"Ah~! Jangan dekat-dekat denganku Ophis!"

Malam itu angin berdesir dengan kencang, suasana kelam khas gelapnya malam seakan menjadi pemandangan tersendiri di mata biru dan hitam mereka berdua, cahaya sang rembulan seakan menjadi satu-satunya penerangan bagi mereka yang kini tengah asik disana

Tunggu dulu! Mereka sedang apa?

"Huh? Memangnya kenapa kalau aku dekat denganmu?"

Mengganti keadaan yang sesungguhnya, memperlihatkan seorang gadis bertubuh kecil khas Loli dengan balutan Dress Gothic Lolita berwarna hitam yang membuatnya terlihat imut nan menggemaskan yang membuat siapa saja ingin membawanya pulang sebagai pajangan dirumah

Di sisi lain, terlihat seorang remaja tulen bersurai pirang yang tengah duduk bersandar di batang pohon, kedua tangannya yang bergetar dengan wajahnya yang agak memerah menandakan bahwa ia kini sedang dilanda rasa malu

Keadaan macam apa ini?

"Bu-bukan itu maksudku Bego!"

Remaja pirang itu kini berjengit kaget dengan sedikit sensasi merinding saat gadis Loli itu memaksa dan bersandar di dada bidangnya, membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari yang sebelumnya dengan wajah yang memerah seperti kepiting yang baru saja direbus matang

"Ne.. Uzuki?"

"E-Eh? O-Ophis?!"

Uzumaki Naruto – remaja yang kini menjadi sandaran Ophis si gadis Loli, hanya bisa meneguk ludahnya dengan kasar saat Ophis kini agak berubah menjadi agresif ketika tangannya mencoba mengelus lembut pipi Naruto dengan jemari mungilnya dengan senyum yang terlihat agak polos

Apaan ini? Apa ini musim kawin bagi bangsa Naga?!

Jika memang benar, Naruto pasti sudah menolaknya terlebih dahulu! Dia tidak mau menikah dengan seorang Naga!, terlebih lagi Naga itu kini berevolusi menjadi gadis Loli yang menggemaskan!

Mau jadi apa ia jika dia benar-benar menikah dengan seekor Naga? Dan yang paling dikhawatirkannya jika itu terjadi adalah anaknya! –

- Ya itu benar! Bagaimana wujud anaknya nanti jika ia benar-benar berhubungan dengan seekor Naga?

"Peluk aku~ Aku kedinginan tahu!"

Mata membulat dengan wajah yang memerah sempurna. Naruto menjadi salah tingkah sekarang dan bingung harus berbuat apa, memeluknya katanya?

Yang benar saja!

Ia tidak ingin orang-orang melihatnya tengah memeluk seorang gadis Loli dan dicap sebagai Lolicon sejati, lagipula siapa yang suruh memakai Dress Gothic Lolita yang terbuka semacam itu?

Lagipula belakangan kabarnya para Lolicon tengah dilanda rasa khawatir karena disamakan dengan Pedofhilia – dan karena itulah Naruto tidak ingin dipandang sebagai Lolicon, dia juga bukan seorang Pedo!

Atau dengan kata lain, dia masih ingin menjadi Normal!

"A-Aku tidak mau!"

"Hah? Kenapa tidak mau?! Aku kedinginan Baka!"

"O-Ophis! Jangan memaksaku!"

Oke! Keadaannya berubah sekarang, dengan Ophis yang memaksa kedua tangan Naruto untuk melingkar di perutnya sementara Naruto yang kini mati-matian menolak permintaan Bodoh dari sesosok Naga Loli yang kini tengah memaksanya itu

Sebenarnya, Mereka kenapa sih?

"O-Ophis! Jangan memaksa lenganku untuk memelukmu!"

"Sudah kubilang aku kedinginan Baka!"

"T-Tapi aku tak mau memelukmu Bego!"

"Uzukiii~!"

"Ophis! Jangan tarik lenganku!"

*Pluuk!*

.

.

Ah~ kedua tangan Naruto kini salah pegang, yang seharusnya melingkar di perut Ophis malah mendarat di kedua dada datar milik Ophis – Si gadis Loli yang ngebet pengen dipeluk

"O-Ophis, A-Aku tak se-"

"..."

"He-Hentai~!"

*Duaaaagg!*

::

::

::

::


[ New Line! ]

:: Disclaimer – This is purely Fanfiction. Made only to entertain for those who read ::

:: Rating – M for Some Reason ::

:: Genre – Adventure, Supernatural, Comedy[?], Romance ::

:: Warning - OOC[!], AU, Typo[!], Miss-Typo, EYD yang perlu dibenahi dan lainnya ::


::

::


[ Chapter #28 ]

- Ophis, dan pertemuan tiga fraksi –


::

::

::

::

"Hentai! Aho! Baka!"

Sekarang keadaannya berubah dari yang sebelumnya. Dimana Naruto yang sebelumnya terkapar karena pukulan Ophis kini tengah duduk berlutut didepan Ophis yang berdiri didepannya

Sedangkan Ophis? Dia kini berdiri didepan Naruto sambil berkacak pinggang dengan mata hitam kelamnya yang menatap tajam wajah Naruto, dan samar-samar dikedua pipinya ada sedikit semburat merah

"Go-Gomen Ophis, aku tak sengaja"

Ucap Naruto sambil menunduk tak berani menatap wajah Ophis yang terlihat marah dimatanya, namun meskipun begitu, raut wajahnya terlihat imut dimata para Lolicon

Yah, sebenarnya ini salahnya Ophis. Naga Loli itulah yang memaksanya untuk melingkarkan lengan Naruto diperutnya yang berakhir dengan Naruto yang secara tak sengaja memegang dada ratanya. Tapi entah kenapa, sekarang malah Naruto yang menjadi penyebabnya dan seolah Ophis lah yang menjadi korbannya

Mungkin inilah yang disebut dengan Perempuan selalu menang!

"Tak sengaja katamu?! Kau memegang dadaku tahu!"

"Go-Gomennasai!"

"Aku tak akan memaafkanmu dengan sebegitu mudahnya!"

"Kalau begitu bagaimana caraku meminta maaf padamu Hah?! Apa kau juga akan memegang dadaku begitu?!"

Ophis langsung mundur beberapa langkah saat mendengar pernyataan Naruto yang membuatnya jijik. Sedangkan Naruto kini menjadi sedikit agak kesal saat Ophis yang tak mau menerima maafnya dan mundur seolah mau menghindarinya

Apaan ini?

"Untuk apa aku memegang dadamu Baka! Dada perempuan dan Dada laki-laki itu berbeda!"

"Apanya yang beda Bego~! Aku juga punya Puting sama seperti para Perempuan!, hanya saja punyaku tidak bisa membesar dan tidak mengeluarkan susu!"

"A-Apa yang kau pikirkan Bodoh! dan jangan membuka bajumu didepanku Bakaa!"

Wajah Ophis memerah sempurna dengan kedua tangan yang menutupi pandangan matanya saat Naruto membuka bajunya dan memperlihatkan dada bidangnya ditengah gelapnya malam dengan sinar rembulan yang menjadi satu-satunya penerangan disana

Keadaan Absurd macam apa ini?

"Kalau kau tidak mau memaafkan aku-"

"-Cepatlah pegang dadaku dan dan kita impas!"

"..."

"Aaarrggh! Uzuki no Bakaa!"

*Duaaag!*

Yah, Kadang Naruto berpikir bahwa Menjadi laki-laki itu sedikit merepotkan, ayolah! Dia hanya ingin masalahnya impas dengan keduanya saling memegang dada masing-masing, tapi apa yang dia dapat? Dia hanya mendapatkan tendangan Ophis yang bersarang diwajahnya

Ah~ Lelaki memang selalu salah...

.

.

.

.

.

.

.

"Huft..."

Helaan nafas panjang terdengar begitu halus di telinga seorang gadis bersurai ungu yang kini tengah duduk disofa ruang tengah apartemen yang hanya berjarak sekitar 700 Meter dari Kuoh Academy – sekolah yang memiliki siswa hampir sebagian diisi oleh kaum hawa

Lampu diruangan itu masih menyala – namun keadaannya begitu sunyi dan sepi, meja kecil yang diatasnya ada dua buah mug berisi kopi hangat pun perlahan menjadi dingin – sama halnya udara disana yang perlahan tapi pasti menjadi lebih dingin dari yang sebelumnya

"Vali-kun?"

Kamishiro Rize – sosok gadis berkacamata dengan rambut ungunya yang tergerai bebas dengan indahnya itu membuka suara – memanggil nama seorang remaja berambut perak yang duduk disofa tepat diseberangnya

Meski terlihat tenang, namun ia cukup khawatir terhadap sosok yang menyandang gelar Hakuryuukou itu. Bukan tanpa alasan, Kehilangan Naruto sebelumnya membuat dirinya tidak ada gairah sama sekali

Dan sekarang setelah kembali bertemu dengan si pirang itu? Naruto malah mencoba merubah pandangannya terhadap Vali!

Jika ada yang ingin disalahkan – maka tak ada yang pantas untuk disalahkan sama sekali. Namun semuanya tidak akan seperti ini jika Naruto tidak terlalu sensitif terhadap Vali hanya karena Kurumi

Mereka teman bukan?

Begitu juga dengan Vali. Dia benar-benar bingung sekarang bagaimana caranya untuk membujuk Naruto untuk pulang ke apartemen jika keadaannya seperti ini

Lagipula...

Ia – bukan, lebih tepatnya mereka bertiga – Vali, Rize, Kurumi – tidak akan pernah bisa tinggal dalam satu apartemen ini jika bukan karena keberadaan Naruto!

"Hm?"

Jawaban dari Vali membuat Rize merasa sedikit kecewa, bahkan Vali pun enggan untuk mengalihkan perhatiannya dan tetap setia menunduk – menatap lantai dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak bagaimana mengingat surai peraknya kini benar-benar menutupi semuanya

"Apa semua ini begitu berat untukmu?"

"..."

"Entahlah, hanya saja semua ini membuat kepalaku pusing"

Rize terdiam dengan wajah yang termenung ketika mendapati balasan yang kurang enak dari Vali. Semua yang terjadi sebelumnya memang hanya membuat kepala pusing untuk diingat kembali –

- Terutama bagi Vali. Dia benar-benar bingung apa yang akan dilakukannya mulai dari sekarang...

Uzumaki Naruto – nama itu terus berputar-putar tanpa henti dikepalanya, membuat semua beban serasa bertambah berat dan tentunya membuat dia merasa pusing

Bukan maksud untuk menyalahkan Naruto – hanya saja ia berpikir bahwa Naruto memiliki perasaan yang terlalu sensitif dan sedikit keras kepala

Ayolah! Dia hanya mencoba memahami apa yang diinginkan Kurumi namun si pirang itu malah salah paham!

Oke! Vali tahu bahwa Naruto memang memiliki perasaan terhadap Kurumi – ia lebih tahu itu bahkan dari siapapun, bahkan ia saja tak menyangka si pirang bego yang selalu bisa membuat keadaan disekitarnya rusak itu bisa memiliki rasa tertarik terhadap lawan jenis

Namun kenapa Naruto bisa mempunyai pikiran salah paham seperti itu terhadap Kurumi dan dirinya?

Oh Ayolah! Vali tak ada niat sedikitpun untuk membangun kerajaan Harem – mengumpulkan gadis-gadis cantik dan dipaksa untuk mencintai itu bukanlah hal yang dia inginkan. Dia hanya ingin ada sesosok yang selalu ada disampingnya macam Rize

"Vali-kun tenanglah, setidaknya kau bisa meminum kopimu dulu..."

"..."

"Huh... aku bingung bagaimana aku berhadapan dengan Naruto jika aku bertemu dengannya nanti"

.

.

.

'Uzumaki Naruto...'

.

.

.

'Apa kau tahu bahwa apa yang kau pikirkan itu hanya kesalah pahaman semata?'

.

.

.

::

::

::

::

Tak terasa hari yang awalnya gelap gulita kini menjadi kembali cerah berkat matahari yang mulai muncul dari timur, kicauan burung yang merdu mewarnai awal yang indah seiring dengan hembusang angin yang membawa dedaunan hijau terbang mengangkasa

"Yare-yare..."

Disebuah tempat yang entah dimana, terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan yukata berwarna hitam menatap malas sosok remaja pirang yang tertidur bersandar di pohon tepat didepannya, juga sosok gadis Loli nan manis yang juga ikut tidur bersandar di dada bidang sang remaja pirang dengan kedua tangan yang melingkar di perut gadis manis itu

"Oii Naruto, Bangun~"

Mencoba menunduk, Azazel – si pria paruh baya itu menyentuh pelan wajah Naruto dengan jari telunjuknya mencoba menganggu tidurnya yang kelihatan begitu nyenyak

"Uh..."

DI sisi lain, Naruto – si remaja pirang yang tertidur itu kini perlahan membuka matanya, masih ada rasa kantuk pada dirinya namun sentuhan pelan pada wajahnya seakan membuatnya terbangun

Mengabur, ekpresinya kini menjadi datar ketika pandangan matanya benar-benar jelas mendapati sosok pria paruh baya yang tersenyum padanya, surai hitam dengan pony yang berwarna pirang itu seakan mengganggu penglihatannya

"Yo! Lama tak jumpa!"

"Azazel? –" Naruto hanya menanggapinya dengan nada yang cukup bosan "- Mengapa kau ada disini?"

"Oh Ayolah! Apa kau tidak rindu padaku? –"

"- Dan bagaimana kau bisa bersama si naga Loli ini?"

Itu memang pertanyaan yang wajar sih, lagipula bisa-bisanya Naruto tidur di tempat seperti ini dengan gadis mungil jelmaan naga. Andai jika ada orang lain melihat Naruto maka bisa dipastikan ia akan dilaporkan ke polisi dengan laporan -

- Ada seorang Lolicon yang menculik gadis Loli!

"Cho-Chotto Matte Azazel! –" Naruto kini terlihat sedikit berekspresi dari yang sebelumnya "- Kau tidak menganggapku sebagai Lolicon atau semacamnya kan?!"

Wajah Naruto berkeringat dingin, pasalnya kini Azazel menatapnya dengan senyuman yang sedikit agak menjijikkan dipandangannya – senyuman tulus yang seolah ada hal yang bersembunyi didalamnya

"Tidak kok! Hanya saja –"

"- Kau tidak melakukan apapun padanya kan? Kau tidak menodainya kan? Bagaimana jika kau mempunyai bayi Naga nantinya?"

.

.

.

"Oii Nyet! Aku belum siap untuk memiliki seorang anak!"

Urat kekesalan muncul dipelipis Naruto. Wajar sih baginya untuk marah ketika Azazel memberikan pertanyaan mesum padanya, dan apaan Menodainya? Dada Rata milik gadis Loli yang bisa kita sebut dengan nama Ophis itu saja tak membuat Naruto bergairah sama sekali!

Lagipula gadis Loli macam Ophis bukan untuk dilecehkan menurut Naruto, namun disayang seperti adik sendiri? Atau hal semacam itu? Naruto masih belum paham tentang itu sih

"Uh~"

Ophis – gadis mungil bersurai hitam yang tertidur di dada bidang Naruto itu mulai bangun akibat suara Naruto yang begitu terdengar keras ditelinganya, kelopak matanya perlahan terbuka menampilkan manik berwarna putih-keabuan yang begitu menggemaskan

"Uzuki..."

Naruto tersenyum pelan saat wajah Ophis terlihat begitu polos ketika terbangun dari tidurnya, ia masih tidak menyangka Naga Betina yang bersandar padanya itu bisa semanis itu mengingat tingkahnya semalam cukup menjengkelkan baginya

Di lain sisi, Azazel hanya bisa tersenyum simpul dengan perasaan yang cukup was-was dibanding Naruto, bukan tanpa alasan kenapa ia bisa begitu. Hanya saja ia merasa Naruto tak akan percaya bahwa gadis manis yang bersandar padanya itu merupakan sosok yang ditakuti oleh tiga Fraksi sekaligus

"Naruto, kau yakin ini tak apa-apa? Keberadaannya sangat membahayakan disini kau tahu?"

"Tenang saja, dia sudah jinak padaku kok!"

Azazel hanya bisa Sweatdropped ditempat. Entah ia yang bodoh atau Naruto yang tak pandai merangkai kata tapi keberadaan Ophis disini membuatnya sedikit merasa khawatir

Mungkin untuk orang yang tidak tahu apapun ketika melihat Ophis untuk pertama kali – mereka akan berpikiran bahwa Ophis adalah gadis mungil yang manis dengan kostum Dress Gothic Lolita yang ia kenakan

Namun bagaimana dengan tiga Fraksi? Keberadaan Ophis cukup membahayakan bagi mereka dan itu bukanlah omong kosong, Ophis yang dikenal sebagai Ouroboros Dragon – Naga tak terbatas itu memiliki kekuatan yang luar biasa yang bahkan mampu menandingi atau mungkin melebihi Great Red –

- dan itulah alasan mereka mengapa mereka begitu khawatir dengan keberadaan Ophis!

"Kau? Azazel?"

"Yo! Ophis, lama tak bertemu! Apa kau begitu nyaman dipeluk Naruto seperti itu?"

"Huh?"

Naruto – si pirang bego itu ternyata masih tak sadar bahwa kedua tangannya melingkar di perut Ophis, sedangkan Ophis yang baru sadar ketika Azazel memberitahunya hanya bisa terkejut dengan wajah yang sedikit memerah

"U-Uzuki! Lepaskan aku Hentai!"

"I-Iya ini aku lepaskan!"

"Uzuki no Hentai!"

"Oii Ophis! Jangan kau pukul aku-"

*Duaaagg!*

.

.

.

.

"Kau kelewatan Ophis, bukankah kau yang menyuruhku untuk memelukmu semalam?"

Dan kini keadaannya berubah, Naruto yang sebelumnya mendapatkan pukulan keras dari Ophis kini berlutut didepan Ophis yang berdiri sambil berkacak pinggang didepannya, raut wajahnya terlihat kesal

"Aku bukan menyuruhmu untuk terus memelukku Aho! Aku kedinginan karena pakaianku ini"

Ucap Ophis dengan kedua tangan yang memegang pakaian Dress Gothic Lolita yang ia kenakan – mungkin agak terbuka namun begitulah pakaian yang ia kenakan

Disamping itu, Azazel kembali Sweatdrop. Ia bingung ada hubungan apa antara dua makhluk berbeda jenis didepannya ini? Yang satu remaja pirang yang cukup bego untuk menyadari keadaan disekitarnya, Sedangkan yang kedua sosok Ouroboros Dragon yang memiliki sisi lain yang cukup untuk membuatnya tersenyum

"Haaah! Lain kali akan kubelikan pakaian yang normal untukmu! Aku bosan dipukuli terus olehmu"

"Memangnya mudah mencari pakaian untukku?"

"Itu mudah, kita hanya perlu mampir ke toko baju anak-anak untuk mencari pakaianmu"

"A-Apa katamu?! Kau pikir aku ini anak-anak Huh?!"

.

.

.

.

"Etto... apa kalian melupakanku disini?"

Perhatian Naruto dan Ophis dengan cepat teralihkan ketika Azazel membuka suara. Ia memang tidak tahu apa hubungan antara mereka hanya saja ia merasa diabaikan disini dan itu sedikit membuatnya kesal

"A-ah Gomen Azazel, aku melupakanmu"

Ucap Naruto dengan tawa pelan, tangan kanannya tak lupa menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal sama sekali. Berbeda dengan Ophis yang hanya menatap Azazel dengan tatapan datar seolah tak tertarik sama sekali pada Gubernur Datenshi itu

"Azazel –" Kini giliran Ophis yang membuka suara "- Sebenarnya untuk apa kau datang kesini?"

"Tenanglah, aku hanya perlu bicara pada Uzuki-mu itu kok"

Seketika Ophis menoleh kearah Naruto saat Azazel berkata bahwa ia ada urusan dengan Naruto, sedangkan Naruto sendiri hanya bisa menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang terlihat bodoh

"Aku? Apa yang ingin kau bicarakan padaku Azazel?"

"Ada yang ingin kukatakan padamu Naruto, dan itu adalah...."

::

::

::

::

"Kau sekolah bukan? Kurumi-chan?"

Nada suara yang terdengar cukup khawatir itu terdengar jelas oleh Vali, sorot matanya tertuju pada seorang gadis bersurai ungu yang tengah mengetuk pelan sebuah pintu yang dikunci dari dalam

Kamishiro Rize – gadis bersurai pirang itu mengetuk pintu yang dikunci didepannya bukan tanpa alasan, rasa khawatir yang menyeruak didalam dirinya seakan meracuni dirinya sendiri yang tak bisa membujuk teman seapartemennya itu agar mau sekolah, atau setidaknya keluar dari kamar

Ia tahu, sejak kejadian kemarin Kurumi enggan untuk keluar dari kamarnya walau sesekali ia keluar hanya untuk ke toilet atau hanya mengambil beberapa makanan saja. Ia enggan untuk berbicara dengan Vali ataupun dengan dirinya sekedar untuk mengatakan apa yang sedang dirasakannya

"Kurumi-chan, kami berjanji akan membawa Naruto no Baka itu kembali, namun setidaknya keluarlah dari kamarmu"

Kalimat persuasif itu kembali terucap, mencoba merayu sang gadis yang menutupi dirinya didalam kamar itu untuk keluar, namun apa daya? Berharap untuk mengajaknya keluar kamar namun satupun tanggapan tak terdengar

"Rize..." Vali kini membuka suara, memanggil Rize yang masih setia berdiri didepan pintu itu "- Kurasa pilihan terbaik biarkan dia sendiri dahulu"

"Ta-Tapi Vali-kun!"

"Sudahlah, apa kau tidak ingin berangkat ke sekolah sekarang?"

Rize menghela nafas, ia benar-benar menyerah sekarang dan lebih menuruti apa yang dikatakan Vali. Mungkin yang dikatakan Vali benar bahwa Kurumi butuh waktu untuk sendirian tanpa ada yang mengganggunya, lagipula –

- Bagaimana ia tidak sedih ketika sosok yang menjadi Cahaya baginya telah pergi?

"Kurumi-chan! aku menyimpan beberapa makanan di meja, jadi makanlah!"

Vali hanya bisa tersenyum simpul, kadang ia berpikir bahwa ia bersyukur memiliki sosok seperti Rize, ia sangat peduli dengan orang lain bahkan dengan teman seapartemennya pun

*Pluuuk!*

Rize memejamkan matanya sebelah ketika telapak tangan Vali menggapai pucuk kepalanya, mengelusnya pelan dan membuat wajahnya sedikit memerah

"Kau begitu baik Rize, kuharap kau bisa menjaga Kurumi nanti malam..."

"Vali-kun? Apa ada sesuatu?"

"Ada hal yang perlu aku lakukan nanti malam"

"Begitu kah..."

Dan percakapan pendek itupun berakhir ketika Vali membuka pintu apartemen lebar-lebar, keluar dari sana bersama Rize menuju sekolah mereka dan meninggalkan Kurumi sendirian di apartemen. Ada rasa khawatir sih pada gadis yang memiliki iris mata yang berbeda itu, hanya saja mereka berdua pikir bahwa dia butuh waktu untuk sendirian

::

::

::

::

"Kokabiel?"

"Ya Kokabiel! Apa kau berhasil membunuhnya?"

Naruto menundukkan kepalanya membuat Azazel serta Ophis yang berada didepannya sedikit merasa penasaran. Dilempari pertanyaan seperti itu membuatnya sedikit sulit untuk menjawabnya

Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa setelah ia membunuh Kokabiel hidupnya akan semakin rumit seperti ini, yang ia pikirkan saat itu adalah mendapatkan Cincin yang dimiliki Kokabiel yang menjadi satu-satunya kunci menuju dunianya – tempatnya untuk kembali ke tanah kelahirannya

Namun apa? Si Datenshi Sialan itu malah menghilangkannya!

Dan semua rasa kesal yang menyeruak dari dalam tubuhnya seakan memaksa dirinya sendiri untuk membunuh Kokabiel saat itu juga dan berharap dapat kembali pulang mengingat saat itu mereka terjebak di dimensi lain. Dan dikala ia benar-benar kebingungan dengan dunia barunya yang cukup aneh itu, ia tak menyangka bahwa ia benar-benar tidak sendirian –

- dan disitulah ia bertemu dengan Ophis si Ouroboros Dragon untuk pertama kalinya!

"Aku telah membunuhnya dan kau bisa memegang ucapanku -" sejenak Azazel menghela nafas, namun... "- Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu Azazel..."

"Pertanyaan? Kau ingin bertanya padaku tentang apa?"

"Kau tidak sedang mempermainkanku kan?"

Dan pertanyaan yang cukup membingungkan itu meluncur dengan pelan dari bibir Naruto, membuat Azazel yang berada didepannya memasang raut ekspresi yang cukup serius, berbeda dengan Ophis yang seakan tak peduli sama sekali

Naruto tahu, Azazel bukanlah sosok yang suka memanfaatkan orang lain. Sebagai seorang Gubernur yang memimpin langsung para Datenshi bawahannya ia haruslah bijak dalam mengambil sebuah keputusan – tidak asal-asalan dan harus dipertimbangkan terlebih dahulu dari berbagai aspek

Namun ada satu hal yang terus dipikirkan Naruto, apa balasan atau mungkin apa hal yang ia dapatkan setelah membunuh Kokabiel dan menggagalkan rencananya untuk menjadikan Great War Jilid II? Ia benar-benar tidak mengerti hal itu

Karena sebenarnya, Naruto bisa saja tidak ikut campur dalam masalah ini dan tidak menodai namanya sendiri dengan cara tak peduli sama sekali, namun karena ini berhubungan dengan Sacred Gear yang dipakai Kokabiel juga teman seapartemennya – maka mau tak mau ia harus menjalaninya

Namun apa? Sudah lelah bertarung dengan Kokabiel dan bahkan rela mengikuti dan membunuh Kokabiel di dimensi lain, namun Sacred Gear yang ia cari-cari selama ini tak bisa ia dapatkan dan terdampar di dunia lain!

Mungkin jika tidak ada Ophis juga Great Red yang tinggal disana – Naruto mungkin menghabiskan sisa umurnya disana selamanya!

Begitu juga dengan Kurumi yang saat itu diculik oleh Urushihara namun nyatanya adalah Rize yang menjadi kesalahan targetnya, ia menyelamatkannya bersama Vali namun apa yang ia dapatkan?

Semua hal yang telah ia lakukan seolah semata-mata hanya untuk menyelesaikan masalah yang sama sekali tak berkaitan dengan dirinya!

Dan lebih dari itu – ketika ia akhirnya kembali ke dimensi ini dan mendapati Vali yang saat itu bersama dengan Kurumi...

Sial! rasanya ingin ia melupakan hal memalukan itu...

"A-Apa yang kau bicarakan Naruto?"

"Lupakan saja pertanyaanku tadi –" Naruto tersenyum kecut, lalu kembali melanjutkan kalimatnya "- Jadi sebenarnya apa yang kau inginkan dariku Azazel?"

"Aku ingin kau datang ke Pertemuan Petinggi Tiga Fraksi yang akan diadakan di Kuoh Academy malam ini"

"Huh?"

Naruto memasang ekspresi bodoh lagi, sempat menatap Ophis seolah bertanya padanya apa yang dimaksud dengan Azazel namun gadis kecil itu hanya bisa tersenyum misterius tanpa berniat untuk memberitahu Naruto sedikitpun

"Pertemuan Tiga Fraksi huh? -" Naruto terlihat tersenyum miring, dan itu tentunya membuat Azazel sedikit agak ragu "- sudah cukup bagiku untuk difitnah Rias dan yang lainnya selaku Fraksi Iblis karena dianggap menjadi sekutu musuh sebelumnya, kau mau mempermalukanku didepan mereka Azazel?"

"Kenapa kau berpikir sejauh itu? Aku hanya ingin kau menjadi saksi bahwa kau telah membunuh Kokabiel sebagai akar dari masalahnya, dengan begitu kau bisa membantah mereka yang memfitnahmu itu bukan?"

Menjadi Saksi Heh...?

Naruto tersenyum kecut, tak ada rasa tertarik sedikitpun ketika Azazel memberikan penawaran yang cukup menarik baginya, bahkan sorot matanya kini menatap kearah lain dan enggan untuk menatap Azazel secara langsung

Membantah mereka yang memfitnahmu?

Kalimat pendek itu seakan menampar Naruto sendiri. Oh ayolah! Mereka semua itu Iblis dan setidaknya kau tahu bagaimana sifat asli mereka yang sebenarnya! Jadi bagaimana bisa mereka percaya jika Naruto telah membunuh Kokabiel dan apa hal yang bisa ia jadikan bukti yang kuat?

Yang ada malah mereka mengira Naruto berbohong!

Andai jika noda darah Kokabiel masih melekat pada kedua tangannya, mungkin itu bisa menjadi bukti yang kuat – tapi yah... semuanya telah hilang

Namun entahlah, yang Naruto inginkan sekarang hanyalah bebas dari masalah yang selalu menimpa dirinya. Ia lelah untuk selalu menyelesaikan masalah orang lain sedangkan masalahnya sendiri belumlah selesai

.

.

.

.

"Kurasa itu sudah cukup Azazel!"

Naruto dan juga Azazel menoleh kearah Ophis ketika ia berbicara dengan nada yang cukup lantang, mereka tahu bahwa sebelumnya Ophis memang sedari tadi terdiam tanpa ada niat sedikitpun untuk mencampuri urusan mereka, namun melihat raut wajahnya kini –

- mereka jadi agak ragu padanya...

*Pluuk!*

"Ophis?"

Alis Naruto terangkat sebelah dengan raut wajah yang cukup penasaran, pasalnya kini Ophis benar-benar berada didepannya sembari memeluknya erat seolah naga loli itu benar-benar tak ingin menyerahkan dirinya pada Azazel

"Aku tak tahu apa yang kau inginkan, namun hanya aku yang boleh memanfaatkan Uzuki!"

*Twitch!*

Urat kekesalan muncul di pelipis Naruto ketika Ophis dengan seenak jidatnya mengatakan bahwa hanya dirinya yang boleh memanfaatkannya. Entah apa yang dimaksud Ophis namun Naruto rasa Ophis salah memakai kata yang tepat

"Oii Ophis! Apa yang kau katakan barusan?"

"Hah? Tentu saja hanya aku yang boleh memanfaatkanmu! Itu hak-ku tahu!"

"Haaah?!"

Melihat hubungan keduanya membuat Azazel tersenyum simpul. Entah Azazel tak tahu apa yang Naruto lakukan terhadap Ophis hingga membuat Naga tak terbatas yang ditakuti itu menjadi seperti ini sekarang – yang menurut Naruto jinak katanya

"Maa Maa~ sudahlah, tolong pikirkan lagi tentang ajakanku Naruto, sebaiknya aku pergi dulu –"

"Tunggu Azazel!"

Baru saja membalikkan badannya dengan maksud untuk pergi meninggalkan dua sosok yang berbeda jenis dan berbeda gender itu, tubuhnya terdiam ketika suara Naruto memanggil namanya dari belakang

"Ada yang ingin aku tanyakan padamu sebelumnya..."

"Silahkan selagi aku bisa menjawabnya"

"Etto –" Naruto menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal sama sekali sembari berpikir dengan cukup keras "- Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini, dan kau mengenal Ophis sebelumnya?"

"..."

"Aku dulu memang pernah bertarung dengan Ophis walau aku kalah pada akhirnya -" ucap Azazel membuat Naruto menatap Ophis yang melepaskan pelukannya dan berdiri disampingnya - dan apa yang dikatakan Azazel dibenarkan oleh anggukan kecil dari Ophis

"- dan tentangmu? Anggap saja aku kebetulan menemukanmu!"

"Hah?!"

Azazel tertawa pelan ketika mendapat respon dari Naruto, kakinya perlahan melangkah namun saat ketika ia teringat akan sesuatu, ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik kearah Naruto, tentu saja itu membuat Naruto dan Ophis penasaran

"Oh ya Naruto! Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu"

"Apa itu? –" Naruto menjadi sedikit penasaran. Bukan tanpa alasan mengapa ia sedikit tertarik dengan apa yang ingin ditanyakan Azazel, hanya saja terkadang Gubernur Datenshi miskin itu terkadang memberikannya pertanyaan yang berakhir dengan penawaran

"- Kau tidak menanyakan hal aneh tentangku bukan? terlebih jika kau menanyakan hal aneh tentang diriku dengan Ophis" lanjut Naruto sambil sedikit melirik kearah Ophis, dan tentunya mendapatkan tatapan yang cukup tajam dari gadis kecil itu

"Tidak kok! Aku hanya ingin bertanya apa kau ingin pergi ke sekolah? Sekarang ini hari peninjauan kelas loh, hitung-hitung kau bisa mengobservasi sekolahmu sendiri mengingat nanti malam akan diadakan pertemuan penting disana, yah jika kau mau pergi kesana sih"

Ke sekolah... katanya?

Apa yang dipikirkan Azazel? Disana adalah tempat pertemuan antara petinggi tiga Fraksi bukan? pastinya sekolah itu – Kuoh Academy diberi penjagaan yang ketat –

- lebih-lebih, dia sendiri adalah orang yang dicurigai sebagai musuh oleh Rias dan Peeragenya selaku dari fraksi Iblis!

Dan apa itu? Peninjauan Kelas? Bukannya peninjauan kelas diharuskan seorang wali dari siswa yang bersangkutan untuk datang ke sekolah?

Azazel sedang mengejeknya?

"Ophis..."

"Turuti saja apa yang kau inginkan sebenarnya, lagipula mudah bagiku untuk menemukanmu jika kau pergi entah itu kemanapun"

Naruto hanya bisa menghela nafas lelah ketika mendapatkan respon dari Ophis. Memang benar apa yang dikatakan Ophis – dia harus jujur pada dirinya sendiri, terlebih ini menyangkut tentang dirinya yang dicurigai sebagai musuh

"Azazel –" Pandangan matanya kini beralih kearah Azazel yang masih setia menunggu jawabannya "- Kau menanyakan hal itu padaku bukan karena ada sesuatu yang buruk nantinya bukan?"

"Entahlah, siapa yang tahu?"

"Cih! Aku benci senyummu itu Azazel!"

.

.

.

'Jadi? Bagaimana selanjutnya?'

.

.

.

'Aku akan menghubungimu nanti...'

.

.

.

Dan latar kembali berganti. Kini menampilkan sebuah sekolah yang cukup luas dengan gedung utama yang cukup besar – tentunya, siswa yang mayoritas perempuan, juga para siswa maupun siswa yang terlihat begitu ramai di halaman sekolah

Hari ini adalah hari Peninjauan kelas – Hari dimana sosok orang tua bisa datang ke sekolah untuk melihat anak kesayangan mereka tengah belajar mencuri ilmu dari guru yang mengajar mereka

Namun apa itu menyenangkan?

"Sial! Aku benar-benar mencari mati disini!"

Dari sudut pandang yang berbeda, terlihat seorang remaja yang memang merupakan siswa dari sekolah itu tengah berdiri di pagar pembatas atap sekolah, telapak tangannya terlihat meremas kopi kaleng di genggamannya seiring dengan ekspresi yang cukup khawatir

Uzumaki Naruto – sebelumnya dia memakai Henge untuk merubah penampilannya supaya tidak banyak orang yang tahu siapa dia – kini menatap lurus ke bawah tepat di halaman sekolah

Yah, dia memang khawatir sih...

Bagaimana tidak? didepan matanya kini terlihat sosok Rias dengan gerombolannya serta satu sosok pria paruh baya bersurai merah panjang yang ia duga adalah kakaknya Rias yang seorang Maou Lucifer, di sisi lain ia melihat Vali yang tengah berjalan bersama Rize disebelahnya – mungkin? Namun ia rasa Vali agak menghindar dari Maou Lucifer itu melihat sorot matanya terkadang melirik kearah kakaknya Rias

Dan meski ia berhasil menekan auranya hingga mencapai titik terendah sekalipun – ia tak yakin bisa menyembunyikan keberadaannya dari makhluk kuat macam Maou Lucifer dan Vali - mereka pasti menyadari keberadaannya namun mungkin mereka tak mengenalinya mengingat saat ini Naruto menggunakan Henge untuk merubah penampilan

"..."

Disisi lain, Naruto hanya bisa menatap Vali dari kejauhan dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, semua ingatannya dimalam itu seakan berputar dikepalanya dan membuatnya pusing hanya karena memikirkannya

Lagipula...

Apa setelah kepergiannya? Mereka berdua – Vali dan Rias serta Peeragenya – menjadi sedikit lebih akur dari yang sebelumnya?

"..."

Raut wajah Naruto kini benar-benar tertutupi rambut pirangnya namun meski begitu – ada sedikit senyum pilu yang sedikit terlihat, genggaman pada kopi kaleng ditangannya yang awalnya mengeras kini melemas

Memutar balik badannya, Naruto berjalan pergi dari sana. Tak ada lagi niat untuk sekedar melihat para siswa yang masih berada dihalam sekolah itu

.

.

.

"Lucunya..."

.

.

.

'Disaat seperti ini aku malah rindu pada Konoha...'

.

.

.

.

"Jadi, apa yang kau inginkan Azazel? -"

Di lain tempat yaitu disebuah sungai yang mengalir dibawah jembatan. Terlihat sosok Azazel yang duduk bersila di sana dengan sosok Ophis – Gadis Loli jelemaan naga yang berdiri sambil berkacak pinggang didepannya

"- Kau datang bukan untuk mengajak berkelahi bukan?"

Azazel tertawa pelan. Awalnya ia tak percaya bahwa Ophis – si Ouroboros Dragon yang dulu ia kenal sebagai sosok yang jauh lebih kuat diatasnya dan sedikit pendiam kini berubah menjadi seperti ini

Terkadang Azazel berpikir bahwa Naruto benar-benar membawa dampak buruk pada sekelilingnya!

"Candaanmu terlalu serius Ophis, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu -"

Ophis terlihat sedikit penasaran ketika Azazel menyimpan senyum simpul diwajahnya, meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya – ia tahu bahwa Azazel bisa menduganya

"- Jika Bawahanmu berulah, tolong jangan ikut campur di Pertemuan nanti"

"Kau berlebihan Azazel, Aku tidak punya bawahan satupun sejak saat itu. Kau bisa tanyakan pada Uzuki jika kau mau"

Ophis perlahan duduk berjongkok dipinggir sungai itu, tangan mungilnya perlahan memainkan air yang cukup bening dan bersih – tempat hidup yang pas untuk para ikan yang sering dipancing Azazel

"Uzuki? Maksudmu Naruto kan?Kenapa kau lebih percaya padanya?"

Ini cukup membuat Azazel merasa penasaran. Uzumaki Naruto – entah ia tidak tahu apa yang telah Naruto lakukan pada Ophis sebelumnya, namun Ophis yang seperti ini benar-benar berbeda dengan Ophis yang pernah ia temui di masa lalu dulu

"Aku lebih percaya padanya, karena Khaos Brigade hanya tinggal nama bagiku..."

"So-Souka..."

Azazel terdiam, pandangannya terhenti ketika Ophis melemparkan batu kecil kearah tengah sungai itu, alhasil terlihat percikan air akibat batu yang bertabrakan langsung dengan air yang mengalir itu

Khaos Brigade – Azazel memang pernah mendengar namanya dari Shemhaza. Sebuah organisasi dengan anggota yang merupakan sosok berbahaya dari tiga Fraksi dengan Ophis sebagai ketua mereka

Ya! Ophis adalah ketua mereka!

Namun beruntung baginya karena hanya ia dan Shemhaza yang tahu tentang ini – pasalnya, bagaimana reaksi dari kubu Iblis dan Tenshi jika mereka tahu bahwa Ouroboros Dragon yang bahkan ditakuti oleh mereka semua membuat sebuah kelompok yang berisi sosok berbahaya dari kubu mereka sendiri?

Awalnya ia berpikir bahwa Organisasi itu bertujuan untuk menguasai dunia. Namun melihat Ophis seperti ini dengan perkataannya tadi – mungkin ia salah

Azazel tidak tahu pasti, namun ia merasa ada luka lama pada Ophis...

"Khaos Brigade kah? Kenapa tanggapanmu seperti itu pada Organisasi yang bahkan kau buat sendiri?"

"Kau tidak perlu tahu, itu masalahku sendiri..."

Azazel langsung terdiam dengan sedikit keringat dingin di pelipisnya ketika aura kelam keluar dari tubuh mungil Ophis – Oke! itu cukup mengerikan bagi Azazel karena membuat Naga terkuat sepertinya mengeluarkan aura kelam seperti itu hanya dengan pertanyaan yang cukup retoris

Dan lagipula...

Ia tak punya hak untuk mencampuri urusan Ophis dan itu bukanlah tujuannya, cukup Naruto saja yang tahu tentang Ophis yang sekarang, tapi tunggu?!

Apa Naruto tahu bahwa Ophis adalah sosok yang bahkan ditakuti tiga Kubu sekaligus?

"Ada yang ditanyakan lagi? Azazel?"

"Tidak, kurasa cukup sampai disini saja. Jadi bagaimana denganmu?"

Ophis perlahan berdiri sambil menoleh kearah Azazel, raut wajahnya begitu datar dan membuat Azazel menaikkan sebelah alisnya – pertanda penasaran apa yang dipikirkannya

"Aku bisa pergi kemanapun kumau. Dan tentang masalah ini, kau ingin melibatkan Naruto bukan?"

"Ya, untuk kali ini aku butuh bantuannya..."

Azazel mencoba untuk tetap tenang, entah kenapa pembicaraan ini semakin lama semakin berat dan semakin mengarah kepada Naruto – si pirang bego itu

"Kuharap kau tidak macam-macam padanya Azazel –"

"- Karena aku ada disini, aku akan menjamin keselamatannya!"

Dan yah... Azazel tidak akan pernah menyangka sebelumnya bahwa Ophis yang dikenal sebagai naga terkuat mau menjamin keselamatan Naruto – sosok manusia yang memiliki nasib buruk hingga membuanya terbuang ke dimensi ini dan mendapatkan masalah yang begitu rumit

Azazel masih tidak mengerti – apa yang istimewa dari Naruto dimata Ophis?

.

.

.

.

.

.

"Va-Vali-kun..."

Nada kecil itu terasa memantul diruangan bekas gedung sekolah lama itu, suasana yang cukup sunyi meski ada beberapa makhluk yang bisa dibilang cukup banyak disana – lebih dari itu, mereka mengeluarkan aura mereka masing-masing seolah tak ingin ada yang merasa diremehkan sama sekali

Kamishiro Rize – gadis itu kini duduk disofa yang cukup empuk sambil bergelayut di lengan Vali yang juga duduk disebelahnya. Pasalnya, aura yang begitu kuat seolah membuatnya merasa tertekan benar-benar terasa di ruangan ini

Bayangkan saja! Dua sosok yang mewakili Fraksi Tenshi yaitu Irina dan Xenovia, Kelompok Rias juga sang Maou Lucifer – Sirzech Lucifer yang juga berada di ruangan ini. Dan Vali? Ia benar-benar bingung untuk memihak kepada siapa namun kehadirannya disini bersama Rize seakan membuat keadaan disini cukup menegang

"Vali! Kenapa kau datang kesini!"

Si Sekiryuutei – siapa lagi kalau bukan Hyoudou Issei? Kini berteriak memanggil nama dari rival abadinya yang tengah duduk berseberangan dengannya itu. Ekspresi yang tergambar diwajahnya seakan benar-benar terganggu dengan keberadaan Vali

Disisi lain, Rias hanya bisa menghela nafas saat ketika menyadari kelakuan Pawn kesayangannya itu – bukan karena apa, namun Issei kadang terlalu ceroboh pada musuhnya sendiri

"Aku tidak datang kesini jika aku tidak diundang bodoh –"

"- Jadi, apa masalahnya hingga mempertemukan aku dengan dua kubu Fraksi disini?"

"Chotto Matte! Dua Fraksi katamu?"

"- Tentu saja, satu hal yang perlu kau tahu Rias Gremory, aku ini manusia. Memangnya aku sudi mau memihak Akuma? Aku juga bukan bonekanya Azazel kau tahu? Lagipula apa aku diterima oleh para Tenshi jika aku memihak mereka?"

Rias menggigit bibir bawahnya dengan hati yang merasa cukup kesal. Entah kenapa ucapan Vali seakan merendahkannya sebagai Iblis. Dia juga mengaku sebagai Manusia namun setidaknya seorang manusia harus berada dibawah Iblis bukan?

"Dan sekarang, kau berpikir bahwa Manusia sepertiku seharusnya berada dibawah sesosok Iblis sepertimu bukan? Kau terlalu naif untuk adik dari seorang Maou, Rias Gremory –"

"Hakuryuukou..."

Nada suara yang berasal dari sang Maou – Sirzech Lucifer itu seakan menghentikan semuanya, Rias yang sedari tadi kesal sama seperti Issei, Irina dan Xenovia serta yang lainnya yang terdiam membisu ketika sang Maou kini menatap Vali

Dan yah... tekanan dari Sirzech Lucifer seakan membuat Vali tersenyum simpul. Auranya terasa begitu kuat ketika adiknya yang secara tak langsung diremehkan oleh Vali

Jujur! Vali mungkin mau saja jika seandainya dia bertarung dengan sang Maou Lucifer saat ini juga, namun mengingat pertemuan ini bukanlah hal sebodoh itu? Ia rasa ia tak perlu berpikir egois seperti itu

"Pertemuan ini lebih penting ketimbang perkataanmu itu Hakuryuukou..."

"Gomenna-"

"Daripada mendengarkan ucapan Hakuryuukou, setidaknya kau bisa menjelaskan apa maksud pertemuan ini Maou!"

Vali hanya bisa memendam kesal ketika ucapan maafnya dipotong begitu saja oleh Xenovia. Ia tahu Xenovia memang gadis yang selalu To The Point, namun setidaknya ia tidak seenaknya memotong seperti itu bukan?

Di lain sisi, Rias kini hanya bisa menghela nafas pelan, sedangkan semua pandangan para Peeragenya kini tertuju pada Sirzech – menunggu jawaban darinya

"Karena sudah berkumpul seperti ini, jadi kupikir sebaiknya langsung kukatakan saja –"

"- Nanti malam akan diadakan pertemuan besar disekolah ini, jadi kuharap kalian semuanya bersiap-siap terutama kau Hakuryuukou"

"Aku?"

Alis mata Vali terangkat sebelah. Apa ini? Apa ada maksud terselubung dari Sirzech hingga membuat perkataannya itu seolah tertuju pada dirinya? Atau mungkin lebih dari itu?

"Ya, kesaksianmu sangat dibutuhkan nanti mengingat Uzumaki Naruto telah menghilang dan bahkan dicurigai sebagai musuh oleh Rias. Begitu juga dengan kalian semua!"

"Ha'i!" semuanya terlihat mengangguk, kecuali Vali yang masih memandang sang Maou Lucifer itu

"Tapi Maou? Apa kau hanya ingin mengatakan hal seperti itu saja? Tentu tidak bukan?"

"Yah, sebenarnya –"

"..."

"- Aku ingin kalian bersiaga, karena kemungkinan malam ini sepertinya akan ada penyerangan besar-besaran!"

.

.

.

.

.

.

"Jadi? Apa yang akan kulakukan selanjutnya?"

Hari semakin cepat berputar – siang yang terik nan panas pun kini berubah menjadi malam dengan bulan yang menjadi satu-satunya penerang alami bagi bumi. Terasa sunyi sepi tanpa ada suara sedikitpun yang mewarnai

Berfokus pada gedung pencakar langit tepat diatap gedungnya – mungkin tidak terlalu jauh dengan Kuoh Academy yang akan menjadi pertemuan antara tiga fraksi?

Sosok Azazel terlihat terduduk sambil menikmati angin malam yang terasa menusuk tulang, matanya menatap kerlap-kerlip cahaya kota yang terbentang luas dibawahnya – cukup menarik namun terasa membosankan

"Sebelumnya kutanyakan padamu terlebih dahulu Naruto –" Sorot Mata Azazel beralih kesamping, mendapati sosok siluet seorang remaja pirang yang dengan santainya berdiri dipinggir atap gedung tanpa sedikitpun rasa takut "- Apa kau benar-benar mau datang untuk menjadi saksi?"

"Untuk itu, kurasa aku tak bisa Azazel..."

Naruto menatap jauh kedepan, sekilas terlihat senyum miring yang tercetak jelas diwajahnya. Angin yang terasa semakin kuat pun perlahan memainkan surai pirangnya yang cukup lebat

"Sou.."

"Bagaimana kalau begini –" Naruto mendongakkan kepalanya keatas, mencoba menerawang jauh apa yang akan terjadi kedepannya "- Aku akan menjaga tempat pertemuan itu dari luar?"

"Untuk pertahanan, akan ada ratusan pasukan dari tiga fraksi yang akan menjaga dari dalam –"

"Dan kau pikir itu cukup?"

Azazel hanya bisa tertawa pelan. Jika boleh jujur, ia bahkan tak yakin untuk bisa percaya pada ratusan pasukan yang menjaga pertemuan mereka malam ini – atau setidaknya apa ada yang mau menjaganya ketika ia diserang seseorang ketika pasukan miliknya sedang bertarung dengan musuh?

Oh ayolah! Zaman sekarang apa ada yang mau percaya pada orang lain dengan begitu mudah?

Masalahnya adalah – mereka benar-benar tidak tahu penyerangan macam apa dan siapa yang menjadi otak dari penyerangan malam ini bahkan berapa banyak musuh yang akan datang saja mereka sama sekali tidak tahu. Meskipun ini hanyalah dugaan semata namun ini juga termasuk sebuah kepastian yang mutlak

Lagipula tiga petinggi Fraksi tengah berkumpul disatu tempat, bukankah bagus bagi mereka para musuh untuk membunuh tiga petinggi itu untuk suatu alasan yang berarti?

"Kau terlalu banyak berfikir Azazel, aku biasanya tak sebaik ini –"

"- Terlalu hina bagiku untuk membuat malu diri sendiri datang kesana, jadi kupikir aku hanya bisa membantumu meski dari balik bayangan saja"

"Kau yakin Naruto? Bagaimana dengan Kokabiel?"

Naruto memijit dahinya dengan pelan, sejenak ia berpikir apakah pria paruh baya yang selalu mengenakan pakaian yang begitu simpel ini selalu seperti ini?

"Kau bisa menggunakan Vali dan Rias sebagai alibi, lagipula mereka berdua itu juga membantuku dalam mengatasi Kokabiel dihari lalu bukan?"

"Mana kutahu!"

*Twitch!*

Oke! meski pelipisnya kini muncul urat kekesalan yang begitu timbul serta tangannya yang terkepal erat setelah mendengar respon Azazel yang terkesan masa bodoh, namun sayang ia tak bisa menghajar Gubernur satu ini

Bukan tanpa alasan – ia bakalan kerepotan kedepannya jika ia menghajar Gubernur yang terlihat malas-malasan ini, lagipula ia pikir apa ia bisa menghajar Azazel dengan mudah?

"Sudahlah aku tak peduli! Itu pilihan terakhir jadi keputusan ada ditanganmu Azazel!" ucap Naruto bersikeras, itu pilihan terbaik yang bisa ia ambil satu-satunya dan Azazel tidak bisa meminta lebih dari itu

"Dih Bego! Aku sedang dalam masa sulit tahu!"

"Lalu kau pikir mempermalukan diri didepan tiga fraksi itu hal yang benar menurutmu?! dasar goblok!"

Saling menatap tajam satu sama lain – entah apa yang saat ini ada dipikiran mereka namun mereka tak ada yang mau mengalah. Naruto yang mencoba mempertahankan apa yang ia tawarkan sementara Azazel mencoba memaksa Naruto untuk suatu hal

Mungkin bisa dibilang hal yang mudah bagi Azazel. Yang gubernur itu inginkan hanyalah kedatangan Naruto pada pertemuan tiga fraksi sebagai saksi atas kematian Kokabiel, namun disisi lain Naruto enggan menuruti kemauan Azazel karena menurutnya itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri

Dia dicurigai sebagai musuh oleh fraksi iblis tahu! Jadi wajar jika ia menyembunyikan keberadaannya sekarang!

"Satu hal yang kau ingat Azazel! Aku bukanlah mainanmu seperti Vali yang biasa kau kendalikan!" ucap Naruto tajam

"..."

"Hah! Baiklah aku mengalah!"

Dan selanjutnya?

Azazel menghela nafas panjang, hembusan angin malam terasa semakin kencang ketika ia mengaku kalah pada kekeraskepalaan Naruto yang sudah mencapai puncaknya. Mau bagaimana lagi? Mungkin satu yang bisa ia gunakan sebagai alat untuk melarikan diri yaitu alibi dari Naruto tadi

Sementara Naruto sendiri? Ia terlihat acuh dan menatap jauh kedepan seolah tak peduli dengan hamparan cahaya kota yang tepat berada dibawahnya – mencoba menerawang jauh entah apa yang ia pikirkan

"Jadi? Bagaimana selanjutnya?"

"... Dengarkan aku –" ucapan Azazel terkesan menggantung, Naruto sendiri pun tak ada niatan untuk memotong apa yang dikatakan Azazel "- lingkungan Kuoh Academy akan tertutupi dengan Kekkai tebal milik Iblis Sitri, karena hal itu aku akan memasang sebuah anti-kekkai di halaman belakang sekolah"

"Tunggu Azazel, bukankah itu artinya kau sama saja memberi jalan masuk bagi musuh?"

"Tenang saja, anti-kekkai ini sudah aku sesuaikan dengan tubuhmu jadi hanya kau saja yang bisa memasuki kekkai dari anti-kekkai itu, sementara makhluk lain tak akan bisa memasukinya"

Naruto mengangguk pelan, tanpa sedikitpun mau untuk menoleh kearah Azazel...

"Satu pertanyaan terakhir dariku, Azazel..."

"Apa itu?"

"..."

"Apa Ophis mengatakan sesuatu tentang diriku?"

Azazel tertawa pelan, seolah membatin ada apa ini? Naruto mengkhawatirkan si Mugen no Ryuujin?

Ophis memang sebelumnya menemui Azazel dengan membawa obrolan tentang Naruto. Azazel sendiri tak mengerti apa yang ada dikepala naga Loli itu namun satu hal yang pasti –

Ophis menjamin keselamatan Naruto jika ada sesuatu yang terjadi padanya

Itu cukup mengerikan memang, karena tak biasanya Ophis bisa sebegitu percayanya pada seorang manusia macam Naruto...

"Tenang saja, dia tidak melakukan hal di luar batas kok!"

"..."

"Sou ka?"

"Oh ya Naruto! Tangkap ini!"

Ucap Azazel sambil merogoh saku celananya, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan lalu ia lemparkan kearah Naruto yang kini menatapnya miring

*Grep!*

Naruto menangkapnya, itu benda yang kecil namun terlihat begitu berguna...

"Ini?"

"Gunakan itu agar aku bisa bicara denganmu dari jarak jauh"

"Arigatou Azazel, selanjutnya..."

Dan – Naruto memasang senyum tipis lalu terjun dari ketinggian...

.

.

.

.

.

.

.

Latar kembali berganti, sekitar setengah jam setelah pertemuan Naruto dan Azazel berakhir, kini berfokus pada sebuah ruangan yang terlihat sedikit lebih mewah – karpet merah yang tergelar lebar dilantai, sebuah meja bundar yang cukup besar dengan empat kursi nyaman yang masing-masing telah diisi dengan para petinggi

Disana ada Azazel yang tengah duduk dengan senyum miring seperti biasanya bersama dengan Vali yang bersandar di dinding tepat dibelakangnya, sosok Michael sang petinggi Tenshi bersama dengan Irina yang menjadi penjaga, Dan yah? – ada dua sosok Maou yaitu Sirzech Lucifer serta Serafall Leviathan yang terlihat bersama adik-adik dengan peerage mereka masing-masing

Sekilas Azazel melihat sosok Issei yang menatapnya tajam. Itu wajar sih mengingat sudah banyak bawahannya yang menganggu iblis muda itu serta rajanya yang terlihat sedikit tidak berekspresi hari ini. Entah karena aura sekitar yang terlalu tegang atau yang lainnya Azazel masih tak tahu?

"Sepertinya semua sudah berada disini ya? Baiklah kalau begitu kita mulai..." Ucap Sirzech mencoba memecah keheningan yang ada

Pertemuan tiga fraksi pun telah dimulai!

.

.

.

.

.

.

:: [To Be Continued?] ::

[A/N] :: Dan mungkin – kurasa aku harus meminta maaf karena begitu lamanya mengupdate kisah cerita yang begitu absurd ini. Maaf ya~ aku Kurosaki Kitahara [yang sekarang menjadi Hana Natsuki] mencoba menundukkan kepala kepada kalian sambil mengucapkan kata maaf dan kuharap maafku dapat diterima...

Tidak seperti chapter-chapter yang sebelumnya, entah kenapa penulisanku di chapter ini berubah dengan cukup berbeda – atau mungkin karena terbiasa menulis fanfiksi dengan penulisan yang berbeda yang membuatku terbawa hingga ke fanfiksi gaje seperti ini kah?

Disini aku gak mau bicara banyak-banyak sih, bahkan chapter ini pun hampir semuanya kuselipkan humor gaje yang mungkin terasa garing, dan bahkan alur certa mulai berfokus ke Naruto dan Azazel – arc yang satu ini mungkin banyak kaitannya dengan mereka berdua

Soal Ophis – Oke! dia Out Of Character disini, jadi kuharap kalian memakluminya. Sulit bagiku untuk membuat Character Loli yang dingin dan cuek, jadi kupikir membuat Ophis yang seperti ini bisa membuatku sedikit merasa terhibur, bagaimana menurut kalian?

Mengenai drama kacangan kemarin – Well, itu merupakan sebuah kesalahan terburuk yang pernah kulakukan, oke! mungkin banyak orang yang mengkritik bahwa alurnya serasa terlalu dipaksakan dan kuakui memang itulah kenyataannya, saat itu aku terlalu bingung untuk menentukan alurnya hingga kupaksakan menjadi seperti itu

Aku memang berniat untuk mencoba menempatkan sedikit unsur Hurt/Comfort disana, namun yah... kupikir penempatan terburuk membuat reader dan kalian semua kurang suka. Sekali lagi kukatakan maaf yang sebesar-besarnya, aku kembali mengecewakan kalian...

Namun sekali lagi, tolong berikan aku kritikan yang bisa membuatku bisa membangun penulisanku yang masih berada dibawah normal ini. Tak ada maksud terselubung dari permintaan semacam ini – kalau ada yang salah, tolong beritahu aku dimana tempatnya ya!

- Pojok Review

[DarkLoot] :: maafkan aku~ *SambilSujudGaje* btw gue rasanya gak pernah bilang soal Harem sih? Tapi lihat aja kedepannya, oh ya! Semoga terhibur dengan kelakuan Ophis dan Narutod dichapter ini!

[Deadly God] :: Makasih lho udah setia ama fic absurd yang satu ini, btw semoga terhibur dengan chapter yang satu ini

[Renggasitauruzboy] :: Aku gak bisa menentukan sampai sekuat apa Naruto saat ini, namun yang perlu diingat adalah Main-Chara dan yang lainnya pasti akan mengalami perkembangan kok!

[Kurogane Hizashi] :: Rasanya aku gak pernah bilang kalau aku kepingin bikin mini-harem? Lagipula bukannya aku pernah bilang diChapter sebelumnya kalo aku gak merubah pairing apapun? Untuk penjelasannya lihat saja kedepannya ya

[Shinn Kazumiya] :: Walaa~ aku gak mati om, aku hidup lagi :v baru aja di Edo tensei ama Kabuto :v tapi iya juga sih, parah sampe ngomongin aku mati beneran ditabrak truk :v

[Guest] :: sip! Sankyuu atas supportnya~

[Guest] :: Maafkan aku, aku Cuma mencoba menempati sedikit unsur Hurt/Comfort disana namun ternyata banyak yang gak suka, sekali lagi maafkan aku...

[Fakhrur] :: Kita lihat aja kedepannya ya!

[Gerista] :: Sankyuu atas kritikanya kak! Aku masih perlu banyak bimbingan dari author lain dengan kritikan, aku gak tersinggung kok karena itu memang kesalahan yang kubuat sendiri, sekali lagi Sankyuu kak dan maaf kalo mengecewakanmu...

[Mr Uzumaki 22] :: Soal itu saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan soal Pairing, bukankah sebelumnya aku pernah bilang kalau aku gak merubah pairing yang telah kubuat?

[Tsukasa] :: aku gak bakalan bikin itu! Aku Cuma buat sedikit comedy diantara mereka berdua aja kek Chapter ini

[Ayub L Lawliet] :: Zeeb Mamanx! Btw semoga ente bisa terhibur dengan comedy di Chapter ini~

[Guest] :: Sankyuu atas dukungannya gan!

[elsagon] :: Sankyuu atas pujiannya kak, dan soal itu – maaf jika aku telah mengecewakanmu~

[Guest] :: dan kuharap – semoga Comedy dichapter ini bisa sedikit membuatmu terhibur atau setidaknya tertawa dengan tingkah gaje mereka berdua :)

[hikarinoyami13] :: Sankyuu atas pujian dan kritikannya! Meski banyak yang gak suka dibagian itu, cukup senang sih ada beberapa yang berpandangan lain

[Pxeven] :: Well, maafkan aku soal bagian itu, aku memang mencoba menempatkan sebuah unsur Hurt/Comfort disana namun banyak yang gak suka karena berbagai alasan sih. Btw soal fanfiksi itu sudah menjadi hoby tersendiri kok! Sekali lagi maaf kalo dibagian itu membuatmu kecewa

Mungkin cuma itu saja review yang bisa kubalas, mohon maaf untuk review lainnya yang tidak bisa kubalas karena alasan tertentu [namun bukan berarti itu negatif lho] Sankyuu atas review kalian~!

Dan sebagai ucapan terakhir, salam dan sampai jumpa di Chapter berikutnya~! Doaku menyertai kalian semua selaku Reader setiaku!

Btw doakan chapter selanjutnya diupdate minggu depan ya~

.

Bye Bee~

.

- Sign :: Hana Natsuki a.k.a Kurosaki Kitahara