Hi!
Ep 16 disini~
Langsung dua ep dlam sehari, soalnya daku sakit mata TT_TT, ma emak di suruh gk boleh liat kaca ato pun layar(tv, hp, dkk dh pokonya), jadi updatean brikutnya bkalan agak lama sampe mate ane sembuh.
Langsung ajah yah~
.
.
.
Braaak!
"Penghuni Kerajaan Kunihiro! Inilah saya~ Daihannya-!"
Bruuukk!
"Manba-chan!" "Kak Manba!"
Nasib kau jadi pancake, Daihan.
Makanya, jangan sok-sokan.
"E-eh! Mbak Koryuu! Kenshin! Kyoudai! Kenshin ma mbak Koryuu datang! Bawa suami ma gak tau siapa!"
"Suruh masuk! Kak Hori lagi bikin kue bolu!"
"Bolu buatan kak Hori?! Aku mau...!"
"Ow! Ow! Ow! Ada orang di lantai!"
Dua bersaudara itu menghiraukan Daihan yang sudah jadi pengganti keset rumah.
Nasib seorang perayu lucknat.
.
.
.
"Heh, adik?"
Azuki tertawa garing kearah Manba yang jelas-jelas telat dapet informasi.
"Iya, namanya Daihannya," lanjut Azuki. "Itu loh, orang sarap yang ngerayu kamu di resepsi aku dan Koryuu."
Jleb!
Manba berpikir sejenak.
"Oh! Yang pake kacamata aneh itu?"
Jleb!?
Blom apa-apa sudah di tikam.
Yang sabar Daihan.
"Tega sekali, kau bidadari bumi..."
"Jijik, mang. Gak usah gitu lagi ke Manba, yah?"
Daihan bakalan di panggil mang dari sekarang karena Manba.
Daihan pundung di pojok, sekalian nyirami jamur yang Bushi tanam.
Semua menghiraukannya.
"Acara apa datang ke sini? Tumben." Ujar paman Nagay ke teman karibnya di kuliah.
Koryuu tersenyum lebar.
"Aku dan Azuki akan berbulan madu!" ujarnya yang sukses buat sang suami tersipu malu. "Kami ingin minta tolong untuk menjaga adik kami."
Para Kunihiro mengerjapkan mata.
"Aku sih gak papa," ucap Hori. "Tapi buat Daihan-san..." lanjutnya, gak yakin sama makhluk perayu apa aja yang cantik-walau banci sekali pun- yang masih pundung di pojok.
"Jitak aja kalo dia nakal," ujar Azuki dengan helaan nafas. "Aku bisa saja meminta sepupu kami, tapi, Shoku-ani sudah cukup sibuk ngurus keluarga."
"Udah nikah ya?"
"Belom, tapi dia mungut kakek."
Eh, buset...
"Tinggal di mana memang sepupu mas Azuki?" tanya Manba yang kepo akan keberadaan sepupu si kacang merah.
"Ah, deket aja dari sini, blok H no. 11."
Jawaban itu sukses bikin mata kiri Hori ma Bushi berkedut kesal.
Cenat-cenut getoh.
"Bukannya itu rumah CCP?" Manba mulai pinter kayaknya. "Nama panjangnya siapa, mas?"
Azuki mengerjapkan mata saat merasakan aura kelam keluar dari ketiga tertua Kunihiro.
"Shokudaikiri Mitsusada."
Crak...
Sendok sayur Hori retak di tangan Hori.
"Si pikachu bercita-cita jadi bajak laut..."
Azuki mulai sawan dengan aura gelap dan haus darah dari keluarga teman istrinya.
Tapi Kenshin tetel ayem makan kue bolu.
"Heh, aku baru tau," ujar Manba, yang kayaknya gak sadar akan aura Dewa Kematian yang keluar dari keluarganya. "Kenshin bisa tidur sama aku, amang Daihan bisa tidur dikamar tamu." Tambahnya yang mengusulkan dimana tamu mereka akan tidur.
"Yey! Tidur bareng kak Manba!" seru si bocah yang belom genap 7 tahun. "Jangan nangis, bang Dai!"
"Sungguh teganya, teganya, teganya-!"
"Kagak usah nyanyi, suara loe cempreng kayak toa rusak."
Jleb!
Daihannya mati.
Makasih banyak, Hori, kata-katamu sungguh bermanfaat.
Azuki cuma bisa sweatdrop melihat adiknya yang ditikam secara bertubi-tubi.
"Beneran?! Makasih banyak!" seru Koryuu sambil meluk Manba dengan erat. "Kenshin, jangan nakal-nakal, yah? Terus, jaga bang Dai, yah?"
"Iya, kak!"
Daihannya menangis meratapi nasibnya.
'Tega sekali mereka...!'
Lebay loe.
"Kakaka! Ayo! Dimana barang-barang mereka?"
"Ada di mobil~ ikuti Dora-eh, salah, ikuti saya~"
Apa yang akan terjadi berikutnya?
Apa Daihannya bakalan jadi kayak jones kompleks?
Ato malah si Kenshin nemu temen baru di kompleks ajaib ini?
Cuma Author yang tau.
((Author di hajar massa))
.
.
.
Tambah garing huhuhu...
T_T
Tambah dikit pula...
Kurang inspirasi..
Ampe jumpa~
