*Blaaarr!*
Kedua kaki itu terus saja melangkah, mencoba berlari menjauh dari masalah yang mengintai dirinya sejak tadi, peluh mulai keluar dari pelipisnya, wajahnya mengeras saat serangan kembali mengarah kearahnya
*Swuuuusshh!*
Mengumpulkan semua tenaganya pada pijakan kakinya, ia lalu melompat jauh dari tempat ia berdiri, dekapan pada gadis yang kini berada dipelukannya pun dipererat, khawatir gadis itu bisa jatuh dari dekapannya
*Blaaarr!*
"Tch!"
Mendecih kesal, pemuda bersurai pirang itu lalu mendarat sempurna pada suatu dahan pohon yang besar-cukup untuk menjadi pijakannya juga pijakan gadis mungil yang kini bersamanya itu
Menurunkan gadis yang ada dalam dekapannya, pemuda itu lalu berbalik. Menatap tajam sesosok yang tak lagi asing dimatanya, sesosok hewan mitologi yang dikatakan tidak ada, bahkan jika pun itu ada, itu hanyalah legenda biasa yang sudah menjadi pembicaraan banyak orang
"Apa maumu Akairyuu!"
Pemuda itu bersuara dengan lantang, jari telunjuknya menunjuk sesosok Naga merah raksasa yang kini terbang diudara dengan bebasnya, menunjuk naga itu tanpa gentar sedikitpun
"Lepaskan Ophis darimu, atau aku akan membunuhmu Manusia"
Naga merah itu kini berbicara, suara serak yang mungkin agak menyeramkan terdengar jelas ditelinga sang pemuda. Dingin, dingin dan sedikit menyeramkan!
Paham dengan apa yang dimaksud si naga merah raksasa itu, sang pemuda lalu menoleh kesamping, iris mata Blue-Saphire miliknya menatap sang gadis kecil yang kini menatapnya dengan tatapan bingung
Pemuda itu tersenyum, sepertinya ia memahami sesuatu setelah menatap iris mata hitam gadis kecil yang kini berada disampingnya itu...
"Tak akan! Aku tak akan mengembalikan Ophis padamu!"
"U-Uzuki!?"
Gadis kecil yang bernama Ophis itu kaget, menatap terkejut sang pemuda yang ia panggil Uzuki atau lebih tepatnya Uzumaki Naruto. Iris matanya membulat, sebelumnya tak ada yang pernah membelanya seperti ini
Ini aneh, hati kecil gadis itu sedikit mulai berdegup kencang daripada biasanya, menyentuh dadanya dengan tangan kanannya. Ada rasa senang saat seseorang kini membelanya walau itu tak berarti
Ophis kenal perasaan ini, ini tak asing baginya karena dulu sekali ia pernah merasakannya, namun pada akhirnya ia dikecewakan dan membuatnya lupa kapan perasaan semacam ini pernah terjadi padanya dulu
*Pluk!*
Gadis kecil itu memejamkan matanya saat sebuah tangan besar menyentuh dan mengelus lembut kepalanya. Kelopak matanya terbuka, matanya menangkap sebuah senyum hangat dari sosok pemuda yang ia panggil dengan sebutan Uzuki itu
"Tunggulah disini sebentar Loli, aku akan berhadapan dengan Akairyuu itu"
Ophis menggembungkan pipinya dengan imut, ia awalnya senang saat Naruto mengelus lembut kepalanya, namun pada akhirnya ia kesal saat si pirang menjengkelkan itu memanggilnya Loli
Ophis lalu menghela nafas lelah. Sebenarnya ini bisa saja tidak terjadi, namun Naruto terlalu keras kepala, pemuda pirang itu mengira bahwa Ophis tengah diincar oleh Great Red, karena itulah Naruto bersikeras untuk menjaganya
Namun padahal, Ophis tak ada masalah apapun dengan Great Red, dia hanyalah teman dari naga merah raksasa itu, walaupun mereka sesekali memberikan salam yang berlebih satu sama lain, Bola Api contohnya?
Jadi ini bisa disimpulkan oleh Ophis bahwa, Naruto hanya salah paham!
"Uzuki, sudahlah, lagipula untuk apa kau menyerang Merah bodoh itu? Kau hanya akan menjadi kutu kecil baginya"
"Bodo amat! Aku lelah menghindar terus, lagipula apa masalahnya terhadapku hingga naga sialan itu terus-terusan melempar bola api kearahku? Dan kau pikir itu apakah sebuah salam hangat padaku?
Oke! Mungkin sekarang Ophis harus menyerah dengan sifat keras kepala Naruto, dan berharap lebih pada Great Red agar bisa mencairkan kepalanya Naruto
"Red-chan! aku mendukungmu loh~!"
"Oii!"
Entah kenapa sekarang Naruto menjadi kesal, menoleh kearah Ophis dengan tatapan tajam, perempatan merah sudah bertengger dipelipisnya. Sementara Ophis hanya bisa tertawa pelan
Naruto tak mengerti, kenapa bisa-bisanya Ophis mendukung Great Red didepannya dengan cara begitu? jika Ophis memang mendukung Great Red, lalu untuk apa pembelaan bodoh yang ia lakukan terhadap gadis Loli yang ada disebelahnya itu?
"Uzuki, kau itu keras kepala, kau hanya tidak tahu keadaannya bagaimana"
"Huh? Kau bicara padaku? Sebaiknya kau lihat dirimu terlebih dahulu, siapa gadis yang keras kepala dan menyuruhku untuk mencari benda yang bisa dimakan?!"
Wajah Ophis menjadi merah padam, ia cemberut saat mengerti siapa yang dimaksud oleh Naruto, dan akhirnya ia memalingkan wajahnya kearah lain
"Uzuki no Baka!"
"Oii!"
Walau agak sedikit kesal, Naruto akhirnya menghela nafas. Naruto lalu membuat enam Bunshin disampingnya, kedua telapak tangannya pun ia arahkan ke masing-masing tiga Bunshin yang ada diantaranya
"Ophis, ini agak beresiko, jadi bolehkan kalau kau agak mundur sebentar?"
Pada awalnya Ophis tak mengerti apa yang dimaksud Naruto, namun tanpa sadar ia mundur beberapa langkah saat aura dikedua tangan Naruto mulai menguar dan sedikit terasa dikulit putih bersihnya
Aura yang kuat, namun sayang masih sedikit lemah, mungkin itulah yang ada dipikiran Ophis
Keenam Bunshin Naruto terus berusaha mengumpulkan Chakra pada kedua telapak tangan Naruto, terus dan terus hingga menghasilkan sebuah Bola Chakra yang berputar tanpa henti, para Bunshin pun tak berhenti sampai disitu, mereka terus saja mengumpulkan Chakra pada Bola Chakra yang ada ditelapak tangan Naruto hingga membuat Bola Chakra itu mulai berevolusi menjadi sebuah Shuriken berwarna putih yang terus berputar tanpa henti-hentinya
*Ziiiiingg!*
Ophis hanya terdiam, menatap takjub kedua benda berwarna putih yang terus berputar dikedua telapak tangan Naruto, ia tahu benda itu memiliki kekuatan penghancur yang kuat, itu terasa saat auranya yang menguar dengan hebat dan lihatlah, bahkan Naruto terlihat sedikit agak sulit menahan kedua benda putih yang terus berputar itu
"Sekarang giliranku Akairyuu!"
"Sebenarnya aku malas meladenimu Manusia, namun kupikir aku perlu meluruskan kesalah pahamanmu itu!"
Tersenyum simpul, Naruto lalu menambahkan Chakra pada pijakan kakinya, lalu melompat sekuat tenaga dibantu dengan keenam Bunshinnya yang membantunya untuk melompat lebih tinggi lalu menghilang meninggalkan asap putih
"Cukup menarik, akan kulihat seberapa kuat kau Manusia!"
"Tch!"
::
::
::
::
:: [New Line!] ::
::
::
:: [Disclaimer] ::
I Not Own Anything!
:
:: [Rating]::
T+ for Story and Language, but M biar aman![Bukan Tanpa Alasan]
:
:: [Genre] ::
Adventure, Supernatural, Romance, Hurt/Comfort[?]
:
:: [Warning]::
OOC, Alternate Universe, Typo[!], Miss-Typo, Crack, Semi-Canon, Mainstream[?], Bahasa tidak Baku, EYD yang berantakan, Word Sesuai Chapter, Diksi agak aneh, and More...
::
::
:: [Chapter #26] ::
- Fate -
::
::
::
::
*Ziiiiiinnngg~!"
Pemuda pirang itu masih berada diudara dengan bebasnya dengan kedua telapak tangan yang membawa masing-masing sebuah Shuriken berwarna putih yang terus berputar ditelapak tangannya, tatapannya menajam saat sesosok naga yang berada jauh didepannya hendak menyerangnya dengan sebuah Bola Api yang amat besar
"Tak akan kubiarkan-"
"Rasenshuriken!"
Pemuda pirang yang biasa dipanggil Naruto itu lalu melempar kedua Rasenshuriken yang berada ditelapak tangannya secara bergiliran kearah Great Red, begitu pula yang dilakukan oleh Great Red, naga merah raksasa itu lalu melepaskan Bola Api besar itu kearah Naruto
*Zraaaass!*
Diluar dugaan, Bola Api besar kepunyaan Great Red langsung terbelah menjadi dua bagian saat bertabrakan dengan salah satu Rasenshuriken milik Naruto, hal itu membuat Bola Api Great Red meledak diudara dengan kuat, sementara kedua Rasenshuriken Naruto terus melesat cepat kearah Great Red dengan suara yang nyaring
Disisi lain, Ophis hanya bisa menatap takjub ledakan Bola Api diudara itu. Gadis Loli itu tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa serangan Bola Api Great Red yang bisa dikatakan memiliki daya penghancur yang amat kuat itu bisa terbelah dua dengan benda putih milik Naruto
Ophis tersenyum simpul, sekelebat ingatannya bersama Great Red muncul dikepalanya, dulu ia pernah berkata pada Great Red bahwa akan ada seseorang yang bisa mengalahkan serangannya, dan hal itu hanya ditanggapi datar oleh Great Red
Dan sekarang? Ucapan di masa lalu Ophis menjadi kenyataan, Ophis tak pernah menyangka hal seperti itu akan terjadi padanya!
"Hmph! Dasar Red-chan!"
Ophis tertawa renyah, entah kenapa ia merasa ingin tertawa saat kembali mengingat masa lalu itu, dimana gadis itu ngotot pada Great Red bahwa suatu saat ucapannya akan menjadi kenyataan, dan kenyataan itu sekarang berada didepan matanya
*Ziiiiiiinnngg~!*
Melihat kedua Rasenshuriken Naruto yang terus berputar bersuara nyaring dan melesat kearahnya, membuat Great Red mengerahkan sayap kirinya untuk bersiap menahan serangan Naruto yang mungkin menurutnya memiliki daya serang yang luar biasa itu
Ophis yang notabene masih berada di dahan pohon itu hanya bisa menatap datar kedua Rasenshuriken milik Naruto yang kini tertahan sebuah Kekkai tak kasat mata, bahkan sosok Naruto yang masih berada diudara pun terkejut akan hal itu
"Akairyuu itu membuat Kekkai?! Kuat sekali!"
Sempat tersanjung untuk beberapa detik, Kekkai tak kasat mata yang menahan Rasenshuriken itu dari Great Red mulai retak perlahan, suara ngilu mulai terdengar jelas saat retakan itu mulai melebar dan Kekkai itupun pecah tak kuat menahan Rasenshuriken yang terus menghancurkannya dengan daya penghancurnya
'Bahkan Kekkai buatanku pun hancur? Manusia yang menarik!'
Great Red sempat membatin untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kedua Rasenshuriken itu menghantam sayap kirinya dan menghasilkan ledakan besar yang menutupi penglihatan Ophis maupun Naruto sendiri
*Blaaaaarrr~!*
Ophis kembali menatap datar Great Red yang kini tengah dihantam dengan ledakan besar. Bukan karena Ophis tidak peduli pada Great Red, tapi serangan semacam itu tak akan membuatnya mati dengan mudah
Tatapan mata hitamnya yang kelam beralih kesosok Naruto, ada rasa sedikit khawatir saat pemuda pirang itu mulai jatuh dengan bebasnya dari udara, namun pada akhirnya Ophis tak membantunya sedikitpun saat Naruto telah jatuh ketanah dengan kerasnya
*Braaakk!*
"Itteee..."
Sedikit meringis kesakitan sambil memegang punggungnya yang menjadi hantaman keras dengan tanah, tubuh Naruto akhirnya melemas, kedua tangannya merentang bebas menatap ledakan dari kedua Rasenshuriken miliknya
Naruto tak pernah menyangka sebelumnya bahwa ia akan menggunakan Rasenshuriken di kedua tangannya sekaligus, hal semacam ini membuat Chakra miliknya berkurang dengan sangat cepat dan tentunya membuat pemuda pirang itu agak lelah
"Dasar bodoh!"
Suara feminim mulai terdengar digendang telinganya, hal itu memaksanya untuk menolehkan wajahnya kesamping, sosok gadis bersurai hitam dengan iris mata yang senada serta tubuh yang dibalut Dress Gothic Lolita ditangkap di indera penglihatannya
Naruto menatap datar sosok Ophis yang kini berdiri disampingnya, namun dalam hatinya, ia merasa cukup senang walau Ophis tak membantunya sekalipun
"Oh ayolah! Mana balasanmu setelah aku membelamu didepan Great Red?"
"Membela katamu?! Kau hanya tidak tahu keadaannya Baka!"
Oke! Mungkin untuk saat ini Naruto perlu menyerah pada Ophis, walau ia tak tahu kenapa gadis Loli itu membentaknya sampai seperti itu
Pandangan Naruto dan Ophis beralih ke arah Great Red tepat setelah ledakan itu mereda, tatapan Ophis hanya datar, namun berbeda dengan Naruto. Ia tak menyangka hal yang dilihatnya akan jadi seperti ini
Ini mungkin diluar dugaannya. Pasalnya, Dua Rasenshuriken yang memiliki daya hancur super itu tak berarti pada Great Red, walau itu meninggalkan banyak luka pada sayap Great Red, namun tetap saja naga merah raksasa itu terlihat sangat sehat seolah tak terjadi apapun
"Sudah kubilang bukan? kau hanya kutu kecil baginya"
Walau ucapan Ophis membuat wajahnya mengeras untuk sesaat, namun ia menikmati hal semacam ini. Bertarung dengan sosok yang sangat-sangat kuat itu cukup menyenangkan, mungkin itulah yang kini ada dikepalanya. Senyum pun terpampang jelas di wajah lucunya
Kedua tangannya menyentuh tanah mencoba menopang tubuhnya untuk bangkit dari acara berbaringnya, Naruto kini menatap naga merah raksasa itu. Entah kenapa pemuda pirang itu merasa ada yang tidak beres sekarang
"kau cukup kuat untuk melukaiku Manusia, bagaimana jika sekarang giliranku!"
Firasat Naruto benar! Ia sekarang berganti posisi menjadi siap siaga saat Great Red kembali mencoba membuat sebuah Bola Api yang kali ini lebih besar dari yang sebelumnya. Ia tahu kalau naga yang kini masih terbang mengudara itu bukanlah sosok yang lemah seperti yang lainnya, jadi ia perlu menggunakan otaknya yang agak bego untuk membuat Great Red sedikit terpojok
Disisi lain, Ophis hanya tersenyum simpul. Tak ada yang tahu apa yang kini ada dalam pikirannya, tepat beberapa detik kemudian Ophis lalu berjalan dan berdiri tegak disamping Naruto
"O-Ophis?"
Mengabaikan Naruto yang kini melemparkan sebuah pertanyaan padanya, Ophis tetap berdiri tegak disamping pemuda pirang itu, iris matanya yang hitam kelam menatap Great Red yang terbang di udara
"Red-chan, sebaiknya kau hentikan ini!"
Ucap Ophis dengan nada lantang, jari telunjuknya yang mungil kini menunjuk Great Red tanpa gentar sedikitpun. Karena ia tahu, seberapa kuatpun Great Red, naga merah itu tak akan mau mencari masalah dengannya
"Sebaiknya kau menyingkir dari sana Ophis, aku ada urusan dengan Manusia itu!"
"Oh~ Apa kau tak mau mendengarkanku~?"
Entah kenapa suara Ophis terdengar sangat manis ditelinga Naruto begitu juga dengan Great Red, gadis mungil itu kini memasang Puppy Eyes diwajahnya, bibirnya yang melengkung kebawah pertanda ia cemberut itu entah kenapa menjadi terlihat manis sekarang, bahkan Naruto yang berada disampingnya pun tak kuasa untuk menelan ludahnya dengan kasar
*Glek!*
'Hei tunggu! Aku bukan Lolicon!' Batin Naruto nista
"Red-chan~?"
Great Red yang notabene masih terbang diudara hanya bisa menghela nafas, entah kenapa kelakuan Ophis membuatnya mengalah pada gadis mungil itu
"Huh... Baiklah"
Disisi lain, Naruto hanya bisa Sweatdropped ditempat melihat kelakuan Great Red, ia tak pernah menyangka naga merah raksasa yang bahkan tak mempan dengan dua Rasenshuriken itu bisa kalah dengan ekspresi manis yang kini dilakukan oleh Ophis.Hanya satu yang bisa Naruto simpulkan saat ini...
'Dasar Naga Lolicon!'
::
::
::
::
"Whooaa! Tak kusangka pemandangan dari atas terlihat amat menakjubkan!" seru Naruto saat menatap pulau tempatnya terdampar dari atas
Well, keadaannya sekarang berubah, Naruto dan Ophis kini berada diatas kepala Great Red yang terbang diudara dengan bebas, jadi wajar kalau Naruto berseru seperti orang yang baru pertama kali melihat pemandangan indah seperti itu
Sebelumnya berterima kasihlah kepada Ophis, karena gadis mungil itulah yang membawa Naruto hingga bisa bersantai diatas kepala Great Red dengan nyamannya, juga dialah yang meluruskan kesalah pahaman Naruto pada Great Red sehingga membuat mereka berdua sedikit agak akur sekarang
Yah walaupun begitu, kini Ophis tengah tertidur lelap, Naruto yang melihatnya juga agak bingung, awalnya ia berpikir Ophis terlalu terbuai dengan angin yang menerpa dengan sejuk hingga membuat naga tak terbatas dalam bentuk gadis Loli itu tertidur, namun toh biarlah. Selama gadis mungil itu bisa diam sebentar, Naruto bisa menenangkan diri untuk sementara
"Ne, Manusia"
"Eh?"
Naruto agak terkejut, pasalnya suara Great Red yang agak menyeramkan terdengar jelas di telinganya dan itu terasa bergetar
"Apa kau akan meninggalkan Ophis?"
Raut wajah Naruto menjadi sedikit bingung saat Great Red melemparkan pertanyaan semacam itu padanya. Meninggalkan Ophis? Ia bahkan tak mengerti apa yang dimaksud Naga yang kini kepalanya menjadi tempat bersantainya itu
"Apa maksudmu?"
"Ini cerita lama, jadi dengarlah baik-baik"
Naruto hanya terdiam, masih penasaran apa yang dimaksud oleh Great Red tadi. Duduk terdiam menunggu Great Red menceritakan sebuah cerita padanya
"Dulu sebelum Ophis berada disini, ia pernah bertemu dengan seseorang selain dirimu, aku tak tahu dia laki-laki atau perempuan, namun kurasa dia seorang lelaki-"
"-Sosok itu adalah seorang pengembara muda dan menjalani pengembaraannya untuk tujuan tertentu"
"Huh?"
Entah kenapa Naruto tak asing mendengar apa yang dikatakan oleh Great Red. Kalimat semacam itu seolah pernah ia dengar sebelumnya, namun sayangnya ia lupa dan dimana ia pernah mendengar kata itu
"Awalnya Ophis tak tertarik sama sekali dengan orang itu, namun saat orang itu mulai peduli dengannya, Ophis mulai membuka hatinya pada orang itu dan mulai peduli-"
"-Orang itu adalah sosok yang pertama kali bisa membuat sang Ouroboros Dragon merasakan sebuah arti dari kata Teman, dan orang itupun sempat membuat Ophis menggambarkan bermacam ekspresi diwajahnya"
Entah kenapa sekarang Naruto mulai tertarik dengan kisah yang diceritakan Great Red seolah lupa padahal sebelumnya mereka saling beradu serangan. Mungkin karena kisah itu berkaitan dengan masa lalu Ophis, jadi Naruto bisa melupakan hal sekonyol itu
"Dan saat Ophis mulai percaya pada orang itu, mereka berdua mulai membuat sebuah Organisasi. Rata-rata yang bergabung dengan Organisasi yang didirikan oleh Ophis dan orang itu adalah sosok yang cukup kuat-"
"-Namun saat Ophis dan orang itu mengetahui bahwa para anggota yang termasuk kedalam Organisasi hanya bertujuan untuk memanfaatkan kekuatan Ophis, orang itu mulai menyuruh para anggota itu pergi dan keluar dari Organisasi secara paksa"
Oke! Untuk sekarang otak Bego Naruto mulai tidak terlalu nyambung dengan apa yang diceritakan Great Red dan mencoba untuk berpikir keras, lagipula apa hubungannya Organisasi dengan Meninggalkan Ophis?
"Dan kau pasti mengerti kan saat kau menatap mata hitam Ophis?"
"..."
"Ya, aku mengerti itu karena aku pernah mengalami hal itu..."
Ucap Naruto membalas pertanyaan Great Red. Ia mengerti apa yang dimaksud naga merah itu, iris mata hitam kelam Ophis yang tadi sempat ia tatap itu menggambarkan sebuah rasa kesepian, Naruto mengerti hal itu karena ia adalah veteran dalam hal itu
Kesepian memang teman Naruto sejak kecil, satu kata itu tidak bisa diukur dengan sebuah fisik namun bisa diukur dengan sebuah perasaan. Karena sejak kecil, Naruto sempat dikucilkan dan terpaksa menjadi orang terhina didesanya dulu, -dulu sebelum warga desa tercintanya mulai hormat padanya hanya karena dia membunuh orang yang telah menghancurkan desanya
Yah, kehidupan ini memanglah tidak adil, hanya karena ia berbuat sesuatu yang menghebohkan, Naruto langsung menjadi orang yang dihormati didesanya bahkan warga desanya sendiri
Ayolah! Apa sekarang para warga itu menjadi Bodoh hanya karena mereka menghormati remaja yang bahkan dulu mereka hina dan mereka benci? Mereka hanya memandang apa yang telah Naruto lakukan bukan apa yang telah Naruto usahakan!
Ia masih ingat saat dulu – saat ia masih kecil suka berbuat onar dan juga berbuat kebaikan hanya untuk mencari teman dan agar orang-orang menganggap keberadaannya, tapi apa? Ia bahkan menjadi anak yang terhina dan dibenci hanya karena keberadaan salah satu Bijuu didalamnya
Namun saat dia beranjak remaja dan berhasil membunuh ketua dari Organisasi jahat yang bernama Akatsuki yang saat itu berhasil menghancurkan sebagian besar desanya, disaat itulah dia menjadi dihormati oleh orang-orang yang dulu membencinya
Miris! Itu memang sangat miris!
Dan Naruto pun hanya bisa tersenyum masam mengingat itu semua...
"Ophis seperti itu karena orang yang paling dia percayai pergi meninggalkannya tanpa ada alasan yang jelas, Ophis yang kukenal sebagai Naga betina yang ceria pun berubah menjadi datar dan tanpa ekspresi karena kepergian orang itu, Karena itulah Ophis pergi dan berakhir di pulau ini"
Sekarang Naruto mulai paham dengan apa yang diceritakan oleh Great Red. Kehilangan orang yang paling dipercayai memang merupakan hal yang terburuk, dan tentunya itu sedikit agak menyakitkan, karena ia juga pernah merasakannya
Naruto termenung, entah kenapa ia teringat sang guru yang biasa ia panggil dengan sebutan Ero-Sennin itu, sosok guru yang paling ia percayai yang akhirnya mati dalam keadaan yang bisa dibilang menggenaskan
Dan yang Naruto sesalkan sampai kini, pemuda pirang itu belum sempat untuk meminta maaf pada Ero-Sennin nya!
"Jadi jawab pertanyaanku Manusia, apa kau akan meninggalkan Ophis? Aku khawatir padanya karena kemungkinan ia akan merasakan kesepian lagi, aku hanya tidak ingin Ophis menorehkan luka didalam hatinya sendiri tanpa ia sadari"
"Dan karena kekhawatiranku itu lah yang membuatku berniat untuk membunuhmu tadi..."
Naruto kembali termenung. Ia merasa masa lalu Ophis memiliki kesamaan dengan masa lalunya, walau pada kenyaannya masa lalu Naruto bisa dibilang sangat pahit – pahit melebihi kopi hitam tanpa gula
Lembaran memori didalam ingatannya kembali terbuka, mengingatkan Naruto pada masa lalunya yang kelam. Kesepian, dikucilkan, dibenci, dan merasa sangat terhina seolah menjadi sarapan pagi bagi Naruto di masa lalu
Keberadaan Naruto sang Jinchuuriki Kyuubi dimasa lalu membuat para warga tak tenang, bahkan para warga yang keluarganya menjadi korban Kyuubi pernah berniat untuk membunuhnya, walau akhirnya ia menyelesaikan masalahnya sendiri dengan tubuh yang dipenuhi luka tentunya
Naruto tersenyum miring dengan ekspresi yang tertutupi rambut pirangnya. Kenangan yang mengharukan sekaligus menyedihkan, bukankah begitu?
Naruto menoleh kesamping, matanya yang biru cerah kini menatap lembut sosok Ophis yang tengah tertidur dengan nyaman. Dan entah kenapa, wajah damai naga Loli itu membuatnya tak ingin membangunkannya dari tidur nyenyaknya
"Entahlah aku tak tahu. Aku datang ke tempat ini karena ketidaksengajaan, karena itulah aku ingin pulang ke tempat asalku. Tapi saat mendengar masa lalu Ophis, entah kenapa aku tak ingin meninggalkannya sendirian disini"
Seuntai kalimat panjang itu keluar secara polos dari bibir Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari Ophis yang tengah tertidur, senyumnya mengembang saat matanya menatap lembut wajah polos Ophis
"Ngomong-ngomong Akairyuu, darimana kau tahu cerita lama itu?"
"..."
"Aku tahu itu karena-"
"-Ophis yang menceritakannya sendiri padaku..."
::
::
::
::
- [Kuoh City] [Skip Time!]
Di kota ini, sore hari mulai menjadi indah daripada biasanya, langit yang berwarna Oranye dengan matahari yang mulai meninggalkan bumi dari ujung barat terlihat sangat indah, begitu pula dengan sungai didepannya yang mengalir dengan sejuknya
Pemuda itu duduk bersantai di pematang sungai, iris mata Blue-Ice miliknya jauh menatap ujung sana, jauh-jauh entah apa yang saat ini ia lihat seolah tak ada hal lain yang menarik perhatiannya. Sepertinya ia menyukai hal semacam ini?
Namun meskipun begitu, suasana hatinya berlawanan dengan pikirannya. Hatinya yang mencoba merasakan suasana damai ini berbanding terbalik dengan beban yang berada dipikirannya
"Huft..."
Menghela nafas pelan, semilir angin sejuk khas angin sore mulai menerpa dan memainkan rambut peraknya, matanya perlahan menutup bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh ke dalam rerumputan yang nyaman
"Bagaimana aku menjelaskan pada Kurumi nantinya?"
Ucapnya monolog pada dirinya sendiri...
Vali, nama singkat yang merupakan nama dari pemuda itu. Kelopak matanya terbuka secara perlahan, menampikkan iris mata Blue-Ice miliknya yang indah dipandang, wajah serta rambutnya yang dimainkan oleh angin sedikit terlihat keren
Ini bukanlah beban yang berat bagi pemuda berjulukan Hakuryuukou itu. Hanya saja, masalah kecil yang seharusnya mudah untuk diluruskan semacam ini malah menjadi ruwet seperti benang kusut
Yah mau bagaimana lagi? Beras sudah menjadi nasi, semua hal yang telah dilewati tak bisa diulang kembali dan tentunya tak mungkin merubah alur yang telah berjalan
Andai ia tak mengikuti kebohongan Rize dan langsung menjelaskannya pada Kurumi perihal keberadaan Naruto, mungkin masalahnya akan cepat selesai walau harus melewati beberapa masalah kecil terlebih dahulu
Dan jika menjelaskannya sekarang? Mungkin masalahnya akan jadi tambah rumit dan membuatnya pusing. Kurumi yang membenci dirinya dan juga Rize karena membohongi dirinya, serta perasaan gadis itu saat tahu bahwa sosok yang disukainya telah pergi dan tak lagi berada disisinya
"Akh! Kepalaku jadi pusing!"
"..."
"Kau kenapa Vali? Kau terlihat sedikit menyedihkan dari biasanya"
Sebuah kalimat berupa pertanyaan itu terdengar jelas ditelinga sebelah kanan Vali, hal itu membuat pemuda bersurai perak menoleh kesamping, ditangkapnya sosok pria paruh baya yang mengenakan Yukata hitam, serta perawakannya yang cukup unik, bagaimana tidak? Sepertinya pria itu tidak bisa mewarnai rambutnya sendiri, lihatlah! Bahkan rambutnya pirang hanya dibagian Pony-nya saja dan didominasi dengan warna hitam dibagian belakangnya
"Azazel kah?, hanya masalah kecil"
Ucap Vali kembali menoleh kearah depan, matanya masih menatap matahari yang kini hampir sepenuhnya menenggelamkan dirinya di pojok barat tanpa peduli pada ekspresi Azazel yang menatapnya dengan tatapan bingung
"Oh ayolah! Setidaknya kau bisa curhat padaku mengenai masalahmu itu"
"Urusai!, aku sedang tidak Mood hari ini"
Skak! Azazel langsung terdiam saat dipaksa diam oleh Vali, agak kesal sih dan rasanya ingin menjitak kepala peraknya itu, namun toh biarlah. Biarkan Vali menyelesaikan masalahnya sendiri
Azazel yang sedari tadi hanya berdiri terus kini mulai duduk disamping Vali, tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kopi kaleng yang sebelumnya dia beli di sebuah tempat yang entah dimana
*Sluurp!*
"Vali, kau mau?"
"Ya enggaklah bego! Mana mau aku meminum bekas bibir busukmu itu!"
Ujar Vali dengan nada kesal. Wajar sih, lagipula bisa-bisanya Azazel menawarkan kopi kaleng yang bahkan sudah ia minum sebelumnya?
"..."
Terdiam sebentar tenggelam kedalam pikiran mereka masing-masing, keheningan pun pecah saat Vali mulai bersuara
"Azazel, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
Sebuah pertanyaan yang menuju kepadanya itu membuat Azazel menoleh kearah Vali, wajahnya terlihat datar namun Azazel tahu, bahwa Vali saat ini mempunyai beban yang mengganggu pikirannya
Jadi inikah firasat seorang guru pada muridnya?
"Silahkan selagi aku bisa menjawabnya"
"..."
"Apa kau selama ini mencari Naruto?"
Azazel terdiam untuk sesaat, ia sudah menduga bahwa Vali akan bertanya hal ini, karena kedatangannya pun berkaitan dengan pertanyaan yang dilontarkan Vali kepadanya
Akhir-akhir ini Azazel memang mencari keberadaan Naruto semenjak Vali menanyakan keberadaan si pirang bego itu, dia mengerahkan sebagian besar bawahannya bahkan salah satu jendralnya, Shemhaza pun ikut mencari keberadaan Naruto
Terdengar bodoh memang, namun begitulah kenyataannya. Untuk sekarang keberadaan Naruto masih belum diketahui karena itu berkaitan erat dengan Sacred Gear Gagal milik Azazel
Karena Azazel tahu, sebagai seorang peneliti handal sebuah Produk yang gagal dapat menyebabkan masalah yang berat!
Namun Azazel mencari keberadaan Naruto bukan tanpa alasan. Ia mencari pemuda pirang itu hanya semata-mata untuk menanyakan sebuah pertanyaan bahwa Apakah Kokabiel Mati ditangannya?
Ia hanya ingin tahu apakah Kokabiel yang dikatakan hilang dalam pertarungan bersama Naruto telah mati atau masih berkeliaran bebas disana. Jika dia memang mati maka Azazel bisa keluar dari masalahnya
Namun jika Kokabiel masih berkeliaran bebas, Azazel tak memiliki pembelaan apapun saat pertemuan tiga fraksi mengenai tragedi Kokabiel dan perdamaian tiga fraksi yang akan diadakan sebentar lagi!
Karena itulah Gubernur itu mencari keberadaan Naruto dan mencoba mengajaknya ke pertemuan tiga Fraksi nanti sebagai ajang pembelaan untuknya
"Aku juga datang kesini untuk mengatakan hal semacam itu"
Tanpa sadar Vali menoleh kearah Azazel, berekspresi datar saat menatap wajah Azazel yang menatap lurus kedepan dengan senyum diwajahnya. Itu bukan senyum tulus atau semacamnya, lebih terlihat seperti sebuah senyum pembawa berita yang kurang enak
"Belakangan aku telah memerintahkan beberapa bawahanku bahkan aku juga menyuruh Shemhaza untuk mencari keberadaan Naruto-"
"-Aku mencarinya bukan tanpa alasan, aku memiliki alasan tertentu dan ada sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya"
"..."
"Apa kau menemukannya?"
Senyum Azazel luntur bersamaan dengan kelopak matanya yang tertutup rapat, sebuah gelengan pelan seakan menjadi jawaban dari apa yang ditanyakan Vali pada Azazel. Sebuah cahaya harapan setitik kecil yang Vali punya menjadi hilang tak tersisa saat mendapatkan sebuah jawaban dari Azazel
"Souka..."
Kembali menatap lurus kedepan, keduanya pun tak saling bicara untuk waktu yang lama, selain karena tak ada hal yang pantas untuk dibahas, mereka berdua juga tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing
"Vali-kun~!"
Vali menoleh kebelakang saat merasa namanya dipanggil oleh suara yang feminim, senyumnya mengembang saat seorang gadis bersurai ungu tengah berlari jauh dibelakangnya, Azazel yang berada disamping Vali pun ikut tersenyum
"Tak kusangka, seorang maniak bertarung sepertimu punya kehidupan yang menyenangkan. Dan lagi, seleramu lumayan juga dalam urusan gadis, Vali!"
Ujar Azazel saat kepalanya menoleh kebelakang, menatap seorang gadis yang kini berlari kearah mereka berdua. Pikiran mesumnya mulai kambuh saat menatap dada Rize yang kini bergoyang-goyang
*Bleetaakk!*
"Hentikan sifat mesummu itu Azazel!"
Ucap Vali sesaat setelah puas menjitak kepala Azazel yang notabene merupakan Gubernur dari fraksi Datenshi, setelah itu Vali berjalan kearah Rize yang berlari kearahnya meninggalkan Azazel yang masih mengelus kepalanya pelan
"Vali-kun kau dari mana saja? Aku lelah mencarimu!"
Vali tertawa renyah, entah kenapa sifat Rize yang kini tengah merutuki dirinya yang pergi tiba-tiba terlihat lucu di mata Blue-Ice miliknya, tangannya mencoba menggapai pucuk surai ungu itu lalu mengelusnya dengan lembut
"Va-Vali-kun?"
"Ayo pulang, Rize"
Rize terpaksa memerah malu, tepat setelah menatap senyum tulus Vali yang membuat hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya, ia menunduk malu saat Vali menatap wajahnya
"Yoo! Roman picisan seperti biasanya!"
Ah! Dasar Gubernur Miskin itu! Dia hanya bisa mengacaukan Romansa antara Vali dengan Rize saja!
"Diamlah kau! Dasar Gubernur Jomblo!"
Check Mate! Azazel langsung terjungkal kebelakang saat Vali mengejeknya dengan ejekan yang menusuk hatinya, Gubernur Jomblo? Ayolah! Dia hanya Jomblo Tua, lagipula para bawahannya yang memiliki Gender perempuan rata-rata memiliki tubuh yang aduhai, jadi dia bisa bermesum ria tanpa memikirkan sang Jodoh yang entah berada dimana bukan?
Ah~! Sekarang Azazel malah ditinggal oleh Vali dan Rize. Sial! Azazel tak pernah menyangka bahwa ia diabaikan oleh muridnya sendiri hanya karena seorang gadis cantik
'Dasar Vali, dia mulai berubah ya?'
::
::
::
::
*Ckleek...*
"Kurumi-chan, Tadaima!"
Oke! Untuk sekarang keadaannya berubah. Kini Vali dan Rize sudah berada diapartemen dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain layaknya orang yang baru pulang kencan, serta tangan Rize yang satunya membawa kantung plastik, mungkin berisi beberapa makanan?
"Are?"
Rize menautkan sebelah alisnya saat keadaan apartemen terlihat sepi tanpa ada suara. Memang tidak gelap sih karena lampunya sudah terlebih dahulu dihidupkan, namun pertanyaannya adalah, dimana Kurumi?
"Kurumi-chan? kau ada disini bukan?"
Rize melepas genggaman tangannya pada tangan Vali dan masuk kedalam apartemen terlebih dahulu menaruh kantung plastik yang ia bawa, sedangkan Vali hanya menghela nafas pelan, kakinya melangkah secara pelan menuju sebuah sofa yang terletak berhadapan dengan Tv
Menjatuhkan bokongnya ke sofa, Vali lalu menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya, kelopak matanya pun menutupi mata indahnya
Vali sudah menduga hal ini. Wajar jika gadis berambut hitam itu tak berada dirumah, mungkin saja dia mencari Naruto karena khawatir terhadap si pirang itu, pasalnya Naruto belum pulang sejak semalam
Tapi menurutnya apa yang dilakukan Kurumi hanya sia-sia, karena dia sendiri yang berusaha mencari Naruto pun tak dapat menemukannya walau sehelai rambut pirangnya sedikitpun
Dan ia rasa, semenjak Naruto pergi, suasana ditempat yang mereka sebut sebagai rumah ini mulai terasa berubah dari sebelumnya-
-Bukan?
*Ckleek!*
Rize dan Vali menoleh secara bersamaan saat salah satu pintu kamar terbuka, kedua sorot mata mereka menjadi terlihat khawatir saat melihat seorang gadis berambut hitam yang masih dibalut dengan seragam sekolah itu terlihat kecewa - terlihat jelas dari raut wajahnya
"Ku-Kurumi-chan?"
"Aku tahu kalian berbohong padaku, jadi katakan dimana Dia?"
Ujar Kurumi dengan lantang, raut wajahnya yang kecewa mulai mengeras, pony rambutnya sedikit bergerak terbawa angin yang entah darimana, menampilkan iris mata kirinya yang berwarna kuning dengan pola seperti jam Romawi
Gadis manis itu tak pernah menyangka, bahwa teman seapartemennya yang mulai ia percayai bahkan berbohong padanya. Lagipula apa masalahnya jika dia tahu dimana Naruto berada bukan? dan untuk apa mereka berdua menyembunyikan Naruto darinya?
"Kurumi-"
"Aku tadi datang ke Kuoh Academy, menunggu Naruto pulang walau tempatku menunggu agak jauh dari gerbang sekolah itu. Namun karena lelah menunggu, aku bertanya pada salah satu siswa yang kupikir teman Naruto-"
"-Dan saat aku bertanya Apa kau temannya Naruto? Dia ada disekolah bukan? dia hanya menjawab Naruto tidak sekolah Hari ini!"
Untuk sesaat Rize membulatkan matanya, ia tak menyangka Kurumi akan berbuat sejauh itu mengingat kebohongannya tadi pagi ia rasa dipercayai oleh Kurumi, namun nyatanya tidak. Gadis itu bahkan datang ke sekolah hanya sekedar membuktikan bahwa Naruto sekolah atau tidaknya
Lain Rize, lain juga dengan Vali. Pemuda tampan bersurai perak itu hanya bisa menghela nafas sambil menggaruk kepala belakangnya yang bahkan tak gatal sama sekali. Ini semua sudah dia duga sebelumnya-
-Bahwa, masalahnya akan menjadi rumit seperti ini
"Cepat katakan dimana Dia! Rize-chan, Vali!"
"Na-Naruto ada-"
"Naruto telah pergi, itu yang kutahu..."
Terkejut? Mungkin itulah yang bisa digambarkan pada sosok Rize sekarang. Menoleh kearah Vali sesaat setelah ucapannya dipotong oleh pemuda perak itu. Mengungkapkan kebenaran tentang keberadaan Naruto yang sebenarnya
"Vali-kun?"
"Hentikan ini Rize, Kebohongan tak akan menyelesaikan apapun!"
Gadis bersurai ungu itu langsung menunduk saat Vali sedikit agak membentaknya, ada rasa sedih saat sang kesayangan membentaknya seperti itu, namun gadis itu merasa inilah yang terbaik. Menyembunyikan sebuah kebohongan memang bukanlah hal yang baik
"A-Apa maksudmu, Vali?"
Ucapannya agak terbata, Kurumi masih belum terlalu paham dengan apa yang dikatakan Vali padanya, ia benar-benar tidak paham. Naruto telah pergi? Apa maksudnya?
Vali akhirnya menjelaskan semuanya pada Kurumi. Tentang semuanya yang telah terjadi yaitu sebuah tragedi besar yang terjadi di Kuoh Academy. Vali menjelaskannya secara rinci dan mengatakan pada Kurumi bahwa Naruto telah hilang dalam pertarungan itu dan masuk kedalam sebuah celah dimensi
"Ti-tidak mungkin kan?!"
Kurumi membulatkan matanya, masih sedikit tak percaya apa yang dikatakan Vali padanya walau itulah kebenarannya, rasa sedih mulai menggerogoti hatinya saat si pirang bego yang mengisi kehidupannya telah pergi entah kemana
Sedih, marah, dan kecewa. Semua perasaan itu mulai bercampur aduk dalam hati kecil Kurumi. Ini semua terasa begitu cepat untuk kehilangan sosok Naruto, padahal ia merasa, baru kemarin gadis cantik itu menggoda Naruto dikamarnya
Bibirnya bergetar, auranya mulai menguar dari tubuhnya membuat Vali dan Rize yang berada didekatnya mulai agak mundur kebelakang, bahkan jarum jam yang berada di mata kirinya mulai berputar dengan cepat
Ini tidak bisa diterima! Ia tidak ingin kehilangan pemuda pirang yang telah mengisi kehidupannya itu! Ini terlalu cepat baginya! Naruto hanya miliknya seorang dan ia tidak ingin Naruto pergi meninggalkannya!
Itu benar! Dia tak ingin Naruto pergi meninggalkannya!
*Craaaack!*
"Eh?"
Vali terdiam untuk beberapa saat. Ada yang aneh pada dirinya, ia merasa tadi dirinya seolah membeku dan tak bisa apa-apa, bahkan ia pun ta bisa mengetahui apa yang terjadi selama dirinya tadi membeku dan terdiam ditempat
Begitu juga dengan Rize, ia terkejut saat menyadari ada yang aneh pada dirinya, ia merasa seperti waktu dipaksa untuk berhenti sesaat hingga membuat tubuhnya tadi beku dan tak bisa melakukan apapun, bahkan tak ada ingatan apapun selama tubuhnya membeku tadi
*Ckleek!*
Vali dan Rize menoleh kearah pintu apartemen secara bersamaan, mereka terkejut saat Kurumi mulai berlari keluar apartemen dengan sangat cepat hingga mereka lupa sejak kapan Kurumi berada disana
'Jadi dia menggunakan kekuatannya?!'
"Vali-kun, Ayo kejar Kurumi-chan!"
"Ayo!"
::
::
::
::
- [Unknown Dimension]
"Huft..."
Cuaca yang cerah, angin yang sejuk, serta pemandangan berupa awan yang bergerak membentuk abstrak terlihat sangat indah dan nyaman di mata birunya
Menghela nafas pelan, pemuda yang kini tengah berbaring dengan nyaman diatas kepala naga merah raksasa itu mulai memejamkan matanya, menikmati angin semilir yang amat sejuk menerpa tubuhnya
Ini terasa nyaman baginya, angin yang menerpanya seolah membuainya agar ia bisa tertidur dengan pulas
Uzumaki Naruto, nama pemuda itu. Kini ia tengah berbaring dengan santainya diatas kepala seekor naga merah raksasa yang dipanggil Great Red, berbaring dengan santai dan disebelahnya terlihat seorang gadis mungil yang tengah tertidur pulas pula, dia adalah Ophis
"Inilah yang kusukai dari Angin, mereka tak terlihat, namun kelakuan mereka membuaiku sangat kusukai. Mereka seperti pemain dibelakang layar saja" ucap Naruto masih sambil memejamkan matanya
Bayangan seorang gadis mulai masuk kedalam pikirannya, membuat senyumnya mengembang diwajah tampannya, belaian lembut sang angin membuat bayangan dalam pikirannya semakin nyata
Bayangan didalam pikirannya semakin jelas. Seorang gadis cantik dengan balutan seragam sekolah yang menutupi tubuhnya, rambut hitamnya yang dikuncir dua dan dibiarkan tergerai melewati kedua bahunya, kulit putihnya yang bersih serta kedua iris matanya yang berbeda warna, Merah dan Kuning
Naruto tersenyum saat sosok bayangan dalam pikirannya merupakan sosok yang amat ia kenal, gadis itu adalah seseorang yang pernah ia selamatkan dulu, gadis yang sebelumnya tinggal bersamanya dalam satu apartemen, dan lebih dari itu, gadis itu adalah seseorang yang berhasil mencuri perhatiannya
Gadis itu adalah Tokisaki Kurumi, yang akhir-akhir ini sangat ia rindukan...
Sosok gadis dalam bayangannya mulai tersenyum, membuat Naruto yang notabene tengah mengkhayal ria ikut tersenyum dengan dada yang berdegup kencang dari sebelumnya
"Uzuki..."
Ah~ bahkan bayangan didalam pikirannya memanggil namanya, yah walaupun biasanya Kurumi memanggilnya dengan nama depannya. Tapi biarlah, selagi bayangannya terlihat nyata
"Uzuki..."
Entah kenapa sekarang suaranya terdengar jelas dijelas ditelinganya...
"Uzuki..."
"Oii Baka! Bangun!"
*Bleetaakk!*
Naruto langsung meringis saat merasakan sebuah pukulan dikepalanya, hal itu membuat Naruto membuka matanya lalu duduk dan mencari siapa yang berani menjitak kepalanya
"..."
"Jadi, kau sudah bangun?"
"Oii Ophis! Apa yang kau lakukan pada kepalaku?!"
Ucap Naruto sewot, yah mau bagaimana lagi, dia hanya tak suka saat seseorang membangunkannya dengan cara yang bahkan tak manusiawi. Ayolah! Setidaknya dia bisa mendapatkan perlakuan yang baik saat bangun dari acara tidurannya, Ciuman selamat Pagi contohnya?
"Kau juga sih! Lagian saat kupanggil namamu, kau hanya tersenyum gak jelas dengan wajah yang menjijikkan~!"
Oke! Sekarang Naruto mulai kesal, itu terbukti dengan pelipisnya yang mengeluar sebuah perempatan yang agak besar
"Berhentilah mengejekku Loli! Kau mungkin berpikir apa yang kau ucapkan itu biasa, namun itu cukup menyakitkan buatku!"
"Haa? Kau yang seharusnya mikir! Bisa-bisanya kau tertidur dengan wajah mesum seperti tadi! Lagipula siapa yang menjadi khayalanmu? Apa mungkin aku?!"
"Untuk apa aku mengkhayalkanmu?! Aku gak mungkin tertarik dengan dada rata sepertimu! Dan tentunya aku bukan Lolicon!"
Ah~ entah kenapa sekarang giliran Ophis yang menjadi kesal, ucapan Naruto barusan sangat-sangat menohok hatinya sebagai seorang gadis biasa. Eh tunggu?! Dia naga kan?
"K-Kau?! Apa yang kau lihat?!"
"A-Aku gak melihat apapun kok! Serius!"
Ucap Naruto sambil memalingkan wajahnya kearah lain, pipinya pun sedikit agak memerah karena pakaian Ophis yang mungkin menurutnya tidak senonoh itu, mata birunya juga diam-diam melirik kearah Ophis
"O-Ophis, lain kali kau perlu mengganti pakaianmu, i-itu terlalu terbuka kau tahu?"
"Ba-Baka!"
*Bruuk!*
Dan situasi yang terburuk pun terjadi. Hanya karena rasa kesalnya akan ucapan Naruto yang membuat hatinya serasa terbakar, Ophis mendorong tubuh Naruto dengan kedua tangan mungilnya, hal itu pun membuat Naruto yang awalnya masih bersantai di atas kepala Great Red terpaksa jatuh dan melayang diudara karena dorongan Ophis
"Beeeggoooo! Ophis, Tolong aakuu!"
Teriak Naruto nista yang kini tengah meluncur diudara dengan cepat, Ophis yang masih berada diatas kepala Great Red hanya menatap datar sosok Naruto yang semakin lama semakin meluncur ke bawah, sedangkan Great Red? Walaupun sekilas ia melihat Naruto terjatuh dari atas kepalanya, ia bahkan tak peduli sama sekali pada si pirang bego itu
"Ophis, kau tak peduli padanya?"
"Hmmph! Aku tak sudi menolongnya! Berani-beraninya dia menilai diriku seperti itu!"
Great Red hanya bisa menghela nafas berat, entah kenapa kelakuan Ophis sekarang seperti seorang gadis biasa, padahal kenyataannya dia itu sebenarnya adalah Naga tak terbatas, Mugen no Ryuujin atau biasa dikenal sebagai Ouroboros Dragon
"Sebaiknya kau tolong dia, aku juga mau pulang kerumahku, apa kau mau ikut?"
"Tentu tidak, aku tak ingin berbagi tempat denganmu disana"
"Yasudah tolong lagi sana Manusia itu, apa kau mau membiarkannya mati konyol?"
Walau awalnya Ophis tak mau, tapi pada akhirnya naga betina itu mulai menuruti apa yang dikatakan Great Red. Percakapan itupun berakhir dengan Ophis yang mulai melesat kearah Naruto dan Great Red yang mulai masuk kedalam celah dimensi lebar yang sebelumnya telah dia buat
"Ophis~! Cepatlah tolong aku bego! Aku tak akan pernah memaafkanmu jika aku mati disini!"
Rengek Naruto yang masih berada diudara dengan bebasnya layaknya orang yang tengah melakukan Base Jump, Ophis yang melesat kearahnya pun hanya bisa Sweatdropped karena ucapan Naruto
Memaafkan katanya? Ia saja tak merasa bersalah apapun terhadap pemuda pirang yang kini merengek padanya itu
"Lalu~ Bagaimana aku menyelamatkanmu Bodoh?! Tak mungkin kan aku menopang tubuhmu?!"
Otak Naruto mulai berpikir sekarang, ada benarnya juga yang dikatakan Ophis. Tak mungkin Ophis yang seorang gadis mungil nan imut menangkap tubuhnya yang bahkan lebih besar daripada tubuh Ophis sendiri
Naruto tak habis pikir, bagaimana caranya menyuruh Naga Loli itu untuk menyelamatkannya?
Sesaat Naruto melihat Great Red yang telah masuk sempurna kedalam sebuah celah dimensi yang amat lebar, hal itupun membuat ide besar masuk kedalam otak Naruto yang kadang jenius
"Kau seorang naga kan?! Setidaknya kau bisa membuat celah dimensi dibelakangku sehingga aku bisa selamat daripada terjatuh dan menghantam tanah dengan kuat lalu mati dengan konyol!"
"Ta-tapi-"
"Cepatlah atau aku akan mati disini!"
Ophis menghempaskan nafasnya sebal, ia tak menyangka Naruto itu cukup pemaksa juga, dan lebih dari itu, Naruto juga takut yang namanya mati ya?
Ophis mulai berkosentrasi, tangan kanannya yang mungil terjulur kearah Naruto yang kini berada agak jauh dibawahnya, dan tepat setelah itu muncul celah dimensi yang membuat Naruto masuk kedalamnya diikuti dengan Ophis yang ikut masuk kedalamnya
*Sriiiiiingg!*
::
::
::
::
- [Kuoh City] [With Same Time]
"Kurumi, tunggu!"
*Drap! Drap! Drap!*
Suara langkah kaki yang dilapisi sepatu itu terdengar jelas digendang telinga, bulir-bulir peluh yang jatuh dari pelipisnya terlihat sangat berkilau dalam gelapnya malam, nafasnya berpacu lebih cepat dari biasanya
Untuk saat ini keadaannya sangat buruk, dengan Vali dan Rize yang terus berlari mengejar Kurumi, bahkan sesekali Kurumi menggunakan kekuatan matanya yang membuat Vali dan Rize kesulitan dalam mengejarnya
"Kurumi-chan!"
"Berhentilah mengikutiku! Usotsuki!"
Untuk sesaat Rize termenung mendengar Kurumi memanggilnya Pembohong, namun tetap saja ia tak ingin Kurumi pergi. Ia memang bohong terhadap gadis yang tengah mereka kejar itu, namun itu demi kebaikan Kurumi sendiri
Hingga akhirnya mereka sampai disebuah pematang pantai. Gelap dan hanya cahaya bulan satu-satunya yang menjadi penerang disana, suara sungai yang mengalir pun seakan menjadi Backsound dari apa yang telah terjadi
Kurumi berhenti disana tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Rize dan Vali yang berada dibelakangnya, begitupun Vali dan Rize yang berhenti saat Kurumi berhenti berlari dan memilih diam
"Ku-Kurumi-chan?"
Suara Rize yang mengalun dengan nada yang sedikit khawatir terdengar jelas oleh Kurumi, membuat wajah gadis bersurai hitam itu mengeras, ekspresinya pun tertutupi dengan rambut hitamnya yang indah
Ia benar-benar tak mengerti dengan Vali maupun Rize, apa mereka sebegitu teganya menyembunyikan hal sebesar ini? Apa dia tidak pantas untuk mendengar kabar itu? Atau mungkin...
Dia hanyalah Orang Luar yang tak perlu ikut campur akan keberadaan Naruto?
Meski gelap, namun Rize dapat melihat jelas tubuh Kurumi yang bergetar, dan itu membuatnya tambah khawatir pada gadis bersurai hitam itu
"Kurumi-chan?"
*Pluk!*
Merasa bahunya dipegang seseorang, membuat Rize menoleh kesamping melihat siapa yang memegang bahunya, sorot matanya menjadi agak bingung saat Vali – sosok yang memegang bahunya kini memejamkan matanya sambil menghela nafas pelan
"Biar aku yang menyelesaikan masalah ini..."
Dengan langkah yang agak berat, Vali akhirnya berjalan kearah Kurumi yang kini berdiri dengan bahu yang agak bergetar dengan alasan yang tak ia tahu, meninggalkan Rize yang kini berjalan mengikutinya dari belakang
*Pluk!*
Kurumi menoleh kebelakang saat bahunya dipegang oleh seseorang, wajahnya mengeras dengan mata yang menajam saat sosok yang memegang bahunya adalah sosok yang juga telah membohongi dirinya, yaitu Vali sang Hakuryuukou
"Pergilah dari sini!"
Ucap Kurumi dengan nada yang memerintah, senyum dengan sedikit paksaan terlihat jelas diwajah cantiknya yang membuat Vali kembali menghela nafas dan baru saja memahami sesuatu-
-Bahwa, para gadis itu sangat merepotkan!
"Tenanglah, aku akan berusaha mencari Naruto untukmu"
*Plaak!*
Tangan Vali yang berada dibahu Kurumi ditepis dengan keras oleh gadis itu, senyum paksaan kembali terukir diwajahnya, meskipun begitu, di ekor matanya terlihat setitik air mata yang membuat Vali agak terkejut
"Ku-Kurumi?"
"Kenapa kalian membohongiku?"
"I-itu"
"Katakan kenapa kalian membohongiku?!"
Vali terdiam saat Kurumi membentaknya dengan nada tinggi, bahkan gadis itu sekarang saling berhadapan dengan Vali menatap tajam iris Blue-Ice yang dimiliki oleh pemuda tampan itu
"Apa kalian tidak peduli terhadapku? Atau-"
"-Kalian hanya menganggapku ini orang luar yang tak perlu mengetahui kabar itu?!"
*Grep!*
"Kami tidak pernah menganggapmu seperti itu!"
Kurumi agak terkejut saat Vali memegang kedua bahunya dengan bantahan yang terdengar seperti sedikit bentakan, sementara Rize yang berada dibelakang Vali hanya bisa diam tanpa bersuara walau ekspresinya agak mengkhawatirkan keduanya
"Kenapa kau berpikir seperti itu?! Kau tidak tahu betapa kami mengkhawatirkanmu?"
"A-Aku-"
"Dengar, kami berbohong padamu karena kami tak ingin kau bersedih, karena aku tahu-"
"-Naruto adalah orang yang spesial untukmu bukan?"
Kedua iris matanya yang berbeda warna membulat sempurna, menatap wajah Vali yang kini menatapnya dengan serius, Liquid bening mulai tumpah dari matanya sesaat setelah Vali mengelus surai
"Gomen, Vali..."
Vali tersenyum saat Kurumi menutupi ekspresinya dalam dada bidangnya, tangannya mengelus lembut punggung Kurumi saat gadis itu mulai menangis dalam dekapannya dengan tangan yang menggenggam baju Vali dengan kuat
Rize yang berada dibelakang mereka berdua hanya bisa tersenyum, hatinya merasa sedikit lega akhirnya masalah yang menyangkut mereka bertiga telah usai
Tapi apa memang benar begitu?
.
.
.
*Sriiiiinnngg!*
Tanpa mereka sadari, agak jauh disamping Vali dan Kurumi, muncul celah dimensi yang mengeluarkan dua makhluk berbeda Gender. Yang pertama seorang pemuda berambut pirang yang terlihat sedikit agak kacau, sedangkan satunya seorang gadis Loli yang mengenakan Dress Gothic Lolita
"Ittee..."
Masih meringis kesakitan dengan mata yang tertutup karena sosok gadis Loli yang kini menimpa tubuhnya dari atas, mata pemuda pirang itu terbuka secara perlahan, pandangannya masih agak kabur namun apa yang dia lihat sekarang tak bisa menipu kenyataannya
Mata birunya menangkap sosok tiga orang yang sangat ia kenal, yakni Rize, Vali dan juga Kurumi
Ada rasa senang sih saat bisa kembali mereka bertiga, namun untuk sekarang entah kenapa hatinya merasa sedikit lebih nyeri melihat mereka bertiga
Bagaimana tidak? Sosok gadis yang selama ini mengalihkan perhatiannya dan yang selama ini ia rindukan berada dalam pelukan sahabatnya sendiri, sosok sahabat yang paling ia percayai!
Ayolah! Ini bukanlah Tikungan yang tajam bukan?
Tapi tetap saja itu membuat hati kecilnya nyeri. Ia tak akan pernah menyangka jika akan berakhir seperti ini jadinya, sang gadis yang ia sukai berada dalam pelukan sahabatnya sendiri? Dan bahkan parahnya, pacar sahabatnya yang berada dibelakangnya terlihat tidak begitu mempermasalahkannya, bukankah ini berlebihan?
Entah kenapa perasaan sakit semacam ini membuatnya merasa De javu, perasaan nyeri yang membuat dadanya seolah kosong, rasa nyeri yang terus menjalar ke setiap inchi di hatinya saat melihat sahabatnya sendiri memeluk gadis yang dia cintai
Ayolah! Apa Vali tak puas hanya dengan Rize saja? Atau dia berniat membuat rencana semacam mini-harem?
Dan daripada itu, dimatanya Kurumi terlihat menangis didalam pelukan Vali yang membuat hatinya serasa terbakar, namun melihat sang gadis pujaan terlihat nyaman dipelukan sahabatnya, memaksanya untuk tersenyum walau itu agak sulit dilakukan
Dan pada akhirnya dia tersenyum walau untuk sesaat, dan berusaha berpikir positif pada pemandangan menyakitkan yang kini terpajang indah didepan matanya
Selama gadis yang dicintainya bahagia dengan orang lain, Menatapnya dari jauh pun dia tak apa, Naruto hanya bisa berpikiran seperti itu untuk sekarang
Mengabaikan Ophis yang kini berbaring nyaman disampingnya, pemuda itu – Naruto mulai perlahan berdiri, matanya masih menatap ketiga sahabatnya mencoba membohongi diri sendiri bahwa apa yang dilihatnya ini adalah sebuah kepalsuan, walau kenyatannya itu adalah nyata!
"Vali?"
Suara ini? Mereka serasa mengenal suara ini!
Mereka bertiga, Rize dan Vali serta Kurumi langsung menoleh ke asal suara, ketiganya membulatkan mata saat sosok yang dicari-cari kini berada didepan mereka. Ada rasa senang saat bisa melihat kembali sosok Naruto yang telah pulang ke Kuoh, namun ekspresi yang digambarkan Naruto diwajah tampannya memaksa mereka untuk diam sesaat
Kurumi yang sebelumnya sudah berada dalam dekapan Vali serasa ingin langsung menghampiri Naruto, namun niatnya ia urungkan saat ekspresi Naruto terlihat sangat dipaksakan dimatanya
"Na-Naruto?"
"Kita teman kan? Vali?"
"A-apa yang kau katakan Naruto? Tentu saja kita teman!"
Naruto tersenyum paksa walau bibirnya agak bergetar, matanya mulai menyipit menatap Vali yang berada agak jauh didepannya, cahaya dalam matanya pun menghilang hingga menyisakan iris mata Blue-Saphire tanpa cahaya
Naruto memang tidaklah tampan seperti Vali, Naruto hanya bisa berharap suatu hari ia bisa mendapatkan hati Kurumi, namun melihat kejadian barusan dimana Kurumi terlihat nyaman di pelukan Vali, hal itu membuat harapannya hilang seketika
Sudah cukup baginya untuk merasakan hal seperti ini, hatinya sudah tak kuasa untuk menahan hal seperti ini lagi. Ia benar-benar terluka melihat mereka bertiga, ia hanya bisa berharap agar ia tak merasakan hal seperti ini untuk yang ketiga kalinya
"A-ah! Go-gomen telah mengganggu kalian bertiga!"
Ucap Naruto dengan tawa yang terdengar aneh, hal itu membuat mereka bertiga menjadi bingung sendiri karena tingkah Naruto yang berbeda
Ophis yang sedari tadi hanya berbaring ditanah kini mulai membuka matanya dan berdiri disamping Naruto, namun alangkah terkejutnya Naga Loli itu saat menatap Vali yang agak jauh didepannya, begitu juga dengan Vali yang baru menyadari keberadaan Ophis disamping Naruto
"K-Kau?!"
"Ophis, ayo pergi..."
Ophis menoleh kesamping atas, entah kenapa ia merasa sedikit sedih saat menatap ekspresi Naruto yang sekarang, ia serasa bisa mengerti apa yang dirasakan oleh si pirang itu untuk sekarang
"Mau kemana?"
"..."
"Kau pernah kesini bukan? setidaknya cari tempat yang jauh dari sini..."
Ophis hanya bisa menuruti permintaan Naruto, entah kenapa ia sedikit merasa iba pada Naruto hanya karena pemuda pirang itu terlihat seperti orang yang tengah sakit sekaligus patah hati
Sedangkan Rize, Vali dan juga Kurumi hanya bisa membelalakkan mata mereka terkejut, Naruto ingin pergi? Yang benar saja! Mereka tak bisa membiarkan Naruto untuk pergi lagi!
"Sekali lagi, maafkan aku telah mengganggu acara kalian bertiga!"
*Sriiiinngg!*
"Naruto! Tunggu dulu!"
Dan akhirnya mereka telat untuk menghentikan Naruto. Pemuda pirang itu sudah terlebih dahulu memasuki celah dimensi yang sebelumnya dibuat oleh Ophis yang juga ikut masuk kedalamnya, bahkan Kurumi yang menghentikan aliran waktu dengan kekuatan matanya pun tak bisa menghentikan Naruto yang notabene sudah pergi masuk kedalam celah dimensi itu
"Narutooo!"
Jadi, akankah hubungan mereka berempat berakhir disini?
::
::
::
::
::
::
::
:: [To Be Continued...] ::
:: [A/N] :: Domo! Ketemu lagi yaa~
Sebelumnya saya minta maaf kalo Chapter kemarin sangat mengecewakan, bahkan Chapter yang ini pun menurutku sangat mengecewakan dan membosankan. Entah kenapa saya merasa alur ceritanya mudah untuk ditebak dan berbeda jauh dengan yang saya rencanakan
Mungkin gak banyak yang saya sampaikan saat ini, melihat beberapa Chapter kebelakang yang membuat para Reader mulai kecewa membuat saya jadi merasa bersalah tentunya
Tentunya ini berdampak buruk pada perkembangan Fic ini, walau gaya penulisannya yang sudah saya rubah secara perlahan, tapi tetap saja alur ceritanya itu yang membuat saya kecewa pada diri saya sendiri
Gomen kalau saya sudah mengecewakan kalian semua~
Ini bukan berarti saya bakal Discontinue dalam mengupdate Fic ini atau semacamnya, saya hanya ingin mencari referensi dulu untuk perkembangan Fic ini, dan saran serta kritik kalian sebagai Reader tentunya saya harapkan disini
Soal Vali dan Kurumi, itu bukan maksud saya untuk merubah Pairing yang telah saya tetapkan, Pairing-nya tetap kok seperti yang sudah saya jelaskan di Chapter terdahulu, hanya saja saya membuat perselisihan sedikit antara Naruto dengan Vali, Lagipula saya gak rela Kurumi dipasangin sama Chara lain selain Itsuka Shido sama Naruto :v
Untuk Update Chapter depan mungkin akan langsung masuk ke Pertemuan Tiga Fraksi yang sudah saya rencanakan jauh hari, disana akan dijelaskan siapa sosok yang pernah ditemui Ophis sebelum Naruto dan apa yang dimaksud Pembelaan Azazel, dan juga bakalan ada Scene Battle nantinya
Dan ini adalah Update terakhir sebelum lebaran [Lebaran bentar lagi kan?] jadi sesudah lebaran mungkin saya akan Update lagi, atau mungkin bakalan buat Fic baru mengingat ide besar mulai merembes diotak saya?
Oh ya~ Promosi bentar yaa! Jangan lupa untuk baca Fic baru saya di Fandom Naruto dengan pairing Naruto x Naruko, Lihat di Bio saya biar mudah [Hehehe] rencananya pengen dibuat Sekuel tapi saya belum bisa janji kapan di publish :D
- [Balasan Review]
[Dhany Dhacil] ::Ah~ Romance ya? Mungkin kali ini yang nyesek-nyesek dulu :v
[Yellow Flash115] ::Mungkin akan terjawab di Chapter depan dan soal itu, Pairing Naruto tetap Kurumi kok! Cuma saya buat sedikit masalah diantara mereka, yang jelas akan ada Scene Romance yang manis-manis antara Naruto dan Kurumi nantinya!
[Fahzi Luchifer] ::Ah~ Gak nyangka kalo kamu suka sama Humor kacangan saya :v
Ini udah diupdate kok! Dan ya semoga puasa kamu lancar juga! Saya doakan kamu yang terbaik deh!
[Mr Uzumaki 22] ::yah, saya memang gak bisa diajak konsisten jika berkaitan tentang jadwal Update :v
Yah, saya maklum kok karena saya sendiri merasa begitu, dan soal dia balik ke DxD. Ini dia udah balik kok! Dan saran kamu akan saya pertimbangkan lagi! Sankyuu atas sarannya!
[Tsukasa] :: Douitta, semoga puasa kamu juga lancar dan diterima!
Itu masih rahasia saya, tapi kedepannya mungkin ada yang menarik, jadi jangan bosen nungguinnya yaa!
Sankyuu atas doanya, saya doakan kamu sehat selalu!
[Shinachiku] ::eh? Kok tahu kamu kalau saya mau nikahin si Lyla di Game Harvest Moon? Kamu dukun yaa? :v
Entahlah, tapi suatu saat dia bakal Show-off kekuatannya kok, tapi saya gak bisa ngasih tau di Chapter keberapa
[DAMARWULAN] ::memangnya FB kamu kenapa?
[Semangat45] ::Yap! Tebakanmu benar! Tapi kamu gak dapat hadiah dari saya!
[TsukiNoCandra] ::Oke! Saya tahu kalau saya salah, saya mengakui semua kesalahan saya entah itu dari segi tulisan, gaya bahasa, ataupun hal-hal yang bersangkutan lainnya
Etto... bingung mau nulis apa, tapi intinya saya malas nyari masalah sama Author sepertimu, gak bakal selesai urusannya dan hanya akan berakhir dengan perselisihan panjang
Intinya kalo kamu gak suka? Ya gak usah baca, mudah bukan? kamu juga boleh unfollow Fic ini tanpa persetujuan saya kalo kamu memang bener-bener gak suka. Semuanya terserah padamu -_-
[Wirayudaj] :: Yah, memang kenyataannya begitu sih :v
Dan untuk yang Review Lanjut dan Next atau semacamnya, ini udah diupdate kok! Dan maaf untuk Review yang gak saya balas :D
Akhir kata, salam dan sampai jumpa di pertemuan berikutnya!
Selamat menjalankan ibadah Puasa! Minal Aidzin wal Faidzin! Mohon maaf lahir dan batin! [Lebaran bentar lagi kan?]
Bye Bee~!
- Sign : [Kurosaki Kitahara]
