CHAPTER IV

"THANK YOU…!"


Dibagian terdalam galeri terlihat lukisan raksasa terpajang didinding yang memiliki ukuran panjang 10 meter—disetiap sisi dinding kiri dan kanannya tidak ada satupun lukisan yang terpajang sejauh 15 meter darinya—memperlihatkan dominasi dari keindahannya. Ruangan yang diterangi oleh kilauan lampu dinding berwarna keemasan memantulkan keindahan lukisan raksasa itu, menghipnotis setiap mata yang memandang, memendarkan perasaan kasatmata dari peraduan di atas kanvas, dan berbicara dalam diam disetiap toseran-toresan kuas. Ruangan yang memancarkan emosi nan kasatmata itu, dipenuhi oleh keriuhan suara-suara tawa nan bening dari anak-anak—membahana penuh dengan semangat dan kebahagiaan. Anak-anak itu berkumpul disatu titik—mengelilingi seorang pria yang tertawa memancarkan kebahagiaan karena dikelilingi oleh mereka, mata bulat dan indah itu seolah meminta kepada si pria untuk membuat sesuatu hal yang menyenangkan.

Pria itu tersenyum, dan mengangkat tongkatnya kemudian mengetukkan pangkalnya kelantai—seketika lantai itu membeku membentuk ornament-ornament yang berkilauan—sebagian anak-anak ada yang bergeser dari tempat mereka berdiri karena hentakan udara dingin yang menghempas, " Okay, buatlah gambar yang kalian inginkan, guys!" teriak si pria itu lantang dengan senyum lebar menghiasi wajahnya yang pucat namun tampak berseri.

Semua anak-anak tertawa dan saling pandang satu dengan yang lainnya melemparkan senyuman kemudian dengan sigap mereka menggambar burung, kupu-kupu, kuda, ikan, pesawat, peri, dan lain-lain dengan jari-jari telunjuk mereka di atas lantai yang beku—wajah-wajah mereka memancarkan kesenangan ketika menggambar sesuatu yang mereka sukai.

"Yeah, Jack aku sudah selesai," teriak seorang anak kecil yang memiliki bola mata cokelat dan rambut berwarna cokelat hazel.

"Ohhh, apa yang kamu gambar, Jamie?"

"Aku menggambar robot yang bisa terbang."

"Itu keren sekali, Jamie."

Anak-anak yang lain memberi tahu Jack bahwa mereka juga telah selasai menggambar sesuatu di lantai, "Baiklah, teman-teman, apakah kalian tahu apa yang akan aku lakukan dengan gambar-gambar kalian?" tanya Jack tersenyum penuh arti sambil mengeryitkan salah satu matanya, banyak dari mereka menjawab tidak, tentu saja mereka tidak mengetahui untuk apa Jack menyuruh mereka menggambar sesuatu di lantai yang ia bekukan, tapi tidak bagi Jamie.

"Ou…ou, aku tahu… aku tahu, Jack akan membuatnya bergerak di udara," kata Jamie bersemangat sambil mengangkat tangan kanannya keudara, karena ia pernah melihat Jack melakukan hal itu di kamarnya, ketika ia menggambar kelinci di jendela rumahnya dan membuat kelinci itu bergerak kemudian berlarian-larian di dalam kamarnya.

"Woooww… keren, kamu benar-benar bisa melakukannya, Jack?" tanya Claude.

"Yes," jawab Jack mantap.

"WOOOWW… COOL!" teriak anak-anak serempak.

"Ayo Jack, buat pesawatku terbang!" ucap seorang anak laki-laki yang tidak sabaran.

"Hahaha, sabar Kiddo!" kata Jack sambil jongkok dan ia juga menggambar seekor kelinci di lantai, "tapi kalau kalian ingin mereka bergerak, kalian harus mempercayainya kalau mereka akan bergerak," ucap Jack tersenyum sembari melihat kearah anak-anak; tak lupa juga pada teman-teman kecilnya Jamie dkk.

Perkataan Jack yang penuh dengan kekuatan itu serta diiringi dengan senyumannya yang menawan membuat anak-anak tersenyum dan tertawa kesenangan diselimuti oleh harapan untuk mempercayai gambar-gambar mereka akan hidup yang ditambah dengan sedikit sentuhan sihir dari Jack.

"Tentu kami percaya, Jack," jawab mereka riuh. Sebagian dari mereka ada yang meloncat dan sebagian lain mengancungkan kedua tangan mereka keudara.

"Ayo Jack, aku ingin unicorn-ku bisa berlari di udara!" Teriak Cupcake girang.

"Hahaha… okey," jawab Jack tersenyum, ia benar-benar senang melihat anak-anak itu tidak sabaran dengan pertunjukan yang akan dilakukannya, "tapi aku ingin kalian menjejalkankan tangan kalian di antara gambar yang kalian gambar sambil menutup mata dan berkata di dalam hati 'aku percaya mereka akan hidup'!" intruksi Jack pada anak-anak itu—tidak lupa ia juga melakukan hal yang sama pada gambar kelincinya, tapi Jack hanya membentangkan tangan kirinya kemudian jari-jamarinya menyentuh gambar itu, serta tangan kanannya memegang tongkat yang ia tegakkan, "Jangan lupa, ya! Karena itulah mantranya," seraya berkata seperti itu, Jack menutup matanya dengan perlahan diiringi senyum yang mulai mengambang di wajahnya.

Tiba-tiba dari ujung jari-jamari Jack yang menyentuh lantai mulai bercahaya kebiruan membentuk garis-garis halus yang meliuk-liuk—menjalar mendekati gambar anak-anak dan ketika liukan itu menyentuh gambar-gambar mereka, sebuah hembusan angin dingin yang lembut menerpa wajah anak-anak membuat mereka sedikit terkejut dan seketika membuka mata mereka—mulut mungil mereka menganga dengan perasaan tidak percaya segaligus senyuman kecil merekah menghiasi wajah manis mereka ketika melihat sesuatu seperti sihir terjadi di hadapan mereka. Pola gambar mereka dihiasi dengan ornament cantik dengan garis-garis halus yang berkilau—perlahan gambar mereka timbul dari lantai dan bergerak diudara, berputar-putar mengelilingi sang pengambarnya, bola mata mereka membulat memancarkan keindahan dari kepolosan dan kebahagiaan.

Jack tertawa puas membuat sebuah sihir kecil untuk ia berikan kepada anak-anak, Ia berdiri dari jongkoknya—bola matanya yang beiriskan biru menyelusuri setiap wajah-wajah mungil disekelilingnya yang tertawa girang melihat pertunjukannya. Ia menepatkan pangkal tongkatnya ke lantai, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya seraya merebahkan kepalanya pada tongkat kayu miliknya—menutup matanya dengan perlahan, meresapi suasana hangat disekelilingnya. Gerakan halus sekilas bergerak dibalik kelopak matanya—dihiasi oleh bulu matanya yang tipis dan lentik. Senyuman mulai merekah di bibir merahnya yang pucat. Sementara hembusan angin dingin yang lembut menerpa helaian-helaian rambut putihnya. Hembusan yang datang dari gejolak emosinya yang ia kendalikan tanpa ia sadari; hembusan yang hanya terjadi ditempat ia berdiri, seketika ormanen-ornament beku secara perlahan membentuk di bawah kakinya berpijak, berkilau menyelusuri garis-garis halusnya seiring dengan suara percikan-percikan kecil setiap kali ornament-ornament itu menyebar di lantai yang dilapisi oleh batu marmer besar yang berwarna cokelat cerah.

Seakan seperti suatu gerakan lambat, anak-anak itu berlarian disekitar Jack, suara-suara mereka yang bening seperti lantunan musik di telinganya. Dengan mata terpejam, Jack meresapi semua 'lantunan musik' itu. Ia juga dapat mendengar suara Jamie yang bahagia melihat robotnya terbang di udara dengan hembusan udara dingin disetiap sisi pendorong di sayapnya; suara Cupcake yang berteriak senang dengan unicorn kecilnya yang berjingkrak-jingkrak mengelilinginya; suara Pippa yang tertawa dengan burung-burungnya dan salah satu dari burung-burung itu bertengger diatas kepalanya membuatnya tertawa terkikih-kikih; suara Claude yang meniru deru mobil ketika mobil balapnya melesat diudara; suara girang Calep dengan gerakan kereta apinya yang seperti ular; suara Monty yang tertawa dengan sorakannya yang keras melihat roket luar angkasanya terbang meninggalkan butiran-butiran salju di pendorong yang berada di bawah roket, dan suara-suara anak-anak lainnya yang bahagia dan ekspresi kekaguman mereka ketika melihat gambar-gambar es mereka berkeliaran diudara. Suara hentakan kaki mereka yang membahana dapat didengar oleh Jack, hentakan-hentakan kaki dimana anak-anak itu mulai mengejar objek-objek es mereka.

Mendengar ruihnya galeri terdalam membuat orang-orang dewasa melirik dan melihat anak-anak yang berlarian seolah mengejar sesuatu, mereka tidak dapat melihat objek-objek es yang dibuat oleh Jack—bahkan objek-objek es itu berlarian keluar ruangan khusus itu yang digunakan untuk memajang lukisan raksasa, The Guardian of Chilhood. Anak-anak yang berlarian riang gembira itu membuat pemandu-pemandu galeri yang berpakaian dongker, merasa kelabakan untuk menghentikan mereka, ada beberapa dari orang-orang dewasa dan remaja tertawa cekikikan melihat pemandu-pemandu itu yang kesusahan menghentikan mereka dan segaligus melihat tingkah anak-anak, tidak terkecuali Mr. Abraham juga ikutan tertawa.

"Mr. Abraham, sejak kapan galeri anda berubah menjadi taman kanak-kanak?" tanya seorang kolektor pria dengan sakartis terlihat keheranan dengan suasana galeri Mr. Abraham.

"Sejak pembukaan galeri saya tadi pagi, Tuan," ucap Mr. Abraham tersenyum tetap dengan tawanya yang cekikikan.

Tidak jauh dari Mr. Abraham dan kolektor lainnya, seorang anak sekitar umur lima tahunan memakai topi baseball yang ia pasang terbalik ke belakang berhasil menangkap ular esnya sehingga ular esnya meletup dengan serpihan-serpihan saljunya menyebar keseluruh ruangan, membuat orang–orang di ruangan itu terperangah kaget dengan butiran-butiran salju yang turun di dalam galeri. Mr. Abraham terhenyak kaget dengan salju-salju yang tidak diketahui dari mana asalnya, membuat Mr. Abraham mulai panik dan bingung. Ia takut kalau salju-salju itu akan merusak lukisan yang dipajang, namun ketika butiran salju menyentuh kulitnya tidak ada tanda-tanda basah yang ditimbulkan sehingga membuat Mr. Abraham keheranan. Ia bahkan melihat kesekelilingnya, para pengunjung begitu menikmati sebuah pertunjukan yang mereka kira diadakan oleh pihak galeri, bahkan Mr. Abraham mendapat pujian dari para kolektor tentang pertunjukan yang indah itu, ia memilih diam dalam kekikukannya dan membiarkan mereka menganggap hal itu adalah pertunjukan dari galerinya.

Anak kecil yang berumur sekitar lima tahun itu tertawa girang melihat butiran salju jatuh diujung hidung ibunya, "Mom, Jack Frost membekukan hidungmu," sambil menunjuk ibunya.

"Hahaha, oh my little sweetheart, kamu bisa saja," ucap sang ibu sambil menggendong anaknya.

Suara-suara letupan dari objek-objek es yang digerakkan Jack terdengar disetiap sudut ruangan galeri karena anak-anak menyentuh dan menangkap mereka sehingga butiran-butiran saljunya menyebar keseluruh ruangan, membuat para pengunjung terpesona, salju-salju itu dapat dilihat oleh orang dewasa. Jack sudah memperhitungkannya untuk membuat objek itu tidak akan merusak lukisan—tidak henti-hentinya Jack tersenyum seraya ia kembali membuka matanya—perasaan yang begitu menakjubkan yang tidak dapat diungkapkan lewat kata-kata yang hanya terdiri dari simbol-simbol. Di dalam hatinya ia berkali-kali berterimakasih pada teman-teman kecilnya, Jamie, Pippa, Cupcake, Claude, Calep, dan Monty yang berusaha menjelaskan mengenai dirinya kepada teman-temannya. Ia menatap teman-teman kecilnya dengan lembut yang terpukau dengan salju-salju disekitar mereka, senyum mereka yang merekah, tawa mereka yang bening, dan ekspresi mereka yang penuh dengan emosi. Jack teringat kembali bahwa ia pernah merasakan gejolak perasaan bahagia ini dahulu sekali, bersama adiknya dan teman-teman kecilnya yang lain dimasa itu.

Jack berdengus tersenyum, "Heh, aku jadi bernostalgia," tawa Jack pelan.

Jack terseyum, senyuman terindah yang belum pernah ia tujukkan, sebuah senyuman yang didasari dengan kebahagiaan yang menyeruak tanpa henti dari dasar hatinya. Ia memalingkan badannya—kembali ia melihat lukisan The Guardian of Childhood yang tidak ia ketahui siapa pelukisnya. Memandang lukisan itu membuat dirinya merasakan perasaan menggebu-gebu untuk pertama kalinya dan lukisan yang telah memudahkan anak-anak untuk mengenal dirinya, mempercayai dirinya, dan melihat dirinya, sebuah kejutan yang tidak terduga olehnya yang datang secara tiba-tiba itu.

"Thank you," Jack menatap lembut, "thank you so much," Jack membentangkan tangan kanannya kearah lukisan, "siapapun dirimu," tambah Jack, hanya itu yang dapat ia katakan meskipun ia tidak mengetahui siapa pelukisnya ataupun sedikitnya ia ingin menyampaikannya dihadapan pelukisnya, kemudian ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu menuju teman-teman kecilnya.

Di lukisan raksasa itu, jika matamu jeli dan membentuk bingkai dengan kedua ibu jari serta jari telunjukmu yang disatukan kemudian membingkai tengah-tengah lukisan dari kejauhan sekitar 2 meter, maka kamu akan melihat sesuatu yang menakjubkan lainnya yang benar-benar tersembunyi, disamarkan dengan cerdik, sesuatu yang luput dari penglihatan semua orang. Dari pasir-pasir emas Sandy yang berkilau membentuk liukkan tajam seperti gunung di lukisan itu dan diantaranya ditoresi oleh butiran-butiran salju Jack yang keluar dari tongkatnya seakan membentuk huruf kapital "A", dan diujung tebaran butiran salju itu terdapat liukan dua kali dibawah pasir Sandy, meliuk dengan lembut seolah membentuk huruf kapital "S", jika digabungkan maka akan menjadi "A.S", mengisyaratkan bahwa itu adalah suatu initial dari si pelukis, satu-satunya yang juga luput dari penglihatan Jack.

Ting…tong…, bunyi bel berdentang disebuah rumah menandakan ada seseorang di depan pintu, sang penghuni pun membukakan pintu sambil menggandeng seorang anak kecil berambut pirang yang hampir menutupi matanya.

"Yes?" tanya si penghuni rumah ketika membukakan pintu.

"Apakah anda Mrs. Bannett?" tanya seorang pria bertopi baseball merah dengan corak putih serta berseragam merah yang juga bercorak putih.

"Yes!" jawab Mrs. Bannett.

"Ada paket untuk anda," kata pria itu sembari menyerahkan sebuah paket berbentuk kotak.

"Paket? Dari siapa?" Mrs. Bannett tampak heran, karena tidak ada kenalannya memberitahukan bahwa ia akan dikirimi paket.

"Maaf, Mrs. Bannett, tapi disini tertulis 'A.S' saja dan meninggalkan sebuah pesan memo untuk anda," sembari menyerahkan pesan memo dengan kertas merah berbentuk kupu-kupu.

Mrs. Bannett menerima memo itu dan membacanya, "Terimakasih pada putri anda, Sophie, Mrs. Bannett. Karena Sophie yang manis menjadi model salah satu lukisan saya, maka dari itu saya memberikan hadiah untuk si kecil Sophie. Saya harap anda berkenan menerima dan memberikannya pada putri anda," eja Mrs. Bannett sedikit bingung dengan isi pesannya.

"Mrs. Bannett, silahkan paketnya, "kata pria itu sembari menyodorkan kembali paket itu kepada Mrs. Bannett, "dan tolong ditandatangani di surat tanda terimanya," pintanya ketika Mrs. Bannett menerima paketnya dan pria itu menjulurkan sebuah surat yang diselipkan di penjepit berlapis papan kemudian ditandatangani oleh Mrs. Bannett.

"Terimakasih Mrs. Bannett," kata pria itu, lalu melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Mrs. Bannett.

"Sophie… sweetheart, sepertinya seorang pelukis telah melukismu dan memberimu sebuah hadiah," kata Mrs. Bannett pada putri kecilnya.

"Hadiah… hadiah," ucap Sophie girang sambil melompat-lompat.

"Nah, ayo dibuka, Sayang," kata Mrs. Bannett sambil menyarahkan kotak hadiah itu kepada Sophie dan Sophie membukanya langsung.

Isinya seperti sebuah bola salju yang bening dengan ornament rumit berwarna merah dipangkal dan puncaknya. Di dalam bola salju itu ada kelinci putih yang lucu dengan telur-telur bermotif disekelilingnya, Sophie tampak senang menerimanya dan mengoyang-goyangkan bola itu sehingga butiran-butiran hijau dan merah berterbangan di dalam bola itu. Mrs. Bannett tersenyum geli melihat putrinya, kemudian mencium kening putrinya dengan gemas.

Malam mulai menyemuti Kota Burgess, memperlihatkan kemilau sinar rembulan dengan indah. Disebuah rumah megah dengan tamannya yang luas, terlihat seseorang dilantai dua yang duduk di beranda rumah itu dengan jendela besar berbingkai putih serta tirai transparan barwarna ungu berkibar-kibar oleh hembusan angin dingin dengan lembut. Ia dengan santai menikmati secangkir kopi yang cocok untuk menemaninya dimalam yang dingin itu. Tidak lama kemudian sebuah ketukan terdengar di pintu masuk kamarnya.

"Silahkan," katanya mempersilahkan seseorang dibalik pintu itu, suaranya terdengar begitu bening dan indah.

Seorang kakek tampak memasuki kamar itu, "Hey, sweetheart," sapanya kemudian, melihat si penghuni kamar menikmati secangkir kopi sambil memandangi rembulan. "Ohh… lihat, sangat enak sekali meminum kopi panas dicuaca seperti ini diberanda kamar, sambil memandangi indahnya rembulan," ucapnya sedikit bersyair sambil tersenyum setelah mendekati si penghuni kamar.

Ia menoleh kearah si kakek, tampak wajahnya yang putih bersih terlihat merona, semburat senyuman merekah dari bibir ranumnya yang mungil menghiasi wajahnya yang cantik. Hidungnya yang mancung dan mungil, matanya yang beririskan hijau kekuningan itu memancarkan aura kelembutan, dan bulu matanya yang hitam dan lentik. Ia meminum kopinya dengan nikmat, ada aroma khas yang ditangkap oleh hidungnya dari kopi itu ketika ia meminumnya, kemudian ia meletakkan cangkirnya di atas cawan yang ia pegang ditangan kirinya. "Well, apa kakek ingin ikut bergabung denganku?" katanya lembut.

Kakek itu tesenyum, "Kalau cucuku ini mau menyuguhkannya untukku," Sambil duduk dihadapan cucunya yang ditanggapi dengan tawaan pelan oleh seseorang yang ia panggil cucu itu.

Ada sebuah meja bundar kecil diantara mereka berdua duduk, di atasnya ada sebuah pot kecil yang dihiasi oleh ornament rumit berwarna keemasan dipangkalnya dengan setangkai bunga mawar putih yang mekar penuh, juga ada bola kristal yang seperti berlian bulat yang ditompang oleh liukan-liukan rumit di bawahnya—terpajang di atas meja itu. Sang cucu menuangkan kopi panas dicangkir yang akan ia suguhkan untuk kakeknya.

"Thank you, Dear," ucap si kakek.

"You're Welcome, Grandpa," balasnya tersenyum, kembali ia duduk dikursinya dan menikmati kembali kopinya.

Si kakek meminum kopinya, "Hmmm ini enak sekali, Cucuku," puji si kakek yang ditanggapi sebuah senyuman oleh si cucu, "kamu tahu, Cucuku, para kolektor itu datang ke kantor kakek dan menawarkan harga secara gila-gilaan, mungkin karena mereka menyadari bahwa warna kuning di lukisan itu dicampur dengan serbuk-serbuk emas 24 karat." Ucap si kakek kembali ia meminum kopinya.

"Kakek terlalu memperjelasnya," kata si cucu, ada sedikit nada tertawa dari suaranya yang bening.

"Yeah, kakek tahu itu, Nak, tapi kakek tetap menolak semua tawaran mereka. Semuanya datang dan menemui kakek—minta dipertemukan dengan pelukisnya. Mereka menawarkan dengan harga yang tinggi sekali. Wooow… Abraham, teman lamaku—melampar semua tawaran padaku—Oh, dia benar-benar 'deh," ucap si kakek sedikit kaget dengan yang ia alami satu hari ini.

"Begitu ya, kakek pasti kerepotan sekali," kata cucunya dengan semburat wajah maklum.

"Tidak apa-apa, Nak, ini 'kan juga diluar perkiraan, ternyata peminatnya banyak juga," kata si kakek tersenyum, "tapi kenapa kamu tidak ingin menjualnya, Nak?" tambah si kakek.

Sang cucu tersenyum kearah kakeknya, "Lukisan itu merupakan permintaan seseorang, Kek, yang aku buat dengan sepenuh hati dan dengan seluruh rasa kekagumanku pada mereka. Itu dipersembahkan untuk anak-anak didunia, segaligus memperkenalkan Snow Flake kepada anak-anak!" ucap sang cucu tersenyum, ia menunduk melihat sebuah pantulan bulan di permukaan minuman kopinya, dan kembali ia meminumnya dengan nikmat.

Akan tetapi sang kakek tampak mengangkat satu alisnya karena tidak mengerti maksud cucunya, tapi ia berusaha menebak apa yang dimaksud oleh cucunya, "Kalau makhluk mitos itu benar-benar ada, mungkin ia akan berterimakasih padamu, Sayang," kata si kakek, terkadang ia bingung karena setiap kali cucunya berkata yang tidak ia mengerti, pasti ada sesuatu yang tersirat di dalam kata-katanya, dan sang kakek sudah terbiasa dengan itu, kembali ia meminum kopinya kemudian memandangi rembulan.

Sang cucu tersenyum tipis dengan lembut, sementara ia akan meminum kopinya, ia berkata, "You're welcome" kata-kata itu sangat pelan ketika mulutnya menyentuh bibir cangkir, sampai sang kakek di depannya pun tidak mendengar ucapan itu, kembali sang cucu meminum kopinya.

Sinar rembulan bersinar cermerlang begitu indah dilangit malam yang berbintang tanpa awan. Bagi sang cucu itu adalah malam yang cerah dan sempurna untuk menikmati secangkir kopi hangat dengan tiupan angin dingin nan lembut. Ditemani oleh seorang kakek dan rembulan dengan cahayanya yang indah.


The End.