CHAPTER III
"I'M JACK FROST...!"
Jack terdiam ditempatnya dengan ekspresi kaget ketika melihat tulisan yang ada dipermukaan puzzle kristal itu. Sehingga membuyarkan ketidakpercayaannya ketika Jamie mulai mengejanya.
"Believe it and you can see it!" eja Jamie ketika tulisan itu sudah benar-benar dapat dilihat dengan jelas. "Apa artinya itu?" tanya Jamie tidak mengerti maksud dari tulisan itu dan memandangi Mr. Abraham, sedangkan Jack masih berkutat dengan pemikirannya mengenai kata-kata itu.
"Percayalah dan kamu bisa melihatnya.?" Jack membatin sambil mengernyitkan matanya.
Mr. Abraham tersenyum melihat Jamie dan teman-temannya yang kelihatan bingung dengan kata-kata itu. Sebenarnya, Mr. Abraham juga tidak mengerti kata-kata itu, mungkin menurutnya sang pelukis ingin menyampaikan tentang 'fairy tale' dan 'impian' untuk anak-anak. Mempercayai hal itu memang dunia anak-anak sehingga mereka menganggap itu benar-benar ada.
"Nak… sebenarnya, hadiah puzzle itu lansung dari pelukisnya untuk kalian," kata Mr. Abraham berbisik kepada Jamie dan yang lainnya.
"Ta… tapi, katanya ini hadiah karena kami menang undian," kata Pippa tampak heran.
"Itu bohong, Nak, kalian ingat beberapa anak special yang mendapat kejutan dari galeri kami, ya, itu kalian semua, kalian yang ada di dalam lukisan utama kami," jelas Mr. Abraham tersenyum tetap dengan suaranya yang pelan.
Jamie dan teman-temannya tampak senang dengan mata yang berbinar-binar ketika mendengar penjelasan Mr. Abraham, karena ternyata merekalah anak-anak yang special itu. Jack tersenyum melihat teman-teman kecilnya, sepertinya hadiah itu merupakan ucapan terimakasih dari si pelukis untuk mereka, karena mereka dijadikan sebagai objek di dalam lukisan itu. Tapi memberikan sebuah puzzle kristal kepada anak-anak dengan tulisan seperti itu memiliki tujuan untuk apa? Kenapa si pelukis tidak memberikan mereka semacam mainan yang dapat menyenangi mereka? Tapi malah memberikan mereka puzzle. Jack sama sekali tidak mengerti.
"Lalu maksud dari Snow Flake ini, kenapa hanya aku yang mendapatkannya, kalau memang itu bukan sebuah undian seperti yang anda katakan, Mr. Abraham?" tanya Jamie sembari memperlihatkan snow flake kristal miliknya.
"Hm, pelukis–nya mengatakan, ya, melalui teman baikku, Mr. Roberto, ia mengatakan bahwa kamu adalah 'The First Child Believe', itulah sebabnya kamu mendapatkan hadiah itu, Nak," jawab Mr. Abraham tersenyum sembari mengelus kepala Jamie.
Jack yang dari tadi hanya mendengarkan dan berkutat dangan pikirannya, kini tampak gelisah, seluruh tubuhnya kembali bergetar dengan degupan jantung yang menggebu-gebu di dadanya membuat deru nafasnya tidak teratur sehingga bahunya naik turun disebabkan rasa sesak yang menghujami dadanya karena menyadari sesuatu dari kata-kata itu. "Ap… apa? Mungkinkah itu, maksud dari kalimat di puzzle itu, percayalah dan kamu bisa melihatnya, mungkinkah itu ditujukan untuk para guardian? Dan… hah… hah, lalu kalimat yang dikatakannya tentang Snow Flake yang dimiliki oleh Jamie, anak pertama yang mempercayai, itu… maksudnya adalah… aku, apakah ditujukan untukku? Sebab selama 300 tahun lebih, Jamie-lah anak yang pertama kali mempercayai keberadaanku, dan yang dapat melihat dan mendengarku," guman Jack kebingungan serta menduga-duga semua hal yang ia dengar dari percakapan teman-temannya dengan Mr. Abraham sambil meremas rambut putihnya dengan tangan kanannya, "siapa… siapa sebenarnya yang melukis lukisan ini?" tambah Jack.
"Mr. Abraham, para kolektor lainnya berdatangan, sekarang mereka ada di aula galeri," ucap seorang wanita berseragam dongker kepada Mr. Abraham yang masih jongkok dihadapan Jamie dan teman-temannya.
"Apa? Apakah mereka datang untuk lukisan The Guardians of Childhood?" tanya Mr. Abraham yang langsung berdiri dengan wajah tampak bosan.
"Ya Tuan," jawab wanita itu.
"Huaah, dari mana mereka mengetahui tentang lukisan itu?" tanya Mr. Abraham sedikit menggerutu.
Jamie dan taman-temannya tertawa kecil melihat Mr. Abraham yang kelihatannya sudah capek mengurusi para kolektor yang menginginkan lukisan utama di galerinya.
"Yah…, mau bagaimana lagi lukisan itu benar-benar indah, saya juga sangat terpesona saat pertama kali melihatnya, terutama untuk warna keemasan itu, kalian tahu anak-anak, cahaya keemasan itu benar-benar dari serbuk emas asli, itulah sebabnya cahaya itu kelihatan seperti nyata, pelukisnya sangat tidak tanggung-tanggung, bahkan ia menyiapkan bingkai yang diukir dengan motif rumit yang sangat detail itu serta dengan bahan yang juga tidak tanggung-tanggung," jelas Mr. Abraham sembari melihat lukisan raksasa yang berada dihadapannya itu.
"Wow… emas," ucap Jamie dan teman-temannya kagum, mata mereka berbinar-binar ketika mengetahui hal itu.
"Emas... huh," Jack berdengus tersenyum melihat lukisan itu, "lima juta dollar menjadi harga yang sepadan untuk lukisan itu," Jack tersenyum, "atau mungkin lebih," tambah Jack tertawa kecil.
"Okay anak-anak, ada yang harus saya urus terlebih dahulu, saya permisi dahulu," ucap Mr. Abraham tersenyum sembari memperbaiki dasinya dan berjalan meninggalkan Jamie dan yang lainnya bersama dengan wanita berseragam biru dongker itu.
"Hey guys, lihat itu!" kata salah seorang teman sekolah Jamie yang baru datang untuk melihat lukisan utama, "semuanya ada disana, Santa Claus, Easter Bunny, Sandman, Tooth Fairy… dan, ng… siapa yang membawa tongkat dan berambut putih itu?" tampak bingung dengan sosok Jack di lukisan itu.
Jack hanya tersenyum hambar melihat anak-anak yang tampak bertanya-tanya tentang dirinya. Melihat ekspresi yang ditunjukan oleh Jack, membuat kedua alis Jamie bertaut, dan meyakinkan dirinya sambil melihat kearah teman-teman sekolahnya, kemudian berjalan mendekati mereka.
"Hey guys, itu adalah JACK FROST!" kata Jamie dengan nada tegas, alisnya masih bertaut saat mengatakannya.
"Yeah, bukankah kami sudah menceritakannya tentang Jack Frost pada kalian di sekolah!" timpal Cupcake dengan nada kesal.
"Itu benar teman-teman, berkali-kali kami memberitahu kalian," kata Pippa dengan nada lembut berusaha menenangkan Cupcake yang kesal.
"Guys," panggil Jack pada teman-teman kecilnya untuk tidak memaksa teman-teman sekolah mereka supaya percaya dengan keberadaan dirinya.
"Tapi… Jamie, kata ayahku, Jack Frost hanya sebuah ungkapan saja, agar hidung kita tidak dibekukan karena tidak memakai topi dimusim dingin," ucap teman sekolahnya yang lain, ia kelihatan ketakutan ketika mengatakannya, karena melihat wajah garang Cupcake yang ditujukan kepadanya.
"Tidak, Jack Frost itu nyata, sama dengan yang lainnya, maksudku seperti Santa Claus, Easter Bunny, Sandman, Tooth Fairy," kata Cloude.
"Ya… ya… ya," Monty mengangguk-ngangguk dan menyetujui perkataan Cloude.
"Kalian harus mempercayainya, Teman-teman!" kata Caleb berusaha meyakinkan teman-teman sekolahnya.
"Kalian tahu, Jack selalu bermain dengan kami dihari bersalju, ia membuat seluncuran dari es yang ia bekukan dengan tongkatnya," kata Jamie dengan semangat.
"Benarkah?" kata teman-teman Jamie yang mulai tampak tertarik. Seluncuran, siapapun akan menyukainya, terutama jika kamu sudah ada di atasnya.
"Yeah, ia selalu membuat bola salju untuk kami dan melakukan perang bola salju," kata Cloude tersenyum bersemangat.
"Ia juga bisa terbang serta memanggil udara dingin dan menerbangkan salju-salju di udara," tambah Pippa.
"Wohohoho… itu keren sekali," kata mereka kagum mendengar cerita Jamie dan teman-temannya tentang Jack.
"Ou…ou, kalian tahu mereka berlima adalah guardian, the great guardians," kata Jamie, " yang selalu melindungi kita, itulah kenapa pelukis dari lukisan itu melukis mereka berlima disana bersama kami semua, ketika kami bertarung dengan Boogeyman dan kami berhasil mengalahkannya, lukisan ini persis saat itu, kami sudah menceritakannya pada kalian 'kan?" jelas Jamie panjang lebar dengan girangnya.
"Jadi itu kenyataan?" kata salah satu teman sekolah Jamie sambil melihat lukisan itu dengan kagum.
"Yap," Jamie membenarkan perkataan temannya.
Melihat teman-teman kecilnya yang berusaha meyakinkan mereka untuk percaya akan kebaradaannya, Jack tampak bagitu senang dan terharu. Tapi ia tidak yakin, anak-anak itu akan percaya terhadap dirinya. Tiba-tiba Jack merasakan sebuah tarikan di celananya di sebelah kaki kanannya dan menoleh kearah sana, ada seorang anak kecil sekitar umur lima tahunan dengan topi baseball yang ia pakai secara terbalik sedang menengadah melihat kearahnya.
Jack terdiam lama dengan wajah kaget melihat anak kecil itu, bahunya naik turun dengan pelan karena menunggu respon dari bocah kecil yang kini memandang dan menyentuhnya. Perasaan yang tertahan dan gejolak yang ia rasakan membuatnya tidak tahu harus besikap seperti apa.
"Apakah kamu Jack Frost, seperti yang diceritakan oleh mereka disana?" tanyanya polos dengan suara yang masih bening, ia terlihat begitu manis dengan bola matanya yang besar dan bersinar.
"Ap… apa? Kamu… kamu berbicara padaku?" tanya Jack tampak gugup memandangi anak kecil itu.
Bocah kecil itu menjawab pertanyaan Jack dengan anggukan.
"Hah… wow," respon Jack senang, karena anak kecil itu benar-benar berbicara padanya. Kemudian Jack jongkok dihadapan anak itu, "siapa namamu, Kiddo?" tanya Jack kepada anak kecil itu sambil mengelus kepalanya.
"Danny," jawabnya sambil tersenyum lebar menampakkan gigi-giginya yang masih seputih susu, namun ada satu gigi depannya yang hilang.
"Oh coba lihat, Danny, satu gigimu hilang," kata Jack tersenyum, "apakah kamu sudah menaruhnya di bawah bantal dan mendapatkan hadiahmu, Danny?" tanya Jack membuka pembicaraan dengan Danny.
"Yes, aku mendapatkan koin berwarna keemasan yang berkilau," jawab Danny tersenyum manis sembari menunjukkan koinnya pada Jack yang ia keluarkan dari saku celananya.
"Hahaha… itu bagus," kata Jack mengusap kepala Danny, membuat bocah kecil itu tertawa karena merasa senang dengan perlakuan Jack padanya.
Mereka berdua begitu asyik berbicara, sampai salah seorang gadis kecil dari teman sekolah Jamie menoleh kearah Jack dan Danny. Jack sedikit mengeluarkan sihirnya dari telapak tangannya untuk diperlihatkanya kepada Danny, sebuah partikel salju tampak melayang-layang di atas telapak tangan Jack, membuat Danny kegirangan melihatnya. Si gadis kecil itu berjalan kearah Jack dan Danny, ia sangat kaget, mulutnya terbuka, bola matanya membulat karena tidak mempercayai penglihatannya sendiri, terutama ketika ia melihat sihir kecil dari telapak tangan Jack.
"Jack Frost?" kata gadis kecil itu ketika ia telah berada dekat dengan Jack.
Jack terhentak dengan panggilan itu, ia langsung memalingkan wajahnya dengan perasaan bingung dan melihat kearah seorang gadis kecil yang menyebutkan namanya. Jari telunjuknya mengarah kearah wajah Jack dan menyentuh pipi Jack, sama halnya dengan si gadis kecil itu, Jack juga kaget dan terpaku ditempatnya. "A… Aku bisa menyentuhmu, kamu nyata?" ucap gadis kecil itu berbinar-binar, tampak ia mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya.
Jack tersenyum merespon pertanyaan gadis kecil itu, " Yeah, aku Jack Frost, kamu bisa melihatku juga?" tanya Jack hanya untuk menyakinkan dirinya, walaupun ia tahu pasti kalau gadis itu baru saja menyentuhnya.
"COOL!" tiba-tiba seorang bocah laki-laki seumuran dengan Jamie, besorak di belakang Jack dengan pandangan kagum, membuat Jack terhentak kaget mendengar teriakan bocah itu.
"Hahaha… aku tidak menyadarimu, Kiddo," Jack memalingkan wajahnya melihat bocah yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.
"Apakah kamu Jack Frost, seperti yang dilukiskan disana?" tanya anak-anak lainnya dengan girang sembari menunjuk lukisan The Guardian of Childhood yang terpajang dihadapan mereka.
Jack terlihat kebingungan untuk menanggapi mereka. Satu persatu dari mereka berjalan dan mendekati Jack. Meskipun dalam keadaan bingung, tetap saja pada akhirnya seutas senyuman yang merekah tidak terlepas menghiasi wajahnya, dan dengan spontan membuat Jack mendengus tersenyum penuh ekspresi, sementara ia tidak mempercayai apa yang sekarang sedang terjadi.
"Oh… God, Jamie kamu tidak berbohong, kalian tidak berbohong," ucap seorang anak laki-laki teman sekolah Jamie, yang terperangah melihat Jack yang dikelilingi anak-anak lain, "ia memang persis seperti di dalam lukisan," tambahnya.
Jamie dan kelima temannya yang lain tersenyum senang karena mereka berhasil membuat teman-temannya yang lain percaya dengan keberadaan Jack, dan sekarang ini mereka sedang melihat Jack, bahkan mengaguminya.
"Wooooww… lihat, itu benar-benar Jack Frost!?" teriak beberapa anak-anak dengan penuh semangat.
"Dia nyata, dia… ada," ucap yang lain sambil berlari kearah Jack.
"Hahaha, itu luarbiasa," mereka tertawa senang karena bisa melihat Jack, juga menyadari bahwa ucapan Jamie dan kelima temannya tidaklah bohong.
Jack berdiri dari jongkoknya dengan perasaan yang tidak mampu ia ungkapkan, tiba-tiba saja semua anak-anak di Rainbow Gallery berkerumunan disekitarnya, ia tertawa tertahan tidak percaya melihat anak-anak yang berdatangan menghampiri dirinya. Mereka semua berkumpul mengelilingi Jack dan menghujaminya dengan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya. Jack menjadi kelabakan menanggapi mereka, membuat Jamie, Pippa, Cupcake, Cloude, Caleb, dan Monty tertawa melihat Jack yang kebingungan.
"Hahaha, lihat wajah Jack, itu lucu sekali," tawa Cloude sambil menunjuk Jack.
"Syukurlah, mereka bisa melihat Jack," kata Pippa tersenyum kearah teman-temannya.
"Huh, kalau mereka masih berceloteh tentang Jack hanya bohongan, akan aku lempar mereka dengan bola salju raksasa," Cupcake memasang wajah garang dan meninju telapak tangan kirinya, membuat Monty yang berada disampingnya ketakutan.
"Tapi teman-teman, kita berhasil membuat mereka mempercayai Jack, dan itu bagus," kata Jamie tersenyum senang kearah Jack.
"Yeah, kamu benar Jamie," ucap Caleb.
Rasa sepi dalam kesendirian selama ratusan tahun dan kesabaran dalam penantian moment-moment yang selama ini diharapkan oleh Jack, kini mendatanginya dengan tiba-tiba. Moment dimana anak-anak menatap kearahnya dengan mata berbinar cerah, senyuman yang merekah dari bibir-bibir mungil mereka, tawa mereka yang bersemangat, melodi-melodi yang terlantun dari suara-suara mereka yang bening-lembut. Sebagai seseorang yang dahulunya tidak terlihat dan didengar oleh siapapun, sementara ia merasa bahwa ia sudah terbiasa dengan perasaan terabaikan, membuat Jack tidak mampu berkata apa-apa, ya, tidak ada kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kini. Wajah-wajah mereka memancarkan kepolosan dan kemurnian, memedarkan mimpi-mimpi mengagumkan mereka yang terpantul dari bola mata mereka yang jenih seperti air yang mengalir tenang di dangkalnya anak-anak sungai. Berkilau di bawah temaramnya sinar mentari beselimutkan dedaunan yang bergemerisik dihembuskan angin. Padahal ia telah mempersiapkan dirinya untuk moment itu, namun karena tiba-tiba, ia malah kelabakan dan bingung harus bagaimana menanggapi mereka.
Jack tertawa dengan wajah cerah dan tersenyum bahagia karena dikelilingi oleh anak-anak yang menghujaminya dengan pertanyaan-pertanyaan. Hal itu tidak membuatnya merasa terganggu, sementara disudut hatinya ia masih belum mempercayai kenyataan itu. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Jack ketika melihat wajah-wajah nan mungil dan manis itu memedarkan seutas senyuman lebar, mata yang kemilau dipenuhi keajaiban mimpi, dan sikap mereka yang polos dan penuh energi, membuat perasaan bingung yang mengerogoti Jack menjadi terabaikan.
Jack kemudian melihat kearah Jamie dan kelima teman kecilnya yang lain, mereka tersenyum renyah, Jamie mengancungkan jempolnya, Jack tertawa lebar, kali ini tawanya benar-benar lepas, suaranya yang maskulin itu terdengar sangat senang dengan hal yang kini mendatanginya dengan tiba-tiba. "Thank you so much, guys," Jack membatin, "Thank you," Jack berhenti tertawa, berubah menjadi seutas senyuman dan membalas mengancungkan jempolnya kearah Jamie.
"Jadi, kamu benar-benar Jack Frost 'kan?" tanya Danny, kembali ia menarik celana Jack, meskipun ia sudah melihat sihir kecil yang diperlihatkan Jack, tapi ia belum mendapat jawaban pasti dari Jack sendiri.
Jack tersenyum memandang Danny, anak pertama yang melihat dirinya di galeri itu, " Yes, aku adalah Jack Frost, dan kita akan sedikit bersenang-senang," kata Jack tersenyum, semua anak-anak besorak, Jamie dan kelima temannya bergabung mendekati Jack.
To Be Continued...
