Go on a Date with Giant Lucas!
Lucas X Renjun
NCT 2018
3.25 AM
Lucas tidak tahu harus menempatkan pada siapa kekesalannya. Di jam rawan dimana matahari masih bersembunyi malu-malu belum menampakkan cahanyanya, ia telah berdiri gemetaran karena dingin yang mengigit kulitnya.
Kalau kalian mau tahu, lucas tengah berdiri sendirian di Hangang Park di pinggir sungai Han jam tiga pagi.
Jam tiga pagi!
Bayangkan seberapa dinginnya di pagi buta ini di pinggir sungai kebesaran milik Korea yang semakin membuat Lucas seolah-olah berada di Kutub.
Sebenarnya mungkin ini kesalahannya yang kemarin membuat si mungil itu cukup marah besar sehingga Lucas harus merelakan dirinya absent dari jadwal latihan basket demi memenuhi permintaan kekasihnya. Iya, Lucas sudah berjanji untuk mengiyakan segala yang diminta kekasihnya termasuk dating seharian. Hari ini merupakan hari full-booked by Renjun. Hari dimana kekasih super mungilnya bisa mengklaim dirinya seharian.
Tapi kenapa harus jam tiga sih?
Ya tapi Lucas bisa apa, yang penting Renjun bahagia deh.
Lucas kembali menghela napasnya panjang sekalian meniupi tangannya yang kaku kedinginan.
Untungnya ia memakai jaket meski tidak begitu membantu mengusir hawa dingin yang terus-terusan membelai kulitnya. Lucas tetap berdiam diri dan sedikit menjauh dari sisi sungai sambil menggosok-gosokan kedua telapak tangan berharap kehangatan datang dari sana. Pria dengan kelebihan tinggi ini tengah menunggu kekasihnya.
"bbbrrrrrr" Lucas menggigil, ia memeluk tubuhnya sendiri guna menambah kehangatan. Padahal waktu terus berjalan menuju fajar tetapi hawa disekitar malah semakin dingin.
Lucas mengetuk-etukan sepatunya, sedikit melakukan pemanasan sederhana agar tubuhnya tidak begitu kaku karena kedinginan. Taman di pinggir sungai masih sangat sepi mengingat ini masih pagi buta hingga sangat jelas di telinganya deru napas seseorang tengah berlari mendekatinya.
"Hahh~ hahh~ hahh~ Lucas hyung!"
Dari tempatnya berdiri, Lucas dapat melihat jelas kekasihnya yang berlari kecil menghampirinya.
Lucas tersenyum lebar. 'Ah kekasihku akhirnya sampai juga'
"Hyung!" Renjun berdiri dihadapannya dengan napas yang terengah-engah. Apa Renjun sangat bersemangat berkencan dengannya hingga berlari-lari seperti ini?
Ah Lucas sudah membayangkan apa-apa saja yang akan mereka lakukan hari ini. Sedikit banyaknya Lucas berharap pada kencan yang mungkin sebagian besar akan menguntungkannya dari segi kemodusan.
"Ayo hyung!"
"Langsung saja?"
Renjun mendadak memeluknya, ia mendongak menatap Lucas dari bawah dengan senyum yang terlampau imut bagi Lucas, "Tentu, Lucas hyung pasti sudah kedinginan menunggu kan?"
Ingin rasanya Lucas menerjang kekasih super mungilnya. Kalian harus tahu bagaimana Renjun terlihat sangat mungil ketika tingginya yang hanya sebatas dagu memeluk badan Lucas dan menatapnya dengan berseri-seri serta suara yang begitu imut (di pendengaran Lucas tentunya).
Lucas jadi lupa soal dirinya yang kedinginan. Ngomong-ngomong soal dingin. "Emm Renjunie, kau yakin tidak kedinginan? Ku lihat tadi prakiraan cuaca cukup dingin pagi ini..." Lucas menahan gejolak dirinya untuk mencubiti pipi gembil renjun yang masih berseri-seri.
Renjun menggeleng kecil. Pemuda mungil itu sudah meninggalkan Lucas yang bersiap mengorbankan jaketnya untuk si mungil. Lucas hanya dapat mengekori si kecil yang telah berjalan jauh di depannya menuju dimana sepeda dengan berbagai ukuran masih terparkir apik untuk para penggunanya.
"Hari ini kan kita bermain sepeda Lucas hyung, kita akan berolahraga pagi supaya tubuh kita tidak kedinginan..." ucapnya dengan nada yang sedikit imut (bagi Lucas) membuatnya mengiyakan apapun yang diminta oleh pemuda kelahiran jilin itu.
Uggh tolong kendalikan hormon Lucas saat ini.
Renjunnya mengapa begitu manis dan perhatian. Lihat! Ia bahkan menarik sepeda-sepeda itu keluar untuk mereka gunakan nanti.
'Wah sungguh Renjunku sangat mandiri dan perhatian!'
Renjun menarik sebuah sepeda fixie berwarna campuran antara biru dan putih yang Lucas yakin akan digunakan Renjun nantinya. Lihat saja dudukan sepeda yang setara dengan tinggi pinggang Renjun ditambah sebuah bel kecil di stang sepeda tersebut. Benar-benar cocok untuk Renjun.
Kemudian Renjun kembali mengambil sepeda lainnya—setelah menyimpan sepeda yang akan dia gunakan di sisi lain tentunya—yang nampak cocok digunakan untuk anak kecil yang bahkan belum bisa mengayuh pedal gas.
'A—Apa!'
Lucas seketika membelalak. "Re—Renjun kenapa kau mengeluarkan sepeda yang i—itu sayang?"
"Ini sepeda yang akan kau pakai Lucas hyungie~"
"Serius?"
Kepala Renjun menganggut-anggut, bibirnya sedikit mengerucut—seperti sedih akan reaksi Lucas. "Hyung bilang mau menuruti semua keinginanku~~"
"I—Iya... tapi...," jari telunjuk Lucas mengarah pada sepeda mungil yang Renjun sodorkan untuknya. "Sepeda itu bahkan tidak ada pedal gasnya~"
Jika dijabarkan, sepeda itu hanya bisa digerakkan dengan gusuran kaki dan ukurannya pun sangat kecil, karena saking kecilnya kaki Lucas yang jenjang akan sangat tertekuk jika duduk di jok mungil yang hanya setinggi seperempat dari betisnya.
Sepertinya Renjun ingin menyiksanya.
"Lucas hyung~~"
'Oh tidak!'
Jangan biarkan Renjun menunjukkan aegyonya, karena Lucas akan menyerah dengan sukarela jika...
Lihat itu lihat!
Renjun mengepalkan kedua tangannya. Menggesek genggaman tangan kecil itu pada daerah matanya seakan-akan ingin menangis. Tak lupa kerucutan bibirnya yang semakin mencuat keluar membuat Lucas ingin menyudahi aegyo manis itu dengan satu kecupan basah.
"Baiklah..."
"YES!"
.
.
.
.
.
.
Tolong lupakan kegiatan mereka sebelumnya—yang menurut Lucas gagal, kakinya sampai keram tertekuk begitu lama—karena pemuda mungil di sampingnya tampak sangat bahagia bersenandung kecil seolah-olah tidak merasa bersalah atas perbuatannya tadi. Ia malah begitu semangat menjalankan acara keduanya.
Pergi berbelanja di Myeongdong untuk makan malam.
Saat ini matahari sedikit menyembulkan sinarnya. Membuat Korea lebih terang dan hangat dari sebelumnya. Beberapa burung juga sudah mulai melakukan aktivitas keseharian mereka. Begitu juga dengan para manusia yang seharusnya sudah meramaikan jalanan pagi ini.
Seharusnya sih.
Tapi setelah turun dari bis, ia dan Renjun tengah berjalan santai dengan tangan yang bertaut, melewati trotoar yang sepi ini. Mereka tengah menuju Myeongdong. Destinasi selanjutnya untuk acara dating mereka.
"Lucas hyung~~ ingin makan apa?" mereka berhenti sejenak tepat di depan pintu masuk pasar yang ternyata pagi ini cukup ramai juga.
'Kalau boleh jujur aku ingin memakanmu~'
Lucas tersenyum bodoh membayangkan suara batinnya. Ia mengusak rambut Renjun pelan. Menurunkan tubuhnya sedikit setara dengan tinggi Renjun kemudian mengecup pipi gembilnya.
"Terserah padamu, apapun yang kau masak aku akan menyukainya~"
Renjun terlihat menimang-nimang. Jarinya diketukkan beberapa kali pada dagunya. "Aku sedang ingin memasak seafood, hyung mau?"
"Apapun yang kau suka sayang, aku oke..."
"Call!"
Tujuan mereka langsung pada para penjual aneka hewan laut. Di sana begitu memanjakan mata Renjun, melihat dari banyak dan segarnya bahan-bahan yang disediakan. Tapi jika Lucas boleh bercerita sedikit, ia sangat kerepotan sungguh.
Renjun tidak segan-segan menyuruhnya mengangkut beberapa ikan besar yang bau dan masih menggeliat, membuat kaos juga jaketnya basah karena ikan itu. Belum lagi cumi yang mereka beli ternyata masih hidup.
Bayangkan saja saat cumi itu Lucas pegang, mendadak tintanya menyembur pada kaos Lucas (lagi). Ia benar-benar terlihat sangat dekil.
Wajahnya sih tampan, tapi penampilannya begitu kotor dengan bau anyir yang menguar menusuk hidung orang-orang yang di dekatnya. Mereka menjauhi Lucas sangat jelas dengan menutup hidung.
Sementara Renjun hanya menertawainya manis. Sangat manis, tawanya pun amat puas.
"Ahahahahaha! Lucas hyung seperti belum mandi!"
'Terima kasih Renjunku terima kasih...' batin Lucas merana.
Asal Renjun bahagia dan tidak mencak-mencak seperti kemarin, Lucas tidak apa-apa dikatai dekil dan ditertawakan bibi penjual cumi.
—
Sebenarnya masih banyak acara yang telah Renjun buat dalam kencan mereka namun kali ini mereka harus pulang terlebih dahulu ke apartemen yang ditempati Renjun.
Untuk apa?
Tolong jangan berpikiran macam-macam seperti Lucas.
Alasannya yang pertama untuk menaruh belanjaan dan alasan kedua, Lucas butuh mandi.
Renjun sampai sedikit menjauh darinya karena bau anyir yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk laut sialan itu.
Padahal Lucas sedikit berharap kalo acara berbelanja akan membuat mereka tampak seperti suami-istri yang sedang mencari kebutuhan bulanan. Tapi memang niat yang tidak baik akan berdampak tidak baik pula.
Lucas segera saja melarikan diri ke kamar mandi. Jika Renjun saja tidak tahan dengan baunya apalagi ia sendiri yang hampir muntah beberapa kali.
"Huwaaaaahh rasanya segar sekali~"
Lucas baru saja keluar dari kamar mandi bersamaan uap air hangat yang berhembus saat ia membuka pintu. Tangannya masih menggesekkan rambut basahnya menggunakan handuk. Benar-benar sangat lega rasanya menurut Lucas. Ia sudah wangi dan bersih sekarang hingga sangat siap untuk menempel ria dengan kekasih super mungilnya.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Renjun begitu sibuk merapalkan kata-kata yang tidak terlalu terdengar olehnya. Punggung sempitnya bergerak naik turun seperti berusaha meneliti sesuatu yang ia pegang di tangannya.
Diam-diam Lucas berjalan mengendap-endap hendak mengagetkan Renjun.
"DORRRRR!"
"AAAAAA~"
Benda metalik yang cukup besar disebut tab yang tengah Renjun pegang terjatuh begitu saja. Mendarat indah di pahanya yang mungil.
"Yaakk~ Lucas hyunggg~!" Renjun merajuk sembari memungut kembali tabnya. Tampaknya si mungil ini sedang bete melihat ia tidak menanggapi candaan Lucas seperti biasanya.
Ada apa?
Baru saja Lucas tinggal sebentar, tiba-tiba moodnya sudah berubah lagi.
"Ada apa sayang? Jangan mencebikkan bibirmu seperti itu..." lucas dengan sengaja menempatkan dirinya di paha Renjun yang kosong. Ia ingin memancing emosi Renjun agar pemuda tersebut dapat bermain-main lagi dengannya.
Telapak tangan mungil Renjun yang terbebas dari tab, mencoba mendorong kecil tubuh besar yang bertengger nyaman di pahanya. "Ugghh~ hyung berat minggir!"
"Ah iya-iya."
Lucas terdorong menjauh dari pangkuan si mungil. Meski pun dorongan yang dilakukan Renjun tidak begitu kuat tapi rasanya ia sedang dalam mode serius. Lucas jadi segan untuk bercuddle ria dengan kekasihnya.
"Kenapa?" dengan hati-hati Lucas mendekatkan posisinya duduknya di samping Renjun. Merangkul perlahan pundak milik si manis. Takut-takut Renjun menolak berdekatan dengannya lagi.
Renjun mengalihkan pandangannya pada lengan besar yang melingkar manis di pundaknya. Tatapannya memicing pada lengan yang uratnya terlihat jelas; menandakan seberapa kekar lengan Lucas.
"Hyung—"
Lucas segera menarik kembali lengannya dari bahu sempit Renjun. "Iya-iya, kenapa sih? Renjunie tiba-tiba badmood?"
Mata Renjun mengarah pada kedua manik hazel yang sedang mengernyitkan keningnya. Ia sedikit mendelik, "hyung bertanya seperti ini supaya menunda-nunda kegiatan kita yang selanjutnya ya?"
"E—Eh tidak!" gelagat Lucas menjadi salah tingkah mendengar ucapan renjun. "I—ini kalau Renjunie sudah siap, kita berangkat lagi kok!"
"Lucas hyung sendiri belum siap-siap..."
"Ya—ya sudah Renjunie tunggu dulu, ini hyung mau langsung siap-siap!"
Lucas sudah berjanji dan janjinya itu harus dipenuhi semua, tidak hanya setengah-setengah. Dengan langkah yang terburu-buru, Lucas berlari ke kamar Renjun bergegas menggambil pakaian yang lebih layak di lemari.
Sering sekali Lucas menginap di apartemen Renjun dan meninggalkan baju-bajunya di sana. Tapi tenang saja mereka belum pernah melakukan yang iya-iya hanya otak Lucas saja yang sering membayangkan hal-hal aneh.
Pria dengan kelebihan tinggi itu benar-benar tergesa-gesa hingga lupa menutup pintu kamar tempatnya mengganti bathrobe dengan pakaian lain.
"Hyung pintunya!"
"Oh iya..."
Selama itu pula Renjun terkikik memperhatikan Lucas hyungnya yang selalu tergugup jika ia sudutkan seperti tadi. Sebenarnya Renjun sedikit mengerjai Lucas hari ini, kegiatan yang dilakukan sejak mentari belum tampak itu sudah ia pikirkan matang-matang tentang apa saja yang membuat kekasih raksasanya kerepotan.
'Ah apa yang terjadi selanjutnya pada Lucas hyung ya?'
.
.
.
.
.
.
Ada sekitar 4 kegiatan kencan lagi dan yang terakhir adalah kegiatan yang paling Lucas tunggu.
Cukup banyak bukan sisa kegiatan mereka?
Bagaimana jika kita peringkas mengenai apa saja yang terjadi.
Yang pertama, jalan-jalan ke mall untuk main di game centre dan makan siang.
Layaknya pasangan biasa yang sedang menikmati akhir pekan. Lucas dan Renjun pergi ke salah satu mall di dekat apartemen, keduanya berjalan dari beberapa toko ke toko lainnya yang menarik perhatian Renjun. Lucas sedikit melupakan kesialan yang menderanya dari pagi setelah melihat betapa antusiasnya renjun mendatangi setiap toko yang membuatnya senang. Singkatnya sih Renjun hanya membeli popcorn dengan ukuran ekstra jumbo tak luput juga satu boneka moomin dengan tinggi 80 cm.
Tapi yang merepotkan adalah ketika Lucas harus membawa dua barang tersebut bersamaan dengan Renjun yang sibuk mondar-mandir memainkan segala permainan yang ada game centre.
Padahal kan Lucas ingin bermain bersama juga. Bukan terlihat seperti seorang ayah yang tengah menemani putrinya bermain kesana-kemari sembari membawa barang-barang milik sang anak.
Yang kedua, jalan-jalan sore santai di taman.
Jalan-jalan ringan di taman dipenuhi daun mapple yang berjatuhan dengan tangan saling bertautan dan menceritakan hal-hal yang menarik untuk di perbincangkan. Harapan Lucas sudah terlampau jauh membayangkan jalan-jalan yang begitu damai tanpa memikirkan kesialan yang mungkin menimpanya lagi.
Tapi,
Lagi-lagi,
Untuk kali ini bukan benda atau hewan menggeliat yang merepotkannya tetapi Renjun tiba-tiba menginginkannya menggendong beberapa anak kecil.
"Hyung~ aku jadi membayangkan, bagaimana ya jika kau menggendong anak kecil?" telunjuk ramping Renjun mengetuk dagunya membuat ia seperti dalam gestur berpikir. Sangat imut dan meyakinkan Lucas tidak akan menolak permintaannya yang satu ini.
"Kau ingin aku menggendong anak kecil?"
Renjunnya mengangguk antusias.
"Baiklah~"
'Semangat! Mungkin ini akan membuatku seperti calon ayah yang ingin segera Renjun nikahi...'
"FIGHTING HAEYADWE!"
.
.
.
.
.
"YAKKK!"
"AAAA~"
"HIYAAAA!"
'Astaga cobaan apalagi ini...'
'Apa yang Lucas perbuat di masa lalu sebenarnya ya tuhan?' atau sebanyak itu kah dosa yang ia lakukan sehingga mendapat kesialan beruntun seharian ini.
3 anak kecil yang Renjun dapat, sangat, amat merusak pendengarannya.
Entah darimana Renjun menemukan anak-anak penyebar polusi suara ini tapi sungguh dua anak yang ia gendong di sisi kiri dan kanan terus meneriakinya juga menarik-narik rambutnya belum lagi satu anak yang bergelayut manja di kakinya bagaikan koala.
'Oh God! Please let this all over soon~' batin Lucas (lagi) sengsara.
Mari kita berpindah pada kegiatan utama dan tinggalkan kesengsaraan Lucas yang sebelumnya. Kegiatan akhir yang paling lucas tunggu tunggu.
Tinggal 2 kegiatan terakhir. Memasak makan malam bersama serta cuddling time.
Lucas bisa menarik napasnya lega. Renjunnya tidak berbuat aneh-aneh saat memasak makan malam—mungkin Renjun tidak ingin makanannya kacau—sehingga ia nampak begitu tenang dengan meracik bahan belanjaan yang mereka beli di pasar pagi tadi.
Lucas merasa seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya memasak, Renjunnya tampak manis dengan apron yang membalut tubuh rampingnya.
'Ah benar-benar calon istri idaman.'
Pemuda mungilnya sangat cekatan mengolah masakan serta mempersiapkan makanan tersebut dengan apik di meja makan sendirian.
Sebenarnya Lucas sudah menawarkan dirinya untuk membantu Renjun tapi kekasihnya menolak, katanya sih ingin ia sendiri yang turun tangan dalam hal memasak. Lucas juga bukan tipe pria yang benar-benar tidak bisa memasak. Ia sungguh bisa memasak hal-hal kecil yang tidak terlalu mewah seperti yang kekasihnya tengah siapkan.
Kan kalau Lucas ikut membantu, ia bisa saja ber-modus ria memeluk Renjun yang tengah sibuk mengoseng dari belakang.
Dasar kingkong tukang modus!
Lucas sibuk tersenyum mesam-mesem tanpa menyadari seluruh masakan telah dihidangkan sempurna di depannya.
"Lucas hyung? Lucas hyungggg?"
"E—Eh iya Renjunie sudah selesai?"
Lambaian tangan Renjun di wajah Lucas menyadarkannya dari bayangan Lucas tentang memeluk Renjun dan menjalar hingga bayangan-bayangan tidak senonoh lainnya.
Renjun menarik kursi di sebelah Lucas setelah melepas apron moomin yang membalut tubuhnya, "sudah, tuh hyung aku membuatkanmu Maeuntang kesukaanmu..."
"Wah Renjunie," mata Lucas melebar dengan binar cerah di dalamnya setelah melihat satu-satunya Maeuntang—sup ikan pedas—tersaji hanya untuknya. Secepat kilat Lucas mengecup pipi Renjun membuat wajah manisnya merah merona.
"Terima kasih sayangku~"
Lucas mengambil sesendok Maeuntangnya, menyereput kuahnya dengan perasaan bahagia sampai...
"HUEEEEEEKKK!"
Rasa aneh dari pahit, asin, asam sampai rasa susu basi bercampur aduk menjalari seluruh lidahnya yang sangat perasa. Lucas tergesa menghampiri wastafel dan memuntahkannya lalu meneguk air putih sebanyak-banyaknya.
"Sayang apa yang kau masu—"
"Lucas hyung tega memuntahkan masakan yang ku buat khusus untukmu?"
'Oh tidak jangan lagi...'
Mata Renjun berkaca-kaca, ia bahkan menatapi Lucas dengan bibir bawahnya yang bergetar. Benar-benar seperti akan meledak dalam tangis.
"Maaf sayang bukan begi—"
"Hikss~"
"Ti—tidak sayang jangan menang—"
"Hyung boh—"
Cupp...
Lucas segera saja menyumpal bibir mungil Renjun yang akan mengatainya pembohong. Bibir bertekstur kenyal nan tebal milik Lucas menghisap bibir Renjun berulang-ulang, atas dan bawah lalu menggigit kecil bibir bawah Renjun. Membiarkan lidah Lucas bergerilya dalam goa hangat milik Renjun, mengabsen satu per-satu giginya dan membelit kuat lidah renjun hingga saliva keduanya bercampur menuruni dagu keduanya.
Lucas semakin memiringkan wajahnya sembari menangkup kedua pipi Renjun, mendesak lebih dalam pagutan panasnya. Ia melumat bibir Renjun tanpa henti tak membiarkan si mungil memberontak pada ciumannya yang semakin dalam.
Sampai tangan Renjun bergerak memukul-mukul dada bidang Lucas, memintanya berhenti sebentar untuk mengais oksigen yang habis dilahap Lucas.
Napas Renjun tersengal, wajahnya pun memerah dengan jejak air liur di dagunya serta bibirnya membengkak sempurna membangunkan gejolak berapi-api yang Lucas tahan sejak lama.
"Hyu—"
"Jawab! Kau masih marah soal aku yang dicium wanita lain sewaktu di lapang sekolah?" Lucas menghentikan rajukan renjun yang terlihat sangat memelas di hadapannya. Gairah mereka berdua sudah bangkit sepertinya.
Renjun terdiam dengan matanya yang sayu menatap Lucas.
"Sampai kau mengerjaiku sedari pagi itu, apa karena kau masih kesal dengan itu?"
"Heem..." Kepalanya terangguk pelan, bibirnya pun ikut mengerucut sempurna kala rencananya sudah terbongkar.
"Dasar kau musang kecil licik!" Lucas mengecup kilat bibir Renjun yang sudah membengkak olehnya. Ia mengangkat tubuh ringan Renjun dari kursi, menggendongnya ala karung beras membuat si mungil tidak dapat berkutik banyak.
"Siapkan dirimu sayang, kita membutuhkan ranjang!"
"Ahh~"
Dan Renjun tidak menyesali apa yang ia rencanakan sedari pagi untuk membuat Lucas hyungnya kelimpungan.
Acara kencannya sukses menjadikan Lucas hyung benar-benar miliknya.
끝
.
.
.
.
.
Haiiiiiiiiii~
Fyuhh~
Masih ada yang inget fanfic ini? Hehe...
Maaf ya lama banget buat up-nya, bahasaku juga agak gaenakeun :'
Gatau deh ini dapet feelnya atau ngga
Aku udah nulis ini dari vlive nct china yg renjun sama lucasnya pangku-pangkuan /ugggh gemas banget
Tapi ga berani pub karena ga berasa feelnya :'(
Maafkan pula jadi sedikit rated pas nyampe bawah wkwk
Jangan dulu di close ya,
Mau nanya kalo fanfic yang ini aku jadiin Oneshoot-nya All X Renjun gimana? atau tetep dibuat oneshootnya LuRen aja?
Tapi ya pair yg aku suka banget tuh NoRen, MarkRen, JaemRen sama LuRen itu aja sih yg lainnya agak kurang
Tapi prioritas utama tetep sama NoRen hehe
Sok sok kirimin pendapat kalian di kolom komentar ehe...
Last,
Gimme your favorite and review juseyoonggg :*
Sekian dan Terima Kasih
