja lagi denganmu, menjadi guru Hayoung–" suara Seokjin tercekat mengucapkan nama gadis itu.
Namjoon terdiam, ingin memaksa Seokjin untuk menatap matanya namun terlalu takut jika Ia memaksa.
"Aku sungguh tidak bisa melihat Hayoung lalu mendengar gadis itu memanggilku gurunya, sedangkan semua yang kita lakukan tidak seperti guru dan wali murid."
Namjoon mendengus. "Ini sangat tidak adil bagi Hayoung."
Wajah Seokjin terangkat dengan cepat dan matanya menatap Namjoon. "Kau tidak pernah berpikir apakah ini adil bagiku atau tidak?"
Sekali lagi Namjoon terdiam, menahan ucapannya agar tak menyakiti Seokjin lebih dalam. Ia jelas tahu, tubuh di depannya ini hanya bersikap seolah Ia kuat dan tahan banting sedangkan di dalamnya tidak.
"Sampaikan permintaan maafku padanya. Katakan pada Hayoung jika Ia gadis yang pintar dan aku menyukainya." Bisik Seokjin lalu berbalik.
Namjoon menyela cepat. "Jika kau menyukainya, bukankah seharusnya kau bertahan di sampingnya? Menemaninya dan bersamanya, menjaganya bersamaku?"
.
.
.
Ironi sekali lagi terasa, saat jam makan siang dan Seokjin baru saja merapikan laboratorium, Hoseok dan Jongkook berteriak mirip burung di sepanjang lorong. Mereka menggeret Seokjin sambil berteriak ramai hingga ke kantin.
"Baiklah," mata Jongkook berseri. Lelaki itu menaruh dagunya di telapak tangan, bersiap mendengar cerita Seokjin dengan bahagia. "Ceritakan bagaimana pestamu dengan Kim Namjoon yang tampan dan yumm itu."
"Ya. Bahkan Namjoon hyung datang ke apartemen untuk menjemput Seokjin paginya."
"Ia? Datang ke apartemen murahmu?" Jongkook berseloroh berlebihan.
Tangan Hoseok terkepal bersiap meninju Jongkook main-main. Namun berikutnya Ia tersenyum sambil memekik mirip gadis. "Kau tahu? Ia menunggu Seokjin bangun, melarangku untuk membangunkan kekasihnya yang sedang tidur, dan menunggu dengan tenang."
"Whoaa, itu gila sungguh! Sebutkan siapa saja yang mau menunggu kekasihnya tidur tanpa berniat membangunkannya?"
Hoseok berseloroh kemudian. Mereka berdua mengagungkan Namjoon di depan Seokjin seperti dewa, sedangkan perut Seokjin mulai mual.
"Kau tahu, Jin? Taehyung bilang Namjoon hyung sangat parah dalam hubungan percintaan. Dan baru kali ini–kemarin Jumat–Taehyung melihat Namjoon hyung bersikap seperti itu dalam berhubungan. Kau pasti sangat spesial baginya."
"Benar, seolah Ia tak memiliki kekurangan sama sekali. Dia sangat pandai bersikap dan membuka hatimu, Jin?"
"–Jin?"
"Eh?"
Seokjin mengangkat wajahnya, menemukan dua sahabatnya menatapnya dengan wajah bingung dan alis berkerut.
"Ada apa dengan reaksimu itu?" protes Jongkook melihat Seokjin seperti linglung dan tak fokus.
Perut Seokjin masih mual. Bukan mual saat Ia merasa senang bukan main, kali ini mual karena gerah mendengar nama Namjoon yang disebut terus menerus.
"–Jin?" Hoseok menampilkan wajah khawatir. "Kau baik?"
Seokjin tersenyum simpul, membuat sahabatnya merasa aneh. "Sebenarnya aku sudah tak bekerja di rumah itu lagi, menjadi guru anaknya, mulai minggu ini."
"Eh?" Jongkook terkikik lirih.
"Karena... kalian akan menikah?" Tebakan Hoseok ragu-ragu.
Seokjin membalas dengan senyuman simpul, tak sampai ke mata. "Ya, kemarin aku mengatakan ini pada Namjoon, Kim Namjoon. Jika aku tak bisa bekerja lagi padanya."
"Kenapa?"
Seokjin menggeram, menjatuhkan wajahnya ke lipatan tangannya di atas meja. Sejak pagi Ia sudah kesal karena pikirannya tak mau berdamai dengan terus memikirkan sosok Namjoon. "Kalian tidak tahu."
Hoseok dan Jongkook berdecih bersamaan. "Mana ada sahabat yang tak 'tahu' seperti itu. Kita akan tahu, Jin, akan memahamimu." Hoseok berujar lirih, mengangkat kepala Seokjin. "Kau bisa bercerita pada kami, kurasa akan membantu."
Seokjin menghela nafas, meringankan beban di dadanya yang terasa menghimpit sejak tadi. "Kami tidak akan bisa bersama. Selamanya."
Jongkook berdecih kesal, "mana ada."
"Diam dulu!" desis Hoseok.
Seokjin menelan liurnya dengan susah. "Kami benar-benar tidak berada dalam hubungan yang bisa berjalan mulus, menjadi kekasih ataupun menikah seperti yang diinginkan Namjoon–Kim Namjoon."
"Aku selalu khawatir posisiku di mata Hayoung, anaknya. Kalian tahu, sebelumnya aku adalah guru yang bermain dan belajar dengannya, lalu tiba-tiba BAMMM, Namjoon membawaku ke rumahnya sebagai kekasihnya, sekalipun Ia belum mengatakan hal ini pada Hayoung sih."
"Lalu?"
Seokjin mengusap wajahnya kesal. Matanya memerah dan kepalanya mau pecah. "Aku tidak mau jika aku memiliki hubungan dengan Namjoon sementara anaknya, anak yang kami sayangi, tidak bisa menerima posisiku. Kalian–duh."
"Kau mencintai Namjoon?" Jongkook berbisik lirih.
Seokjin merengek tanpa suara, bibirnya melengkung ke bawah dan matanya mulai berair. "Ya."
"Ya sudah. Aku yakin Namjoon hyung cukup dewasa untuk memberikan gambaran pada anaknya, atau menjelaskan sejelas-jelasnya tentang posisimu pada anaknya."
"Itu benar." Hoseok mengangguk setuju.
Seokjin menahan mati-matian agar air matanya tak jatuh. "Namjoon bersikap sangat mengesankan di mataku, bersikap benar-benar seperti lelaki sejati yang menjelaskan dengan sangat bagaimana Ia mencintaiku." Air mata Seokjin meluruh, Ia tak tahan. "Namun aku merasa Ia sama sekali tak memberiku waktu untuk merubah imejku pada Hayoung, atau memberi tahu anaknya tentang kami, ya tuhan ampuni aku."
"Seingatku Namjoon hyung bercerita jika kau masih tak yakin dengannya Sabtu kemarin." Hoseok memotong.
Seokjin terdiam. Itu benar. "Aku–"
"Kau sendiri yang belum yakin pada dirimu sendiri, Jin." Jongkook menggenggam tangan Seokjin dengan lembut. "Kurasa yang kau perlukan adalah waktu untuk meyakinkan dirimu sendiri dan tidak menjadikan Namjoon hyung maupun Hayoung sebagai tameng alasanmu."
Seokjin mengubur wajahnya di tangan, menangis sejadi-jadinya, hingga punggungnya bergetar.
"Jin, kurasa Jongkook benar. Baru kali ini aku melihat seseorang begitu besar dan sederhananya Ia mencintai. Namjoon hyung benar-benar lelaki yang baik, jangan kau sakiti hatinya hanya karena sesuatu hal yang belum tentu terjadi."
Seokjin masih menangis, mengubur wajahnya dengan telapak tangannya sedangkan punggungnya masih bergetar. Ia menangis, bukan karena kesal atau apapun. Ia menangisi dirinya sendiri karena ucapan dua sahabatnya benar.
Dari jauh, lelaki yang baru saja memasuki kantin menghentikan langkahnya tiba-tiba. Melihat kekasihnya sedang memasang ekspresi sedih dan dua sahabat kekasihnya lainnya, yang satu juga bersimpati seperti Jongkook dan satunya mengubur wajahnya di telapak tangan. "Seokjin kenapa?" gumamnya dari kejauhan, takut mendekat dan membuat suasana tak nyaman.
Seokjin menangis, dan Taehyung tahu itu–Ia melihat punggungnya yang bergetar.
"Hyung?" Ia berbicara saat nada sambung panggilannya berubah menjadi suara lelaki. "Kalian baik? Hubunganmu dengan Seokjin baik?"
"Kenapa?"
"Ia menangis. Di kampus."
.
.
.
Seminggu penuh Seokjin berusaha mati-matian mempertahankan diri, mengingatkan dirinya sendiri jika kegagalan adalah hal yang wajar terlebih dalam suatu hubungan. Terlebih lagi keadaan antara Namjoon dan dirinya bukanlah suatu hal yang bisa dengan seenaknya dikategorikan wajar karena perbedaan umur dan kondisi Namjoon yang telah memiliki Hayoung.
Maka Seokjin bekerja lebih giat, belajar lebih giat, hanya berangkat tidur ketika kepalanya sudah mulai pusing dan matanya perih. Karena dengan itu, tak ada waktu bagi Seokjin untuk memikirkan hal-hal remeh, seperti Namjoon dan kerinduannya pada Hayoung.
Seminggu penuh pula Seokjin lebih banyak diam, mendengarkan gerutuan Hoseok atau candaan Jongkook, serta melihat bagaimana Taehyung dan Jongkook bermesraan atau sekedar berdebat dengan lucu.
Seokjin berjanji untuk tidak memikirkan hal tentang Namjoon dan segala hal terkait dirinya, membiasakan diri untuk hidup seperti lima bulan yang lalu ketika Ia tak menjadi guru les Hayoung, dan sebagainya.
Karena Seokjin tak boleh lengah apalagi karena cinta.
Hingga di minggu kedua, Seokjin mulai terbiasa. Tidak terlalu memaksa dirinya bekerja dan belajar seperti orang gila karena Ia bisa mengatur pikirannya untuk tidak memikirkan Namjoon. Ia juga mulai terbiasa kembali bercanda dan menimpali candaan Taehyung saat mereka istirahat makan siang. Seokjin sudah bisa kembali 'normal'.
"Itu tidak normal, Jin, kau tahu itu."
Seokjin membuka tutup botolnya dengan tak nyaman, meneguk air mineral di dalamnya dengan terburu.
"Kau melompati beberapa fase, Jin. Putus cinta ataupun patah hati, keduanya sama. Kau harus melewati beberapa fase hingga kau benar-benar kuat dan siap."
Alis Seokjin menyatu main-main. "Kenapa tiba-tiba membicarakan ini?"
Jongkook melirik Taehyung, lalu mendapat persetujuan Taehyung untuk melanjutkan. "Aku tahu, kami tahu, jika kau tidak baik. Kau melewati beberapa fase dan langsung melompat ke tahap akhir, bersikap kuat, sedangkan kau perlu menangis lebih keras dan beberapa fase lainnya. Kau tidak dapat pelajaran ini?"
Giliran Seokjin yang melirik Hoseok, berharap Hoseok juga terganggu dengan pilihan topik Jongkook dan memaksa mereka mengubah topik pembicaraan. Namun Hoseok bergeming, menunjukkan jika dirinya setuju pada Jongkook.
"Yang ada hatimu yang mati, Jin."
Seokjin merasa hatinya diremas dan darah berdesir cepat di kepalanya.
"Kami bisa membantumu."
Senyum dipaksakan terukir di wajah Seokjin. "Aku tak yakin apa yang kau bicarakan, Kook. Kau terkena cairan kimia saat praktikum tadi?"
Taehyung memutar bola matanya sarkastik dan Jongkook mencibir.
Mereka bertiga sudah jengah dengan sikap penolakan Seokjin. Cukup sudah, seminggu melihat Seokjin seperti orang gila yang menolak menangis, menolak menelpon Namjoon, bersikap seperti orang yang kuat, sedangkan semua itu seolah mempertegas jika Seokjin hancur.
Ketika mereka berpisah, Taehyung menyempatkan diri memanggil Seokjin. Tanpa sadar Seokjin mundur selangkah, merasa tak nyaman berdekatan dengan Taehyung–dalam kasus ini Taehyung adalah sepupu Namjoon bukannya pacar Jongkook.
"Namjoon hyung juga gila, Ia bekerja seperti dulu seolah tak punya Hayoung."
Seokjin memaksakan tersenyum. "Kuharap Ia bisa membagi waktunya dengan anak–nya" suara Seokjin tercekat ketika mengatakan anak.
Decakan lidah Taehyung seperti frustasi. "Benar kata Jongkook, kalian berdua sama saja."
"Ya?"
"Kalian tidak baik. Kalian harus menyelesaikan masalah kalian dulu lalu bisa bersikap tenang dan seolah tak ada apapun. Bagaimana mungkin aku mempercayakan Hayoung kepada kalian yang masih seperti remaja ini, sialan."
Taehyung jelas kesal, suaranya terdengar jengah dengan Seokjin. Ditambah ketika Ia berbicara dengan kesal dan suara tingginya. Ia meninggalkan Seokjin untuk menyusul Jongkook, membiarkan Seokjin sendirian dengan kepala pusing bukan main.
.
.
.
"Anak muda, kau baik?"
Seokjin melongo, wajahnya terlihat terkejut namun berusaha tersenyum–yang mana terlihat sangat kaku. "Ya? Maksudku, ya, aku baik. Ada yang bisa kubantu?"
Wanita paruh baya di hadapan Seokjin itu tersenyum miring, "kau memindai belanjaanku dua kali."
Mata Seokjin melongo, melihat ke layar komputer untuk mengecek daftar belanja wanita itu. Ya, benar, Seokjin bodoh!
"Ya tuhan–maafkan aku, sungguh."
Beruntung bagi Seokjin karena wanita itu tidak mengamuk atau menceramahi Seokjin panjang lebar. Dengan gerakan cepat, Seokjin membatalkan pindaian barcode belanjaan wanita itu lalu mengulang dari awal sesuai prosedur.
"Kau terlihat buruk, anak muda."
"Ya?"
Seokjin terlihat buruk, kata wanita itu. Sebenarnya sangat buruk, dan memang keadaannya lebih buruk daripada yang terlihat. Seokjin tahu itu, terlebih setelah Taehyung mencegatnya kemarin.
Pikiran dan batin Seokjin yang telah dibangunnya sekuat benteng untuk tidak memikirkan Namjoon hancur. Ia memikirkan Namjoon semalaman, tidak mendapat waktu tidur hingga pagi, dan harus kembali beraktivitas seolah Ia baik-baik saja.
"Ini belanjaan anda, maafkan kesalahanku tadi." Seokjin membungkuk sambil menyerahkan kantung plastik berisi belanjaan wanita itu.
Ketika Seokjin selesai membungkuk, wanita itu telah keluar dari toko–Seokjin baru sadar jika Ia terlalu lama membungkuk. Ingatannya kembali mengulang ke kejadian tadi pagi, saat di kelas Profesor Hong, saat Jongkook yang duduk di sebelahnya mendorong secarik kertas.
Telepon Namjoon hyung atau aku yang melakukannya!
Seokjin masih menyimpan kertas itu–Ia meremasnya lalu memasukkan ke saku jaketnya asal setelah Ia membaca pesan aneh Jongkook. Tentu saja Jongkook marah, melotot dan berdesis lirih saat Seokjin mengabaikan pesannya, namun terlalu takut untuk mengacau di kelas Profesor Hong.
Tangannya merogoh saku jaketnya, menemukan kertas lusuh–pesan dari Jongkook.
Jongkook benar, Seokjin seharusnya menghubungi Namjoon. Seharusnya Ia bersikap tidak seperti pecundang dan memperjelas hubungan ini. Menyelesaikan masalah dengan cara berdiam diri dan menganggap seolah semua beres adalah kesalahan. Dan Seokjin paham itu.
Tapi ini sudah dua minggu, hari Jumat kedua sejak hari Minggu yang menyakitkan. Maka Seokjin meremas kertas pesan Jongkook sekali lagi dan memasukkannya ke saku jaket asal.
Denting bel pintu minimarket berbunyi nyaring, menyadarkan Seokjin jika Ia harus fokus bekerja.
"Selamat datang–"
"Hai."
Suaranya datar, dan terdengar serak. Wajahnya masih sama tampannya dengan wajah yang Seokjin temui hampir enam bulan lalu. Wajah tampan dengan rahang tegas dan mata menenangkan. Namun kantung di bawah matanya mengerikan.
Lidah Seokjin kelu, sekeruh pikirannya yang tiba-tiba berhenti bekerja. Efek magis Namjoon masih sama mengerikannya sejak pertama kali mereka bertemu, sama seperti sejak pertama kali Seokjin menyadari ketampanannya; membuat pikiran Seokjin berhenti bekerja dan tubuhnya yang mengalami anomali.
"Bisa kita–bicara?"
Pertama kalinya. Pertama kalinya bagi Seokjin mendengar suara Namjoon yang bergetar tak yakin. Pria itu terlihat kaku saat berbicara, dan tersenyum dengan canggung setelahnya.
"Tidak bisa. Aku bekerja."
Ucapan bodoh macam apa yang Seokjin katakan?!
Detik selanjutnya Seokjin merapal sumpah serapah yang Ia ketahui dalam hatinya. Ia butuh bicara dengan Namjoon. Ia butuh meluruskan segalanya. Agar hidupnya kembali lurus, entah itu menyakitkan atau menyenangkan. Ia harus bicara–
"Baiklah." Gumam Namjoon lirih, terlihat begitu kecewa di balik senyuman simpulnya, lalu Ia melangkah mundur.
Denting lonceng berbunyi nyaring, terdengar mengerikan dan menyakitkan. Namjoon membuka pintu minimarket itu sekali lagi, dengan gerakan lemas dan lesu.
"Tunggu!" suara Seokjin terlalu keras–Ia sendiri terkejut karena suaranya yang begitu keras dan tak mampu dikontrolnya sendiri.
Punggung Namjoon tersentak dan lelaki itu berbalik secepat mungkin, terlihat berharap saat menatap mata Seokjin, terlihat menyedihkan sekaligus.
Seokjin berdeham, tak berani membalas tatapan Namjoon. "Besok–datanglah." Seokjin meremas meja kasir di depannya dengan keras, buku jarinya memerah. "Aku tidak bekerja besok. Jadi, datanglah."
Dengan jelas Seokjin menangkap senyum merekah Namjoon, dan bagaimana lelaki itu mengangguk penuh keyakinan. "Ya. Besok. Aku akan datang lagi."
Senyuman tipis di bibir Seokjin ikut muncul saat melihat senyum lebar di bibir Namjoon. Benar. Seokjin sudah melakukan hal dengan benar. Ia harus menghadapi Namjoon dan segala kenyataan yang mengiringi. Apakah hal baik atau buruk hubungan mereka akan terjadi, setidaknya Seokjin tak akan memasang benteng kokoh kali ini.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Hoseok terdengar ribut, membangunkan Seokjin dari tidurnya. Ini hari Sabtu. Saatnya Seokjin membolos dan beristirahat serta mendapat jatah tidur lebih lama. Tapi teman seapartemennya itu seolah mengabaikan keinginan Seokjin dan berteriak di ambang pintu kamarnya dengan keras.
"Kim Seokjin! Bangun atau kusiram air!"
Seokjin menurut dan bangun, karena Hoseok tidak pernah berbohong jika mengatakan hal demikian. Ia mengucek matanya, menguap lebar dan menggaruk kepalanya.
"Katakan jika di luar ada serangan Korea Utara hingga kau seramai ini di pagi hari."
Hoseok melotot sarkas dan berjalan ke depan Seokjin, menarik tubuh lemas sahabatnya itu dengan sentakan keras. "Memang tidak, tapi Kim Namjoon ada di apartemen kita. Jadi kurasa itu hal penting yang membuatmu harus bangun segera."
Kesadaran Seokjin sepenuhnya terkumpul. Ia duduk tegap dan mengusap wajah bengkaknya. Uh, kenapa juga Ia semalam harus kelaparan dan memakan ramen, menyebabkan wajahnya bengkak di pagi hari. Dan kenapa pula Namjoon datang sepagi ini?!
.
.
.
Seokjin tak tahu jelasnya, apa yang Namjoon katakan dan apa yang dilakukan Hoseok satu jam ini. Yang jelas, sekarang, Seokjin sudah duduk di dalam mobil Namjoon yang melaju ke rumahnya. Ini masih pagi, Seokjin baru bangun tidur, dan semua informasi yang didapatnya sepagi ini dengan perut kosong tidak mudah masuk ke otaknya.
Namun jelas Ia sudah mandi dan berganti baju yang layak karena ulah Hoseok. Ya, Hoseok sialan.
"Kita makan di rumahku dulu, lalu kita berangkat bersama Hayoung. Kau lapar, 'kan?"
Seokjin mengangguk. Dalam keadaan lapar seperti ini, terlebih ini masih pagi, tubuhnya tidak bekerja atas perintah otak namun perut.
Maka mereka turun bersamaan setelah mobil Namjoon terhenti di depan gerbang rumahnya, lalu masuk dan duduk di meja makan.
Seokjin sungguh merindukan suasana rumah ini. Terlebih saat Hayoung berseru senang menyambutnya dengan pelukan–tubrukan–yang sama seperti saat Seokjin datang untuk mengisi waktu les Hayoung. Sebagai guru.
Ups! Tidak. Seokjin tidak akan jatuh dan mengalah pada pikiran buruk yang merusak.
Ia menangkap gerakan mata Namjoon yang meliriknya saat Hayoung memeluknya dengan senyuman lebar. Tenang saja, Seokjin tidak akan membiarkan dirinya kalah dengan pikiran buruk yang merugikan dirinya sendiri kali ini.
Ia akan menerima jika Hayoung selamanya akan menganggapnya guru.
Dan sugesti di dalam pikiran Seokjin untuk tidak kalah atas pikiran buruknya berhasil membuat Seokjin menampilkan senyuman lebarnya–setelah sempat hilang dua minggu penuh. Seokjin jelas terkejut atas reaksi tubuhnya sendiri ketika Ia menyadari sedang bergurau dengan Hayoung seolah tidak ada hal terjadi antara dirinya dan Papa Hayoung.
"Aku sungguh merindukanmu, kemana saja Paman selama ini?"
Seokjin terkekeh, mengusap kepala Hayoung seperti sebelumnya, menunjukkan jika Ia merindukan gadis itu setengah mati. "Paman juga merindukan Hayoung."
"Kenapa Paman tidak datang kemari lagi? Hayoung tahu jika Paman tidak bisa menjadi guruku lagi karena sibuk belajar, tapi tidak ada salahnya datang di akhir pekan, kan?"
Seokjin melotot terkejut, dengan senyuman lebarnya yang masih terpasang di bibir.
"Hayoung, kurasa lebih baik kita cepat selesaikan makan kita agar tidak kesiangan."
Hayoung mengangkat telapak tangannya dan menempelkan di pelipis, bersikap hormat kepada komandan sambil tersenyum lebar.
Selesai mereka makan, Namjoon segera menggandeng Hayoung lalu memberi isyarat kepada Seokjin untuk ikut mereka. Seokjin tak punya ide kemana Namjoon akan membawanya, terlebih ketika Ia berbicara pada salah satu pekerja di rumahnya.
"Apakah barang-barangnya sudah dimasukkan?"
Lelaki yang Seokjin ketahui sebagai tukang kebun rumah ini mengangguk, menyapa Seokjin dengan senyum sopan lalu mengangguk.
Seokjin masih tidak paham kemana Namjoon membawanya, namun memilih diam dan memperhatikan Namjoon yang bergurau dengan Hayoung sehingga gadis itu tidak bosan. Sekali lagi Seokjin merasakan dahaga kerinduan yang terbayar lunas setelah melihat bagaimana Namjoon bergurau dengan Hayoung.
Ia merindukan momen ini. Merindukan keadaan dimana Namjoon akan tertawa riang bersama Hayoung dan Seokjin yang memperhatikan mereka dengan tenang di kursi di samping Namjoon. Ia dengan senang hati tersenyum ketika mereka berdua tertawa, ikut mendengarkan celotehan Namjoon yang terlihat begitu menyayangi Hayoung dan bagaimana gadis itu membalas rasa sayang Namjoon.
Seokjin menginginkan momen ini terus dirasakannya.
.
.
.
Mereka sampai.
Di sebuah pekarangan dengan taman dan pohon rindang yang tumbuh di halaman rumah besar ini. Seokjin hafal mati kondisi pekarangan ini, bagaimana taman itu masih tertata rapi seperti yang ada di ingatan Seokjin. Ia hafal mati pohon yang terletak di pojok halaman itu, karena Ia yang menanamnya di usia 5 tahun dan merawatnya hingga usia 18.
Ini panti asuhannya. Tempatnya tumbuh dan menghabiskan waktunya selama 18 tahun.
Mata Seokjin berkaca-kaca saat Ia turun dari mobil Namjoon. "Joon–"
Namjoon yang berdiri di belakang mobilnya, yang sedang mengeluarkan kardus-kardus dari bagasi mobilnya, memanjangkan leher dan menatap Seokjin. Ia tersenyum tenang, sungguh tulus dari dalam hatinya.
"Halo, Seokjin-ie."
Suara seorang wanita menyapa Seokjin dengan bergetar. Dengan cepat Seokjin menoleh, mendapati wanita tua sedang berdiri di teras rumah itu, dengan senyuman lebar yang Seokjin rindukan.
Secepat mungkin Seokjin melangkah mendekat ke wanita itu, memeluk ibu pantinya tanpa kuasa menahan air matanya yang jatuh. Betapa Ia merindukan wanita ini, bagaimana Ia merasa bersalah karena tak pernah mengunjunginya setelah 3 tahun Ia meninggalkan tempat ini.
"Kau tumbuh dengan baik," bisik wanita yang masih Seokjin peluk dengan erat ini. Suaranya masih bergetar, seiring air matanya yang juga mengalir.
Keduanya saling rindu, saling melepaskan ledakan rasa rindu yang besar dalam diri masing-masing.
"Ya tuhanku, kau tumbuh dengan baik, Seokjin-ie."
Seokjin mengangguk, merasakan kehangatan yang sama seperti saat terakhir kali Ia memeluk wanita ini di terminal ketika Ia meninggalkan kota ini untuk pergi ke Seoul. Seokjin menangis, bagaimana wanita yang Ia anggap sebagai Ibunya ini telah berubah menjadi tua.
.
.
.
Sudah satu jam Seokjin menggenggam tangan Namjoon saat mereka diberikan waktu oleh Ibu pantinya untuk berputar. Lelaki itu jelas tahu jika Seokjin membutuhkan tangannya untuk digenggam. Karena Seokjin berkali-kali meneteskan air matanya karena rindu seiring Ia melangkah masuk ke dalam panti tempatnya menghabiskan waktu 18 tahun hidupnya.
Seokjin ingat bagaimana mereka dulu tidur bersama, bagaimana Seokjin setiap pagi membangunkan warga panti, lalu memberi tugas warga panti lainnya untuk membersihkan panti dan membantu Ibu panti menyiapkan sarapan.
Seokjin dengan jelas mengingat tiap sisi bagian rumah ini, bagaimana Seokjin melihat anak-anak kecil yang tinggal di panti ini bermain dengan Hayoung seolah itu dirinya beberapa tahun lalu.
Lalu Seokjin mengingat sambil meneteskan air mata, saat dimana Ia melihat satu persatu temannya diadopsi oleh seseorang dan Seokjin harus berpisah dengan mereka. Sedangkan Ia masih berada di sini.
"Terimakasih." Bisik Seokjin sambil berbalik menatap Namjoon.
Lelaki itu meremas tangan Seokjin dengan ringan lalu mengangguk. Menampilkan senyumnya yang menenangkan Seokjin. Tanpa sadar Ia melangkah ke depan, membiarkan tubuhnya memeluk Namjoon.
Ia menangis di pelukan lelaki itu, merasakan bagaimana hangatnya pelukan lelaki itu. Merasakan bagaimana pelukan lelaki itu selalu berhasil menenangkannya. Merasakan dengan jelas jika pelukan lelaki itu terasa pas, bagaimana tinggi mereka berjarak dan bagaimana tangan mereka saling melingkar, seolah keduanya memang ditakdirkan bersama.
"Terimakasih, Namjoon."
"Ya," Bisik Namjoon sambil menghirup udara di ceruk leher Seokjin. Menghirup aroma yang sejak lama Ia damba, aroma yang sejak lama memberinya ketenangan sekaligus keberanian. "Apapun untukmu, Jinseokku."
Seokjin mengangguk dalam pelukan Namjoon, memahami dengan betul jika ucapan Namjoon memang benar.
.
.
.
Mereka makan siang bersama anak panti, membangkitkan ingatan lama yang Seokjin rindukan. Seokjin menyaksikan dengan matanya bagaimana Namjoon yang memberikan pengertian pada Hayoung–berdua saja tentunya–jika ini adalah tempat Seokjin tumbuh. Dengan jelas Seokjin menangkap bagaimana Namjoon mengajarkan pada Hayoung jika mereka, anak panti, adalah teman Hayoung sama seperti temannya di sekolah.
Sekali lagi Seokjin mengagumi bagaimana Namjoon membentuk karakter Hayoung dengan baik. Bagaimana lelaki itu terlihat sangat dewasa dan berwibawa, bagaimana lelaki itu terlihat sangat baik dalam menjadi orang tua. Terlihat begitu sempurna.
Hari sudah sore ketika mereka berpamitan.
Ibu pantinya benar-benar menggenggam tangan Seokjin dengan erat sementara Namjoon menyelesaikan tugasnya memindahi kardus yang berisi hadiah bagi panti asuhan ini.
"Kita tidak bertemu sangat lama, tapi kita harus berpisah secepat ini."
Seokjin tersenyum sedih. Ia merindukan wanita ini pula, termasuk segala kehidupan panti yang berhasil menghangatkan hati Seokjin sekali lagi.
"Tidak, jangan menangis, Seokjin. Kau harus bahagia dan kau berhak bahagia, kau sudah berbuat sangat baik selama hidupmu. Kau pantas mendapat yang terbaik." Ucapnya sambil membelai pipi Seokjin dengan hangat.
Seokjin mengangguk, merasakan kehangatan belaian wanita itu di pipinya.
"Dan lelaki itu, jika kau mencintainya, kau pantas mendapatkannya."
"Benarkah?" desis Seokjin tak yakin.
Wanita itu tersenyum lebar lalu mengangguk yakin, dengan keyakinan penuh di matanya. "Dia mencintaimu, aku tahu itu. Tak pernah aku melihat seseorang begitu mencintai hingga rela mencari tahu tentangmu sampai datang ke rumah panti ini."
"Namjoon datang?"
"Ya, Ia datang jauh dari Seoul hanya untuk mendengarkanku bercerita tentang dirimu. Ia mendengarkan ceritaku sambil tersenyum lebar, Ia jelas mencintaimu, Seokjinku."
Seokjin menggigit bibirnya. Ia melihat Namjoon selesai menata kardus hadiah di dalam panti, lalu berdiri beberapa langkah dari mereka.
"Aku akan merindukanmu." Bisik Ibu pantinya sambil menarik Seokjin ke dalam pelukan. Dengan yakin Seokjin membalas pelukan hangat wanita yang Ia anggap Ibunya ini.
.
.
.
Hayoung bilang mengantuk saat mereka berhenti di rest area untuk membeli camilan dan mengistirahatkan tubuh Namjoon yang mengemudi tanpa lelah. Maka saat Namjoon merasa sudah cukup istirahat, Seokjin membiarkan Hayoung untuk tidur di pangkuannya dan memeluk gadis itu. Membelai lembut rambut gadis yang wajahnya disandarkan di dada Seokjin.
Mereka menghabiskan sisa satu setengah jam dalam diam, begitu pula setelah mobil Namjoon berhenti di depan gerbang rumahnya.
Kunci pintu mobil telah dibuka oleh Namjoon sejak sepuluh menit yang lalu, namun keduanya tidak ada yang keluar. Mereka sama-sama merindukan saat-saat seperti ini. Bertiga, di dalam mobil, dengan alunan musik pelan yang mengisi udara.
"Terimakasih banyak, Joon, kau sangat baik."
Namjoon mengangguk, mendengar bagaimana Seokjin berbisik lirih dengan ketulusan yang bisa Ia tangkap dari nada suaranya. "Ya, kau pantas mendapatkannya."
Lalu mereka kembali terdiam.
"Aku.. merindukan seperti ini." lirih Seokjin tanpa menoleh menatap Namjoon. Tangannya membelai lembut punggung Hayoung yang masih tertidur di pangkuannya sambil memeluknya.
"Ya?"
Kekehan kecil keluar dari belah bibir Seokjin. "Ya. Bertiga, bersamamu, dan Hayoung. Di dalam mobil. Lalu kita menikmati waktu dalam diam." Seokjin menoleh menatap wajah Namjoon. "Aku merindukannya setengah mati."
Namjoon membalas tatapan Seokjin disertai senyuman di bibirnya. Senyum yang jelas Seokjin rindukan selama dua minggu penuh. "Kau senang bertemu Ibu pantimu?"
Seokjin memejamkan matanya sambil mengangguk, mengeskpresikan kesungguhannya. "Ya, sangat."
"Senang mendengarnya."
"Terimakasih banyak, Joon. Kau selalu bersikap sangat baik padaku."
Namjoon mengangguk, membuang mukanya ke depan sambil terus tersenyum. "Ya, aku juga suka melihatmu senang begitu." Ia memberi jeda di kalimatnya, "Itu–seperti obat bagiku."
"Ya?"
Namjoon mengangguk, kembali menatap Seokjin. Kali ini dengan mata penuh keyakinan menatap lurus ke mata Seokjin. "Melihatmu tertawa, melihatmu seperti tadi, itu semua obat yang selama ini kubutuhkan."
Seokjin terdiam, tak menyangka kalimat yang Namjoon ucapkan.
"Dua minggu penuh. Dua minggu, Jinseok, aku seperti pasien yang tak tahu apa obat penyembuhnya, seperti orang gila. Dan ternyata obatnya bisa kudapatkan di rumah panti itu."
"Joon–"
"Sungguh, Jinseok. Aku tak bisa menerimanya jika kau menolakku sekali lagi. Itu sungguh menyakitkan."
Lidah Seokjin kelu mendengarnya. Apalagi saat tangan Namjoon menarik tangannya, menggenggam telapak tangannya dengan lembut dan hangat, lalu menariknya ke wajahnya. Namjoon mencium tangan Seokjin cukup lama, menghirup dengan penuh saat tangan Seokjin di depan bibir dan hidungnya, menghantarkan getaran hangat di dada Seokjin.
Namjoon menggumam saat telapak tangan Seokjin yang masih digenggamnya berada di depan bibirnya, bergumam lirih, namun dengan jelas Seokjin dengar. "Kim Seokjin, aku mencintaimu."
Seokjin mendengarnya dengan jelas seolah Ia sudah menebak apa yang akan Namjoon ucapkan. Ia juga melihat dengan jelas saat dimana Namjoon memejamkan matanya sambil berucap, seolah Ia sedang berdoa dengan genggaman tangan mereka yang menyatu di depan wajahnya. "Ya, Joon, aku tahu,"
Namjoon mengangkat wajahnya ketika mendengar bisikan lirih Seokjin, membalas tatapan Seokjin dengan penuh keyakinan. "Kumohon katakan jika kau juga mencintaiku"
Kali ini Seokjin tidak boleh salah melangkah. Tidak boleh membuat kesalahan bodoh yang menyakiti dirinya sendiri dan menyakiti Namjoon. "Ya."
"Eh?"
"Ya, Namjoon. Aku juga mencintaimu."
Namjoon tersenyum kaku. Tangannya meremas tangan Seokjin yang ada di genggamannya tanpa sadar.
"Jika kau mengajakku menikah, aku akan menjawab ya."
Namjoon tersenyum, begitu lebar, begitu senang.
"Satu yang perlu kau ketahui."
"Ya? Apa itu!" suara Namjoon meledak, begitu juga senyuman di bibirnya yang merekah dan matanya yang memancarkan kebahagiaan.
Seokjin melirik tangannya, yang masih ada di genggaman Namjoon. "Kau meremasnya terlalu keras. Itu sakit."
Namjoon tersenyum sambil menghela nafas, hingga tanpa sadar Ia memekik cukup keras lalu melonggarkan genggaman tangannya dan mengecupi tangan Seokjin berkali-kali.
"Cukup, Joon. Kau bisa membangunkan Hayoung."
Namjoon baru ingat jika Hayoung masih ada di pangkuan Seokjin. Dengan cepat Ia keluar dari mobilnya, membuka pintu di samping Seokjin dengan senyuman lebar menggantung di bibirnya dan mengangkat Hayoung dari pangkuan Seokjin. "Ayo masuk ke dalam, aku ingin menciummu setelah menidurkan Hayoung di kamarnya."
Telinga Seokjin memerah mendengar bisikan Namjoon yang tepat di depan telinganya. Dengan senyuman lebar, Ia memperhatikan Namjoon yang mengangkat Hayoung dan menggendongnya. Namjoon terlihat begitu senang hingga berjalan dengan langkah lebar saat masuk ke dalam rumahnya.
Seokjin ikut tersenyum seiring Ia melangkah masuk ke rumah itu. Ia tak salah, dan Ia yakin akan hal itu. Pilihannya kali ini telah tepat, sangat tepat, dan sekalipun tak akan Ia sesali di masa depan. Maka Seokjin dengan berdebar berdiri mematung di depan kamar Hayoung, memperhatikan dengan lamat bagaimana Namjoon menaruh tubuh tertidur Hayoung di tempat tidur gadis itu, lalu mencium dahinya.
"Maaf, Papa sedang ada urusan penting. Papa harus cepat-cepat menyelesaikannya, giliran Hayoung nanti saja, ya?" gumam Namjoon pada anak gadisnya yang tertidur sambil tersenyum.
Lelaki itu buru-buru berbalik, menyentak tubuh Seokjin dan menyadarkannya jika urusan yang dimaksud Namjoon adalah dirinya.
Namjoon menutup pintu kamar Hayoung, lalu menarik Seokjin ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan kuat dan hangat, menekankan pada Seokjin jika dirinya senang bukan main.
Seokjin membalasnya, membalas pelukan Namjoon dengan erat pula, seperti dirinya yang membalas cinta Namjoon dengan yakin pula.
"Aku mencintaimu, Jinseok." Bisik Namjoon lirih di sebelah telinga Seokjin.
Kalimat itu diucapkan Namjoon dengan halus, lembut, dengan suaranya yang berat. Dan bagaimana kalimat simpel itu membuat hati Seokjin berdebar semakin tak karuan, dan konfeti bayangan sekali lagi, meletup di dada dan seluruh perutnya. Ia merasa geli, juga ledakan rasa senang berlebihan.
"Ya, aku juga." Bisik Seokjin ketika bibirnya menabrak dada Namjoon.
"Satu yang perlu kau tahu." Namjoon melonggarkan pelukannya, mengukung bahu Seokjin dengan kedua tangannya, memenjara mata Seokjin hingga mereka bertatapan lekat. "Aku memintamu menjadi suamiku, menjadi pendampingku, temanku, dan partnerku dalam hidup. Kau tak perlu memusingkan bagamana Hayoung menganggapmu karena anak gadisku sungguh pintar sesuai ucapanmu. Kalian bisa berteman sekaligus mendukungku secara bersamaan, karena memang kalian berdua yang kuharapkan senyumannya setiap aku merasa penat dan lelah."
Seokjin mengangguk, masih dengan tatapan matanya yang bersatu dengan tatapan mata Namjoon. Ia paham, dan akan berusaha paham selamanya.
Tak perlu memusingkan bagaimana Hayoung melihatnya, tak perlu memusingkan jarak umur yang sialan itu, tak perlu memusingkan segalanya.
Karena Namjoon cukup membuktikan padanya, jika cinta bisa sesederhana itu tanpa perlu memusingkan bagaimana klausa lainnya. Karena Namjoon cukup membuktikan padanya, bahwa urusan cinta cukup menyelesaikan beberapa masalah. Karena Namjoon telah sangat cukup menjelaskan pada Seokjin, jika penyelesaian masalah cinta bisa semudah ini.
-END-
HWAAAA i did it again, my loves!
Soooo happy aku bisa selesai cerita ini. Hanya karena lihat foto Namjoon pakai setelan jas + his comma hair. Sudah, itu berhasil bikin aku teriak-teriak deh, dan lahirlah cerita super-gak-jelas ini
BTW, im gonna say BIG THANKS for you all, yang udah baca dan review cerita ini. Seriusan deh, baca review kalian makes my day, dan selalu berhasil bikin aku semangat nyelesaiin cerita ini.
Terimakasih untuk crazyalpaca SAYANGKU, yang sejak chapter pertamaaa bgt, sudah review dan bikin aku semangat.
Terimakasih banyak untuk kalian yang favorit-in juga follow cerita ini. aku gabisa sebut satu-satu karena tanganku udah pegel nulis. Terimakasih juga untuk seeemua yang leave review, sungguh, aku pengen bales reviewan kalian dan SAY A LOT tapi aku beneran capek nulis dan dikejar deadline tugas hehe
ILY, I'm fucking Love You, All.
Oh iya! Untuk kalian yang ngira Namjoon sesempurna itu, really guys? Dia bego urusan cinta kwkwk dia bener-bener gatau harus melangkah gimana, dia cuma ngikuti instingnya (yang lebih sering dipake untuk bisnis), bikin Seokjin ketakutan karena namjoon yang sedikit kesusu, buru-buru. Hehe, tapi gaapa, aku juga gak masalah kalau namjoon sempurna (because he does!)
Btw, you can send me private massage on my email: paledemon( ) , to chit chat with me, or else. Karena menu PM di ffn kurang sreg di aku :(
Sekali lagi THANK YOU SO MUCH, GUYS. AND I REALLY LOVE You!
