"I-itu..."

"Naga kan?"

Alisnya terangkat sebelah, mata birunya yang indah perlahan menjadi penasaran saat menangkap sebuah objek berwarna merah yang terbang dengan bebas dilangit, otaknya yang memang kadang bego mencoba menganalisa apa yang ia lihat ini adalah sungguhan atau bukan

Yah.. ia hanya berpikir ini khayalannya atau bukan mengingat terakhir kali kepalanya terbentur kelapa, hal itu membuatnya sedikit pusing dan membuat pandangannya agak kabur

Benar! Yang dilihat pemuda pirang dengan wajah lucu itu adalah seekor naga, atau lebih tepatnya seekor naga raksasa berwarna merah yang terbang bebas diudara, sekilas memang terlihat mengerikan, tapi sampai saat ini selama ia beberapa menit berdiri, pemuda pirang itu merasa naga merah itu tak menyadari keberadaannya

Atau memang hawa keberadaannya sangat kecil? Oke! Ia bukanlah sosok yang seperti itu karena ini bukan seperti di Anime sebelah yang suka bermain Basket itu

Uzumaki Naruto, nama pemuda berambut pirang dengan paras tampan itu, memandang agak ngeri saat melihat makhluk yang besarnya melebihi perkiraannya itu terbang di langit dengan bebasnya, namun rasa lapar dan hausnya mengalahkan semua itu, lantas ia langsung mengambil buah kelapa yang tadinya menghantam kepalanya dengan kuat

Toh selama naga merah itu tak mengganggu, mengapa keberadaannya harus disalahkan?

Pemuda pirang itu mengambil kunai dari sakunya, melubangi bagian atas kelapa muda itu, lalu ia meminum airnya layaknya orang yang tidak minum selama seminggu, lalu ia membelahnya menjadi dua bagian dan memakan daging kelapanya layaknya orang yang tidak pernah dikasih makan

Yah, terlihat sangat menyedihkan untuk remaja tulen sepantarannya...

Selesai urusannya dengan kelapa muda itu, Naruto lalu membuangnya ke pantai dengan seenak jidatnya, pemuda pirang itu kembali bersantai di pohon kelapa yang kini menjadi sandarannya, lipatan tangannya menjadi bantalan kepalanya seakan tak ada hal lain yang empuk selain tangannya

"Nee... jadi inikah pemandangan yang indah? yang bisa kulihat hanyalah tubuh Akairyuu itu"

Ucapnya monolog dengan nada datar, matanya menatap datar naga merah itu, meskipun begitu ia cukup merasa kesal dengan naga yang kini tengah terbang bebas dengan seenaknya

Yah, bagaimana tidak? Niat Naruto sih ingin bersantai dengan memandang langit yang indah, tapi keinginan kecilnya itu harus hancur akibat naga raksasa yang tengah terbang itu kini menutupi pandangannya ke langit hanya karena naga itu kelebihan lebar badan, dan juga...

Memangnya ada naga sebesar itu?

Pertanyaan itu terlintas di pikiran Naruto, ia memang tidak pernah bertemu dengan naga asli sebelumnya sih, namun dari beberapa buku fiksi yang pernah ia baca sebelumnya, naga merupakan hewan legenda yang memiliki sayap dan tentunya bisa terbang, dan jelas ia sudah tahu akan hal itu karena buktinya sudah berada didepan matanya

Rasanya ia ingin sekali mengusir naga merah raksasa itu dari pandangannya, namun sayang ia terlalu takut untuk berhadapan langsung dengan naga merah itu. Bukan takut karena melihat fisiknya sih, hanya saja ia takut jika ia nantinya menjadi santapan sang naga merah itu jika berani mengganggunya, dan mungkin yang lebih parahnya, bisa-bisa ia menjadi abu berkat semburan api dari naga itu mengingat saat ia membaca buku fiksi itu, disana dijelaskan bahwa beberapa naga bisa menyemburkan api dengan dahsyat

"Kalau begini sih, bagaimana aku bisa istirahat dengan tenang?"

Mencoba mengabaikan kenyataan yang membuatnya susah untuk tidur, pemuda pirang itu kini menutup matanya, berusaha membawa dirinya dibawa alam mimpi yang sudah menunggunya disana dan siap membawanya kemanapun ia mau

"Dasar, kenapa si Merah Bodoh itu ada disini?"

Belum sempat untuk datang dan menikmati dunia mimpi yang indah. Sebuah pertanyaan dengan nada yang manis khas seorang gadismeluncur dan terdengar ditelinga Naruto, hal itu sontak membuat Naruto membuka matanya dan menoleh ke asal suara

"..."

Naruto mematung. Bukan karena apa, tapi lihatlah! Disampingnya kini berdiri seorang gadis mungilberambut hitam panjang dengan iris mata yang senada dengan rambut panjang tergerainya, sebuah Dress Gothic Lolita berwarna hitam yang ia kenakan, tubuhnya yang mungil menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa orang tak terkecuali Naruto sendiri

'T-tunggu dulu, aku bukan Lolicon!' batin Naruto mencoba memantapkan jiwanya sembari menampar pelan kedua pipinya sendiri

"Ano..."

Ucap Naruto berseru dengan nada panjang, hal itu lantas membuat sang gadis mungil nan manis itu menoleh kearah Naruto. Ekspresinya terlihat cukup terkejut saat menyadari keberadaan Naruto yang tengah terbaring disampingnya sambil bersandar dipohon kelapa, namun raut wajahnya kembali datar

"Hm?"

"Aku tahu kalau ini kurang sopan, tapi siapa kau? Dan siapa yang kau sebut Merah Bodoh itu?"

Gadis mungilitu tersenyum saat mendengar pertanyaan yang Naruto berikan padanya, walaupun pemuda pirang itu mengatakanya secara langsung tanpa basa-basi, tapi gadis itu cukup suka kejujuran Naruto

"Namaku Ophis, dan naga Merah Bodoh yang terbang bebas diatas itu adalah Great Red"

"O-Ophis?"

::

::

::

::

:: [New Line!] ::

::

::

:: [Disclaimer] ::

I Not Own Anything!

:: [Rating]::

T+ for Story and Language, but M for Safety [Bukan Tanpa Alasan]

:: [Genre] ::

Adventure, Supernatural, Romance, Comedy[?]

:: [Warning]::

OOC, Alternate Universe, Typo, Miss-Typo, CrackPair, Semi-Canon, Mainstream[?], Humor Garing, Bahasa tidak Baku, EYD yang berantakan, Word Sesuai Chapter, and More...

::

::

:: [Chapter #26] ::

- Outbound -

::

::

::

::

"O-Ophis?"

"Ya, itulah namaku"

Naruto duduk bersandar dipohon kelapa itu, tangan kanannya memegang dagunya dengan mata terpejam memahami sesuatu layaknya orang-orang kebanyakan, tak lama kemudian ia membuka matanya dengan mulut terbuka seolah ingin memberikan komentar yang tak begitu berarti

"Nama yang cukup aneh"

"A-Apa katamu?!"

Seketika wajah Ophis menjadi merah padam saat mendengar ucapan Naruto yang mengomentari namanya. Baru kali ini Ophis bisa berekspresi lebih seperti itu, biasanya ia lebih suka tersenyum atau hanya diam saja tanpa memasang ekspresi

Yah, Ucapan pemuda itu memang membuatnya sedikit kesal, si pirang itu tidak menyadari bahwa yang kini tengah bersamanya adalah sang Naga tak terbatas, Ouroboros Dragon yang bisa membuatnya merenggang nyawa kapan saja

Dasar bodoh!

Namun dibalik itu. Pemuda pirang yang baru pertama kali ia temui inilah yang membuatnya pertama kali berekspresi seperti ini, cukup manis untuk dilihat dari sudut pandang laki-laki

"Kau tidak berhak mengejek namaku!, lagipula kupikir namaku lumayan cantik"

"Ha? Cantik darimananya? Ayolah! Kau perempuan kan? Setidaknya kau bisa menggunakan nama yang lebih feminim, Contohnya Asuka, Yui, atau mungkin Shouko?"

Ucap Naruto menyanggah sembari memberikan saran nama yang bagus layaknya ibu-ibu yang baru melahirkan, dan nama-nama yang ia sarankan pun entah ia ambil darimana asalnya, Lagipula bukankah cukup aneh? Bagaimana ia tahu nama-nama gadis seperti itu mengingat otaknya yang agak bego?

"Kalau begitu bagaimana denganmu? Siapa namamu?"

"Namaku? Perkenalkan Namaku Uzumaki Naruto!"

Ucap Naruto memperkenalkan namanya pada gadis kecil itu, senyum lima jari khas dirinya sudah sedari tadi terpampang diwajahnya. Namun meskipun begitu, hal itu hanya ditanggapi dengan datar oleh si lawan bicara

"Naruto huh? Jelek amat~!"

Berharap mendapatkan respon yang baik dari Ophis, perkataan gadis bersurai hitam panjang itu malah membuat perempatan merah muncul didahi Naruto-tanda bahwa ia cukup merasa kesal mendengar namanya diejek dengan sebegitu rendahnya

"A-Apa katamu?!"

"Kau mengejek namaku tapi kau tidak memikirkan namamu sendiri huh? Coba pikirkan! Naruto itu setahuku kue ikan yang dijadikan topping Ramen, apa kau penggila Mie kuah yang gak enak itu?"

"..."

Naruto hanya bisa duduk terdiam dengan kepala yang dipenuhi perempatan merah dan sedikit mengeluarkan asap ketika terus mendengar celotehan Ophis yang membuatnya kesal. Ia tak menyangka, dibalik penampilannya yang manis nan mungil, gadis kecil didepannya ini cukup menyebalkan

"Lain kali berpikirlah sebelum kau berani mengejek orang lain!"

"Ya ya, terserah kau saja!"

Ujar Naruto mengalah, berurusan dengan seorang gadis apalagi gadis yang cukup keras kepala sedikit membuatnya pusing, bukankah begitu?

"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa berada disini, Ophis?"

"Akulah yang seharusnya bertanya seperti itu padamu, kenapa kau bisa berada disini?"

Alis Naruto sedikit terangkat sebelah, tak mengerti apa yang dimaksud oleh Ophis, lagipula bisa-bisanya gadis kecil itu membalikkan pertanyaannya

"Apa maksudmu?"

"Aku sudah lama berada di pulau ini bahkan jauh sebelum kau datang kesini Baka, maka dari itu aku menanyakan hal itu padamu"

"Huh?"

Kembali, otaknya yang tidak terlalu pintar mencerna apa yang baru saja Ophis katakan padanya, mencoba memahami apa yang baru saja ia dengar lewat telinganya, mencoba menatap raut wajah Ophis dengan harapan ia bisa memahami apa yang gadis itu katakan

"Jadi maksudmu, kau penghuni lama disini begitu?"

"Aku bukan penghuni pulau ini, lebih tepatnya pulau ini adalah salah satu rumahku"

"Itu sama saja Bodoh!"

Nada Naruto agak meninggi dengan raut wajah yang cukup kesal, ia hanya tak menyangka gadis kecil yang mengaku bahwa namanya cantik ini cukup bodoh untuk memahami kata-katanya sendiri

"Uzuki..."

"Huh? Kau memanggilku?"

"Tentu saja bodoh!"

*Twich!*

Kesal? entah kenapa sekarang Naruto cukup kesal dengan gadis mungil didepannya ini. Jika dilihat secara fisik ia memang sangat cantik dengan tubuhnya yang kecil bak seorang gadis Loli dan juga rambutnya yang hitam tergerai bebas itu plus wajah manis dengan bibir merah muda alaminya yang cukup menggoda

Namun disisi lain, sikap gadis itu terhadapnya cukup menyebalkan!

"Nama belakangku itu Uzumaki, lain kali panggillah nama orang dengan baik"

"Aku tidak mau, aku lebih suka memanggilmu Uzuki"

Oke! Untuk kali ini Naruto rasa ia perlu menyerah, ia tak menyangka gadis didepannya ini cukup keras kepala hanya karena masalah nama yang bahkan tak pantas untuk dipermasalahkan oleh keduanya

"Jadi, apa maumu?"

"Jawab pertanyaanku tadi!"

"Eh? Ah iya! Aku datang kesini karena sebuah kesalahan, anggap saja takdirku yang terlalu buruk hingga membawaku kesini dan bertemu denganmu"

"Kesalahan?"

"Aku malas menjelaskannya, terlalu susah untuk diterima diotak bodohmu itu!"

Ophis menggembungkan pipinya, yah walaupun ia cukup merasa kesal diejek Naruto, namun ekspresinya cukup manis untuk dipandang dengan mata telanjang. Sedangkan Naruto hanya menguap-sedikit mengantuk

Itu benar, dia memang mengantuk sejak tadi, walaupun dunianya yang baru ini dalam keadaan siang hari, ia tentu menyadari bahwa dunia dimana teman-temannya berada saat ini tengah dalam keadaan malam hari, yah bisa dibilang itu adalah perbedaan waktu yang cukup jauh

Dan tetap saja, rasa kantuknya sungguh amat menyebalkan mengingat ini sudah waktunya ia mengistirahatkan tubuhnya yang bisa dibilang cukup lelah

Mengabaikan Ophis yang kini tengah asik memandangi naga merah raksasa yang dia panggil Merah Bodoh itu, Naruto mulai bersandar di pohon kelapa itu, lipatan kedua tangannya menjadi bantalan kepalanya seolah tak ada lagi hal empuk yang bisa ia gunakan sebagai bantal

"Ophis, aku mengantuk..."

"Tunggu dulu Uzuki, coba kau lihat itu"

Baru saja ia hendak menutup matanya, ia terpaksa kembali membuka matanya menuruti sang gadis mungil yang menyuruhnya untuk melihat kearah yang gadis itu tunjuk...

"O-Ophis?!"

Matanya melotot, tentu saja begitu, bagaimana tidak? Saat ini bola api yang sangat besar tengah melesat kearah mereka berdua. Naruto memang tidak tahu kapan bola api itu telah ada, namun ia menduga itu adalah serangan dari naga merah raksasa tadi

Tunggu dulu! Apa keberadaannya cukup menganggu Naga merah raksasa itu? Yang dari tadi ia lakukan hanyalah bersantai sambil meladeni gadis mungil disebelahnya ini berceloteh ria

"Lihat Uzuki~! Si Merah Bodoh itu mencoba memberi salam padaku!"

"Itu bukan salam Bego! Dia berniat membunuh kita!"

Merutuki kebodohan Ophis yang menganggap bola api itu sebagai salam dari naga raksasa tadi, hal itu membuat Naruto langsung berdiri melesat kearah Ophis. Awalnya gadis mungil itu terlihat menolak namun akhirnya Naruto berhasil menggendongnya secara paksa dan berlari kedalam hutan menghindari bola api yang melesat kearah mereka

*Blaaaarr!*

::

::

::

::

"Haah~ Aku jadi tambah ngantuk..."

"Mou Uzuki~, kenapa kau menggendongku tadi? Padahal Great Red mencoba memberi salam padaku!"

"Sudah kubilang dia itu berniat membunuh kita Baka!"

Ophis tahu kalau dirinya adalah Ouroboros Dragon, si naga tak terbatas itu. Tapi entah kenapa ia agak ngeri saat melihat Naruto yang membentaknya dengan rasa kesal yang berapi-api, itu terlihat dikepalanya yang kini mengeluarkan asap

Saat ini mereka berdua berada di dalam hutan, bersandar pada sebuah pohon yang besar nan rimbun yang memungkinkan mereka untuk tidak terlihat di pandangan naga merah yang kini tengah terbang bebas di angkasa

Naruto menyandarkan kepalanya pada batang pohon yang besar itu, rasa kantuknya tidak bisa untuk diajak kompromi lagi, rasa lelah yang menimpanya membuatnya kini hampir setengah tidur

Disampingnya duduklah seorang gadis kecil bersurai panjang berwarna hitam, kulit putih bersih tanpa cacat dengan wajah cantik juga iris mata yang senada sebagai penghiasnya. Dia adalah Ophis, gadis kecil yang tidak lain adalah Ouroboros Dragon, sesosok Naga yang katanya terkuat dan bahkan disegani oleh ketiga Fraksi, walau kenyataannya kini sosoknya hanya terlihat seperti gadis mungil yang lugu

Hal-hal yang baru saja ia lalui bersama Naruto membuat Ophis tersenyum simpul, ia tahu kalau pertemuannya dengan remaja pirang yang kini berada disebelahnya memang bisa cukup dikatakan memalukan, bagaimana tidak? Saat pertama kali bertemu, mereka sudah mempermasalahkan nama mereka sendiri

Bukankah itu cukup memalukan untuk pertemuan awal mereka berdua?

Tangan mungilnya menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang kini berdegup lebih cepat dari biasanya, senyumnya kembali melebar

Ini aneh, ia memang sudah lama tidak merasakan sensasi seperti ini, sensasi dimana ia merasa sangat senang saat ada seseorang yang mau berada disampingnya mengingat ia sudah sangat lama sendirian

Ia rindu dengan perasaan seperti ini, sebuah perasaan bahagia yang hinggap dihatinya saat ada orang yang berhasil membuatnya menggambarkan banyak ekspresi diwajah datarnya, sebuah perasaan yang sangat ia rindukan hingga ia lupa kapan terakhir kali ia merasa seperti ini

Perasaan ini tidak terasa asing, karena ia dulu, dulu sekali ia pernah merasakan hal seperti ini...

*Pluk!*

Terkejut saat sesuatu menyentuh bahunya, gadis kecil itu menolehkan wajahnya kesamping, senyumnya kembali muncul diwajahnya saat Naruto yang tengah tertidur dengan kepala yang bersandar dibahunya sedikit terlihat lucu dimatanya, tangan mungilnya mencoba menggapai surai pirang Naruto yang agak tajam

"Uzuki..."

Ophis membawa kepala Naruto ke pangkuannya, perlahan tapi pasti agar sang pemilik surai pirang tak terbangun karenanya, membiarkan Naruto yang tertidur dengan kepala yang bersandar di pangkuannya

Matanya terpejam, senyum mengembang diwajahnya...

"Dasar Bodoh, mana mungkin Merah Bodoh itu bisa membunuhku, sekuat apapun ia tak akan bisa membunuh sesosok sepertiku"

"Meskipun begitu, Aku berterima kasih padamu, Uzuki..."

::

::

::

::

:: [New Line!] ::

::

::

::

::

- [At Kuoh City] [Time Skip]

Tak terasa hari sudah berganti menjadi pagi, langit gelap khas kelamnya malam telah berganti dengan senyum pagi yang cerah, matahari pun kini sudah memunculkan wujudnya memberikan kebahagiaan pada sang bumi

"Huaaahh~..."

Ia menguap pelan, tangan kanannya pun menjadi korban dari bau mulutnya sendiri

Disebuah apartemen di kota Kuoh yang tak jauh dari Kuoh Academy, sebuah sekolah umum yang didominasi oleh kalangan perempuan. Terlihat seorang remaja berambut perak kini tengah menguap ria, berdiri didepan pintu kamar mandi menunggu giliran dari orang yang berada didalam kamar mandi itu

"Rize, cepetan dong!"

"Tunggu sebentar!"

Tak menunggu lama tepat setelah Vali melakukan acara garuk-garuk kepala gak jelas, pintu kamar mandi itu terbuka, menampilkan sesosok gadis bersurai ungu dengan tubuh yang dibalut dengan selembar handuk berwarnaputih polos, surai ungunya yang tergerai bebas serta kulit putih bersih yang masih basah itu membuat Vali susah untuk menelan ludahnya sendiri

*Glek!*

Jadi, Inikah pesona wanita setelah mereka selesai mandi? Mungkin Vali perlu mempercayai hal seperti itu saat ini

"Va-Vali-kun!?"

Gadis bernama Rize itu memanggil nama pemuda yang berada didepannya dengan sedikit terbata, wajahnya kini menjadi merah padam, yah mau bagaimana lagi? Saat ini tubuhnya hanya dibalut dengan handuk, dan Vali saat ini tengah berada didepannya dengan wajah yang berpaling darinya

"C-Cepatlah, aku mau masuk kedalam!"

Vali masih berpaling dari Rize walaupun matanya sesekali mengintip belahan dada Rize dari ekor matanya. Ia tidak mesum! Tapi anggap saja ini sebuah kekuatan alam yang membuat matanya tak sanggup untuk tidak melihatnya

"J-Jangan melihatku begitu!"

Oke! Vali sekarang merasa agak malu saat Rize mengetahui matanya yang secara sembunyi-sembunyi tengah menatap belahan dadanya yang menggoda. Tatapan mata Vali langsung mengarah kearah lain saat Rize kini berjalan meninggalkannya hendak pergi kekamarnya

Sial! Dia terlihat seperti orang mesum tadi!

Pemuda bersurai perak itu lalu berjalan memasuki kamar mandi, namun belum sempat untuk mencuci muka di wastafel, matanya tertuju pada selembar kain berbentuk dan berwarna pink yang agak Feminim, tapi tunggu dulu! Apa ini? Celana dalam?

"Oii Rize!"

Rize yang belum pergi terlalu jauh dari Vali terpaksa berhenti saat pemuda itu memanggil namanya. Ia menghela nafas lalu berbalik sambil menatap Vali yang kini berjalan kearahnya, apa lagi yang diinginkan Vali kali ini?

"Ada apa, Vali-kun?"

"Celana dalammu ketinggalan"

"..."

Dengan bodohnya Vali langsung menunjukkan selembar kain yang disebut Celana dalam itu didepan Rize, hal itu membuat wajah Rize memanas, ia tahu kalau Vali itu terkadang agak bego seperti Naruto, tapi apa ini tidak kelewatan?

"Kyaa~! Dasar Hentai!"

*Plaakk!*

Dan ya! Pagi indah yang Vali harapkan sudah hancur saat pipinya menjadi sasaran empuk tamparan Rize

Niatnya sih memang bagus mengembalikan benda berharga milik Rize, tapi apa balasannya seperti ini hanya untuk sebuah kebaikan? Mengembalikan celana dalam itu sebuah Kebaikan bukan?

::

::

::

::

"Dimana Kurumi, Rize?"

Pertanyaan itu langsung dilontarkan kepada Rize yang kini tengah duduk di meja makan menikmati sarapan paginya, sedangkan sang penanya terus mengunyah makanannnya seakan tak peduli hal yang bahkan baru saja ia tanyakan

"Dia akan segera datang!"

*Ckleek...*

Dan benar apa yang barusan Rize ucapkan, salah satu pintu kamar diapartemen itu terbuka, menampilkan sesosok gadis cantik dengan balutan seragam sekolah sebagai tambahan akan kecantikannya, rambutnya yang hitam ia ikat menjadi dua bagian dan dibiarkan tergerai melewati kedua bahunya, iris matanya yang berbeda itu memang sedikit terlihat unik, namun itu menambah kesan imut yang menempel padanya

"Kurumi-chan! ayo sarapan bareng!"

Gadis dengan nama Kurumi itu tersenyum simpul saat Rize memanggilnya, perlahan kakinya melangkah maju, menarik kursi meja makan itu lalu mendudukinya, senyum kembali mengembang diwajahnya saat beberapa makanan tersaji diatas meja makan itu

"Makanlah yang banyak, kali ini aku masak agak banyak!"

Ujar Rize sambil memperhatikan beberapa makanan yang ia masak, memang terlihat cukup banyak sih, bahkan kini Vali tengah memakan sepotong Tempura dengan lahapnya, sepertinya pemuda itu tengah kelaparan?

"Rize-chan, Vali, Boleh aku bertanya sesuatu pada kalian?"

Iris mata Rize menatap wajah Kurumi yang kini tengah menatap datar makanan yang berada dimeja makan, Vali yang tengah mengunyah makanan pun terpaksa menelannya dan berhenti sejenak

"Apa yang ingin kau tanyakan, Kurumi?"

"Dimana Naruto?"

"..."

Vali dan Rize sebelumnya sudah menduga hal ini sejak semalam, tapi entah kenapa walau mereka sudah mempersiapkan diri saat Kurumi menanyakan hal itu, tetap saja mereka merasa ada yang salah pada diri mereka sendiri

Ingin rasanya mereka membohongi Kurumi untuk kebaikannya sendiri, tapi apa memang sebaiknya demikian?

"Kenapa kalian diam?"

"Eh?"

Rize tersadar dari lamunannya, matanya menatap Kurumi yang kini tengah menatapnya dengan penasaran, gadis yang memiliki iris mata yang berbeda itu merasa ada yang disembunyikan mereka darinya

Rize menoleh kearah Vali, ia menjadi tambah bingung saat Vali kini tengah menundukkan wajahnya dengan mata terpejam seolah tak mempunyai beban apapun, hingga akhirnya pemuda itu bersuara

"Naruto sudah-"

"Naruto sudah berangkat dari tadi!"

Terkejut? Mungkin itulah yang dirasakan Vali saat ucapannya dipotong Rize, matanya agak membulat kaget saat Rize kini tengah berbohong dengan wajah yang seolah tak menampakkan sebuah kebohongan apapun, Serius? Gadis itu berani Berbohong?

Lagipula apa memang sebaiknya mereka perlu berbohong demi Kurumi?

"Rize..."

"Benarkan, Vali-kun?"

Vali jadi tambah bingung, apa memang sebaiknya begini? Rize saat ini tengah tersenyum padanya seolah memberitahu bahwa ia harus mengikuti alur yang dibuat oleh Rize, apa memang sebaiknya ia perlu mengikuti apa yang diinginkan Rize?

"Y-Ya..."

Satu suku kata itu keluar secara polos dari bibir Vali, hal itu membuat Rize ikut tersenyum walau sedikit paksaan, sedangkan Kurumi hanya mengangguk walau ia tak tahu kalau ia sebenarnya tengah dibohongi

Pemuda berambut perak itu tahu kalau ini salah, mereka tak bisa menunda-nunda kebenaran ini, kebenaran bahwa Naruto telah pergi entah kemana, dan lebih dari itu, mereka menyembunyikan kebenaran itu pada seorang gadis yang seharusnya mengetahui lebih dahulu tentang hal ini

Ia tahu apa resikonya, tapi bukankah itu akan terasa lebih cepat diselesaikan daripada mereka harus menunda kebenaran itu dengan cara berbohong?

Sialan! Dia bingung untuk berpikir keras sekarang!

"Begitukah? Dasar Naruto, apa dia sesibuk itu hingga ia tak sempat memberi salam pagi padaku?"

"Dia memang kadang begitu, Kurumi..."

'Dasar Rize! Aku tak biasa untuk berbohong dengan cara seperti ini!'

::

::

::

::

- [Unknown Dimension]

"Umm..."

Membuka mulutnya, sedikit suara parau yang ia keluarkan, kelopak matanya masih nampak malu untuk menampilkan biru Saphirenya yang indah

Disebuah pulau yang entah berada dimana, seorang remaja mulai tersadar dari tidur nyenyaknya, mengerjapkan matanya beberapa kali saat seberkas cahaya mulai memasuki matanya, mencoba beradaptasi?

Buram, dan itu terlihat bersinar dan indah, itu bulan bukan?

"Huh? Ophis?"

Tersadar dimana ia kini tengah berbaring, pemuda berambut pirang itu perlahan bangkit dari pangkuan gadis yang menjadi bantalan kepalanya untuk tidur, wajahnya sedikit memerah saat menyadari dia tidur di pangkuan gadis yang kini tengah tertidur pulas dengan bersandar dibatang pohon yang besar itu

Serius? Baru kali ini ia tidur dipangkuan seorang gadis, ini terasa sedikit memalukan!

Kepalanya menoleh kesamping, menatap sang gadis yang tengah tertidur pulas dengan bersandar dibatang pohon yang besar itu, rambut hitamnya tergerai bebas dengan indah, tubuh mungil dan wajahnya yang polos serta mulutnya yang agak terbuka membuat pemuda itu-Naruto menelan ludahnya dengan kasar

Jadi, inikah pesona dari seorang gadis Loli?

*Glek!*

'Aku bukan Lolicon!' menampar kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya sendiri, oke! Dia mencoba menyadarkan hatinya yang kini tengah digerogoti dengan penyakit bernama Lolicon

Naruto lalu bersandar dibatang pohon yang besar itu, kepalanya mengadah keatas dengan iris mata yang bersinar akan cahaya sang rembulan, hatinya merasa sedikit nyaman saat menatap bintang-bintang yang bersinar dengan indahnya

Tapi tunggu dulu? Bukankah ada yang tidak beres?

"Kemana Akairyuu itu?"

Pertanyaan itu keluar secara sengaja dari bibir Naruto, memikirkan bagaimana naga sebesar itu bisa hilang hanya dalam waktu beberapa jam saja. Itu memang terdengar aneh, namun hanya satu alasan yang membuat Naruto paham akan hal itu

"Dia bisa membuat celah dimensi bukan?"

Ucapnya monolog, senyum simpul tergambar jelas diwajahnya yang tampan, kembali tubuhnya melemas saat angin semilir mulai menerpa memainkan rambut pirangnya

Pemuda itu berharap, jika suatu saat nanti ia bisa membuat celah dimensi walaupun itu terdengar mustahil, ia ingin kembali ke kota Kuoh dan bertemu dengan ketiga temannya, sedikit bersenang-senang lalu berpamitan untuk pulang ke Dunianya?

Alur hidupnya memang rumit, hatinya merasa tak ingin berpisah dengan Vali, Rize dan juga Kurumi. Namun meskipun begitu, alur yang telah berjalan ini suatu saat nanti akan memaksanya untuk berpisah dengan mereka bertiga selamanya

Berpisah Heh? Bahkan kini ia sudah berpisah dengan mereka bertiga dan terdampar di pulau yang entah berada dimana

"Uzuki..."

Menoleh kesamping, Naruto kembali tersenyum saat Ophis-gadis kecil yang duduk disampingnya telah tersadar dari tidur nyenyaknya, iris mata hitamnya masih terlihat sayu, suaranya terdengar sedikit parau khas seseorang yang baru saja bangun dari tidur

"Ada apa?"

"Aku lapar, jadi, buatkan aku makanan!"

"..."

Perempatan muncul di pelipis Naruto, ayolah! Ia tahu kalau gadis disampingnya ini terlihat cukup manis saat baru bangun tidur, tapi ucapannya yang seolah sedang memerintah itu membuatnya merasa sedikit kesal

"Aku juga lapar Nyet!"

"Ya kalau begitu, sana cari benda yang bisa dimakan!"

Oke! Ini sudah kesekian kalinya ia merasa kesal dengan gadis kecil yang cukup menjengkelkan ini

"Kenapa kau memerintahku seenaknya Hah?! Apa kau tuanku?!"

"Ini rumahku Baka! Jadi terserah padaku!"

"Aku tinggal disini sekarang, jadi pulau ini juga sekarang rumahku!"

"Ahh! Kau menyebalkan Uzuki!"

"Kau itu yang menyebalkan!"

Dan sekarang mereka berdebat dengan aura yang cukup mengerikan, sungguh hubungan yang sangat akrab!

::

::

::

::

"Memanggang ikan di malam hari seperti ini kurasa cukup menyenangkan juga, bukankah begitu Uzuki?"

"Bodo amat~!"

"Mou, Kenapa kau begitu sih, Uzuki?"

Saat ini mereka berdua, Naruto dan Ophis tengah memanggang ikan pada api unggun yang dibuat oleh Naruto. Sebelumnya berterima kasihlah pada Bunshin Naruto yang sudah rela untuk menangkap ikan di laut atas perintah Naruto

Tepat beberapa menit setelah mereka selesai memanggang ikan, mereka berdua langsung saja memakannya, Ophis terlihat memakan ikannya dengan anggun, sedangkan Naruto kini memakan ikan panggangannya dengan lahap

"Uzuki, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

Seulas ucapan dengan nada maniskeluar dari mulut Ophis, tangannya membuang ikan panggangannya yang kini hanya tersisa tulangnya saja, ia menjadi Sweatdrop saat menatap Naruto yang kini tengah menjilati tulang ikan miliknya sendiri

Dasar! Si pirang itu terlihat seperti orang yang sangat kelaparan!

"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"

Balas Naruto setelah membuang tulang dari ikan panggangnya, ia kini duduk agak mendekat dengan api unggun yang berada didepannya, mencoba menghangatkan tubuh dari angin malam yang dingin menerpa tubuhnya

"Sebelum kau datang disini, kau berasal darimana?"

Naruto tersenyum simpul, pertanyaan Ophis membuatnya teringat akan Kokabiel yang membawanya pada pulau kecil yang entah ada dimana ini, walau kini sang Datenshi jahat itu telah mati ditangannya

"Sebelum aku terdampar disini, aku berasal dari kota yang bernama Kuoh"

"Kuoh?"

Gumam Ophis membuat Naruto menautkan sebelah alisnya, apa gadis kecil itu tahu tentang Kuoh?

"Ada apa Ophis? Apa kau tahu tentang Kuoh?"

"Tentu, aku pernah kesana, tapi saat mereka tahu keberadaanku, mereka langsung terkejut dan tidak ingin mencari masalah denganku, itu membuatku seolah merasa dibenci sekaligus ditakuti hanya karena keberadaanku-"

"-Dasar! Padahal aku tak mengganggu mereka, karena itulah aku pergi dan tiba disini"

Naruto agak terkejut saat mendengar penjelasan Ophis, jadi sebelumnya Ophis pernah datang ke Kuoh? Dan juga, siapa yang dimaksud Mereka oleh Ophis?

"Mereka?"

"Mereka hanyalah sekumpulan iblis dan para Tenshi juga Tenshi bersayap hitam itu"

Ini semakin membuat Naruto bingung, kenapa mereka menjauhi Ophis dan tidak ingin mencari masalah dengannya?, lebih dari itu, kenapa mereka takut terhadap Ophis?

"Ophis, jika boleh tahu, sebenarnya siapa kau?"

"Aku? Tentu saja aku adalah Ophis, sang naga tak terbatas, Ouroboros Dragon"

Dan percakapan itupun berakhir dengan Naruto yang terkejut dengan pernyataan Ophis yang mengaku sebagai naga yang berjulukan Ouroboros Dragon

::

::

::

::

- [At Kuoh Academy] [Sport Field]

"Kyaa~! Lihat pemuda yang tengah membawa bola itu, bukankah ia terlihat tampan?"

"Dia terlihat tampan sekali~! Lain kali aku akan meminta nomor teleponnya!"

"yang semangat, Ikemen-kun!"

Yang barusan adalah teriakan para gadis gaje yang kini sedang meneriaki seorang pemuda bersurai perak yang tengah membawa bola, sepertinya dia memainkan sepak bola?

Saat ini kelas Vali dan Rize tengah melaksanakan pelajaran olahraga, dan kelas lain pun sama halnya melaksanakan pelajaran olahraga, hal itu membuat sang Sensei yang mengajar menyuruh para siswa laki-laki untuk bertanding bola antar kelas, alih-alih menilai dan mengamati fisik mereka

Di sisi lain, seorang gadis yang tengah duduk di pinggir lapangan terlihat sedikit suram, surai ungunya agak menaik keudara dengan aura kecemburuan yang lumayan tinggi saat sang pujaan tengah digoda oleh gadis lain

"Vali-kun tidak akan menjadi milik kalian~, karena jika itu terjadi, aku akan menghantui kalian~!"

Yah, sifat Yandere Rize mulai keluar, aura membunuh mulai menguar dari tubuhnya membuat siswi yang berada disebelahnya sedikit bergeser agak takut dengan aura yang Rize keluarkan

"Ri-Rize-chan?"

Siswi disebelah Rize mulai bersuara, walau agak takut dengan aura yang dikeluarkan Rize, gadis itu mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada gadis bersurai ungu yang tengah menatap tajam para gadis yang menggoda Vali tadi

"Hmm? Nani~?"

"Apa kau berpacaran dengan Vali-san?"

"Tentu~! Dia hanya milikku dan aku tidak akan pernah membaginya dengan orang lain~!"

Oke! Sekarang Rize sedikit terlihat menyeramkan membuat Vali yang tengah membawa bola menelan ludahnya dengan paksa saat merasakan aura negatif yang mengarah padanya

*Glek!*

'Sial! Perasaanku agak kurang enak?!" batin Vali sambil berhenti sejenak, mengelap keringat didahinya dengan lengan kanannya tanpa menyadari sang lawan kini berlari kearahnya mencoba merebut bola dikakinya

"Vali-san!"

"Eh?"

Tersadar saat lawan mainnya kini mencoba merebut bola darinya, Vali langsung menarik bola kebelakang dengan kakinya, dengan sedikit Dribble yang ia mainkan, Vali pun berhasil melewati lawannya yang terkecoh dengan permainannya

Vali terus berlari membawa bolanya, sedikit melirik kebelakang saat dua orang lawannya kini mengejarnya dari belakang, senyum simpul terpampang diwajahnya saat didepannya kini berdiri pemain tengah timlawannya yang mencoba menghadangnya

"Vali!"

Menoleh ke sisi kanan lapangan, Vali langsung menendang bolanya mencoba mengoper kepada teman setimnya yang kini tengah berlari kedepan menggapai operan bola dari Vali. Operan yang bagus Vali!

*Drap! Drap! Drap!*

Sementara teman setimnya membawa bola melewati sisi kanan lapangan yang agak kosong tanpa penjagaan, Vali langsung berlari kedepan mencoba menerobos pertahanan tim lawan, sesekali ia melakukan gerakan tipuan saat lawannya mencoba menghadang pergerakannya

Hingga Vali berada didepan kotak pinalty, senyum terulas diwajahnya saat kini tak ada lawan timnya yang mencoba menjaganya, sedangkan para Back tim lawan tengah menghadang teman setim Vali yang lain

"Kakeru!"

Memanggil nama sang pembawa bola mencoba memberi isyarat, Vali langsung mengambil posisi yang pas saat teman setimnya itu mencoba memberi umpan yang melambung kearahnya

"Operan yang bagus, Kakeru!"

Berdiri membelakangi gawang lawan, Vali langsung melompat salto kebelakang saat bola yang diberikan oleh Kakeru tepat berada di kaki kanannya, dengan tenaga yang lumayan kuat, Vali langsung menendang bola itu dengan cepat

*Swuuuussh!*

Dan ya! Bola itu melesat cepat kearah gawang hingga sang Keeper tak dapat menghalaunya membuat bola tadi masuk kedalam gawang dengan leluasa, hal itupun berakhir dengan tim Vali yang bersorak gembira

"Kyaaa~! Sang pujaanku menang!"

"Kau benar! Ikemen-kun itu terlihat sangat keren dan tampan!"

"Kyaa~! Aku ingin jadi pacarnya!"

Oke! Teriakan para gadis gaje tadi membuat seorang gadis yang duduk dipinggir lapangan itu dipenuhi dengan aura hitam, rambut ungunya kembali menaik keudara dengan senyum Yandere yang terpampang diwajahnya, hal itu membuat siswi disebelahnya langsung menjauhinya

"Aku tidak akan menyerahkan Vali-kun pada kalian~! Karena jika begitu, aku akan membunuh kalian~!"

Vali jadi merinding sendiri saat aura Rize yang agak menakutkan mulai terasa dikulitnya, menoleh kearah pinggir lapangan, wajahnya menjadi Kicut saat menatap Rize yang kini tersenyum yandere kearah para gadis yang bersorak tadi

'Aku tak menyangka Rize terkadang bisa menjadi menyeramkan seperti itu'

::

::

::

::

- [Unknown Dimension]

"Apa kau tidak percaya padaku, Uzuki?!"

"Tentu saja aku tak percaya! Lagipula sejak kapan seekor naga bisa berubah menjadi gadis Loli sepertimu!"

*Twitch!*

"A-apa katamu?!"

Perempatan muncul didahi gadis berambut hitam itu, iris mata hitamnya menajam kearah sang lawan bicara yang kini berada didepannya

Oke! Keadaannya saat ini mereka berdua tengah berdebat dengan sengit, Ophis yang masih ngotot mengatakan bahwa dia adalah Ouroboros Dragon, sedangkan Naruto yang tak percaya apa yang dikatakan Ophis dan lebih memilih berpikir dengan logis

Lagipula benar apa yang dikatakan Naruto, bagaimana bisa naga berubah menjadi gadis mungil nan cantik seperti Ophis? Bukankah itu tidak masuk akal?

"Gadis Loli, memangnya kenapa hah?!"

"Jangan sebut aku Loli!"

"Kenapa begitu?! Lihat saja dirimu! Rambut panjang hitam yang bagus, wajah manis dengan tubuh mungilmu itu seperti gadis Loli yang sering kulihat di beberapa Manga!, dan juga..."

Mata Naruto tertuju pada dada Ophis...

Menyadari apa yang ditatap oleh Naruto, Ophis langsung menutup kedua dadanya dengan kedua lengannya. Yah walaupun ia hampir terpancing dengan ucapan manis Naruto diawal tadi, tapi itu tetap saja membuktikan bahwa Naruto itu agak mesum!

"Ja-jangan menatapku seperti itu Baka!"

"Ah gomen, tapi menurutku itu terlalu kecil..."

Dasar Naruto! Ia berkata dengan terlalu jujur, tapi apa itu tidak membuat Ophis sedikit merasa kesal?

"Mou, Kau menyebalkan!"

Rasa kekesalannya memuncak, membuat Ophis yang tak tahan dengan perlakuan Naruto memilih pergi meninggalkan Naruto, sedangkan Naruto hanya bisa Sweatdrop menatap Ophis yang kini memilih untuk menyerah mengingat gadis kecil itu sedikit keras kepala

Tapi tunggu dulu!

Kenapa sekarang keadaannya serasa Naruto yang disalahkan? Bukankah ini ulahnya Ophis sendiri yang memilih ngotot kepada Naruto dan secara tak langsung mengajak Naruto untuk berdebat panjang?

"Oii Ophis! Jangan tinggalkan aku!"

'Arrrgg! Entah kenapa aku merasa seperti Heroine yang ditinggalkan kekasihnya dalam manga Shoujo?!' batin Naruto nista

Naruto terus berjalan mengikuti Ophis sambil meneriaki nama gadis itu, sedangkan Ophis lebih memilih mengabaikannya dan terus meninggalkan Naruto, hingga pada akhirnya...

*Swuuuusssshhh!*

Suara yang tengah bertabrakan dengan angin itu terdengar jelas ditelinga Naruto, membuat pemuda pirang itu menoleh keatas, agak terkejut saat melihat bola api yang kini tengah melesat kebawah, lebih dari itu, bola api itu kini mengarah ke tempat Ophis berada

"Ophis!"

"Apa yang-"

*Grep!*

Terkejut? Mungkin itulah yang dirasakan oleh Ophis saat kini tubuhnya berada dalam dekapan Naruto, masih agak kesal sih dengan Naruto tapi entah kenapa ia merasa cukup nyaman dalam dekapan Naruto

*Blaaaaarrr!*

Mendarat ditanah dengan sempurna, Naruto lalu melepaskan Ophis dari dekapannya, kepalanya menoleh kebelakang, matanya menajam saat kini Kobaran api terlihat jelas didepan matanya hasil dari bola api yang menghantam tanah tadi

"Uzuki, lihat itu! Great Red datang lagi!"

"Huh?"

Mengabaikan Ophis yang berseru senang, Naruto lalu menoleh keatas tepat kearah yang Ophis tunjuk, matanya menajam saat kini sebuah celah dimensi yang besar tengah mengeluarkan kepala seekor naga merah raksasa dengan mulut yang siap untuk menembakkan sebuah bola api berukuran besar

"Aku masih bingung dengan si Merah Bodoh itu, kenapa dia suka sekali memberi salam padaku?"

"Sudah kubilang itu bukan salam bego! Dia mencoba membunuh kita!"

::

::

::

::

::

::

::

::

:: [To Be Continued...] ::

[A/N] :: Domo! Masih kangen dengan Author yang satu ini?

Seperti biasanya saya meminta maaf kepada Reader semua karena telah telat untuk mengupdate Fic yang satu ini

Akhir-akhir ini saya keseringan main game Harvest Moon di konsol PSP saya, yah rencananya sih pengen nyelesain tuh game lalu nikahin Player Characternya dengan Chara yang saya suka, yang jelas calonnya Cute dan Moe :v

Dan lagi suka-sukanya mengoleksi OP maupun ED Anime yang enak didengar, sekedar rekomendasi, ED Bungou Stray Dogs lumayan enak loh untuk didengar, yang judulnya Namae wo Yobu yo dari Luck Life

Dan juga lagi ngikutin beberapa Manga Romcom yang bagus sekedar buat Referensi beberapa Fic Oneshoot yang belum jadi. Intinya sih lagi banyak hal yang membuat waktu saya sedikit untuk mengupdate Fic kesayangan ini~!

Ngomong-ngomong, bagaimana nih Puasanya? Lancar? Atau udah ada yang batal? Yang penting semoga puasa kita diterima oleh Allah swt [Amiin!]

Membahas Chapter kali ini, tolong jangan marah pada saya karena Chapter kali ini cukup membosankan. Belakangan gaya penulisan saya jadi berubah, jika kalian yang sudah mengikuti Fic ini dari awal pasti sudah menyadarinya terlebih dahulu bukan?

Kemarin banyak yang nanya Naruto berada di dimensi mana? Jawabannya Naruto tidak berada di dimensi fandom manapun, ini dimensi asli karangan saya, jadi kalo Reader Kurang suka, mungkin kedepannya bisa sedikit saya benahi agar Fic ini terlihat menarik untuk dibaca

Berbicara tentang Ophis, Serius deh! Saya suka sifat dia di chapter ini, saya sengaja membuat sifatnya seperti ini karena saya sendiri agak bosan melihat Fic yang membuat sifat Ophis yang kelewat serius, saya cuma mencoba membuat Ophis sedikit terlihat lebih manis dari biasanya dan saya rasa sekarang sudah terwujudkan. mungkin ada yang berpikiran sama dengan saya?

Dan soal Scene Sport diatas, anggap aja itu sebuah Keajaiban yang membuat saya berani menuliskan sebuah Scene yang keluar dari Genre Fic ini

Dan tentang Kurumi, dia belum tahu apa-apa tentang Naruto, dia Cuma jadi korban dari kebohongan Vali dengan Rize :v ,tapi yang jelas kedepannya akan ada cerita menarik yang berkaitan dengan mereka bertiga

Lalu apa maksud Great Red menyerang Naruto dengan Ophis? Itu masih misteri...

Dan pertanyaan tentang Naruto bakal balik lagi ke kota Kuoh apa enggak? Mungkin Chapter depan atau Chapter depannya lagi bisa membalas pertanyaan kalian!

Balasan Review...

[Saputraluc000] :: Ciee yang nungguin lama~ pertanyaanmu udah dijelaskan diatas, dan Happy Reading!

[Sebelas12] :: yup, tebakanmu benar! Tapi sayang kamu gak dapet hadiah dari saya! :p

[Yellow Flash115] :: Great Red gak ngembaliin cincinnya kok, malahan dia nyerang Naruto seenak jidatnya :v

Soal Naruto reinkarnasi Ashura atau bukan? saya sarankan kamu membaca ulang Fic ini deh, lagipula saya gak pernah ngomong kalau Naruto itu reinkarnasi Ashura atau bukan

Dan pertanyaanmu yang ketiga, akan terjawab dichapter depan!

[Ayub L Lawliet] :: Ciee yang kangen :v :v btw pertanyaanmu udah dijelasin diatas kok!

[Sasha] :: soal itu, mungkin akan terealisasikan di chapter depan, mengingat saat ini Kurumi tengah dibohongi oleh Rize dengan Vali

[Mr. Uzumaki 22] :: kamu jangan salahkan saya, tapi salahkan otak saya yang membuat alur ceritanya jadi begitu :v :v

Pertanyaanmu udah terjawab diatas, naga itu beneran Great Red dan Ophis pun ikut ambil peran dalam Chapter kali ini sebagai teman Naruto, apa kamu suka chapter kali ini?

Kayaknya enggak deh, pengendali waktu bukan berarti dia bisa pindah dimensi sesukanya, lagipula setahu saya [CMIIW] Kurumi itu dalam Canonnnya bertujuan untuk kembali ke masa lalu untuk mengalahkan Spirit yang terkuat

Naruto Kurumi jadian? Kayaknya mereka masih lama deh mengingat mereka terpisah dengan jarak dan waktu #Njirr :v

[Ziboyu159] :: Pertanyaanmu terjawab di chapter ini!

[DAMARWULAN] :: Kalo begitu sih, alurnya bakalan jadi berantakan, maaf kalo gak bisa direalisasikan, Gomennasai!

[Guest] :: Sankyuu atas pujiannya, pujianmu membuat Mood saya menjadi lebih baik!

[Berengsekabadi] :: Walah? Jauh amat sampe ke Universe Dragon Ball :v

[Andy Odank] :: Semua pertanyaanmu terjawab di Chapter ini!

[Hikarinoyami13] :: Gomen kalo chapter kemarin kurang greget, mungkin Chapter kali ini bisa membuatmu sedikit merasa terhibur!

[Arielchan165] :: Penjelasannya udah ada diatas kok! Naruto gak bakalan pergi ke pulau kura-kura :v :v

[afadfath03] :: Yup! tebakanmu benar!

[TsukiNoCandra] :: Aah~ saya perlu berpikir dua kali untuk membalas reviewmu, Gomen kalo saya terlihat seperti kekanak-kanakan, saya berusaha menjadi dewasa walaupun umur saya yang belum sampai 20 tahunan

Dan maaf sebelumnya, beberapa review bahkan kritik memang saya resapi, bahkan beberapa saran saya jalankan dengan baik, saya gak pernah melempar balik review yang baik-baik, cobalah untuk diingat dengan baik...

Lagipula siapa yang tahan kalo diflame dengan ejekan yang sangat berlebihan? Suka Fap-fap? Jelek Karatan? Ngenes? Muka aspal? Author Tolol? Apa kamu pikir hinaanmu itu gak berlebihan?

Saya orangnya lumayan sabar kok diumur saya yang masih muda, kamu inget reviewmu di Chapter 21? Saya membalas review kasarmu dengan bahasa yang baik, tapi apa? Kamu malah menganggap saya yang enggak-enggak. Dan saat saya sedikit melawan saat membalas reviewmu kemarin, kamu malah terbawa perasaan. Saya jadi bingung mau merespon bagaimana?

Saya disini tidak ingin mencari masalah dengan sesama Author, sesama Author kita Cuma berniat untuk menghibur para Reader, bukan untuk bertengkar dengan saling melempar Flame

Oh~ Maaf kalo balasannya cukup panjang, saya Cuma mencoba membalas reviewmu dengan baik-baik, bukan untuk melempar balik

[wirayudaj] :: Sankyuu atas kesetiaanmu, senang rasanya ada yang selalu menunggu kelanjutan Fic ini! Pertanyaanmu akan terjawab kok dichapter depan! Jadi jangan bosen nungguin kelanjutannya ya!

[Utsugi Renka] :: Biasalah~ banyak kerjaan, jadinya waktu buat nulis jadi semakin sedikit, btw semoga kamu terhibur dengan Chapter kali ini!

[DandiDandi] :: Yup! Naruto terdampar di dimensi yang berbeda, untuk lebih jelasnya kamu bisa baca chapter ini!

[Namikaze Sobirin] :: kalau dipikir-pikir sih iya juga haha..

Tebakanmu benar sobat! Tapi sayang kamu gak dapet hadiah dari saya! :v

Pengennya sih begitu, tapi saya harus berpikir dulu untuk mencari sebab-akibatnya, kan aneh kalo Rias nyesel sampe uring-uringan tanpa ada alasan yang jelas?

Disini Naruto gak punya niat untuk mendamaikan dimensi DxD kok, dia Cuma bertujuan untuk menjaga keluarganya dan kembali pulang kerumahnya, Cuma itu doang [Tapi sayang gak kesampaian :v]

[Sylvathein] :: Hehe~ saya gak nyangka ada yang senang dengan salah satu humor itu, saya juga ketawa sendiri pas ngebaca ulang sebelum dipublish

Untuk Fic MOL masih sekitar 2k lagi, yang sabar yaa nungguinnya~!

[Linux9] :: Maaf kalo kelamaan, bahkan Chapter inipun updatenya kelamaan :v

Soal Lemon, itu Cuma sekedar hiburan aja sih walaupun saya tunda, lagipula saya gak bisa buat Lemon asem kayak Shinn Kazumiya-sama dan Randz Kitsu-sama:v

[Malaikat Putih] :: Word chapter kemarin emang agak sedikit, tapi Chapter kali ini lumayan banyak kok, Sankyuu atas Supportnya, makasih banget loh~!

[The Kings] :: Sankyuu atas kritiknya, lain kali akan saya pertimbangkan kekuatan Naruto soalnya saya gak terbiasa untuk memperdebatkan Chara yang kuat, dan Thx doanya, saya doakan kamu sehat selalu!

Dan untuk Review Lanjut, Up sebangsa dan senegaranya, ini udah diupdate!

Dan ya! Saya cukup merasa senang saat kali ini banyak yang mereview, agak terharu sih mengingat saat pertama kali mempublish Fic ini, saya bahkan gak dapet satu review pun saat itu

Mungkin sampai disini perjumpaan kita, salam dan semoga sehat selalu!

Jaa!

Dan satu lagi...

Selamat Menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan! [saya muslim kok!]

::

::

::

:: [Kurosaki Kitahara Has Been Logged Out!] ::

:: [Mind To Review?] ::