Chapter II
His butler or her butler : Who is her?
...
..
.
Setelah pingsan untuk beberapa saat, kini Ciel mulai sadarkan diri. Mata sapphire-nya mulai terbuka, ia mengerjapkan mata indahnya sambil mengelus kepalanya yang terasa sedikit sakit. Entah mengapa kepalanya bisa sesakit ini, Ciel pun tak tau.
"I-itai.." gumamnya sambil menyentuh bagian dari kepalanya yang terasa nyeri itu. Dengan langkah yang terkesan malas, Ciel pun beranjak dari tempat tidurnya. Dilihatnya sosok wanita berambut navy blue panjang dengan mata sebiru laut berdiri dihadapannya tanpa sesuatu yang menutupi bagian tubuhnya.
Pipi Ciel pun memerah, karena telah melihat bagian indah dari gadis itu yang seharusnya tak ia lihat. Perlahan Ciel pun melangkah ragu mendekati gadis yang ada di depannya, Ciel pun berjalaan sambil memejamkan matanya. Karena ia sangat malu saat melihat gadis itu, langkahnya pun terhenti ketika kepalanya serasa menabrak benda yang cukup keras.
DUAK! Seketika itu, Ciel pun membuka matanya. Terpampanglah sebuah cermin yang merefleksikan bayangan dari wajahnya.
'Hah? Cermin?' batin Ciel, 'Apa gadis yang tadi kulihat hanya halusinasiku saja?' bantinnya lagi.
Merasa dirinya cukup bodoh karena mendempetkan wajahnya kecermin, Ciel pun melangkah mundur. Dan gadis itu tampak kembali dihadapannya.
GLEK! Dengan ragu Ciel melirik bagian bawah dari tubuhnya, dan yang benar saja..
"TIIIIDAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!" Ciel pun berteriak sejadi-jadinya, saat menyadari gadis itu adalah dirinya.
CKLEEK! Terdengar suara pintu yang terbuka, ke luarlah sosok pria berambut raven yang hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi bagian pinggangnya.
Seketika itu, iris sapphire dan ruby itu saling bertemu. Si raven itu pun melangkah mendekati gadis polos yang terduduk di depan cermin sebesar dirinya itu.
Namun, tiba-tiba saja handuk yang pria itu kenakan terlepas begitu saja dari pinggangnya. Mata sapphire dari gadis bertubuh polos situ memutih seketika, saat melihat apa yang kini terpampang dihadapannya.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak gadis itu sambil memejamkan kedua matanya, menyadari handuknya sudah tak menupi lagi bagian tubuhnya. Pria bermata ruby itu pun bergegas secepat kilat menuju kamar mandi.
Lima belas menit pun telah berlalu, kini Sebastian dengan berpakaian lengkap serba hitamnya. Melirik Tuannya yang terlihat sangat frustasi.
"Sebastian.." panggil Tuannya.
Butler itu pun melangkah mendekati majikannya, "Jelaskan apa yang terjadi padaku.. kenapa.. tubuhku bisa jadi seperti ini.." ucap Ciel.
Sebastian pun menudukan badannya ke arah Tuannya, "Baik, Bocchan.. akan saya jelaskan semuanya."
"Ini semua bemula dari kontrak yang telah kita buat, saya akan mengonsumsi jiwa Anda. Namun, saya harus memenuhi semua perintah dan sebuah keinginan Anda.." jelas butler serba hitam itu. Sebelum Ciel mengajukan pertanyaan Sebasian kembali melanjutkan ucapannya, "Akan tetapi, Kontrak kita berubah ketika Anda menjadi demon, Young Master.."
Ciel pun berusaha mencerna dengan baik apa yang dikatakan butler setianya ini, "Apa yang kau maksud dengan berubah?"
Sebastian pun tersenyum singkat, "Saat Anda berubah menjadi demon, artinya kontrak batal secara tidak langsungkan? Tapi, saya tidak bisa membiarkannya begitu saja.."
Ciel pun makin bingung dengan apa yang dikatakan Sebastian, "Maksudmu?"
Sebastian pun kembali tersenyum saat melihat sosok gadis rupawan itu, ditengah kebingungannya. "Anda ingat tujuan utama Anda mengikat kontrak ini dengan saya?"
Ciel pun berpikir sejenak, "Untuk memenuhi semua keinginankanku kan?" tanyanya lagi pada Sebastian. Dan, seringai tipis pun ke luar dari pria bertampang kakkoii itu. "Tentunya begitu, tapi jika Anda tetap menjadi demon—" ucapnya sambil mendekati Ciel. "Keinginan itu tak akan ada.." lanjutnya sambil menatap mata sapphire itu..
"Kau, tau.. aku ini tidak bodoh.." ucap Ciel, "Tapi, entah mengapa aku sama sekali tak mengerti tentang apa yang kau katakan!" lanjut Ciel terus terang dengan nada kesal dan marah.
Sementara itu, orang yang dimarahi hanya bisa menghela napas sambil memang tampang 'Doushitara ii ka?'
Lalu, pria beriris ruby itu berkata "Akan saya jelaskan di chapter selanjutnya, Bocchan.."
...
..
.
Well, ketemu lagi sama saya di fic ini.. hmm, sebenernya saya ga terlalu bakat nulis sih.. apalagi nulis yang aneh-aneh.. jadi, ga bisa janji.. bisa nulis yang hot" atau engga (-.-)a
Saran saya, kalau mau ff ini biar jadi hot.. bacanya sambil makan cabai or coklat panas *plak* (dibunuh yang baca)
Atas kekurangan dari FF ini author minta maaf (_ _)a kalau ada saran dan kritik, douzo~
For the last, Mind to Review?
