CHAPTER II
"GIFT…!"
Rainbow Gallery adalah tempat untuk memamerkan lukisan atau foto dan juga merupakan tempat melelangkan serta menjual benda-benda seni yang dipamerkan. Saat ini Kota Burgess diselimuti oleh selimut putih yang dingin, tapi itu tidak menghalangi anak-anak untuk tetap bermain di luar rumah. Sebagian anak-anak lebih memilih mengunjungi galeri yang memamerkan lukisan-lukisan yang bertemakan 'fairy tale' yang dapat menarik minat mereka bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Setiap lukisan yang dipajang tidak luput dari pujian bagi yang menangkap keindahan disetiap lukisan-lukisan itu yang dilukis dengan penuh imajinasi.
Dibagian terdalam galeri, terpajang sebuah lukisan raksasa yang berhasil menarik perhatian pengunjung dan menjadi sorotan utama di dalam galeri, bagi pengunjung yang tidak memahami mengenai lukisan bahkan juga dapat merasakan sebuah 'perasaan' yang tersirat di dalam lukisan itu, sehingga membuat para kolektor mati-matian ingin memilikinya. Sebuah lukisan yang dipenuhi dengan 'ekspresi' mengharukan yang menghangatkan jiwa, suatu karya imajinatif yang terkesan 'hidup', terpantul dalam perpaduan warna-warni yang indah dan memukau.
Tapi bagi seseorang, yang saat ini berdiri di hadapan lukisan raksasa itu, tidak ada kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya, sebagaimana ia begitu terpesona melihatnya. Bola matanya terlihat membulat dangan iris berwarna biru dan pancaran sinar keemasan yang berkilau bagaikan safir di bawah lampu yang berpendar kekuningan. Bibirnya yang berwarna merah pucat itu sedikit terbuka diiringi dengan genggaman kuat disetiap jari-jemari kurusnya pada tongkat kayu miliknya. Ia melangkahkan kakinya mendekat untuk melihat lebih jelas lukisan itu, Jamie dan teman-temannya terus memperhatikan dirinya dengan senyuman. Tangannya secara perlahan mengangkat tongkatnya dan menepatkan pangkalnya ke lantai, kakinya yang tanpa alas itu tiba-tiba dikelilingi oleh udara dingin yang bergerak dengan lembut, membuat tubuhnya yang kurus melayang ke atas dan berdiri di puncak tongkatnya yang bengkok seperti bulan sabit. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas lukisan raksasa yang terbentang dihadapannya, benar-benar posisi yang memonopoli untuk melihat sebuah benda yang memancarkan 'ekspresi jiwa' dengan 'indah', dan 'berbicara' dengan toresan kuas yang penuh warna.
Bibir merah nan pucat itu tersenyum merekah, diiringi ekspresi wajah yang berubah ceria, seperti ekspresi seorang anak kecil yang keinginannya terkabul. Ia mengetahui dan merasakan 'jiwa nan hangat' berpendar dalam lukisan itu, wajah-wajah ceria dari teman-teman kecilnya terpancar secara lembut—menyusup dengan perlahan kedalam jiwa dan menembus hati. Kemudian menyebar keseluruh raga sehingga sebuah senyuman timbul menghiasi setiap wajah yang memandang, dan yang membuatnya terperangah sesaat adalah 'taman-temannya' juga ada disana dengan wajah mereka yang tidak kalah bahagianya dengan teman-teman kecilnya.
Ya, itulah mereka, si kelinci paskah yang tampak bermain dengan anak kecil berambut pirang—hampir menutupi sebagian matanya, si mahkluk bersayap yang cantik berwarna hijau toska berkilauan sedang membuat boneka salju besama makhluk-makhluk kecil yang berwarna sama dengannya serta mahkluk-makhluk kecil dengan pakaian yang runcing menjulang di atas kepalanya dengan hiasan sebuah lonceng dipuncaknya, lalu seorang pria yang bertubuh besar dan tegap dengan janggot putih yang panjang serta pakaian yang tebal, dengan gemasnya mengejar anak-anak bersama kedua makhluk yang berkuncir dan tubuhnya dibaluti bulu-bulu yang lebat. Bola mata beririskan biru itu menyelusuri setiap sudut lukisan, mereka semua dikelilingi oleh cahaya-cahaya emas yang membentuk binatang-binatang raksasa dan kecil yang berjalan, berlarian, dan terbang. Cahaya-cahaya yang sungguh mendominasi dari makhluk yang bertubuh pasir berkilau keemasan, jari-jemarinya yang mungil mengeluarkan pasir-pasir emas yang tersebar kemana-mana, berpadu dengan cahaya putih dari rembulan seakan memandangi mereka dari langit.
Jamie mendongak melihat perubahan ekspresi wajah seseorang yang berkulit pucat dan berambut putih yang kini berdiri di puncak tongkatnya, yang pada awalnya kaget tidak percaya, kemudian berubah bahagia. Lalu ia kembali menatap tidak percaya. Jamie tertawa kecil dan tersenyum maklum melihatnya. Ia jongkok di atas puncak tongkatnya karena matanya menangkap sesosok yang terlukis disana, sekali lagi dari sekian kalinya ia terhentak melihatnya, tapi kali inilah hentakan itu benar-benar dengan sekejap menggetarkan seluruh tubuhnya, ia tersenyum berdengus tampak tidak percaya melihat sosok itu.
Jamie tersenyum sayu kearahnya, "Apa kamu bisa melihatnya, Jack?!" menyadari bahwa pandangan mata Jack kini tertuju kepada sesosok yang terlukis dilukisan itu.
Jack tidak menjawab pertanyaan Jamie, tapi ia bisa mendengarnya dengan baik, jari-jemarinya yang kurus itu bergerak kearah sosok dilukisan itu yang telah mencuri pandangannya, diiringi dengan sebuah senyuman yang mulai merekah secara perlahan dibibirnya.
"Ini… ini aku, ini aku…" ucap Jack terbata-bata, seraya permukaan kulit jari-jarinya menyentuh sosok itu, ia benar-benar tidak menduga kalau dirinya ada dalam lukisan itu, sosoknya yang terbang dengan bebas dan dikelilingi oleh pasir-pasir emas yang dipadu dengan cahaya bulan, serta salju-salju yang keluar dari tongkatnya. Sungguh menggambarkan dirinya, "ini aku…" ucapnya sekali lagi, perasaan bahagia menyeruak seketika dari dalam hatinya, melebihi rasa senangnya ketika Jamie pertama kali bisa melihat dirinya. "Kamu bisa melihatnya, Jamie? Aku ada di dalam lukisan itu, aku benar-benar ada disana," kata Jack sambil turun dari tongkatnya dengan girang dan mendekati Jamie, "aku kaget, hah! Aku mengira kalian dan para guardian lain saja yang ada disana," tambahnya lagi.
"Iya… Jack, aku melihatnya… kami melihatnya," ucap Jamie tersenyum.
Pippa, Cupcake, Cloude, Calep, dan Monty juga tersenyum melihat kearah Jack.
Jack membalas senyuman teman-teman kecilnya, dan kembali ia menatap lukisan yang berbingkai kayu jati berlampiskan cat vernis yang mengkilap seperti warna teh dan semakin indah di bawah sinar lampu kekuningan yang bejejer di atas bingkai lukisan. Ukiran yang rumit partikel-partikel salju menghiasi disetiap sudutnya, namun kembali matanya menangkap sesuatu disudut kanan lukisan itu, matanya mengernyit memastikan apa yang dilihatnya, sesosok hitam yang hanya terlihat punggungnya saja, dengan seekor makhluk seperti kuda kecil melayang disampingnnya, matanya bersinar keemasan. Sosok itu tersudut dibayangan pohon. Bagian itu tesamarkan dengan adanya pantulan cahaya dari pasir-pasir emas yang bertebaran dan cemerlangnya cahaya bulan.
"Apakah mungkin itu…" kata Jack kaget setelah mengetahui dengan jelas apa yang ia lihat, Jamie dan yang lain terlihat bingung dangan perubahan sikap Jack, "itu Pitch Black!?" nada suaranya pelan tapi menekan dengan ekspresi kebingung, "kenapa Pitch juga dilukiskan?"
Kemudian Jack tersentak ditempatnya, dan dengan cekatan pandangannya menyelusuri bagian bingkai lukisan itu, ia ingat sesuatu yang terlupakan untuk ia lihat. Kemudian ia berhasil menemukan sesuatu yang ia cari itu. Tepat di tengah bingkai dibagian bawahnya, ada sebuah plat metal kekuningan dengan ukuran 30x10 cm, menjorok keluar diantara partikel-partikel salju dan terdapat sebuah tulisan disana.
"The Guardians of Childhood?" eja Jack ketika ia membaca kalimat itu, "The Guardians of Childhood ? Hah… tentu saja, penjaga anak-anak dari Pitch Black… itu dia, itulah sebabnya Pitch juga dilukiskan didalam lukisan ini," Jack langsung menyadarinya, ia memandangi lukisan itu, "suasana ini ketika kami berhasil mengalahkan Pitch, karena itulah ia ikut dilukiskan dan disamarkan," katanya karena memahami maksud dari judul lukisan itu.
"Jack..." panggil Jamie yang semenjak tadi memperhatikan Jack dan mendengarkan kata-katanya, "mungkin ada seseorang yang dapat melihatmu selain kami, mungkin saja pelukisnya," kata Jamie dengan mata berbinar karena mengetahui bahwa ada kemungkinan seseorang menyadari keberadaan Jack dan mempercayainya.
" Tapi… itu tidak mungkin Jamie," sanggah Jack, "kamu lihat? Lukisan ini tidak mungkin dilukis oleh seorang anak kecil!" kata Jack terlihat ragu.
"Mungkin pelukisnya bertanya pada anak yang dapat melihatmu, Jack… selain kami tentunya," Jamie mengeluarkan pendapatnya, teman-teman Jamie langsung menyetujuinya.
"Aku tidak tahu, Jamie…" ucap Jack tidak yakin, "jika benar seperti yang kamu katakan, lukisan ini terlalu detail melukiskan ciri-ciri fisik kami para guardian, juga… Pitch Black yang ada disana," kata Jack sambil menunjuk disudut kanan lukisan.
Jamie dan teman-temannya langsung melihat bagian yang ditunjuk Jack, mereka dapat melihatnya meskipun kabur, namun mereka tahu betul bahwa itu Pitch Black yang pernah mereka lihat.
"Dan disaat itu yang benar-benar melihat Pitch hanya kalian berenam, teman-teman," tambah Jack, kini dirinya malah menjadi bingung.
Jamie dan teman-temannya saling pandang dengan wajah sama bingungnya dengan Jack. Sebenarnya dari awal mereka juga bingung, kenapa mereka bisa dilukiskan dilukisan itu. Kini perasaan Jack bercampur aduk antara senang, bingung, dan rasa penasaran yang mengerogotinya. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya ketika ia memandangi lagi lukisan itu.
"Tidak untuk dijual!" kata seseorang, membuat Jack dan Jamie serta teman-temannya kaget karena suara orang itu yang cukup keras.
"Iya …, tidak untuk yang satu ini," kata seorang kakek berjas hitam formal sembari menunjuk lukisan raksasa yang terpajang dihadapan Jack dan teman-teman kecilnya.
"Tapi… kenapa, Mr. Abraham?" tanya pria setengah baya itu tampak kebingung.
"Karena pelukisnya tidak mau menjualnya, dan mengatakan bahwa lukisannya ini hanya untuk diperlihatkan kepada semua orang khususnya anak-anak, tidak untuk dijadikan koleksi," jawab Mr. Abraham dengan sopan dan tetap menolak permintaan pria setengah baya itu, yang didengar oleh Jack beserta teman-teman kecilnya. Mereka berada tidak jauh dari posisi kedua orang itu.
"Tidak untuk dijual?" guman Jack sembari melihat lukisan itu.
"Ayolah Mr. Abraham…, berapapun aku akan membayar untuk lukisan ini! Bagaimana kalau tiga ratus ribu dollar atau satu juta dollar?" kata pria itu menaikkan harga penawarannya secara drastis, tampaknya ia benar-benar menginginkan lukisan itu.
"Sa… satu juta dollar? Kalian dengar itu teman-teman?" kata Claude pada teman-temannya yang sama kagetnya dengannya, Jack juga begitu.
"Berapa banyak mainan yang dapat dibeli dengan uang sebanyak itu, ya, teman-teman?" tanya Monty polos.
"Hm, aku rasa banyak… hahaha… sampai rumahmu tidak ada lagi tempat untuk menyimpannnya," tawa Claude sambil memegang perutnya.
"WOOOWW!" Monty lansung tertawa girang.
"Apa maksudmu, Cloude?" Calep menyenggol bahu saudara kembarnya, "aku rasa lebih banyak dari itu, kalau ditumpuk bisa setinggi gunung," tambah Calep sambil membentangkan kedua tangannya ke atas, membuat Jamie, Monty, Pippa, Cupcake terkagum-kagum segaligus kaget, Claude hanya memutar bola matanya mendengar perkataan saudara kembarnya itu.
"Jack, bagaimana menurutmu?" tanya Jamie tersenyum girang.
Jack tersenyum jahil, "Kalian dapat membeli mainan yang kalian suka diseluruh dunia," jawab Jack tersenyum renyah, membuat Jamie dan yang lain terperangah dengan senang, "kalian juga bisa membeli mainan milik Santa, haha…," canda Jack.
"Benarkah Jack?" kata Jamie tidak percaya, "tapi mainan Santa 'kan gratis dan kita bisa mendapatkannya jika kita menjadi anak baik," kata Jamie ketika menyadarinya.
"Tapi kalau mainan Santa dibeli, anak-anak lain malah tidak kebagian," ucap Pippa sedih.
"Benar juga, ya," kata Cupcake.
"Kalau mainan Santa dibeli semuanya, berarti tidak ada lagi 'dong mainan buat kitaaaa," ucap mereka berenam dengan wajah takut, membuat Jack tertawa cekikikan ditempatnya mendengarkan teman-teman kecilnya bicara soal mainan.
"Saya benar-benar minta maaf, Mr. Reonardo, saya tidak bisa, Anda tahu, Anda adalah orang yang sekian kalinya yang ingin membeli lukisan ini dan saya tetap memberikan jawaban yang sama pada mereka yaitu tidak," kata Mr. Abraham menolak dengan sopan meskipun sedikit menekan dikata terakhirnya. "Dan satu lagi, Mr. Reonardo, kolektor sebelum anda malah menawarkan harga lima juta dollar untuk lukisan ini serta merupakan penawaran tertinggi yang pernah ada," tambah Mr. Abraham.
"APAAAAA!" teriak Jamie dan teman-temannya tertahan mendengar harga tertinggi dari lukisan The Guardians of Childhood itu.
"Astaga!" ucap Jack tidak percaya, "itu harga yang benar-benar gila untuk membeli sebuah lukisan," Jack berdengus tersenyum segaligus tidak percaya mendengar penawaran yang selangit itu, sambil menompang kepalanya ke tongkatnya.
"Kalau begitu… Mr. Abraham, bisakah Anda mempertemukan saya dengan pelukisnya?" tanya Mr. Reonaldo tidak menyerah.
Mendengar pertanyaan itu Jack beserta teman-teman kecilnya mempertajam pendengaran mereka, karena mereka juga ingin mengetahui siapa pelukisnya.
"Saya sangat menyesal mengatakannya Mr. Reonardo, tapi saya tidak pernah bertemu dengan pelukisnya," jawab Mr. Abraham, membuat Jack dan yang lain merasa heran dengan jawaban itu.
"Ta... tapi bagaimana mungkin Anda tidak pernah bertemu dengan pelukisnya, sedangkan lukisannya dipajang disini?" tanya Mr. Reonardo tidak mengerti jawaban dari Mr. Abraham.
"Sebenarnya, lukisan ini terpajang di studio dirumah teman baikku, Roberto Schenberg, anda tahu sebenarnya ia tidak keberatan jika dipamerkan di galeri dan dilelangkan, tapi ia tidak mau melakukannya sebelum mendapatkan izin dari pelukisnya sendiri, setelah dikomfirmasi oleh Mr. Roberto, katanya lukisan ini hanya boleh dipajang dan dipamerkan, tidak boleh dilelang atau dijual berapapun harga yang ditawarkan," jelas Mr. Abraham panjang lebar untuk membuat Mr. Reonardo tidak memaksa menjual lukisan itu padanya.
"Roberto? Roberto Schenberg, seorang pengusaha sekaligus mantan Sutradara Hollywood, maksud anda?" tanya Mr. Reonardo meyakinkan dirinya.
"Anda tahu 'kan bagaimana sifatnya yang tegas dan keras kepala dalam beberapa hal, ketika saya menanyakan siapa pelukisnya, ia mengatakan bahwa tidak ada yang boleh mengganggu si pelukis dan juga si pelukis bukan tipe yang suka disorot media, itulah sebabnya ia tidak memberi tahu siapa pelukisnya," jelas Mr. Abraham, "maafkan saya Mr. Reonardo, tapi jika Anda benar-benar menginginkannya, Anda boleh menemui Mr. Roberto untuk membuatnya berubah pikiran," saran Mr. Abraham.
"Saya akan melakukannya, terimakasih Mr. Abraham, permisi," ucap Mr. Reonardo sebari memasang topinya.
"Semoga berhasil Mr. Reonardo," kata Mr. Abraham.
Setelah Mr. Reonardo benar-benar pergi, Mr. Abraham menghembuskan nafasnya dengan lega, sebagai ketua yayasan dari Rainbow Gallery, ia mengetahui pekerjaannya untuk melayani para kolektor, dan atas saran cucu teman baiknya Mr. Roberto, ia tidak memasukkan informasi mengenai lukisan 'The Guardians of Childhood' kedalam pamflet. Tidak dimasukkan saja sudah banyak peminatnya apa lagi kalau diinformasikan ke dalam pamflet, bisa-bisa semua kolektor akan datang dan memperebutkan lukisan itu.
"Hm, permisi Mr. Abraham ," sapa Jamie.
"Yes," balas Mr. Abraham tersenyum, "oh… bukankah kamu yang ada didalam lukisan dan kalian juga," kata Mr. Abraham tampak senang melihat Jamie dengan lainnya.
"Yes Mister, apakah anda benar-benar tidak tahu siapa pelukisnya?" tanya Jamie tampak mengharapkan jawaban dari Mr. Abraham.
"Oh… aku benar-benar maaf, Nak," jawab Mr. Abraham tampak sedih karena tidak bisa menjawab pertanyaan Jamie.
Jamie dan teman-temannya kelihatan kecewa mendengar jawaban dari Mr. Abraham. Sedangkan Jack yang paling kecewa karena tidak dapat mengetahuinya, Roberto Schenberg, seorang kakek yang tinggal dirumah megah di Kota Burgess. Tidak mungkin Jack bertanya tentang lukisan itu padanya sedangkan dirinya saja tidak terlihat maupun didengar.
"Oh ya, apa kalian sudah menerima hadiah kalian?" tanya Mr. Abraham berusaha mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak sedih.
"Sudah," jawab Jamie sedikit berat, masih dengan perasaan kecewanya.
"Kalian tahu anak-anak, jika kalian gabungkan puzzle-puzzle kristal itu, maka kalian akan melihat sebuah kalimat yang menakjubkan," kata Mr. Abraham, membuat Jamie dan teman-temannya saling pandang, Jack pun menjadi sedikit tertarik untuk mendengarkannya.
"Sebuah kalimat?" Tanya Jamie bingung.
"Yes, sekarang cobalah kalian menggabungkannya," ucap Mr. Abraham.
Kemudian semua teman-teman Jamie mengeluarkan mainan kunci mereka berbentuk puzzle yang mereka dapatkan dipintu masuk. Lalu, Jamie menggabungkan keenam puzzle itu, namun tidak ada tulisan yang terlihat dipermukaannya.
"Saya tidak melihat ada tulisan, Mr. Abraham," kata Jamie sembari membolak-balikkan puzzle yang telah tersusun itu, teman-teman Jamie pun juga heran, mereka berkumpul didekat Jamie, begitupun Jack yang penasaran, ia tersenyum sambil meletakkan jari-jarinya yang setengah mengepal di depan bibirnya dengan salah satu alis matanya tampak terangkat.
"Masih belum, Nak," kata Mr. Abraham tersenyum sambil mengeluarkan HP di saku jas-nya.
Mr. Abraham mengaktifkan layar HP-nya dalam mode flash, kemudian menepatkannya di bawah puzzle kristal itu. Tidak lama kemudian garis-garis halus berwarna biru cerah tersusun di atas bidang puzzle, membentuk huruf satu demi satu. Hal itu membuat Jack, Jamie, serta teman-temannya terkagum-kagum sekaligus kaget, di atas bidang puzzle itu muncul suatu tulisan dengan garis-garis halus yang berkelap-kelip karena cahaya dari HP Mr. Abraham.
To be Continued...
